Burung Cendrawasih
Alkisah, ada seorang wanita
tua bernaman Bu Baria yang hidup bersama anjingnya di Pegunungan Bumberi. Suatu
hari, ia dan anjingnya menemukan pohon buah merah. Ia mengambil buah tersebut
dan memakannya. Tak berapa lama, ia melahirkan anak laki-laki. Ia memberi nama
anak itu Kweiya.
Sepuluh tahun berlalu, Kweiya tumbuh menjadi
anak yang rajin. Suatu hari, Kweiya bertemu laki-laki tua bernama Pak Bone yang
sedang mengail di sungai. Ia mengajak Pak Bone pulang dan mengenalkannya kepada
ibunya. Ia juga meminta ibunya menikah dengan laki-laki itu. Tidak lama
kemudian, sang Ibu menikah dengan laki-laki tersebut.
Suatu ketika, adik laki-laki Kweiya
menjebaknya dan membuat dia merasa kesal dan tak tahan lagi dengan perangai
kedua adik tirinya. Kweiya kemudian pergi ke hutan untuk menenangkan diri. Saat
ibu dan bapak kembali dari ladang mencari Kweiya, adik-adiknya bilang Kweiya
pergi dari rumah dan tidak ingin tinggal bersama mereka lagi.
Kweiya yang tersesat di hutan
mencoba untuk bertahan hidup. Dia membangun rumah kayu sederhana dan berburu.
Kulit binatang hasil buruannya dipintal menjadi benang dan berencana untuk
membuat sayap dari benang pintalannya. Saat
kedua orang tuanya pulang dari kebun, dan
mengetahui Kweiya menghilang dari rumah ibunya sangat sedih. Adik-adik Kweiya
telah menipunya karena telah mengarang cerita kalau Kweiya pergi karena tidak
mau tinggal bersama mereka lagi. Ibu Kweiya tidak percaya. Ibu Kweiya
berusaha mencari tahu kebenarannya.
Adik bungsu Kweiya yang
menyesal akan perbuatannya, kemudian jujur memberitahukan kepada ibu akan
kebenarannya. Mengatakan bahwa Kweiya tidak meninggalkan rumah tapi
dijebak oleh kakaknya sehingga tersesat dihutan. Awalnya Bu Baria tidak percaya
namun akhirnya mereka mencari Kweiya bersama-sama kedalam hutan. Mereka sekeluarga
memanggil nama Kweiya sekuat tenaga
Sampai akhirnya ibu Kweiya
melihat seekor burung muncul dari pepohonan. Eee… eee… eee…. Begitu suara
burung yang muncul di hadapan ibu Kweiya. Saat ibunya bertanya, apakah burung
tersebut Kweiya, namun burung itu hanya mengeluarkan suara “Eeee”saja. Ibu
Kweiya yang terkejut dan menyadari akibat naluri dan ikatan batin antara ibu
dengan anak, mulai sadar ternyata burung itu Kweiya. Kweiya menyelipkan
pintalan benang di bawah lengannya. Kweiya telah berubah wujud menjadi seekor
burung yang indah.
Ibu Kweiya mengikuti Kweiya memaksa
kweiya mengaku apa yang sebenarnya terjadi dan Kweiya menjelaskan bahwa dia
menyelipkan benang warna warni di bawah ketiaknya. Bu Baria kemudian mengambil
sejumput pintalan benang. Ibu Kweiya menyelipkan pintalan benang di bawah
lengannya seperti yang telah dilakukan Kweiya. Dalam sekejap, ibu Kweiya
berubah menjadi seekor burung. Dia segera terbang bersama Kweiya. Dan mereka
kompak berubah menjadi seekor burung berbulu indah akibat pintalan benang dari
Kweiya, Pak Bone member nama burung tersebut dengan nama Manbefor yang hingga
kini dikenal dengan nama burung cenderawasih.
Adik-adik tiri Kweiya menyesal akan
perbuatannya namun semua sudah terlambat, akhirnya mereka menutup muka mereka
dengan kain hitam dan berubah jadi burung. Itulah sebabnya di hutan Kalimantan banyak
macam burung
Comments
Post a Comment