Keris
Keris merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Jawa. Sebagai salah satu pusaka masyarakat Jawa, keris memiliki filosofi mendalam. Bahkan, ada metode penyimpanan tersendiri untuk menyimpan keris.
Keris memiliki bentuk yang sangat khas sehingga
mudah dibedakan dari pusaka lainnya. Senjata yang satu ini memiliki ujung yang
lancip dan tajam. Selain itu, keris juga berbentuk tidak simetris karena
bilahnya berkelok-kelok dan memiliki serat lapisan logam cerah pada helai bilah.
Umumnya, sebuah keris memiliki tiga bagian, yakni
bilah (pisau), hulu (gagang), dan warangka (sarung). Keris yang terkenal
biasanya memiliki gelombang dan berkelok atau bergerigi.
Keris bagi orang Jawa adalah senjata
pamungkas/terakhir setelah pedang, tombak, dan panah. Sejatinya keris bukanlah
senjata utama dalam peperangan tetapi juga senjata yang disukai untuk dibawa
pergi kemanapun. Pada masa lalu keris berfungsi sebagai senjata dalam duel atau
peperangan. sekaligus sebagai benda pelengkap sesajian. Pada penggunaan
masa kini dan penggunaan perkembangan keris dari waktu ke waktu orang Jawa
mengubahnya menjadi benda yang memiliki filosofi pengajaran hidup bagi
pemiliknya, sebagai simbol cerminan diri, ketentraman, harapan, serta pengingat
diri atau pagar pengingat bagi pemiliknya agar selalu damai tenang hatinya,
harus selalu berjiwa bersih dan bersahaja. Juga merupakan benda aksesori (ageman) dalam berbusana, memiliki sejumlah simbol
budaya, atau menjadi benda koleksi yang dinilai dari segi estetikanya.
Asal-usul Keris
Mengutip buku Keris dalam Perspektif Keilmuan
(2011), sejarah keris masih dianggap kurang jelas. Pada zaman dulu, keris
dibuat dengan suatu harapan, keinginan, atau bahkan suatu cita cita dari
pemesan, sehingga pusaka ini akan mencerminkan dan melambangkan semua hal dari
si pemesan tersebut.
keris dianggap sebagai pengembangan dari
senjata tikam prasejarah. Namun diperkirakan asal mula penyebutan kata
"keris" merupakan singkatan bahasa Jawa dari "Mlungker-mlungker kang bisa ngiris", dugaan bentuk keris berkelok/mlungker adalah pengembangan
desain dari bentukan keris yang awalnya lurus, yang diilhami dari seekor ular
yang sedang melata karena bagi orang Jawa ular adalah hewan yang disakralkan
mengingat orang Jawa pada saat itu mengutamakan dewa Siwa yang berkalung ular.
Dalam sejarahnya, tujuan pembuatan keris bisa
bermacam-macam. Ada yang dibuat dengan harapan selalu mendapat rejeki,
diberikan status sosial yang baik, dan tidak jarang pula pusaka ini dibuat
untuk terhindar dari bencana atau gangguan makhluk halus.
pakar sastra Jawa dan kebudayaan Indonesia,
Zoetmulder, menyebutkan bahwa pulau Jawa diduga sudah mengenal keris sejak abad
ke-6 atau ke-7. Sebagian bentuk awal keris dari periode itu masih bisa
dikenali, namun banyak juga yang belum teridentifikasi.
Secara prototipe, keris sudah ditemukan di
beberapa candi Nusantara, yang mana pada candi di India atau negara lainnya,
bentuk serupa keris tidak ditemukan. Di Indonesia, relief keris dapat ditemukan
di Candi Borobudur pada abad ke-9, Candi Prambanan pada abad ke-9, atau patung
lelaki Jawa dengan keris di pemandian Candi Letah pada abad ke-19.
Makna Keris bagi Masyarakat Jawa
Sejak zaman dulu, keris digunakan sebagai senjata,
pusaka, objek spiritual, serta aksesoris untuk pakaian adat. Keris dianggap
memiliki kekuatan magis. Oleh karena itu, masyarakat percaya bahwa keris dapat
membawa keberuntungan sehingga terkadang dijadikan sebagai jimat hingga saat
ini.
Selain itu, keris juga dipercaya dapat menambah
keberanian dan rasa percaya diri bagi pemiliknya. Pusaka ini juga diyakini
dapat menghindarkan dari serangan wabah penyakit, malapetaka, dan hama tanaman.
Bahkan, sebagian orang percaya bahwa pusaka ini
bisa menyingkirkan atau menangkal gangguan makhluk halus. Di luar dari sisi
magis, terdapat beberapa fungsi lain keris bagi masyarakat Jawa, yaitu:
1. Keris digunakan sebagai senjata tradisional
Pada zaman kerajaan, setiap prajurit membawa keris
yang diselipkan di pinggang. Penggunaan keris sebagai senjata dapat ditemukan
dalam kisah Ken Arok dan Amangkurat II. Tidak hanya itu, keris juga sering
digunakan oleh pahlawan Pangeran Diponegoro, Hasanudin, dan Imam Bonjol.
2. Keris berfungsi sebagai benda pusaka warisan
nenek moyang
Alasan ini membuat keris dibuat dan disimpan
dengan begitu hati-hati. Dapat dilihat keris banyak disimpan di museum atau
keraton seperti di Jogja dan Solo.
3. Keris juga menjadi simbol bagi masyarakat Jawa
Simbol ini biasanya berupa lukisan, perkataan,
lencana, dan lainnya yang mengandung arti tertentu. Makna simbol keris ini di
antaranya untuk menyatakan legitimasi jabatan atau kekuasaan, lambang status,
identitas, serta filosofi masyarakat Jawa.
4. Keris biasa digunakan menjadi alat perlengkapan
berbagai aktivitas
Misalnya perlengkapan pertunjukan wayang,
perlengkapan upacara bersih desa, perlengkapan pakaian adat, dan sebagainya.
5. Keris juga merupakan benda seni
Jika diperhatikan, keris dan warangkanya adalah
kesatuan harmonis yang dibuat dengan imajinasi tingkat tinggi.
Cara Menempatkan Keris
Perlu diketahui, keris biasanya dipakai di
belakang tubuh. Mengutip laman UPT Museum Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota
Surakarta, posisi keris yang dipakai di belakang, memiliki filosofi yang
mengajarkan masyarakat Jawa untuk rendah diri dan menghormati orang lain.
Filosofi ini juga terdapat dalam bentuk keris itu sendiri.
Dikutip dari jurnal bertajuk "Ajaran Moral
Keris Jawa", bentuk keris yang dibuat indah dan menghilangkan kesan seram
ini merupakan simbol yang mengajarkan manusia Jawa agar selalu rendah hati dan
tidak sombong dengan memamerkan kehebatan dan kekuatannya.
Artinya, setiap keinginan, kekuatan, kemampuan
yang dimiliki bukanlah untuk dipamerkan, melainkan sebisa mungkin disamarkan
dengan sifat yang lemah lembut dan rendah hati. Adapun cara menempatkan keris
tidak bisa sembarangan. Ada beberapa posisi menempatkan keris di belakang
tubuh, berikut di antaranya:
Ngogleng, yakni keris dimasukan ke dalam lipatan
kedua dan ketiga sabuk stagen dalam pakaian adat Jawa dan gagangnya menghadap
ke kanan atas. Posisi ini kerap digunakan oleh abdi dalem dan masyarakat umum
untuk menghadiri acara resmi yang bersifat gembira.
Kureban, yakni posisi gagang keris menghadap ke
bawah. Umumnya, posisi ini dipakai pada acara berduka cita.
Ngewal, yakni ganda yang dimasukan ke dalam
lipatan stagen dan dimiringkan ke siku kiri. Posisi ini sering dipakai untuk
perjalanan atau prajurit keraton yang membawa senjata lain.
Andoran, yakni keris ditaruh tegak lurus di
punggung. Biasanya, posisi ini dipakai untuk menghadap raja dan untuk
berkunjung ke tempat-tempat yang sangat dihormati seperti di tempat peribadatan.
Bahan, pembuatan
dan perawatan
Logam
dasar yang digunakan dalam pembuatan keris ada dua macam logam adalah logam besi dan logam pamor,
sedangkan pesi keris terbuat dari baja. Untuk membuatnya
ringan para Empu selalu memadukan bahan dasar ini dengan logam lain. Keris masa
kini (nèm-nèman, dibuat sejak abad ke-20) biasanya memakai logam pamor nikel. Keris masa lalu (keris
kuna) yang baik memiliki logam pamor dari batu meteorit yang
diketahui memiliki kandungan titanium yang tinggi, di samping nikel, kobal, perak, timah putih, kromium, antimonium, dan tembaga. Batu meteorit
yang terkenal adalah meteorit Prambanan, yang pernah jatuh pada abad ke-19 di kompleks percandian Prambanan.
Pembuatan
keris bervariasi dari satu empu ke empu lainnya, tetapi terdapat prosedur yang
biasanya bermiripan. Berikut adalah proses secara ringkas menurut salah satu
pustaka. Bilah besi sebagai bahan dasar diwasuh atau dipanaskan
hingga berpijar lalu ditempa berulang-ulang untuk membuang pengotor (misalnya karbon serta berbagai
oksida). Setelah bersih, bilah dilipat seperti huruf U untuk disisipkan
lempengan bahan pamor di dalamnya. Selanjutnya lipatan ini kembali dipanaskan
dan ditempa. Setelah menempel dan memanjang, campuran ini dilipat dan ditempa
kembali berulang-ulang. Cara, kekuatan, dan posisi menempa, serta banyaknya
lipatan akan memengaruhi pamor yang muncul nantinya. Proses ini disebut saton.
Bentuk akhirnya adalah lempengan memanjang. Lempengan ini lalu dipotong menjadi
dua bagian, disebut kodhokan. Satu lempengan baja lalu ditempatkan
di antara kedua kodhokan seperti roti sandwich,
diikat lalu dipijarkan dan ditempa untuk menyatukan. Ujung kodhokan lalu dibuat
agak memanjang untuk dipotong dan dijadikan ganja. Tahap berikutnya
adalah membentuk pesi, bengkek (calon gandhik),
dan terakhir membentuk bilah apakah berluk atau lurus. Pembuatan luk dilakukan
dengan pemanasan.
Tahap
selanjutnya adalah pembuatan ornamen-ornamen (ricikan) dengan menggarap
bagian-bagian tertentu menggunakan kikir, gerinda, serta bor, sesuai dengan dhapur keris
yang akan dibuat. Silak waja dilakukan dengan mengikir bilah
untuk melihat pamor yang terbentuk. Ganja dibuat mengikuti bagian dasar bilah.
Ukuran lubang disesuaikan dengan diameter pesi.
Tahap
terakhir, yaitu penyepuhan, dilakukan agar logam keris menjadi logam besi baja.
Pada keris Filipina tidak dilakukan proses ini. Penyepuhan ("menuakan
logam") dilakukan dengan memasukkan bilah ke dalam campuran belerang, garam, dan perasan jeruk nipis (disebut kamalan). Penyepuhan juga
dapat dilakukan dengan memijarkan keris lalu dicelupkan ke dalam cairan (air, air garam, atau
minyak kelapa, tergantung pengalaman Empu yang membuat). Tindakan penyepuhan harus
dilakukan dengan hati-hati karena bila salah dapat membuat bilah keris retak.
Selain cara
Penyepuhan yang lazim seperti diatas dalam penyepuhan Keris dikenal pula Sepuh
jilat yaitu pada saat logam Keris membara diambil dan dijilati dengan lidah,
Sepuh Akep yaitu pada saat logam Keris membara diambil dan dikulum dengan bibir
beberapa kali dan Sepuh Saru yaitu pada saat logam Keris membara diambil dan
dijepit dengan alat kelamin wanita (Vagina) Sepuh Saru ini yang terkenal adalah
Nyi Sombro, bentuk kerisnya tidak besar tapi disesuaikan.
Pemberian warangan dan
minyak pewangi dilakukan sebagaimana perawatan keris pada umumnya. Perawatan
keris dalam tradisi Jawa dilakukan setiap tahun, biasanya pada bulan Muharram/Sura, meskipun hal ini
bukan keharusan. Istilah perawatan keris adalah "memandikan" keris,
meskipun yang dilakukan sebenarnya adalah membuang minyak pewangi lama dan karat pada bilah
keris, biasanya dengan cairan asam (secara tradisional menggunakan air buah kelapa, hancuran buah mengkudu, atau perasan jeruk nipis). Bilah yang telah dibersihkan kemudian diberi
warangan bila perlu untuk mempertegas pamor, dibersihkan kembali, dan kemudian
diberi minyak pewangi untuk melindungi bilah keris dari karat baru. Minyak
pewangi ini secara tradisional menggunakan minyak melati atau minyak cendana yang
diencerkan pada minyak kelapa.
Morfologi Keris
Pegangan
keris (bahasa Jawa: gaman, atau deder untuk keris gaya
Yogyakarta dan jejeran untuk keris Surakarta) ini bermacam-macam motifnya,
untuk keris Bali ada yang bentuknya menyerupai dewa, pedande (pendeta), raksasa, penari, pertapa hutan dan ada yang diukir
dengan kinatah emas dan batu mulia dan biasanya bertatahkan batu mirah delima, dulu sebelum islam masuk, gagang keris Jawa
berbentuk seperti patung Dewa-dewa tetapi setelah Islam masuk penggunaan patung
dilarang sehingga gagang keris mengalami perombakan, tetapi di Bali masih
dilestarikan. Walaupun begitu bentuk gagang patung berbentuk karakter masih
ditemukan pada keris Jawa bagi mereka yang menganut kejawen.
Pegangan
keris Sulawesi menggambarkan burung laut. Hal itu sebagai
perlambang terhadap sebagian profesi masyarakat Sulawesi yang merupakan pelaut,
sedangkan burung adalah lambang dunia atas keselamatan. Seperti juga motif
kepala burung yang digunakan pada keris Riau Lingga,
dan untuk daerah-daerah lainnya sebagai pusat pengembangan tosan aji
seperti Aceh, Bangkinang (Riau), Palembang, Sambas, Kutai, Bugis, Luwu, Jawa, Madura dan Sulu,
keris mempunyai ukiran dan perlambang yang berbeda. Selain itu, materi yang
dipergunakan pun berasal dari aneka bahan seperti gading, tulang, logam, dan
yang paling banyak yaitu kayu.
Untuk
pegangan keris Jawa, secara garis besar terdiri dari sirah wingking (
kepala bagian belakang ), jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala
bagian depan),weteng dan bungkul.
Warangka atau sarung keris[sunting | sunting sumber]
Warangka,
atau sarung keris (bahasa Banjar: kumpang), adalah komponen keris
yang mempunyai fungsi tertentu, khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat
Jawa, paling tidak karena bagian inilah yang terlihat secara langsung. Warangka
yang mula-mula dibuat dari kayu (yang umum adalah jati, cendana, timoho, dan kemuning). Sejalan dengan perkembangan zaman terjadi
penambahan fungsi wrangka sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya.
Bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading.
Secara
garis besar terdapat dua bentuk warangka, yaitu jenis warangka ladrang yang
terdiri dari bagian-bagian: angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk
seperti daun), gandar, ri serta cangkring. Dan
jenis lainnya adalah jenis wrangka gayaman (gandon) yang
bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup,
godong, dan gandek.
Aturan
pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan, walaupun tidak mutlak. Wrangka
ladrang dipakai untuk upacara resmi, misalkan menghadap raja, acara resmi
keraton lainnya (penobatan, pengangkatan pejabat kerajaan, perkawinan, dll)
dengan maksud penghormatan. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan
gandar keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian
belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). Sedangkan
wrangka gayaman dipakai untuk keperluan harian, dan keris ditempatkan pada
bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang).
Dalam
perang, yang digunakan adalah keris wrangka gayaman, pertimbangannya adalah
dari sisi praktis dan ringkas, karena wrangka gayaman lebih memungkinkan cepat
dan mudah bergerak, karena bentuknya lebih sederhana.
Ladrang
dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka, dan bagian utama menurut fungsi
wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang ( sepanjang wilah keris )
yang disebut gandar atau antupan,maka fungsi
gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari kayu (
dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran).
Karena
fungsi gandar untuk membungkus, sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan,
maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsong-silinder yang
disebut pendok. Bagian pendok ( lapisan selongsong
) inilah yang biasanya diukir sangat indah, dibuat dari logam kuningan, suasa (
campuran tembaga emas ), perak, emas. Untuk daerah di luar Jawa ( kalangan
raja-raja Bugis, Goa, Palembang, Riau, Bali ) pendoknya terbuat dari emas, disertai
dengan tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang
bertaburkan intan berlian.
Untuk
keris Jawa, menurut bentuknya pendok ada tiga macam, yaitu (1) pendok
bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya,
(2) pendok blewah (blengah) terbelah memanjang sampai pada
salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat, serta (3) pendok
topengan yang belahannya hanya terletak di tengah. Apabila dilihat
dari hiasannya, pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos
(tanpa ukiran).
Wilah atau bilah keris
Keris Moro (kalis) dari
Sulu, bilah tidak dituakan dan tidak berpamor.
Wilah,
wilahan, atau bilah adalah bagian utama dari sebuah keris. Wilah keris adalah
logam yang ditempa sedemikian rupa sehingga menjadi senjata tajam. Wilah
terdiri dari bagian-bagian tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan, yang
biasanya disebut dapur, atau penamaan ragam bentuk pada
wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). Sebagai contoh, bisa disebutkan
dapur jangkung mayang, jaka lola, pinarak, jamang
murub, bungkul, kebo tedan, pudak sitegal,
dll.
Pada
pangkal wilahan terdapat pesi, yang merupakan ujung bawah sebilah
keris atau tangkai keris. Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris (ukiran).
Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm, dengan penampang sekitar
5 mm sampai 10 mm, bentuknya bulat panjang seperti pensil. Di daerah
Jawa Timur disebut paksi, di Riau disebut puting,
sedangkan untuk daerah Serawak, Brunei dan Malaysia disebut punting.
Pada
pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut ganja (untuk
daerah semenanjung Melayu menyebutnya aring). Di tengahnya terdapat
lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi, sehingga bagian wilah dan
ganja tidak terpisahkan. Pengamat budaya tosan aji mengatakan
bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan lingga dan yoni,
dimana ganja mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan
lingganya. Ganja ini sepintas berbentuk cecak, bagian depannya disebut sirah
cecak, bagian lehernya disebut gulu meled, bagian perut
disebut wetengan dan ekornya disebut sebit ron.
Ragam bentuk ganja ada bermacam-macam, wilut, dungkul, kelap
lintah dan sebit rontal.
Luk, adalah bagian yang
berkelok dari wilah-bilah keris, dan dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi
dua golongan besar, yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya
berkelok-kelok atau luk. Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah,
dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris, dihitung dari sisi cembung dan
dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri), maka bilangan terakhir
adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal (ganjil)
dan tidak pernah genap, dan yang terkecil adalah luk tiga (3) dan
terbanyak adalah luk tiga belas (13).
Dalam
perdagangan keris nama dhapur sering dipermudah sebagai berikut:
1. Keris
lurus disebut Jalak 2. Keris Luk 3 disebut Jangkung 3. Keris Luk 5 disebut
Pendhawa 4. Keris Luk 7 disebut Sempana atau Sumpana 5. Keris Luk 9 disebut
Jigja 6. Keris Luk 11 disebut Sabuk inten atau Carita 7. Keris Luk 13 disebut
Sengkelat
Dhapur keris lurus:
1.
Panji Anom 2. Jaka Tuwo 3. Bethok 4. Karna Tinandhing 5. Semar Bethak 6. Regol
7. Kebo Teki 8. Jalak Nguwuh 9. Sempani 10. Jamang Murub 11. Tumenggung 12.
Tilam Upih 13. Pasopati 14. Condhong Campur 15. Jalak Dhinding 16. Jalak Ngore
17. Jalak Sangu Tumpeng 18. Mendarang 19. Mesem 20. Semar Tinandhu 21 Ron Teki
22. Sujen Ampel 23. Kelap Lintah 24. Yuyu Rumpung 25. Brojol 26. Laler Mengeng
27. Puthut 28. Jalak Sumelang Gandring 29. Mangkurat 30. Mayat Miring 31. Kalam
Munyeng 32. Pinarak 33. Marak 34. Jalak Tilamsari 35.Tilamsari 36. Jalak Lola
37. Wora-wari 38. Wora-wari 39. Sinom 40. Kala Misani
Dhapur
luk tiga (3) 1. Jangkung Pacar 2. Maesa Soka 3. Maesa Nempuh 4. Mayat 5.
Jangkung Pacar 6. Tebu Sauyun 7. Bango Dholok 8. Manglar Munya 9. Campur Bawur
10. Segara Winotan 11. Jangkung Cinarita
Dhapur
Luk Lima (5) 1. Sinarasah 2. Pudhak Sategal 3. Pulanggeni 4. Pandhawa 5. Anoman
6. Kebo Dhengen 7. Kalanadhah 8. Pandhawa lare 9. Urap-urap 10. Naga Salira 11.
Kebo Dhendheng 12. Pandhawa Cinarita 11. Jangkung Cinarita
Dhapur
Luk Tujuh (7) 1. Balebang 2. Murma Malela 3. Crubuk 4. Jaran Goyang 5.
Naga-Kras 6. Sempana Punjul 7. Sempana Bungkem 8. Crita Casapta
Dhapur
Luk Sembilan (9) 1. Kidang Mas 2. Panji Sekar 3. Sempana 4. Jaruman 5. Jarudheh
6. Paniwen 7. Panimbal 8. Kidang Soka 9. Carang Soka 10. Sabuk Tampar 11. Buto
Ijo 12. Sempana Kalenthang 13. Crita Kanawa
Dhapur
Luk Sebelas (11) 1. Carita Bungkem 2. Carita Prasaja 3. Carita Kaprabon 4.
Carita Daleman 5. Sabuk Inten 6. Cluring Regol 7. Carita Genengan 8. Carita
Gandhu 9. Sabuk Tali 10. Jaka Wuru
Dhapur
Luk Tigabelas (13) 1. Caluring 2. Sangkelat 3. Johan Mangan Kala 4. Nagasasra
5. Parungsari 6. Kantar 7. Luk Gandhu 8. Sepokal 9. Karawelang 10. Naga Selumen
11. Bima Kurdha
Dhapur
Luk 17, 19, 21, 25, dan 29 Luk 17 Ngamper Buta Lancingan Luk 19 Trimurda Kala
Tinantang Luk 21 Drajit Trisirah Luk 25 Bima Kurdha Luk 27 Taga Wirun Luk 29
Kalabendu
Keris-keris
pusaka keraton hanya sampai berluk13 saja. Keris yang berluk lebih dari 13
disebut keris Kalawijen atau Palawijan, keris kalawija, atau keris
tidak lazim dan tidak termasuk Pusaka Keraton.
Pasikutan, tangguh
keris dan perkembangan pada masa kini
Yang
dimaksud dengan pasikutan adalah "roman" atau kesan
emosi yang dibangkitkan oleh wujud suatu keris. Biasanya, personifikasi
disematkan pada suatu keris, misalnya suatu keris tampak seperti
"bungkuk", "tidak bersemangat", "riang",
"tidak seimbang", dan sebagainya. Kemampuan menengarai pasikutan merupakan
tahap lanjut dalam mendalami ilmu perkerisan dan membawa seseorang pada panangguhan keris.
Langgam/gaya
pembuatan suatu keris dipengaruhi oleh zaman, tempat tinggal dan selera empu
yang membuatnya. Dalam istilah perkerisan Jawa, langgam keris menurut waktu dan
tempat ini diistilahkan sebagai tangguh. Tangguh dapat juga
diartikan sebagai "perkiraan", maksudnya adalah perkiraan suatu keris
mengikuti gaya suatu zaman atau tempat tertentu. "Penangguhan" keris
pada umumnya dilakukan terhadap keris-keris pusaka, meskipun keris-keris baru
dapat juga dibuat mengikuti tangguh tertentu, tergantung keinginan pemilik
keris atau empunya.
Tangguh keris
tidak bersifat mutlak karena deskripsi setiap tangguh pun dapat bersifat
tumpang tindih. Selain itu, pustaka-pustaka lama tidak memiliki kesepakatan
mengenai empu-empu yang dimasukkan ke dalam suatu tangguh. Hal ini disebabkan
tradisi lisan yang sebelum abad ke-20 dipakai dalam ilmu padhuwungan.
Meskipun
tangguh tidak identik dengan umur, tangguh keris (Jawa) yang tertua yang dapat
dijumpai saat ini adalah tangguh Buda (atau keris Buda). Keris
pusaka tertua dianggap dan masih dugaan berasal dari tangguh Pajajaran, yaitu
dari periode ketika sebagian Jawa Tengah masih di bawah pengaruh Kerajaan Galuh ini pun sebenarnya bukanlah keris
melainkan senjata kadga,sezaman dengan Kerajaan Mataram kuno dilihat dari arca
dwarapala pada candi Sewu yang dibagian pinggang belakang membawa kadga. Keris
pusaka termuda adalah dari masa pemerintahan Pakubuwana X (berakhir 1939). Selanjutnya, kualitas
pembuatan keris terus merosot, bahkan di Surakarta pada dekade 1940-an tidak
ada satu pun pandai keris yang bertahan
Kebangkitan
seni kriya keris di Surakarta dimulai pada tahun 1970, dibidani oleh K.R.T. Hardjonagoro (Go Tik Swan) dan didukung oleh Sudiono
Humardani,[17] melalui perkumpulan Bawa Rasa Tosan
Aji. Perlahan-lahan kegiatan pandai keris bangkit kembali dan akhirnya ilmu
perkerisan juga menjadi satu program studi pada Sekolah Tinggi Seni Indonesia
Surakarta (sekarang ISI Surakarta).
Keris-keris
yang dibuat oleh para pandai keris sekarang dikenal sebagai keris
kamardikan ("keris kemerdekaan"). Periode ini melahirkan
beberapa pandai keris kenamaan dari Surakarta seperti KRT. Supawijaya
(Surakarta), Pauzan Pusposukadgo (Surakarta), tim pandai keris STSI Surakarta,
Harjosuwarno (bekerja pada studio milik KRT Hardjonagoro di Surakarta),
Suparman Wignyosukadgo (Surakarta)
Comments
Post a Comment