Batara Kala


Batara Kala ini sering dikaitkan dengan Dewa Waktu yang ganas dan kejam. Ada banyak legenda yang menceritakan tentang Batara Kala ini diantaranya

 Kelahiran Batara Kala

Dahulu kala saat Batara Siwa dan Batari Uma sedang berjalan-jalan tidak sengaja rok Batari Uma tersingkap yang menimbulkan keinginan Batara Siwa untuk bersenggama. Namun hal itu tidak memungkinkan sehingga air mani Batara Siwa tanpa sengaja menetes ke dalam lautan dan menimbulkan kemarahan Batara Guru.

Mengetahui hal itu Batara Wisnu dan Batara Brahma memelihara benih tersebut hingga suatu ketika benih tersebut berubah menjadi raksasa ganas yang mempora-porandakan alam. Raksasa tersebut menanyakan kedua orang tuanya. Hingga suatu ketika raksasa tersebut bertemu dengan Batara Siwa. Batara Siwa meminta raksasa tersebut memotong kedua taringnya agar dapat melihat wajahnya dengan jelas. Dan ketika taringnya telah dipotong, Batara Siwa mengakui bahwa raksasa itu adalah anaknya. Dan memperbolehkan Batara Kala memangsa orang-orang yang mempunyai wiku yang sama dengan dirinya yaitu Wuku Wayang.

Batara Kala VS Rare Kumara

Beberapa tahun kemudian Batara Siwa dan Batari Uma mempunyai anak bungsu yang bernama Rare Kumara. Rare Kumara kebetulan mempunyai Wuku yang sama dengan Batara Kala sehingga Batara Kala ingin memakan Rare Kumara. 

Mengetahui hal itu Batara Siwa mengadakan perjanjian yang berisi Batara Kala boleh memakan Rare Kumara saat Rare Kumara sudah dewasa, namun Batara Siwa membuat Rare Kumara menjadi anak kecil selamanya. Saat Batara Kala mengetahui hal ini sangat marah dan mengejar Rare Kumara.

Rare Kumara lari bersembunyi di tumpukan jerami yang terikat, Batara kala mengutuk orang yang menumpuk jerami terikat tali dan tidak membuka tali tersebut. Rare kumara bersembunyi di tumpukan kayu yang terikat, Batara kala mengutuk orang yang membuat tumpukan kayu dan tidak membuka ikatannya. Rare Kumara bersembunyi di tungku tanpa tutup di kedua sisinya. Batara Kala mengutuk orang yang tungkunya tidak diberi tutup di kanan kiri.

Hingga saat tengah hari Rare Kumara ditolong oleh seorang Dalang dan disembunyikan di balik kelambu wayang. Sang dalang menyiapkan sesajen di depan. Karena lapar Batara Kala memakan habis sesajen tersebut. Setelah itu Batara Kala menemukan Rare Kumara namun, Dalang akan memberikan Rare Kumara asalkan Batara Kala mengembalikan sesajen yang telah dimakannya. Batara Kala tidak bisa mengembalikan sesajen tersebut. Batara Kala berjanji tidak akan memakan manusia yang terlahir pada wuku wayang saat dia sudah diruwat air suci dari pergelaran wayang. Akhirnya selamatlah Rare Kumara.

Sejak itu bila mempunya anak yang lahir pada Wuku Wayang harus memberikan sesajen pada Batara Kala, dan diruwat dengan air suci dari pergelaran wayang.

Gerhana Bulan dan Gerhana Matahari

Batara Kala diam-diam terbang ke surga dan mencuri Tirta Amertasari alias air abadi yang dipercaya bagi siapa saja yang meminum air tersebut akan hidup selamanya.

Namun aksi pencurian tersebut diketahui Batara Surya (Dewa Matahari) dan Batara Candra (Dewa Bulan). Mereka pun melaporkan perbuatan raksasa ini ke Batara Guru, pemimpin para dewa. Belum sempat Tirta Amertasari tertelan oleh Batara Kala, tiba-tiba datang Batara Wisnu (Dewa Pemelihara Alam/Pelindung) yang diutus Batara Guru. Batara Wisnu langsung menebas batang leher Batara Kala.

Tubuh Batara Kala jatuh ke bumi, sementara kepalanya tetap melayang di angkasa. Karena itu Batara Kala sangat dendam kepada Batara Surya dan Batara Candra dan selalu mencoba menelan kedua dewa itu setiap ada kesempatan. 

Namun saat setelah menelan bulan atau matahari Batara Kala kaget dan memuntahkan bulan atau matahari karena ada bunyi alat dapur yang di tabuh. Karena itu saat gerhana penduduk akan menabuh alat dapur 

 

Manisfestasi pada kehidupan ini:

Sebetulnya semua yang terjadi dalam cerita di atas juga terjadi dalam kehidupan ini. Semua tokoh dalam cerita di atas juga pernah kita mainkan. 

Batara siwa adalah bapa akasa (langit), batari uma adalah ibu pertiwi (bumi). Air mani batara siwa yang jatuh pada lautan dunia adalah roh yang memercik dan menjelma menjadi manusia. roh kita dari batara siwa ini adalah sang hidup, tubuh kita dari batari uma adalah bentuk materi (mati) mereka diikat oleh pikiran (manas) karna itu disebut manusia. 

Sudah sifat langit yang maskulin sebagai sang hidup untuk mengisi materi (sifat feminin) untuk menjelma menjadi makhluk hidup. Saat benih sang hidup (roh kehidupan) jatuh kelaut itu maksudnya benih kehidupan jatuh dan tumbuh dalam rahim ibu. yaitu laut ini adalah air ketuban yang biasa disebut segara tanpa batas. Dalam diri kita juga ada sifat materi yaitu tubuh kita sang mati, dan roh kehidupan adalah roh kita yang menjalankan hidup ini sebagai sang hidup. Suatu saat akan tiba saatnya saat tubuh ini rusak dan sang hidup harus meninggalkan tubuh ini. 

Selain itu sifat batara Wisnu adalah sifat maskulin yang ingin selalu memberi, dan batari uma adalah sifat feminin yang pasif dan ingin selalu menerima. Akan ada saat kita ingin memberi tapi tidak ada orang yang kita kenal yang butuh pemberian kita akhirnya kita memberi pada orang yang tidak kita kenal ini seperti saat benih batara wisnu jatuh kelaut, benih karma kita jatuh pada semesta raya, namun karma itu tidak mati begitu saja namun tetap hidup dan suatu saat dapat berbuah.  

Betuk tubuh materi (bhuta) ini mendorong kita untuk fight or flight (lizard brain). saat bisa mengikuti dorongan roh menjadi dewasa. Saat sudah dewasa ini sudah sudah tercerahkan oleh cahaya (div=dewa). SUdah tidak terikat oleh harta, tahta, cinta. Karena Tugas fight dan flight ini karena kita mencari harta tahta cinta. Saat kita masih terikat harta tahta cinta kita masih menjadi Bhuta atau Batara kala. Batara kala ini mencari tau jati dirinya. Energi begitu besar. Untuk bisa ke alam Dewa (Dewasa) harus bisa mengendalikan sifat bhuta yang gelap. Karena itu ada upacara potong gigi. Harta tahta cinta ini mengendalikan perasaan cinta dan benci. dari cinta dan benci ini orang bisa punya energi, keberanian dan kekuatan yang sangat besar untuk fight or flight. Saat pikiran lebih ke arah tubuh dia akan sering fight or flight, saat lebih ke arah roh akan mencapai kedewasaan, menerima pencerahan. Saat itu dunia akan tampak indah seperti di negri Dewa. Saat berada di alam Dewa Batara Kala merasa sangat senang bertemu dengan orang tuanya dan orang tuanya menerimanya dengan baik, apalagi Dewa Siwa memberikan berkat boleh memakan siapa saja yang lahir saat wuku wayang. Saat kita bisa memasuki alam Dewa kita bisa merasakan cinta, rasa syukur, penerimaan, dan mempunyai kebebasan untuk berbuat apa saja (tapi saat kesadaran terbentuk saat akan bertindak orang sudah akan menyadari dan mau menerima semua konsekuensi perbuatannya, Konsekuensi ini tak dianggap konsekuensi yang baik dan tak ada yang buruk). Di alam Dewa ini manusia bisa melihat segala sesuatu sebagaimana adanya tanpa kecampuran "Drama pikiran"nya yang diperoleh dari pengalaman masa lalu dan proyeksi masa depan yang mereka ciptakan.

Batara Kala berhak memakan semua orang yang lahir di Wuku yang sama dengan dirinya yaitu Wuku Wayang. Batara Kala ini adalah Sang Waktu. Waktu ini lahir dihari yang sama dengan terbentuknya kita di Bumi ini. Wayang adalah boneka, jadi Wuku Wayang ini sebenarnya adalah saat kia sadar kita adalah wayang yang menjalankan peran kita di dunia ini dengan Tuhan sebagai dalangnya. Tapi kita berhak memilih peran apa yang kita mainkan, namun Tuhan lah yang membuatkan skenario peran kita. Kita juga bisa meminta perlengkapan apa saja yang kita perlukan agar performa kita bisa bagus dan dalang akan menyediakannya untuk kita. Misal kita berperan sebagai orang kaya, Kita minta properti berupa mobil jaguar terbaru, maka Tuhan akan menyediakannya untuk kita. Tapi juga ada timing kapan peran kita akan bertemu dengan wayang-wayang yang lain. Bila belum saatnya kita tidak akan bertemu  ataupun mendapatkan sesuatu itu. 

Rare (artinya : arek cilik = anak kecil) Kumara yang berlari ketakutan dan melarikan diri bersembunyi sana-sini, menimbulkan kutukan dimana-mana. Ini juga bisa diartikan sebagai Inner child yang penuh ketakutan terus melarikan diri tidak berani menghadapi kenyataan, akhirnya melah menimbulkan lebih banyak kekacauan hidup ini. Karena itu bila ada masalah sebaiknya dihadapi

Kita juga adalah Rare Kumara diberi berkah beru tidak bisa dewasa, kita diberi pilihan untuk tidak ingin menyadari peran kita. Rare Kumara dikejar terus oleh Batara Kala. Kehidupan kita di dunia ini meskipun kita tidak menjadi dewasa dan menyadari peran kita, namun sang waktu akan terus mengejar kita, dan ingin memakan kita. Dewasa itu pilihan tapi tua itu pasti.

Saat Batara Kala berjanji tidak akan memakan anak yang terlahir pada wuku wayang bila sudah memberikan sesajen dan di ruwat dengan air suci dari pergelaran wayang. Jiwa kita (Rare Kumara) tidak akan menjadi korban sia-sia oleh sang waktu (batara kala) di kehidupan ini, jika telah memahami kesejatian diri melalui ruwatan dengna aliran air suci pengetahuan tentang pewayangan (dunia ini) aatau keberadaan diri sebagai wayang kehidupan. Orang yang sudah menyadari dirinya, perannya, tujuannya dilahirkan di dunia ini apa yang mereka cari dan kemana mereka pergi setelah kehidupan ini, maka kehidupannya tidak akan sia-sia termakan oleh sang waktu. 

Pertolongan sang dalang pada rare kumara itu maksudnya. Tuhan dan alam semesta ini akan selalu menolong kita, memberikan pelajaran dan pencerahan, melindungi kita agar kita bisa tau tujuan hidup ini dan tidak termakan sia-sia oleh sang waktu.

Pembicaraan sang dalang dan batara kala yang didengar oleh rare kumara ini tak lain tak bukan adalah percakapan Tuhan dengan hati nurani dan pikiran kita. Tuhan dan alam semesta ini memberi pelajaran pada kita melalui peristiwa yang terjadi dalam hidup kita dan Rasa yang ada dalam hati kita yang didengarkan oleh Jiwa.

 

Comments

Popular posts from this blog

4 raja naga

Asal usul Batu Badoang

Ramayana