Punakawan
Punakawan
adalah penjelmaan dewa yang terdiri atas Semar dan ketiga anaknya, yaitu
Gareng, Petruk, dan Bagong. Dalam cerita pewayangan, kelompok ini dikenal
sebagai penasihat spiritual, teman bercengkrama, dan penghibur di kala susah
yang bertugas mengajak para ksatria asuhannya untuk selalu berbuat kebaikan.
Punakawan berasal dari kata “pana” yang artinya paham, dan kawan yang artinya “teman”. Maksudnya, para punakawan bukan hanya sebagai abdi atau pengikut biasa, tetapi mereka juga memahami apa yang sedang menimpa majikan mereka dan seringkali bertindak sebagai penasihat (pamomong).
Berbanding terbalik dengan para ksatria yang selalu
digambarkan dengan sikap sopan, santun, lemah lembut, dan kaku, punakawan
memiliki sifat humoris dan menghibur sehingga kemunculannya selalu dinantikan
masyarakat, khususnya para penikmat wayang.
Punakawan sendiri terdiri dari 4 tokoh, yaitu Semar, Gareng,
Petruk, dan Bagong. Tokoh ini merupakan perwujudan dari sifat dan watak
manusia. Seperti Semar melambangkan karsa (kehendak atau niat), Gareng
melambangkan cipta (pikiran, rasio, nalar), Petruk melambangkan rasa
(perasaan), dan Bagong yang melambangkan karya (usaha, perilaku, perbuatan).
Dan apabila keempat tokoh tersebut disatukan maka akan menjadi karsa,
cipta, karya, rasa, dan budi pekerti yang disertai karya, atau
daya yang akan menjadi budidaya, atau bersatunya budaya masyarakat yang
dinamakan kebudayaan.
Berikut tokoh punakawan beserta deskripsinya:
- Semar
Mempunyai ciri menonjol yaitu berupa kuncung putih di kepala
yang diartikan sebagai simbol dari pikiran, gagasan yang jernih atau cipta.
Semar digambarkan memiliki badan bulat dan gemuk, payudara besar, pinggul besar seperti perempuan, wajah laki, wajah yang bulat, wajah tua, punya kuncung seperti bayi, mata
berair, mulut tersenyum tangan kanan menunjuk di depan dada, tangan kiri mengepal dibelakang punggung, dan kaki yang pendek, bersarung hitam dan putih.
Semar melambangkan karsa (kehendak) yang luhur, sehingga tidak pernah mau
mengikuti atau mengabdi kepada manusia yang berbuat jahat. Semar hanya mengabdi
pada manusia yang berbudi luhur atau berbuat baik.
Semar ini adalah pelindung para ksatria. Dan sebagai lambang
dualitas manusia. Suka duka karena bibirnya selalu tersenyum tapi matanya
selalu sembab seperti habis menangis.
Rambut seperti bayi tapi wajah seperti orang tua melambangkan tua dan
muda. Wajah seperti laki-laki namun bentuk tubuhnya semok, berpayudara besar,
pinggul besar seperti perempuan yang melambangkan pria dan wanita. Tangan yang satu di menunjuk kedepan yang lain mengepal di belakang. Penjelmaan Dewa
namun hidup sebagai rakyat jelata merupakan lambang atasan dan bawahan
Dalam naskah Purwacarita dikisahkan bahwa setelah Sanghyang Tunggal menikahi Dewi Rekatawati lahirlah lahir sebutir telur yang mampu bersinar terang. Hal ini membuat Sanghyang Tunggal kesal dan membanting telur bercahaya itu menjadi tiga bagian yakni kuning telur, putih telur dan cangkang.
Ajaibnya ketiganya berubah menjadi laki-laki. Cangkang telur menjelma menjadi Antaga, putih telur menjadi ismaya dan bagian kuning telur berubah menjadi Manikmaya.
Suatu hari Manikmaya dan Antaga berselisih untuk menentukan siapa yang lebih tua. Untuk menyelesaikan konflik ini keduanya bertanding menelan gunung. Antaga yang ingin keluar sebagai pemenang segera mencoba menelan gunung secara utuh. Tapi karena gunungnya terlalu besar. Maka robeklah mulut Antaga.
Setelah
itu tibalah giliran Ismaya yang ingin memenangkan perlombaan tersebut. Ia
memakan gunung itu sedikit demi sedikit. Hingga
pada akhirnya seluruh bagian gunung dapat tertelan seutuhnya. Ismaya pun keluar
sebagai pemenang dalam pertandingan tersebut.
Meski dapat keluar sebagai pemenang, tetapi Ismaya mendapat
masalah serius. Gunung yang dia telan tak mampu dimuntahkannya. Karena hal
inilah yang kemudian membuat Antaga dan Ismaya dihukum untuk turun ke bumi. Di
bumi Ismaya ditugaskan untuk membimbing para putra dari golongan ksatria. Sementara
Antaga diberi tugas untuk membimbing mereka yang mengagungkan sifat-sifat
serakah, sombong dan penuh kedengkian.
Dalam pewayangan gagrag Tengah, Semar selalu disertai oleh
ketiga anaknya yakni Gareng, Petruk, dan Bagong.
Sebenarnya tiga sosok ini bukanlah anak kandung Semar yang
sesungguhnya. Gareng merupakan putra seorang pendeta yang kutukannya berhasil
dihilangkan oleh Semar. Kemudian sosok Petruk sebenarnya merupakan putra
seorang raja bangsa Gandharwa yakni Prabu Gandarwarajabali. Dan sosok Bagong
yang secara fisik menyerupai sosok Semar ini dikisahkan diciptakan Sang Hyang
Wenang dari bayangan Semar.
Kemudian dalam kisah pewayangan Sunda, urutan anak-anak
Semar berbeda dengan wayang Jawa. Mereka adalah adalah Cepot Astrajingga,
Dawala, dan Gareng. Sedangkan, dalam pewayangan Jawa Timuran, Semar hanya
memiliki satu anak saja yakni Bagong.
- Gareng
Sosok tokoh punakawan yang bernama Gareng ini memiliki nama lengkap Nala
Gareng. Sosok ini digambarkan memiliki kaki yang pincang. Sehingga ia selalu
berhati-hati dalam berjalan.
Ada beberapa versi mengenai asal-usul Gareng. Sebuah versi
menyebutkan bahwa sosok Gareng pertama kali muncul pada karya sastra Jawa Kuna
berjudul Gatotkacasraya karangan Mpu Panuluh dari era Kerajaan Kediri.
Sementara versi lain menyebutkan bahwa di masa mudanya, Gareng merupakan seorang ksatria tampan yang bernama Bambang Sukodadi. Ia dikisahkan berasal dari padepokan Bluluktiba. Dalam kisah tersebut dituliskan bahwa sosok Gareng memiliki wajah yang sangat tampan dan kesaktian di atas rata-rata. Kesaktian dan ketampanan yang dia miliki inilah yang membuatnya sombong. Pada waktu itu Gareng memiliki kegemaran berkelahi dengan siapapun yang ditemuinya.
Suatu ketika ia bertemu dengan seorang Bambang Panyukilan. Karena ada kesalahpahaman keduanya bertarung hingga babak belur. Ketika kedua wajah ksatria tadi hancur munculah Semar dalam wujud Bathara Ismaya. Kepada dua ksatria tadi Bathara Ismaya memberi pencerahan.
Setelah sadar berkat pencerahan yang diberikan Bathara Ismaya, dua satria ini kemudian mengabdi kepada Semar dan bersama-sama membimbing Pandhawa di jalan kebenaran.
Mempunyai ciri yang menonjol yaitu memiliki yang mata
juling, bertangan cekot, dan berkaki pincang. Penggambaran cacat fisik ini
menyimbolkan sebuah rasa kewaspadaan, rasa ketelitian, dan rasa kehati-hatian. Gareng
memiliki sifat penuh toleransi, suka menolong, dan sifat sepi ing pamrih rame
ing gawe (rajin bekerja dan jauh dari watak aji mumpung). Tangan cekot yang terlihat akan patah
memiliki arti tidak suka mengambil hak orang lain. Komposisi wajahnya yang mata besar, hidung bulat besar, mulut dan bibir lebar dengan garis keatas terkesan seperti tersenyum melambangkan pengetahuan dan dari dirinya lahir kebijaksanaan. Bola mata yang juling mengesankan senantiasa memusatkan perhatian dan banyak berpikir sebelum bertindak.
- Petruk
Dalam jagad pewayangan Jawa, sosok Petruk ini digambarkan sebagai seorang
pangeran dari bangsa Gandarwa.
Di masa mudanya Petruk yang memiliki nama lain memiliki wajah
yang rupawan dan sakti. Hal inilah yang membuat Petruk menjadi sosok yang
sombong dan sering menantang siapa saja bertarung dengannya.
Hingga suatu saat Petruk mendapat lawan yang seimbang. Ia bertemu dengan Bambang Sukodadi dari padepokan Bluluktibo. Keduanya bertarung hingga hancur wajah dan fisiknnya. Beretapan pada saat itu datanglah Semar dalam wujud Bathara Ismaya melerai kedua ksatria yang bertarung tadi. Setelah dilerai Bathara Ismaya memberi banyak wejangan, yang pada akhirnya membuat kedua tadi sadar dan mau diangkat sebagai anak.
Sosok Petruk yang sudah bertobat sering digunakan sebagai ‘alat’ untuk menggambarkan kehidupan wong cilik. Dalam lakon Petruk dadi Ratu merupakan suatu gambaran bahwa seorang yang biasa pun asalkan berusaha sepenuh hati akan menjadikan orang tersebut mampu menduduki jabatan yang tinggi.
Petruk Memiliki ciri fisik yaitu badan besar dan tinggi,
kepala besar, bahu lebar, mata terbuka dan jernih, telinga besar, mulut
tertawa, dada lebar, perut tebal.
Penggambaran fisik yang serba berlebih ini memiliki makna bahwa tokoh ini suka
menolong, dan selalu memberi kasih sayang terhadap sesama.
Mata besar dengan kelopak mata panjang, hidung panjang, mulut lebar dengan bibir melengkng ke atas mengesankan tersenyum. memilik kumis tipis dan panjang, leher badan, tangan, kaki serba panjang. memiliki pikiran panjang (kreatif, cermat dan tidak terburu-buru). Secara keseluruhan Petruk ini mengesankan lucu dan berselera humor tinggi
Petruk yang memiliki bentuk fisik sedemikian rupa berarti
selalu menjaga kebenaran dan kebaikan. Karakternya mengandung nasihat di
baliknya, yakni untuk jangan menilai orang dari rupa atau apa saja yang tampak.
Petruk
selalu menyampaikan kebenaran dengan apa adanya. Ia menyampaikan apa yang
menurutnya benar dan tidak dipengaruhi kekuasaan apapun. Dalam salah satu kisah
diperlihatkan bahwa meski tidak memiliki senjata apapun, Petruk tetap
menyampaikan kebenaran dan kebaikan. Petruk sering dikaitkan dengan
sifat kesempurnaan manusia
- Bagong
Bagong
diciptakan dari bayangan Semar. Saat pertama turun ke bumi, Semar yang bertugas
sebagai penasihat manusia merasa kesepian. Karena itu, ia memohon kepada
ayahnya, Sang Hyang Tunggal, agar diberikan teman. Sang Hyang Tunggal pun
menjadikan bayangan Semar sebagai teman baginya. Itu sebabnya bentuk dan wajah
Bagong mirip dengan Semar.
Bagong memiliki ciri fisik yaitu bentuknya yang bulat, perut
yang buncit, hidung pesek, dan bokong yang besar. Bagong memiliki sifat
kekanak-kanakan, lancang tapi lucu
mata mleleng, mulut dower, badan ngropoh, dan memiliki tangan yang megar.
Penggambaran fisik dari tokoh Bagong, melambangkan bahwa seseorang harus
memiliki hati yang bahagia, hati yang hidup, dinamis, dan optimis. Bagong
ini jarang berbicara, tetapi sekalinya berbicara bisa membuat
orang tertawa. Bagong juga merupakan kritikus tajam bagi tokoh wayang lain yang
tidak bertindak benar.
Tubuh bagong yang mata bulat besar, hidung pesek, bibir tebal dan mulut lebar dengan garis mengarah ke atas. Kumis tipis dan panjang menghiasi bibir atasna. Mata bagong yang besar mencirikan tokoh yang agak bodoh. Bibir dan mulut tebal menandakan banyak bicara
Bagong bukan hanya digambarkan sangat mirip dengan sosok Semar, tapi juga sering ditampilkan memiliki ikatan emosi yang kuat dengan Semar. Bagong akan sangat marah kepada siapapun yang berani merendahkan atau mengolok-olok Semar dengan kata-kata yang tidak pantas. Tidak peduli yang merendahkan ini berasal dari bangsawan kerajaan maupun dewa-dewa di kahyangan sekalipun. Bagong akan tampil sebagai orang pertama yang akan membuat perhitungan dengan mereka.
Meski
Bagong sebenarnya anak pertama Semar, dalam pewayangan Jawa, ia sering dianggap
sebagai anak bungsu. Kesalahan ini terutama disebabkan karena sifat Bagong yang
kekanak-kanakan. Bagong ini sering dikaitkan dengan Inner Child manusia
Comments
Post a Comment