Si Kabayan
Pada suatu hari, ada seorang laki-laki di tanah Pasundan
yang bernama Si Kabayan. Laki-laki ini terkenal sebagai seseorang yang banyak
akal tapi pemalas. Padahal, jika dipikir-pikir, Si Kabayan ini adalah orang
yang cukup pintar. Hanya saja ia lebih senang menggunakan akalnya untuk
mendukung rasa malasnya dan membuat alasan jika ditegur orang akan
kemalasannya.
Si Kabayan
pun juga sudah menikah dengan seorang perempuan bernama Nyi Iteung. Si Kabayan
dan Nyi Iteung tinggal bersama orang tua Nyi Iteung. Mertua Si Kabayan ini
sering kali kesal dengan rasa malas Si Kabayan tapi apa boleh buat? Anaknya
mencintai Si Kabayan, sehingga ia pun juga harus belajar untuk menerima Si
Kabayan.
Lalu pada
suatu hari, Si Kabayan diminta mertuanya untuk mengambil siput-siput yang ada
di sawah. Dengan berat hati, Si Kabayan mengiyakan permintaan mertuanya itu dan
berangkat ke sawah. Namun, sesampainya ia di sawah, ia merasa malas dan hanya
duduk-duduk di sana. Ia tidak mengambil satu siput pun di sana. Saat sang
mertua merasa Si Kabayan sudah pergi dari rumah cukup lama, ia merasa
kebingungan kenapa mantunya ini tidak kembali pulang juga. Sang mertua pun
akhirnya menyusul Si Kabayan ke sawah.
Saat ia
sampai, ia terkejut dan merasa geram karena melihat Si Kabayan hanya duduk
bersantai di sana. “Kabayan! Kenapa kamu hanya duduk di sini? Sana, turun ke
sawah dan ambik siput-siput itu!” Katanya dengan menggunakan nada tinggi karena
merasa amat kesal.
Tentu saja
Si Kabayan enggan mengambil siput dan memberikan alasan pada mertuanya. Menurut
Si Kabayan sawahnya sangat dalam, sehingga ia tidak berani untuk turun. Jika ia
turun, ia merasa dirinya akan tenggelam dan tidak terselamatkan. Karena kesal,
sang mertua pun mendorong tubuh Si Kabayan hingga jatuh ke sawah.
Ternyata,
sawahnya sangat dangkal! Si Kabayan pun hanya tersenyum dan tertawa kecil
dengan wajah merasa tiodak bersalah. Akhirnya, Si Kabayan pun mengambil
siput-siput yang diminta oleh mertuanya juga. Saat hari mulai gelap, mereka
berdua kembali ke rumah bersama-sama.
Keesokan
harinya, mertua Si Kabayan memintanya untuk memetik buah Nangka yang sudah
matang. Tentu saja dengan berat hati Si Kabayan mengiyakan permintaan mertuanya
ini. Pohon Nangka yang dimaksud oleh sang mertua terletak di pinggir sungai dan
batangnya menjorok di atas sungai.
Si Kabayan
merasa ia harus bekerja keras untuk mengambilnya. Saat sampai, ia pun jadi
malas untuk melakukannya. Namun, karena ia sudah berjanji, ia akhirnya memanjat
batang pohon untuk mengambil nanasnya. Saat ia berhasil memetilk satu buah
nangka, buah itu justru jatuh ke sungai. Si Kabayan tidak mengambil buah yang
jatuh itu dengan cepat, ia hanya melihat buah itu hanyut.
Saat Si
Kabayan kembali ke rumah, sang mertua sangat bingung melihat Si Kabayan pulang dengan
tangan kosong. Karena penasaran, ia pun bertanya pada Si Kabayan ke mana
perginya buah-buang nangka yang sudah Si Kabayan petik. “Lho?! Buah nangkanya
belum sampai? Tadi sudah aku minta padahal pada buah itu untuk berjalan duluan
ke rumah. Ternyata, buah nangka itu belum sampai juga, ya,” ucap Si Kabayan
dengan memasang wajah sok kebingungan. Sang mertua pun bingung dengan maksud Si
Kabayan dan memintanya untuk menjelaskan kembali.
“Jadi, tadi
saat aku petik buah nangka itu jatuh ke sungai. Ternyata, buah itu memilih
untuk berjalan sendirian sampai rumah. Lalu, aku biarkan saja, tapi ternyata ia
kesasar dan tidak tahu arah sepertinya,” sang mertua pun geram mendengar alasan
Si Kabayan yang tidak masuk akal itu. Si Kabayan pun dimarahi habis-habisan dan
Si Kabayan hanya tertawa tipis karena menurutnya ucapan ia tadi cukup lucu.
Beberapa
hari setelahnya, sang mertua mengajak Si Kabayan pergi memetic kacang koro di
kebun. Mereka memabawa karung yang besar untuk membawa hasil petikan mereka
kembali ke rumah. Sesampainya di sana, tentu saja Si Kabayan merasa malas
setelah ia memetik beberapa kacang koro, sementara mertuanya masih tetap
memetik. Beberapa jam kemudian, sang mertua usai memetik semua kacang koro. Ia
pun heran karena ia tidak melihat Si Kabayan di sekitar kebun. Sang mertua
berpikir mantunya ini sudah kembali ke rumah untuk tidur siang. Dengan rasa
kesal, ia pun pulang ke rumah sambil membawa karung yang sangat berat.
Saat sampai
rumah, sang mertua sangat terkejut karena ia menemukan Si Kabayan di dalam
karung itu. “Karung ini untuk kacang koro, bukan manusia!” Teriak sang mertua
pada Si Kabayan. Si Kabayan pun terbangun dan keluar dari karung.
Keesokan
harinya, sang mertua kembali mengajak Si Kabayan pergi memetik kacang koro.
Namun, ia masih sangat kesal dengan Si Kabayan karena kejadian kemarin. Sang
mertua pun berpikir untuk membalas dendam. Saat Si Kabayan masih sibuk memetik
kacang koro, sang mertua masuk ke dalam karung dan tidur di sana. Beberapa jam
kemudian, Si Kabayan menyadari bahwa mertuanya tidaka da di kebun. Akhirnya, Si
Kabayan pun memutuskan untuk pulang. Sebelum pulang, ia memeriksa isi karung
itu terlebih dahulu. Ia sangat terkejut karena melihat mertuanya ada di dalam
karung. Si Kabayan tentu saja tidak ingin memikul mertuanya. Ia akhirnya
menyeret karung itu dan mertuanya pun terbangun karena kesakitan.
“Kabayan!
Kabayan! Berhenti! Inia bah!” Teriaknya dari dalam karung. Si Kabayan memasang
wajah sok kaget sambil berkata, “Ini karung untuk kacang koro, bukan manusia!”
Mereka berdua pun kembali ke rumah tanpa berbicara. Sang mertua semakin kesal
dengan Si Kabayan. Di rumah, ia tidak mau berbicara dengan mantunya itu. Si
Kabayan pun menyadari bahwa ia kini sedang dibenci oleh mertuanya. Karena Si
Kabayan lelah dengan perilaku dan kebencian mertuanya, ia berpikir bagaimana
cara agar mertuanya tidak kesal dengannya.
Si kabayan
bertanya pada istrinya, siapa nama mertuanya. Namun, Nyi Iteung tidak mau
memberi tahunya karena adat keluarga Si Kabayan memiliki kepercayaan bahwa
mengetahui nama mertua itu tidak baik dan merupakan pantangan. Namun, Si
Kabayan membujuk istrinya dan berkata bahwa ia ingin tahu nama mertuanya karena
ia ingin mendoakannya. Jika ia tidak tahu nama mertuanya, ia khawatir doanya
akan tersasar dan malah sampai pada orang lain—bukan pada mertuanya. Akhirnya,
istrinya memberi tahu nama ayahnya. Namanya adalah Ki Nolednad.
Setelah Si
Kabayan tahu nama asli mertuanya, ia mencari air enau yang masih mengental. Ia
juga mengambil banyak kapuk. Lalu, ia pergi ke lubuk, tempat di mana mertuanya
biasa mandi. Si Kabayan membasahi seluruh tubuhnya dengan air enau yang kental
dan menempelkan kapuk di sekujur tubuhnya lalu memanjat pohon dan duduk di
dahan pohon seraya menunggu kedatangan mertuanya yang akan mandi.
Ketika
mertuanya datang dan mandi, Si Kabayan berteriak dengan suara yang dibuat
menjadi lebih berat dan memanggil mertuanya dengan nama aslinya, “Nolednad!
Nolednad!” Mertua Si Kabayan kaget mendengar namanya dipanggil. Saat ia melihat
ke atas, ia melihat ada sosok putih yang menyeramkan—padahal sebenarnya itu
adalah Si Kabayan.
“Nolednad,
aku ini Kakek penunggu lubuk ini,” kata Si Kabayan. “Aku peringatkan kepadamu,
Nolednad, engkau harus menyayangi Kabayan karena ia cucu kesayanganku. Jangan
berani-beraninya engkau menyia-nyiakannya. Urus dia baik-baik. Urus sandang dan
pangannya. Jika engkau tidak melakukan pesanku ini, niscaya engkau tidak akan
selamat!” Ucap Si Kabayan. Tentu saja mertuanya sangat terkejut dan ia berjanji
pada dirinya agar ia berbuat lebih baik pada Si Kabayan. Setelah kejadian itu,
sang mertua tidak pernah kesal lagi pada Si Kabayan dan untungnya Si Kabayan
pun menyadari sikapnya yang buruk selama ini.
Akhirnya,
mereka berdua hidup tentram di rumah dan tidak pernag bertengkar lagi.
Comments
Post a Comment