Festival Musim Gugur
Hoi kali ini aku ingin membagikan Festival Musim Gugur (Hanzi :中秋节; Pinyin : Zhōngqiū jié) atau lebih
dikenal dengan Perayaan Kue Bulan merupakan hari suka cita
masyarakat Tionghoa, yang dilambangkan dengan kehadiran bulan purnama penuh.
Berdasarkan perhitungan kalender lunar (Imlek), festival ini jatuh setiap
tanggal 15 bulan ke-8. Festival ini merupakan perayaan terbesar ke-2 setelah Imlek.
Pada hari ini, bulan akan berada di posisi paling dekat dengan bumi,
berdampingan dengan batas langit, dan bersinar dengan warna yang kemerahan. Hal
ini akan melambangkan bersatunya pria (matahari) dengan wanita (bulan), laiknya
seperti Yin & Yang dalam filosofi tradisi China.
A. Legenda Kue
Bulan : Kisah Hou Yi dan Chang E
Konon di jaman Tiongkok kuno, terdapat 10 buah matahari di langit. Orang2
tidak mampu menahan hawa panasnya (ya iya lah 1 aja udah panas banget). Tanaman
mati, dan sungai mengering. Hal ini membuat seorang lelaki yang bernama Hou
Yi ((后羿) maju untuk
memperbaiki keadaan.
Hou Yi adalah seorang pemanah. Ia mendaki Gunung Kunlun dan memanah 9 matahari hingga jatuh padam, dan hanya menyisakan 1 di langit. Hou Yi juga memerintahkan 1 matahari itu untuk terbit dan terbenam sesuai waktu yang telah ditentukan. Berkat jasanya, Hou Yi dikenal luas masyarakat.
Banyak orang yang ingin menjadi muridnya, serta belajar memanah darinya.
Hou Yi juga mendapat hadiah Ramuan Keabadian dari Ibu Ratu. Pil ini konon dapat
membuat orang biasa menjadi Dewa dan hidup abadi.
Hou Yi memiliki istri cantik, bernama Chang E (嫦娥). Hou Yi tidak ingin hidup abadi
seperti seorang Dewa, dan meninggalkan sang istri sendirian di bumi. Ia
memberikan ramuan obat keabadian kepada Chang E agar disimpannya. Sayangnya,
salah satu murid Hou Yi bernama Feng Meng (逢蒙) mengetahui hal ini dan berkeinginan
untuk memiliki ramuan tersebut.
Pada suatu hari, Hou Yi mengajak murid-muridnya untuk berburu dan berlatih
memanah. Feng Meng berpura-pura sakit agar tidak diikutsertakan dalam perburuan
ini. Ketika Hou Yi pergi, Peng Meng pergi ke rumahnya dan mengancam Chang E
dengan pedang agar memberikan ramuan obat keabadian padanya.
Chang E pun menolak. Namun ia merasa bahwa ia tidak akan mampu melawan Feng
Meng sendirian. Dalam keadaan yang panik itu, Chang E pun memutuskan untuk
meminum ramuan obat keabadian itu.
Setelah meminumnya, Chang E merasa tubuhnya menjadi ringan. Ia pun perlahan
terbang ke langit. Namun, Chang E masih merindukan suaminya, dan tidak ingin
berpisah jauh darinya. Maka dari itu, Chang E memutuskan untuk tinggal di
bulan, tempat terdekat dari bumi, agar dia senantiasa merasa dekat dengan sang
suami.
Di bulan, Chang E ditemani oleh seekor Kelinci Giok agar tidak kesepian.
Hou Yi pun merasa sedih karena harus terpisah dari istrinya. Ketika itu,
seorang Dewa yang mengetahui kejadian ini merasa iba. Beliau mendatangi Hou Yi
dalam mimpinya, dan mengajarinya cara bertemu dengan Chang E. Dewa itu menyuruh
Hou Yi untuk membuat kue bulan, dan memanggil nama Chang E secara terus menerus
saat puncak bulan purnama.
Ketika bulan berada paling dekat dengan bumi (tanggal 15 bulan 8 Imlek). Hou Yi melaksanakan ajaran sang Dewa; dan benarlah, Chang E pun turun ke bumi dan menemui Hong Yi selama sehari.
B. Legenda Kue
Bulan : Kisah Kelinci Giok
Perayaan Festival kue bulan juga tak terlepas dari Kelinci Giok (玉兔; Yùtù), teman setia Chang E yang
menemaninya selama tinggal di bulan. Kelinci Giok bertugas membuat ramuan
keabadian, sembari menemani Chang E agar tidak kesepian.
Legenda Kelinci Giok juga menarik disimak. Berikut kisahnya.
Konon di hutan, tinggallah 3 ekor binatang, yakni rubah, kera, dan kelinci. Kaisar Langit ingin menguji kesetiaan ke-3 hewan tersebut. Kaisar Langit pun turun ke hutan, lalu menjelma menjadi kakek tua yang tersesat di hutan dan kelaparan. Kakek tua itu meminta tolong kepada ke-3 binatang tersebut untuk memberinya makanan.
Sang kera mencari buah-buahan di hutan, dan si rubah menangkap ikan di
sungai. Sementara kelinci tidak dapat menemukan apa-apa. Kakek tua itu sedikit
kecewa karena nyatanya mereka tidak bekerjasama. Akibatnya si kelinci tidak
mampu membawa apa-apa. Sebagai gantinya, kelinci bersedia memasak untuk si
kakek. Ketiga hewan tersebut kemudian membuat api dari kayu bakar.
Kelinci masih merasa bersalah, kemudian ia mengatakan bahwa sebagai ganti
atas kegagalannya, ia bersedia mengorbankan diri untuk dimakan si kakek tua.
Kelinci itu pun melompat ke dalam api.
Kaisar Langit terharu dengan pengorbanan si kelinci. Sang Kaisar pun
menghidupkan kembali sang kelinci, sekaligus menjadikannya pembuat ramuan
keabadiam di kahyangan.
Sang Kelinci pun bekerja dengan rajin. Namun, pada suatu hari, Ibu Ratu
datang dan meminta tambahan ramuan keabadian untuk diberikan kepada Hou Yi,
sang pemanah yang telah menolong rakyat yang tersiksa akibat 10 matahari.
Permintaan ini melanggar aturan langit, sehingga kelinci menolak.
Ibu Ratu marah, dan memaksa kelinci untuk tetap menyerahkan ramuan
keabadian tersebut. Kelinci pun takut akhirnya mengikuti kehendak Ibu Ratu.
Mendengar hal ini, Kaisar Langit menjadi murka kepada kelinci. Kelinci
bersujud memohon ampunan dan bersedia menerima hukuman apapun. Kaisar Langit
akhirnya memberi kelinci kesempatan, namun ia harus tinggal di bulan menemani
Chang E, sembari tetap membuat ramuan keabadian.
Si kelinci lega, dan dengan senang hati menjalankan keputusan Kaisar
Langit. Ia pun segera pergi ke bulan, dan tinggal di sana bersama Chang E,
serta terus melaksanakan tugasnya sebagai pembuat ramuan.
C. Legenda Kue
Bulan : Pemberontakan Zhu Yuanzhang
Menurut catatan sejarah, kue bulan muncul pada jaman Dinasti Ming, yang
dikaitkan dengan kisah pemberontakan heroik Zhu Yuanzhang (朱元璋). Beliau memimpin para petani Han
melawan pemerintah Mongol. Namun sebenarnya, kue bulan telah ada tercatat ada
dalam sejarah di jaman Dinasti Song.
Dari sini, kue bulan dipastikan telah populer dan eksis jauh sebelum
Dinasti Ming berdiri.
Versi lain mengatakan, cerita lain terkait asal-usul Festival Kue Bulan
bermula saat Tiongkok dikuasai Mongol. Ketika itu kerajaan Mongol menjalankan
pemerintahan di wilayah China, dengan nama Dinasti Yuan (1280-1368).
Bagi yang suka baca atau nonton cerita silat, inilah jamannya Sin
Tiaw Hiap Lu (a.k.a Yang Guo dan Xiao Long Ni) di mana kota Xiang
Yang akhirnya jatuh ke tangan Mongol, dan seluruh China ada di bawah kekuasaan
dinasti baru, Yuan. Dalam kurun waktu itu, pemberontakan untuk menumbangkan
Dinasti Yuan berlangsung terus, dan belum pernah berhasil.
Akhirnya di kisaran tahun 1360-an, timbul gerakan bawah tanah, yang
dipimpin oleh seorang petani, bernama Zhu Yuanzhang. Beliau memimpin gerakan
perlawanan kepada penjajah Mongol.
Zhu dan penasehatnya, Liu Bowen, menyebarkan desas-desus bahwa ada penyakit
yang tak tersembuhkan di masyarakat, dan hanya bisa dicegah dengan memakan kue
bulan yang sudah dipersiapkan secara khusus oleh mereka. Waktu itu kebetulan
jatuh pada pertengahan musim gugur, yaitu tanggal 15 bulan 8 Imlek.
Ternyata itu adalah satu siasat untuk menyebarkan pesan kepada rakyat, agar
ikut mendukung pemberontakan menggulingkan penguasa Mongol.
Konon, penulisan pesan rahasia dilakukan dengan cara khusus, yakni dalam 4
buah kue bulan, dan dikemas dalam 1 kotak. Masing2 kue itu harus dipotong
menjadi 4 bagian, sehingga total mendapatkan 16 potong kue, yang kemudian harus
dirangkai sedemikian rupa, sehingga pesan rahasianya dapat terbaca.
Ada juga versi yang mengatakan bahwa pesan rahasia tersebut ditulis di
kertas dan dimasukkan di tengah2 kue bulan.
D. Kue Bulan
(Mooncake) di Masa Kini
Dibalik legenda turun-temurun diatas, tersimpan pula budaya khas Tiongkok
yang diwariskan hingga masa kini. Perayaan Festival Kue Bulan masih terus
dilestarikan hingga kini. Festival ini juga menjadi ajang kuliner yang menarik.
Di Indonesia, warga keturunan Tionghoa biasanya berkumpul dan membagikan kue
bulan ke keluarga besarnya, sebagai sarana mempererat tali kekeluargaan.
Kue bulan juga dibagikan kepada teman2 dan rekan bisnis. Memberi kue bulan
adalah simbol doa dan pengharapan baik, yakni harmoni dan kemakmuran bagi si
penerima.
Di Indonesia, kue bulan biasanya dikenal dalam dialek Hokkian, yaitu Gwee
Pia, atau Tiong Ciu Pia. Sementara dalam dialek Hakka/Khek, kue
bulan disebut Ngie̍t-Piáng.
Kategori kue bulan sebenarnya bervariasi, diantaranya sebagai berikut :
♦ Menurut cara pembuatan : ala Guangdong, ala Beijing, ala Taiwan, ala
Hongkong, dan ala Chaozhou.
♦ Menurut rasa : manis, asin, pedas.
♦ Menurut isi : kuning telur, kacang-kacangan, potongan daging, tiramisu,
buah2an, keju, hingga es krim.
♦ Menurut bahan kulit : tepung gandum, kacang hijau, kacang merah, dan teratai.
Berbagai restoran, hotel, dan toko-toko kue menjual kue bulan saat Festival
Musim Gugur datang. Kebanyakan bentuknya juga masih khas kue bulan tradisional,
yakni berbentuk bulat, yang melambangkan keutuhan keluarga.
Tradisi Saat Musim Gugur
- Makan kue bulan
Melambangkan reuni keluarga, sesuai tradisi kue bulan akan di potong dan bagi sama besar sesuai jumlah anggota keluarga. - Mengagumi Bulan Purnama
Menurut kepercayaan Tiongkok, Bulan purnaam melambangkan reuni keluarga, karena itu banyak yang menulis puisi tentang bulan. Saat ini masyarakat Tiongkok masih senang memandang, mengagumi bulan purnama saat Festival Musim Gugur, makan malam bersama keluarga, memberi hadiah dan ucapan. Selain itu saat bulan 8 tanggal 15 imlek langit biasanya sangat cemerlang, dengan bulan yang bersinar sangat terang dan bulat - Bersembahyang pada Dewi Bulan
Setelah makan malam, biasa setiap keluarga bersembahyang dengan altar yang diletakkan di depan rumah menghadap ke bulan. Di atas altar diletakkan kue bulan, dupa dan lilin. Selain bersembahyang ke Dewi Bulan masyarakat juga bersyukur pada Dewa Bumi (Thu Ti Kung - Hok Tek Cin SIn). Karena juga merupakan musim panen jadi bersyukur pada bumi yang menghasilkan berbagai hasil bumi - Membuat dan menerbangkan Lampion Warna-warni
Biasa orang membuat lampion terbang menggunakan lilin dengan menuliskan harapan yang baik dan melepaskannya untuk terbang ke langit - Ajang mencari Jodoh
Menurut kepercayaan di Bulan ada orang tua yang bernama Yue Lao (月下老人Yue XIa Lao Ren) yang bertugas mengatur jodoh manusia. Muda-mudi menuliskan harapan pada bilah papan kecil atau kertas merah yang digantung pada pohon jodoh
Festival Pertengahan Musim Gugur (中秋节, Zhong Qiu Jie),
yang di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan Festival Kue Bulan, merupakan
perayaan hari sukacita keluarga yang dilambangkan dengan kehadiran bulan
purnama penuh. Biasanya pada masa ini adalah moment untuk berkumpul bersama
keluarga. Festival Zhong Qiu Jie jatuh pada tanggal 15 bulan ke 8 berdasarkan
perhitungan kalender lunar Tiongkok (Imlek).
Ini adalah masa di mana bulan paling dekat dengan Bumi,
berdampingan dengan batas langit dan bersinar kemerahan, melambangkan
bersatunya antara pria (matahari) dan perempuan (bulan), seperti Yin dan Yang
dalam tradisi Tiongkok.
Tradisi Kue Bulan
pertama kali muncul pada masa Dinasti Xia dan Dinasti Shang. Ini adalah tradisi
ritual masyarakat Tiongkok Kuno yang bersifat ritual, namun perayaan tradisi
tersebut baru populer ketika masa Dinasti Tang.
Tradisi ini berasal dari latar belakang pertanian
Tiongkok, dimana petani memohon pada Dewa Bumi agar diberi musim yang baik. Di
akhir masa panen yang bertepatan sekitar pertengahan bulan ke 8 (Imlek), para
petani akan mengadakan ritual pemujaan terhadap Dewa yang telah memberikan
hasil panen yang berlimpah sebagai rasa syukur dan ucapan terima kasih kepada
Dewa.
Selain itu, ada legenda lainnya mengenai asal usul
Festival Pertengahan Musim Gugur ini yaitu tentang legenda seorang pemanah
bernama Hou Yi (后羿). Konon zaman dahulu di atas langit ada 10
matahari, hal ini tentu saja membuat bumi menjadi kering, rakyat hidup
menderita. Hou Yi lalu pergi memanah 9 buah matahari sehingga tersisa hanya 1
buah matahari. Semenjak itu Hou Yi dikenal sebagai pahlawan.
Suatu hari Hou Yi pergi ke pegunungan Kun Lun dan bertemu
dengan Ratu Xi Wang Mu (西王母) yang memberikannya
obat mujarab yang bisa membuatnya naik ke langit dan menjadi Dewa. Hou Yi
menyerahkan obat tersebut pada istrinya, Chang’E (嫦娥).
Peng Meng, seorang anak buah Hou Yi yang mengetahui akan
hal ini lalu berencana untuk mencuri ramuan tersebut. Suatu hari saat Hou Yi
sedang pergi, Peng Meng (彭蒙) menyusup ke kamar
Chang’E dan memaksa Chang untuk menyerahkan obat tersebut. Sadar bahwa dirinya
tidak mampu melawan Peng Meng, Chang’E lalu mengambil obat tersebut dan
memakannya sambil melarikan diri.
Tiba-tiba ia merasakan tubuhnya menjadi ringan dan mulai
terbang ke atas. Selagi mengkhawatirkan suaminya, ia mendapatkan dirinya
mendarat di bulan, benda langit terdekat dengan bumi.
Saat Hou Yi pulang, ia sangat sedih setelah mengetahui
apa yang telah terjadi. Ia kemudian membangun sebuah altar di kebun milik
Chang’E untuk mengenang sang istri. Di sana ia meletakkan makanan kesukaan
Change dan buah-buahan segar sebagai persembahan kepada sang istri di bulan.
Inilah awal masyarakat Tiongkok kuno mulai memberikan
persembahan kepada dewi bulan, persembahan berupa kue bulan, anggur dan buah
semangka.
Ada cerita lain
mengenai Hou yi dan Chang e
Hou Yi berhasil mendapatkan ramuan kehidupan untuk
menyelamatkan rakyat dari pemerintahan yang kejam, namun sang istri meminumnya.
Sehingga membuat istri Hou Yi terbang ke bulan. Lalu mulailah legenda adanya
perempuan di bulan, yang mana gadis-gadis Cina merayakannya sebagai Perayaan Pertengahan
Musim Gugur.
Legenda ini semasa pemerintahan Tai Kang dari Dinasti Xia
Yu mendapatkan takhta dari Shun karena kemampuannya dalam
mengendalikan banjir. Ketika Yu telah berusia lanjut, dia memiliki keinginan
untuk menyerahkan takhta kepada salah seorang menterinya, Po Yi. Namun para
ketua suku menginginkan agar Yu memberikan posisi tersebut kepada Chi, salah
seorang putra Yu. Setelah kejadian ini maka posisi ketua dari ketua atau raja
menjadi sesuatu yang turun temurun. Tai Kang adalah putra dari Chi.
Yu memiliki jasa besar karena berhasil menghentikan
banjir dan mendidik rakyat untuk bertani. Hal ini menyebabkan Kaisar Langit di
surga memerintahkan sepuluh orang putranya menjadi sepuluh matahari. Ini
dimaksudkan agar mereka dapat secara bergantian mengelilingi langit setiap hari
sehingga dapat membantu rakyat untuk berternak dan bertani.
Namun sepuluh orang muda tersebut tidak mematuhi perintah
dan mereka keluar secara bersamaan yang menyebabkan panas dari sepuluh matahari
secara bersama-sama menyinari bumi dan mengakibatkan panas yang sangat hebat.
Banyak manusia dan binatang meninggal, sungai-sungai menjadi kering,
hutan-hutan terbakar, dan berbagai penderitaan hebat lainnya.
Rakyat memohon agar surga memberikan kasihnya. Dan
permohonan ini didengar oleh Kaisar Langit, yang lalu memerintahkan Hou Yi,
seorang Dewa yang gagah, untuk turun ke bumi menyelesaikan masalah tersebut.
Hou Yi adalah Dewa yang pemberani dan beruntung. Istrinya
adalah Chang-E (嫦娥) yang penyendiri, dan mereka sangat saling
mencintai dan tidak terpisahkan. Mereka terkenal dengan nama “Sepasang Dewa”.
Namun hidup diantara manusia tidak semudah hidup di surga, dan Chang-E tidak
berkeinginan untuk itu. Namun Hou Yi tidak dapat menentang perintah dari Kaisar
Langit, dan Chang-E tidak ingin berpisah dari suaminya. Maka dengan perasaan
berat, dia mendampingi Hou Yi ke daerah liar di timur.
Hou Yi adalah seorang pemanah yang hebat, dan dari surga
membawa busur gaib yang dapat memanah apa saja di langit diluar jangkauan
manusia. Kemudian rakyat dari daerah timur mengangkatnya sebagai ketua.
Bagaimanapun juga posisi tersebut tidaklah membawa
bahagia bagi Hou Yi, karena harus menghadapi kenyataan bahwa sepuluh matahari
terus menerus menghanguskan tanaman, menyebabkan binatang-binatang ternak mati
kelaparan, mengeringkan sungai-sungai, meluasnya penyakit-penyakit, dan banyak
rakyat meninggal. Melihat hebatnya penderitaan rakyat, dia mendaki Gunung
Tienshan dan berbicara dengan sepuluh matahari.
“Kasihanilah rakyat dan keluarlah hanya satu secara
bergantian, jangan keluar secara bersamaan”, mohon Hou Yi.
“Kenapa kita harus begitu?”, tanya salah satu matahari.
“Karena jika kalian semua muncul secara bersamaan, cahaya
dan panas kalian membuat rakyat dan mahluk hidup lainnya menderita”, jawab Hou
Yi.
Tanya matahari yang lain, “apa urusan manusia dengan
kami?”
“Ya benar! Kami sepuluh bersaudara sangat senang bermain
bersama setiap hari di langit. Betapa hampa dan membosankan bila kami
mengelilingi langit secara bergantian”, tambah matahari lainnya.
“Namun Surga sangat sayang kepada mahluk hidup, dan saya
berbicara kepada kalian atas perintah Kaisar Langit”, kata Hou Yi.
Meskipun Hou Yi berusaha keras dan sungguh-sungguh untuk
memberikan penjelasan, tetapi mereka tidak menghiraukan.
Salah seorang berkata dengan sombong “Kami adalah putra
dari Kaisar Langit, dan siapakah kamu berani mencampuri urusan kami?”
Lalu kesepuluh matahari dengan sombongnya mengeluarkan
panasnya ke bumi, yang mengakibatkan hutan-hutan terbakar, burung dan binatang
berlarian menghindar dan manusia berusaha untuk menyelamatkan hidup.
Perbuatan tersebut membuat Hou Yi kehilangan kesabaran,
sehingga dia mengambil busur dan panahnya, dan memanah matahari tersebut satu
per satu. Pada saat Hou Yi akan memanah matahari yang terakhir, sang matahari
memohon agar Hou Yi memberikan pengampunan, dan matahari tersebut berjanji
mematuhi semua tugas yang diberikan dan hanya akan keluar pada siang hari.
Setelah kejadian itu, rakyat sangat menikmati hidup
mereka, mereka bekerja pada siang hari dan beristirahat pada malam hari.
Hou Yi lalu melaporkan semua yang dilakukannya kepada
Kaisar Langit, yang sangat marah karena Hou Yi membunuh sembilan putranya
dengan kejam. Kaisar Langit menolak Hou Yi kembali ke surga. Kaisar Langit
mengatakan bahwa Hou Yi sangat dinantikan oleh rakyat di kawasan timur yang
telah mengangkatnya sebagai ketua dari suku-suku tersebut, dan menginginkan
agar Hou Yi dapat berjuang untuk kesejahteraan umat manusia.
Maka Hou Yi tidaklah dapat pulang ke surga, dan di bumi
sangat banyak pekerjaan yang harus dilakukannya.
Jika seseorang ingin menguasai alam, yaitu dengan
berkuasa atas serangga dan binatang buas, maka dia pertama-tama harus belajar
untuk bertarung. Maka Hou Yi mulai melatih rakyat memanah.
Hou Yi sangat sibuk dengan semua pekerjaan yang ada
sehingga dia jarang pulang ke rumah, dan ini menyebabkan Chang-E merasa
ditelantarkan dan kesepian. Yang paling membuat Chang-E sedih adalah kenyataan
bahwa dia sekarang adalah seorang manusia, yang tidak dapat menghindari
penderitaan manusia, seperti melahirkan, menjadi tua, sakit dan meninggal.
Chang-E sangat marah terhadap perbuatan Hou Yi yang memanah jatuh
matahari-matahari yang merupakan putra dari Kaisar Langit tersebut.
Hou Yi sangat mencintai istrinya, dan untuk menghindari
pertengkaran yang selalu terjadi, maka dia berkelana sendirian. Dengan cara ini
dia lebih dapat menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan dunia.
Dalam pengembaraan, Hou Yi melakukan banyak perbuatan
baik. Salah satu perbuatan baik Hou Yi yang sangat terkenal adalah membunuh
seekor monster berkepala sembilan. Semua perbuatan baik yang dilakukan membuat
nama Hou Yi semakin terkenal.
Beberapa kali Hou Yi memohon kepada Kaisar Langit agar
dia dan istrinya dapat kembali ke surga, namun Kaisar Langit tetap tidak
memaafkan perbuatan Hou Yi. Sehingga lama kelamaan, Hou Yi dan Chang-E harus
berusaha keras agar dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan manusia.
Manusia tidak dapat menghindar dari sakit, derita,
kesedihan, dan kecemasan. Maka saat Hou Yi berkelana, yang bertujuan untuk
melakukan banyak perbuatan baik bagi rakyat jelata, semakin terdapat jarak
antara dia dengan sang istri.
Pada saat itulah Hou Yi bertemu dengan Mi Fei, yang
merupakan salah satu wanita tercantik yang ada.
Mi Fei merupakan salah satu keturunan dari Fu Shi,
penguasa legendaris Cina. Dahulu, Mi Fei kehilangan keseimbangan dan tenggelam
di sungai Lo, yang kemudian membuat Mi Fei menjadi Dewi Lo. Mi Fei menikah
dengan Feng Yi, Dewa Air, yang mengendalikan Sembilan Sungai.
Mi Fei sedang bermain di sungai suatu hari pada saat Hou
Yi sedang mengendari kuda. Karena Mi Fei telah menikah dan tidak ingin orang
asing melihatnya, maka dia menyelam ke dalam air. Namun Hou Yi telah melihat Mi
Fei dan mengira Mi Fei tenggelam, maka Hou Yi meloncat ke sungai untuk
menyelamatkan Mi Fei. Secara tidak disadari, Mi Fei merasa senang pada saat
ditolong oleh Hou Yi.
“Kamu lebih baik pergi, karena jika suamiku melihatmu
maka kamu akan mati”, kata Mi Fei memperingatkan Hou Yi.
“Suamimu? Kamu memiliki suami?”, tanya Hou Yi dengan
penuh kekecewaan.
“Siapakah dia?”
“Feng Yi, Dewa Air.”
“Oh dia!”, kata Hou Yi sambil tertawa karena mendengar
nama Feng Yi yang memiliki reputasi buruk. Dalam hati, Hou Yi sangat
menyayangkan kenyataan bahwa wanita cantik ini ternyata memiliki suami semacam
Feng Yi.
“Bagaimana kamu bisa tertawa? Suamiku memiliki sifat yang
buruk, dan dia pasti akan membunuhmu.”
“Maka apakah kamu adalah Dewi Lo?”, tanya Hou Yi.
“Ya!”
“Itu tidak apa-apa! Jika Feng Yi memang bisa membunuhku,
saya tidak akan keberatan selama saya bisa bersama wanita cantik sepertimu”,
kata Hou Yi.
“Namun saya meragukan kemampuan Feng Yi bisa menandingi
kemampuan seseorang yang mampu membunuh matahari di langit”.
Mi Fei melihat busur dan panah gaib yang ada dan
menyadari siapakah Hou Yi sebenarnya. Mungkin karena Mi Fei menyukai Hou Yi,
atau karena Mi Fei merasa kesepian sekian lama, maka Mi Fei tiba-tiba menangis
di pundak Hou Yi. Hou Yi juga melupakan sang istri di rumah.
Hou Yi melupakan Chang-E, Mi Fei melupakan Feng Yi.
Namun percintaan mereka tidak kekal. Pada suatu hari saat
mereka sedang berbincang-bincang dengan mesra di tepi sungai, Feng Yi memergoki
mereka. Dia sangat marah dan mengubah diri menjadi seekor naga putih. Lalu
mengamuk, menyapu semua kuda-kuda dan menghancurkan ladang pertanian yang ada
di sekitar sungai.
Berpikir bahwa naga itu adalah seekor naga yang jahat,
Hou Yi mengambil busurnya dan melepaskan sebuah panah. Mi Fei berusaha
menghentikan Hou Yi, karena dia mengetahui penyamaran suaminya, namun dia
terlambat. Panah itu membutakan satu mata Feng Yi, yang lalu melaporkan
kejadian itu kepada Kaisar Langit.
Karena Hou Yi telah banyak melakukan perbuatan baik dan
menghadapai kenyataan bahwa sebenarnya Hou Yi sedang menjalani hukuman karena
membunuh sembilan matahari, maka Kaisar Langit hanya mengatakan agar Hou Yi
tidak menemui Mi Fei lagi.
Patah hati! Maka satu-satunya yang bisa dilakukan Hou Yi
adalah pulang ke rumah. Namun, Chang-E tidak menyambut dengan gembira.
“Bagaimana bisa kamu pulang kesini setelah apa yang kamu
lakukan? Pulanglah kamu ke perempuan yang tidak tahu malu itu!”, kata Chang-E.
Hou Yi tidak berkata apa-apa, karena menyadari bahwa dirinya memang bersalah.
Sementara itu Feng Yi yang masih tidak puas dengan
keputusan Kaisar Langit, memanggil para naga dari Sembilan Sungai dan
memerintahkan mereka membuat awan dan hujan selama satu bulan penuh. Bencana
ini menandingi bencana yang pernah ditimbulkan sepuluh matahari. Semua binatang
dan tanaman tenggelam, yang menyebabkan rakyat kelaparan.
Maka sekali lagi Hou Yi memanggul busur dan panahnya,
memanggil semua pengikutnya dan pergi berburu burung, binatang, dan ikan untuk
memberi makan Chang-E dan para anggota sukunya.
Chang-E tidak merasa senang dengan memakan binatang-binatang
liar ini. Dia ingin makan buah-buahan dan dia meminta Hou Yi menunjukkan
kegagahannya.
“Saya dahulu dapat mengambil bintang untukmu”, kata Hou
Yi, “namun sekarang kita adalah manusia dan seluruh daerah dilanda banjir dan
semuanya mati, dimana kamu mengharapkan saya bisa mendapatkan buah-buahan?”
“Itu semua salahmu! Kenapa kamu harus membunuh sembilan
matahari itu? Seharusnya kamu sadar bahwa mereka adalah anak dari Kaisar
Langit. Dan bagaimana kamu bisa juga bermesraan dengan Mi Fei yang telah
menikah dengan Feng Yi? Kamu tidak tahu malu!”, teriak Chang-E sambil menangis.
Hou Yi menyadari bahwa dirinya memang salah.
“Baiklah, itu semua salahku. Tenanglah. Marah akan
membuat kamu cepat menjadi tua”, kata Hou Yi dengan penuh kesabaran.
Mendengar kata “tua”, Chang-E tertegun dan melihat
bayangannya di air. Dan Chang-E terkejut menyaksikan kerut-kerut pada mukanya.
Dia menyadari bahwa itu adalah sesuatu yang wajar pada
manusia, dan kejadian itu tidak dapat dihindarinya. Chang-E berteriak-teriak histeri.
“Saya tidak ingin berubah! Saya tidak ingin menjadi
jelek! Saya ingin kembali ke surga!”
“Itu tidak mungkin”, kata Hou Yi, “Kaisar Langit tidak
mengijinkan kita kembali.”
“Saya tidak mau tahu! Saya tidak mau menjadi tua! Saya
tidak mau menjadi jelek! Kamu harus menemukan cara agar saya tetap abadi dan
cantik!”
“Baik, baik. Saya akan memikirkan caranya”, kata Hou Yi.
Hou Yi kebingungan. Dimana dia bisa mendapatkan cara
membuat seseorang abadi dan tetap cantik?
Namun bila dia tidak mendapatkannya, itu akan berterusan
tanpa akhir. Maka dia pergi dan tidak berani pulang ke rumah. Hou Yi ingin
pergi ke tempat Mi Fei namun dia takut melanggar perintah Kaisar Langit, itu
membuat semangatnya semakin turun dari hari ke hari.
Hou Yi menjadi pemabuk, dan mulai menunjukkan sifat
kasar. Hou Yi mulai bersikap kasar kepada para murid dan anggota sukunya. Dan
itu membuat orang-orang tidak menyukai Hou Yi, terutama Feng Meng dan seorang
anak buah Feng Meng, Han Cho.
Feng Meng telah lama belajar memanah dari Hou Yi, dan
merasa bahwa dirinya sudah melebihi Hou Yi. Dia secara rahasia menyukai
Chang-E, namun tidak berani bertindak apa-apa karena dia takut akan busur dan
panah gaib yang dimiliki Hou Yi.
Sedangkan Han Cho adalah seorang tamak yang menginginkan
menjadi ketua menggantikan Hou Yi, tentunya jika Hou Yi dibinasakan.
Maka mereka berdua merencanakan hal jahat terhadap Hou Yi
dan Chang-E. Mereka mengatakan kepada Hou Yi bahwa Ibu Raja yang tinggal di
puncak Gunung Kunlun memiliki ramuan yang dapat membuat seorang abadi dan tetap
cantik.
Demi Chang-E, Hou Yi mendaki Gunung Kunlun yang penuh
dengan bahaya, dimana akhirnya dia bisa menjumpai Ibu Raja. Karena pengorbanan
yang dilakukan oleh Hou Yi begitu besar untuk mencapai puncak Gunung Kunlun,
Ibu Raja memberikan sebuah pil keabadian.
Seseorang yang memakan pil ini akan dapat ke surga, Ibu
Raja berkata kepada Hou Yi, namun jika dua orang membaginya, maka mereka berdua
dapat hidup abadi.
Mereka harus memakan pil itu tepat pada tanggal 15 bulan
8, ketika bulan penuh, demikian kata Ibu Raja lebih lanjut.
Hou Yi sangat gembira mengetahui hal tersebut, dan segera
pulang ke rumah untuk memberitahu Chang-E. Mereka membagi pil tersebut menjadi
dua dan akan memakannya pada waktu yang telah diberitahu, sehingga mereka
berdua dapat menjadi abadi.
Saat itu adalah tanggal 12 bulan 8, tiga hari kemudian
merupakan hari yang ditunggu. Namun Hou Yi mendengar adanya “ramuan permata” di
Gunung Tienshan yang dapat membuat wanita semakin cantik. Maka untuk membuat
Chang-E bahagia dan menebus kesalahan yang pernah dilakukan, Hou Yi pergi untuk
mendapatkan ramuan tersebut.
Menurut perhitungan Hou Yi, dia akan mendapatkan ramuan
itu dan kembali ke rumah dalam waktu tiga hari. Karena Hou Yi ingin memberi
kejutan kepada Chang-E, dia tidak mengatakan apa-apa mengenai kepergiannya.
Tiga hari berlalu dan Chang-E melihat bahwa Hou Yi tidak
akan kembali. Dia bertanya kepada Feng Meng mengenai hal itu, dan Feng Meng
berkata bahwa dia tidak diperbolehkan untuk berkata apa-apa.
Karena ditanya terus menerus, maka Feng Meng dengan
liciknya mengatakan bahwa, “Hou Yi tidak mengijinkan saya berkata apa-apa”.
“Mengapa tidak? Kemana dia pergi?”, tanya Chang-E.
“Saya tidak dapat mengatakannya. Hou Yi akan membunuh
saya!”
“Tidak. Hou Yi tidak akan melakukan apa-apa terhadapmu.
Katakan saja”, desak Chang-E.
“Dia….dia pergi untuk mencari Mi Fei”, bohong Feng Meng.
Chang-E tertegun. Betapa tidak tahu budi suaminya.
Chang-E sangat marah mendengarkan hal itu. Dan saat bulan mulai muncul, Chang-E
mengambil pil keabadian yang telah diberikan oleh Hou Yi, perlahan-lahan menuju
ke halaman dan memandang ke langit.
Dia mengenang semua kehidupan bahagia yang pernah
dinikmati di surga. Tidak ada banjir, tidak ada sakit, tidak ada penderitaan,
dan tidak ada kesedihan. Manusia harus mengalami semuanya.
Betapa enak hidup di surga, pikir Chang-E.
Sekarang Chang-E memiliki pil keabadian. Namun, apakah
Hou Yi akan pulang?
Chang-E berpikir, mungkinkah Hou Yi berencana untuk
memakan pil itu berdua dengan Mi Fei dan meninggalkan dirinya?
Kebahagian di surga, dan penderita di dunia.
Hati Chang-E dipenuhi dengan berbagai kemelut emosi.
Tiba-tiba, Chang-E mendengar suara derap tapak kuda, dan menebak bahwa itu
pasti suaminya pulang. Dengan penuh kebingungan, dia meminum pil itu semuanya,
dan saat itu juga dia merasa tubuhnya semakin ringan dan mulai melayang di
udara.
“Chang-E! Chang-E!”, teriak Hou Yi sambil memegang erat
ramuan permata yang didapatkan dari Gunung Tienshan. Namun Chang-E tidak
menghiraukannya.
Chang-E terus melayang semakin cepat dan cepat. Dengan
penuh kemarahan Hou Yi melempar ramuan permata dan mengambil busur serta panah
gaibnya, namun dia tidak berani untuk memanah.
Chang-E ingin pergi ke surga, namun para Dewa-Dewi di
surga telah menyaksikan penghianatannya terdapat sang suami dan mencelanya.
Maka dia menjadi takut dan mengubah arah ke bulan yang dingin dan sepi.
Hou Yi menyaksikan semuanya dari bumi, dan berpikir bahwa
dia dapat memanah jatuh bulan. Dia dapat melakukan hal itu, namun dia tidak
berani menghadapi kenyataan bahwa dia akan membunuh istrinya yang tersayang.
Maka, dengan penuh kemarahan, dia mematahkan busur dan
panah gaibnya. Kenapa harus tetap memiliknya, jika dia ternyata tetap tidak
dapat menolong istrinya?
Feng Meng dan Han Cho melihat semua kejadian dari tempat
tersembunyi, dan tersenyum bahagia. Hou Yi begitu sedih. Dengan satu perintah,
dua orang itu bersama empat pengikut mereka mendatangi dan membunuh Hou Yi.
Chang-E yang berada di bulan menyaksikan bagaimana sang
suami dibunuh secara kejam, dan dia sangat menyesali apa yang telah dilakukan.
Namun sudah terlambat, tidak hanya dia sekarang telah dibuang dari surga, dia
juga harus hidup abadi sendirian di bulan.
Li Shang Yin (A.D. 812-858), seorang penyair dari Dinasti
Tang, menulis cerita sedih Chang-E tiga ribu tahun kemudian, dan cerita itu
menjadi sebuah legenda, terutama bagi bangsa Tionghoa.
Setiap tanggal 15 bulan 8 penanggalan Imlek, ketika bulan
menunjukkan keindahan secara penuh, orang Tionghoa melihat ke bulan dan
mengingat Chang-E dan legendanya.
BACK cari cerita lainnya

Comments
Post a Comment