Cinta Siwa & Parwati

 TERS E S A T DALAM CINTA: PELEBURAN PARWATI DAN SIWA DALAM VIJÑĀNA BHAIRAVA TANTRA


Parwati mencintai Siwa bukan sebagai dewa, bukan sebagai pasangan, melainkan sebagai ketiadaan yang hidup. Cinta itu bermula bukan dari hasrat, tetapi dari tarikan batin yang tak dapat dijelaskan. Semakin ia mendekat, semakin ia kehilangan pijakan. Cinta ini tidak memberi arah, justru mencabut semua arah yang pernah ia kenal.


Pandangan batin Parwati jatuh ke dalam Siwa. Bukan melihat wujud, bukan merasakan kehadiran, melainkan tenggelam ke dalam keheningan yang tak bertepi. Pada saat itu, rasa menjadi terlalu dalam untuk disebut perasaan. Kesadaran menjadi terlalu padat untuk disebut pikiran. Parwati mulai tersesat—bukan tersesat di luar, tetapi tersesat dari pusat dirinya sendiri. “Aku” runtuh perlahan, tanpa perlawanan.


Cinta ini melampaui nalar karena tidak lagi memiliki tujuan. Ia tidak ingin bersatu, tidak ingin memiliki, tidak ingin abadi. Ia hanya mengalir sampai tidak ada lagi yang mengalir. Di titik itu, Parwati tidak mencintai Siwa—ia hilang ke dalam-Nya. Feminin tidak mendekap maskulin; ia larut sebagai ruang yang menerima kehancurannya sendiri.


Namun Siwa tidak tinggal sebagai keheningan yang jauh. Ketika Parwati lenyap di dalam-Nya, Siwa pun turun ke dalam getar Parwati. Kesadaran absolut memasuki rasa, napas, dan denyut kehidupan. Yang diam menyusup ke dalam yang bergerak. Yang tak berbentuk menyala di dalam bentuk. Siwa “tersesat” ke dalam Parwati sebagaimana Parwati tersesat ke dalam Siwa.


Di sinilah Bhairawa Tantra berbicara tentang cinta sebagai jembatan dua arah. Parwati menjadi jalan agar keheningan tidak membeku. Siwa menjadi jalan agar cinta tidak terjatuh menjadi keterikatan. Maskulin dan feminin tidak lagi berdiri berhadapan; mereka saling meniadakan batas. Tidak ada yang memimpin. Tidak ada yang mengikuti. Yang ada hanyalah peleburan.


Secara filosofis, ini adalah kematian dualitas. Shakti tidak lagi energi yang bergerak, Siwa tidak lagi kesadaran yang diam. Gerak menjadi sadar. Diam menjadi hidup. Secara spiritual, ini adalah pembebasan tanpa saksi. Tidak ada yang mengalami moksha. Yang ada hanya lenyapnya pemisahan.


Secara romantis, inilah cinta paling ekstrem: cinta yang berani tersesat, berani hancur, berani tidak kembali. Parwati tidak meminta keselamatan. Siwa tidak menawarkan perlindungan. Mereka saling mencintai sampai tidak ada lagi yang bisa disebut cinta. Yang tersisa hanyalah getaran tunggal—hening dan menyala sekaligus—yang merasakan dirinya sendiri melalui dua nama yang sudah tidak terpisah.

Comments

Popular posts from this blog

4 raja naga

Asal usul Batu Badoang

Ramayana