Mahabarata 4
Balarama berdiri tegak di tepi danau. Kehadirannya mengubah suasana. Ia datang bukan sebagai pihak, melainkan sebagai guru dan penjaga aturan. Seorang hakim yang tidak diundang, memastikan bahwa pertarungan terakhir itu harus berlangsung sesuai kehormatan yang pernah ia ajarkan.
Bayangkan skenario ini: Pahlawan terkuat dari pihak Kurawa, Karna, tiba-tiba membelot ke kubu Pandawa. Kisah epik Mahabharata yang kita kenal pasti akan berubah total, bahkan mungkin Perang Kurukshetra tidak akan pernah terjadi sebrutal itu. Inilah inti dari pertanyaan "Bagaimana jika pilihan Karna berbeda?".
Pilihan yang Mengguncang Dunia
Jauh sebelum perang pecah, Karna, anak tertua Kunti yang dibuang, mendapat dua tawaran besar yang bisa mengubah takdirnya. Pertama, Krishna menawarkan kepadanya posisi sebagai raja dan kakak tertua Pandawa. Kedua, Kunti memohonnya untuk bergabung dengan adik-adik kandungnya. Namun, Karna menolak mentah-mentah. Kenapa? Alasannya bukan karena harta atau tahta, tapi karena kesetiaan. Duryodhana, pemimpin Kurawa, adalah satu-satunya yang menerima dan menghargainya ketika semua orang menghina statusnya sebagai anak kusir. Bagi Karna, utang budi dan janji pada sahabat jauh lebih penting daripada hubungan darah dan tahta.
Skenario 'Andai Karna Berubah Pikiran'
Jika Karna memilih untuk menerima tawaran tersebut, peta kekuatan akan langsung bergeser drastis. Kemenangan Pandawa Hampir Pasti: Dengan bergabungnya Karna, Pandawa akan memiliki enam prajurit super (Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, dan Karna sendiri). Kekuatan gabungan Karna (setara Arjuna) dan Arjuna akan membuat kubu Kurawa langsung ciut dan perang kemungkinan besar akan usai dalam hitungan hari, atau bahkan tidak dimulai sama sekali.
Dampak Pada Keadilan dan Dharma
Pilihan Karna untuk tetap di sisi Kurawa sering dilihat sebagai sebuah pengorbanan agung. Dia rela mengorbankan segalanya tahta, keluarga, bahkan hidupnya demi menjunjung tinggi Mitra-Dharma (dharma persahabatan). Jika dia membelot, perang mungkin akan lebih damai, tetapi kisahnya sebagai pahlawan tragis yang mendahulukan kesetiaan di atas segalanya tidak akan pernah ada. Dunia mungkin mendapatkan kedamaian, tetapi kehilangan salah satu kisah terbesar tentang dilema moral yang paling menyayat hati.
Lalu, jika Perang Kurukshetra batal terjadi, apakah dunia akan benar-benar mencapai kedamaian sejati, atau justru malah terjebak dalam masalah lain karena dharma (kebenaran) tidak ditegakkan dengan cara yang keras?
Data diolah dari berbagai sumber antara lain : Quora, Radhakrishnatemple.net, Northindianpandits.com
---
Karna Pindah Kubu: Perang Mahabharata Batal?
Siapa bilang cinta cuma soal romantis? Kakek legendaris ini rela buang takhta dan janji sehidup semati, semua demi kebahagiaan ayahnya!
Devavrata, Si Pembuat Janji yang 'Ngeri'
Sebelum dikenal sebagai Bhishma Pitamah kakek buyut yang bijaksana ia adalah Pangeran Devavrata. Gelar "Bhishma" (yang berarti mengerikan) didapatnya setelah membuat janji yang sungguh gila, yang disebut Bhishma Pratigya. Janji itu adalah: melepaskan haknya atas takhta Hastinapura dan bersumpah tidak akan pernah menikah atau punya anak seumur hidupnya. Mengapa? Agar ayahnya, Prabu Shantanu, bisa menikahi Satyavati tanpa khawatir akan perebutan takhta di masa depan. Sebagai hadiah atas pengorbanan ekstrem ini, ia diberi anugerah Ichcha Mrityu kekuatan untuk memilih waktu kematiannya sendiri. Sebuah pengorbanan yang menentukan nasib seluruh dinasti.
Gugur di Ranjang Panah: Pendirian Terakhir yang Dramatis
Terikat pada janji baktinya pada takhta Hastinapura, Bhishma terpaksa menjadi panglima tertinggi bagi pihak Kurawa dalam Perang Bharatayuddha, padahal hatinya lebih condong pada Pandawa. Ia menjadi tembok yang tak tertembus selama sepuluh hari. Kunci kejatuhannya justru ia sendiri yang bocorkan: ia tidak akan mengangkat senjata melawan seorang wanita atau seseorang yang pernah menjadi wanita. Momen "Last Stand" Bhishma terjadi ketika Arjuna menggunakan Shikhandi yang dulunya seorang wanita sebagai tameng. Sesuai janji, Bhishma menjatuhkan senjata, dan panah-panah Arjuna pun menancap, membuatnya jatuh di atas ribuan panah yang menusuk (Sharashayya).
Warisan Abadi dari Ranjang Kematian
Alih-alih langsung meninggal, Bhishma menggunakan anugerah Ichcha Mrityu-nya untuk menunda kematian, menunggu datangnya waktu keberuntungan (Uttarayana). Selama terbaring di ranjang panah, ia tidak hanya menunggu, tetapi juga memberikan ceramah terakhir yang sangat penting. Ia memanggil Raja Yudhishthira (Pandawa tertua) dan memberinya pelajaran tentang segala hal: tugas seorang raja (Rajadharma), moralitas (Mokshadharma), dan hukum-hukum kehidupan. Nasihat-nasihat terakhirnya ini menjadi inti dari kebijaksanaan dan kewajiban tertinggi dalam kisah tersebut. Akhirnya, setelah tugasnya selesai dan waktu yang tepat tiba, Bhishma memilih untuk melepaskan jiwanya dengan damai.
Pertanyaannya, apakah janji dan pengorbanan yang begitu besar benar-benar membawanya pada Dharma (kebenaran), atau justru menjebaknya dalam tragedi keluarga yang tak terhindarkan?
---
Janji Gila Bhishma: Buang Takhta Demi Cinta Ayah
TIDAK DISANGKA! Bisakah seorang Dewa paling dihormati tega menipu seorang manusia yang dikenal paling dermawan di dunia? Jawabannya: BISA! Dan ini terjadi pada Karna, pahlawan epik dari kisah Mahabharata yang nasibnya memang selalu apes. Siapa dalangnya? Tentu saja, Dewa Indra!
Siapa Karna dan Apa 'Rahasianya'?
Karna itu sebenarnya putra dewa Surya (Matahari) dan Kunti (ibu para Pandawa). Tapi sejak lahir, ia dibuang dan dibesarkan oleh kusir, makanya ia dipanggil anak kusir. Karna dikenal sebagai ksatria yang super dermawan, saking murah hatinya, dia tidak pernah menolak permintaan siapa pun, apalagi seorang Brahmin (pendeta). Nah, Dewa Surya memberinya hadiah istimewa saat lahir: Kavacha (baju zirah) dan Kundala (anting-anting) yang menyatu dengan tubuhnya. Benda inilah yang bikin Karna jadi invincible, alias tak terkalahkan, karena Kavacha dan Kundala membuatnya kebal dari serangan mematikan.
Kenapa Indra Main Curang?
Di kisah Mahabharata, Karna berpihak pada Korawa, sementara lima Pandawa (termasuk Arjuna) adalah lawan utama. Arjuna adalah anak dari Dewa Indra. Jadi, wajar kalau Indra khawatir. Selama Karna masih pakai Kavacha dan Kundala, nyawa Arjuna tidak akan aman di medan perang. Indra, sebagai ayah, merasa harus melakukan sesuatu untuk melindungi putranya. Jalan satu-satunya? Membuat Karna melepas "baju pelindung"nya. Trik harus dimainkan, karena menghadapi Karna secara gentleman jelas bukan pilihan yang mudah.
Drama Penipuan "Berhasil"
Dengan licik, Dewa Indra menyamar jadi seorang Brahmin tua. Ia mendatangi Karna saat Karna sedang melakukan ritual pagi, waktu terbaik untuk meminta sedekah karena Karna tidak akan pernah menolak. Meskipun Dewa Surya sudah memperingatkan Karna dalam mimpinya, bahkan sebelum bertemu, bahwa ada yang akan mencoba menipu, Karna tetap pada prinsipnya: dia tidak akan menolak permintaan apapun.
Indra, dalam wujud Brahmin, meminta hadiah yang paling berharga: Kavacha dan Kundala yang menempel di tubuh Karna. Dengan hati yang besar (dan sedikit teriris), Karna mencabut zirah dan anting-anting itu dari tubuhnya sendiri, yang menyebabkan darah mengalir deras, dan memberikannya kepada Indra. Indra pun kembali ke wujud aslinya, terkesan dengan kedermawanan Karna. Sebagai hadiah penghiburan, Indra memberinya senjata Vasavi Shakti, sebuah tombak yang hanya bisa digunakan satu kali dan dijamin mematikan targetnya. Namun, harga yang dibayar Karna jauh lebih mahal: ia kehilangan keabadiannya dan perlindungan ilahinya.
Padahal, semua orang tahu, Karna adalah ksatria paling jujur. Apakah tindakan Indra ini bisa disebut pengorbanan suci dari Karna, atau justru 'betrayal' Dewa yang paling epik dalam sejarah?
---
Karna: Kisah Pengorbanan dan Curang Dewa Indra
Benarkah Duryodana Pewaris Takhta Hastinapura? Kisah Mahabharata yang Tidak Hitam-Putih
Banyak orang mengenal Mahabharata secara sederhana: Pandawa itu baik, Kurawa itu jahat, dan Duryodana adalah penjahat utamanya. Tapi jika kisah ini dibaca lebih teliti, ceritanya jauh lebih rumit.
Mahabharata bukan dongeng tentang malaikat melawan iblis. Ia adalah kisah tentang manusia, kekuasaan, dan cara mempertahankan kebenaran.
1. Siapa yang Sebenarnya Paling Berhak atas Takhta?
Secara politik kerajaan, Duryodana punya dasar kuat sebagai pewaris:
Ia adalah putra kandung Raja Dretarastra
Sejak kecil dibesarkan dan dididik sebagai calon raja
Diakui secara resmi di lingkungan istana
Dalam sistem kerajaan kuno, itu sudah cukup untuk disebut sah.
Pandawa memang diakui sebagai putra Pandu, tetapi kelahiran mereka berasal dari anugerah para dewa. Dalam tradisi India kuno, hal ini tetap dianggap sah, bukan secara biologis, melainkan secara dharma—hukum moral dan kosmis yang diyakini masyarakat saat itu.
Masalahnya, dua jenis “kesahan” ini berbeda:
Duryodana sah menurut hukum manusia dan politik
Pandawa sah menurut hukum spiritual (dharma)
Mahabharata lahir dari benturan dua kebenaran ini.
2. Duryodana: Ambisius, Setia, dan Sangat Menyayangi Saudaranya
Duryodana memang keras kepala dan penuh ambisi. Namun ia bukan tokoh tanpa sisi manusiawi.
Salah satu hal yang sering dilupakan:
Duryodana sangat menyayangi seratus saudaranya, para Kurawa.
Ia melihat dirinya bukan sekadar calon raja, tetapi pelindung kehormatan seluruh keluarganya. Banyak keputusannya termasuk yang berujung bencana lahir dari keinginannya menjaga martabat saudara-saudaranya, bukan hanya ambisi pribadi.
Ia juga dikenal sebagai:
Ksatria tangguh, murid Baladewa dalam ilmu gada
Sosok dermawan kepada sekutu dan kaum brahmana
Sahabat yang sangat setia pada Karna
Ketika Karna dihina karena asal-usulnya, Duryodana mengangkatnya menjadi Raja Anga. Di zamannya, ini adalah tindakan berani yang melawan stigma sosial.
Dalam duel terakhir melawan Bima, Duryodana tidak kalah karena tidak mampu. Ia dikalahkan melalui pukulan di bawah pinggang, sesuatu yang melanggar aturan perang ksatria. Ini tidak menjadikannya benar, tetapi menunjukkan bahwa ia bukan penjahat lemah atau pengecut.
3. Pandawa: Pihak Dharma, Tapi Tetap Punya Kesalahan
Pandawa memang mewakili dharma, tetapi mereka bukan manusia sempurna:
Yudistira mempertaruhkan istri dan saudara-saudaranya dalam permainan dadu
Bima beberapa kali melanggar aturan perang
Arjuna sempat ingin mundur karena takut akan akibat perang
Mahabharata justru ingin menunjukkan bahwa bahkan orang yang berada di jalan benar tetap bisa membuat pilihan keliru.
4. Mengapa Duryodana Akhirnya Kalah?
Duryodana tidak kalah hanya karena klaimnya salah. Ia kalah karena cara mempertahankan klaim itu.
Ia menolak perdamaian, membiarkan amarah dan ego memimpin keputusan, serta terlalu yakin bahwa kekuatan dan hak politik saja sudah cukup.
Mahabharata memberi pesan sederhana tapi tajam:
kebenaran yang diperjuangkan tanpa kebijaksanaan bisa berubah menjadi kehancuran.
Penutup: Pelajaran Mahabharata
Mahabharata tidak memaksa pembaca memilih siapa yang sepenuhnya benar. Ia mengajak kita memahami bahwa:
Kebenaran bisa datang dari arah berbeda
Kasih sayang dan kesetiaan pun bisa menjerumuskan
Cara memperjuangkan sesuatu sering lebih penting daripada apa yang diperjuangkan
Itulah sebabnya Mahabharata tetap relevan hingga sekarang.
Catatan Kaki & Rujukan Konseptual
Soal legitimasi takhta
Tafsir mengenai Duryodana sebagai pewaris sah bersumber dari pembacaan politik-monarki dalam Mahabharata, bukan kesimpulan mutlak teks.
Kelahiran Pandawa
Konsep anak melalui anugerah dewa (niyoga dan anugraha) diterima dalam tradisi Hindu kuno sebagai sah secara sosial dan spiritual.
Etika perang (dharma yuddha)
Larangan menyerang di bawah pinggang disebutkan dalam berbagai versi Mahabharata sebagai bagian dari etika ksatria.
Karakter tidak hitam-putih
Banyak sarjana menafsirkan Mahabharata sebagai epos moral kompleks, bukan cerita antagonis-protagonis sederhana.
Perbedaan versi naskah
Mahabharata memiliki banyak versi dan penafsiran (India Utara, India Selatan, adaptasi Jawa dan Nusantara), sehingga artikel ini bersifat interpretatif, bukan klaim tunggal.
Referensi umum:
Terjemahan dan ringkasan Mahabharata, ensiklopedia sejarah, kajian filsafat Hindu, serta literatur populer dan akademik.
Siapa pemanah terhebat dalam Mahabharata? Jawaban paling umum hampir selalu sama: Arjuna. Ia dikenal sebagai Dhanurdhara, ksatria pemanah sempurna, simbol keunggulan Pandawa. Namun jika kisah ini dibaca lebih perlahan, muncul pertanyaan yang lebih mengusik: apakah kehebatan Arjuna murni lahir dari bakat, atau juga hasil dari sistem yang melindunginya?
Di sinilah sosok Ekalavya membuat cerita Mahabharata menjadi jauh lebih kompleks dan relevan.
Arjuna: Keunggulan yang Dilindungi Sistem
Arjuna memang luar biasa, dan teks Mahabharata tidak menyembunyikannya. Namun kehebatannya berdiri di atas fondasi yang sangat kokoh.
Ia adalah murid kesayangan Drona, mendapat pelatihan langsung, intensif, dan eksklusif. Ia juga dianugerahi Gandiva, busur pusaka dengan kekuatan di luar senjata biasa. Ditambah lagi, Arjuna menguasai berbagai astra ilahi, senjata kosmis yang hanya bisa diakses oleh ksatria terpilih.
Dengan kata lain, Arjuna memiliki paket lengkap: bakat, guru terbaik, senjata terbaik, dan akses spiritual. Keunggulannya bukan sekadar personal, tetapi juga struktural. Ia adalah representasi sempurna dari ksatria ideal dalam sistem yang mapan.
Ekalavya: Bakat yang Tumbuh di Luar Sistem
Berbeda jauh dengan Arjuna, Ekalavya berasal dari kaum Nishada, kelompok yang dalam tatanan sosial kala itu dipandang rendah. Ia ditolak Drona bukan karena kurang bakat, melainkan karena status sosialnya.
Namun penolakan itu tidak memadamkan tekadnya. Ekalavya belajar memanah secara mandiri, menjadikan patung tanah liat Drona sebagai simbol guru. Tanpa bimbingan langsung, tanpa senjata pusaka, dan tanpa status ksatria, ia mencapai tingkat keterampilan yang dalam banyak pembacaan modern dipandang setara, bahkan berpotensi melampaui Arjuna pada masa itu.
Yang membuat Ekalavya istimewa bukan hanya kemampuannya, tetapi kemurnian usahanya. Ia adalah contoh ekstrem dari bakat yang tumbuh di luar sistem, hanya ditopang oleh disiplin dan kesetiaan.
Guru Dakshina: Titik Balik yang Problematis
Konflik mencapai puncaknya saat Drona menyadari kemampuan Ekalavya. Demi menepati janjinya untuk menjadikan Arjuna tak tertandingi, Drona menuntut Guru Dakshina yang tidak biasa: ibu jari tangan kanan Ekalavya.
Ekalavya menuruti permintaan itu tanpa ragu.
Secara teknis, pengorbanan ini menghancurkan masa depan Ekalavya sebagai pemanah. Secara simbolis, inilah momen paling getir dalam Mahabharata. Banyak pembaca kontemporer menafsirkan adegan ini bukan sekadar kewajiban murid kepada guru, melainkan cerminan bagaimana sistem mempertahankan hierarki dengan mengorbankan potensi yang lahir di luar lingkaran kekuasaan.
Drona tidak secara eksplisit digambarkan sebagai tokoh jahat, tetapi tindakannya menunjukkan bahwa kesetiaan pada sistem bisa mengalahkan keadilan terhadap individu.
Siapa yang Sebenarnya Unggul?
Jawabannya tergantung pada standar yang digunakan.
Jika keunggulan diukur dari hasil di medan perang, kelengkapan senjata, dan legitimasi sosial, maka Arjuna adalah pemenangnya.
Namun jika keunggulan diukur dari bakat murni, ketekunan, dan pencapaian dalam keterbatasan ekstrem, maka Ekalavya layak disebut pemanah paling berbakat dalam kisah ini.
Tragedi Ekalavya mengingatkan bahwa dalam banyak peradaban bahkan hingga hari ini bakat tidak selalu kalah oleh kemampuan, tetapi oleh akses. Yang kalah bukan yang kurang hebat, melainkan yang tidak dilindungi sistem.
Mahabharata, lewat kisah ini, seolah bertanya kepada pembacanya:
apakah keunggulan sejati lahir dari kerja keras, atau dari posisi yang dijaga oleh struktur sosial?
Sumber rujukan populer:
Wikipedia, Kompasiana, Jawapos (diolah dan disarikan)
EMPAT TOKOH TERKUAT KURAWA: MENGAPA MEREKA KALAH MESKI HAMPIR TAK TERKALAHKAN
Perang Bharatayuddha dalam Mahabharata sering dipahami sebagai kisah heroik: Pandawa mewakili kebaikan, Kurawa melambangkan kejahatan, dan pada akhirnya kebaikan menang. Namun dalam banyak tafsir dan pembacaan kritis, kemenangan Pandawa tidak selalu dipandang sebagai kemenangan yang sepenuhnya bersih. Justru di sanalah Mahabharata menjadi epik yang dewasa karena ia berani menampilkan kemenangan yang lahir dari wilayah abu-abu.
Dalam berbagai versi kisah, Pandawa, dengan bimbingan Kresna, kerap mengambil keputusan yang oleh sebagian pembaca dipandang sebagai pelanggaran aturan perang. Bukan karena kekuatan semata, melainkan melalui strategi yang memanfaatkan sumpah, kelemahan moral, dan situasi psikologis lawan. Dharma tidak selalu ditegakkan secara kaku, tetapi ditafsirkan sesuai konteks dan tujuan.
Bhishma, ksatria agung yang hampir tak terkalahkan, tumbang bukan melalui duel terbuka. Ia terikat sumpah untuk tidak menyerang perempuan. Sumpah ini dimanfaatkan dengan menempatkan Srikandi yang secara sosial ia pandang sebagai perempuan di garis depan. Bhishma memilih menahan diri, dan dalam kondisi itulah Arjuna melancarkan serangan. Secara fisik ia dikalahkan, tetapi secara moral ia telah dilumpuhkan lebih dahulu.
Drona, guru besar para ksatria, juga tidak dijatuhkan lewat adu senjata. Ia dipatahkan secara batin melalui kabar gugurnya putranya, Aswatama. Informasi ini disampaikan secara ambigu, sehingga secara lahiriah tidak sepenuhnya bohong, tetapi cukup untuk menghancurkan semangatnya. Saat Drona menjatuhkan senjata, ia kemudian dibunuh. Dalam banyak tafsir, peristiwa ini dipandang sebagai kemenangan strategi, bukan kemenangan ksatria.
Karna menjadi sosok paling tragis. Dalam duel melawan Arjuna, ia berada dalam kondisi yang sangat tidak menguntungkan: mantranya gagal karena kutukan, dan roda keretanya terperosok ke bumi. Saat Karna turun untuk memperbaiki kereta dan memohon jeda sesuai aturan perang, Arjuna atas dorongan Kresna tetap melepaskan panah. Tindakan ini kerap diperdebatkan, karena melanggar etika perang, namun dibenarkan dengan mengingat kembali sumpah, kutukan, dan peran Karna di masa lalu.
Puncaknya terjadi pada duel gada antara Bhima dan Duryodhana. Aturan melarang serangan ke bawah pinggang, tetapi Bhima menghantam paha Duryodhana bagian yang paling dijaga. Tindakan ini dilakukan dengan alasan sumpah pribadi dan dendam lama, dan lagi-lagi pelanggaran aturan dibenarkan oleh sumpah yang mendahuluinya.
Pola ini berulang: Pandawa jarang menyangkal bahwa tindakan mereka problematis secara dharma. Yang terjadi adalah pemindahan beban moral ke sumpah, masa lalu, atau takdir. Mahabharata tidak menyajikan kemenangan yang bersih, melainkan kemenangan yang harus dibayar dengan kompromi etika.
Justru di situlah keagungan Mahabharata. Ia tidak mengajarkan bahwa yang “benar” selalu menang dengan cara suci, tetapi menunjukkan bahwa dalam konflik besar, bahkan pihak yang dianggap benar pun bisa merasionalisasi pelanggaran ketika tujuan dirasa lebih penting daripada aturan. Pertanyaannya bukan sekadar siapa yang menang, melainkan harga moral apa yang harus dibayar untuk sebuah kemenangan.
Data diolah dari berbagai sumber antara lain : Wikipedia, Kompasiana, dan berbagai diskusi tafsir Mahabharata.
Pernahkah kamu membayangkan rasanya membuang anakmu demi kehormatan, lalu melihatnya mati di tangan adik kandungnya sendiri? Itu adalah kisah nyata paling tragis dari wiracarita Mahabharata, tragedi Dewi Kunti, dan putra sulungnya, Karna.
Kunti, saat masih muda dan belum menikah, pernah mencoba sebuah mantra pemberian seorang Resi, yang tanpa sengaja memanggil Dewa Surya. Dari situ lahirlah Karna. Karena malu dan takut melanggar norma sosial, Kunti terpaksa menghanyutkan bayi Karna di sungai. Keputusan ini, yang diambil demi menjaga kehormatan diri dan keluarga, adalah "sentuhan" awal yang mematikan.
Karna kemudian dibesarkan oleh keluarga kusir, tanpa tahu siapa ibu kandungnya. Ia tumbuh menjadi kesatria hebat, namun selalu dianggap rendah oleh masyarakat karena statusnya. Hanya Duryodana (pihak Kurawa) yang mau menerimanya dan menjadikannya sahabat sejati. Ikatan persahabatan ini membuat Karna berjanji setia mati-matian pada Duryodana.
Menjelang Perang Bharatayuddha, Kunti akhirnya didorong rasa bersalah dan ketakutan melihat Karna akan bertarung melawan adik-adiknya sendiri, para Pandawa, terutama Arjuna. Kunti mendatangi Karna dan mengungkapkan kebenaran yang selama ini ia sembunyikan: "Kamu adalah anakku, kakak tertua Pandawa!". Ini adalah kejujuran yang datang di menit-menit terakhir.
Bagi Karna, pengakuan itu bagaikan pedang bermata dua. Ia terkejut, sedih, dan marah, tetapi ia sudah terikat janji. Di satu sisi, ia memiliki kesempatan untuk hidup bahagia bersama ibu dan adik-adik kandungnya. Di sisi lain, ia berutang segalanya pada Duryodana, yang menerimanya saat tidak ada orang lain. Karna dengan tegas menolak ajakan Kunti. Ia memilih untuk tetap berpihak pada Kurawa dan memenuhi sumpahnya, meski tahu itu berarti menghadapi kematian di tangan adiknya sendiri.
Kisah Kunti dan Karna adalah pengingat pahit. Kunti memang tidak menusuk Karna dengan senjata, tetapi keputusannya membuang Karna dan kejujuran yang terlambat ia sampaikan, adalah penyebab utama kematian sang putra. Penyesalan Kunti setelah Karna tewas di medan perang di tangan Arjuna, adalah hukuman terberatnya: menyaksikan buah hati yang ia buang kini kembali, hanya sebagai jenazah. Kejujuran yang tertunda, alih-alih memperbaiki keadaan, justru mengunci takdir tragis Karna.
Apa keputusan paling fatal yang pernah kamu tunda untuk jujur?
Janji di Tepi Gangga
Beberapa hari sebelum sangkakala perang Bharatayuda ditiupkan di padang Kurukshetra, suasana di Hastinapura terasa mencekik. Misi damai Sri Kresna telah gagal sepenuhnya. Genderang perang mulai disiapkan, dan maut seolah menari di atas langit hastina. Di tengah ketegangan yang memuncak itu, Dewi Kunti melangkah sendirian menuju tepi Sungai Gangga, membawa beban rahasia yang telah ia pendam selama puluhan tahun.
Matahari tepat berada di puncak langit, membakar permukaan sungai dengan cahaya keemasan yang menyilaukan. Di tengah aliran air yang tenang, berdiri seorang pria dengan punggung setegak gunung. Ia adalah Karna. Kedua tangannya terangkat ke langit, melafalkan mantra suci pemujaan kepada Dewa Surya ayah yang memberinya hidup, namun bukan kehidupan yang adil.
Ritual itu dilakukan dengan khusyuk dan tanpa cela. Karna dikenal memiliki sumpah suci: siapa pun yang datang kepadanya setelah pemujaan tengah hari, tidak akan ia tolak permintaannya.
Kunti berdiri di tepian pasir yang panas, menunggu dengan dada berdebar. Ia tahu, inilah satu-satunya kesempatan.
Setelah beberapa saat, Karna menurunkan tangannya dan memutar tubuhnya. Air sungai menetes dari baju zirah emas yang menyatu dengan kulitnya. Tatkala pandangannya bertemu dengan sosok wanita agung di hadapannya, wajahnya tetap tenang dingin, nyaris tanpa gelombang.
“Hormatku, Ratu Kunti,” ucap Karna dengan suara berat dan berwibawa. “Apa yang membawa Ibu dari para Pandawa ke tepi Gangga, tepat di ambang kehancuran dunia? Jika kau datang untuk meminta sedekah setelah pemujaanku, katakanlah.”
Kunti melangkah maju. Air mata mengalir di pipinya yang renta.
“Karna… jangan lagi menyebut dirimu putra kusir. Engkau bukan putra Adirata dan Radha. Engkau adalah putra sulungku, darah dagingku sendiri yang lahir dari anugerah Dewa Surya sebelum aku menjadi istri Pandu.”
Wajah Karna tak menunjukkan keterkejutan. Kepahitan yang telah lama ia pelihara justru membuatnya tampak semakin tegar.
“Aku telah mengetahui kebenaran itu, Ratu Kunti,” jawabnya pelan. “Sri Kresna telah mengungkapkannya. Namun izinkan aku bertanya di mana suaramu saat seluruh dunia menghinaku sebagai Suta? Di mana engkau ketika aku diusir dari arena, dianggap tak layak melawan para pangeran?”
Kunti jatuh berlutut di pasir Gangga, berusaha meraih tangan Karna.
“Aku ketakutan… aku masih muda dan bodoh. Tapi perang akan pecah dalam hitungan hari. Jika engkau bergabung dengan adik-adikmu, takkan ada yang mampu melawan kalian. Engkau akan mendapatkan kembali hakmu nama, darah, dan martabat yang dirampas darimu.”
Karna tersenyum pahit, lalu tertawa pelan. Tawa yang kering dan menyayat.
“Engkau memintaku menukar kesetiaanku demi pengakuan?” katanya. “Saat dunia meludahiku, hanya Duryodhana yang mengulurkan tangan. Ia memberiku martabat ketika ibuku sendiri menghanyutkanku ke sungai dalam keranjang bambu. Kesetiaanku padanya bukan soal takhta, melainkan hutang budi dan hutang itu hanya bisa dibayar dengan nyawa.”
Tangis Kunti pecah. Ia menyadari takdir tidak bisa dibelokkan oleh air mata. Namun Karna menoleh, menatapnya lama. Ia teringat sumpahnya, dan menatap matahari di atas kepala mereka.
“Namun, Ratu Kunti,” ucapnya, kali ini lebih lembut. “Karena engkau datang tepat setelah pemujaanku kepada Surya, aku tidak akan membiarkanmu pulang dengan tangan hampa.”
Karna mengangkat tangan kanannya, bersumpah di bawah terik matahari tengah hari.
“Aku bersumpah, dalam pertempuran Bharatayuda nanti, aku tidak akan mencabut nyawa empat putramu: Yudhistira, Bima, Nakula, dan Sadewa. Meski mereka tak berdaya di hadapanku, aku akan melepaskan mereka. Hanya satu lawan yang akan kuhadapi sampai titik darah penghabisan: Arjuna.”
Kunti menengadah antara lega dan ngeri.
“Dengan begitu,” lanjut Karna dengan senyum getir, “jumlah putramu akan tetap lima. Jika aku gugur, engkau masih memiliki lima putra karena Arjuna hidup. Jika Arjuna gugur, engkau tetap memiliki lima putra karena aku masih ada. Hitunganmu tidak akan berkurang, Ratu Kunti.”
Karna membungkuk, menyentuh kaki Kunti untuk terakhir kalinya sebagai tanda hormat. Setelah itu ia berbalik, melangkah pergi tanpa menoleh.
Kunti berdiri sendirian di pasir Gangga yang panas, menyadari bahwa kemuliaan terbesar justru lahir dari putra yang ia sia-siakan. Takdir Bharatayuda telah terkunci perang saudara paling tragis itu akan tetap pecah, dengan satu janji sunyi yang memastikan empat Pandawa akan selamat berkat kemurahan hati musuh paling setia mereka.
#KarnaKunti #Mahabharata #JanjiGangga #Kurukshetra #KisahWayang
Data diolah dari berbagai sumber antara lain :
Wikipedia, Kompasiana.
---
Ibu yang Membunuh Anaknya Sendiri Tanpa Menyentuhnya
Jangan Kaget: Sengkuni Bukan Sekadar Penjahat Licik, Tapi Korban Trauma Yang Mengerikan!
Kita semua membenci Sengkuni. Pria bermata licik ini adalah dalang kehancuran Dinasti Kuru, si manipulator ulung yang mendorong Duryodhana ke jurang perang saudara. Tapi, tahukah kamu? Di balik senyum jahatnya itu, tersembunyi Pangeran Gandhara yang hancur, yang trauma masa lalunya jauh lebih gelap dari yang kita bayangkan. Sengkuni bukan hanya penjahat; ia adalah hasil kegagalan sistem Kerajaan Kuru sendiri.
Tragedi Berdarah di Penjara Hastinapura
Kisah kelam Sengkuni dimulai setelah kakaknya, Gandari, dinikahkan dengan Raja Dhritarashtra yang buta. Versi mitologi yang paling gelap menyebutkan bahwa Raja Subala, ayah Sengkuni, dan seluruh keluarganya di Gandhara (termasuk ratusan saudara Sengkuni) dijebloskan ke penjara Hastinapura, diperlakukan tidak manusiawi, dan dibiarkan mati kelaparan oleh Bheshma atau perintah Raja Dhritarashtra.
Saat mereka semua sekarat, Raja Subala membuat keputusan yang sangat tragis: tidak semua bisa selamat, tapi satu harus hidup untuk membalas dendam. Subala memilih Sengkuni. Dalam momen paling traumatis dalam hidupnya, Sengkuni diperintahkan oleh ayahnya untuk mengambil dan mengukir tulang-tulang jari (atau tulang kaki) ayahnya sendiri.
Tulang-tulang ini diubah menjadi sepasang dadu yang "hidup" atau dikenal sebagai Sakunika Aksa. Dadu ini bukan hanya alat judi biasa, melainkan simbol fisik dari janji balas dendam abadi. Dadu ini selalu menuruti perintah Sengkuni, membantunya memenangkan permainan judi (yang pada akhirnya menghancurkan Pandawa dan Kurawa) dan berfungsi sebagai pengingat harian akan harga yang harus dibayar oleh Hastinapura.
Psikologi Kegelapan: Dari Korban Menjadi Arsitek Kehancuran
Dari sudut pandang psikologi, Sengkuni adalah studi kasus klasik tentang bagaimana trauma yang tidak terobati dapat melahirkan kehancuran sistemik. Ia menyaksikan keluarganya dihina, dikurung, dan mati kelaparan. Rasa sakit dan kehinaan ini tidak hilang; ia bertransformasi menjadi kebencian murni yang diarahkan pada seluruh Dinasti Kuru.
Sengkuni adalah 'Anti-Hero' yang rusak. Ia menggunakan kecintaannya pada keponakannya, Duryodhana, sebagai instrumen untuk memicu perang. Setiap bisikan hasutan, setiap lemparan dadu, adalah wujud nyata dari dendam yang telah ia janjikan di atas tulang ayahnya. Ia tidak mencari tahta, ia hanya mencari keruntuhan sebuah harga yang setara untuk kehancuran keluarganya.
Jadi, bisakah kita menyalahkan Sengkuni sepenuhnya sebagai penjahat? Atau apakah dia adalah cerminan mengerikan bahwa orang jahat seringkali hanyalah orang tersakiti yang gagal sembuh dari traumanya? Dan jika Sengkuni hanyalah buah dari kegagalan Dinasti Kuru, apakah Hastinapura layak diselamatkan?
Data diolah dari berbagai sumber antara lain : CakNun.com, Suara Merdeka, Kompasiana, dan berbagai kisah Mahabharata versi populer.
---
Sengkuni: Korban Trauma Hastinapura & Rahasia Dadu Maut
Kita semua membenci Sengkuni, dalang kehancuran Dinasti Kuru. Tapi tahukah kamu tragedi mengerikan yang membentuknya?
Di balik senyum jahat Sengkuni, tersembunyi Pangeran Gandhara yang hancur. Seluruh keluarganya, termasuk ratusan saudaranya, dibiarkan mati kelaparan di penjara Hastinapura. Ayahnya membuat keputusan tragis: Sengkuni harus hidup, dan membalas dendam dengan cara yang paling keji.
Sengkuni mengukir tulang jari ayahnya sendiri, mengubahnya menjadi Sakunika Aksa, dadu yang selalu menuruti perintahnya. Dadu itu bukan alat judi biasa, tapi simbol janji dendam abadi terhadap Dinasti Kuru.
Dianggap Sampah Karena Lahir Miskin? Karma Membuktikan: Status Bisa Diremehkan, Skill Tidak Pernah!
Pernahkah kamu merasa diremehkan, bukan karena bodoh, tapi hanya karena kamu "bukan siapa-siapa"?
Inilah kisah pahit Karna dari epos Mahabharata, sebuah cerminan tentang betapa tidak adilnya dunia di awal. Di arena megah Hastinapura, semua mata tertuju pada Arjuna, sang ksatria bangsawan berdarah biru. Lalu muncullah Karna. Keahliannya setara, bahkan mungkin melebihi. Tapi sambutan yang ia terima bukanlah tepuk tangan, melainkan ejekan pedas: "Putra Suta."
Label 'Putra Suta' anak kusir, berstatus rendah seolah menjadi vonis akhir yang mengharamkannya duduk sejajar dengan para ksatria. Bahkan guru besar Drona menolaknya mentah-mentah hanya karena ia bukan dari kasta kesatria. Status sosialnya adalah pagar kawat berduri yang menghalangi mimpinya.
Namun, Karna menolak aturan main itu. Jika status tidak memberinya kursi, maka keahlianlah yang akan memaksa dunia menyediakan singgasana. Ditolak oleh sistem, Karna memilih jalan sunyi. Ia berlatih tanpa henti, dalam penderitaan dan diam-diam, di bawah bimbingan Resi Parasurama. Bagi Karna, setiap anak panah yang ia lepaskan bukanlah sekadar latihan, melainkan bentuk perlawanan terhadap sistem yang berbisik: "Kamu tidak pantas."
Inilah pelajaran paling jujur dari kisah Karna: Dunia memang tidak adil di awal, tapi dunia tidak akan pernah bisa mengabaikan keahlian yang benar-benar kamu kuasai. Kita semua punya "label Suta" masing-masing masa lalu yang buruk, modal minim, ijazah yang diremehkan. Karna mengingatkan, nasib bukanlah garis finis, melainkan medan perang. Dan satu-satunya senjata yang tidak bisa diremehkan siapa pun adalah skill yang diasah sampai kejam.
Sekarang, fokusnya bukan pada Karna. Fokusnya adalah pada kamu.
👉 Skill apa yang sedang kamu asah diam-diam, yang suatu hari nanti akan membuat mereka yang meremehkanmu terdiam?
Data diolah dari berbagai sumber antara lain :
Wikipedia, World History Encyclopedia, The Columnist
---
Kisah Karna: Skill Di Atas Status Sosial
Bayangkan seorang panglima perang yang hampir tidak mungkin dikalahkan. Dia adalah Dronacharya, guru agung yang ilmunya tak tertandingi, yang memimpin pasukan Kurawa. Selama Drona memegang busur panahnya, kemenangan bagi Pandawa hanyalah mimpi di siang bolong. Drona hanya punya satu kelemahan fatal: putra semata wayangnya, Ashwatthama.
Melihat kebuntuan ini, Dewa Krisna, sang ahli strategi, menyusun rencana : menghancurkan semangat Drona dari dalam. Pertama, Pandawa mencari seekor gajah perang yang kebetulan bernama Ashwatthama. Bima segera membunuh gajah itu lalu berteriak lantang di tengah medan perang: “Ashwatthama telah mati!”
Drona tentu saja tidak percaya, apalagi karena teriakan itu berasal dari Bima. Untuk memastikan kebenaran berita yang menghancurkan hatinya, Drona menghampiri Yudhisthira, sang Raja Dharma yang terkenal tidak pernah berbohong seumur hidupnya. Di bawah tekanan Krisna, Yudhisthira melakukan hal yang tak terbayangkan: ia mengucapkan setengah kebenaran yang mematikan.
"Ashwatthama telah mati…" ucap Yudhisthira dengan suara keras. Kemudian, ia berbisik sangat pelan, "...(tapi itu gajah)." Suara kereta perangnya (atau dalam versi lain, terompet yang ditiup Krisna) membuat Drona hanya mendengar bagian awal kalimat. Terpukul telak, Drona yang patah hati langsung menjatuhkan senjatanya. Dalam kondisi tanpa pertahanan itu, Dhrishtadyumna, yang memiliki sumpah lama untuk membalas dendam, langsung memenggal kepala Dronacharya.
Kisah ini bukan sekadar taktik perang biasa, melainkan momen paling kelam dalam epik Mahabharata. Kemenangan Pandawa diraih dengan mengorbankan Dharma, memaksa simbol kebenaran Yudhisthira untuk berbohong (atau setidaknya memanipulasi kebenaran). Hal ini menunjukkan betapa batas moral harus diinjak demi mencapai kemenangan dalam perang besar Bharatayuddha. Pertanyaannya, apakah kemenangan yang didapat dengan cara seperti ini masih bisa disebut kemenangan sejati?
---
Taktik Kotor Krisna: Drona Tewas di Tangan Yudhisthira
Satu-satunya Ksatria yang Tahu Rahasia Formasi Kematian, Tapi Gugur Tragis di Tengah Arena!
Pada hari ke-13 Perang Bharatayuddha, Padang Kurusetra menjadi saksi bisu salah satu momen paling menyayat hati: gugurnya Abimanyu, putra tampan Arjuna dan Subadra. Ia tewas dalam usia sangat muda setelah terjebak sendirian di tengah medan laga. Kematiannya begitu tragis dan dianggap melanggar kode etik ksatria karena ia dikeroyok (atau disebut ranjaban) oleh banyak tokoh Korawa.
Jebakan Formasi Cakrabyuha
Peristiwa ini bermula ketika ksatria utama Pandawa, termasuk Arjuna, berhasil dipancing menjauh dari pertempuran. Di saat genting, hanya Abimanyu yang dianggap mampu menembus formasi perang mematikan milik Resi Drona, yaitu Cakrabyuha, formasi melingkar yang sulit ditembus. Abimanyu memang mengetahui rahasia formasi ini. Tragisnya, ia hanya tahu cara masuk dan tidak tahu cara keluar. Mengapa? Konon, ia tertidur saat masih berada dalam kandungan ibunya, Subadra, ketika Arjuna menjelaskan bagian akhir strategi Cakrabyuha.
Aksi Pengeroyokan yang Mengerikan
Dengan gagah berani, Abimanyu berhasil menerobos jantung formasi, tetapi ia terputus dari bantuan ksatria Pandawa lainnya karena Jayadrata (saudara ipar Korawa) berhasil menahan mereka di luar. Sendirian di tengah lautan musuh, Abimanyu dikeroyok habis-habisan oleh ksatria-ksatria besar Korawa seperti Drona, Karna, Duryodana, dan Sakuni. Mereka melucuti dan menghancurkan kereta serta semua senjatanya. Dalam kondisi tubuh penuh luka panah, ia masih melawan menggunakan roda kereta sebagai perisai, hingga akhirnya ia gugur setelah kepalanya dihancurkan oleh gada dari seorang ksatria muda Korawa.
Dampak dan Garis Keturunan
Kematian Abimanyu yang dianggap sangat tidak adil dan memalukan ini langsung mengubah jalannya perang. Arjuna murka luar biasa dan bersumpah untuk membunuh Jayadrata sebelum matahari terbenam keesokan harinya. Peristiwa ini juga menandai makin brutalnya peperangan dan diabaikannya aturan kehormatan ksatria. Meskipun Abimanyu gugur, garis keturunan Pandawa terselamatkan melalui putranya, Parikesit, yang lahir setelah kematian sang ayah dan kelak menjadi raja agung penerus takhta Hastinapura.
Lantas, bagaimana cara Arjuna menuntaskan sumpah mematikannya itu dalam waktu kurang dari satu hari?
---
Tragis! Abimanyu Gugur Dikeroyok di Cakrabyuha
Senja hari ke-13 Perang Bharatayuddha tiba dengan membawa beban murka yang tak tertanggungkan. Di sisi Pandawa, keheningan yang menyelimuti kemah, kontras dengan gemuruh yang biasanya mengiringi kepulangan ksatria. Arjuna, setelah seharian penuh memusnahkan pasukan Samshaptaka di ujung lain Kurukshetra, kembali bersama Krishna, hatinya sudah diliputi firasat buruk. Kemenangan atas Samshaptaka terasa hambar, karena tak ada suara riuh yang menyambutnya. Krishna, sang kusir agung, tetap membisu, matanya memancarkan kesedihan yang tak terkatakan.
Saat memasuki perkemahan utama, Arjuna melihat wajah-wajah saudaranya yang tertunduk, penuh duka yang dalam. Yudhistira, Bima, Nakula, dan Sadewa duduk mengelilingi sebuah pemandangan yang seketika merobek relung hati Arjuna. Di tengah tanah, dibaringkan di atas tumpukan daun Darbha, terbaring Abimanyu putranya yang gagah, kebanggaan klan Yadu dan Pandawa, kini hanya diam membisu.
Arjuna menjatuhkan busur Gandiwa, yang mengeluarkan bunyi denting keras di tanah. Selama beberapa detik, waktu seolah berhenti. Ia tidak percaya. Ia melihat wajah Abimanyu, yang masih muda, dihiasi noda debu dan darah kering. Lengan dan dadanya penuh luka, tetapi matanya terpejam seolah sedang tidur nyenyak. Namun, Arjuna tahu, ini adalah tidur abadi. Sosok yang kemarin bersinar seperti matahari kini telah menjadi sepotong malam yang dingin.
Arjuna merangkak menuju tubuh putranya, tangannya gemetar saat menyentuh kulit Abimanyu yang dingin. "Anakku... O, pahlawanku," bisiknya, suaranya tercekat. Air mata yang selama ini tertahan, yang tak pernah ia biarkan jatuh di hadapan musuh, kini mengalir deras, membasahi wajahnya yang gagah. Ini bukan hanya rasa sakit karena kehilangan; ini adalah runtuhnya harapan, putusnya janji, dan penyesalan yang membakar karena ia tidak ada di sana untuk melindunginya.
Dari tenda, Subadra muncul, jiwanya telah menjadi serpihan. Ia tidak menangis lagi; ia telah melampaui batas air mata. Ia hanya berdiri mematung, menatap suaminya yang kini berbagi kehancuran yang sama. Di mata Arjuna, Subadra melihat cerminan rasa bersalah yang menusuk, karena putranya gugur saat ia, sang ayah dan guru utamanya, sedang sibuk di tempat lain.
"Katakan padaku, Kakak," suara Arjuna serak, memecah keheningan yang mencekam, ditujukan kepada Yudhistira, "Bagaimana ini bisa terjadi? Abimanyu adalah pewarisku. Dia tahu bagaimana menembus formasi terkuat. Bagaimana ia bisa jatuh?"
Yudhistira, dengan suara yang bergetar menahan kesedihan, menceritakan kengerian hari itu. Ia menjelaskan keberanian Abimanyu saat memasuki Chakravyuha sendirian, menghancurkan barisan demi barisan Kaurawa. Namun, kemudian ia harus menceritakan detail yang pahit: bagaimana Abimanyu, kelelahan dan kehabisan senjata, dikepung oleh enam Maharathi terkuat Drona, Karna, Kripa, Aswatthama, Kretawarman, dan Sengkuni setelah busurnya dihancurkan dari belakang. Dan puncaknya, bagaimana Jayadrata, Raja Sindhu, menggunakan anugerah Siwa untuk menahan keempat Pandawa lainnya, menyegel jalan keluar Abimanyu, memaksanya bertarung hingga tetes darah terakhir tanpa dukungan.
Ketika Yudhistira menyebut nama Jayadrata, mata Arjuna yang sebelumnya dipenuhi kesedihan kini menyala dengan kobaran api. Ia berdiri tegak, menjulang tinggi di atas saudaranya, bayangannya memanjang di bawah cahaya obor yang berkedip. Ia mengerti sekarang. Kematian putranya bukanlah hasil duel ksatria yang terhormat; itu adalah pembantaian yang pengecut, sebuah tindak kejahatan yang dipimpin oleh Drona, namun dipastikan oleh satu orang.
"Jayadrata!" Raungan Arjuna membelah langit Kurukshetra, suaranya mengandung gema Dewa Penghancur. Itu bukan lagi suara seorang ayah yang berduka, melainkan suara ksatria yang jiwanya telah dirasuki amarah. Ia merasakan setiap ujung panah, setiap pukulan gada yang mengenai Abimanyu, seolah-olah menghantam dirinya sendiri.
Ia berbalik, wajahnya kini menjadi topeng murka, matanya memancarkan kilatan petir. Ia meraih busur Gandiwa, memegangnya erat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarahnya begitu besar sehingga tanah di sekitarnya terasa bergetar.
"Dengarkan aku, para dewa dan manusia! Dengarkan aku, wahai bintang dan bulan!" seru Arjuna, suaranya bergema hingga terdengar sampai ke perkemahan Kurawa yang jauh. "Putraku telah dibunuh dengan cara yang paling hina! Darahnya menodai kemuliaan ksatria! Dan hanya ada satu harga yang setimpal untuk itu!"
Arjuna menunjuk ke arah barat, di mana matahari mulai terbenam di cakrawala yang merah darah. "Besok! Besok, pada akhir hari keempat belas perang ini! Aku bersumpah di hadapan api duka ini, di hadapan jasad putraku: Aku akan membunuh Jayadrata, Raja Sindhu, sebelum matahari terbenam!"
Jeda sesaat, di mana angin pun tampaknya menahan napas. Lalu, ia melanjutkan dengan janji yang lebih mengerikan, janji yang membuat Pandawa lain tercengang dan Subadra menangis tertahan. "Jika matahari terbenam esok hari, dan Jayadrata masih hidup, maka aku, Arjuna, putra Indra, ksatria Gandiwa, akan memasuki api unggun dan mengakhiri hidupku sendiri! Aku bersumpah! Demi kebenaran yang aku pegang, dan demi Abimanyu, sumpah ini pasti terjadi!"
Sumpah itu, yang dilontarkan dengan kekuatan spiritual yang luar biasa, menyebar seperti api yang tak terhindarkan. Di perkemahan Kurawa, Jayadrata yang sedang beristirahat mendengar gaung sumpah itu. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia tahu ia telah menandatangani surat kematiannya sendiri.
Sementara itu, di dalam tenda perundingan Kaurawa, Drona mendesah berat. Ia menatap Duryodhana dengan pandangan lelah. "Putra Gandhari," katanya, "Kalian telah membangkitkan singa yang sedang tidur. Sumpah Arjuna, yang didorong oleh kesedihan tak terbatas, adalah sumpah maut. Besok, ia tidak akan berperang sebagai Arjuna yang bijaksana; ia akan berperang sebagai Rudra, Dewa Penghancur. Jika Jayadrata gugur, maka kehancuran kita akan dimulai. Jika Arjuna gagal, ia akan mati, dan perang ini akan berakhir dengan kemenangan kita. Tetapi, jangan pernah meremehkan seorang ayah yang menuntut balas untuk putranya."
Karna, meski merasa iba pada nasib Abimanyu, merasakan ketegangan yang mendebarkan. Sumpah ini memastikan bahwa perang hari esok akan menjadi arena yang tak tertandingi. Namun, bagi Arjuna, sumpah itu bukanlah pilihan, melainkan satu-satunya jalan. Ia akan mendapatkan keadilan untuk putranya, atau ia akan mati dalam prosesnya. Malam itu, di Kurukshetra, bukan keheningan yang berkuasa, melainkan ancaman murka yang siap meledak bersama terbitnya matahari esok hari.
Kematian Abimanyu telah mencabik-cabik kain tipis moralitas yang masih tersisa di Kurukshetra. Jika sebelumnya perang adalah tentang perebutan hak, kini ia telah menjelma menjadi dendam pribadi yang dingin dan mematikan. Malam itu, di tenda Pandawa, udara terasa lebih tebal daripada darah yang mengering di padang rumput.
Subadra, ibu yang kehilangan, meratap dalam pelukan Drupadi dan Srikandi. Ratapannya bukan hanya kesedihan, tetapi juga jeritan murka yang menuntut pertanggungjawaban. Ia memanggil nama putranya, prajurit muda yang seharusnya pulang, bukan terperangkap dalam jebakan tanpa cela. Arjuna, Sang Gandiwa, duduk terpaku di sudut, auranya memancarkan panas yang hampir membakar. Sumpah yang terucap di bawah rembulan itu telah mengikatnya, menjadikannya mesin penghukum yang hanya punya waktu kurang dari sehari untuk menunaikan tugasnya.
Bagi Pandawa, tidur adalah kemewahan yang tidak dapat mereka miliki. Mereka berkumpul di tenda utama, bukan untuk beristirahat, melainkan untuk menyusun strategi yang harus menembus benteng terkuat Kaurawa dalam hitungan jam. Yudhistira, yang biasanya menjunjung tinggi Dharma, kini memandang wajah Kresna dengan tatapan putus asa, "Adikku harus berhasil, Kresna. Jika tidak, bukan hanya kami yang kehilangan, tetapi Dharma itu sendiri akan hancur oleh kegilaan ini."
Kresna mengangguk, matanya yang tenang adalah satu-satunya pelabuhan bagi badai emosi yang melanda Pandawa. Ia memahami bahwa sumpah Arjuna bukanlah bualan. Itu adalah komitmen jiwa yang harus dibayar lunas. Namun, di tengah keputusasaan ini, Kresna membawa secercah harapan yang harus menjaga kewarasan mereka.
“Dengarkan aku, para Pandawa,” ujar Kresna, suaranya pelan namun menusuk. “Meskipun Abimanyu gugur, pengorbanannya tidak sia-sia. Garis keturunan Kuru tidak akan terputus. Istri Abimanyu, Utari, akan melahirkan seorang putra. Sang pewaris yang akan meneruskan klan ini, bahkan setelah badai besar ini mereda.”
Penjelasan Kresna seperti air dingin yang disiramkan pada api yang berkobar. Harapan itu, meski kecil, memberikan fondasi bagi Arjuna untuk berjuang. Ia tidak hanya bertarung untuk balas dendam, tetapi untuk masa depan yang diwakili oleh darah daging putranya yang belum lahir. Kehilangan Abimanyu memang menyakitkan, tetapi janin Parikesit adalah bukti bahwa kemenangan mereka, cepat atau lambat, haruslah datang.
Setelah duka sejenak terangkat oleh janji regenerasi, Kresna segera mengalihkan fokus pada ancaman yang menunggu saat fajar: Jayadrata harus dibunuh sebelum matahari terbenam. Ini adalah tantangan yang nyaris mustahil.
“Jayadrata akan dilindungi oleh seluruh kekuatan Kaurawa,” Kresna menjelaskan, sambil mengamati peta yang digambar di tanah. “Duryodhana tidak bodoh. Dia tahu apa artinya jika Arjuna gagal. Jayadrata akan bersembunyi di inti formasi terdalam, dilindungi oleh Drona, Karna, Kripa, dan Aswatthama. Ini akan menjadi hari perang yang paling brutal, Arjuna, karena kau harus berhadapan dengan setiap jagoan yang ada.”
Arjuna bangkit, mengambil panahnya, Gandiwa. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Keheningannya jauh lebih menakutkan daripada teriakan perang. Di matanya hanya ada api yang membakar citra Jayadrata.
“Kita harus memisahkan Drona dari Jayadrata,” cetus Bima. “Drona adalah dinding yang tak bisa ditembus.”
Kresna menggeleng. “Tidak. Drona akan tetap menjadi penghalang. Tujuan kita bukanlah menghindari Drona, melainkan melewatinya dengan kecepatan yang tak pernah ia duga. Strategi utama kita, Arjuna, adalah membuat Jayadrata merasa aman, sehingga dia terlambat menyadari bahwa matahari telah berada di belakangmu.”
***
Sementara itu, di kubu Kaurawa, suasana bukanlah perayaan, melainkan ketakutan yang merayap. Kemenangan atas Abimanyu terasa hambar, tertutup oleh ancaman sumpah Arjuna. Duryodhana memerintahkan Jayadrata, Raja Sindhu, untuk bersembunyi di jantung formasi *Sakara Vyuha*, enam kilometer di belakang garis depan. Di depan Jayadrata, berdiri tujuh lapisan pelindung, dipimpin oleh Drona sebagai komandan utama.
Drona, meski hatinya berdarah karena peranannya dalam kematian cucu muridnya, terikat pada sumpah dan kewajiban. Ia memanggil Jayadrata.
“Dengar baik-baik, Raja Sindhu,” kata Drona, suaranya berat. “Arjuna akan datang bagaikan badai yang tak terhentikan. Jangan sekali-kali kau keluar dari benteng. Aku, Karna, dan yang lainnya akan menahan serangan di depan. Tahan dirimu hingga mentari tenggelam. Begitu Arjuna melihat matahari terbenam, ia akan menunaikan sumpahnya sendiri, dan kau akan selamat.”
Jayadrata, meski bersembunyi, tak bisa menahan kegelisahan. Ia adalah target utama amarah , dan ia tahu, pertahanan Drona sekalipun mungkin tidak cukup jika Arjuna benar-benar mengamuk.
Karna berdiri agak jauh, menyaksikan persiapan pertahanan yang tergesa-gesa. Ia telah melihat keganasan Abimanyu sebelum kematiannya, dan ia bisa membayangkan sepuluh kali lipat keganasan itu pada diri Arjuna. Karna merasakan kehormatan prajuritnya tercoreng oleh taktik pengepungan yang mereka gunakan pada Abimanyu, dan ia tahu, hari esok, ia akan membayar mahal aib tersebut.
“Besok akan menjadi hari pembantaian,” bisik Karna pada Aswatthama. “Arjuna tidak akan mencari kemenangan, ia akan mencari pembalasan. Dan kita semua adalah targetnya.”
Fajar menyingsing di cakrawala. Mentari yang sama, yang sebentar lagi akan menjadi penentu hidup dan mati Arjuna dan Jayadrata. Di atas bukit, Arjuna mengenakan baju perangnya. Wajahnya keras, tanpa ekspresi. Perang ini bukan lagi perebutan kerajaan. Ini adalah penghakiman. Dan di mata Arjuna, hari itu, keadilan harus berdarah.
Hari keempat belas Perang Kurukshetra tiba, membawa serta beban sumpah yang mematikan. Fajar yang menyingsing di timur tidak membawa kehangatan, melainkan janji darah. Di mata Arjuna, hanya ada satu tujuan: Jayadrata, Raja Sindhu, sang pembawa petaka bagi putra semata wayangnya, Abimanyu.
“Waktunya adalah Matahari,” bisik Arjuna kepada Kresna, saat mereka memacu kereta perangnya menuju garis depan. “Jika senja datang dan ia masih bernapas, aku harus memenuhi sumpahku.”
Kresna mengangguk, sorot matanya tajam dan penuh perhitungan. “Tak ada yang mampu menghalangimu, Partha. Namun, ingatlah: Jayadrata hari ini dilindungi oleh Drona, Karna, dan seluruh prajurit terbaik Korawa. Mereka tahu, jika kau berhasil, semangat mereka akan hancur lebur.”
Perang hari itu adalah sebuah pusaran. Arjuna bergerak seperti badai yang terkurung. Dia tidak menyerang secara strategis; dia menyerang dengan kemarahan murni. Panah-panah yang keluar dari Gandiwa bukan lagi sekadar senjata, melainkan manifestasi dari duka yang tak terobati. Dalam satu hari, ia berhasil menembus barisan Korawa, membelah formasi yang dirancang Dronacharya, seolah-olah seluruh pasukan itu hanyalah dinding kertas yang menghalangi pandangannya terhadap Jayadrata.
Jayadrata, di tengah ketakutan dan perlindungan ketat, berusaha bertahan di jantung pertahanan. Ia tahu kutukan terhadap dirinya hanya bisa dielakkan jika Arjuna bunuh diri. Harapannya satu-satunya adalah sang Surya. Semakin tinggi korban di pihak Korawa, semakin sering Jayadrata melirik ke arah barat, menanti kemenangannya yang dingin.
Sore menjelang. Warna jingga mulai mewarnai langit. Cahaya matahari memudar. Meskipun Arjuna telah berjuang tanpa henti, jarak antara dirinya dan Jayadrata masih terlalu jauh, dihalangi oleh tembok hidup yang terdiri dari Karna, Dushasana, dan sisa-sisa pasukan Trigarta.
Kelelahan mulai membebani bahu Arjuna. Keputusasaan menyeruak di hati Yudhistira dan Bhima. Apakah sumpah itu akan menuntut tumbal lain, setelah Abimanyu? Jayadrata tertawa keras dari kejauhan, sorak-sorai Korawa menggema, merayakan kegagalan sang pemanah ulung.
“Lihatlah, Partha!” seru Duryodhana. “Matahari sebentar lagi tenggelam! Kau akan memenuhi janji yang kau buat, membakar dirimu sendiri! Kematian Abimanyu telah kau bayar dengan kematianmu sendiri!”
Mata Arjuna memancarkan kobaran api keputusasaan. Tangannya, yang memegang Gandiwa, mulai gemetar. Dia menoleh ke belakang, mencari bimbingan Kresna. Wajah Kresna tenang, bibirnya melengkung sedikit, senyuman penuh misteri.
Tiba-tiba, langit berubah. Sebuah kegelapan tebal, tak wajar, menyelimuti medan perang. Ini bukanlah senja alami; ini adalah gerhana yang dibuat oleh kekuatan Yogamaya Kresna. Dunia menjadi gelap gulita dalam sekejap, seolah-olah malam telah tiba mendadak.
Kaurawa bersorak liar. “Berhasil! Sumpah itu terpenuhi! Arjuna harus membakar dirinya!”
Jayadrata, diliputi euforia kemenangan, keluar dari barisan pelindungnya. Rasa aman yang palsu membuatnya sombong. Ia berdiri di atas gundukan tanah, menertawakan Arjuna yang kini terlihat muram dalam kegelapan.
“Di mana sumpahmu, Arjuna?” teriak Jayadrata, tertawa mengejek. “Aku selamat! Sekarang, mari kita lihat bagaimana api membakar tubuhmu!”
Tepat pada saat itu, Kresna menurunkan tirai kegelapan ilusi. Yogamaya ditarik kembali. Matahari, yang sesungguhnya belum terbenam, kembali bersinar dengan terik, memukul wajah Jayadrata yang terkejut dan telanjang dari perlindungan. Jarak Jayadrata dengan Arjuna, yang tadinya dipisahkan oleh kegelapan, kini hanya beberapa ratus langkah.
“Ini adalah waktunya, Partha!” seru Kresna, memacu kereta Darpana ke depan. “Dia di depan matamu! Jangan biarkan panah ini menyentuh tanah!”
Arjuna tidak membuang waktu. Dalam sepersekian detik, ia memahami permainan ilahi Kresna. Dengan konsentrasi penuh dan dendam yang membara, ia menarik busur Gandiwa dan mengucapkan mantra pemanggil untuk panah paling mematikan yang ia miliki: Panah Sakti Pasupati.
Pasupati melesat, bukan seperti panah, melainkan seperti meteor yang mengamuk. Panah itu menghantam leher Jayadrata, memenggal kepalanya dengan kecepatan luar biasa.
Namun, kepala Jayadrata tidak diizinkan jatuh ke tanah Kurukshetra. Kresna telah mengingatkan Arjuna tentang kutukan kuno yang telah diucapkan oleh ayah Jayadrata, Wredaksatra. Wredaksatra adalah seorang pertapa yang hebat, dan ia telah bersumpah bahwa siapa pun yang menyebabkan kepala anaknya jatuh ke bumi akan membuat kepalanya sendiri pecah menjadi serpihan.
Arjuna, mengikuti instruksi Kresna yang menuntun kekuatan Pasupati, memastikan panah itu tidak hanya memenggal, tetapi juga membawa kepala Jayadrata melayang tinggi, melewati ladang perang, dan menempuh jarak yang sangat jauh, menuju lokasi pertapaan ayahnya di Samantapañcaka.
Di Samantapañcaka, Wredaksatra sedang duduk bersila dalam meditasi mendalam, tenggelam dalam keheningan kosmik. Ia tidak mengetahui peperangan di Kurukshetra, tidak mendengar teriakan putranya, dan tidak tahu bahwa kutukan yang ia ucapkan bertahun-tahun lalu kini kembali untuk menagih tumbal.
Dalam keadaan kesurupan, tiba-tiba, sesuatu yang hangat dan berat mendarat tepat di pangkuannya. Itu adalah kepala Jayadrata, yang masih meneteskan darah panas. Meditasinya pecah. Keterkejutan itu begitu hebat, Wredaksatra membuka mata dan melihat wajah pucat putranya, mata yang masih memancarkan kengerian kematian.
Secara naluriah, dan karena terkejut yang luar biasa, Wredaksatra mengayunkan tangannya, menjatuhkan benda yang ada di pangkuannya ke tanah. Kepala Jayadrata menggelinding.
Saat kepala itu menyentuh debu, kutukan kuno seketika menjadi kenyataan. Gema kekuatan spiritual yang dilepaskan Wredaksatra sendiri menabraknya. Seolah disambar petir tanpa suara, kepala Wredaksatra hancur berkeping-keping. Ayah dan anak itu gugur dalam waktu yang hampir bersamaan, menjadi korban keadilan brutal yang dipicu oleh duka seorang ayah lain yang kehilangan putranya.
Di medan Kurukshetra, Arjuna berdiri tegak, kelegaan yang dingin membasuh jiwanya. Langit kembali normal, matahari bersinar penuh. Sumpah telah terpenuhi. Pembalasan untuk Abimanyu telah tuntas, namun harga yang harus dibayar masih sangat mahal. Perang ini, yang dimulai karena nafsu kekuasaan, kini berubah menjadi lingkaran setan pembalasan yang tak akan pernah berakhir.
Senja di hari keempat belas meninggalkan sisa-sisa kengerian yang tak terperikan. Kematian Jayadrata, meskipun menjadi pembalasan atas gugurnya Abimanyu, terasa getir bagi pihak Pandawa. Arjuna terdiam, menyadari betapa tipisnya batas antara pembalasan yang adil dan siasat yang mendekati kecurangan. Namun, refleksi moral itu harus segera dipendam, sebab fajar hari kelima belas Perang Bharatayudha menyingsing dengan awan yang lebih kelam.
Di kubu Korawa, duka bercampur amarah yang memuncak, dan seluruh fokus kebencian tumpah ruah kepada satu sosok: Guru Drona. Bhishma telah gugur, Jayadrata telah tewas, namun sebagai Senapati Agung, Drona kini memanggul beban ganda: tugas untuk melindungi Duryodhana dan dendam pribadi atas cara-cara yang digunakan Pandawa. Drona, sang Brahmana yang mahir memainkan busur, merasakan hatinya terkoyak. ia menyaksikan bagaimana takdir bahkan mampu mempermainkan seorang ksatria yang berjuang dengan gagah seperti Jayadrata.
Kurukshetra, hari keempat belas, akan selalu dikenang bukan karena siapa yang menang, tetapi karena apa yang hilang malam itu. Bukan hanya nyawa para prajurit, melainkan juga batas terakhir yang selama ini menahan perang agar tetap disebut terhormat.
Ketika matahari tenggelam di ufuk barat, seharusnya pertempuran berhenti. Itu adalah kesepakatan tak tertulis yang dihormati oleh para ksatria. Namun hari itu, kesepakatan itu mati bersama Jayadratha. Amarah yang dikunci sepanjang siang hari justru meledak di malam gelap.
Perang tidak berhenti.
Ia berubah bentuk.
Di bawah langit hitam, dengan obor-obor menyala dan cahaya bulan yang tertutup awan, perang malam dimulai. Tidak ada lagi aturan. Tidak ada lagi garis jelas antara keberanian dan kebrutalan.
Malam adalah wilayah Rakshasa.
Dan malam itu, kegelapan memiliki satu nama: Ghatotkacha.
Putra Bima dan Hidimbi itu tidak turun ke medan perang seperti ksatria biasa. Ia melayang di udara, bergerak cepat, sulit ditangkap mata. Energi magisnya memuncak. Senjata biasa tidak lagi berarti.
Ghatotkacha melepaskan Rakshasa Maya ilusi yang membuat kenyataan terasa salah. Langit seolah runtuh menjadi awan hitam. Dari atas, hujan panah api dan darah jatuh membakar barisan Kurawa. Batu-batu besar dilemparkan dari ketinggian, menghancurkan kereta perang, mematahkan gading gajah, dan menimbun prajurit hidup-hidup.
Di tengah kekacauan itu, muncul bayangan-bayangan mengerikan.
Yaksha (dalam versi Jawa dikenal sebagai raksasa hutan atau penunggu alas) dan Pisaca (dikenal sebagai memedi, makhluk malam yang mengacaukan pikiran) berteriak, bergerak, dan mendekat dari segala arah. Mereka bukan makhluk nyata, melainkan ilusi yang menyerang mental. Prajurit Kurawa mulai panik, salah menyerang, bahkan menusuk kawan sendiri.
Formasi runtuh. Ketertiban lenyap.
Ribuan prajurit memilih lari ke hutan. Bagi mereka, kegelapan alam terasa lebih jujur daripada ketakutan yang diciptakan pikiran mereka sendiri.
Di tengah medan yang hancur itu, Duryodhana berdiri di keretanya, bahunya terluka. Matanya menyaksikan sesuatu yang lebih menyakitkan dari luka fisik: pasukannya hancur secara mental.
“Lihatlah, Karna!” teriaknya dengan suara parau. “Mereka tidak takut mati. Mereka takut padanya! Jika Rakshasa itu tidak mati malam ini, Kurawa tidak akan bertahan sampai pagi!”
Semua mata tertuju pada satu orang.
Karna.
Pahlawan Angga itu maju ke medan perang. Ia melepaskan satu demi satu senjata sakti. Ledakan cahaya menerangi malam, tetapi semuanya hanya menghantam bayangan palsu. Ilusi Ghatotkacha menelan kekuatan serangan itu begitu saja.
Sebuah batu besar menghantam kereta Karna. Kendaraannya hancur. Ia terjatuh dan terpaksa bertarung dari tanah, dikelilingi bayangan, suara jeritan, dan rasa lelah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Teriakan prajurit Kurawa terdengar putus asa.
“Gunakan senjata itu, wahai Karna!”
Karna terdiam.
Ia tahu senjata yang mereka maksud.
Vasavi Shakti, tombak sakti pemberian Dewa Indra dalam tradisi Jawa dikenal sebagai Kunta Wijayadanu. Senjata sekali pakai. Setelah dilepaskan, ia akan kembali ke Indra. Karna menyimpannya untuk satu tujuan: membunuh Arjuna.
Namun malam ini, jika Ghatotkacha dibiarkan hidup, tidak akan ada perang esok hari. Tidak akan ada Arjuna untuk dihadapi. Tidak akan ada Kurawa yang tersisa.
Dengan hati yang terasa berat, Karna membuat pilihan yang akan mengubah arah perang. Ia mengangkat Vasavi Shakti. Cahaya terang menyapu medan perang, menghapus seluruh ilusi. Langit kembali nyata. Ghatotkacha kini terlihat jelas.
Tombak itu melesat lurus dan cepat.
Menembus dada Ghatotkacha.
Tanpa perlawanan.
Nyawanya berhenti seketika. Vasavi Shakti melesat kembali ke langit, meninggalkan Karna berdiri tanpa senjata pamungkas.
Namun Ghatotkacha belum selesai. Dengan sisa tenaga terakhir, ia memperbesar tubuhnya menjadi raksasa. Tubuh tanpa nyawa itu jatuh menghantam bumi dengan dentuman yang mengguncang tanah. Satu kesatuan besar pasukan Kurawa hancur tertimpa jasadnya.
Dalam kematian, Ghatotkacha tetap membawa kehancuran.
Di kubu Pandawa, keheningan menyelimuti segalanya.
Bima berteriak pilu, suara seorang ayah yang kehilangan anak.
Yudhistira terduduk lemas, menunduk dalam duka.
Di atas kereta Arjuna, Sri Kresna berdiri tenang. Ia memandang medan perang yang kini sunyi, seolah menghitung akibat dari setiap keputusan yang baru saja terjadi.
“Partha,” katanya pelan, “selama Karna menyimpan Vasavi Shakti, hidupmu berada di ujung maut. Malam ini, Ghatotkacha telah menukar nyawanya dengan nyawamu. Senjata itu telah kembali ke Indra. Karna kini tidak lagi memiliki senjata yang perlu ditakutkan, Dia seperti ksatria biasa.”
Arjuna terdiam.
Dukanya tidak hilang.
Tetapi ia mulai memahami harga kemenangan.
Malam itu, Kurukshetra menyaksikan satu kebenaran pahit:
perang tidak selalu dimenangkan oleh yang paling kuat, tetapi oleh yang paling rela kehilangan.
Kemarahan Drona adalah manifestasi dari kesedihan seorang guru yang merasa dikhianati oleh moralitas perang itu sendiri. Ia menaiki keretanya, wajahnya yang biasanya teduh kini dibakar oleh api murka yang dingin. Di hadapan Duryodhana, ia bersumpah, bukan hanya untuk mengalahkan Pandawa, tetapi untuk menghancurkan mereka. “Hari ini, Raja,” ucap Drona, suaranya parau namun penuh ancaman, “Aku akan pastikan Pandawa tidak lagi memiliki tempat berpijak di Kurusetra. Jika mereka menggunakan kecurangan, aku akan menggunakan seluruh kekuatan langit yang dianugerahkan kepadaku!”
Tak lama setelah sangkakala perang dibunyikan, Drona membuktikan sumpahnya. Ia menjadi badai yang bergerak. Di usia senjanya, energi Drona justru seolah berlipat ganda, didorong oleh semangat purifikasi yang salah arah. Ia tidak lagi bertarung sebagai seorang guru, tetapi sebagai penghukum yang diutus dewa kematian.
Di sektor pertahanannya, Drona menembakkan panah-panah tanpa henti, menciptakan badai metal yang menyapu bersih formasi prajurit Pandawa. Panah-panah biasa yang dilepaskannya memiliki kecepatan dan akurasi setara peluru kendali; setiap tarikan busurnya berarti nyawa seratus prajurit. Namun, ketika para ksatria utama Pandawa mulai maju untuk menghadangnya, Drona mulai menggunakan senjata-senjata pusaka (Astra) yang diwarisinya dari Dewa.
Bima, dengan gada yang menghancurkan, mencoba menerobos. Ia berhasil membunuh puluhan gajah dan menghancurkan kereta musuh, namun ketika ia mencapai jarak seratus meter dari Drona, sang guru menembakkan *Vayavya Astra*. Angin puyuh dahsyat meledak, bukan hanya menyapu Bima dan pasukannya hingga mundur ratusan langkah, tetapi juga membuat ribuan prajurit Pandawa terlempar ke udara, tulang-tulang mereka patah sebelum menyentuh tanah. Efeknya instan dan massal.
Arjuna, yang menjadi fokus utama kebencian Drona, bergerak dengan cepat, berusaha melawan ayahnya. Ia melepaskan panah-panah yang setara dengan panah Dewa Angin, tetapi Drona, dengan senyum tipis di wajahnya yang keras, membalasnya dengan serangkaian panah tajam yang membatalkan semua serangan Arjuna. Drona adalah satu-satunya di Kurusetra yang menguasai ilmu memanah setara bahkan melebihi Arjuna. Ia memanah tali busur Arjuna hingga putus, memukul mahkota Arjuna hingga miring, dan melesakkan anak panah tepat di pangkal leher keretanya semua itu dilakukan tanpa niat membunuh, melainkan untuk mempermalukan dan menunjukkan batas keahlian sang murid.
“Kau lupa, Arjuna,” teriak Drona di tengah hiruk pikuk, suaranya terdengar jelas seolah ada di telinga Arjuna, “Siapa yang mengajarkanmu membedakan target yang bergerak? Selama aku memegang busur ini, kau hanyalah seorang anak yang memegang mainan!”
Kepercayaan diri Arjuna luntur. Ia tidak dapat menembus pertahanan Drona. Setiap kali Pandawa mencoba melakukan manuver mengepung, Drona akan menggunakan Astra baru. Ketika Nakula dan Sadewa bergerak di sayap, Drona melepaskan *Agneyastra*, senjata api dewata. Area seluas satu kilometer persegi langsung dilalap api suci, membakar kereta, senjata, dan prajurit hingga menjadi abu dalam hitungan detik. Teriakan pilu menggema, namun Drona tak bergeming.
Situasi menjadi semakin mengerikan saat Drona, dalam luapan amarahnya, bersumpah untuk menangkap Yudhistira hidup-hidup. Ia bergerak secepat kilat, memporak-porandakan barisan keamanan Pandawa. Para prajurit yang ditugaskan melindungi Yudhistira lari tunggang langgang. Mereka tidak menghadapi seorang ksatria, tetapi entitas penghancur yang tak terhentikan.
Sri Kresna, yang mengamati dari kereta Arjuna, mulai merasakan keputusasaan. Ia tahu, Drona adalah seorang *chiranjivi* (abadi) dalam pertempuran selama ia memegang senjata, karena ia dilindungi oleh kemurnian sumpahnya dan pengetahuan Brahmastra yang tak tertandingi. Tidak ada kekuatan fisik di dunia ini yang mampu melukai Drona selagi busur dan panahnya masih di genggamannya. Ia adalah tembok besi yang tidak bisa ditembus. Ribuan prajurit Pandawa telah tewas, dan Kurusetra telah menjadi kuburan massal di hari itu.
Kresna menyadari bahwa pertempuran ini tidak bisa dimenangkan dengan cara ksatria murni. Drona telah mengabaikan *dharma* sebagai guru dan kini sepenuhnya menjadi pelayan *karma* Duryodhana. Untuk mengalahkan kekuatan Astras Drona, Pandawa harus menyerang sumber kekuatannya, yaitu semangat dan jiwanya. Ia harus dipaksa menjatuhkan senjatanya.
“Wahai Partha,” bisik Kresna, matanya menatap tajam ke arah sosok Drona yang tak henti membantai, “Kita sedang menghadapi pilihan terberat dalam sejarah perang ini. Jika kita membiarkannya bertarung lebih lama, seluruh pasukan kita akan musnah sebelum matahari terbenam. Untuk menghentikan kehancuran ini, kita harus menggunakan senjata yang bahkan lebih kuat dari Astra miliknya: Kebenaran yang tercampur racun kebohongan. Dharma harus dipelintir demi menyelamatkan Dharma itu sendiri.”
Keputusan itu, meskipun pahit, adalah satu-satunya jalan keluar. Di tengah debu perang dan darah yang mengalir, saat Guru Drona berdiri tegak lurus sebagai pengejawantahan amukan Dewa, Pandawa menyadari bahwa untuk menghentikan sang Guru Agung, mereka harus melakukan pengorbanan moral yang akan menghantui mereka seumur hidup. Nasib Pandawa kini bergantung pada satu kebohongan yang direncanakan oleh Sri Kresna.
Pagi itu, Kurusetra tidak lagi tampak seperti medan perang, melainkan seperti tempat pembantaian. Guru Drona, yang kini mengendarai kereta berlapis baja dan memegang busur yang seolah terbuat dari petir, bergerak melintasi formasi Pandawa bagaikan Dewa Kematian yang tak terhentikan. Anak panahnya tidak hanya menembus perisai; anak panahnya menembus keberanian. Setiap prajurit yang jatuh adalah korban dari amarah yang telah tertahan selama puluhan tahun, amarah seorang Brahmana yang merasa diinjak-injak oleh takdir.
Sri Kresna berdiri di belakang kemudi kereta Arjuna, matanya yang tajam mengamati kehancuran itu. Ia tahu, melawan Drona dalam kondisi seperti ini adalah bunuh diri. Drona telah mencapai keadaan yang disebut ‘Aghora’ kekebalan yang diperoleh dari pelepasan diri sepenuhnya terhadap konsekuensi duniawi, kecuali satu.
“Drona tidak bisa dikalahkan dengan kekuatan fisik, Arjuna,” bisik Kresna, suaranya tenang namun penuh wibawa. “Dia telah melepaskan dirinya dari Dharma, melepaskan ikatan keduniawian, dan oleh karena itu, ia tak tersentuh. Panahmu akan memantul dari semangatnya.”
Arjuna menoleh, wajahnya penuh keringat dan keputusasaan. “Lalu bagaimana, Madhava? Apakah kita hanya akan menyaksikan kehancuran ini? Bahkan Bima pun kesulitan menahan gelombang pasukannya.”
Kresna mengangguk pelan. “Untuk mengalahkan Brahmana yang telah melepaskan segalanya, kita harus menyerang satu-satunya hal yang masih ia genggam. Satu-satunya celah di dalam perisai spiritualnya.”
Celah itu, Kresna tahu, bukanlah harta, bukan kedudukan, dan bukan pula janji lama kepada Duryodhana. Celah itu adalah cinta seorang ayah. Cinta Guru Drona kepada putranya, Aswatama. Seorang anak yang ia harapkan mendapatkan segala kemuliaan yang tak pernah ia raih.
“Semua ikatan Guru Drona telah terputus,” ujar Kresna, sorot matanya kini fokus pada titik kelemahan musuh. “Kecuali satu, ikatan pada darahnya sendiri. Kekuatan Drona kini bersumber dari keyakinan bahwa ia harus menang demi masa depan Aswatama. Jika keyakinan itu runtuh, ia akan ambruk.”
Kresna kemudian memaparkan rencananya, sebuah rencana yang akan meninggalkan noda abadi pada bendera Pandawa. Rencana itu adalah menyebarkan kebohongan, menyuntikkan racun keraguan yang fatal ke dalam hati Drona. Mereka harus mengumumkan bahwa Aswatama, putra tunggal Drona, telah gugur.
“Tapi bagaimana mungkin?” tanya Yudhistira, yang berdiri agak jauh, wajahnya pucat. Keputusan untuk mendukung rencana kebohongan sudah disepakati, namun realisasi pelaksanaannya menusuknya seperti belati dingin. “Aswatama masih bertarung di garis belakang, Madhava.”
“Kita tidak perlu membunuh putra Drona yang sebenarnya,” jawab Kresna. “Kita hanya perlu membunuh namanya. Dan kita beruntung.”
Kresna menunjuk ke kejauhan, di sektor barat daya medan perang, tempat panji Raja Indravarman dari Malwa sedang terombang-ambing. Di bawah panji itu, seekor gajah perang besar yang terkenal karena keganasannya, sedang memporak-porandakan sekelompok infantri Pandawa. Nama gajah perang itu, Kresna tersenyum pahit, adalah ‘Aswatama’.
“Bima,” panggil Kresna dengan lantang. “Tugas ini hanya bisa dilakukan olehmu. Kekuatanmu dibutuhkan untuk dua hal: mengakhiri makhluk itu, dan menyuarakan pengumuman itu ke seluruh Kurusetra.”
Bima, yang selama ini menahan diri dari kebrutalan total karena rasa hormatnya kepada sang Guru, kini melihat api di mata Kresna. Ia mengangguk. Jika ini adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Dharma, meskipun melalui jalan Adharma, ia akan melakukannya. Ia maju dengan langkah raksasa, mengayunkan gada besinya yang berlumuran darah.
Dalam waktu singkat, Bima menerobos garis depan infantri dan mencapai gajah perang bernama Aswatama itu. Gajah itu meraung, mencoba menginjak Bima, tetapi kekuatan Bima sebanding dengan seratus gajah. Dengan sekali ayunan gada yang menghancurkan tulang, Bima menghantam kepala gajah itu. Bunyi retakan yang mengerikan itu tenggelam oleh teriakan kesakitan gajah, yang langsung roboh ke tanah, lumpuh dan mati.
Lalu, Bima melakukan bagian kedua dari rencananya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan semua kekuatan yang ia miliki kekuatan yang biasa ia gunakan untuk menantang badai dan mengoyak singa. Ia membiarkan suaranya menembus hiruk pikuk pertempuran, menembus gendang telinga ribuan prajurit di kedua belah pihak. Suaranya adalah palu yang menghantam Kurusetra.
“ASWATAMA MATI!”
Teriakan itu bergema, melayang di atas debu dan asap. Ini bukan sekadar pengumuman; ini adalah proklamasi. Suara Bima yang dikenal seluruh dunia suara yang tidak pernah berbohong, suara yang penuh amarah dan kejujuran kini menyebarkan racun paling mematikan. Prajurit Pandawa terkejut, prajurit Korawa panik. Mereka saling pandang, bertanya-tanya apakah itu benar. Mereka mengenal Aswatama sebagai ksatria muda yang tak terkalahkan. Bagaimana mungkin ia jatuh begitu cepat?
Kabar itu merambat cepat, dari mulut ke mulut, dari barisan pemanah hingga pasukan kavaleri. Akhirnya, kabar itu mencapai jantung badai, tempat Guru Drona sedang melancarkan serangan yang mematikan. Ia baru saja menjatuhkan sepuluh kereta dalam rentang waktu semenit, aura panasnya membakar segala yang mendekat.
Saat kabar itu sampai, Drona seolah-olah ditusuk oleh ribuan jarum es. Tangannya yang memegang busur tiba-tiba bergetar. Panah yang siap dilepaskan berhenti di udara. Kepalanya yang mendongak, dipenuhi amarah Dewa, kini tertunduk, dihinggapi keraguan manusiawi yang paling mendasar.
“Dusta,” gumam Drona, lebih kepada dirinya sendiri. “Itu pasti dusta. Aswatama tak terkalahkan!”
Namun, teriakan itu diucapkan oleh Bima. Bima, yang dikenal karena kejujuran brutalnya. Keraguan itu, meskipun kecil, cukup untuk memperlambat Drona. Kekuatan yang tadi tak terbatas kini terbagi dua: antara tugasnya sebagai panglima perang dan ketakutannya sebagai seorang ayah.
Ia berhenti bertarung. Semua ksatria di sekitarnya, baik Pandawa maupun Korawa, terkejut melihat Guru Agung mendadak diam, bagaikan patung di tengah badai. Drona menjatuhkan panahnya, lalu mengarahkan keretanya menuju satu-satunya orang yang ia yakini tidak akan pernah berbohong, bahkan demi kemenangan. Ia menuju ke arah Raja Yudhistira, Raja Dharma.
“Yudhistira!” raung Drona, suaranya dipenuhi campuran harapan dan teror. “Kau adalah Raja Dharma. Kau adalah standar kebenaran di medan ini. Katakan padaku, anakku. Apakah Aswatama benar-benar mati?”
Ribuan pasang mata menoleh ke arah Yudhistira. Kresna telah memperingatkannya: seluruh nasib Pandawa bergantung pada ucapannya saat ini. Jika Yudhistira berbohong sepenuhnya, ia akan kehilangan semua kekuatan moralnya. Jika ia mengatakan kebenaran, Drona akan kembali mengamuk dan menghabisi mereka. Mereka telah mencapai tepi jurang moral, dan tidak ada jalan kembali.
Yudhistira menatap mata gurunya, mata yang memohon kepastian, mata yang dipenuhi cinta yang berlebihan. Yudhistira melihat bayangan dirinya sendiri, seorang Raja yang kini dipaksa mencemari jiwanya demi kelangsungan hidup. Ia mengangkat suaranya, memanggil Kresna untuk memberinya kekuatan.
Saat Yudhistira mulai berbicara, Kresna segera meniup terompetnya, cangkang kerang Panchajanya, dengan suara yang memekakkan telinga. Suara terompet itu keras, tajam, dan disengaja. Tujuannya adalah memastikan bahwa bagian kedua dari kalimat Yudhistira akan hilang di telinga Drona.
Yudhistira mengucapkan kata-kata itu dengan suara yang gemetar, setiap suku kata terasa seperti bara api di lidahnya:
“Aswatama telah mati......”
Namun, saat ia melanjutkan dengan kata-kata kunci yang akan menyelamatkan jiwanya dari kebohongan total, “… apakah manusia ataukah gajah...” suara Panchajanya yang nyaring menelan kalimat terakhir itu. Drona hanya mendengar bagian awal yang mematikan.
Di telinga Guru Agung, hanya ada satu pesan yang bergema, mengalahkan semua suara perang lainnya: Aswatama mati. Kebenaran yang dicampur dengan kebohongan, disampaikan oleh Raja Dharma, telah menembus pertahanan Drona. Busurnya terlepas dari genggamannya, semangatnya runtuh, dan ia memilih untuk menutup mata, tenggelam dalam duka yang mendalam, memberikan kesempatan bagi Pandawa untuk melancarkan serangan terakhir.
Pandawa telah menang, namun dengan biaya moral yang tak terbayarkan. Yudhistira merasakan dirinya jatuh ke dalam lubang kesunyian yang dingin, dan ia tahu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia telah berkhianat terhadap Dharma.
Yudhistira berdiri di tengah lautan mayat dan debu Kurukshetra, dinginnya kesunyian yang mencekik menjalar di sekujur tubuhnya. Kemenangan yang baru saja diraih Pandawa terasa pahit; ia telah membiarkan Bima menyampaikan kabar yang ambigu, membuka celah bagi *Adharma* memasuki hatinya. Ia tahu, kebenalan yang ia sembunyikan akan menuntut harga yang tak ternilai.
Drona, Sang Guru Agung, masih memegang busurnya, meskipun tatapannya kosong, dipenuhi rasa duka. Ia telah mendengar desas-desus mengerikan yang diteriakkan oleh Bima mengenai kematian Aswatama. Namun, Drona adalah seorang ksatria yang bijaksana. Ia tahu Bima mudah dikuasai emosi, dan ia mengenal tipu daya perang. Satu-satunya suara yang ia percayai di medan laga ini, satu-satunya manusia yang kesucian lidahnya setara dengan sumpah dewata, adalah Yudhistira, Sang Raja Dharma.
Ia memacu keretanya mendekati barisan Pandawa. Busurnya teracung, namun tangannya bergetar. Ia mencari Yudhistira, dan ketika tatapan mereka bertemu, Drona merasakan sedikit harapan. Jika Yudhistira membantah kabar itu, ia akan kembali bertarung dengan semangat baru. Jika Yudhistira mengiyakan, maka tak ada lagi alasan baginya untuk bernapas.
“Dharma Raja,” suara Drona serak, membelah hiruk-pikuk pertarungan yang masih berlanjut di kejauhan, “Aku telah mendengar kabar yang menyayat jiwa. Apakah Aswatama telah gugur? Jawab aku, wahai putra Pandu, demi kebenaran yang kau junjung tinggi!”
Seluruh medan perang seolah menahan napas. Para ksatria Kaurawa dan Pandawa sama-sama menanti. Kebenaran Yudhistira adalah tiang penyangga moralitas dalam perang ini. Jika tiang itu runtuh, tidak ada lagi yang tersisa selain kekacauan.
Yudhistira menatap Krishna yang berdiri di kereta Arjuna, wajahnya tenang namun matanya penuh makna. Krishna telah mengatakan kepadanya bahwa *Dharma* kadang kala membutuhkan pengorbanan kecil berupa *Adharma* agar keadilan yang lebih besar dapat ditegakkan. Yudhistira tahu, selama Drona masih bernyawa, Pandawa tidak akan pernah menang, dan perang ini tidak akan pernah berakhir. Ribuan nyawa akan terus melayang.
Dengan berat hati, ia melangkah maju. Setiap langkahnya terasa seperti menapak di atas pecahan kaca. Bibirnya terasa kering, dan tenggorokannya tercekat oleh sumpah yang ia langgar, meskipun itu hanya sumpah setengah hati. Ia membuka mulutnya, membiarkan kalimat yang telah ia susun bersama Krishna meluncur keluar.
“Aswatama hatah…” (Aswatama telah gugur…)
Sejenak, dunia Drona hancur. Wajahnya memucat, matanya berkaca-kaca. Ia tidak menunggu kelanjutannya. Tetapi Yudhistira belum selesai. Ia harus menuntaskan kebenaran kecil yang tersisa, kebenaran tentang ‘Aswatama’ lain, seekor gajah perang milik Raja Magadha yang telah dibunuh Bima.
Saat Yudhistira menarik napas untuk mengucapkan kata terakhir, Krishna memberi isyarat. Seketika, sangkakala suci Pancajanya milik Krishna ditiup bersamaan dengan ribuan genderang dan terompet perang. Bunyi itu melengking, memekakkan telinga, menciptakan dinding suara yang tebal dan tak tertembus.
Di tengah gemuruh yang mematikan itu, Yudhistira menyelesaikan kalimatnya, nyaris berbisik: “…*iti gajah*.” (…seekor gajah.)
Drona hanya mendengar bagian pertama, bagian yang menghancurkan hatinya. Suara ‘gajah’ (atau dalam versi lain, ‘itidha’ kata yang mengakhiri kalimat kebenaran kecilnya) sepenuhnya tenggelam di bawah gelombang bunyi yang diciptakan oleh Krishna. Bagi Drona, yang ia dengar adalah konfirmasi dari satu-satunya manusia jujur di dunia ini.
Seketika, Yudhistira merasakan sebuah getaran dahsyat. Sejak ia lahir dan selalu berpegang teguh pada *Dharma*, kereta perangnya tidak pernah menyentuh bumi, selalu melayang beberapa inci di atas tanah, sebagai simbol kemurnian jiwanya. Namun, pada saat kebohongan pertama ini terucap dari lidahnya, roda keretanya mendarat, menghantam tanah Kurukshetra yang berlumpur. Kunci kebenaran spiritualnya telah dicabut. Ia merasakan beban berat dunia menimpanya, dan ia tahu, kemurniannya telah ternoda selamanya.
Di seberang medan perang, Drona tidak lagi memperhatikan apa pun. Wajahnya yang tua kini dipenuhi kesedihan yang mendalam, lebih parah daripada rasa sakit akibat luka panah. Jika Aswatama, putra tercintanya, telah tiada, apa gunanya lagi hidup ini? Apa gunanya membela Duryodhana atau memenangkan perang yang keji ini?
Dengan perlahan, tangan Drona melonggar. Busurnya, Gandi, terlepas dari genggamannya dan jatuh ke tanah berlumur darah. Ia menjatuhkan pedang dan anak panahnya. Setelah melepaskan seluruh senjatanya, Drona duduk bersila di atas kereta, menutup mata. Ia menarik napas dalam-dalam, menghentikan fokusnya dari kekejaman duniawi, dan memasuki meditasi mendalam (*samadhi*). Ia memutuskan untuk melepaskan jiwanya melalui jalur spiritual, meninggalkan jasadnya sebagai pengorbanan terakhir bagi perang yang tak berkesudahan.
Jiwa Drona yang murni, terlepas dari tanggung jawab duniawi, mulai bergerak naik, seolah-olah hendak terbang menuju surga.
Namun, takdir yang ditakdirkan Drona tidak akan mengizinkannya pergi dengan damai. Drestadyumna, putra Raja Drupada, yang lahir dari api *yadnya* (ritual) dengan tujuan tunggal membunuh Drona, melihat kesempatan emas ini.
Dipenuhi oleh dendam kesumat yang diturunkan dari ayahnya dendam atas penghinaan bertahun-tahun yang lalu Drestadyumna melompat turun dari keretanya, pedang terhunus di tangan. Ia berlari ke arah kereta Drona yang kini diam, sunyi, seolah menjadi pulau kedamaian di tengah badai perang.
Arjuna, yang menyadari niat jahat Drestadyumna, berteriak keras, “Drestadyumna, hentikan! Jangan lakukan itu! Ia adalah guru kita! Ia tidak bersenjata dan sedang bermeditasi! Membunuh guru yang tidak bersenjata adalah *Adharma* yang tak termaafkan!”
Bahkan Krishna, meskipun ia telah merencanakan agar Drona dijatuhkan, menatap Drestadyumna dengan pandangan serius. Kematian Drona harus terjadi, tetapi cara ini adalah pelanggaran besar terhadap etika perang. Drona telah menyerah, dan seharusnya ia dibiarkan pergi.
Namun, mata Drestadyumna diselimuti kabut kemarahan dan takdir. “Ia adalah guru bagimu, Arjuna! Bagiku, ia adalah musuh bebuyutan yang telah menghancurkan kehormatan ayahku!” teriak Drestadyumna, suaranya dipenuhi amarah yang membara. “Aku lahir hanya untuk saat ini. Aku tidak akan membiarkan takdirku lolos!”
Tanpa ragu, Drestadyumna melompat ke atas kereta Drona. Sang Guru Agung tetap tak bergerak, matanya terpejam dalam meditasi. Jiwanya sudah hampir lepas. Pedang Drestadyumna terayun ke bawah dengan kecepatan kilat, memenggal kepala Drona dalam satu tebasan brutal. Kepala Sang Guru Agung, dengan wajah damai dalam pelepasan terakhirnya, jatuh ke tanah. Jasadnya yang tanpa kepala roboh di atas kereta.
Raungan kengerian menyebar di barisan Pandawa. Arjuna menundukkan kepalanya dalam kesedihan yang mendalam. Kebohongan Yudhistira telah meruntuhkan pertahanan Drona, tetapi tindakan keji Drestadyumna telah menodai kemenangan mereka secara permanen.
Ketika berita kematian Drona tersiar, laskar Kaurawa mengalami demoralisasi total. Namun, di antara para Pandawa, kemenangan terasa lebih berat dari kekalahan. Mereka telah mencapai tujuan mereka melalui cara-cara yang paling meragukan. Dan di tengah tragedi itu, Yudhistira tahu: ia telah mengorbankan bagian dari dirinya yang paling suci demi kembalinya tahta Hastinapura. Harga Dharma telah dibayar dengan kebohongan, dan hasilnya adalah darah guru mereka sendiri.
Sore itu, tanah Kurukshetra tidak hanya basah oleh darah, tetapi juga oleh luka hati yang belum sempat mengering. Gugurnya Drona guru para ksatria, penyangga ilmu dan sumpah meninggalkan sunyi yang lebih berat daripada gemuruh perang. Ia tidak tumbang karena kalah adu senjata, melainkan karena patah oleh kata-kata yang ia percayai sepenuh jiwa.
Di kemah Kaurawa, ratap duka terdengar lirih. Jasad Drona terbaring tenang, seolah masih menjaga martabatnya sebagai brahmana dan ksatria. Di sisi tubuh ayahnya, Aswatama berdiri diam. Tidak ada tangis, tidak ada raung. Ia telah mendengar semuanya: tentang ucapan Yudhistira yang setengah benar, tentang gajah bernama Aswatama yang mati, dan tentang ayahnya yang menjatuhkan senjata karena yakin pada kejujuran.
Bagi Aswatama, itu bukan siasat perang. Itu adalah tipu yang mencederai Dharma.
Wajahnya tegang, matanya menyala dingin. “Seorang guru dibunuh dengan kebohongan,” katanya perlahan. “Perang ini telah kehilangan keluhurannya.” Para raja Kaurawa terdiam. Duryodhana mendekat hendak menenangkan, namun Aswatama menepis tangannya. Di hadapan jasad Drona, ia bersumpah dalam diam: hutang darah itu akan ditagih, apa pun akibatnya.
Aswatama bukan ksatria biasa. Ia memegang senjata ilahi yang jarang disentuh manusia. Atas anugerah Dewa Narayana, ia menguasai Narayanastra senjata yang tidak dimaksudkan untuk ditandingi, melainkan untuk menghukum kesombongan.
Ia berjalan menjauh, ke tempat yang sepi. Dengan napas teratur, Aswatama melafalkan mantra. Alam pun berubah sikap. Langit sore meredup, angin berputar membawa debu Kurukshetra, dan udara terasa berat, seolah medan perang ikut menunduk menyaksikan.
Saat busur ditarik dan panah dilepas, nama Narayana disebutkan dengan suara yang menggema. Seketika panah itu menjelma cahaya yang membelah udara api dan sinar ilahi bergerak seperti badai yang hidup.
Narayanastra meluncur ke barisan Pandawa. Bukan sekadar serangan, melainkan hukuman para dewa. Kereta-kereta porak-poranda, pasukan tercerai dalam ketakutan. Senjata ini tidak mengejar tubuh, tetapi melahap perlawanan. Siapa pun yang mengangkat senjata, akan menerima amuk yang berlipat.
Kegembiraan Pandawa atas gugurnya Drona seketika lenyap. Arjuna menggenggam Gandiva, nalurinya mendorong untuk melawan. Namun sebelum satu mantra terucap, suara Krishna terdengar tegas.
“Jangan,” katanya. Satu kata, namun menghentikan segalanya. “Ini Narayanastra. Tidak boleh dilawan.”
“Jika kita diam, kita mati,” seru Nakula dengan suara gemetar.
“Jika melawan, kalian binasa,” jawab Krishna. “Turun. Letakkan senjata. Tunduk.”
Bhima menggeram, hatinya memberontak. Krishna menatapnya tajam, lalu mendorongnya turun dari kereta hingga tubuh besar itu menyentuh tanah. “Hari ini bukan adu tenaga, Vrikodara,” katanya. “Hari ini yang menyelamatkan adalah rendah hati.”
Satu per satu, Pandawa dan prajurit yang tersisa berlutut. Senjata diletakkan. Kepala ditundukkan. Tidak ada teriakan, hanya pasrah.
Ketika cahaya Narayanastra mendekat, keajaiban terjadi. Api yang mengamuk mulai melemah. Sinar itu berputar di atas mereka, kehilangan sasaran. Tidak ada perlawanan untuk dihukum. Perlahan, cahaya meredup dan lenyap, kembali ke asalnya.
Dari kejauhan, Aswatama menyaksikan dengan dada sesak. Senjata terkuatnya telah dilepaskan, namun tidak memberi kehancuran yang ia harapkan. Ia tidak dikalahkan oleh senjata lain, melainkan oleh kebijaksanaan Krishna.
Matahari senja menyentuh wajahnya. Aswatama pun mengerti: selama Krishna berpihak pada Pandawa, dendamnya akan selalu berhadapan dengan kekuatan yang tidak bisa diserang dengan amarah semata.
Udara di sekitar Danau Dwaipayana terasa dingin dan berat. Pandawa dan sisa pasukan mereka berdiri di tepi danau, sementara Duryodhana bersembunyi di dalam, menggunakan kekuatan ilusi air untuk menyembunyikan kelelahan dan rasa takutnya yang terdalam.
Kehadiran Balarama, dengan tubuh menjulang dan sikapnya yang tenang namun tegas, menambah lapisan kompleksitas pada situasi tersebut. Ia adalah seorang guru yang menuntut kesempurnaan dalam pertarungan, dan ia tidak akan membiarkan akhir perang ini dicemari oleh tindakan tidak terhormat.
Krishna melangkah maju, sorot matanya yang tajam menembus permukaan air yang beriak. Ia tahu bahwa Duryodhana, meskipun seorang pengecut dalam persembunyiannya saat ini, akan segera merespons provokasi. Namun, bukan Krishna yang memulai.
Yudhisthira, Raja yang memikul beban dharma yang tak tertahankan, melangkah ke garis depan. "Duryodhana! Ini bukan persembunyian yang layak bagi seorang ksatria Hastinapura!" Suara Yudhisthira terdengar lelah tetapi penuh wibawa. "Jika engkau telah kalah dalam peperangan yang telah memakan seluruh saudaramu, hadapi kehormatan kekalahanmu!"
Duryodhana, yang mendengar setiap kata dengan jelas, merasakan amarah membakar kulitnya, yang hanya sedikit ditenangkan oleh air danau. Namun, ia diam. Ia berharap Pandawa akan pergi, atau setidaknya, membiarkannya beristirahat sebentar lagi.
Bhima tidak sabar. Ia telah menyimpan sumpah untuk menghancurkan paha Duryodhana selama tiga belas tahun. “Keluarlah, Duryodhana, pengecut air! Kau lebih buruk daripada tikus yang mencari perlindungan di selokan! Ingatkah kau bagaimana kau merampas kerajaan kami? Ingatkah kau bagaimana kau mempermalukan Draupadi? Atau apakah kau kini hanya seekor katak yang berani berbunyi dari balik genangan air?” raungan Bhima mengguncang dedaunan di sekitar danau. “Jika kau tidak keluar sekarang juga, aku akan mengeringkan danau ini dan menyeretmu keluar seperti bangkai ikan!”
Provokasi Bhima berhasil. Rasa malu yang bercampur dengan amarah membuat Duryodhana tidak tahan lagi. Kebanggaannya, satu-satunya hal yang tersisa padanya, menuntut balasan. Perlahan, permukaan air mulai bergejolak. Dengan gerakan yang megah dan berirama, Duryodhana berdiri tegak, membiarkan air mengalir dari jubah dan baju besinya yang rusak. Meskipun wajahnya pucat karena kelelahan, ia berdiri dengan gagah berani, memancarkan aura kesombongan yang tak pernah pudar.
“Para Pandawa!” Suara Duryodhana serak tetapi penuh kekuatan. “Kau menyebutku pengecut? Aku adalah satu-satunya yang tersisa dari seratus saudaraku. Aku menghadapi seluruh pasukanmu selama tujuh belas hari, bahkan setelah para ksatria terbesarku gugur. Aku tidak bersembunyi. Aku beristirahat sejenak untuk memulihkan kekuatanku, sebelum aku membunuh kalian semua!”
Ia memandang Krishna. “Kalian menang melalui kecurangan dan tipu daya. Tapi aku masih raja Hastinapura! Dan aku akan tetap demikian!”
Saat itulah Yudhisthira melakukan kesalahan fatal. Ia maju, terdorong oleh idealisme dharma yang sering kali mengaburkan pandangannya terhadap realitas politik dan perang. Ia ingin mengakhiri semua ini dengan kehormatan, bahkan jika itu berarti mempertaruhkan segalanya di menit terakhir.
“Cukup, Duryodhana,” kata Yudhisthira, menunjuk ke sisa-sisa pasukan Pandawa yang berdarah-darah. “Perang ini telah berakhir. Kau telah kalah. Namun, karena kau berdiri sendiri, dan demi kehormatan ksatria yang kita junjung, aku akan memberimu tawaran yang belum pernah ada sebelumnya.”
Ia menarik napas dalam-dalam. “Pilihlah. Pilihlah salah satu dari lima Pandawa sebagai lawanmu. Pilihlah senjata apa pun yang kau inginkan. Jika kau berhasil membunuh atau mengalahkan lawan yang kau pilih, maka kau akan tetap menjadi Raja Hastinapura. Kami akan meninggalkan semua klaim kami, dan kembali ke hutan.”
Keheningan mencekam menyelimuti danau. Pandawa tercengang. Satyaki mendesis tak percaya. Duryodhana menyeringai, tidak percaya akan keberuntungan bodoh yang datang dari musuhnya.
Krishna, yang berdiri sedikit di belakang, merasakan darahnya mendidih. Ia tidak bisa menahan diri. Ia bergerak mendekat, menatap Yudhisthira dengan pandangan yang paling tajam yang pernah dimiliki Raja Dharma itu. Ia berbicara pelan, suaranya mengandung badai yang terpendam, hanya bisa didengar oleh Pandawa dan Balarama.
“Yudhisthira,” desis Krishna, “Kebodohan macam apa ini? Setelahtujuh belas hari pertumpahan darah, setelah Bhishma, Drona, dan Karna tumbang, setelah jutaan nyawa dikorbankan, kau mempertaruhkan kemenangan ini ? Apa yang akan terjadi jika Duryodhana memilihmu, atau Nakula, yang bukan ahli dalam pertempuran? Dia akan menang, dan semua pengorbanan ini akan sia-sia. Kita akan kembali ke hutan, dan dia akan menertawakan kelemahanmu!”
Yudhisthira menundukkan kepalanya, menyadari betapa parahnya kesalahannya. Namun, tawarannya telah dilontarkan di hadapan Balarama, sang penjaga aturan, dan tidak bisa ditarik kembali.
Balarama, yang menyaksikan interaksi itu, justru mengangguk kecil. Dalam benaknya, tawaran Yudhisthira adalah tindakan ksatria sejati, meskipun berisiko. Ia lebih mementingkan keadilan yang benar-benar adil, meski itu tidak selalu praktis atau menguntungkan.
Tatapan Duryodhana beralih dari satu Pandawa ke Pandawa lain. Ia bisa memilih Yudhisthira, lawan terlemah, dan memenangkan tahta dengan mudah. Ia bisa memilih Nakula atau Sahadeva. Namun, kesombongan yang menguasai dirinya adalah pengkhianat terbesarnya. Ia tidak menginginkan kemenangan yang mudah, ia menginginkan pembalasan.
Matanya terkunci pada Bhima, pria yang telah bersumpah menghancurkan pahanya, pria yang telah menghina dan mengejeknya sepanjang hidup. Pria yang telah membunuh 99 saudaranya. Kebencian dari masa lalu mereka memanggilnya.
“Aku akan memilih lawan yang setara denganku,” kata Duryodhana lantang, senyum bengis terukir di wajahnya. “Aku memilih Bhima, sang ahli gada! Senjata kita sama: Gada. Pertarungan sampai mati.”
Bhima meraung gembira. Ini adalah saat yang ia tunggu-tunggu. Ia melangkah maju, memanggil gada besarnya yang berkilauan. Duryodhana, di sisi lain, mengambil gada besarnya dari tepi danau. Gada itu telah disucikan Balarama bertahun-tahun yang lalu.
Balarama mengamati dengan cermat, seolah-olah ia sedang menonton dua murid terbaiknya, yang kini menjadi musuh bebuyutan. Ini adalah ujian terakhir dari seni yang ia ajarkan.
Bhima, didorong oleh amarah, menyerang lebih dulu, mengayunkan gada besarnya dengan kekuatan luar biasa, siap meremukkan Duryodhana menjadi debu. Namun, Duryodhana, meskipun terluka dan kelelahan, menunjukkan keahlian yang menakjubkan. Ia berputar, menghindari pukulan mematikan itu dengan kelincahan yang mengejutkan, membiarkan angin dari ayunan gada Bhima hanya menyentuh rambutnya.
Duryodhana membalas. Ayunannya cepat, presisi, dan bertujuan untuk melumpuhkan. Dalam pelatihan mereka, Duryodhana selalu lebih unggul dalam kecepatan dan pertahanan, sementara Bhima selalu mengandalkan kekuatan fisik yang diluar kekuatan manusia biasa.
Gada baja mereka bertemu dengan tabrakan yang memekakkan telinga, menghasilkan percikan api yang menerangi wajah-wajah letih di sekitarnya. Bumi bergetar seolah-olah dua gunung telah bertabrakan. Duryodhana melompat mundur, sementara Bhima hanya sedikit tersentak oleh hantaman itu.
“Kau cepat, Duryodhana!” geram Bhima, mengayunkan lagi, memaksa Duryodhana bergerak dan bertahan. “Tapi kecepatan tidak akan menyelamatkanmu dari kekuatan sumpahku!”
Duel itu berlangsung luar biasa hebat. Keduanya seimbang dalam kemampuan, meskipun motivasi mereka berbeda: Duryodhana bertarung untuk harga diri dan kerajaan, Bhima bertarung untuk sumpah dan pembalasan. Balarama berdiri seperti patung, matanya mengikuti setiap gerakan, siap untuk menghentikan apa pun yang melanggar aturan duel gada, tetapi dalam hati ia tahu, salah satu muridnya akan mati hari ini.
Pertarungan gada Bhima dan Duryodhana akhirnya mencapai puncaknya. Inilah penutup paling menegangkan dari delapan belas hari perang berdarah di Kurukshetra. Keduanya sama-sama bagaikan banteng mengamuk, tetapi cara mereka bertarung justru berlawanan sepenuhnya keras, brutal, dan tak sama.
Duryodhana, meskipun berotot, bergerak dengan kelincahan dan kecepatan yang mencengangkan, menari di sekeliling lawan seperti badai debu yang sulit ditangkap. Ia telah belajar dari Balarama, seorang guru yang sangat menekankan teknik dan seni bela diri, bukan hanya kekuatan mentah. Setiap pukulan Duryodhana adalah serangan yang diperhitungkan, dirancang untuk menguras energi Bhima secara perlahan.
Sementara itu, Bhima bertarung seperti bencana alam. Setiap ayunan gadanya terasa seperti hentakan gempa, mengoyak udara dengan suara mengerikan. Ia mengandalkan tenaga, dorongan, dan kekuatan penuh. Namun menghadapi kecepatan Duryodhana, Bhima perlahan tertekan. Serangan raja Kurawa itu terlalu lincah, memaksa Bhima menguras tenaga hanya untuk menahan atau menghindar.
Duryodhana, menyadari keunggulan kelincahannya, mulai bermain-main, menyerang dari sisi, melompat, dan menarik diri sebelum Bhima sempat membalas. Amarah mulai menggerogoti Bhima. Keringat bercampur debu membasahi wajahnya, napasnya tersengal. Jika duel ini terus berjalan sesuai aturan, Bhima bisa kehabisan tenaga lebih dulu sebelum sempat memberi pukulan penentu.
Di pinggir arena, mata Krishna yang tajam mengikuti setiap gerakan. Ia melihat keletihan di mata Bhima dan kepongahan yang tumbuh di senyum Duryodhana. Krishna tahu, demi tegaknya Dharma, cara-cara yang lurus seringkali tidak efektif melawan ketidakadilan yang licik. Ia harus mengakhiri ini, sekarang.
Saat Duryodhana berhasil memaksa Bhima mundur selangkah dan bersiap melancarkan serangan kombinasi lagi, Krishna melakukan gerakan yang sangat sederhana namun sarat makna. Ia menepuk paha kirinya sendiri dengan telapak tangan, sebuah gerakan yang hampir tak terlihat, ditujukan hanya kepada satu orang: Arjuna.
Arjuna, yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di bawah bimbingan Krishna, langsung mengerti kode rahasia itu. Paha kiri itulah tempat Bhima bersumpah akan menghancurkannya setelah Duryodhana menghina Draupadi dan mengekspos pahanya di hadapan majelis. Itu adalah sumpah pembalasan, janji yang terikat pada kehormatan wanita mereka, sebuah janji yang melanggar aturan resmi duel gada.
Dengan cepat, Arjuna bergerak sedikit mendekati Bhima, cukup dekat untuk bergumam tanpa didengar oleh Balarama yang berdiri seperti penjaga kuil, atau Duryodhana yang sedang berkonsentrasi pada serangan berikutnya.
“Ingat sumpahmu, Vrikodara! Paha kiri! Sekarang!” bisik Arjuna, suaranya tegang namun penuh perintah.
Seketika, energi baru menjalar melalui tubuh Bhima. Wajahnya yang kelelahan berubah menjadi ekspresi kepastian yang dingin. Ini bukan lagi hanya tentang duel; ini adalah penuntasan sumpah yang diucapkan di hari paling memalukan bagi mereka.
Duryodhana, penuh percaya diri, melompat tinggi ke udara, bersiap untuk mendaratkan pukulan mematikan dari atas, memanfaatkan ketinggian dan momentumnya.
Saat itulah Bhima melancarkan serangan yang melanggar semua aturan perang. Dia tidak bergerak untuk menangkis gada yang datang dari atas. Sebaliknya, dengan kekuatan terakhirnya yang dihimpun dari kemarahan selama tiga belas tahun, Bhima mengayunkan gadanya secara horisontal, mengincar titik yang dilarang keras untuk dipukul: area di bawah pusar.
*BRAKK!*
Suara hantaman itu bukan sekadar benturan senjata, melainkan bunyi kehancuran yang menentukan akhir duel. Gada Bhima menghantam paha kiri Duryodhana dengan kekuatan dahsyat. Tulang pahanya remuk seketika, tak sanggup menahan tenaga yang digerakkan oleh sumpah dan pembalasan.
Duryodhana menjerit. Bukan jeritan keberanian, melainkan jeritan kesakitan yang mengerikan. Tubuhnya yang melayang jatuh menghantam tanah berdebu Kurukshetra, terpelanting dan diam tak bergerak.
Keheningan yang mematikan menyelimuti medan perang. Satu-satunya suara adalah erangan mengerikan Duryodhana yang kini terbaring tak berdaya, tulang pahanya patah dan remuk.
Balarama, sang guru gada dari kedua petarung, menyaksikan pelanggaran terang-terangan ini dengan mata mendidih. Wajahnya merah padam, amarahnya meletus seperti gunung berapi. Memukul di bawah pusar adalah pelanggaran Dharma, tindakan tercela. Ia telah bersumpah untuk menjaga keadilan dalam duel ini.
“BHIMA!” raung Balarama, suaranya bergema melintasi padang pasir. Ia mengangkat bajaknya, senjata andalannya, siap untuk menyerang Bhima dan menegakkan aturan yang telah dilanggar.
Krishna bergerak dengan cepat, mencegat saudaranya sebelum ia sempat bertindak. Ia memegang lengan Balarama yang gemetar karena murka.
“Kakanda,” ucap Krishna dengan nada menenangkan namun tegas, “Tahan amarahmu. Apakah engkau lupa? Tiga belas tahun lalu, Duryodhana merusak Draupadi di hadapan majelis. Apakah engkau lupa sumpah Bhima untuk menghancurkan paha yang dihina itu? Apakah engkau lupa ketika Duryodhana bersekongkol dengan Shakuni, membakar rumah laksa, dan meracuni Bhima?”
Krishna memandang Balarama lurus-lurus. “Dharma harus ditegakkan, Kakanda. Dan Duryodhana, yang sepanjang hidupnya telah melakukan Adharma, hanya dapat dikalahkan dengan Adharma yang diperlukan untuk memenuhi sumpah suci. Jika Bhima bertarung sesuai dengan aturan, Duryodhana akan menang dan kembali untuk menghancurkan Kuru di masa depan. Keadilan ilahi telah terpenuhi meski melalui cara yang tidak adil.”
Balarama menarik napas dalam-dalam. Meskipun hatinya tidak setuju dengan metode itu, ia tidak dapat membantah logika Krishna. Ia menurunkan bajaknya, matanya menyala dengan rasa jijik terhadap kemenangan yang didapat dengan cara yang kotor, namun ia diam.
Para Pandawa dan Krishna mendekati tubuh Duryodhana. Ia tidak mati, melainkan sekarat perlahan di atas debu. Rasa sakit itu tak terbayangkan. Kemenangan ini terasa pahit bagi Pandawa. Mereka telah menang, tetapi cara kemenangan ini akan selamanya menjadi noda dalam sejarah mereka.
“Sumpahku telah terpenuhi,” gumam Bhima. Setelah itu mereka meninggalkan Duryodhana yang mengerang kesakitan, tergeletak di tengah tubuh-tubuh yang berguguran. Perang besar itu akhirnya telah berakhir.
***
Malam turun menyelimuti Kurukshetra, membawa dingin dan sunyi yang mencekam. Keheningan itu hanya dipecah oleh lolongan serigala dan erangan lemah sang raja yang sekarat. Dari pihak Kurawa, hanya tiga orang yang tersisa: Aswatthama, Kripa, dan Kritawarma. Mereka melangkah perlahan di antara tumpukan mayat, mencari pemimpin mereka.
Mereka menemukan Duryodhana terbaring di tanah, menderita dalam penderitaan yang luar biasa. Matanya berlinang air mata, bukan karena rasa sakit, tetapi karena kesedihan melihat kehancuran total klan Kuru. Ia telah kehilangan segalanya, bahkan harapan untuk mati dengan terhormat.
Melihat kondisi rajanya, hati Ashwatthama hancur berkeping-keping. Amarah yang membakar jauh melampaui batas kewarasan. Ia mendekati Duryodhana, berlutut, dan bersumpah dengan suara yang bergetar penuh dendam.
“Tuanku,” kata Ashwatthama, “Para Pandawa telah memenangkan pertempuran ini dengan licik, melanggar semua aturan. Mereka mengira telah menang, tetapi aku bersumpah, malam ini, tidak akan ada satu pun dari mereka yang akan tidur nyenyak! Malam ini juga, aku akan menyusup ke perkemahan mereka dan membantai setiap pria yang tidur, bahkan anak-anak yang tersisa. Aku akan membalas semua darah yang tumpah!”
Duryodhana, meskipun hampir tidak bisa berbicara, merasakan sedikit kepuasan. Ini adalah pembalasan yang ia inginkan. Dengan sisa tenaga yang ada, ia meminta air. Hanya ada sedikit air yang tersisa di dalam kantung kulit yang dibawa Kritawarma.
Dengan tangan gemetar, Duryodhana menumpahkan air tersebut ke telapak tangan Ashwatthama. Ini adalah ritual sederhana, formalitas terakhir di antara reruntuhan.
“Aku mengangkatmu, putra Guru Drona, sebagai panglima tertinggi (Senapati) dari sisa pasukan Kurawa,” bisik Duryodhana, suaranya hampir tak terdengar, namun sumpah itu mengikat. “Pembalasanmu adalah satu-satunya hadiah perpisahan yang bisa kuharapkan.”
Aswatthama menerima anugerah terakhir itu dengan hati yang telah membeku. Ia kini menjadi panglima baru, membawa satu tujuan: pembalasan paling kejam dan paling hina dalam sejarah perang. Mereka yang selamat di siang hari tidak akan selamat dari teror malam hari.
Perang Mahabharata memang telah usai, tetapi darah belum berhenti mengalir. Dari sinilah babak mengerikan baru dimulai.
Di bawah cahaya rembulan yang bersembunyi di balik awan, tiga bayangan bergerak perlahan melintasi padang Kurukshetra. Mereka menuju perkemahan Pandawa yang sedang terlelap dalam euforia kemenangan. Ashwatthama memimpin di depan, matanya memancarkan api dendam yang telah membakar habis sisa-sisa kesatriaan di dalam dirinya. Ia bukan lagi putra Drona yang terhormat; ia telah menjadi instrumen kehancuran. Di belakangnya, Kripacharya dan Kritawarma berjalan dengan langkah berat, jiwa mereka terbebani dosa besar, namun kesetiaan kepada dinasti Kuru memaksa mereka untuk tetap melangkah.
Ketika mereka mencapai gerbang perkemahan, langkah Ashwatthama terhenti oleh kekuatan gaib tak terlihat, penjaga gaib yang tak tertembus senjata apa pun. Menyadari bahwa kekuatannya sendiri tidak cukup, Ashwatthama melakukan ritual pemujaan terakhir dan menawarkan dirinya sendiri sebagai persembahan kepada Dewa Siwa. Terkesan dengan pengabdian yang murni dan tekad yang bulat, Dewa Siwa muncul dari api, menganugerahkan kekuatan Rudra dan merasuki tubuh Ashwatthama. Kini, Ashwatthama bergerak bukan lagi sebagai manusia, melainkan sebagai manifestasi kehancuran.
Ia menoleh kepada kedua rekannya dengan tatapan yang mengerikan. “Paman Kripa, Kritawarma,” katanya, suaranya kini serak dan dingin, “kalian tahu tugas kalian. Berjagalah di gerbang utama ini. Biarkan aku yang masuk ke dalam. Siapa pun yang berhasil lolos dari murkaku, mereka harus menghadapi pedang kalian di sini. Jangan biarkan satu nyawa pun keluar hidup-hidup.”
Kripacharya dan Kritawarma hanya mengangguk dalam diam. Mereka mengambil posisi dengan pedang terhunus, siap memotong leher siapa pun apakah itu prajurit, pelayan, atau ksatria yang mencoba melarikan diri dari teror yang akan diciptakan Ashwatthama di dalam kegelapan tenda.
Ashwatthama menyelinap masuk, bergerak lincah seperti ular di antara tenda-tenda yang dipancangi panji-panji Pandawa yang baru saja berkibar tegak. Jantungnya berdebar kencang karena antisipasi pembalasan yang telah lama ia nantikan. Tujuan pertamanya adalah tenda Dhrishtadyumna, putra Raja Drupada, pria yang telah memenggal ayahnya saat sedang bermeditasi.
Ia menemukan tenda Dhrishtadyumna yang paling besar. Penjagaan di sekitarnya sangat minim, karena semua orang percaya perang telah usai. Ashwatthama merobek kain tenda dengan belati pendek, lalu melompat masuk. Di dalamnya, Dhrishtadyumna tidur nyenyak, mendengkur puas setelah kemenangan besar. Ashwatthama berdiri di atasnya, bayangan gelapnya menutupi wajah damai sang musuh. Ia sengaja tidak menggunakan pedang ilahinya; ia ingin Dhrishtadyumna merasakan setiap detik kematiannya.
Ashwatthama meraih leher Dhrishtadyumna. Cengkeraman tangannya sekuat besi yang membara. Dhrishtadyumna tersentak bangun, matanya membelalak ketakutan melihat wajah Ashwatthama yang dirasuki kegilaan ilahi. “Ashwatthama…,” desis Dhrishtadyumna mencoba berteriak, tetapi suaranya tercekat.
“Kau membunuh ayahku saat ia tak berdaya dan tanpa senjata!” geram Ashwatthama, suaranya rendah dan penuh racun. “Ayahku adalah gurumu! Dan kau berharap mati dengan cepat lewat senjata ksatria? Tidak! Kau akan mati seperti binatang!”
Ashwatthama mendorong Dhrishtadyumna hingga jatuh ke lantai. Dhrishtadyumna memohon untuk dibunuh dengan pedang agar ia mati sebagai ksatria, namun Ashwatthama menolaknya dengan kasar. Ia kembali mencengkeram leher itu, menekan trakeanya hingga napas sang panglima tersengal. Kemudian, ia mengangkat kakinya dan menginjak dada serta leher Dhrishtadyumna dengan penuh amarah. Tulang-tulang Dhrishtadyumna patah dengan bunyi gemerutuk yang mengerikan. Darah menyembur dari mulutnya. Panglima perkasa itu mati dengan cara yang paling direndahkan di bawah injakan kaki musuhnya.
Setelah memastikan Dhrishtadyumna tak lagi bernapas, Ashwatthama bergegas keluar menuju tenda yang ia yakini sebagai tempat tidur kelima Pandawa. Dalam kabut dendamnya, ia tidak menyadari bahwa Yudhishthira, Bhima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa telah meninggalkan perkemahan atas saran Kresna. Di dalam tenda itu, justru terbaringlah kelima putra Pandawa dari Dropadi, yang dikenal sebagai Pancawala: Prativindhya, Sutasoma, Shrutakarma, Satanika, dan Shrutasena.
Ashwatthama melihat lima sosok yang ia yakini sebagai musuh utamanya. Ia menghunus pedang tanpa ragu, ia menebas leher kelima pangeran muda itu satu per satu saat mereka masih terlelap. Tidak ada waktu untuk berteriak, hanya ada desisan darah yang membasahi kasur mereka. Ashwatthama memenggal kepala mereka, yakin bahwa ia telah memusnahkan seluruh keturunan Pandu malam itu.
Ketika teriakan pertama terdengar dari penjaga lain, semuanya sudah terlambat. Ashwatthama mengamuk seperti badai. Para prajurit Pandawa terbangun dalam suasana penuh kekacauan. Mereka yang mencoba mencari senjata dibantai sebelum tangan mereka menyentuh gagang pedang. Mereka yang mencoba lari menuju gerbang utama dihadang Kripacharya dan Kritawarma yang menanti, memotong jalur pelarian dengan penuh ketepatan. Tidak ada ampun bagi siapa pun.
Ashwatthama, yang kini berlumuran darah dari kepala hingga kaki, memasuki tenda-tenda lain. Ia menghancurkan dan membakar. Seribu gajah yang terikat mengamuk karena ketakutan, tetapi Ashwatthama memotong urat kaki mereka atau menebas belalai mereka. Kuda-kuda meringkik ngeri saat api mulai melahap tenda. Malam itu, perkemahan yang tadinya merayakan kemenangan berubah menjadi tempat pemotongan nyawa manusia. Jeritan, lolongan, dan kematian memenuhi udara Kurukshetra untuk terakhir kalinya.
Ketika fajar mulai menyingsing, Ashwatthama keluar dari perkemahan yang kini sunyi, hanya menyisakan tumpukan mayat dan asap hitam. Ia bertemu kembali dengan Kripacharya dan Kritawarma yang juga bersimbah darah. Misi gelap mereka telah selesai.
Mereka bertiga bergegas menuju tepi danau tempat Duryodhana terbaring sekarat dengan paha yang hancur. Pangeran Kurawa itu masih bernapas, meskipun matanya redup dan tubuhnya dikerumuni lalat. Ashwatthama berlutut di sisinya, menunjukkan bungkusan berisi kepala yang ia bawa.
“Rajaku,” kata Ashwatthama dengan suara yang kini terdengar puas, “malam ini, dendammu telah terbayar. Aku telah memasuki perkemahan Pandawa. Aku sendiri yang membunuh Dhrishtadyumna dan memenggal kepala musuh-musuhmu. Keturunan mereka telah punah. Tidak ada lagi yang tersisa untuk meneruskan nama Pandu.”
Duryodhana, yang hampir tidak bisa bergerak, tiba-tiba menunjukkan sedikit kekuatan terakhirnya. Senyum puas yang mengerikan terukir di bibirnya yang kering. Meskipun ia kehilangan kerajaannya, ia merasa telah memenangkan perang karena musuhnya tidak lagi memiliki masa depan.
“Ashwatthama…,” bisiknya dengan susah payah, “kau telah melakukan apa yang tidak bisa dilakukan Bhisma, Drona, maupun Karna. Kau telah memberiku kedamaian untuk pergi.”
Duryodhana menutup matanya, napas terakhirnya terhembus bersama kepuasan dendam yang terpenuhi. Ia mati dengan keyakinan bahwa ia adalah pemenang terakhir. Sementara di belakangnya, Ashwatthama berdiri tegak di bawah sinar fajar, hatinya puas karena telah menepati sumpahnya kepada sang raja dan ayahnya. Namun hatinya mulai menyadari bahwa ia telah melakukan dosa yang tak termaafkan.
Hanya tujuh orang dari pihak Pandawa yang tersisa: Lima Pandawa, Kresna, dan Satyaki, yang selamat hanya karena mereka tidak berada di perkemahan malam itu. Tragedi di Sauptikaparva ini menandai akhir yang paling kelam dari epik Mahabharata; sebuah kemenangan bagi Pandawa yang terasa hambar karena mereka tidak lagi memiliki ahli waris yang tersisa, kecuali bayi Parikesit yang masih berada di dalam kandungan.
Cahaya matahari pagi yang biasanya membawa kehangatan, kali ini terbit di langit Kurukshetra dengan wajah pucat, seolah enggan menyinari bumi yang basah oleh darah. Perang besar Bharatayuddha memang telah usai, dan kemenangan secara teknis berada di tangan Pandawa. Namun, ketika Yudhishthira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, dan Kresna kembali ke perkemahan mereka setelah bermalam di luar, kemenangan itu terasa hampa.
Hening yang menyambut mereka bukanlah keheningan damai, melainkan keheningan kematian.
Di tengah perkemahan yang porak-poranda, pemandangan yang tersaji sangat memilukan hati. Tenda-tenda terbakar, dan di tanah bergelimpangan tubuh-tubuh kaku yang mereka kenal. Bukan hanya para prajurit biasa, tetapi juga para pemimpin pasukan yang tersisa seperti Dhrishtadyumna dan Srikandi. Namun, yang membuat lutut Bima lemas dan wajah Arjuna pucat pasi adalah pemandangan di tenda utama. Kelima putra Draupadi Prativindhya, Sutasoma, Shrutakarma, Shataneeka, dan Shrutsena terbaring tak bernyawa. Leher mereka digorok saat sedang terlelap dalam tidur.
Draupadi, sang ratu yang selama hidupnya ditempa oleh penderitaan, berdiri di sana. Ia tidak pingsan, tetapi tubuhnya gemetar hebat menahan guncangan jiwa yang luar biasa. Ia telah kehilangan ayahnya, saudaranya, dan kini kelima putranya sekaligus dalam satu malam pengkhianatan. Jeritan tangisnya memecah kesunyian pagi, sebuah ratapan yang membuat siapa pun yang mendengarnya merinding.
Yudhishthira mendekat, mencoba menenangkan istrinya, namun Draupadi menatapnya dengan mata merah menyala. Duka citanya telah berubah menjadi api kemarahan.
“Jangan bicara soal takdir padaku, Kakak!” suara Draupadi serak namun tajam. “Lihatlah anak-anak kita! Mereka tidak gugur di medan perang sebagai ksatria. Mereka dibunuh seperti hewan ternak saat tidur! Pelakunya adalah Ashwatthama, putra Drona yang pengecut itu!”
Draupadi menarik napas panjang, lalu mengucapkan sumpahnya yang mengerikan. “Dengarkan aku, wahai Pandawa. Aku tidak akan makan atau minum lagi. Aku akan membiarkan tubuhku kering dan mati di sini, kecuali kalian bisa menyeret Ashwatthama ke hadapanku. Aku tidak meminta nyawanya, karena dia adalah putra guru kita. Tapi aku menginginkan permata yang tertanam di dahinya! Permata itu adalah simbol kelahirannya yang mulia, yang kini telah ia nodai. Bawa permata itu ke sini, letakkan di hadapanku, atau biarkan aku mati!”
Mendengar tuntutan itu, Yudhishthira tertunduk lesu, memahami kepedihan istrinya. Namun Bima, yang darahnya mendidih melihat ketidakadilan, langsung menggenggam gadanya. Wajahnya merah padam.
“Kau akan mendapatkan permata itu, Dinda. Aku bersumpah,” geram Bima. Tanpa menunggu perintah Yudhishthira, Bima langsung melompat ke atas keretanya dan memacu kuda-kudanya sekencang angin, mengikuti jejak Ashwatthama yang melarikan diri.
Kresna, yang menyadari bahaya besar jika Bima pergi sendirian, segera menoleh pada Arjuna. “Arjuna, naiklah ke keretaku. Saudaramu sedang dikuasai amarah, sementara lawan yang dihadapinya memiliki senjata mematikan. Kita harus menyusulnya sebelum terlambat.”
Ashwatthama memacu kudanya tanpa henti. Hatinya dipenuhi ketakutan dan kegilaan. Ia tahu perbuatan kejinya membantai orang tidur telah melanggar semua kode etik ksatria. Bahkan pamannya, Kripacharya, dan sekutunya, Kritavarma, telah meninggalkannya karena ngeri melihat kekejamannya. Kini ia sendirian, dikejar oleh bayang-bayang dosanya sendiri.
Ia memacu keretanya hingga tiba di tepi sungai Gangga, tempat para resi suci biasa bermeditasi. Di sana, di dekat pertapaan Resi Vyasa, Ashwatthama menghentikan keretanya. Ia duduk bersimpuh, tubuhnya kotor oleh debu dan darah kering, rambutnya kusut masai. Ia mencoba berlindung di antara para petapa, berharap kesucian tempat itu bisa menyelamatkannya.
Namun, suara gemuruh kereta perang yang mendekat menghancurkan harapannya. Bima tiba lebih dulu. Ksatria bertubuh besar itu melompat turun, gadanya siap menghancurkan apa saja. Di belakangnya, kereta Kresna yang membawa Arjuna juga tiba.
“Ashwatthama!” raung Bima, suaranya menggelegar melebihi deburan ombak Gangga. “Bersembunyi di balik jubah para resi tidak akan menyelamatkanmu! Keluar dan hadapi hukumanmu, pembunuh!”
Ashwatthama gemetar. Ia melihat Bima yang siap membunuh, Arjuna yang memegang busur Gandiwa dengan tatapan dingin, dan Kresna yang memandangnya dengan sorot mata penuh penghakiman ilahi. Ia sadar, secara fisik ia tidak mungkin menang melawan mereka bertiga. Keputusasaan membuatnya nekat. Pikirannya menjadi gelap.
“Jika aku harus hancur,” bisik Ashwatthama dengan suara bergetar, “maka Pandawa juga harus hancur bersamaku. Tidak akan ada yang tersisa!”
Karena tidak membawa senjata, Ashwatthama secara refleks mencabut sehelai rumput ilalang (Ishika) yang tumbuh di dekat kakinya. Dengan konsentrasi penuh kebencian, ia merapalkan mantra terlarang yang pernah diajarkan ayahnya, Guru Drona. Mantra itu mengubah sehelai rumput biasa menjadi senjata pemusnah massal: Brahmashira.
“Demi kehancuran Pandawa, aku lepaskan senjata ini!” teriaknya.
Seketika, bilah rumput itu bersinar dengan cahaya yang menyilaukan mata, lebih terang dari ribuan matahari. Energi panas yang luar biasa menyembur keluar, menciptakan badai api yang siap melalap seluruh alam semesta. Langit mendadak gelap, petir menyambar-nyambar tanpa hujan, dan bumi berguncang hebat.
Kresna yang melihat bahaya itu berteriak keras, “Arjuna! Itu Brahmashira! Senjata itu bisa membakar seluruh dunia menjadi abu. Satu-satunya cara menahannya adalah dengan senjata yang setara! Cepat, gunakan Brahmashira-mu untuk menetralkannya!”
Arjuna, meski enggan menggunakan senjata sedahsyat itu, tidak punya pilihan. Ia turun dari kereta, membasuh tangannya dengan air suci, dan dengan hati yang tenang ia memanggil senjata yang sama. Bedanya, Arjuna merapalkannya dengan doa perlindungan, bukan kebencian.
Dua bola energi raksasa kini melesat di angkasa, saling mendekat. Lidah-lidah api menjilat langit, membuat para makhluk hidup di seluruh penjuru bumi menjerit ketakutan. Kiamat seolah sudah di depan mata.
Tepat sebelum kedua energi itu bertabrakan dan meledakkan dunia, dua sosok bercahaya muncul di antara kedua senjata itu. Mereka adalah Resi Vyasa (kakek para Pandawa dan Kurawa) dan Narada (penjelajah semesta). Kekuatan spiritual mereka begitu besar hingga mampu menahan laju kedua senjata itu sejenak.
“Hentikan kebodohan ini!” suara Resi Vyasa terdengar berat dan berwibawa. “Arjuna! Ashwatthama! Kalian adalah ksatria dari ras manusia, bagaimana kalian berani menggunakan senjata dewa yang bisa menghancurkan tatanan alam semesta? Tarik kembali senjata kalian sekarang juga! Jika kedua senjata ini bertabrakan, hujan tidak akan turun selama dua belas tahun, dan seluruh kehidupan akan musnah.”
Arjuna, yang selalu patuh pada guru dan orang tua, segera menjatuhkan lututnya. “Ampun, Resi yang mulia. Saya melepaskan senjata ini hanya untuk menahan serangan Ashwatthama yang hendak membakar kami semua. Saya akan menariknya kembali.”
Dengan konsentrasi tinggi dan jiwa yang murni, Arjuna merapalkan mantra penarikan. Perlahan, bola api raksasa miliknya mengecil, berputar balik, dan kembali masuk ke dalam tubuhnya tanpa melukai siapa pun. Inilah kelebihan Arjuna; ia menguasai ilmunya dengan sempurna.
Kini giliran Ashwatthama. Vyasa menatapnya tajam. “Giliranmu, putra Drona. Tarik senjatamu!”
Wajah Ashwatthama memucat. Keringat dingin mengucur deras di dahinya. Ia mencoba merapalkan mantra, namun bibir dan tangannya kaku.
“Resi...” suaranya tercekat, penuh kepanikan. “Saya... saya tidak bisa. Ayahku mengajarkan cara melepaskannya saat aku dalam bahaya, tapi dia tidak pernah mengajarkan cara menariknya kembali. Jiwaku tidak murni, aku tidak bisa mengendalikannya!”
Suasana menjadi tegang. Senjata Brahmashira milik Ashwatthama masih menyala ganas di langit, mencari mangsa. Senjata itu tidak bisa hilang begitu saja; ia harus menghancurkan target.
“Jika tidak ditarik, senjata itu akan menghancurkan kita semua di sini,” kata Kresna dingin.
Ashwatthama, yang menyadari bahwa ia tidak bisa membunuh Pandawa karena mereka dilindungi Kresna dan Vyasa, membiarkan kebenciannya mencari jalan lain. Akal sehatnya sudah hilang sepenuhnya.
“Baiklah!” teriak Ashwatthama dengan senyum gila. “Jika aku tidak bisa membunuh Pandawa, maka aku akan memutus garis keturunan mereka selamanya! Aku arahkan senjata ini ke rahim Uttara!”
Semua orang terbelalak kaget. Uttara adalah janda Abimanyu yang sedang berada di istana Hastinapura. Di dalam rahimnya, terdapat satu-satunya pewaris takhta Pandawa yang tersisa, bayi Parikesit.
Tanpa sempat dicegah, energi Brahmashira itu melesat berbelok arah, terbang menuju Hastinapura, menembus dinding istana, dan menghantam rahim Uttara. Ashwatthama tertawa puas, merasa telah memenangkan perang dengan cara yang paling licik.
Kresna, yang biasanya tenang dan penuh senyum, kini wajahnya berubah menjadi sangat menakutkan. Matanya memancarkan kemurkaan Dewa Wisnu. Ia melangkah maju mendekati Ashwatthama.
“Kau... makhluk paling rendah di antara manusia,” suara Kresna tenang namun bergetar oleh kekuatan yang mengerikan. “Kau berani menyerang janin yang belum lahir? Kau pikir kau berhasil?”
Kresna mengangkat tangannya ke arah Hastinapura. “Meskipun senjatamu membakar bayi itu menjadi arang, aku bersumpah atas kebenaranku, aku akan menghidupkannya kembali! Bayi itu akan lahir, hidup panjang, dan menjadi raja besar bernama Parikesit. Usahamu sia-sia, Ashwatthama.”
Kresna kemudian menunjuk wajah Ashwatthama.
“Dan untukmu, dengarkan hukumanmu. Karena kau tidak menghargai kehidupan dan membunuh anak-anak, kau akan dihukum dengan kehidupan yang lebih buruk dari kematian.”
Angin berhenti berhembus saat Kresna mengucapkan kutukannya.
“Selama 3.000 tahun, kau akan mengembara di muka bumi ini sendirian. Kau tidak akan pernah mati, tapi kau akan berharap untuk mati. Tubuhmu akan dipenuhi borok dan luka yang tak pernah kering, mengeluarkan bau busuk dan nanah darah. Setiap manusia yang melihatmu akan lari ketakutan. Kau tidak akan punya teman, tidak ada tempat berteduh, dan tidak ada yang mau berbicara denganmu. Kau akan hidup dalam kesepian selamanya, menanggung dosa-dosamu sampai akhir zaman ini!”
Tubuh Ashwatthama langsung terasa panas. Kulitnya mulai melepuh sesuai kutukan itu.
“Sekarang,” perintah Kresna, “serahkan permata di dahimu dan pergilah!”
Dengan tangan gemetar menahan sakit yang mulai menjalar, Ashwatthama mencungkil permata yang tertanam di dahinya. Darah mengucur deras dari luka menganga di keningnya luka yang dijanjikan Kresna tidak akan pernah sembuh.
Ashwatthama menyerahkan permata itu kepada Bima, lalu berbalik dan berjalan tertatih-tatih masuk ke dalam hutan yang gelap, memulai masa hukumannya yang panjang dan menyedihkan.
Pandawa kembali ke perkemahan dengan hati berat namun lega. Bima menyerahkan permata itu kepada Draupadi. Sang ratu menerimanya dengan air mata, lalu memberikannya kepada Yudhishthira untuk dipasang di mahkota raja. Dendam telah terbayar, namun luka di hati mereka tidak akan pernah benar-benar pulih. Di kejauhan, tangisan bayi Parikesit yang dihidupkan kembali oleh Kresna menjadi satu-satunya tanda harapan bagi masa depan dinasti Kuru.
Hastinapura diselimuti keheningan yang lebih mematikan daripada gemuruh perang. Para Pandawa tidak menemukan sukacita. Yang mereka rasakan hanyalah beban dosa dan rasa bersalah yang tak terucapkan. Tugas mereka kini bukan merayakan akhir perang, melainkan menghadapi mereka yang telah kehilangan segalanya.
Dhritarashtra, Raja yang kini kehilangan seratus putranya dan seluruh garis keturunannya, duduk di singgasananya, dikelilingi kegelapan : kegelapan matanya dan kegelapan jiwanya. Gandari, yang selama ini menahan diri dalam kesedihan, akhirnya harus menghadapi kenyataan yang ada di hadapannya.
Dipimpin oleh Yudhishthira, rombongan besar meninggalkan ibu kota menuju Kurukshetra. Rombongan itu terdiri dari para tetua Dhritarashtra dan Gandari yang berjalan saling berpegangan, Kunti yang berwajah pucat, dan ribuan wanita yang kini berstatus janda. Mereka adalah ibu, istri, dan anak perempuan dari para ksatria yang gugur, baik dari pihak Kuru maupun Pandawa. Mereka berjalan dalam keheningan yang hanya diselingi isak tangis tertahan.
Ketika mereka mendekati medan laga, aroma kematian yang pekat menusuk hidung. Aroma anyir darah yang telah mengering selama delapan belas hari, bercampur dengan bau bangkai yang membusuk, memenuhi udara. Pemandangan itu, meskipun tak dapat dilihat oleh mata Gandari, terukir jelas dalam penglihatan batinnya, yang jauh lebih mengerikan daripada pandangan matanya.
Kurukshetra kini adalah sebuah neraka yang nyata. Ribuan mayat tergeletak tanpa kehormatan, dicabik-cabik oleh burung pemakan bangkai dan serigala yang berkeliaran bebas. Panji-panji yang patah, kereta perang yang hancur, dan senjata-senjata yang berkarat berserakan di hamparan tanah merah. Ini bukanlah tanah kemenangan, melainkan kuburan peradaban.
Para wanita itu, ketika mengenali tubuh-tubuh yang mereka cintai, segera berubah menjadi lautan ratapan histeris. Mereka berlari dari satu mayat ke mayat lain, merangkul anggota tubuh yang terpisah, menciumi wajah dingin yang ditutupi debu dan darah. Tangisan mereka mengguncang langit, sebuah melodi pilu yang menjadi Peringatan bagi generasi ksatria yang hilang.
Kunti berjalan dengan langkah gemetar, mencari tubuh Karna. Ketika ia menemukannya, ia jatuh tersungkur. Putra yang ia lahirkan dan ia tolak itu kini terbujur kaku di hadapannya. Ia memeluk kepala Karna, air mata penyesalan mengalir tanpa henti penyesalan yang datang terlambat dan tak dapat ditebus.
Namun, tidak ada kesedihan yang sebanding dengan duka Gandari. Ia berjalan, dipandu oleh langkah Dhritarashtra yang lunglai, melintasi lapangan kematian. Meskipun matanya terikat, tangannya meraba-raba tanah, mencari seratus buah hatinya. Ia tidak butuh mata fisik untuk mengenali sisa-sisa Duryodhana, putranya yang arogan namun ia cintai sepenuh jiwa, yang tubuhnya kini terbaring dengan paha yang remuk tanda pembalasan Bima.
“Duryodhana!” gumamnya, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. Ia menyentuh dada sang putra sulung, merasakan dinginnya kematian. “Kau datang dari rahimku, kau tumbuh di pelukanku, dan kau terbaring di sini, ditinggalkan bahkan oleh para burung. Seratus putraku… seratus bintang dalam kegelapanku… kini telah menjadi debu,” ratapnya, air mata panas membasahi penutup matanya, seolah-olah berusaha membakar kain penahan penglihatan itu.
Gandari mulai meratapi satu per satu nama putranya, dari Dushasana yang dadanya dibelah oleh Bima, hingga Vikarna yang tewas membela kehormatan. Ratapannya bukan lagi sekadar kesedihan, melainkan sebuah manifestasi dari kekuatan spiritual yang terkumpul selama puluhan tahun pengorbanan diri.
Ketika ratapan mencapai puncaknya, Gandari mendongak, seolah-olah ia melihat segala-galanya dengan jelas. Matanya yang tertutup mengarah lurus ke sosok yang berdiri tenang di kejauhan: Basudewa Kresna.
Kresna, dengan senyum tipis dan penuh ketenangan, menyaksikan tragedi itu. Ia tahu perannya dalam skema besar ini, sebagai pengendali yang tak terlihat, sebagai Dharma itu sendiri yang kini telah menang, meskipun harus melalui pertumpahan darah.
Namun, bagi Gandari, Kresna bukanlah dewa yang adil, melainkan saksi bisu, bahkan penyebab utama dari kehancurannya. Jika dia adalah Dewa, mengapa dia membiarkan ini terjadi?
Dengan langkah mantap yang dipenuhi kemarahan yang membakar, Gandari menghampiri Kresna. Dhritarashtra berusaha menahannya, tetapi ia tak berdaya. Gandari berdiri di hadapan Sang Kusir kereta Arjuna itu, aura kemarahannya yang suci membuat udara di sekitar mereka bergetar.
“Kresna,” ucapnya dengan suara bergetar namun tegas, “engkau mengetahui segalanya. Engkau memiliki kuasa untuk mencegah kehancuran ini. Namun engkau membiarkannya terjadi. Engkau menyaksikan punahnya kaum Kuru tanpa menghentikannya.”
Krishna melangkah maju dan membungkuk hormat. “Wahai Ibu Ratu,” katanya tenang, “aku telah berulang kali mengupayakan perdamaian. Namun keserakahan dan keangkuhan telah menutup jalan itu. Buah karma tidak dapat dihapus, meski olehku.”
“Takdir?” seru Gandari, tertawa pahit. “Kau menyebut pembantaian seratus putraku ini sebagai takdir? Jika demikian, maka kau adalah takdir yang kejam! Kau adalah Dewa yang menolak untuk berbelas kasih. Kau telah membiarkan kehancuran menimpa seluruh bangsa ksatria di bumi ini.”
Duka Gandari berubah menjadi kemarahan.
“Jika demikian,” katanya, “dan engkau membiarkan kehancuran kaum Kuru terjadi di hadapanmu, maka biarlah kehancuran yang sama menimpa keturunanmu.”
Dengan kekuatan tapa yang ia kumpulkan sepanjang hidupnya, Gandari mengangkat tangannya dan mengucapkan kutukan:
“ Tiga puluh enam tahun dari sekarang, keturunanmu, klan Vrishni dan Yadu, akan punah. Mereka akan saling membunuh dengan cara yang sama mengerikannya seperti putra-putraku! Mereka akan mati dalam pertikaian saudara, mabuk oleh kesombongan mereka sendiri, persis seperti yang terjadi di Kurukshetra!”
Kresna mendengarkan kutukan itu dengan tenang, tanpa perlawanan, tanpa keraguan. Gandari memandangnya untuk terakhir kali. “Dan kau, Kresna,” lanjutnya dengan suara yang kini menjadi bisikan tajam, “kau akan menyaksikan kehancuran klanmu, dan kau akan mati dalam kesendirian, di tempat yang sunyi, tanpa seorang pun yang menemanimu.”
Kresna hanya tersenyum. Senyum itu mengandung penerimaan, kepastian, dan takdir yang lebih besar. “Begitulah kehendakmu, Ibu Ratu Gandari. Kutukanmu sungguh adil dan memang telah ditetapkan.”
Krishna mendengarkan kutukan itu tanpa gentar. Ia mengangguk perlahan.
“Demikianlah yang akan terjadi, Ibu Ratu,” jawabnya. “Apa yang kau ucapkan benar adanya, dan memang telah ditetapkan.”
Gandari menurunkan tangannya. Kutukan telah dilepaskan, dan kekuatan tapanya pun surut.
Demikianlah, kehancuran kaum Kuru ditutup oleh kutukan Gandari, dan kehancuran kaum Yadu pun telah ditetapkan. Setelah Dharma ditegakkan melalui peperangan, dunia masih harus menanggung akibatnya. Dan setelah semua itu berlalu, Krishna pun akan meninggalkan dunia manusia, sebagaimana avatara yang telah menyelesaikan tugasnya.
Kutukan Gandari menjadi gema terakhir dari kehancuran besar Kurukshetra. Perang memang telah usai, Dharma telah menang, tetapi luka yang ditinggalkan belum sembuh. Darah para ksatria masih terasa hangat di bumi, dan kepedihan masih tinggal di hati mereka yang selamat.
Hastinapura kini sunyi. Istana megah itu terasa kosong, seolah dipenuhi bayangan masa lalu. Di sana, Raja Dhritarashtra dan Ratu Gandari duduk dalam kesedihan yang dalam. Mereka kehilangan segalanya seratus putra, cucu, dan masa depan keluarga mereka. Tidak ada kemenangan yang bisa menghibur luka itu.
Kesedihan Dhritarashtra bukan sekadar duka. Ia bercampur penyesalan dan kebencian yang terpendam. Sebagai raja, ia menerima hasil perang. Namun sebagai ayah, ia tak sanggup menerima kenyataan bahwa putra-putranya tewas oleh saudara mereka sendiri.
Di antara semua Pandawa, satu nama terus membara di hatinya: Bima. Bima yang bersumpah menghancurkan Kuru. Bima yang meremukkan paha Duryodhana dan mengakhiri hidup putra sulungnya dengan cara paling memalukan bagi seorang ksatria.
Sementara itu, para Pandawa bersiap memasuki istana. Yudhistira memimpin mereka. Ia tahu, kemenangan tanpa perdamaian hanya akan melahirkan luka baru. Mereka datang bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai keluarga yang memohon maaf dan restu.
Namun, di antara kerumunan itu, terdapat Kresna, yang mata menembus semua tirai emosi dan niat tersembunyi. Kresna tidak pernah berhenti menjadi pelindung Dharma, dan saat ini, pelindung Bima. Ia tahu persis betapa besar api yang membara di dalam jiwa Raja Dhritarashtra. Meskipun buta secara fisik, Dhritarashtra dikenal memiliki kekuatan fisik yang luar biasa, dikuatkan oleh tapa dan, pada saat ini, oleh kemarahan yang tak terkendali. Kresna menyadari bahwa jika Dhritarashtra diberikan kesempatan sedetik saja untuk menyentuh Bima, Raja itu akan menggunakan kekuatan penuhnya untuk menghancurkan Bima dalam pelukan maut.
Karena itu, Kresna telah menyiapkan segalanya. Sebelum Pandawa masuk, sebuah patung besi raksasa yang menyerupai Bima dibawa ke aula dan diletakkan dekat singgasana. Patung itu ditutupi kain kerajaan, tampak seperti bagian dari hiasan istana.
Saat Pandawa memasuki aula, suasana menjadi mencekam. Sunyi, berat, hanya diisi oleh isak tangis samar Gandari yang duduk diam di sisi Dhritarashtra. Yudhistira segera bersimpuh di kaki pamannya.
“Ayahanda,” ujar Yudhistira dengan suara yang dipenuhi kesedihan yang tulus. “Hamba datang untuk memohon pengampunan. Hamba telah berbuat dosa besar, menyebabkan kematian begitu banyak anggota keluarga kita. Berkahilah kami, Ayahanda, agar kami dapat membersihkan hati dan mulai memulihkan kerajaan ini.”
Dhritarashtra, yang hatinya melembut sedikit oleh kerendahan hati Yudhistira, merangkulnya. Dhritarashtra mencintai Yudhistira, yang selalu lembut dan menghormati, dan Yudhistira tidak secara langsung bertanggung jawab atas kematian putra-putranya.
Setelah Yudhistira, giliran Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Mereka semua melewati momen yang tegang namun selamat, karena fokus utama kebencian Dhritarashtra tertuju pada sosok Bima.
Saat Bima melangkah maju, dadanya terasa berat. Ia tidak takut mati, tetapi takut menghadapi duka dan amarah seorang ayah yang kehilangan segalanya.
Dhritarashtra merasakan kedatangan Bima. Niat membunuh yang selama ini terpendam tiba-tiba muncul ke permukaan, membuat urat-urat di lehernya menegang, meskipun wajahnya tampak tenang dalam duka buta. “Oh, Bima!” seru Dhritarashtra, suaranya bergetar dengan campuran duka dan kemarahan. “Kau adalah putra yang paling kuat, yang telah mengakhiri garis keturunan seratus putraku. Datanglah, Anakku! Biarkan pamanmu yang malang ini memelukmu, untuk terakhir kalinya!”
Dhritarashtra membuka kedua tangannya lebar-lebar. Bima mulai melangkah maju, tetapi tepat pada detik itu, Kresna bergerak secepat kilat. Ia menahan Bima dengan isyarat mata yang tajam dan segera mendorong patung besi Bima yang berat itu ke depan Dhritarashtra. Kresna menyampirkan jubah di atas kepala patung itu agar sentuhan dingin logam tidak segera terdeteksi oleh Dhritarashtra yang buta.
Dhritarashtra, yang hanya dipandu oleh pendengaran dan kemarahan, menyangka bahwa Bima yang asli berada dalam jangkauannya. Ia tidak memeluk dengan kasih sayang, tetapi dengan seluruh kekuatan dan emosi yang telah ia kumpulkan selama ini. Kekuatan yang terlepas itu adalah kekuatan yang dapat meratakan gunung.
Patung besi itu menjerit. Bukan jeritan manusia, melainkan suara melengking logam yang bergesekan dan tertekan di luar batas daya tahannya. Dalam seketika, patung yang kokoh itu hancur berkeping-keping. Debu besi beterbangan, dan patung itu runtuh menjadi bongkahan-bongkahan yang tidak berbentuk di lantai.
Semua orang yang hadir terkesiap ngeri, terpaku melihat kekuatan Raja yang buta itu. Mereka menyaksikan kematian yang seolah-olah terjadi, dan keheningan menyelimuti aula, kecuali napas Dhritarashtra yang terengah - engah.
Dhritarashtra melepaskan bongkahan besi dari pelukannya, lalu berdiri terpaku, kelelahan, dan tiba-tiba diliputi penyesalan yang luar biasa. Ia mengira telah membunuh keponakannya sendiri, membunuh Bima dalam tindakan dendam yang keji di hadapan keluarga yang tersisa. Air mata duka dan penyesalan mengalir deras dari matanya yang buta.
Tangis penyesalan langsung pecah. “Aku telah melakukan dosa terbesar,” ratapnya. “Aku membunuh keponakanku sendiri! Dendam telah membutakanku!”
Saat Dhritarashtra menangis histeris, Kresna melangkah maju dengan tenang. Ia membiarkan Raja itu menghabiskan luapan emosi dan kemarahannya. Ketika Dhritarashtra sudah sedikit tenang, Kresna meletakkan tangan di bahunya.
“Raja yang Mulia,” ujar Kresna dengan suara lembut. “Hentikan ratapanmu. Bima masih hidup.”
Dhritarashtra mengangkat wajahnya, terkejut. “Apa katamu? Jangan mengujiku, Kresna!”
Dhritarashtra terkejut. Kresna lalu menunjuk bongkahan besi di lantai. “Yang Paduka hancurkan hanyalah patung besi. Aku tahu amarah Paduka tak dapat dibendung, maka aku mencegah dosa yang lebih besar.”
Dhritarashtra terdiam. Setelah beberapa saat, kesadaran membanjiri dirinya. Ia merasakan lega yang tak terhingga karena tidak benar-benar membunuh Bima, disusul rasa malu yang mendalam atas niat pembunuhannya yang terungkap.
Ia menyadari bahwa jika bukan karena campur tangan Kresna, ia akan menambah dosa lain dalam daftar panjang penderitaannya. Setelah amarah dan rasa malu itu berlalu, yang tersisa hanyalah kepasrahan. Dhritarashtra, yang kini benar-benar lemah, memberikan restu yang tulus kepada para Pandawa, menyambut Bima yang kini melangkah maju untuk memeluknya dengan hati-hati. Ia menerima nasibnya, meskipun rasa duka atas putra-putranya akan selamanya menyelimuti sisa hidupnya.
Hastinapura kini memiliki raja baru. Namun pemerintahan itu dimulai di bawah bayang-bayang masa lalu dan beban karma yang berat pengingat bahwa kemenangan terbesar pun selalu menyisakan harga yang mahal.
Udara di Hastinapura tidak lagi terasa segar. Wangi bunga dan dupa yang seharusnya menyambut kemenangan Pandawa justru tertutup oleh bau asap dan kesedihan. Yudistira memang sudah menjadi raja, tahta itu sudah kembali padanya. Tapi rasanya dingin dan sepi. Kemenangan ini terasa seperti luka yang perih, bukan hadiah yang indah.
Hal pertama yang harus mereka lakukan bukanlah mengadakan pesta, melainkan membersihkan diri. Membersihkan debu perang, membersihkan dosa, dan menenangkan jiwa mereka yang telah pergi. Maka, pergilah para Pandawa, Ibu Kunti, dan Drupadi ke tepi Sungai Gangga. Air sungai itu dipercaya bisa menghapus kesedihan dan dosa.
Mereka memulai ritual Tarpana, yaitu upacara mempersembahkan air genggaman tangan untuk para arwah. Air sungai terasa dingin di kaki mereka yang lelah. Yudistira berdiri paling depan. Bahunya tampak turun, seolah memikul beban berat yang tak terlihat mata.
Satu per satu nama disebut. Drona, guru mereka. Bhishma, kakek mereka. Abimanyu, anak kesayangan Arjuna. Setiap kali Yudistira menyiramkan air ke sungai, rasanya seperti ia sedang menangis, tapi air matanya sudah habis.
Setelah mendoakan keluarga dan teman sendiri, mereka mendoakan pihak musuh, para Kurawa. Nama Duryodhana dan adik-adiknya disebut. Dulu mereka memang saling membenci, tapi sekarang kematian sudah menghapus rasa benci itu. Mereka tetaplah saudara sepupu yang berhak mendapatkan doa.
Kunti berdiri agak di belakang. Wajahnya pucat dan sedih. Ia menatap Yudistira dengan perasaan bersalah yang luar biasa. Ia menyimpan sebuah rahasia besar rahasia yang seandainya ia bongkar lebih dulu, mungkin perang mengerikan ini tidak perlu terjadi.
Saat ritual hampir selesai, Yudistira mengangkat cawan air terakhirnya. Ini untuk mendoakan para prajurit tanpa nama yang gugur di medan perang. Namun, tiba-tiba terdengar suara Kunti menghentikannya.
“Tunggu, Nak.”
Suara itu terdengar rapuh dan bergetar. Semua orang menoleh. Yudistira menurunkan tangannya. Kunti melangkah maju dengan berat.
“Masih ada satu orang lagi yang belum kau sebut namanya,” bisik Kunti pelan, tapi cukup jelas terdengar di tengah kesunyian sungai. “Ada satu ksatria lagi yang harus kau doakan, Yudistira.”
Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa saling pandang bingung. Siapa lagi? Bukankah semua keluarga sudah disebut?
Kunti menatap air sungai yang mengalir deras, membayangkan masa lalunya. Air matanya mulai menetes.
“Karna,” ucap Kunti.
Satu nama itu membuat suasana menjadi tegang. Yudistira terkejut. Bima dan Arjuna mengerutkan kening. Karna adalah musuh terbesar mereka. Mengapa dia harus didoakan secara khusus?
“Ibu… kenapa Karna?” tanya Yudistira heran. “Kami sudah mendoakan semua musuh. Karna sudah termasuk di dalamnya. Kenapa aku harus memberinya persembahan khusus?”
Tangis Kunti pecah. Ia tidak kuat lagi menahan beban ini. Tubuhnya merosot duduk di tanah berlumpur.
“Bukan sebagai musuh, Nak,” isak Kunti. “Tapi sebagai kakak sulungmu. Dia adalah kakak kandungmu sendiri, Yudistira. Dia adalah kakak tertua kalian berlima!”
Suasana hening seketika. Rasanya seperti waktu berhenti berputar. Namun, di dalam kepala para Pandawa, suasana justru menjadi sangat bising. Ingatan mereka melayang mundur, kembali ke tengah debu dan darah di padang Kurukshetra. Tiba-tiba, potongan-potongan kejadian aneh selama perang itu menjadi masuk akal.
Bima, yang badannya paling besar namun hatinya kini terasa paling kecil, gemetar hebat. Ia teringat kejadian beberapa hari lalu. Saat itu, ia sudah kalah dan terkapar di hadapan kereta perang Karna. Ujung panah Karna sudah mengarah padanya. Tapi apa yang dilakukan Karna? Ia hanya memukul pelan kepala Bima dengan ujung busurnya dan mengejeknya.
Dulu, Bima mengira itu penghinaan. Sekarang ia sadar, Karna tidak membunuhnya karena Karna tidak sanggup membunuh adiknya sendiri. Ejekan itu hanyalah alasan agar Bima pergi menjauh dan selamat.
Nakula dan Sadewa pun saling berpegangan tangan, wajah mereka pucat pasi. Mereka ingat saat pedang Karna sudah berada di leher mereka. Karna bisa saja menghabisi si kembar dalam satu kedipan mata. Tapi Karna justru menurunkan pedangnya dan membiarkan mereka pergi. Mereka selamat karena belas kasih musuh yang ternyata adalah darah daging mereka sendiri.
Namun, hantamam yang paling keras dirasakan oleh Arjuna.
Sang Pahlawan Pemanah itu menatap kedua tangannya sendiri dengan tatapan ngeri. Tangan yang sama yang menarik tali busur Gandiva. Tangan yang sama yang melepaskan panah Anjalika yang memenggal leher Karna.
Ingatannya berputar kembali ke momen fatal itu. Ia ingat Karna yang sedang tak berdaya, turun dari kereta untuk mengangkat roda yang terperosok lumpur. Ia ingat Karna berteriak meminta keadilan, "Jangan bunuh aku saat aku tak bersenjata!"
Dan apa yang Arjuna lakukan? Didorong oleh perintah Krishna, ia tetap melepaskan panah itu. Ia membunuh kakaknya sendiri yang sedang tidak memegang senjata.
“Aku membunuhnya...” bisik Arjuna, suaranya gemetar, kakinya lemas hingga ia jatuh berlutut. “Dia mengampuni nyawa Bima, Nakula, dan Sadewa... Tapi aku? Aku justru membunuhnya saat dia sedang membetulkan rodanya...”
Rasa bangga atas kemenangannya seketika berubah menjadi racun. Gelar ksatria terbaik terasa seperti ejekan. Tidak ada kemenangan dalam membunuh kakak kandung. Yang ada hanyalah noda darah abadi yang tidak akan pernah bisa dicuci oleh air Sungai Gangga sekalipun.
Melihat kehancuran di wajah anak-anaknya, Kunti menambahkan dengan suara lirih, “Sebelum perang, aku menemuinya. Aku memohon padanya untuk kembali. Tapi dia menolak karena kesetiaannya pada Duryodhana. Namun, dia berjanji satu hal padaku...”
Kunti menelan ludah, suaranya tercekat.
“Dia berjanji tidak akan membunuh kalian berempat. Dia berkata, 'Anakmu akan tetap berjumlah lima, Ibu. Jika aku membunuh Arjuna, maka aku yang hidup bersama empat saudaraku. Jika Arjuna membunuhku, maka kelima Pandawa tetap utuh.' Dia memilih untuk mati di tangan adiknya, daripada membunuh adik-adiknya.”
Mendengar itu, pertahanan Yudistira runtuh sepenuhnya.
Mereka baru sadar bahwa kemenangan mereka bukanlah karena kehebatan strategi perang semata. Mereka masih bernapas hari ini semata-mata karena Karna telah menjaga nyawa mereka diam-diam. Kakak yang mereka benci, kakak yang mereka hina sebagai anak kusir, ternyata telah menjadi pelindung mereka di medan perang.
Yudistira tidak berteriak marah-marah, tapi suaranya berubah menjadi dingin dan menakutkan, matanya menatap tajam ke arah ibunya.
“Kapan?” tanya Yudistira. “Kapan Ibu memutuskan untuk menceritakan ini? Setelah dia mati? Setelah kami membunuhnya? Setelah kami berdosa besar karena membunuh kakak sendiri?”
Kunti memohon ampun, “Itu dosa masa mudaku, Nak. Aku malu. Aku takut…”
“Malu?” potong Yudistira, suaranya meninggi. “Rasa malu Ibu itu telah menyebabkan perang besar! Jika kami tahu Karna adalah kakak kami, kami akan memberikan tahta ini padanya dengan senang hati! Tidak akan ada perang, tidak akan ada darah yang tumpah! Kami membunuh saudara kami sendiri demi kerajaan yang sebenarnya adalah hak miliknya!”
Hati Yudistira yang lembut kini terbakar amarah dan penyesalan. Ia merasa dibohongi oleh wanita yang paling ia hormati. Dalam puncak kemarahannya, Yudistira berdiri tegak, menatap ibunya dan seluruh wanita yang ada di sana.
“Karena rahasia yang disimpan Ibu telah menghancurkan duniaku,” ucap Yudistira dengan suara lantang yang menggelegar, “Maka mulai hari ini, aku mengutuk seluruh kaum wanita di dunia! Tidak akan ada wanita yang mampu menyimpan rahasia lagi! Apapun rahasianya, mulut mereka akan menceritakannya! Dunia tidak boleh lagi hancur hanya karena seorang wanita menyembunyikan kebenaran!”
Kunti menangis tersedu-sedu mendengar kutukan putranya sendiri. Burung-burung terbang menjauh karena takut mendengar suara sang Raja Dharma yang murka.
Setelah emosinya keluar, tenaga Yudistira habis. Ia duduk lemas di tepi sungai. Dengan tangan gemetar, ia mengambil air sungai Gangga lagi. Kali ini, ia menyebut nama itu dengan penuh hormat dan kasih sayang.
“Untukmu, Karna, putra Kunti, kakak sulungku. Maafkan kami. Semoga jiwamu tenang.”
Air itu tumpah ke sungai. Akhirnya, Karna diakui sebagai saudara.
Beberapa hari kemudian, pekerjaan berat lainnya dimulai. Padang Kurukshetra harus dibersihkan. Ribuan mayat prajurit yang gugur harus dikremasi atau dibakar secara layak.
Di padang luas yang dulunya tempat perang itu, kini dibangun ribuan tumpukan kayu bakar. Pandawa memimpin upacara itu. Mereka tidak lagi membedakan mana kawan mana lawan. Semua jenazah diperlakukan hormat.
Drona, Bhishma, bahkan Duryodhana, semua mendapat upacara yang layak. Dan tentu saja, jenazah Karna dibakar dengan upacara khusus yang dipimpin langsung oleh adik-adiknya yang baru ia miliki setelah ia mati.
Api pemakaman menyala di mana-mana, menerangi langit sore hingga malam hari. Asap membubung tinggi, membawa pergi arwah-arwah para ksatria.
Yudistira menatap api itu dengan tatapan kosong. Perang sudah selesai. Musuh sudah habis. Ia adalah Raja sekarang. Tapi hatinya terasa berat. Ia sadar, mahkota yang ia pakai sekarang dibayar dengan darah saudaranya sendiri. Era baru telah dimulai, tapi dimulai dengan air mata dan penyesalan yang tak akan pernah hilang.
Comments
Post a Comment