La Golo
Pada zaman dahulu di suatu desa di Bima, NTB, hiduplah
sepasang suami istri yang kaya raya, namun belum dikaruniai anak. Mereka telah
sekian lama menanti kehadiran buah hati. Mereka tak henti-hentinya berdoa
meminta kepada Tuhan yang Mahakuasa supaya dikarunia seorang buah hati. Hingga
suatu hari, doa yang selalu mereka panjatkan dikabulkan. Sang istri pun
mengandung. Tidak terkira kebahagiaan suami istri tersebut. Sembilan bulan
kemudian lahirlah seorang bayi laki-laki yang sehat dan gagah, bayi itu diberi
nama La Golo. La Golo memiliki arti pembuka jalan.
Orangtuanya memberi nama La Golo dengan
harapan sang bayi mungil itu tumbuh menjadi pria dewasa yang gagah berani,
membuka lahan untuk pertanian, dan memimpin masyarakat dengan bijaksana.
La Golo sebagai anak satu-satunya sungguh amat di sayang oleh
kedua orangtuanya. Sehingga Semenjak masih kecil, La
Golo sangat dimanjakan orang tuanya. Sehingga apapun yang dia
inginkan selalu saja dipenuhi oleh kedua orangtuanya. Namun karena selalu
dimanjakan orang tuanya berdampak buruknya perangai La
Golo ketika beranjak remaja. La
Golo memiliki sifat manja dan pemalas tidak sesuai dengan doa yang
disematkan orang tuanya pada namnya “La Golo”. La Golo tidak mau membantu kedua orang
tuanya bekrja di sawah. Sementara semua keinginan La
Golo harus dipenuhi, jika tidak La
Golo selalu merengek dan menangis bahkan mengamuk dan merusak apapun
yang ada didekatnya.
Suatu hari
orang tuanya berseloroh, "Dahulu aku memberi nama anak kita La Golo, aku berharap agar setelah dewasa
dengan menggunakan golo atau golok, ia mampu membuka lahan baru untuk pertanian
dan perkebunan sehingga kita tambah sejahtera dan dapat menikmati masa tua.
Namun nyatanya, anak itu benar-benar,pemalas. Jangankan membuka lahan,
membantuku di kebun saja dia tidak mau!" kata sang suami pada istrinya.
Tidak hanya itu, La Golo juga
menjadi anak nakal, suka berkelahi dan mengejek anak-anak lain. Hampir setiap
hari laporan selalu dari penduduk bahwa La
Golo berkelahi dengan masyarakat baik di desa ataupun diluar desa.
Semua itu membuat kedua orang tuanya sangat malu dan bersedih hati. Sang Ayah
pun menegur La Golo. "Anak ku
hendak jadi apa engkau bila terus-terusan nakal dan pemalas?" Tegur sang
Ayah kepada La Golo, namun La Golo hanya diam saja tanpa
memperdulikan Ayahnya. Ia malah asyik dengan kesibukannya sendiri membuat pati
kalo. Pati kalo merupakan mainan yang berbentuk seperti senjata api sungguhan
yang terbuat dari potongan batang daun pisang. Mainan ini digunakan ketika akan
bermain mpa'a lewa atau permainan perang-perangan. Melihat sikap putranya yang
acuh tak acuh sungguh membuat semakin sedih kedua arangtuanya. Ayah dan Ibunya
sudah berkaIi-kaIimencaba menasihatinya, namun La
Golo tak berubah juga. Hingga beranjak dewasa, La Golo tidak berubah malah memakin
sulit di atur. Mereka hanya bisa berdo’a semoga suatu saat anaknya anak berubah.
Hingga
suatu hari musim kemarau telah tiba, usia La
Golo tepat menginjak usia 17 tahun. Di Desa tempat tinggal La Golo memiliki kebiasaan melakukan
tradisi Nggalo Wawi yang dilakukan ketika musim kemarau datang. Tradisi Nggalo
Wawi merupakan tradisi berburu babi hutan yang dilakukan oleh masyarakat Bima
dan Dompu. Babi hutan diburu karena merupakan binatang perusak tanaman para
petani, terutama tanaman padi dan jagung. Tradisi ini wajib dilakukan oleh
semua pria yang telah beranjak dewasa. Jika ada yang tidak mematuhi, maka akan
diberi hukuman yang berat. Dan seluruh penduduk desa pun akan memandangnya
sebagai pria lemah dan pengecut.
Karena
kemalasannya La Golo, tidak ingin
ikut berburu babi hutan dan memberi banyak alasan. Namun setelah di paksa oleh
ayah nya, akhirnya dengan berat hati La
Golo bersedia berangkat berburu babi.
Persiapan
berburu pun dilakukan oleh para pria dibantu oleh wanita. Para pria melakukan
persiapan untuk pembuatan alat-alat berburu, seperti tombak, parang, dan panah.
Alat-alat ini dapat membantu untuk menghindari dan menahan, jika terjadi
penyerangan oleh babi hutan kepada para pemburu. Sedangkan para wanita membantu
mempersiapkan bekal selama perburuan dihutan. Keperluan yang tidak kalah
penting dalam perburuan ini adalah dibawanya beberapa ekor anjing. Anjing
merupakan binatang yang paling agresif terhadap babi hutan dan ketajaman
penciumannya dapat mengetahui jejak babi yang ada di dalam hutan. Masing-masing
para pemburu yang sudah lengkap dengan alat-alat buruannya, akan membawa seokor
anjing sebagai penunjuk jalan di mana babi hutan berada. Jika hutan yang
menjadi tujuan untuk berburu terlalu rimba dan menakutkan, maka para pemburu
akan melepaskan beberapa ekor anjing saja untuk mencium keberadaan babi.
Jikalau di dalam hutan tersebut terdapat beberapa ekor babi hutan, maka anjing
akan menggonggong dengan keras sambil mengejar dan menggigit, sehingga babi
yang ada di dalam hutan akan lari keluar dari hutan. Para pemburu akan
bersiap-siap di luar hutan, untuk melepaskan tombakan jika terdapat babi hutan
yang menghampiri mereka.
Hingga tiba
hari keberangkatan berburu, La Golo bersiap-siap
mengikuti ayahnya dan pria-pria desa lain untuk berburu. Para pria desa,
termasuk La Golo dan Ayahnya
berangkat menuju hutan sebelum matahari terbit. Hutan tersebut sebenarnya tidak
terlalu jauh, hanya sekitar 10 km dari Desa. La
Golo yang sudah terbiasa bermalas-malasan merasa sangat kelelahan
padahal baru saja 1 km meninggalkan Desa. Hingga ayahnya menawarkan bantuan
untuk membawa peralatan berburu. La
Golo pun menyerahkan peralatan berburu dan membiarkan ayahnya membawa
semua dengan senang. Ia tidak peduli jika ayahnya sudah tua dan kelelahan juga.
Ayahnya harus membawa banyak barang sementara perjalanan masih cukup jauh. La Golo berjalan lambat di belakang
rombongan pemburu. Makin lama, makin jauh jaraknya antara Ia dan rombongan
tersebut.
Belum lama
berjalan La Golo tidak
melihat rombongan lagi di depannya karena ia terlalu lambat. Ia pun memutuskan
berhenti dan beristirahat di tepi jalan setapak. Ia berteduh dibawah pohon yang
rindang. Ia berpikir mereka akan kembali dengan melalui jalan yang sama yang
telah dilalui. Karena tak melihat rombongan di depannya, La Golo kemudian memutuskan berhenti
dan beristirahat di bawah pohon. Ia pun tertidur dengan pulasnya karena udara
sejuk dibawah pohon.
Na mun
belum lama ia tertidur, tiba-tiba La
Golo terbangun karena mendengar suara dari balik bukit. Untuk sesaat
ia tidak menghiraukannya, karena dikira mimpi oleh dia. Namun suara itu
berbunyi kembali.
"Hooo....
Hooo... ,"
La Golo mulai penasaran dan tertarik untuk mencari tahu. Ia
pun mencari asal suara itu, tanpa disadari ia sudah berjalan jauh ke balik
bukit. Sampailah Ia di sebuah pohon yang amat besar. Suara itu berasal dari
sana. La Golo mendongak,
dilihatnya buah-buahan pohon tersebut bergantungan di setiap dahan. Warnanya
hijau muda, berbentuk seperti tabung berlubang. Pohon itu diperhatikan dengan
seksama oleh La Golo, hingga
akhirnya ia menemukan sumber suara yang membuatnya penasaran. Ternyata dari
lubang pada buah tersebutlah angin mengalir dan membuat suara yang tadi
didengar oleh La Golo.
Setelah
rasa penasarannya tuntas, La Golo berniat
kembali lagi ke tepi jalan setapak untuk menunggu ayah dan para pria lainnya
pulang berburu. La Golo yang
berjalan begitu saja, tanpa memperhatikan jalan yang dilaluinya untuk mencari
sumber suara akhirnya tersesat. Ia tak ingat jalan kembali ketempat ia berteduh
tadi.
Dengan
bingung, La Golo berusaha
mencari jalan pulang. Ia mencoba mengingat-ingat jalan mana yang sudah dilalui
olehnya. Namun sia-sia hingga akhirnya Ia makin tersesat, masuk jauh ke kawasan
di balik bukit yang penuh pepohonan lebat. Rasa takut di hatinya mulai muncul.
Berkali-kali ia memanggil ayahnya.
Namun
panggilannya hanya dijawab oleh suara "Hooo... hooo... ," dari
buah-buah tadi. La Golo pun
mulai Ielah, perutnya lapar karena semua bekal dibawa oleh ayahnya. Ia pun
mencari makan dari buah-buahan yang jatuh.
Di dalam
hatinya, ia mulai menyesali kenakalan dan kemalasannya. Ia sadar jika Ia Iebih
patuh pada orangtuanya, ia tidak akan tersesat seperti ini. Ia pun berjanji,
jika bisa menemukan jalan pulang, Ia akan berubah menjadi anak yang Iebih baik.
Ayah La Golo dan rombongan telah
menyelesaikan perburuannya dan kembali ke desa. Sang Ayah yang tidak mendapati
putranya dalam rombongan, tidak begitu khawatir. Beliau mengira sang putra yang
pemalas telah kembali ke desa terlebih dahulu. Namun sesampainya di rumah Ia
tidak rnendapati putranya telah pulang. Ia pun menanyakan keberadaan putranya
pada sang Istri.
"Ina,
dirnana La Golo? Bukannya dia
sudah kernbali terlebih dahulu," tanya sang Suami penuh khawatir akan
keberadaan putranya. "Bukannya ia bersamamu Ama, dari tadi tidak ada satu
pun pria yang pergi berburu kembali, hingga kalian datang," ujar sang
Istri dengan heran. Orang tua La Golo sangat
khawatir dan pergi menghadap Kepala Adat untuk melaporkan bahwa putranya belurn
kernbali. Dengan bergegas Kepala Adat memerintahkan para pria di desa untuk
kembali ke hutan mencari La Golo.
Esok paginya
para pria pun segera ke hutan dengan berbekal persenjataan guna menghalau
binatang liar. Mereka tidak lupa membawa anjing mereka untuk melacak keberadaan La Golo. Sudah beberapa hari mereka
melakukan pencarian akan keberadaan La
Golo, namun hasilnya tidak ada. Hal ini karena La
Golo yang tidak tahu arah melangkah sangat jauh dari perbatasan hutan
di desanya. Orangtua La Golo pun
hanya bisa berpasrah, semoga putranya tetap selamat dan bisa segera kembali.
Berhari-hari La Golo berjalan di tengah hutan. Ia
makan buah apa saja yang bisa ditemukan, tidur di atas dahan pohon agar tak
dimangsa hewan buas, dan terus berjalan tanpa tahu arah. Sampai suatu hari, La Golo bertemu dengan seorang pemburu
bernama Sandari.
La Golo pun bercerita mengenai siapa dirinya dan apa yang
menyebabkan dia tersesat seperti sekarang. Setelah mendengar kisahnya, Sandari
mengajak La Golo berpetualang.
Ia juga mengajari La Golo bertahan
hidup, bekerja keras mengumpulkan makanan serta belajar berburu.
Tidak lama
kemudian, dari kejauhan mereka mendengar suara orang sedang
bercakap-cakap. Makin lama makin jelas. Mereka akhirnya berpapasan dan saling
berkenalan. Mereka bercerita mengapa sampai di tempat itu. Ternyata mereka juga
adalah anak-anak malas dan nakal yang tidak menurut kepada kedua orang tuanya
hingga tersesat di hutan seperti sekarang. Namanya La Ngepe dan La Bonggo.
Empat orang
itu akhirnya menjadi sahabat. Mereka sepakat mengangkat La Golo sebagai ketuanya. Mereka
sekarang harus bekerja keras mencari buah-buahan dan umbi-umbian untuk dimakan.
Pada suatu hari, mereka bertemu dengan seekor rusa. La
Golo melihat betapa kencang larinya sang rusa. Sungguh kagum dirinya
melihat kelincahan sang rusa. La Golo ingin
memiliki kepandaian berlari seperti seekor rusa. Ia pun berlatih dan akhirnya
memiliki ilmu berlari secepat rusa. Mereka gunakan untuk lari menghidari
kejaran binatang buas yang hendak menjadikan mereka santapannya.
Setelah
beberapa hari, mereka bertemu pula dengan seekor beruk yang sangat besar. Beruk
itu pun diminta mengajarkan ilmu memanjatnya. Beberapa waktu kemudian, mereka
bertemu kembali dengan seekor kerbau liar yang tanduknya sangatkuat.
Merekamerasabelum lengkapkalaubelum memiliki ilmu ntumbu (tumbuk kepala) yang
dimiliki kerbau liar itu. Mereka ingin mempergunakannya sebagai pelindung diri
dari serangan binatang buas. Mereka pun meminta sang kerbau mengajarkan cara
menyeruduk yang kuat kepada sang kerbau. Akhirnya, kerbau itu pun mau
mengajarkan ilmu tumbuk kepalanya.
Ketika
dalam perjalanan mereka berpetualang, mereka bertemu dengan elang. Mereka
begitu kagum melihat mata tajam elang yang sedang mengincar mangsanya dan
begitu tepatnya bidikan sang elang dalam memangsa mangsanya. La Golo pun dengan semangat meminta
sang elang untuk mengajarkan cara memiliki mata tajam untuk membidik sasaran.
Seperti binatang lain yang mereka temui sebelumnya, sang elang dengan senang
hati mengajarkan ketajaman matanya membidik mangsa kepada La Golo dan ketiga temannya. Dengan
berbekal keterampilan yang mereka miliki, seperti berlari secepat rusa,
memanjat setangkas beruk, ntumbuk (tumbuk kepala) sekuat kerbau, dan membidik
sasaran setajam mata elang. Mereka pun melanjutkan petualangan. Hari semakin
hari La Golo pun yang sudah
berubah menjadi Iebih baik, tak henti-hentinya mempelajari keterampilan
tersebut.
Hingga pada
suatu hari, La Golo punya
usuI untuk mencari ikan di laut. Ketiga temannya yang lain menyetujuinya."
Lalu, mereka berjalan menuju teluk kecil yang tenang airnya. Tugas pertama
adalah membendung teluk itu. Tugas inijatuh pada Sandari karena Sandari berarti
pagar pembatas air. Setelah air laut itu dibendung, selanjutnya adalah tugas La
Bonggo untuk mengeringkan airnya karena bonggo berarti mengeringkan air. Dalam
sekejap, air laut itu sudah kering dan tampak ikanikan menggelepar. Setelah
itu La Ngepe mempunyai tugas menangkap ikan-ikan itu. Ngepe dalam bahasa Bima
berarti menangkap ikan. Setelah ikan ditangkap, La
Golo lah yang mengumpulkan ikan-ikan itu. Ketika mereka sedang
beristirahat sambil memikirkan bagaimana cara memperoleh api untuk membakar
ikan-ikan itu, tampaklah asap api di kejauhan. La
Golo meminta agar salah satu temannya pergi ke tempat itu untuk
membakar ikan. Mereka pun membagi tugas dengan cara diundi siapa yang akan
pergi kesumber asap.
Tugas
pertama pun jatuh pada Sandari. Asap yang mengepul itu ternyata datang dari
satu-satunya rumah yang berada tengah hutan. Rumah itu milik sepasang raksasa,
yaitu Ompu dan Wa'i Ranggasasa (kakek dan nenek raksasa). Namun Sandari tidak
menyadari bahwa pemilik dari rumah sumber asap itu adalah sepasang raksasa.
Ketika
sampai di rumah itu, Sandari segera menghampiri pintu rumah tersebut. Ia
berniat untuk meminta izin untuk membakar ikannya. Jika diizinkan, sebagian
ikannya akan diberikan sebagai ucapan terima kasih kepada sang pemilik rumah.
Belum saja Sandari mengetuk pintu, dari dalam rumah terdengar obrolan sepasang
raksasa yang menakutkan. Mendengar percakapan itu, Sandari lari tunggang
langgang dan meninggalkan seluruh ikannya. Sandari melaporkan kejadian itu
kepada teman-temannya.
"Di
sana ada sepasang raksasa mereka hendak menangkap manusia, aku takut,
kalian saja yang pergi," ujar Sandari dengan gemetar.
Mereka pun
mengundi kembali siapa yang akan pergi. Hingga akhirnya giliran jatuh pada La
Ngepe. Sebenarnya La Ngepe juga merasa takut jika berhadapan langsung dengan
sepasang raksasa itu. Namun ia malu untuk mengakuinya. Akhirnya ia pun pergi
dengan perasaan takut. Ia pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Keluarlah
sang rakasasa pria dengan kapak ditangannya. Hal ini membuat La Ngepe semakin
takut.
"Bolehkah
kami menumpang membakar ikan ini, wahai raksasa. Nanti akan kuberikan sebagian
milik kami untuk mu," ujar La Ngepe dengan suara yang bergetar.
"Aku
bukan saja menginginkan ikan yang kau miliki, tapi aku juga ingin memakan habis
daging mu wahai anak manusia, hahahaha,"
ujar sang raksasa dengan rasa senang melihat ada mangsa dihadapannya.
Mendengar
perkataan sang raksasa itu La Ngepe pun langsung berlari terbirit-birit. La
Ngepe pun gagal juga. Pengundian selanjutnya jatuh pada La Bonggo. La Bonggo
tidak jauh berbeda dengan La Ngepe ia pun merasa takut.
"Aku
sungguh takut dimakan oleh sang Raksasa itu," rintih La Bonggo
"Pergilah
kau, gunakan pisau ini untuk membunuh raksasa," perintah La Golo.
La Bonggo
pun pergi dengan berat hati karena takut. Namun, ia mengalami nasib yang sama
seperti Sandari dan La Ngepe. Ia sambil terengah-engah karena berlari
melaporkan kejadiannya kepada La Golo.
Akhirnya, La Golo pergi ke rumah Ompu dan Wa'i
Ranggasasa, diikuti teman-temannya yang lain. La
Golo pun mendapatjawaban yang sama dari kedua raksasa itu. Namun, La Golo tidak gentar menghadapi Ompu
Ranggasasa. Dengan suara yang lantang ia menantang Ompu Ranggasasa.
"Hai
raksasa apa yang telah kau lakukan pada ketiga temanku, lawanlah aku jika kau
berani" tantang La Golo.
"Sungguh
besar nyali mu wahai anak manusia, kemarilah akan kuhabisi dan kumakan kalian
hingga habis," ujar sang raksasa penuh marah.
Ketika Ompu
Ranggasasa siap menyerang, La Golo pun
sudah bersiap-siap dengan ilmu ntumbu-nya. Begitu raksasa itu menyerang, La Golo pun maju menyerudukkan
kepalanya. Terjadilah benturan kepala yang sangat keras. Raksasa itu menjerit
kesakitan. Ompu Ranggasasa mati seketika. Demi keamanan, Wa'i Ranggasasa pun
dibunuhnya.
Mereka
berempat kini menempati rumah raksasa itu sebagai tempat peristirahatan
beberapa hari. Dengan bebas, mereka membakar ikan di sana. Mereka juga
menemukan beberapa bahan makanan seperti buah-buahan dan beras dirumah sang
raksasa. Cukup untuk perbekalan mereka selama beberapa hari disana.
Setelah
beberapa hari tinggal dirumah raksasa, habislah persediaan makanan mereka,
mereka pun harus melanjutkan pengembaraan. Melalui beberapa kilo jalan setapak
hingga sampailah mereka di sebuah desa. Di desa itu sedang ada keramaian.
Setelah mereka mencoba mencari tahu ada apa gerangan di desa itu sangat ramai.
Ternyata disana diadakan pertandingan adu ketangkasan di istana. La Golo tertarik ikut bertanding
La Golo pun ikut bertanding. Dengan kemampuan yang luar biasa
dimiliki oleh La Golo, ia pun
sangat mudah mengalahkan pesaing-pesaingnya. Pada perlombaan Iari, ia mampu
berlari dengan sangat cepat. Dengan ilmu lari yang diperoleh dari sang rusa, ia
menjadi juara lari.
Pada
perlombaan memanjat pohon, dengan ilmu memanjat yang diajarkan oleh sang beruk,
ia menjadi juara memanjat pohon pinang yang telah dilumuri lemak. Hingga
gilirannya untuk mengikuti lomba memanah, Ia pun
berhasil mengalahkan para kesatria kerajaan. La
Golo berhasil membidik sasarannya dengan tepat. Ia membidik
sasarannya bagaikan elang yang membidik mangsanya denga tepat.
Tibalah
pada permainan terakhir, giliran La
Golo mengikuti sayembara ntumbu melawan jagoan istana. Dengan
dukungan teman-temannya dan dengan tekad yang bulat, akhimya La Golo maju. Ia duduk bersila dengan
penuh hormat di depan sang Raja menyatakan kesediaannya mengikuti ntumbu
melawan jagoan istana.
Sebentar
lagi perlombaan akan dimulai. Raja sendiri yang akan memimpin jalannya
perlombaan. Kepala peserta lomba diikat dengan pita berwana kuning. Raja
mempersilakan kedua pemain maju ke depan berdiri berhadap-hadapan
dalam jarak lima meter dari depan. Raja memberikan petunjuk
tentang jalannya lomba.
Aba-aba
sudah dimulai dan kedua pemain telah bersiap untuk berlaga. Bunyi arubana
(rebana) yang mengiringi pertarungan itu sudah sejak tadi bergema. Kepala
mereka telah siap menyeruduk laksana seekor kerbau liar. Ketika terdengar
aba-aba dan bendera kuning telah dijatuhkan, La
Golo lari dan meloncat ke arah lawannya bak seekor kerbau liar, dan
"Caaaaaaak!" Kepala mereka telah beradu, terdengarlah benturan yang
amat keras. Jagoan istana itu tergeletak tak sadarkan diri. La Golo menjadi pemenang pertandingan
itu. Para penonton bersorak-sorai dan mengelu-elukan La Golo sang juara.
La Golo pun kemudian menjelaskan asalusulnya pada sang raja.
Raja pun memerintahkan pengawalnya untuk mencari desa asal La Golo beserta teman-temannya. Tak
perlu waktu lama, La Golo dan
ketiga temannya pun akhirnya dapat bertemu lagi dengan kedua orangtuanya. La Golo pun menangis meminta maaf akan
kesalahan yang diperbuatnya selama ini dan berjanji akan menjadi anak yang baik
dan berbakti.
"Ama..Ina..
maafkan ananda yang terlalu menyusahkan kalian berdua, ananda janji akan
menjadi anak yang baik dan berbakti pada kalian," ujar La Golo sambil menitikkan air mata.
Betapa senang orangtua La Golo melihat
putranya masih hidup dan sehat. mereka yang mengira anaknya sudah mati diterkam
hewan buas, sangat bahagia mendapatkan putra terkasihnya kembali. Mereka
meneteskan air mata bahagia, apalagi melihat perilaku La Golo sangat berubah. Mereka pun
saling berpelukan untuk meluapkan kerinduan yang telah lama tertahankan.
Untuk
melepas rindu mereka yang telah lama tertahankan, La
Golo dan kedua orangtuanya saling bertukar cerita pengalaman mereka
selama tidak bertemu. Tak lupa La Golo bercerita
pengalamannya berpetualang bersama ketiga teman yang ia temui di hutan. Hingga
berkelahi menghadapi sepasang raksasa jahat.
Mendengar
cerita putranya, dalam hati kedua orangtua La
Golo merasa bangga akan perubahan putranya yang telah menjadi seorang
pria pemberani.
Kebahagiaan
orangtua La Golo bertambah
melihat putranya menepati janjinya untuk menjadi anak yang berbakti dan
Senantiasa membantu orangtuanya. Ia membuka lahan pertanian dan perkebunan, dan
bekerja keras agar hasilnya dapat dijual ke pasar. Ia tak lagi suka berkelahi
maupun menganggu teman-teman sebayanya. Doa dan kesabaran kedua orangtua La Golo sungguhlah tidak sia-sia.
Putranya kini menjadi kebanggaan mereka.
Comments
Post a Comment