Asal-usul Pulau Irian
Pada
masa lampau, di Kampung Sopen, Biak Barat tinggallah
sebuah keluarga yang mempunyai lebih dari 1 anak laki-laki, antara lain ada
yang namanya Manamakrdi yang dimusuhi sama saudara lakinya sebab menderita
penyakit kudis yang bau.
"Woi, Mananamakrdi, kami sudah tak tahan dengan baumu, lebih baik
kau pergi saja dari rumah!" teriak
saudaranya dengan kesal.
"Saya salah apa coba kok saya diusir?" kata Mananamakrdi dengan
perasaan sedih.
"Pokoknya kamu pergi saja dari sini, saya tak mau tau!" kata saudaranya dengan tegas.
Dengan sedih Mananamakrdi akhirnya
pergi dan berjalan ke arah timur, dan sesampainya di pantai diambilnya satu
perahu yang tertambat dan diarunginya ke laut luas, hingga ia menemukan sebuah
daratan yang tak lain adalah pulau Meokbundi di Biak Timur.
Di pulau itu, ia membuat gubuk
kecil di dalam hutan, setiap hari ia pergi memangkul sagu untuk mencukupi
kebutuhan makannya. Setiap sore ia memanjat pohon kelapa kemudian memotong
manggarnya dibawah potongan itu di letakkan ruas bambu yang di ikat.
Suatu siang, ia sangat terkejut,
nira di dalam tabungnya telah habis tak tersisa, dan Mananamakrdi sangat kesal.
"Aduh, siapa ya yang sudah mencuri nira saya ini kurang ajar? Akan
kucari pencuri itu," kata
Mananamakrdi dengan kesal.
Malam itu, ia duduk di pelepah
daun kelapa untuk menangkap pencurinya, tapi hingga larut malam pencuri itu
belum muncul juga dan menjelang pagi tiba-tiba dari atas langit terlihat sebuah
makhluk memancarkan cahaya sangat terang, mendekati pohon kelapa, makhluk itu
kemudian meminum seluruh nira, dan saat hendak lari Mananamakrdi berhasil
menangkapnya.
"Woi, kamu siapa?" tanya
Mananamakrdi pada si makhluk itu dengan suara lantang.
"Namaku Sampan, si bintang pagi yang menjelang siang, tolong
lepaskan saya, matahari sudah hampir menyingsing," jawab si Sampan dengan nada memohon.
"Tolong kamu
sembuhkan kudisku dulu, dan kasih saya jodoh gadis yang cantik, cepat, setelah
itu baru kau kulepas," kata
Mananamakrdi dengan penuh harap.
"Koe sabar saja, di dekat pantai, dekat hutan itu, di situ ada
pohon bitanggur, kalau kamu melihat gadis yang kamu sukai di situ, kamu tinggal
lempar saja pakai biji bitanggur, nanti suatu saat dia akan jadi jodohmu," kata si Sampan dengan penuh rasa iba melihat
keadaan kondisi Mananamakrdi.
Suatu sore di bawah pohon
bitanggur, Mananamakrdi melihat seorang gadis cantik sedang mandi seorang diri,
ia adalah Insoraki putri kepala suku dari kampung Meokbundi.
"Perempuan
ini cantik skali, kemarin Sampan bilang kalau saya lempar dengan biji
bitanggur, nanti dia akan jadi jodohku," kata Mananamakrdi dengan senang.
Di ambilnya sebuah bitanggur dan
melempar bijinya ke laut, dan mengenai tubuh Insoraki.
"woi, siapa e
yang sudah melempar saya dengan biji bitanggur?" kata Insoraki sambil menoleh kiri kanan dengan
penasaran.
Kejadian itu berlangsung
berulang-ulang kali hingga Insoraki merasa jengkel, ia kemudian pulang.
Berhari-hari Insoraki terus
memikirkan orang yang telah melemparnya dengan biji bitanggur yang tak lain
adalah orang yang bernama Mananamakrdi, sehingga ia
sering merenung memikirkan orang tersebut, sampai akhirnya kepala suku
keheranan dan khawatir melihat keadaan anaknya.
"Anakku, siapa yang sudah membuat kamu seperti ini?" tanya kepala suku kepada Insoraki dengan penuh
cemas.
"Saya juga tidak tau Pak, kemarin itu saya lagi mandi di pantai,
trus ada yang melempariku biji bitanggur, dan sampai saat ini saya terus memikirkan
siapa yang sudah melempariku dengan biji bitanggur itu?" jawab Insoraki dengan penuh heran.
Akhirnya kepala suku mengerahkan
masyarakat kampung untuk mencari orang yang sudah melempar anakya dengan biji
bitanggur tersebut. Dan akhirnya dengan bukti biji bitanggur yang dimiliki oleh
Mananamakrdi maka masyarakat kampung membawanya kehadapan kepala suku, dan
dengan aturan hukum adat suku maka Mananamakrdi harus menikahi putri kepala
suku tersebut yang bernama Insoraki.
"Sesuai deng peraturan suku ini, kamu harus menikah dengan anakku
Insoraki," kata kepala suku
dengan tegas.
Akhirnya dinikahilah Insoraki dan
Mananamakrdi sesuai dengan peraturan suku.
Setelah beberapa bulan kemudian
Insoraki hamil dan melahirkan seorang bayi laki-laki, dan beberapa waktu
kemudian di adakan pesta pemberian nama, anak itu diberi nama Konori.
Suatu hari kepala suku dan
penduduk kampung merasa jijik dengan Mananamakrdi, merekapun meninggalkan
kampung.
"Kepala suku, kami sudah tak tahan deng bau kudis Mananamakrdi,
lebih baik kami pergi saja dari kampung ini," kata penduduk kampung kepada kepala suku.
"Saya juga sebenarnya sudah tak tahan dengan bau kudisnya itu,
kalau begitu ayo kita pergi saja," kata kepala suku menuruti ajakan penduduk kampung.
"Iya, ayo mari, ayo, ayo mari kita pergi saja, mari kita pergi
dari kampung ini sudah!" teriak
penduduk kampung beramai-ramai.
Mengetahui bahwa semua penduduk
kampung telah pergi meninggalkannya, Mananamakrdi merasa sangat sedih dan
berniat bunuh diri.
Kemudian dia mengumpulkan kayu
bakar dan membuat kobaran api.
"Aduh, semua orang kampung di sini sudah pergi meninggalkan saya,
apa salah saya? kalau begini, mending saya mati saja," kata Mananamakrdi dengan putus asa.
Kemudian tiba-tiba Mananamakrdi
melompat masuk ke dalam kobaran api itu.
"Hei, suamiku, apa yang kaulakukan?kamu jangan bunuh diri!" teriak Insoraki dengan penuh
cemas.
"Bapak, bapak, jangan bapak!" teriak Konori dengan
sedih.
Namun ajaib, tak lama kemudian
tiba-tiba Mananamakrdi keluar dari kobaran api itu sambil berjalan dengan gagah
berani dengan tubuh bebas dari kudis sambil menamai dirinya Masren Korori atau
laki-laki yang bersih dan suci
"Sekarang kudis saya sudah sembuh, mulai saat ini nama saya Masren
Korori, bukan Mananamakrdi, ayo istri dan anakku kita pulang ke kampung
halaman," kata Mananamakrdi
dengan bahagia.
Mananamakrdi kemudian membuat
sebuah perahu layar, lalu mengajak istri dan anaknya berlayar sampai ke
Mandori, dekat Manokwari.
Suatu hari saat subuh, anaknya
bermain pasir di pantai, dilihatnya tanah berbukit-bukit yang sangat luas, tak
lama kemudian matahari bersinar terang, udara menjadi panas dan kabutpun
lenyap.
"Bapak lihat, Irian, Irian bapak!" teriak Konori
dengan senang.
"Konori, ini tanah milik nenek moyangmu, jangan berteriak-teriak," kata Mananamakrdi sambil tersenyum.
"Iyo suamiku, maksud dari Konori itu, Irian itu panas matahari
yang sudah terhapus kabut pagi, dan pemandangan itu indah sekali," kata Insoraki ikut senang.
Dari situlah, kemudian daerah itu
diberi nama Irian. Dimana lautnya yang biru, pasirnya yang putih bersih,
bukitnya yang hijau dan burung cendrawasihnya yang elok.
Comments
Post a Comment