Asal usul Batu Badoang
Ada berbagai
versi tentang Batu Badoang yang terletak di Maluku ini diantara
Keabadian Cinta
Batu Badaong adalah sebuah batu besar yang memiliki nilai
historis dan legenda dalam cerita rakyat di Maluku, Indonesia. Batu ini
memiliki beragam cerita dan makna budaya. Salah satu cerita rakyat yang terkait
dengan Batu Badaong di Maluku adalah sebagai berikut
Dahulu
kala, di desa di Maluku, hidup seorang wanita yang sangat cantik bernama
Badaong. Dia dikenal dengan kecantikannya yang luar biasa, dan banyak pemuda
yang jatuh cinta padanya. Namun, Badaong sangat pemilih dalam memilih pasangan
hidupnya. Suatu hari, seorang pemuda miskin yang berhati baik bernama
Lelamengan datang ke desa tersebut. Meskipun tidak memiliki harta yang
berlimpah, Lelamengan memiliki hati yang baik dan selalu membantu orang lain.
Dia jatuh cinta pada Badaong dan berusaha mendekatinya.
Setelah berjuang dan membuktikan kebaikannya, Badaong
akhirnya menerima cintanya. Mereka menjalani kehidupan yang bahagia bersama,
meskipun sederhana. Namun, kebahagiaan mereka terputus ketika desa mereka
menghadapi bencana alam yang besar.
Gempa
bumi yang dahsyat mengguncang desa mereka, dan sebuah gunung berapi meletus.
Penduduk desa panik dan mencari tempat perlindungan. Badaong dan Lelamengan
mencoba untuk selamat, tetapi mereka terjebak dalam semburan lava panas.
Mereka
berpegangan erat satu sama lain dan berdoa kepada dewa-dewa agar menyelamatkan
mereka. Dewa-dewa mendengar doa mereka dan mengubah mereka menjadi batu besar
yang kokoh di tepi laut. Batu tersebut kemudian dikenal sebagai “Batu Badaong”
untuk mengenang cinta sejati dan pengorbanan mereka.
Cerita dua anak
manja
Awal
dari cerita ini, hiduplah suami istri dengan kedua anaknya yang hidup kaya raya.
Mereka malas dan sombong karna selalu dimanja bapaknya. Hal ini juga dikarnakan banyaknya pelayan
yang siap mengurus keduanya.
Ketika
ayahnya meninggal, pelayannya juga pergi karna tidak kuat dengan kelakuan
mereka. Sehingga hanya ibunya yang menggantikan tugas mengurus keduanya. Setiap
hari ibu mereka melakukan dengan ikhlas, tapi anaknya selalu menyuruh seperti
budak. Sambil meneteskan air mata, ia berdoa "Ya tuhan, berikanlah anak
saya kesadaran sehingga mereka insyaf".
Suatu
ketika keduanya menemukan meja kosong tanpa makanan, lalu mencari ibunya. Sambil
marah, mereka menemukan mamanya di sungai saat sedang mencuci pakaian.
Mereka
mengomeli dan memukuli ibunya, pada titik ini orangtua perempuan mereka
berbicara. "mulai sekarang aku bukan lagi ibumu dan sekarang urus diri
masing-masing, saya tidak akan pulang ke rumah ".
Kemudian dia ke batu besar,
lalu berkata terbukalah cadas dan jadikan aku wangi seperti bunga. Setelah
wanita itu masuk, bongkahannya tertutup dan beberapa hari kemudian mekarlah
melati.
Hingga suatu hari, Penduduk desa
mengusir kedua anak itu dan menjarah rumahnya. Disebabkan karna perlakuan
durhaka terhadap ibu mereka dan kesombongannya. Sesudahnya, Kedua anak itu
menyesal atas perlakuannya terhadap ibunya. Mereka mengelus batu itu, tapi
tidak bisa terbuka dan keduanya pun menangis.
Comments
Post a Comment