Festival Cap Go Meh

 Perayaan Yuan Xiao Jie (Simplified: 元宵, Traditional: 元宵節), yang di Indonesia lebih dikenal sebagai Perayaan Cap Go Meh, adalah perayaan populer. Bulan Pertama (Zhen Yue – 正月) dalam penanggalan Imlek disebut juga dengan istilah “Yuan Yue (元月)”. Dalam bahasa Tionghoa, malam disebut juga dengan istilah “Xiao ()”. Yuan Xiao berarti Malam Bulan Purnama Pertama di Tahun Baru Imlek. Banyak lampion-lampion yang digantungkan hingga dikenal pula dengan Festival Lampion. Saat festival Yuan Xiao diadakan juga Festival Shang Yuan (上元).

Kisah Perayaan Yuan Xiao Jie Pada masa pemerintahan Kaisar Wu Di dari Dinasti Han, di istana tinggal seorang wanita bernama Yuan Xiao yang berasal dari daerah barat laut Ibukota Chang’An (Simplified: 长安, Traditional: 長安).

Sejak memasuki istana, para dayang dilarang untuk pulang berkumpul dengan keluarga. Yuan Xiao telah beberapa tahun tidak dapat mengunjungi orang tuanya. Ia merasa rindu dan telah menjadi anak yang tidak berbakti. Hal ini membuatnya sedih. Rasa bakti kepada orang tua merupakan suatu nilai hidup yang telah ditanamkan sejak zaman dahulu. Rasa putus asa yang mendera, membuat Yuan Xiao ingin melompat ke dalam sumur. Untungnya, seorang penasehat sang Kaisar, Dongfang Shuo (東方朔) melihat kejadian tersebut. Dongfang Shuo segera mencegah dan dapat pula mengetahui penyebab dari kejadian tersebut.

Penasehat bijaksana ini berjanji mencari jalan keluar atas permasalahan ini. Sang penasehat memutuskan menyamar menjadi ahli ramal di kota Chang’an. Ia mengelar lapak dan menyatakan bahwa pada tanggal 15 bulan 1, akan terjadi kebakaran hebat. Sang Peramal meminta agar para tetua untuk menemui wanita berpakaian merah di luar kota di sebelah barat laut. Setelah bertemu, wanita tersebut memberikan surat untuk diberikan kepada Kaisar Wu Di. Dan berpesan bahwa, Kaisar Langit memerintahkan Dewa Api pada tanggal 15 ini akan membakar seisi kota.

Setelah membaca surat tersebut dengan seksama, Kaisar menjadi khawatir dan segara memanggil Penasehat untuk dimintai pendapat. Sang Penasehat bijaksana memberikan saran bahwa seluruh rakyat harus menggantungkan lampion merah di pintu-pintu rumah, jembatan dan jalan-jalan pada tanggal 15 bulan 1 dan menyalakan petasan serta kembang api. Kerajaan akan membuat persembahan berupa makanan berbentuk bola dari tepung beras ketan yang disajikan bersama kuah manis. Konon Dewa Api senang memakan bola ketan. Sang penasehat memberitahu Kaisar bahwa di istana, ada seorang dayang bernama Yuan Xiao yang sangat pandai membuat makanan bola ketan. Dan meminta dayang tersebut juga yang membawa persembahan beserta lampion sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Api. Oleh Penasehat, lampion tersebut tertulis nama “Yuan Xiao”.

Pada tanggal 15, Chang’an menjadi merah menyala penuh lautan lampion. Diharapkan agar Kaisar Langit mengira seluruh kota telah terbakar. Yuan Xiao yang memasuki kota Chang’an dengan membawa lampion tertulis namanya, ternyata membuat keluarganya mengenali bahwa itu adalah putri mereka, Yuan Xiao yang telah lama dirindukan. Sekeluarga menjadi terharu dan bahagia atas pertemuan ini. Kaisar Wu Di senang, kota Chang’an menjadi aman dan damai.

Diumumkan setiap tanggal 15 bulan 1 untuk menggantung lampion dan membuat serta makanan bola ketan. Orang-orang menyebut bola ketan ini dengan sebutan Yuan Xiao. Demikianlah asal-usul festival Lampion dan makanan bola ketan bernama Yuan Xiao pada tanggal 15 bulan 1 penanggalan Imlek.

Yuan Xiao atau Ronde merupakan makanan khas berbentuk bola yang dibuat dari tepung beras ketan dengan kuah rebusan gula. Biasa di konsumsi di daerah Tiongkok bagian Utara. Sedangkan di Tiongkok bagian selatan, ronde dikenal dengan nama Tang Yuan yang dikonsumsi pada waktu perayaan Dong Zhi ( Festival Musim Dingin).

Di Indonesia sendiri, festival Yuan Xiao Jie lebih dikenal dengan sebutan “Cap Go Meh” yang artinya adalah malam ke-15 Tahun Baru Imlek. Berasal dari bahasa Hokkian yaitu yaitu Cap – Sepuluh, Go – Lima, dan Meh – Malam. Cap Go Meh merupakan festival yang jatuh pada tanggal lima belas bulan pertama kalender Imlek. Sebagai bulan purnama pertama di tahun yang baru, juga sekaligus hari terakhir dan puncak dari perayaan Tahun Baru Imlek. Perayaan Cap Go Meh bersifat sosial dan merupakan pesta rakyat di pusat keramaian seperti di jalan raya dan Klenteng. Diisi dengan kegiatan berbagai atraksi dan hiburan budaya. Makanan saat Cap Go Meh di Indonesia yang merupakan kebudayaan campuran antara Jawa dan Chinese. Hidangan ini mirip hidangan saat hari raya ketupat saat lebaran. Pencampuran budaya ini mulai terjadi abad ke-14. Saat banyak pria tionghoa yang menikah dengan perempuan jawa.  Lontong Cap gomeh sebagai pengganti bola-bola dari tepung beras

Hidangan lontong Cap Go Meh memiliki arti yang bermakna. Masyarakat etnis Tionghoa percaya bahwa lontong Cap Go Meh dapat membawa keberuntungan.

Selain lontong, hidangan ini juga berisi telur, daging, ayam, dengan kuah santannya yang berwarna keemasan. Tentunya, isian dari lontong Cap Go Meh juga menyimpan makna masing-masing.

Lontong yang berbentuk panjang melambangkan panjang umur. Sementara, telur dan kuahnya yang berwarna keemasan dianggap sebagai simbol keberuntungan. Warna kuning keemasan dari kuahnya melambangkan emas yang identik dengan kekayaan.

Tak hanya itu, warna merah pada daging yang ada di dalamnya bermakna kesejahteraan. Sedangkan, lauk ayam menyimbolkan kerja keras karena ayam yang dinilai pekerja keras dan gigih dalam mencari makan.

Selain makanannya yang punya makna mendalam, cara penyajian lontong Cap Go Meh juga perlu diperhatikan. Makanan ini biasa disajikan dalam mangkok yang terisi penuh dengan lauk dan kuah melimpah hingga menjulang tinggi.

Cara penyajian ini terinspirasi dari tradisi Jawa maupun Tionghoa. Masyarakat Jawa terbiasa makan dan minum dalam porsi besar sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Tak jauh berbeda, masyarakat Tionghoa juga menganggap makan dengan piring penuh menandakan doa dan harapan diberikan rezeki melimpah.


Comments

Popular posts from this blog

4 raja naga

Asal usul Batu Badoang

Ramayana