Posts

Petruk jadi ratu

  #01. Pustaka Jamus Kalimasada Hilang Pagi itu, Kerajaan Amarta diselimuti suasana sunyi. Tidak ada suara gamelan, tidak ada latihan prajurit. Penyebabnya satu: Pustaka Jamus Kalimasada raib. Tanpa pusaka itu, Amarta bagaikan raga tanpa sukma, keropos dan rapuh. Di bangsal Pasewakan Agung, Prabu Puntadewa duduk menunduk. Wajah Sang Dharmaputra yang biasanya bening kini keruh oleh penyesalan. Di sampingnya, Sri Batara Kresna menatap jauh ke depan dengan mata waskita. “Duh, Kaka Prabu,” ucap Kresna pelan namun penuh tekanan, “Musibah ini adalah teguran. Bagaimana mungkin pusaka piandel para Pandawa bisa lolos dari Gedong Pusaka? Siapa gerangan yang mampu mengelabui kewaspadaan Kaka Prabu?” Puntadewa menghela napas panjang. “Aku telah teperdaya, Yayi Prabu. Pencuri itu datang dengan rupa yang sempurna, persis anak kita, Gatotkaca. Tutur bahasanya, gerak-geriknya, bahkan unggah-ungguh-nya tak bercela. Ia meminjam pusaka untuk meruwat tolak bala. Hati ini terlalu mudah percaya.” Tak la...

Festival Cap Go Meh

  Perayaan Yuan Xiao Jie (Simplified: 元宵 节 , Traditional: 元宵節 ), yang di Indonesia lebih dikenal sebagai Perayaan Cap Go Meh, adalah perayaan populer. Bulan Pertama (Zhen Yue – 正月 ) dalam penanggalan Imlek disebut juga dengan istilah “Yuan Yue ( 元月 )”. Dalam bahasa Tionghoa, malam disebut juga dengan istilah “Xiao ( 宵 )”. Yuan Xiao berarti Malam Bulan Purnama Pertama di Tahun Baru Imlek. Banyak lampion-lampion yang digantungkan hingga dikenal pula dengan Festival Lampion. Saat festival Yuan Xiao diadakan juga Festival Shang Yuan ( 上元 节 ). Kisah Perayaan Yuan Xiao Jie Pada masa pemerintahan Kaisar Wu Di dari  Dinasti Han , di istana tinggal seorang wanita bernama Yuan Xiao yang berasal dari daerah barat laut Ibukota Chang’An (Simplified: 长安 , Traditional: 長安 ). Sejak memasuki istana, para dayang dilarang untuk pulang berkumpul dengan keluarga. Yuan Xiao telah beberapa tahun tidak dapat mengunjungi orang tuanya. Ia merasa rindu dan telah menjadi anak yang tidak berbakti. H...

Festival Hantu

  Setiap tanggal 15 bulan ke-7 penanggalan lunisolar atau kalender imlek, masyarakat Tiongkok memperingati Festival Zhongyuan ( 中元 节 , Zhōngyuán Jié), yang juga dikenal sebagai Festival Hantu (Ghost Festival) atau dalam Buddhisme disebut Ullambana Festival ( 盂 兰盆节 , Yúlánpén Jié). Di balik suasana mistis dan berbagai ritual khasnya, Festival Zhongyuan memiliki akar budaya, keagamaan, dan spiritual yang mendalam, mencerminkan nilai-nilai bakti, belas kasih, dan penghormatan kepada leluhur. Konon saat Festival ini roh-roh yang sudah membayar karma di neraka akan di reinkarnasi. Inilah saat pintu neraka dibuka untuk reinkarnasi. Sedangkan Roh yang belum membayar karma diizinkan pulang dan bertemu keluarga yang ditinggalkannya. Festival Zhongyuan bukan sekadar “hari hantu”, tetapi sebuah refleksi budaya dan spiritualitas Tiongkok yang kaya. Di balik nyala dupa dan suara doa, tersembunyi ajaran mendalam tentang bakti, kebaikan, dan koneksi antara dunia hidup dan mati. Ini adalah momen...

Festival Qing Ming

  Di Indonesia, Festival Qing Ming atau Qing Ming Jie [ 清明 节 ] lebih dikenal dengan istilah Cheng Beng dalam bahasa Hokkian atau Cheng Meng dalam bahasa Teochew. Festival Qing Ming memiliki 2 arti yaitu sebagai salah satu dari 24 Jie Qi (24 Musim dan Iklim) dalam Kalender Imlek dan juga merupakan salah satu hari raya atau festival terpenting dalam budaya dan tradisi Tionghoa untuk menghormati para leluhur dan sanak keluarga yang telah meninggal dunia. Istilah Cheng Beng bersasal dari karya kuno berjudul Sui Shi Bai Wen [ 岁时百 问 ] yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang dilahirkan dan bertumbuh adalah bersih, cerah dan jelas. Sebagai salah satu Jie Qi (Musim dan Iklim)  24 Jie Qi [24 节气 ]  dalam Kalender Imlek, Qing Ming (Cheng Beng) merupakan Musim dan Iklim terbaik untuk dapat mulai bercocok tanam. Saat Qing Ming, Suhu mulai merangkak naik, air hujan bertambah banyak sehingga sangat cocok untuk bertanam tanaman pangan seperti padi, gandum, jagung, wijen dan tanaman ...