Festival Qing Ming

 

Di Indonesia, Festival Qing Ming atau Qing Ming Jie [清明] lebih dikenal dengan istilah Cheng Beng dalam bahasa Hokkian atau Cheng Meng dalam bahasa Teochew. Festival Qing Ming memiliki 2 arti yaitu sebagai salah satu dari 24 Jie Qi (24 Musim dan Iklim) dalam Kalender Imlek dan juga merupakan salah satu hari raya atau festival terpenting dalam budaya dan tradisi Tionghoa untuk menghormati para leluhur dan sanak keluarga yang telah meninggal dunia. Istilah Cheng Beng bersasal dari karya kuno berjudul Sui Shi Bai Wen [岁时百 ] yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang dilahirkan dan bertumbuh adalah bersih, cerah dan jelas.

Sebagai salah satu Jie Qi (Musim dan Iklim) 24 Jie Qi [24节气 ] dalam Kalender Imlek, Qing Ming (Cheng Beng) merupakan Musim dan Iklim terbaik untuk dapat mulai bercocok tanam. Saat Qing Ming, Suhu mulai merangkak naik, air hujan bertambah banyak sehingga sangat cocok untuk bertanam tanaman pangan seperti padi, gandum, jagung, wijen dan tanaman biji-bijian lainnya.

Sedangkan sebagai Hari Raya atau Festival, hari Qing Ming (Cheng Beng) memiliki arti yang sangat berbeda dengan Fungsi Jie Qi dalam 24 Musim dan Iklim yaitu sebagi Hari Raya terpenting dalam Tradisi Tionghoa untuk memberikan penghormatan kepada para leluhur atau sanak keluarga yang telah meninggal dengan cara mengunjungi tempat pemakaman dan membersihkan kuburan serta melakukan sembahyang di kuburan tersebut.

Berdasarkan Tradisi Tionghoa, saat melakukan pembersihan Kuburan (Shao Mu [扫墓]), anggota keluarga harus membawakan makanan, minuman, buah-buahan dan uang kertas khusus sembahyang ke kuburan tersebut dan mempersembahkannya kepada leluhur atau sanak keluarga yang telah meninggal dengan meletakkannya di depan kuburan. Membersihkan dan mengecat ulang tulisan yang diukir pada batu Nisan serta menambahkan tanah baru kuburan.

Setelah memberikan penghormatan dan sembahyang, makanan dan minuman yang dibawa tadi dapat di makan atau dibawa pulang sedangkan uang kertas yang diperuntukan khusus sembahyang dibakar di sekitar lokasi kuburan tersebut.

Sampai saat ini, Hari Raya Qing Ming (Cheng Beng) yang merupakan hari untuk melakukan penghormatan kepada para leluhur dan sanak keluarga yang telah meninggal dunia masih dilakukan dan diikuti oleh para generasi muda sesuai dengan Tradisi Tionghoa. Hari Raya Qing Ming atau Festival Qing Ming (Cheng Beng) ini biasanya jatuh pada tanggal 5 bulan April setiap tahunnya dengan penanggalan Solar Calender.

Yang dilakukan saat Qing Ming jie adalah :

Membersihkan Makam

Selama Festival Qingming, para keturunan akan membersihkan rumput liar di makam leluhur mereka dan memberi persembahan, termasuk anggur, bunga, buah, dan kue beras. Secara keseluruhan, kegiatan ini dikenal sebagai membersihkan makam.

Setelah membersihkan rumput liar, setumpuk tiga kertas makam akan ditekan ke batu nisan dengan batu atau batu bata, yang dikenal sebagai kertas gantung atau kertas tekan. Hal ini menandakan bahwa keturunannya telah memberikan penghormatan kepada makam leluhur dan telah memperbaiki rumah (makam) untuk nenek moyang mereka-bukan makam kesepian tanpa ada yang memujanya. Legenda mengatakan bahwa kertas yang digantung dapat membuat arwah leluhur beristirahat dan membawa keberuntungan bagi keluarga.

Ada tradisi membagikan kue beras kepada anak-anak miskin di sekitar makam setelah upacara pembersihan makam untuk menunjukkan bahwa kebajikan leluhur akan bertahan selama beberapa generasi.

Sebelum kembali ke rumah, orang-orang memecahkan telur rebus di atas batu nisan, mengupasnya, dan melemparkan cangkang telur ke makam leluhur, melambangkan siklus yin dan yang yang tak berujung dengan kembali ke titik awal, di mana nasib buruk disingkirkan dan keberuntungan serta kehidupan baru dimulai.

Menanam Pohon

Di sekitar Festival Qingming, cuacanya sangat baik untuk menanam pohon, sehingga beberapa orang juga menyebut Festival Qingming sebagai “Hari Pohon Sedunia”. Mereka menggabungkan membersihkan makam dan pemujaan leluhur dengan penanaman pohon, yang telah menjadi salah satu tradisi Qingming hingga hari ini.

Menanam pohon konon terkait dengan pemujaan leluhur kuno, tradisi pemakaman, dan berkah bagi generasi mendatang. Para penguasa pada masa Zhou Barat (1046 SM - 771 SM) menanam pohon di atas makam untuk menunjukkan status mereka, sementara rakyat biasa tidak diperbolehkan melakukan hal tersebut. Baru pada Periode Musim Semi dan Musim Gugur (770-476 SM), kebiasaan ini diperkenalkan kepada masyarakat umum untuk menandai lokasi makam leluhur mereka.

Dikatakan dalam Kitab Ritual bahwa, sebelum Konfusius melakukan perjalanan ke berbagai negara, dia menanam pohon pinus dan cemara di makam orang tuanya agar dapat mengidentifikasi mereka. Pada zaman dahulu, sebagian besar mausoleum dan makam berada di alam bebas, dan ketika orang-orang pergi untuk membersihkan makam dan menyembah leluhur setiap tahun, mereka menemukan makam-makam tersebut ditutupi oleh rumput liar dan sulit untuk dikenali. Jadi, beberapa orang menanam pohon pinus dan cemara di makam-makam tersebut agar mudah ditemukan di tahun berikutnya. Hal ini kemudian menjadi kebiasaan Festival Qingming.

Tamasya Musim Semi

Di sekitar Festival Qingming, cuacanya cerah, dengan angin sepoi-sepoi dan sinar matahari musim semi yang hangat, waktu yang tepat untuk tamasya. Orang dewasa dan anak-anak, pria dan wanita mengenakan sepatu baru dan menikmati tamasya di pedesaan. Kebiasaan ini dikenal sebagai Tamasya Musim Semi, Xingqing, Menjelajahi Musim Semi, Mencari Musim Semi, dan sebagainya. Festival Qingming, hari untuk bersyukur dan menghormati leluhur, juga merupakan waktu untuk bersantai dan bersenang-senang.

Tradisi dengan Ranting Pohon Willow

Dikatakan dalam Sui Shi Ji bahwa di wilayah Jianghuai selama periode Lima Dinasti (907-960), setiap rumah tangga akan menaruh ranting pohon willow di pintu mereka untuk memperingati Jie Zitui. Mereka akan membuat burung walet dengan tepung dan pasta jujube, menaruhnya di dahan pohon willow, dan menaruhnya di pintu untuk membangkitkan jiwa Zitui. Burung walet tersebut disebut “Zitui Yan” (Burung Walet Zitui).

Orang-orang percaya bahwa memakai pohon willow dapat melancarkan energi Yang, mengundang keberuntungan, dan menangkal roh jahat dan wabah. Orang-orang akan membentuk ranting pohon willow menjadi lingkaran dan memakainya di kepala mereka dan menghias rumah mereka dengan ranting pohon willow.

Bermain di Ayunan

Berayun (qiūqiān) pada awalnya berarti “qianqiu,” yang berarti bergerak dengan memegang tali kulit. Pada zaman dahulu, ayunan kebanyakan dibuat dengan menggunakan ranting pohon sebagai rangka dan diikat dengan pita warna-warni. Tali biasanya terbuat dari kulit binatang agar kuat dan tahan lama. Belakangan, ayunan dibuat dari dua tali yang diikatkan pada rangka dan tempat duduk.

Mengenai asal usul kata “ayunan”, Gao Wuji dari Dinasti Tang menulis dalam kata pengantar The Swing in the Harem of Kaisar Wu dari Dinasti Han: “Ayunan (sebagai sebuah frasa) juga berarti ribuan tahun. Kaisar Wu dari Dinasti Han berdoa untuk hidup selama seribu tahun, jadi haremnya memiliki banyak ayunan untuk kesenangan.” Pada masa Dinasti Tang, berayun-ayun di ayunan telah menjadi kegiatan penting di sekitar Festival Qingming.

Bermain Cuju

Cuju (diucapkan cù jú蹴鞠) adalah permainan yang menggunakan kaki dan bola yang digemari orang-orang selama Festival Qingming pada zaman dahulu, mirip dengan sepak bola saat ini.

Menurut Shi Wu Ji Yuan karya Gao Cheng dari Dinasti Song, permainan cuju berasal dari era Kaisar Kuning, awalnya untuk melatih para prajurit. Permainan ini menjadi populer di kalangan warga sipil pada masa Dinasti Han dan cukup populer di kalangan tentara pada masa Dinasti Tang.

Permainan ini mencapai puncak popularitasnya pada masa Dinasti Song dan bahkan dimainkan di istana kekaisaran. “Lukisan Cuju” karya Huang Shen dari Dinasti Qing menggambarkan Kaisar Taizu, dan Kaisar Taizong dari Song sedang bermain cuju dengan menteri Zhao Pu dan para menteri serta pelayan lainnya.

Cuju berangsur-angsur menurun pada masa Dinasti Ming dan Qing. Kita mungkin masih dapat melihat sedikit cuju dalam permainan shuttlecock kicking saat ini.

Menerbangkan Layang-layang

Menerbangkan layang-layang oleh orang-orang dahulu dimaksudkan untuk mengenang teman-teman lama dan kerabat yang telah meninggal selama Festival Qingming. Mereka akan mencurahkan kasih sayangnya di layang-layang dan mengirimkannya kepada kerabat dan teman yang telah meninggal. Menerbangkan layang-layang dilakukan pada siang hari dan malam hari. Pada malam hari, untaian lentera kecil berwarna-warni digantung di bawah layang-layang atau di tali, seperti bintang yang berkelap-kelip, dan sering disebut sebagai “lentera ajaib.”

Ada sebuah pepatah pada Dinasti Qing: “Potonglah tali layang-layang pada Festival Qingming untuk menangkal bencana.” Orang-orang membuat layang-layang yang menyerupai burung pemangsa (seperti burung elang, gledes, atau layang-layang) dan menulis di atasnya tentang bencana atau penyakit yang ingin mereka singkirkan. Ketika layang-layang sudah tinggi di udara, mereka memotong tali, berharap bencana akan hilang bersama layang-layang yang tertiup angin.

Asal usul Qing Ming Jie

Asal-usulnya banyak sekali tentang Qing Ming Jie ini. Festival Qing ming ini adalah Festival dimana orang membersihkan makam leluhur dan berdoa di makam leluhur dan memberikan kertas warna-warni serta bunga di atas makam. Sejarahnya ada banyak diantaranya

Kisah Dinasti Han Liu Bang (Tahun 200-an SM)

Banyak sekali cerita dan kisah tentang asal usul Festival Qing Ming (Cheng Beng) yang beredar di masyarakat tionghoa, diantaranya seperti yang mengenai Kaisah pertama Dinasti Han Liu Bang (Tahun 200-an SM) dan juga Kaisar pertama Dinasti Ming Zhu Yuan Zhang (Tahun 1300-an). Tetapi kalau ditelusuri tahun terjadinya, maka cerita atau kisah mengenai Jie Zi Tui yang terjadi sekitar tahun 600-an sebelum Masehi pada zaman Musim Semi Gugur merupakan tahun yang paling awal mengenai Festival Qing Ming [清明](hari Cheng Beng).

Pada Zaman Musim Semi Gugur (Chun Qiu [春秋时代]),  selir (Istri Raja) dari Raja  Jin Xian Gong [晋献公] yang bernama Li Ji [骊姬] ingin anak kandungnya Xi Qi [] naik tahta menjadi Raja Jin sehingga menggunakan berbagai cara dan taktik untuk mencelakakan Pangeran Shen Sheng [申生] . Akhirnya, Pangeran Shen Sheng terpaksa untuk bunuh diri. Sedangkan Adik Pangeran Shen Sheng yang bernama Zhong Er [重耳] memilih untuk mengasingkan diri dan keluar dari Istana untuk menghindari bencana yang sama dengan kakaknya. Dalam Pengasingannya, banyak kesulitan dan penghinaan yang dideritanya.  Satu per satu Pejabat yang mengikuti Zhong Er dalam pengasingan meninggalkan Zhong Er karena tidak tahan dengan kondisi penderitaan yang dialami  mereka. Sehingga hanya sisa beberapa Pejabat Setia saja yang masih mengikuti Zhong Er, salah satu diantara para pejabat yang masih setia mengikuti Zhong Er adalah Jie Zi Tui [介子推]. Suatu hari, Zhong Er pingsan karena tidak tahan dengan kelaparan, Jie Zi Tui memotong daging kakinya sendiri dan kemudian memanggang daging tersebut untuk dimakan oleh Zhong Er. Sembilan belas (19) tahun kemudian, Zhong Er berhasil pulang ke Negaranya dan naik tahta menjadi Raja yang dikenal dengan Raja Jin Wen Gong [晋文公]

Setelah Jin Wen Gong naik tahta menjadi Raja Negara Jin, beliau langsung memberikan penghargaan kepada mereka yang telah setia mengikutinya pada saat pengasingannya. Tetapi satu-satunya yang Raja Jin Wen Gong lupakan adalah Jie Zi Tui, yaitu orang yang telah memberikannya makanan (daging Jie Zi Tui sendiri) saat pingsan. Begitu ada yang mengingatkan Raja Jin Wen Gong mengenai Jie Zi Tui, Raja Jin Wen Gong langsung merasakan saat sedih dan bersalah karena telah melupakan orang yang begitu berjasa kepadanya. Beliau langsung memerintahkan orang untuk mengundang Jie Zi Tui ke Istana untuk memberikan penghargaan.

Undangan tersebut selalu ditolak oleh Jie Zi Tui, akhirnya Raja Jin Wen Gong memutuskan untuk mengundangnya sendiri ke Rumah Jie Zi Tui. Tetapi yang didapat adalah rumah yang kosong dan pintunya tertutup rapat. Jie Zi Tui tidak ingin menemui sang Raja dan telah meninggalkan rumah tersebut menuju ke  tempat persembunyiannya dalam Gunung Mian [绵山] . Raja Jin Wen Gong memerintahkan Pengawal Pribadinya untuk melakukan pencarian dalam Gunung Mian, tetapi tidak ditemukan juga. Kemudian ada Pejabat yang mengusulkan untuk membakar Gunung Mian di 3 arah, sisakan 1 arah saja untuk jalan keluar Jie Zi Tui. Usulan tersebut akhirnya disetujui oleh Raja Jin Wen Gong dan memerintahkan pembakaran Gunung Mian. Api tersebut membakar Gunung Mian selama tiga hari tiga malam sampai padam dengan sendirinya, tetapi Jie Zi Tui tidak keluar dari Gunung Mian Juga.

Raja dan para pengawalnya pun menuju ke dalam Gunung Mian untuk mencari Jie Zi Tui, tetapi yang ditemukannya adalah Mayat Jie Zi Tui beserta Ibunya di dekat sebuah Pohon Liu [] besar. Raja Jin Wen Gong menatap mayat Jie Zi Tui sambil menangis dengan sedih.  Di Pohon besar tempat dekat mayat Jie Zi Tui terdapat sebuah lubang yang disumbat oleh sesuatu, rupanya adalah kain yang bertuliskan sebuah puisi. Sang Raja menguburkan Jie Zi Tui dan Ibunya di dekat Pohon Liu [] dimana tempat mereka meninggal. Untuk mengenang Jasa-jasa Jie Zi Tui, Raja Jin Wen Gong kemudian menggantikan nama Gunung Mian menjadi Gunung Jie [介山] dan menetapkan hari membakar gunung sebagai hari “Han Shi Jie [寒食]” serta menghimbau rakyatnya untuk tidak melakukan pembakaran dan menyalakan api serta hanya makan makanan dingin pada hari tersebut.

Pada Tahun kedua, Raja Jin Wen Gong beserta Menterinya mengunjungi Gunung Jie untuk melakukan pengenangan terhadap Jie Zi Tui. Pohon yang telah mati terbakar disamping kuburan Jie Zi Tui tersebut hidup kembali dan sangat indah. Sang Raja dan Menterinya kemudian membersihkan kuburan Jie Zi Tui dan menamai Pohon “Liu”[ ] tersebut menjadi “Qing Ming Liu [清明柳] serta menggantikan nama hari tersebut menjadi Hari Qing Ming (Cheng Beng).

Setelah itu, Raja Jin Wen Gong selalu menyimpan Kain yang berisikan Puisi Jie Zi Tui di dalam lengan bajunya untuk mengingatkan diri agar selalu bijaksana dalam memerintah Negaranya.

Dan Memang, Negara Jin merupakan salah satu Negara diantara 5 Negara terkuat pada zaman musim Semi Gugur (Chun Qiu[春秋]).

Rakyat Negara Jin selalu mengenang jasa-jasa Jie Zi Tui membuat bentuk seekor burung walet dengan menggunakan tepung kemudian digantung didepan pintu rumah semua untuk memanggil Rohnya Jie Zi Tui dan dinamai dengan “Zi Tui Yen [之推燕]”. Selain itu, Rakyat Negara Jin juga hanya makan makanan yang telah disiapkan pada hari sebelumnya, tidak ada aktifitas masak makanan ataupun menyalakan api pada hari tersebut. Hari Qing Ming menjadi suatu Festival yang sang besar dan penting semenjak itu.

Festival pergantian musim dan makanan dingin

Festival Makanan Dingin sudah ada sebelum Festival Qingming. Dikatakan dalam Ritual Zhou - Xia Guan Sima: “Nyalakanlah api baru di musim semi.” Ada beberapa cerita yang berbeda mengenai asal-usul Festival Makanan Dingin. Ada yang mengatakan bahwa itu berasal dari cara kuno mengebor kayu untuk membuat api. Pada zaman dahulu, jenis kayu yang digunakan untuk membuat api berbeda sesuai dengan musim, dan sebelum api baru dibuat, orang dilarang menyalakan api.

Api dilarang selama Festival Makanan Dingin, dan “api baru” dinyalakan ketika Festival Qingming tiba. Hal ini melambangkan ucapan selamat tinggal pada yang lama dan menyambut yang baru dengan harapan baru, kehidupan baru, dan awal dari sebuah siklus baru.

Belakangan, Festival Makanan Dingin mulai berfokus pada “rasa syukur” dan menekankan untuk mengingat serta mengungkapkan rasa terima kasih kepada leluhur, khususnya untuk memperingati Jie Zitui, seorang menteri yang setia di Negara Bagian Jin pada Periode Musim Semi dan Musim Gugur.

Legenda mengatakan bahwa selama periode Musim Semi dan Musim Gugur (770-476 SM) dan Negara-negara Berperang (475-221 SM), Li Ji, selir Raja Xian dari Jin, memaksa Pangeran Shen Sheng untuk bunuh diri agar putranya, Xi Qi, dapat naik takhta.

Adik laki-laki Shen Sheng, Chong'er, terpaksa diasingkan untuk menghindari bahaya. Selama pengasingannya, Chong'er menderita berbagai macam penghinaan dan kesulitan, dan sebagian besar menteri yang awalnya mengikutinya berpisah. Salah satu dari sedikit pengikut setia yang tetap tinggal untuk merawatnya adalah Jie Zitui.

Suatu ketika, Chong'er sangat lapar hingga ia tidak bisa lagi berjalan. Jie Zitui memotong sepotong daging dari kakinya sendiri dan membuat sup untuk meredakan rasa lapar sang pangeran. Sembilan belas tahun kemudian ketika Chong'er kembali ke negaranya dan naik takhta sebagai Raja Wen dari Jin, dia memberi penghargaan kepada para menteri yang mengikutinya di pengasingan, tetapi dia melupakan Jie Zitui, yang telah kembali ke rumah untuk merawat ibunya.

Setelah orang lain mengingatkannya, Raja Wen dari Jin merasa sangat tidak enak hati. Dia mengirim utusan beberapa kali untuk mengundang Jie Zitui datang ke istana dan diberi hadiah, namun tidak berhasil. Jadi dia pergi ke rumahnya secara langsung, hanya menemukan pintunya terkunci. Bahkan, Jie Zitui tidak ingin menerima pujian atas apa yang dia lakukan dan bersembunyi di Gunung Mian (sekarang Kabupaten Jiexiu, Provinsi Shanxi) bersama ibunya.

Ketika para pengawal istana gagal menemukannya di gunung, seseorang menyarankan agar membakar gunung tersebut untuk memaksa Jie Zitui keluar. Setelah api berkobar selama tiga hari tiga malam, Jie Zitui masih tidak terlihat. Ketika Raja Wen naik ke atas gunung, ia melihat Jie Zitui dan ibunya, memeluk pohon willow besar, keduanya terbakar sampai mati. Di dalam lubang pohon willow, ada sepotong pakaian dengan sebuah puisi yang ditulis dengan darah:

Hamba memotong daging sendiri untuk melayani yang mulia dengan sepenuh hati,
dan berharap yang mulia selalu berpikiran jernih.
Lebih baik hamba menjadi hantu di bawah pohon willow,
daripada menemani yang mulia sebagai pelayan yang memberi nasihat,
Jika yang mulia memiliki hamba di dalam hati,
ingatlah hamba dan selalu renungkan diri sendiri,
Hamba memiliki hati nurani yang jernih di alam baka,
dan (yang mulia) menjaga pemerintahan yang bersih sepanjang tahun.

Dengan sangat sedih, Raja Wen dari Jin menyimpan puisi tersebut dan memberikan perintah agar Jie Zitui dan ibunya dimakamkan di bawah pohon willow dengan penuh kehormatan. Dia juga memerintahkan agar nama Gunung Mian diubah menjadi Gunung Jie dan hari kematian Jie Zitui ditetapkan sebagai Festival Makanan Dingin. Orang-orang tidak diperbolehkan membuat api untuk memasak pada hari itu setiap tahun untuk mengenang Jie Zitui.

Raja Wen dari Jin pergi ke Gunung Mian untuk memberi persembahan kepada Jie Zitui, dan dia melihat tunas baru tumbuh dari pohon willow yang hangus, jadi dia menamai pohon willow yang baru tumbuh sebagai “Qingming Willow” dan sehari setelah Festival Makanan Dingin sebagai “Festival Qingming.”

Raja juga mematahkan beberapa cabang pohon willow, dibentuk seperti lingkaran, dan memakainya di kepala, seolah-olah Jie Zitui masih bersamanya. Belakangan, orang-orang di Negara Bagian Jin juga mengenakan mahkota cabang pohon willow dan menanam pohon willow untuk mengenang Jie Zitui, sebuah tradisi yang diikuti oleh generasi berikutnya.

Semua api dipadamkan pada Festival Makanan Dingin untuk menghormati dan mengenang para leluhur. Keesokan harinya, pada Festival Qingming, kaisar akan memimpin para jenderal dan pejabat istana dalam upacara penyalaan api, di mana kayu dibor untuk membuat api baru, yang menandakan kemakmuran negara dengan menyingkirkan yang lama dan menyambut yang baru.

Kedua festival ini kemudian digabungkan menjadi satu karena waktunya sangat berdekatan. Jadi, Festival Qingming adalah festival untuk menyapu makam dan menghormati leluhur dan festival tamasya musim semi untuk menikmati keindahan alam.

Selain menyapu makam, orang-orang juga menikmati menanam pohon, jalan-jalan, mengenakan mahkota pohon willow, berayun-ayun di ayunan, bermain Cuju (bentuk kuno dari sepak bola), menerbangkan layang-layang, dan makan berbagai macam kue dan makanan ringan.

Zhu Yuan Zhang mencari makam leluhur

Ini adalah cerita asal muasal kertas warna-warni yang dihiaskan di atas makam saat qing ming jie.

Konon menurut cerita rakyat, asal mula ziarah kubur atau Qing Ming ini berawal dari zaman kekaisaran Zhu Yuan Zhang (朱元璋), pendiri Dinasti Ming.

Zhu Yuanzhang awalnya berasal dari sebuah keluarga yang sangat miskin. Karena itu dalam membesarkan dan mendidik Zhu Yuanzhang, orangtuanya meminta bantuan kepada sebuah kuil. Ketika dewasa, Zhu Yuanzhang memutuskan untuk bergabung dengan pemberontakan Sorban Merah, sebuah kelompok pemberontakan anti Dinasti Yuan (Mongol). Berkat kecakapannya, dalam waktu singkat ia telah mendapat posisi penting dalam kelompok tersebut, untuk kemudian menaklukkan Dinasti Yuan. Sampai akhirnya Beliau menjadi seorang Kaisar. Setelah menjadi Kaisar, Zhu Yuanzhang kembali ke desa untuk menjumpai orangtuanya. Sesampainya di desa ternyata orangtuanya telah meninggal dunia dan tidak diketahui keberadaan makamnya.

Kemudian untuk mengetahui keberadaan makam orangtua nya, sebagai seorang Kaisar, Zhu Yuan Zhang memberi titah kepada seluruh rakyatnya untuk melakukan ziarah dan membersihkan makam leluhur mereka masing-masing pada hari yang telah ditentukan. Selain itu, diperintahkan juga untuk menaruh kertas kuning di atas masing-masing makam, sebagai tanda makam telah dibersihkan.

Setelah semua rakyat selesai berizarah, Kaisar memeriksa makam-makam yang ada di desa dan menemukan makam-makam yang belum dibesihkan serta tidak diberi tanda. Kemudian Kaisar menziarahi makam-makam tersebut dengan berasumsi bahawa di antara makam-makam tersebut pastilah merupakan makam orangtua, sanak keluarga, dan leluhurnya.

Comments

Popular posts from this blog

4 raja naga

Asal usul Batu Badoang

Ramayana