Mahabarata part 2
Saat bertapa Dewi Gangga diberitahu saat melahirkan anak ke1-7 harus dibuang, anak ke8 jangan dibuang. Perjanjian Dewi Gangga dan Prabu Sentanu saat sebelum menikah Prabu Sentanu berjanji pada Dewi Gangga tidak akan mempertanyakan apapun yang akan di lakukan Dewi Gangga, Saat Prabu Sentanu mempertanyakan kelakuan Dewi Gangga itulah saat terakhir Dewi Gangga di Dunia ini. Saat lahir anak ke 8. Dewi Gangga sebenarnya ingin membuang juga anak itu karena sudah kebiasaan. Tapi Prabu Sentanu mempertanyakannya Maksudmu apa mengapa kau buang semua anak-anak kita. Bayi ke 8 inilah Bisma Dewabrata. Dan saat Prabu Sentanu bertanya itu. Dewi Gangga terpaksa harus meninggalkan Bisma dan ayahnya sewaktu Bisma masih bayi, seperti perjanjian awal mereka
Bisma diasuh oleh
orang terbaik dalam lingkungan Kerajaan dan diberikan pendidikan terbaik budi
pekerti serta olah keprajuritan karena dialah yang kelak akan meneruskan takhta
Hastinapura.
Setelah tumbuh
menjadi seorang remaja yang kuat, Bisma lebih sering keluar Keraton pergi ke
sudut-sudut terjauh negeri untuk menelisik arti kehidupan dan mencari guru-guru
hebat yang bisa mengajarinya arti kehidupan dan juga ilmu keprajuritan. Dalam
diri Bisma, tampaknya suksesi takhta Hastinapura akan berjalan dengan mulus
ketika tiba saatnya nanti.
Pada suatu hari
Bisma melihat ayahnya Prabu Santanu tampak termenung dan tidak bersemangat,
akhirnya ia mengetahui bahwa ayahnya ingin menikah dengan Dewi Satyawati namun
sang Dewi meminta syarat yang berat bahwa kelak keturunannya yang akan menjadi
raja.
Karena cintanya
kepada ayahnya, ia menemui Dewi Satyawati dan berjanji untuk melepaskan haknya
atas takhta Hastinapura, namun seperti kebanyakan manusia yang haus akan
kekuasaan, Satyawati masih menuntut lebih agar keturunan Bisma tidak
mengungkit takhta Hastinapura di masa depan.
Bisma lalu
menghunus keris pusakanya dan mengacungkan keris tersebut ke atas sambil
mengucapkan sumpahnya untuk tidak menikah sehingga tidak ada keturunannya yang
akan menuntut takhta Hastinapura. Seiring sumpahnya tersebut angin menderu
kencang dan tercium semerbak wangi harum bunga pertanda para Dewata menjadi
saksi atas sumpahnya
Bisma telah
membuat keputusan besar dalam hidupnya, tidak hanya melepas takhta dia
juga telah melepas cintanya walaupun cinta itu belum hadir di dalam
kehidupannya tanpa menyadari bahwa terkadang cinta bisa tiba-tiba datang ke
dalam hidup manusia dalam bentuk yang tidak terpikirkan sebelumnya.
Waktu terus
berjalan, dari pernikahan Prabu Santanu dengan Dewi Satyawati lahir dua anak
laki-laki bernama Citragada dan Wicitrawirya, dua orang yang berbeda
kepribadiannya.
Bisma juga mendidik
kedua adik tirinya ini terutama Citragada yang akan menjadi penerus takhta.
Citragada lebih menonjol di bidang olah keprajuritan sedangkan Wicitrawirya
lebih menonjol di bidang ilmu pengetahuan dan tata negara. Hingga tiba saat
Prabu Santanu mangkat dan Citragada naik Takhta Hastinapura. Bisma telah
menepati janjinya ketika berjanji untuk melepaskan takhtanya.
Ternyata Prabu
Citragada sangat menyukai peperangan dan terobsesi untuk meluaskan wilayah
Kerajaannya. Kerajaan Hastinapura yang sebelumnya lebih bersifat pengayom
berubah menjadi agresor.
Sifat agresor Prabu
Citragada dianggap para Dewata telah mengganggu keseimbangan dunia sehingga
para Dewa mengirim utusannya untuk menghukum Citragada.
Citragada akhirnya
gugur oleh utusan Dewa ini dalam sebuah perang tanding yang hebat. Ketika
meninggalkan dunia ini Prabu Citragada belum menikah dan belum memiliki
keturunan.
Secara tradisi maka
yang berhak menduduki takhta adalah adiknya Wicitrawirya, namun karena
masih belum cukup umur maka untuk sementara Bisma bertindak sebagai wali negara
sampai Wicitrawirya siap dinobatkan sebagai Raja.
Akhirnya setelah
cukup umur Wicitrawirya dinobatkan menjadi Raja Hastinapura. Dalam masa
kepemimpinannya Raja baru ini memperbaiki hubungan Hastinapura dengan beberapa
negara tetangga yang sempat rusak ketika Prabu Citragada berkuasa dan melakukan
ekspansi kekuasaannya.
Suatu hari Ibu Suri
Satyawati meminta tolong Bisma untuk mencarikan permaisuri untuk Wicitrawirya
dan Bisma menyanggupi. Kebetulan Raja Kasi Prabu Kasindra sedang
menyelenggarakan sayembara, siapapun yang bisa mengalahkan jago Kerajaan Kasi
berhak memboyong tiga putri Kerajaan Kasi yang terkenal cantik jelita: Dewi
Amba, Dewi Ambika dan Dewi Ambalika.
Bisma mengikuti
sayembara tersebut dan menjelaskan kepada semua Kesatria yang ada di sana bahwa
dia mewakili Raja Hastinapura karena Bisma banyak mendengar cemooh para hadirin
di sana yang mengetahui sumpah tidak menikah Bisma.
Tidak ada satupun
Raja dan Kesatria yang mampu memenangkan adu tanding dengan jago Kerajaan
Kasindra sampai Bisma maju dan akhirnya berhasil mengalahkan jago Kerajaan
Kasi tersebut dan memenangkan sayembara.
Bisma juga meminta
para Raja dan Kesatria di sana yang tidak puas untuk adu tanding dengannya,
namun tidak ada satupun yang berani menghadapi Bisma karena kesaktian
Bisma sudah sangat termasyhur. Ketiga putri Kasi tersebut segera diboyong ke
Kerajaan Hastinapura.
Tanpa sepengetahuan
Bisma ternyata Dewi Amba sudah mempunyai tambatan hati yaitu Prabu Salwa
sehingga ketika Wicitrawirya mengetahui hal ini dia tidak mau menerima Amba
sebagai permaisurinya dan meminta Bisma untuk menghantar Amba ke Prabu Salwa
namun Prabu Salwa menolak Amba lantaran Bismalah yang memenangkan sayembara
tersebut.
Betapa hancur hati
Dewi Amba mendapat penolakan tersebut dan seharusnya satu-satunya orang yang
paling bertanggung jawab dan menerimanya adalah Bisma.
Dewi Amba terus
mengikuti Bisma dan meminta Bisma untuk menerima cintanya . Hari demi hari
berlalu dan mungkin inilah salah satu kisah cinta paling rumit dalam dunia
wayang.
Mungkin Bisma tidak
pernah menyadari bahwa cinta bisa tiba-tiba datang dalam proses kehidupan
manusia dalam berbagai bentuk dan kisah yang tidak pernah terpikirkan
sebelumnya. Mungkin memang pada akhirnya Bisma benar-benar jatuh cinta kepada
Dewi Amba, namun rasa cinta itu tersekat oleh janji dan sumpahnya.
Pada akhirnya Bisma
adalah Kesatria utama yang tetap setia memegang sumpahnya, tiba-tiba di
tangannya telah tergenggam panah pusaka, maksud Bisma mengeluarkan senjata
pusaka itu hanya untuk menakut-nakuti Amba agar menjauh dan pergi darinya
namun tanpa sengaja panah sakti tersebut terlepas dari tangannya dan meluncur
hingga menancap di dada Dewi Amba.
Saat itu Amba
sedang mengandung namun Bisma tidak mengetahui hal itu. Amba saat sakratul maut
berhasil melahirkan seorang anak yang bernama Srikandi (Srikandi ini
digambarkan sebagai perempuan cantik namun dia adalah seorang laki-laki). Saat
meninggal tidak ada dendam dan kebencian di mata Amba.
Takhta Hastinapura
lowong dan keputusan besar Bisma
Tidak lama setelah
melangsungkan pernikahan, ternyata Prabu Wicitrawirya mengidap penyakit dan
meninggal dalam usia yang masih muda. Prabu Wicitrawirya belum memiliki
keturunan ketika mangkat sehingga takhta Hastinapura menjadi lowong. Kembali
Kerajaan Hastinapura harus kehilangan Rajanya dan tanpa suksesi yang jelas.
Menghadapi situasi
pelik ini Bisma kembali membuat keputusan besar demi menyelamatkan negaranya.
Bisma tetap tidak menaiki takhta Hastinapura karena kesetiaan akan janji dan
sumpahnya. Ia mengetahui bahwa dari pernikahan sebelumnya Ibu Suri Satyawati
memiliki keturunan bernama Abiyasa.
Ayah Abiyasa adalah
seorang Begawan (guru besar) sehingga Bisma merasa Abiyasa pantas untuk
menurunkan generasi penerus bagi kelanjutan takhta Hastinapura. Abiyasa
akhirnya datang Ke Hastinapura dan menikah dengan janda Prabu Wicitrawirya.
Untuk sementara Abiysa menjadi Raja di Hastinapura bergelar Prabu
Kresnadipayana.
Prabu
Kresnadipayana memiliki tiga orang putra: putra sulungnya dari Dewi Ambika
bernama Pangeran Destarata, pangeran ini buta sejak lahirnya karena saat
melahirkannya Dewi Ambika memejamkan mata. Putra kedua dari Dewi Ambalika
bernama Pangeran Pandu Dewanata, Pandu memiliki wajah dan warna kulit yang
pucat, karena saat melahirkan dia tidak memejamkan mata sedikitpun sehingga
membuat wajahnya pucat. Putra ketiga dari seorang selir yang diberi nama
Pangeran Widura memiliki cacat fisik di kakinya. Bisma mengasuh dan mendidik
mereka bertiga. Dari ketiganya Pandu lebih menonjol karena kepandaiannya dan
kemampuan olah keprajuritan.
Meski berwatak
lembut namun Pandu mempunyai sikap yang tegas yang kelak dibutuhkan sebagai
seorang Raja sehingga setelah tiba waktunya Prabu Kresnadipayana berniat
menjadi resi dan kembali ke padepokan, Pangeran Pandu Dewanata
ditunjuk untuk menggantikan ayahnya sebagai Raja Hastinapura. Meskipun anak
sulung Prabu Kresnadipayana adalah Pangeran Destarata, namun dia tidak bisa
ditunjuk sebagai Raja karena buta.
Setelah menaklukan
negri Gandara, Bisma menikahkan Putri Gandari dengan Destarata. Sebenarnya adik
bungsu Putri Gandari, yang bernama Sengkuni akan dibunuh oleh Bisma. Namun
karena kasihan Sengkuni dibawa ke Hastinapura juga. Sengkuni diajari dan
dididik oleh Bisma sendiri hingga menjadi Ksatria tangguh. Namun dendam akan
kehancuran Gandara membuat Sengkuni kelak menghasut Prabu Suyudana dan 100
Kurawa lain untuk berperang melawan sepupunya Pandawa dan menghancurkan wangsa
Kuru. Setelah tau dipaksa menikah dengan seorang buta, Gandari merobek bajunya
dan menutup matanya dengan kain robekan tersebut. Sejak saat itu mereka menjadi
pasangan Buta
Kunti adalah Putri
kandung Surasena, yang adalah raja Kerajaan Kuntiboja, wangsa Yadawa. Merupakan
saudara Basudewa (ayah Baladewa, Kresna dan Subadra). Pada saat Kunti masih muda, ia diberi sebuah mantra sakti oleh Resi Durwasa agar mampu memanggil Dewa-Dewi sesuai dengan yang dikehendakinya. Pada suatu hari,
Kunti ingin mencoba anugerah tersebut dan memanggil salah satu Dewa, yaitu Surya. Surya yang merasa terpanggil, bertanya kepada
Kunti, apa yang diinginkannya. Namun Kunti menyuruh Sang Dewa untuk kembali ke
kediamannya. Karena Kunti sudah memanggil dewa tersebut agar datang ke bumi
namun tidak menginginkan berkah apapun, Sang Dewa memberikan seorang putra
kepada Kunti. Namun saat itu Kunti masih sangat muda dia menaruh
bayi itu ke keranjang dan menghanyutkannya ke Sungai Gangga. Anak itu akhirnya
ditemukan oleh Kusir istana bernama Adirata dan diberinama Karna. Saat Umur
Kunti sudah cukup Kerajaan Kuntiboja mengadakan sayembara untuk mencarikan
Kunti Jodoh, Hastinapura menang dan Kunti menjadi istri Pandu.
Madrim adalah salah
satu tokoh wanita yang cukup mengambil porsi banyak dalam kisah
mahabarata. Ia adalah puteri nan jelita dari Kerajaan Madra, adik dari
Pangeran Salya. Alkisah, Pandu memenangkan sayembara untuk mendapatkan Kunthi,
anak raja dari kerajaan Kuntiboja. Salya yang juga ingin mengikuti sayembara,
terlambat datang kemudian menantang Pandu perang tanding untuk merebut Kunti.
Madrim, adiknya yang, menjadi taruhanya. Salya yang kalah kemudian menyerahkan
Madri yang menjadi kemudian menjadi istri muda Pandu.
Madrim yang manja
itu, meminta Pandu untuk berburu mencari kijang buatnya. Pandu menyanggupinya.
Ia kemudian berburu dan berhasil memanah sepasang kijang yang sedang
bercengkerama di hutan. Sial, kijang itu ternyata jelmaan pasangan resi sakti.
Sebelum menjemput ajal, kijang itu menampakan wujud aslinya dan mengucapkan
supata atau kutukan.
Bunyinya kurang
lebih begini : “Hai, lelaki yang telah memanahku, rasakan kutukanku. Engkau
akan menemui ajalmu sesaat setelah engkau menikmati olah asmara dengan
istrimu,” ucap resi itu sambil menghembuskan nafas terakhirnya.
Pandu undur diri dari
kehidupan dunia meuju ke hutan bersama Kunti dan Madrim istrinya. Kabar bahwa
Kunti hamil anak Dewa membuat Gandari tidak sabar dan insecure. Ia menghendaki
100 putra.
Bagawan Abiyasa yang
merupakan mertuanya ayah dari Prabu destarata dan Prabu pandu memberkatinya
dengan anugrah yang membut Gandari mampu mendapatkannya. Namun, Gandari tak
kunjung melahirkan anak laki, bahkan setelah usia kehamilannya sudah 2 tahun.
Ketika mendengar kabar mengenai Kunti, Gandari menghantam perutnya sendiri
karena putus asa dan melahirkan sebongkah daging.
Bagawan abiyasa mencacah
bongkahan daging itu menjadi 101 kerat lalu menempatkan masing-masing kerat ke
dalam guci. Didalam guci tersebut cacahan daging itu berkembang menjadi 100
anak lelaki dan 1 anak perempuan.
Gandari melahirkan
bongkahan daging itu 9 bulan sebelum kelahiran Yudistira, namun cacahan dagung
tersebut yang peraman kali menjadi anak itu lahir sehari setelah Yudistira
hadir ke Dunia. Dengan demikian, Suyudana, Suyudana adalah bagian dari
bongkahan daging yang dilahirkan Gandari jauh sebelum yudistira, namun dia
sendiri lahir sehari setelah Yudistira. Pangeran mana yang tertua menjadi
pertanyaan mengisruhkan dan menjadi penyebab Bharatayuda.
Tidak lama setelah Pandawa
lahir, Pandu meninggal dan Madrim ikut membakar diri bersama jasad Pandu
Suyudana saat masih
kecil sering bertengkar dan dibulli dengan Bima. Kurawa (Anak wangsa Kuru) tidak
pernah mau menyebut Pandawa (Anak Pandu) melainkan menyebutnya Kunteya (anak
Kunti). Sedangkan Pandawa sering mengolok Suyudana dengan sebutan Duryudana.
Sebenarnya Suyudana bukan orang jahat dia orang yang tidak suka aturan,
terutama aturan kasta. Bagi Suyudana berteman dengan siapa saja itu boleh dan
kedudukan di Istana itu ditentukan oleh kemampuan bukan Kasta Sedangkan Pandawa
adalah orang yang taat pada aturan. Suyudana bodoh dalam menggunakan senjata
karena dia takut menyakiti karena itulah Guru Dorna tidak menyukainya. Suyudana
lebih suka menulis puisi. Bahkan Suyudana sering membagikan kekayaannya pada
pengemis.
Karena putus asa Bisma
meminta Baladewa untuk mengajari Suyudana memainkan Gada. Dan saat belajar Gada
itu Suyudana bertemu dengan Subadra dan saling mencintai.
Kembali pada Anak
Kunti yang diasuh kusir Adirata, Karna sebenarnya mempunyai kemampuan memanah dia
juga berhasil memanah kaki naga Taksaka saat Istana diserang, karena dia anak
kusir dia tidak dihargai hanya Suyudana yang berterima kasih. Karna akhirnya
bertemu dengan Baladewa dan diajari menjadi Kasta Brahmana dia berguru pada
Parasurama di negri selatan. Parasurama sangat menyayanginya karena dia anak
yang pintar. Namun, dia ketahuan dari kasta Sudra dan diburu oleh Parasurama.
Saat kembali ke
Hastinapura, Ada perhelatan agung di Istana saat hari kelulusan Pandawa dan
Kurawa. Saat ada kompetisi memanah Karna berhasil mengalahkan Arjuna. Suyudana
memberikan gelar padanya Raja Awangga. Seisi Hastinapura menentang karna adalah
kaum Sudra masak dijadikan Raja. Melihat Arjuna dipermalukan Subadra yang
awalnya mencintai Suyudana jadi membencinya dan mencintai Arjuna.
Karna mengikuti
Sayembara yang diadakan negri Drupada untuk mendapatkan Drupadi. Karena dia
dari Kasta Sudra, Drupadi menolak untuk menikah dengannya namun sebenarnya yang
paling dicintai Drupadi adalah Karna. Akhirnya pemenangnya adalah kelima
Pandawa dan jadilah Drupadi istri dari 5 Pandawa.
Setelah menikah
Pandawa mendirikan kerajaan sendiri Indraprasta. Mengetahui Indraprasta
didirikan dengan memperbudak kasta rendah tanpa kenal kasihan dan tidak
memperbolehkan kasta rendah menginjak Indraprasta . Jiwa welas asih Suyudana
meronta dia ingin mengambil alih Indraprasta. Apalagi dipanas-panasin Sengkuni
bertambah marahlah Suyudana. Namun karena di awal sudah dijelaskan Kurawa bodoh
dalam bermain senjata bila dibandingkan Pandawa, Sengkuni menawarkan diri untuk
bermain dadu.
Sengkuni ahli
bermain dadu, apalagi bila dadu yang terbuat dari tulang pahanya ayahnya. Dadu
itu selalu menuruti kata sengkuni. Pandawa kalah dan sebenarnya Pandawa harus
menjadi budak Kurawa. Drupadi saat itu akan dilucuti pakaiannya, namun karena
kesaktian Kresna Pakaian Drupadi tidak ada habisnya. Drupadi bersumpah tidak
akan mencuci rambutnya kecuali dengan Darah Susasana. Saat itu Bisma turun
tangan dan memperingan mengasingkan Pandawa saja selama 12 tahun. Pandawa harus
sembunyi dan tidak boleh sampai bertemu Kurawa. Bila Kurawa menemukan Pandawa
maka masa hukuman akan bertambah hingga 12 tahun lagi.
Saat masa
pengasingan tinggal sedikit Sengkuni memanas-manasi Kurawa untuk mencari
Pandawa. Pandawa berhasil ditemukan oleh Kurawa. Namun Sengkuni dating ke
Pandawa mengatakan bahwa dalam perhitungan matahari masa hukuman masih ada
sehari, namun dalam perhitungan bulan masa hukuman sudah berakhir. Pandawa
mengatakan hal itu pada Kurawa, namun Kurawa tidak mau terima.
Maka duor pecahlah
perang bharatayuda. Dalam perang Bharatayudapun sebenarnya dalam perang
Baratayuda banyak kecurangan yang dilakukan Pandawa, Seperti Bima yang
meng-Gada kaki Suyudana dan meremukkan kedua kaki Suyudana hingga meninggal,
Arjuna yang bersembunyi dibelakang Srikandi agar bisa memanah Bisma (karena Bisma tidak akan menyerang orang yang
tidak bersenjata dan Srikandi tidak bersenjata). Arjuna yang memanah Karna saat
Karna memperbaiki kereta kudanya yang tercebur lumpur dan tidak bersenjata
(dalam aturan perang tidak diperbolehkan menyerang orang yang tidak bersenjata)
Setelah Perang dan
Karna meninggal, Kunti akhirnya buka suara bila Karna adalah anak pertamanya. Destarata
mengajak Kunti dan Gandari untuk masuk ke dalam hutan. Anak-anak Pandawa dengan Drupadi dibunuh Aswatama (anak Guru Dorna) demi membalaskan dendam Suyudana. Aswatama sendiri menjadi gila dan hidup segan matipun tak bisa. Sedangkan Pandawa
mengajak Drupadi untuk moksa di Gunung
Himalaya. Kresna meninggal karena Jara, pengemis yang sangat memuja Kresna
Comments
Post a Comment