Karawitan

Seni Karawitan merupakan salah satu jenis musik tradisional yang berasal dari Jawa. Seni karawitan tumbuh dan berkembang di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta hingga Jawa Timur.
Biasanya, karawitan ini sering disebut dengan musik gamelan. Pembawaannya juga cenderung lembut dan halus.

Kata karawitan sendiri berasal dari bahasa Jawa "rawit" yang memiliki arti halus dan lembut. Maka dari itu pembawaan gamelan dalam karawitan sangat halus dan lembut.

Pada karawitan, laras yang digunakan yaitu ada dua jenis; laras slendro dan laras pelog. Laras dan slendro memiliki arti satu gembyangan atau oktaf yang dibagi menjadi lima nada dengan interval yang sama rata.

Sedangkan pelog merupakan satu gembyangan yang dibagi menjadi tujuh nada dengan interval yang berbeda beda.

Alat Musik yang Digunakan dalam Seni Karawitan
Mengutip dari Buku Siswa Seni Budaya SMA/MA Kelas 10 yang disusun oleh Jelly Eko Purnomo, S.Pd dan Zefri Yandra, S.Pd, instrumen gamelan Jawa yang digunakan dalam seni karawitan biasanya terdiri dari demung, bonang, gambang, kenong, saron, rebab, gong, kendang dan slenthern.

1. Demung


Demung merupakan jenis instrumen gamelan yang terbuat dari perunggu dengan bentuk bilah persegi panjang. Penataannya pun dilakukan dengan cara berderet.
Demung laras slendro berjumlah sebanyak 6 bilah, sedangkan laras pelog berjumlah sebanyak 7 bilah.

2. Bonang

Bonang memiliki bunyi “nang” saat dimainkan. Bunyi tersebut diartikan sebagai setelah manusia lahir, manusia harus bisa berpikir dengan hati jernih, sehingga keputusan diambil penuh kesadaran.

Bonang terdapat 2 jenis, yaitu bonang besar atau biasa disebut dengan bonang barung dan bonang kecil atau bonang penerus. Bonang ini terbuat dari perunggu dengan bentuk bulat berongga dan terdapat benjolan di atas bagian tengah.
Pada laras slendro, bonang ditata dengan dua jajar, atas dan depan dengan jumlah 5 pencon, lalu bawah dan belakang dengan jumlah 5 pencon. Sedangkan pada laras pelog, bonang ditata dua jajar atas, depan, bawah dan belakang dengan masing masing berjumlah 7 pencon.

3. Gambang


Gambang adalah jenis instrumen gamelan dengan bentuk bilah persegi panjang dan terbuat dari kayu. Gambang ditata secara berderet.
Pada seperangkat gamelan yang lengkap, ada tiga buah gambang yaitu gambang slendro, gambang pelog bem, dan gambang pelog barang.

4. Kenong


Dibuat dari perunggu dengan bentuk bulat berongga dan terdapat benjolan di atas tengah. Ukuran kenong cenderung lebih besar dari bonang dan ditata secara berjajar membentuk kotak.

 

 

 

 

5. Saron

Berasal dari Bahasa Jawa sero yang artinya keras. Instrumen ini terbuat dari bahan besi dan berbentuk seperti lesung kecil. Saron mengajarkan manusia agar senantiasa lantang dalam menyuarakan kebenaran.
Saron merupakan instrumen gamelan yang terbuat dari perunggu dengan bentuk bilah persegi panjang dan ditata berderet dengan ukuran dan nada lebih kecil dari demung.

6. Rebab

Dibunyikan jika “gender” tidak ada. Mengandung makna agar manusia dalam melakukan sesuatu harus memiliki tujuan yang jelas. Agar tindakan yang dilakukan tidak menyimpang.
Rebab terbuat dari kayu dan dilapisi membran dari kulit hewan dengan dilengkapi dua buah dawai. Cara memainkannya sendiri yaitu dengan digesek.

7. Gong

Gong memiliki bentuk besar dan menimbulkan suara “gooongg”. Bermakna agar manusia selalu mengakhiri hidupnya dengan sempurna.
Gong dibuat dari perunggu dengan bentuk bulat berongga dan terdapat benjolan di bagian tengah. Gong ditata dengan cara digantung pada rancakan.

8. Kendhang


Kendhan Berperan sebagai pemimpin dalam permainan musik gamelan. Sebagai kendali irama cepat atau lambat. Pengambilan nama kendhang dari bunyi alat musik saat dimainkan.

Kendhang sendiri memiliki filosofi “ndang” sebagai arti agar bersegeralah dalam beribadah kepada sang Maha Pencipta.

Selain itu, arti lainnya adalah manusia harus segera melaksanakan aktivitas sesudah bengun pagi, dengan begitu rezeki akan datang padanya.

9. Gender

Berasal dari gendera atau bendera sebagai simbol permulaan. Sebagai permulaan gending maupun sebagai permulaan kehidupan.

10. Gambang

Berarti seimbang dan jelas, menunjukkan adanya keseimbangan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Manusia juga harus jelas mengenai apa yang ingin dilakukan serta keseimbangan kebutuhan lahir dan batin.

11. Siter

Berasal dari kata siteran dan dimainkan dengan dipetik. Makna filosofinya adalah manusia harus mampu mengantarkan atau membimbing orang lain pada suatu tujuan baik.

12. Kethuk

Mengeluarkan bunyi “thuk” jika ditabuh. Diartikan sebagai manthuk yaitu setuju. Maksud dari makna tersebut adalah manusia haruslah setuju dengan semua perintah dan larangan Sang Pencipta.

 

 

 

13. Kempul

 

Instrumen mirip gong tapi berukuran lebih kecil. Dalam Bahasa Jawa diartikan sebagai kumpul, yakni ajakan untuk berjamaah dalam beribadah. Berkumpul dengan manusia lain. Tidak boleh egois menjadi manusia.

 14. Suling

Terbuat dari bambu dan cara memainkannya dengan ditiup. Suling diartikan sebagai eling, yakni ingat. Agar manusia selalu ingat akan kewajibannya.

 

 

Comments

Popular posts from this blog

4 raja naga

Asal usul Batu Badoang

Ramayana