Petruk jadi ratu
#01. Pustaka Jamus Kalimasada Hilang
Pagi itu, Kerajaan Amarta diselimuti suasana sunyi. Tidak ada suara gamelan, tidak ada latihan prajurit. Penyebabnya satu: Pustaka Jamus Kalimasada raib. Tanpa pusaka itu, Amarta bagaikan raga tanpa sukma, keropos dan rapuh.
Di bangsal Pasewakan Agung, Prabu Puntadewa duduk menunduk. Wajah Sang Dharmaputra yang biasanya bening kini keruh oleh penyesalan. Di sampingnya, Sri Batara Kresna menatap jauh ke depan dengan mata waskita.
“Duh, Kaka Prabu,” ucap Kresna pelan namun penuh tekanan, “Musibah ini adalah teguran. Bagaimana mungkin pusaka piandel para Pandawa bisa lolos dari Gedong Pusaka? Siapa gerangan yang mampu mengelabui kewaspadaan Kaka Prabu?”
Puntadewa menghela napas panjang. “Aku telah teperdaya, Yayi Prabu. Pencuri itu datang dengan rupa yang sempurna, persis anak kita, Gatotkaca. Tutur bahasanya, gerak-geriknya, bahkan unggah-ungguh-nya tak bercela. Ia meminjam pusaka untuk meruwat tolak bala. Hati ini terlalu mudah percaya.”
Tak lama, Raden Arjuna memasuki ruangan dengan langkah halus namun tegas. Ia menghaturkan sembah. “Hamba menghadap, Kaka Prabu. Hamba mendengar kabar duka ini. Izinkan hamba mengejar pencuri itu dan mengambil kembali hak kita.”
Kresna mengangkat tangan, menahan. “Sabar, Yayi Janaka. Pencuri itu bukan sembarang orang. Ia adalah Dewi Mustakaweni, putri Prabu Niwatakawaca. Ia menuntut balas atas kematian ayahnya. Jika Yayi Arjuna yang maju, dendam lama akan membuat pertarungan menjadi keruh. Ia memiliki aji pengasihan dan alih rupa. Kau akan mudah dijebak.”
“Lalu siapa yang harus berangkat?” tanya Arjuna.
“Darah dagingmu sendiri yang belum punya beban masa lalu. Panggil Bambang Priyambada.”
Matahari mulai condong ke barat ketika Bambang Priyambada, ksatria muda putra Arjuna, memasuki Alas Wukir (Hutan Wukir). Ia tidak sendiri. Di belakangnya, rombongan abdi setia mengekor: Kyai Semar Badranaya beserta Gareng, Petruk, dan Bagong.
Suasana hutan yang angker menjadi riuh rendah oleh tingkah polah anak-anak Semar.
“Hadeh, Den… Den Priyambada jalannya cepat sekali, seperti dikejar penagih utang,” keluh Bagong yang berjalan paling belakang, perut buncitnya berguncang-guncang. “Kita ini mau mencari pusaka atau mau lomba lari?”
Petruk yang berjalan di depannya menoleh, hidung panjangnya kembang kempis. “Heh, Gong! Jangan berisik. Ini misi rahasia negara. Kalau kamu ribut terus, musuhnya kabur, kita tidak dapat bayaran. Gek kapan kamu bisa beli wedak (bedak) buat istrimu?”
Gareng yang berjalan terpincang-pincang menyahut, “Truk, kamu itu sok tahu. Kita ini abdi, tugasnya ngawula. Soal bayaran itu urusan nanti. Yang penting sekarang mata dipasang. Mustakaweni itu sakti, bisa berubah jadi apa saja. Jangan sampai kita tertipu.”
“Ah, kalau berubah jadi nasi padang, langsung aku tangkap!” sahut Bagong asal, membuat Semar terkekeh pelan.
“Eling, Ngger, eling (Ingat, nak),” ujar Semar bijak. “Waspadalah. Hutan ini hawanya tidak enak. Ada bau yang asing.”
Petruk tiba-tiba berhenti, mengendus-endus udara dengan hidungnya yang mancung. “Tunggu… tunggu… Kyai Semar benar. Aku mencium bau… bau wangi yang aneh. Bukan bau bunga hutan, tapi bau lenga (minyak) rambut mahal.”
Bagong mendekat, ikut mengendus ketiak Petruk. “Ah, itu bau keringatmu, Truk! Asem!”
“Sembarangan! Ini bau putri,” Petruk menjitak kepala botak Bagong.
Priyambada memberi isyarat tangan agar mereka diam. Ia berjongkok, mengamati jejak kaki di tanah basah. “Lihat, Kyai Semar. Ada jejak kaki yang ringan, tapaknya halus, bukan jejak raksasa ataupun binatang buas. Arahnya ke utara, menuju tebing batu.”
“Wah, Raden pintar sekali,” puji Gareng. “Kalau aku yang lihat, pasti kukira jejak macan ompong.”
Mereka melanjutkan perjalanan dengan lebih hati-hati. Semak belukar semakin rapat. Tiba-tiba, sesosok bayangan berkelebat cepat di antara pepohonan jati. Gerakannya lincah, membawa sebuah bungkusan kain sutra kuning.
“Berhenti di sana!” seru Priyambada, suaranya menggelegar memecah kesunyian hutan.
Bayangan itu terhenti di sebuah tanah lapang. Sosok yang semula berwujud samar itu memadat. Penyamaran Gatotkaca yang digunakannya luntur, menampakkan wujud asli: seorang wanita cantik dengan pakaian prajurit, namun matanya memancarkan dendam kesumat. Dialah Mustakaweni.
“Kalian!” desis Mustakaweni. “Anak-anak Pandawa yang serakah! Jangan harap kalian bisa mengambil kembali pusaka ini. Ini adalah ganti nyawa ayahku!”
Bagong yang melihat Mustakaweni langsung melongo. “Waduh, Truk… musuhnya cantik sekali. Kalau tahu begini, aku mandi dulu tadi.”
“Hush! Diam!” bentak Petruk, meski matanya juga tak berkedip.
Pertarungan pun pecah. Priyambada memasang sikap tanjak (kuda-kuda), keris di tangan kanan. Mustakaweni tidak gentar, ia menyerang dengan sabetan selendang sampur yang ternyata sekeras baja.
“Hiaaat!”
Priyambada melompat, menghindar dengan gerakan endha yang luwes. Mustakaweni memutar tubuh, mengirimkan tendangan berputar. Priyambada menangkis. Pertarungan itu indah, bukan seperti adu bunuh, melainkan seperti tarian maut. Ponokawan hanya bisa menonton dari balik pohon besar, sesekali bersorak.
“Ayo Den! Sikat kakinya! Awas rambutnya!” teriak Petruk memberi instruksi yang tidak perlu.
Mustakaweni, meski sakti, mulai kelelahan menghadapi stamina muda Priyambada. Dalam satu celah lengah, Priyambada melesat maju, bukan menusuk, melainkan menotok pergelangan tangan sang putri.
Trak!
Pustaka Jamus Kalimasada terlepas dari genggaman Mustakaweni, melayang di udara, dan jatuh berguling di dekat kaki Petruk yang bersembunyi di semak-semak.
Mustakaweni terjatuh. Priyambada segera menodongkan kerisnya ke leher sang putri. Namun, saat mata mereka bertemu, waktu seakan berhenti. Priyambada melihat ketakutan dan kesedihan di mata indah itu, bukan sekadar kejahatan. Mustakaweni pun terkesiap melihat wajah tampan Priyambada yang tidak menyiratkan nafsu membunuh, melainkan belas kasih ksatria.
Keris itu perlahan diturunkan.
“Kenapa kau tidak membunuhku?” tanya Mustakaweni lirih, suaranya bergetar.
“Dendam tidak akan selesai dengan darah, Dinda,” jawab Priyambada lembut. “Amarta tidak mengajarkan kekejaman.”
Hati Mustakaweni luluh lantak. Panah asmara ternyata lebih tajam dari senjata apapun. Ia menunduk malu, pipinya merona merah.
Sementara drama asmara itu terjadi, Petruk memungut bungkusan kuning itu. Ia membukanya sedikit. Kitab Jamus Kalimasada yang keramat kini ada di tangan kotor seorang abdi.
Priyambada, yang sedang dimabuk asmara, menoleh sekilas tanpa melihat siapa yang dipanggilnya. Ia mengira itu Semar.
“Tolong amankan pusaka itu! Bawa segera pulang ke Amarta. Jangan sampai jatuh ke tangan orang lain. Aku… aku harus mengurus putri ini. Kami akan menyusul belakangan.”
Setelah berkata demikian, Priyambada kembali sibuk membantu Mustakaweni berdiri, melupakan dunia sekitarnya. Semar dan anak-anaknya yang lain masih terpana melihat adegan romantis itu.
Petruk berdiri terpaku. Ia memegang pusaka paling sakti di jagat pewayangan. Terasa getaran energi yang luar biasa merambat dari ujung jari hingga ke ubun-ubunnya.
Gareng menyenggol lengan Petruk. “Heh, Truk. Ayo kita bawa pulang. Raden Priyambada lagi ‘korslet’ tuh kena asmara.”
Namun Petruk diam saja. Senyum aneh mulai tersungging di bibirnya. Tatapannya berubah liar.
“Gareng… Bagong…” bisik Petruk dengan suara berat. “Seumur hidup kita cuma jadi kacung. Disuruh-suruh, dimaki-maki, jadi alas kaki para ksatria. Sekarang… benda yang menentukan nasib dunia ada di tanganku.”
“Waduh, omonganmu ngelantur, Truk. Balikin, ayo pulang!” seru Bagong panik.
Petruk mundur selangkah, mendekap Kalimasada erat-erat. “Tidak. Kali ini tidak. Aku ingin tahu rasanya jadi Raja. Tunggulah tanggal mainnya!”
Dan dengan kecepatan kilat yang tak terduga, Petruk melesat lari menembus hutan, meninggalkan saudara-saudaranya yang melongo kebingungan. Priyambada masih sibuk merayu Mustakaweni, tak menyadari bahwa petaka baru yang lebih lucu namun gawat baru saja dimulai: Petruk Dadi Ratu.
Comments
Post a Comment