Wayang Golek

 

Wayang Golek

Sejarah Wayang Golek

Wayang Golek merupakan seni pertunjukan teater rakyat yang menggunakan wayang dari kayu. Wayang Golek berkembang pada abad 19 hingga ke abad 20. Nama wayang golek berasal dari kata golek yang mempunyai arti boneka dari kayu. Kesenian ini pertama kali berkembang di daerah pesisir Utara Jawa, yaitu Brebes,Cirebon, dan sekitarnya. Pada awalnya, wayang golek tidak terlalu berkembang. Karena masyarakat sudah lebih suka pada Wayang Kulit yang telah ada lebih dahulu di pulau Jawa. Dalam perkembangannya, wayang golek terbagi menjadi tiga jenis. Pertama, Wayang Cepak atau wayang kepala datar yang menceritakan tentang babad Cirebon dan sejarah Jawa dengan ajaran agama Islam. Kedua, Wayang Golek Purwa yang menceritakan kisah Ramayana dan Mahabharata. Yang terakhir adalah Wayang Golek Modern. Pada saat penampilannya, wayang golek akan dimainkan oleh seorang dalang. Selain sebagai orang yang memainkan wayang, dalang mempunyai peran sebagai memimpin pertunjukan, pembuat alur cerita, serta memberi nasihat dalam kehidupan. Pertunjukan Wayang Golek diberi iringan musik instrumen yang dimainkan oleh para pemusik agar lebih menarik. Alat musik tradisional yang digunakan untuk mengiringi pertunjukan yaitu gendang, gong, gambang, rebab, salendro, dan alat musik tradisional khas Sunda lainnya. Sejak tahun 1920 pertunjukan Wayang Golek juga diiringi oleh penampilan seorang sinden yang akan menyanyikan lagu-lagu khas Sunda.

Wayang golek merupakan suatu pertunjukan gabungan beberapa unsur kesenian, yaitu seni sastra(lalakon),seni karawitan(gamelan),seni suara(sinden), dan seni gerak atau tari(gerak-gerik wayang) yang mejadi pemimpin dalam pertunjukan wayang golek yaitu dalang tugasnya menjalankan cerita. Kemahiran dalang dalam membawakan cerita,memainkan wayang,menyampaikan palasipah atau melawak, umumnya menjadi takaran disukai tidaknya suatu pertunjuksn wayang yang menonton. Oleh karena itu, dalang harus sangat menguasai dalam berbagai bidang. Selain memainkan wayang, dalang juga menggunakan alat-alat lainnya yaitu campala dan kecrek. Campala itu seperti palu yang suka di pukulkan, untuk memantapkan suatu pembicaraan atau peristiwa yang sedang dibawakan. Kecrek digunakan untuk memberikan suasana yang menegangkan, terutama dalam adegan-adegan perang tanding. Selain dalang, nayaga juga memegang peranan penting. Sebab para nayaga juga yang memukul gamelan tersebut. Cerita yang dibawakan oleh dalang, sering di selang-seling oleh sinden, yaitu juru mnyanyi (orang yang suka bernyanyi) yang menyanyikan lagu. Umumnya lagu-lagu yang dinyanyikan oleh sinden selaras dengan peristiwa yang sedang dibawakan, umpamanya dalam peristiwa kesedihan, sinden membawakan lagu-lagu sedih dan sebagainya Ada beberapa jenis Wayang Golek, yaitu Wayang Golek Cepak, Wayang Golek Purwa, dan Wayang Golek Modern. Wayang Golek cepak terkenal di Cirebon dengan kisah babad dan legenda yang menggunakan bahasa Cirebon. Wayang Golek Purwa adalah wayang golek khusus membawakan cerita Mahabharata dan Ramayana dengan bahasa Sunda sebagai pengantarnya. Sementara itu, Wayang Golek Modern seperti wayang purwa yang berceritakan tentang Mahabarata dan Ramayana, dalam pementasannya menggunakan listrik untuk membuat trik-trik atau efek supaya lebih menarik dan terkesan nyata. Pembuatan trik-trik bertujuan untuk menyesuaikan pertunjukan dengan kehidupan modern. Wayang golek modern dirintis oleh R.U. Partasuanda dikembangkan oleh Asep Sunandar pada tahun 1970. Munculnya berbagai macam wayang-wayang jenis baru ini membawa suatu iklim baru di dalam dunia pewayangan. Seni pertunjukan wayang yang sebelumnya hanya dalam lingkup Mahabrata dan Ramayana, kini menjadi semakin beraneka ragam. Contohnya seperti Wayang Pancasila yang menceritakan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Yang menampilkan para pahlawan nasional sebagai tokoh dalam pertunjukan tersebut.

Comments

Popular posts from this blog

4 raja naga

Asal usul Batu Badoang

Ramayana