Kaliyuga
#01. Api Brahmastra di Rahim Sang Pewaris
Perang Bharatayuddha telah usai, namun darah masih belum kering. Tragedi susulan terjadi di malam buta ketika Aswatama, putra Drona, menyusup ke kemah Pandawa dan membantai kelima putra Drupadi serta sisa pasukan yang sedang tertidur lelap. Ia melampiaskan dendamnya dengan cara yang sangat keji, lalu melarikan diri karena takut akan pembalasan Pandawa.
Kabar pembantaian itu sampai ke telinga Pandawa. Drupadi menangis histeris dan menuntut keadilan. Bima, dengan amarah yang meledak-ledak, segera memacu keretanya untuk mengejar Aswatama. Arjuna dan Krishna segera menyusul Bima untuk melindunginya, karena mereka tahu Aswatama memiliki kekuatan tersembunyi yang berbahaya.
Jejak roda kereta Aswatama membawa mereka ke tepi Sungai Gangga. Di sana, di dekat asrama Rsi Vyasa, Aswatama sedang duduk bersembunyi Ia tampak gelisah dan ketakutan.
Ketika Aswatama melihat Bima datang dengan gada terhunus, diikuti oleh Arjuna dan Krishna, ia sadar bahwa nyawanya ada di ujung tanduk. Ia tidak mungkin menang melawan mereka dalam pertarungan biasa karena tenaganya sudah habis dan senjatanya sudah rusak.
Dalam kepanikan dan keputusasaan karena terdesak, Aswatama teringat pada satu-satunya senjata pamungkas yang diajarkan ayahnya: Brahmastra. Namun, Drona pernah mengajarkan cara memanggilnya, tetapi belum sempat mengajarkan cara menariknya kembali.
Karena merasa tidak ada jalan keluar, Aswatama mengambil sehelai rumput ilalang (ishika). Dengan konsentrasi penuh dan hati yang dipenuhi niat jahat, ia merapalkan mantra terlarang untuk mengubah rumput itu menjadi senjata pemusnah massal.
"Demi kemusnahan Pandawa!" teriak Aswatama sambil melemparkan rumput itu.
Seketika, rumput itu berubah menjadi energi api yang mengerikan, berkobar dengan lidah api yang menjilat langit, siap melahap kelima Pandawa.
Melihat bahaya yang mengancam nyawa saudara-saudaranya, Krishna segera memperingatkan Arjuna. "Arjuna! Gunakan senjata surgawimu untuk menahan senjata itu! Tidak ada senjata lain yang bisa menandingi Brahmastra selain Brahmastra itu sendiri!"
Arjuna, yang taat dan disiplin, segera turun dari kereta. Ia mengambil air untuk bersuci, lalu merapalkan mantra dengan niat yang suci.
"Biarlah senjataku menetralkan senjata Aswatama. Semoga guru putra (Aswatama) selamat, dan semoga kami pun selamat," doa Arjuna. Ia tidak berniat menghancurkan, hanya bertahan.
Dua kekuatan dahsyat itu bertemu di angkasa. Langit seolah terbelah. Petir menyambar-nyambar, gunung-gunung berguncang, dan lautan mendidih. Seluruh makhluk hidup di bumi gemetar ketakutan. Panas yang dihasilkan dari benturan dua senjata itu mengancam akan membakar seluruh alam semesta menjadi abu.
Melihat kehancuran dunia di depan mata, dua orang suci tiba-tiba muncul di antara kedua bola api raksasa itu. Mereka adalah Rsi Vyasa (kakek para Pandawa) dan Rsi Narada (resi surgawi).
Dengan kekuatan spiritual mereka, kedua Resi itu menahan ledakan tersebut. "Hentikan!" seru Rsi Narada. "Para ksatria terdahulu yang lebih hebat dari kalian pun tidak pernah berani mengadu dua Brahmastra seperti ini. Jika kedua senjata ini meledak bersamaan, hujan tidak akan turun selama dua belas tahun, dan seluruh kehidupan akan musnah. Tarik kembali senjata kalian!"
Arjuna, yang memiliki jiwa ksatria sejati dan dengan disiplin tinggi, segera mematuhi perintah itu. Ia mengucupkan tangannya, memanggil kembali energi senjatanya. Perlahan, api dari pihak Arjuna menyusut dan kembali masuk ke dalam dirinya. Ini adalah kemampuan luar biasa yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang sangat suci.
Lalu pandangan semua orang beralih ke Aswatama.
Aswatama gemetar. Keringat dingin mengucur di dahinya. Ia mencoba merapalkan mantra penarik.
"Aku... aku tidak bisa menariknya kembali," aku Aswatama dengan suara parau. "Senjata ini sudah terlanjur keluar."
Rsi Vyasa menatapnya tajam. "Kalau begitu, arahkan ke tempat lain! Jangan biarkan mengenai Pandawa!"
Namun, kebencian Aswatama terhadap Pandawa begitu mendarah daging. Karena ia tidak bisa membunuh Pandawa (Bima dan Arjuna) yang berdiri di depannya, pikirannya melayang pada satu-satunya penerus Pandawa yang tersisa.
"Baiklah," kata Aswatama dengan senyum licik. "Aku tidak akan membunuh kalian. Tapi aku akan memutus garis keturunan kalian selamanya. Senjata ini akan aku arahkan ke rahim Uttara, istri Abhimanyu!"
Tanpa bisa dicegah, Aswatama membelokkan bola api raksasa itu. Energi mematikan itu melesat terbang meninggalkan tepi Sungai Gangga, menuju istana Hastinapura, langsung mengincar janin yang belum lahir.
Pandawa terkesiap. Mereka selamat, tapi masa depan mereka terancam punah. Krishna, yang sejak tadi diam mengamati, kini melangkah maju dengan wajah merah padam karena murka.
"Engkau sungguh pengecut, Aswatama!" seru Krishna. "Engkau menyerang bayi yang belum lahir? Dengarlah sumpah-Ku. Biarkan senjatamu itu jatuh menimpa janin itu. Tapi ketahuilah, bayi itu tidak akan mati! Aku sendiri yang akan melindunginya!"
Sementara senjata itu meluncur ke Hastinapura, Krishna menggunakan kekuatan Yoga Maya-Nya.
Di istana, Uttara yang sedang hamil tua tiba-tiba menjerit kepanasan. Ia berlari keluar mencari perlindungan, merasa perutnya seperti terbakar bara api.
Pada detik yang kritis itu, Krishna tidak perlu terbang secara fisik ke Hastinapura. Dia masuk ke dalam rahim Uttara dalam wujud rohani.
Di dalam rahim, janin kecil itu melihat api Brahmastra datang seperti meteor. Namun tiba-tiba, muncul sosok bercahaya seukuran ibu jari (Angustha Matra). Sosok itu berkulit gelap manis seperti awan hujan, mengenakan jubah kuning, dan memegang Gada yang berpijar.
Krishna memutar Gada-Nya dengan kecepatan kilat, menciptakan perisai energi di sekeliling janin. Gada itu memukul dan menyerap panas Brahmastra. Api yang seharusnya menghanguskan janin itu menjadi abu, berhasil dinetralkan sepenuhnya.
Janin itu selamat. Ia menatap sosok mungil bercahaya itu dengan penuh rasa takjub, merekam wajah Penyelamat-nya dalam ingatannya.
Kembali di tepi Gangga, Krishna mengumumkan bahwa bayi itu telah selamat.
"Bayi itu akan hidup panjang umur dan menjadi raja besar bernama Parikshit," kata Krishna kepada Aswatama. "Sedangkan engkau, Aswatama, karena tindakan kejimu membunuh anak-anak yang sedang tidur dan mencoba membunuh janin, engkau akan menerima hukuman."
Krishna mengutuk Aswatama: "Engkau akan hidup sendirian di bumi ini selama 3.000 tahun. Tubuhmu akan dipenuhi luka borok yang tidak pernah kering dan mengeluarkan bau busuk. Engkau tidak akan bisa berbicara dengan siapa pun, dan tidak akan ada yang sudi menolongmu. Engkau akan memohon kematian, tapi kematian tidak akan datang menjemputmu."
Bima kemudian merampas permata yang ada di dahi Aswatama, sumber kekuatan magisnya, dan menyerahkannya kepada Drupadi. Aswatama pun pergi tertatih-tatih ke dalam hutan, membawa dosa dan kesendiriannya yang abadi.
Begitulah kisah itu tertulis. Meskipun Aswatama dan Arjuna sama-sama mengeluarkan senjata pemusnah di tepi Gangga, hanya ketulusan dan kesucianlah yang mampu mengendalikannya. Dan di atas segalanya, perlindungan Krishna memastikan bahwa harapan (Parikshit) selalu selamat dari dendam yang paling membara sekalipun.
#02. Lahirnya Sang Wisnurata: Harapan Terakhir Wangsa Kuru
Senja itu, langit Hastinapura menggantung rendah, warnanya sekelabu abu sisa upacara Antyesti (pembakaran jenazah) yang belum lama berlalu. Tanah Kurukshetra telah kenyang meminum darah para ksatria, namun duka di istana belum juga surut. Harapan terakhir Dinasti Kuru kini bertumpu pada rahim Uttara, putri Raja Wirata, janda dari sang pahlawan muda Abhimanyu.
Di dalam bilik keputren yang sunyi, para dhatri (inang pengasuh) dan dayang istana menahan napas. Sri Kresna berdiri di ambang pintu, wajahnya tenang laksana permukaan telaga, namun matanya menyimpan kedalaman samudra. Di sampingnya, Yudhistira dan para Pandawa menanti dengan hati bergetar. Mereka tahu, janin itu telah disentuh oleh senjata terlarang Brahmashirsha milik Aswatama.
Keheningan pecah bukan oleh tangis bayi, melainkan oleh jeritan pilu seorang inang sepuh. Dengan tangan gemetar, ia menyerahkan buntalan kain sutra kepada Yudhistira. Sang Raja Dharma menerima cucunya, namun seketika wajahnya memucat.
Di dalam kain itu, terbaring sesosok bayi laki-laki yang diam tak bergerak. Kulitnya legam bagai arang, kaku dan dingin, seolah hawa panas tak kasat mata telah menghanguskan sukma kehidupannya sejak dari dalam kandungan.
“Wahai Dewata.. inikah akhir wangsa kami?” bisik Yudhistira, suaranya parau tertahan. “Bahkan benih yang suci pun tak luput dari keganasan senjata itu.”
Uttara, yang masih lemah di peraduannya, melihat putranya yang tak bernyawa. Ratapannya menyayat hati, menembus dinding-dinding istana. “Govinda!” serunya kepada Kresna. “Paduka pernah berjanji! Paduka adalah pelindung kami di tengah kegelapan. Paduka bersabda bahwa benih di rahimku akan hidup meski api Aswatama membakar segalanya. Jika sabda-Mu hampa, untuk apa hamba melanjutkan hidup?”
Sri Kresna melangkah maju. Wibawanya memancar, meredupkan cahaya pelita di ruangan itu. Ia menatap Yudhistira, Arjuna, dan Uttara dengan penuh kasih.
“Dengarkanlah Aku, wahai putri Wirata,” sabda Kresna, suaranya bergema lembut namun tegas. “Senjata Brahmashirsha memang tak pernah gagal membakar sasarannya. Namun, Dharma jauh lebih kekal daripada senjata manapun. Aku akan membalikkan takdir ini. Saksikanlah daya Satya Kriya kekuatan kebenaran yang Aku miliki.”
Kresna mengambil bayi yang kaku itu, meletakkannya di pangkuannya. Ia tidak merapal mantra sihir, melainkan memusatkan cipta dalam hening. Ia menyentuh dada bayi itu dengan ujung jarinya.
“Aku bersumpah demi Kebenaran,” ucap Kresna, getaran suaranya seolah menggerakkan alam semesta. “Jika Aku tidak pernah berpaling dari Dharma; jika Aku tidak pernah lari dari pertempuran demi menegakkan keadilan; jika sabda dan laku-Ku selaras dalam kesucian... maka, demi kekuatan Kebenaran ini, kembalilah prana (napas kehidupan) ke dalam raga anak ini! Hiduplah, wahai putra Abhimanyu!”
Seketika, cahaya keemasan meliputi tubuh sang bayi. Warna legam pada kulitnya memudar, berganti rona merah kehidupan. Kehangatan menjalar. Dada mungil itu berdenyut, diikuti sebuah tarikan napas panjang dan tangisan keras yang terdengar bagai sangkakala kemenangan.
Bayi itu hidup.
Sukacita meledak di ruangan itu. Setelah tangisnya reda, bayi itu membuka mata. Anehnya, pandangannya tidak kosong. Bola matanya bergerak lincah menatap wajah-wajah di sekelilingnya Yudhistira, Bima, Arjuna, hingga ibunya sendiri dengan sorot menyelidik yang tajam.
“Lihatlah, Govinda,” ujar Arjuna takjub. “Ia menatap kami seolah sedang mencari seseorang.”
Kresna tersenyum. “Benar, Arjuna. Saat api senjata Aswatama mengurungnya di dalam rahim, ia melihat Wujud-Ku yang meliputi dan melindunginya. Kini, setelah lahir ke dunia fana, ia mengamati dan menguji (Pariksha) setiap wajah yang ia temui: 'Apakah ini sosok bercahaya yang menyelamatkanku dulu?' Karena ia terus menguji, maka nama anak ini adalah Parikesit.”
Tak lama kemudian, masuklah Resi Domya, kulaguru (pendeta agung) para Pandawa, untuk melakukan upacara penyucian kelahiran. Setelah mengamati tanda-tanda pada tubuh sang bayi dan menghitung letak bintang-bintang, sang Resi bersujud hormat ke arah Kresna sebelum berpaling kepada Yudhistira.
“Wahai Maharaja,” sabda Resi Domya dengan wajah berseri. “Cucu Paduka ini sejatinya memiliki nama lain yang agung. Karena nyawanya dikembalikan langsung oleh Sang Narayana, dan karena ia adalah pemberian Dewa Wisnu saat wangsa ini nyaris musnah, maka ia pun bergelar Wisnurata (Pemberian Wisnu/Dilindungi Wisnu).”
Sang Resi kemudian membacakan suratan takdir sang bayi di hadapan keluarga Pandawa:
“Kelak, anak ini akan menjadi pemuja Wisnu yang taat. Ia akan memegang teguh Dharma dan kebenaran, persis seperti Maharaja Yudhistira. Ia akan menjadi ksatria panutan yang tangguh dalam olah senjata, mewarisi kehebatan kakeknya, Arjuna. Kebijaksanaannya dalam memimpin rakyat akan setara dengan Prabu Ikswaku dan Sri Rama dari Ayodhya. Dialah Wisnurata, dialah Parikesit, sang pelita yang akan menerangi Dinasti Kuru menuju zaman baru.”
Dengan lahirnya Parikshit, harapan terakhir Dinasti Kuru diselamatkan. Sang bayi, satu-satunya yang selamat dari amukan Brahmashirsha, kini akan menjadi saksi dari awal zaman baru, era kekuasaan Yudhistira yang damai, sekaligus gerbang menuju Kali Yuga yang perlahan mendekat.
#03. Sang Penguji di Ambang Zaman
Udara di Hastinapura terasa pekat oleh keheningan yang berbeda dari kedamaian palsu di masa peperangan. Tiga puluh enam tahun telah berlalu sejak perang agung Kurukshetra berakhir, dan tiga puluh enam tahun pula sejak Dharmaraja Yudhistira memegang tampuk pemerintahan. Namun, kedamaian itu kini retak. Berita kehancuran klan Yadawa di Prabhasatirtha telah menyebar seperti kabut duka, menandai bahwa Sri Krishna telah meninggalkan raga fananya, dan roda waktu kini berputar memasuki era kegelapan.
Yudhistira, dengan rambut yang memutih dan mata yang sarat kebijaksanaan namun redup oleh kesedihan, duduk di balairung yang megah. Di hadapannya berkumpul saudara-saudaranya, para menteri, dan sisa-sisa ksatria Kuru.
"Dharma telah terpenuhi, saudara-saudaraku," suara Yudhistira menggema lembut. "Kita telah menuntun zaman ini sesuai kehendak Yang Maha Abadi. Kini, waktunya telah tiba bagi kami untuk melepaskan segala ikatan duniawi. Jalan menuju puncak Himawan memanggil kami."
Pandangan Yudhistira beralih kepada dua sosok pemuda dan seorang tetua di hadapannya.
"Vajra," panggil Yudhistira kepada pemuda yang satu, satu-satunya penerus darah Yadawa yang tersisa. "Engkau adalah sisa dari kemuliaan Dwaraka. Pergilah ke Indraprastha. Aku menobatkanmu sebagai Raja di sana. Jaga warisan leluhurmu dan lindungi rakyat di tanah itu."
Kemudian, Yudhistira menatap Parikshit yang berdiri tegar. "Dan engkau, Parikshit, anugerah terakhir Dinasti Kuru. Engkau yang diselamatkan oleh anugerah Ilahi di dalam rahim ibumu dari senjata Brahmastra yang mematikan. Kini engkau harus memikul beban Hastinapura."
Namun Yudhistira tahu, Parikshit masih memerlukan sandaran kebijaksanaan lama. Ia menoleh kepada Yuyutsu, satu-satunya putra Dhritarashtra yang selamat dari perang karena memihak Dharma.
"Saudaraku Yuyutsu, engkau adalah tetua di istana ini sekarang," ucap Yudhistira penuh hormat. "Bantulah Parikshit. Jadilah matanya dalam melihat kelicikan politik dan jadilah perisainya dalam menjaga tata negara. Aku serahkan kerajaan ini di bawah perlindunganmu hingga Parikshit benar-benar matang."
Parikshit berlutut menerima mandat itu. "Hamba akan menjalankan kehendak para leluhur, Kakek. Namun, ajaran apakah yang harus hamba pegang teguh saat gerbang zaman yang lebih gelap ini mulai terbuka?"
"Kebenaran (Satya), anakku. Dan kesabaran. Kau dididik oleh Resi Agung Kripacharya dalam ilmu senjata, dan dijaga oleh Yuyutsu dalam ilmu negara. Jangan pernah menyimpang dari jalan para Raja Rajarshi."
Maka, Yudhistira melepaskan mahkota emas berlian Hastinapura dan mengenakannya di kepala cucunya. Penobatan itu bukan sekadar upacara, melainkan pengalihan beban spiritual. Tak lama setelah itu, lima Pandawa bersama Drupadi melepas pakaian sutra mereka, mengenakan kulit kayu, dan memulai perjalanan besar Mahaprasthanika, meninggalkan takhta yang telah mereka perjuangkan dengan darah dan air mata.
Di bawah bimbingan Kripacharya, Parikshit menjalani pelatihan yang keras selayaknya ksatria zaman dahulu.
Di lapangan latihan, Kripacharya tidak menguji Parikshit dengan pertarungan tangan kosong yang kasar, melainkan dengan ujian ketangkasan senjata yang mematikan. Sang Guru melepaskan seratus anak panah tumpul secara bersamaan dari busurnya, menciptakan hujan kayu yang menggelapkan langit.
Parikshit tidak mundur. Dengan ketenangan seorang Maharathi, ia menarik busurnya. Tangannya bergerak secepat pikiran, tak terlihat oleh mata biasa. Ting! Ting! Ting! Suara logam beradu dengan kayu terdengar berirama. Setiap anak panah Kripacharya rontok di udara, terbelah tepat di tengahnya sebelum sempat menyentuh tanah.
"Bagus," seru Kripacharya, lalu ia mengangkat gada besarnya. "Sekarang buktikan kekuatan Bima ada padamu!"
Parikshit membuang busurnya dan menyambar gada besi. Ketika Kripacharya mengayunkan gada dengan kekuatan yang bisa meremukkan batu karang, Parikshit tidak menangkisnya secara kaku. Ia memutar tubuhnya laksana gasing, membiarkan momentum serangan lawan lewat, lalu menghantamkan gadanya sendiri ke tanah—menciptakan gelombang kejut yang membuat debu beterbangan membutakan pandangan. Di tengah debu itu, ujung pedang Parikshit sudah berhenti tepat satu inchi di leher Sang Guru.
Kecepatan Arjuna, kekuatan Bima, dan ketenangan Yudhistira menyatu dalam dirinya.
Di masa pemerintahannya, Parikshit membuktikan dirinya sebagai Raja yang adil. Kerajaan mencapai kemakmuran, dan orang-orang hidup tanpa rasa takut. Sang Raja menjalankan ritual Agnihotra dan tiga kali persembahan kuda Ashwamedha di tepi sungai Gangga, memastikan Dewa-Dewa tetap memberkati bumi yang mulai menua.
Untuk memperkuat garis keturunan, Parikshit menikahi Iravati, putri dari Raja Uttara (saudara ibunya) dari Kerajaan Matsya. Dari perkawinan mereka lahirlah empat putra yang perkasa, dengan yang tertua bernama Janamejaya.
Sang Raja, dengan ketenangan seorang bijak dan kekuatan seorang prajurit, berdiri sebagai benteng terakhir Dharma. Namun, meski Parikshit adalah benteng yang kokoh, di luar gerbang kerajaan, bayangan Kali Yuga zaman pertengkaran dan kemunafikan terus bergerak mendekat dalam wujud banteng yang terluka, menunggu momen kelengahan sang pewaris tahta Kuru.
Setelah masa agung para Pandawa, Raja Parikshit, putra Abhimanyu, memimpin kerajaan Kuru dengan kebajikan yang tak tergoyahkan. Ia adalah penjaga terakhir dari Dwapara Yuga, masa ketika Dharma masih berdiri tegak meski mulai rapuh. Sebagai raja yang hidup menurut ajaran Veda, Parikshit kerap meninggalkan istana Hastinapura untuk berkeliling negerinya, memastikan bahwa keadilan dan perlindungan hukum menjangkau seluruh rakyat tanpa kecuali.
Pada suatu hari, saat ia melakukan perjalanan di wilayah yang dilalui sungai Sarasvati yang mulai menyusut, pandangannya tertumbuk pada pemandangan yang mengguncang batinnya. Di hadapannya berdiri seekor banteng putih, agung namun terluka parah. Dahulu banteng itu berdiri kokoh di atas empat kaki Tapas (pengendalian diri), Śauca (kesucian), Dayā (belas kasih), dan Satya (kebenaran). Kini tiga kakinya telah patah; ia hanya bertahan pada satu kaki terakhir: Satya. Tubuhnya gemetar, napasnya berat, dan sorot matanya memancarkan penderitaan mendalam.
Di dekat banteng itu berdiri seekor sapi kurus dan pucat, melambangkan Bhūmi, Ibu Pertiwi. Ia tampak menangis pilu, seolah bumi sendiri meratap menyaksikan keruntuhan kebajikan.
Di hadapan mereka berdiri seorang pria berkulit gelap, mengenakan pakaian seorang raja palsu mahkota yang tak layak dan jubah yang lusuh. Tangannya menggenggam gada besi, dengan gada itu ia telah memukuli banteng Dharma tanpa belas kasihan.
Melihat semua itu, amarah Parikshit bangkit seketika. Ia adalah raja yang lembut terhadap yang lemah, namun tak mengenal kompromi terhadap adharma. Dengan gerakan cepat, ia mencabut pedang Kshatriya-nya, senjata lambang keadilan kerajaan, dan maju menghadapi si pelaku.
“Siapakah engkau,” seru Parikshit dengan suara menggelegar, “yang berani menyakiti banteng suci Dharma dan menyiksa Ibu Pertiwi di wilayah kekuasaanku? Engkau berpakaian seperti raja, namun perbuatanmu lebih hina dari perampok jalanan. Bersiaplah menerima hukuman mati.”
Melihat pedang raja terangkat, pria itu gemetar hebat. Kesombongan lenyap seketika. Ia menjatuhkan gadanya, lalu tersungkur ke tanah, bersujud di hadapan Parikshit.
“Ampuni hamba, wahai Raja,” katanya dengan suara bergetar. “Hamba adalah Kali, perwujudan Zaman Kegelapan. Sesuai takdir, hamba harus berkuasa setelah Dwapara berakhir. Hamba tak memiliki tempat lain untuk berdiam. Hamba berlindung di bawah perlindungan Paduka.”
Parikshit berdiri tegak, pedangnya masih terhunus. Amarahnya belum padam, namun ia terikat oleh hukum Dharma yang lebih tinggi. Seorang Kshatriya tidak boleh membunuh makhluk yang telah berserah dan memohon perlindungan, meskipun makhluk itu adalah sumber kehancuran dunia.
“Engkau selamat bukan karena kelayakanmu,” ujar Parikshit dingin, “melainkan karena hukum Dharma yang masih tersisa di dunia ini. Namun jangan mengira aku akan membiarkanmu berkeliaran tanpa batas.”
Ia lalu menetapkan keputusan kerajaannya.
“Aku mengizinkanmu berdiam hanya di empat tempat: di tempat perjudian, di tempat minuman yang memabukkan, di hubungan nafsu yang melanggar kesucian, dan di tempat pembantaian makhluk hidup.”
Kali mengangkat wajahnya dengan ragu. “Wahai Raja, empat tempat itu terlalu sempit bagi pengaruhku. Hamba memohon satu tempat lagi.”
Parikshit merenung sejenak, lalu mengangguk. “Baik. Engkau boleh berdiam pula pada emas dan kekayaan yang ditimbun dengan keserakahan, tempat di mana kebohongan dan tipu daya bersemayam.”
Dengan ketetapan itu, Kali memperoleh ruangnya, namun tetap berada dalam batas yang ditentukan Dharma. Sejak saat itu, Kali Yuga mulai merembes ke dunia bukan sebagai badai yang mengamuk, melainkan sebagai racun perlahan yang menyusup melalui celah-celah kelemahan manusia, selama Raja Parikshit masih memerintah dengan tegak.
Setelah masa agung para Pandawa, Raja Parikshit, putra Abhimanyu, memimpin kerajaan Kuru dengan kebajikan yang tak tergoyahkan. Ia adalah penjaga terakhir dari Dwapara Yuga, masa ketika Dharma masih berdiri tegak meski mulai rapuh. Sebagai raja yang hidup menurut ajaran Veda, Parikshit kerap meninggalkan istana Hastinapura untuk berkeliling negerinya, memastikan bahwa keadilan dan perlindungan hukum menjangkau seluruh rakyat tanpa kecuali.
Pada suatu hari, saat ia melakukan perjalanan di wilayah yang dilalui sungai Sarasvati yang mulai menyusut, pandangannya tertumbuk pada pemandangan yang mengguncang batinnya. Di hadapannya berdiri seekor banteng putih, agung namun terluka parah. Dahulu banteng itu berdiri kokoh di atas empat kaki Tapas (pengendalian diri), Śauca (kesucian), Dayā (belas kasih), dan Satya (kebenaran). Kini tiga kakinya telah patah; ia hanya bertahan pada satu kaki terakhir: Satya. Tubuhnya gemetar, napasnya berat, dan sorot matanya memancarkan penderitaan mendalam.
Di dekat banteng itu berdiri seekor sapi kurus dan pucat, melambangkan Bhūmi, Ibu Pertiwi. Ia tampak menangis pilu, seolah bumi sendiri meratap menyaksikan keruntuhan kebajikan.
Di hadapan mereka berdiri seorang pria berkulit gelap, mengenakan pakaian seorang raja palsu mahkota yang tak layak dan jubah yang lusuh. Tangannya menggenggam gada besi, dengan gada itu ia telah memukuli banteng Dharma tanpa belas kasihan.
Melihat semua itu, amarah Parikshit bangkit seketika. Ia adalah raja yang lembut terhadap yang lemah, namun tak mengenal kompromi terhadap adharma. Dengan gerakan cepat, ia mencabut pedang Kshatriya-nya, senjata lambang keadilan kerajaan, dan maju menghadapi si pelaku.
“Siapakah engkau,” seru Parikshit dengan suara menggelegar, “yang berani menyakiti banteng suci Dharma dan menyiksa Ibu Pertiwi di wilayah kekuasaanku? Engkau berpakaian seperti raja, namun perbuatanmu lebih hina dari perampok jalanan. Bersiaplah menerima hukuman mati.”
Melihat pedang raja terangkat, pria itu gemetar hebat. Kesombongan lenyap seketika. Ia menjatuhkan gadanya, lalu tersungkur ke tanah, bersujud di hadapan Parikshit.
“Ampuni hamba, wahai Raja,” katanya dengan suara bergetar. “Hamba adalah Kali, perwujudan Zaman Kegelapan. Sesuai takdir, hamba harus berkuasa setelah Dwapara berakhir. Hamba tak memiliki tempat lain untuk berdiam. Hamba berlindung di bawah perlindungan Paduka.”
Parikshit berdiri tegak, pedangnya masih terhunus. Amarahnya belum padam, namun ia terikat oleh hukum Dharma yang lebih tinggi. Seorang Kshatriya tidak boleh membunuh makhluk yang telah berserah dan memohon perlindungan, meskipun makhluk itu adalah sumber kehancuran dunia.
“Engkau selamat bukan karena kelayakanmu,” ujar Parikshit dingin, “melainkan karena hukum Dharma yang masih tersisa di dunia ini. Namun jangan mengira aku akan membiarkanmu berkeliaran tanpa batas.”
Ia lalu menetapkan keputusan kerajaannya.
“Aku mengizinkanmu berdiam hanya di empat tempat: di tempat perjudian, di tempat minuman yang memabukkan, di hubungan nafsu yang melanggar kesucian, dan di tempat pembantaian makhluk hidup.”
Kali mengangkat wajahnya dengan ragu. “Wahai Raja, empat tempat itu terlalu sempit bagi pengaruhku. Hamba memohon satu tempat lagi.”
Parikshit merenung sejenak, lalu mengangguk. “Baik. Engkau boleh berdiam pula pada emas dan kekayaan yang ditimbun dengan keserakahan, tempat di mana kebohongan dan tipu daya bersemayam.”
Dengan ketetapan itu, Kali memperoleh ruangnya, namun tetap berada dalam batas yang ditentukan Dharma. Sejak saat itu, Kali Yuga mulai merembes ke dunia bukan sebagai badai yang mengamuk, melainkan sebagai racun perlahan yang menyusup melalui celah-celah kelemahan manusia, selama Raja Parikshit masih memerintah dengan tegak.
#05. Tujuh Hari Terakhir Raja Parikshit
Kali Yuga kini telah memiliki jejak kakinya di dunia, namun jejak itu masih tipis, terbatasi oleh janji suci dan kemuliaan Raja Parikshit, pewaris takhta Kurawa. Selama Parikshit memimpin dengan Dharma, pengaruh Zaman Kejahatan hanya mampu merayap di celah-celah perjudian, minuman memabukkan, perzinahan, dan Emas yang terakumulasi tanpa kebenaran. Dalam kesadaran ini, Parikshit selalu waspada, tetapi ia melupakan satu hal: bahaya terdekat sering kali tersembunyi di perhiasan yang paling dipercayai.
Pada suatu pagi yang terik di musim panas, Raja Parikshit, mengenakan mahkota emas berkilauan yang indah, memimpin perburuan besar di hutan Kamyaka yang lebat, mengikuti jejak seekor rusa jantan yang gesit. Keahlian memanahnya tak tertandingi; Namun, hari itu, Parikshit didorong oleh semangat yang tidak wajar. Ia mengejar buruannya melampaui batas, melesat menembus semak belukar dan sungai kering, meninggalkan para pengikutnya jauh di belakang.
Ketika senja mulai turun dan bayangan memanjang, rusa itu menghilang. Parikshit mendapati dirinya sendirian. Kelelahan yang luar biasa merayap ke dalam tulang-tulangnya, dan kelaparan menusuk perutnya. Tetapi yang paling mengerikan adalah dahaga. Rasa haus itu bukan sekadar haus biasa; ia adalah api yang membakar tenggorokannya, menjilat lidahnya seolah-olah seluruh air di dunia telah mengering. Dahaga yang membakar ini adalah karya Kali, yang bersemayam dalam keagungan mahkota emas yang membebani kepala sang Raja, menyuntikkan racun ketidaknyamanan ke dalam kesadarannya.
Dalam keadaan lelah Parikshit mencari air. Pandangannya yang kabur akhirnya menangkap kilauan cahaya di kejauhan sebuah asrama pertapaan, sunyi dan damai, dikelilingi oleh pepohonan rindang. Di sana, di atas kulit kijang, di tengah-tengah perapian suci yang abadi, duduklah seorang pertapa, Resi Samika, yang tenggelam dalam konsentrasi yang dalam.
Parikshit, walau sangat lelah dan kehausan, masih mengingat tata krama. Ia melepaskan busurnya, mendekati Resi Samika, dan bersuara serak, “O, Resi yang mulia! Saya adalah Parikshit, Raja dari Kuru. Saya hampir mati karena kehausan. Mohon, berikanlah saya air, atau tunjukkan sumbernya.”
Namun, Resi Samika tidak bergerak. Matanya tertutup, napasnya hampir tidak ada, dan pikirannya terikat pada Realitas tertinggi. Ia berada dalam Samadhi, keadaan meditasi terdalam, di mana suara duniawi, bahkan panggilan seorang Raja, tidak mampu menembus kesadarannya yang terpusat.
Parikshit mengulangi permintaannya. Keheningan Resi itu terasa bagai duri yang menusuk perasaannya, sementara rasa haus telah mengikis kejernihan batinnya. Dalam kelemahan itulah, lelah, lapar, dan dahaga perlahan berubah menjadi gejolak amarah. Ia bertanya dalam hati, bagaimana mungkin seorang pertapa tidak menyadari kehadiran seorang tamu yang memohon air? Pikirannya goyah, dan batas kesabaran yang biasanya kokoh pun mulai runtuh.
“Apakah Resi ini terlalu tenggelam dalam kesunyian hingga tak mendengar panggilanku?” pikir Parikshit. Amarah yang tidak biasa bagi wataknya yang tenang mulai mengusik batinnya. Di sanalah, tanpa disadari, kejernihan pertamanya runtuh dan celah bagi pengaruh zaman terbuka.
Matanya menyapu sekitar asrama. Di dekat tumpukan kayu, tergeletak seekor bangkai ular hitam besar yang baru mati. Dalam keadaan batin yang goyah oleh lelah dan kekecewaan, Parikshit bertindak tanpa pertimbangan. Dengan ujung busurnya, ia mengangkat bangkai ular yang dingin itu dan, didorong oleh luapan emosi sesaat, mengalungkannya ke leher Resi Samika yang tetap tenggelam dalam samadhi sebuah perbuatan yang kelak akan ia sesali.
Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Parikshit. Setelah perbuatan itu terjadi, rasa jijik dan penyesalan perlahan menyusup ke dalam batinnya. Menyadari kekeliruannya namun belum sanggup menghadapinya, ia bergegas meninggalkan asrama itu, menyingkir ke dalam hutan dengan langkah tergesa.
Tidak lama setelah kepergian Raja, Shringi, putra Resi Samika, kembali ke asrama. Ia adalah seorang brahmachari muda yang kuat dalam tapa, membawa kayu bakar setelah menyelesaikan ritual penyucian. Kekuatan rohaninya besar, tetapi kedewasaan batinnya belum sepenuhnya seimbang dengan daya laku tapa yang ia miliki.
Ketika Shringi melihat ayahnya, Resi Samika yang terhormat, duduk dalam samadhi dengan bangkai ular melingkari lehernya, amarahnya seketika bangkit. Dadanya dipenuhi gejolak yang tak terkendali; kekuatan tapanya yang besar menyala tanpa kendali kebijaksanaan. Siapa yang berani melakukan penghinaan sedemikian rupa terhadap seorang Brahmana?
Ia berseru keras kepada para siswa lain hingga mereka gemetar ketakutan. Dari merekalah Shringi mengetahui bahwa Raja Parikshit, yang dilanda kehausan dan kelelahan, telah melakukan perbuatan itu. Mendengar nama Raja, amarahnya tidak mereda; justru berkobar lebih hebat. Meski seorang Resi diajarkan untuk menahan dan memaafkan, Shringi masih seorang pemuda kekuatan tapanya besar, tetapi kebijaksanaannya belum mapan. Ia tak sanggup menerima penghinaan terhadap Dharma di hadapan matanya.
Dengan langkah tergesa, Shringi menuju Sungai Kaushiki. Ia mengambil air suci dengan telapak tangannya, dan dalam luapan emosi yang tak tertahan, ia mengucapkan kutukan yang lahir dari amarah:
“Raja Parikshit, yang telah mengusik ketenangan seorang Resi yang tenggelam dalam tapa, akan menerima akibat dari perbuatannya. Dalam tujuh hari sejak hari ini, ia akan menemui ajalnya oleh gigitan Takshaka, Raja para ular.”
Air yang berada di telapak tangannya terlempar ke udara, dan kata-kata kutukan itu pun terucap, dilepaskan oleh luapan emosi yang tak tertahan. Sejak saat itu, takdir Raja Parikshit bergerak menuju ujian yang tak terelakkan.
Tak lama kemudian, Resi Samika perlahan kembali dari samadhi. Ia membuka matanya dan mendapati bangkai ular melingkari lehernya. Dengan tenang ia melepaskannya, tanpa kemarahan. Namun ketika pandangannya tertumbuk pada wajah putranya yang pucat dan ia mendengar kutukan yang baru saja terucap, dadanya tersentak.
Ia tahu, meskipun perbuatan Raja Parikshit patut ditegur, kutukan kematian yang dilontarkan oleh Shringi lahir dari amarah yang melampaui kebijaksanaan. Di sanalah pengaruh zaman menemukan celahnya bukan hanya melalui kelelahan seorang raja, tetapi juga melalui gejolak emosi seorang pemuda yang kuat dalam tapa namun belum matang dalam pengendalian diri.
Sejak saat itu, nasib kerajaan Kuru terikat pada tujuh hari yang akan menentukan segalanya.
Raja Parikshit kembali ke Hastinapura dengan hati yang berat. Setiap langkahnya dipenuhi pikiran dan penyesalan. Setibanya di ruang pribadinya, ia melepas mahkota Kuru, seolah melepaskan kedudukan dan kebesaran dunia yang selama ini ia emban. Kegelisahan di dalam hatinya kini terasa jelas. Ia menyesal tanpa perlu dipaksa oleh siapa pun. Ia bertanya pada dirinya sendiri, bagaimana mungkin ia, pewaris ajaran Dharma dari para Pandawa, bisa bersikap ceroboh terhadap seorang pertapa suci. Kesadaran itu membuat hatinya tertunduk lebih dalam daripada sekadar rasa malu.
Tak lama kemudian, seorang prajurit istana datang tergesa, membawa kabar dari pertapaan Resi Samika. Dengan suara tertahan, ia menyampaikan penghinaan yang telah menimpa sang resi, dan kutukan yang terucap dari putranya, Shringi: bahwa tujuh hari dari saat itu, Raja Parikshit akan menemui ajalnya, mati dipatuk oleh Takshaka, raja para ular.
Raja Parikshit mendengarkan kabar itu tanpa rasa panik. Jika semua ini adalah akibat dari perbuatannya sendiri, ia menerimanya sepenuhnya. Setidaknya kini ia tahu sisa waktu yang dimilikinya, sehingga pikirannya dapat ia arahkan pada hal-hal yang abadi. Ia tidak memerintahkan perlindungan, tidak mencari jalan untuk lari, dan tidak menyalahkan siapa pun. Pemahaman tentang hukum karma berdiri kuat di dalam dirinya, jelas dan tak terbantahkan.
Ia memanggil Ratu Uttara dan putranya, Janamejaya. Dengan ketenangan seorang raja yang telah menimbang dunia dan melihat keterbatasannya, Parikshit menyerahkan takhta kerajaan Kuru kepada putranya.
“Jagalah kerajaan ini dengan Dharma sebagai penuntunmu,” pesannya. “Seorang raja tidak jatuh karena musuh, melainkan karena kelalaian terhadap tugasnya.”
Setelah itu, Parikshit meninggalkan istana. Ia tidak membawa harta, tidak pula pengiring. Dengan pakaian sederhana seorang pertapa, ia melangkah menuju tepi suci Sungai Gangga. Di sanalah ia memutuskan untuk menjalani prayopavesa berpuasa hingga akhir hayat duduk menghadap aliran air yang tak pernah berhenti, memusatkan pikirannya pada hakikat diri.
Kabar tentang keputusan Raja Parikshit menyebar ke seluruh Aryavarta. Dalam beberapa hari, tepi Sungai Gangga dipenuhi oleh kehadiran para resi agung. Atri, Vasistha, Chyavana, Parasara, Bharadwaja, dan banyak lainnya yang telah mencapai kejernihan batin, berkumpul untuk menghormati keteguhan sang Raja dan menyertai peristiwa agung yang jarang terjadi di dunia manusia. Mereka duduk dalam keheningan, sementara Parikshit, tubuhnya kian menipis, tetap tegak dalam tekadnya.
Keheningan itu berubah oleh kehadiran sosok yang luar biasa. Shukadeva Goswami, putra Resi Vyasa, hadir tanpa diumumkan. Ia tampak muda, namun ketenangan matanya memantulkan kedalaman yang melampaui usia dan pengalaman duniawi. Ia hidup sepenuhnya melampaui kesadaran ragawi, bebas dari rasa malu maupun keterikatan, seakan batas-batas dunia tidak lagi mengikatnya. Para resi agung yang hadir segera bangkit dari duduk mereka dan menyambutnya dengan sikap hormat yang penuh ketenangan.
Raja Parikshit, meski tubuhnya lemah, segera memberi hormat. Ia mengetahui bahwa di hadapannya berdiri seseorang yang telah melampaui ikatan kelahiran dan kematian. Dengan suara yang lirih namun berwibawa, Parikshit mengajukan pertanyaan yang telah lama menghuni batin manusia, dan kini menjadi sangat mendesak baginya.
“Wahai Bhagavan Shukadeva,” ujarnya, menatap aliran Gangga, “waktuku di dunia ini telah ditentukan. Kepada seseorang yang akan segera meninggalkan raganya, apakah yang paling utama untuk didengar, diingat, dilakukan, dan disembah?”
Shukadeva menatap sang Raja dengan senyum yang lembut.
“Pertanyaanmu,” katanya, “bukan hanya milikmu yang dibatasi tujuh hari, tetapi milik semua makhluk yang hidup di bawah bayangan waktu.”
Shukadeva kemudian mulai menyampaikan ajaran tentang hakikat Yang Maha Tinggi, kisah-kisah Krishna, serta jalan pembebasan melalui bhakti dan pengetahuan sejati. Selama hampir tujuh hari tujuh malam, ia menuturkan Srimad Bhagavatam tanpa henti. Raja Parikshit mendengarkan dengan pikiran yang sepenuhnya terpusat, tanpa diganggu rasa lapar maupun takut.
Melalui ajaran yang didengarnya, keterikatan Parikshit perlahan sirna. Ia memahami bahwa yang akan berakhir hanyalah tubuh, sedangkan diri sejati tidak pernah mati. Dengan pikirannya tertuju pada Yang Abadi, Raja Parikshit menanti akhir hidupnya dengan tenang, bukan sebagai raja yang terkutuk, melainkan sebagai jiwa yang telah siap kembali pada asalnya.
#07. Akhir Sang Raja dan Awal Kegelapan
Matahari hari ketujuh mulai menampakkan dirinya di ufuk timur, menyinari permukaan Sungai Gangga yang mengalir tenang. Namun, pagi itu tidak seperti pagi-pagi sebelumnya. Udara yang selama enam hari dipenuhi dengan ketenangan doa dan aroma dupa wangi, kini berubah menjadi berat dan kental. Ada ketegangan yang merayap di kulit, sebuah firasat bahwa sesuatu yang besar dan tak terelakkan akan segera terjadi.
Di tengah keheningan itu, Raja Parikshit duduk bersila di atas alas rumput suci. Ia telah berpuasa selama tujuh hari. Secara fisik, tubuhnya mungkin terlihat kurus dan lemah, namun wajahnya justru bersinar terang. Tidak ada lagi gurat ketakutan atau kecemasan di matanya. Ia duduk tegak, tenang, dan kokoh seperti gunung karang di tengah badai.
Di hadapannya, Resi Shukadeva baru saja selesai bicara. Selama tujuh hari ini, hanya suara dan nasihatnyalah yang menjadi sumber kekuatan bagi hati Sang Raja.
Resi muda itu memandang Parikshit dengan tatapan penuh kasih sayang. Ia tahu waktunya sudah hampir habis.
“Wahai Raja,” ucap Shukadeva, suaranya lembut namun terdengar jelas membelah keheningan pagi. “kau sudah mendengar semuanya. Ingatlah satu hal ini: Tubuhmu hanyalah pakaian. Sebentar lagi, pakaian itu akan robek dan hancur, tetapi ‘Kau’ yang ada di dalamnya jiwamu yang sejati tidak akan pernah bisa mati. Jiwa itu tidak bisa dibakar api, tidak bisa basah oleh air, dan tidak bisa dibunuh oleh racun.”
Shukadeva berhenti sejenak, membiarkan angin sungai membawa kata-katanya masuk ke dalam hati semua orang yang hadir.
“Jika nanti Naga Takshaka datang membawa api, ingatlah: Api itu hanya membakar wadahnya, bukan isinya. Jangan lihat kematian sebagai musuh. Anggaplah itu saatnya bagimu untuk pulang ke rumah sejati, di sisi Yang Maha Kuasa.”
Parikshit tersenyum tipis. Sebuah senyum yang penuh kedamaian. “Aku mengerti, Guru,” jawabnya pelan. “Ketakutanku sudah hilang. Aku tidak lagi merasa sebagai Raja Dunia, ataupun korban kutukan. Aku siap untuk pulang.”
Saat itulah, dari arah barat, suasana berubah drastis.
Meskipun tempat itu dijaga oleh para resi sakti yang memagarinya dengan mantra pelindung yang kuat, takdir tidak bisa dihalangi. Takshaka, Raja Para Naga, telah tiba di perbatasan area suci itu. Naga licik itu tahu, jika ia masuk dengan wujud aslinya yang mengerikan, ia akan hangus terbakar oleh kekuatan doa para resi.
Maka, Takshaka menggunakan tipu muslihat. Ia melihat sekelompok pendeta yang sedang berjalan menuju tempat Parikshit duduk. Mereka membawa nampan-nampan berisi persembahan sederhana: bunga, biji-bijian, dan buah-buahan untuk menghormati Sang Raja yang akan segera mangkat.
Mata naga Takshaka tertuju pada sebuah buah Jambu Air yang tergeletak di salah satu nampan. Buah itu tampak sangat segar, berwarna merah menggoda, dan ranum. Dengan kekuatan sihirnya, Takshaka mengecilkan tubuh naganya. Ia berubah menjadi seekor ulat yang sangat kecil, nyaris tak terlihat mata, lalu menyusup masuk ke dalam daging buah jambu air itu, bersembunyi di balik kulitnya yang tipis.
Para pendeta desa itu pun masuk tanpa curiga. Mereka melewati pagar betis penjagaan dan mendekati Raja Parikshit. Dengan hormat, mereka menyodorkan nampan berisi buah-buahan itu.
“Terimalah persembahan kami, Wahai Raja,” ucap salah satu pendeta.
Tanpa curiga, Raja Parikshit menerima jambu air itu. Ia tidak berniat memakannya. Tangannya yang mengangkat buah tersebut, bermaksud mempersembahkannya kembali kepada para rishi yang hadir.
Namun, belum sempat niat mulia itu terlaksana, ulat di dalam buah merasakan saat yang tepat.
BLAAAR!
Suara ledakan keras mengejutkan semua orang. Apa yang terjadi selanjutnya berlangsung begitu cepat hingga mata manusia sulit mempercayainya.
Buah jambu air di tangan Parikshit meledak. Bukan ledakan biasa, melainkan ledakan perubahan wujud. Dalam sepersekian detik, ulat kecil itu lenyap, digantikan oleh wujud asli Takshaka yang mengerikan. Seolah-olah seekor ular raksasa yang dilepaskan keluar.
Takshaka menampakkan wujud aslinya. Sisiknya berkilau gelap, matanya menyala seperti tembaga panas. Ia tidak membuang waktu. Lehernya melesat secepat kilat. Taringnya yang panjang dan melengkung menancap telak di leher Raja Parikshit.
Itu bukan gigitan biasa. Racun Takshaka adalah api cair.
Jeritan ngeri terdengar dari kerumunan. Dalam sekejap mata, tubuh Raja Parikshit terbakar hebat. Panasnya begitu dahsyat hingga tubuh Sang Raja berubah menjadi abu bercahaya hanya dalam hitungan detik. Takshaka, yang tugasnya telah selesai, melesat pergi ke angkasa, meninggalkan asap tebal.
Namun, di tengah kengerian itu, para resi melihat sebuah keajaiban.
Raja Parikshit tidak berteriak. Ia tidak kesakitan. Saat taring naga menembus lehernya, pikiran Parikshit sudah tidak ada di sana. Jiwanya telah lepas lebih dulu, meluncur bebas menuju cahaya Ilahi sebelum api sempat menyentuh kulitnya. Ia pergi dengan senyum damai, mencapai pembebasan sempurna.
Shukadeva tersenyum tipis di tengah kepanikan orang-orang. “Lihatlah,” katanya tenang. “Raja Parikshit telah menang. Kutukan itu justru menjadi jalan pintas baginya untuk kembali ke Surga.”
Namun, saat abu jenazah Parikshit menyentuh tanah, dunia merasakan guncangan halus yang mengerikan.
Parikshit adalah benteng terakhir yang menahan kejahatan. Dengan kematiannya, benteng itu runtuh. Angin dingin berhembus, membawa bisikan-bisikan keserakahan, kebohongan, dan permusuhan. Di kejauhan, bayang-bayang mulai memanjang.
Zaman Emas telah berakhir. Kali Yuga Zaman Kegelapan kini benar-benar telah dimulai.
#08. Sumpah Sang Raja Muda
Kematian Raja Parikshit meninggalkan jejak yang dalam di Hastinapura. Dunia tidak serta-merta runtuh, langit tidak terbelah, dan sungai Gangga tetap mengalir seperti biasa. Namun, bagi mereka yang peka, keseimbangan terasa bergeser. Seperti benang halus yang mulai aus, Dharma masih ada, tetapi tak lagi sekuat sebelumnya. Zaman bergerak perlahan, dan manusia hanya bisa merasakan dampaknya tanpa selalu mampu menamainya.
Hastinapura tenggelam dalam suasana berkabung. Hari-hari dipenuhi dupa dan doa, sementara bayangan kehilangan masih bergelayut di lorong-lorong istana. Di tengah suasana itulah mahkota Kuru diletakkan di kepala Janamejaya. Ia masih muda cucu Abhimanyu, cicit Arjuna mewarisi darah ksatria yang tak diragukan. Namun, darah saja tidak cukup untuk memikul beban kerajaan yang besar.
Kripacharya dan para tetua berdiri di sisinya. Mereka bukan penguasa di balik tirai, melainkan penjaga kesinambungan. Tugas mereka sederhana namun berat: memastikan kerajaan tidak goyah di masa peralihan, ketika raja muda masih belajar membedakan antara keberanian dan kebijaksanaan.
Janamejaya hidup dengan satu pemahaman tentang kematian ayahnya. Raja Parikshit wafat karena kutukan seorang resi, akibat dari kelalaian yang tak disengaja. Karma telah bekerja, dan hasilnya tak terelakkan. Kisah itu diterima Janamejaya sebagaimana seorang anak menerima cerita tentang badai yang telah berlalu pahit, tetapi sudah selesai.
Tahun demi tahun berjalan. Janamejaya tumbuh menjadi pemuda yang tegap dan percaya diri. Ia belajar memimpin pasukan, mendengar keluhan rakyat, dan menegakkan hukum. Namanya mulai disebut dengan hormat di wilayah-wilayah Kuru. Keberhasilannya memadamkan pemberontakan di Takshashila menjadi puncak awal pemerintahannya. Ia kembali ke Hastinapura membawa kemenangan, rampasan perang, dan keyakinan bahwa ia telah menjalankan tugasnya sebagai raja dengan baik.
Balairung istana dipenuhi kegembiraan. Panji-panji berkibar, musik mengalun, dan para bangsawan berkumpul untuk merayakan stabilitas yang terasa kembali utuh.
Namun, pada saat itulah pintu balairung terbuka.
Seorang resi tua melangkah masuk. Jubahnya berdebu, tubuhnya kurus oleh perjalanan panjang, tetapi matanya jernih dan tajam. Dialah Resi Utangka, seorang pertapa yang namanya dikenal oleh kaum Brahmana.
Janamejaya segera turun dari takhta dan menyambutnya dengan hormat.
“Selamat datang, Resi Agung. Kehadiranmu memuliakan istana kami.”
Utangka menatap raja muda itu dengan saksama, seolah melihat lebih dari sekadar mahkota dan senyum kemenangan.
“Kemenangan di Takshashila adalah keberanian seorang ksatria,” katanya perlahan. “Namun ada satu perkara lain yang belum kau sentuh, wahai Janamejaya.”
Balairung mendadak sunyi. Musik berhenti. Para hadirin menahan napas.
“Kematian ayahmu,” lanjut Utangka, “bukan hanya tentang kutukan yang kau pahami selama ini.”
Janamejaya mengernyit.
“Ayahanda wafat karena hukum karma. Itulah yang aku ketahui.”
Utangka mengangguk.
“Karma memang bekerja. Tetapi ia bekerja melalui banyak tangan.”
Dengan suara tenang, Utangka mulai menceritakan kisah Kashyapa, tabib sakti yang menguasai rahasia racun dan penawarnya. Tentang perjalanannya menuju Hastinapura ketika Parikshit menunggu ajal. Tentang Takshaka yang menghadangnya di tengah hutan, menguji kekuatan bisanya dengan menggigit pohon beringin raksasa hingga hangus menjadi abu. Dan tentang Kashyapa yang, dengan satu mantra, menyatukan kembali abu itu hingga pohon tersebut hidup kembali, utuh seperti semula.
“Orang itu,” kata Utangka, “mampu menyelamatkan ayahmu.”
Kata-kata itu jatuh berat di dada Janamejaya.
“Jika demikian,” ucapnya perlahan, “mengapa ia tidak datang?”
“Karena Takshaka takut,” jawab Utangka. “Ia tahu bisanya akan sia-sia. Maka ia menggunakan harta untuk menghentikan langkah Kashyapa. Dan sang tabib memilih berbalik.”
Janamejaya terdiam lama. Dalam pikirannya, kisah tentang ayahnya runtuh dan tersusun kembali dengan bentuk yang berbeda. Ia kini memahami bahwa kematian Parikshit bukan sekadar akhir yang jatuh dari langit, melainkan hasil dari rangkaian pilihan kelalaian, ketakutan, dan keserakahan.
Amarah muncul, bukan sebagai letupan liar, tetapi sebagai arus yang dalam dan berat. Ia berdiri dari tempat duduknya.
“Jika seekor naga telah menggunakan kelicikan untuk mencederai kehormatan Raja Kuru,” katanya, “maka keadilan harus ditegakkan.”
Ia memandang para pendeta dan tetua.
“Aku akan menggelar Sarpa Satra. Upacara suci untuk memanggil para naga dan menuntut pertanggungjawaban. Biarlah api dan mantra bekerja sebagaimana mestinya.”
Perintah itu bukan sekadar luapan emosi. Ia adalah keputusan seorang raja yang merasa keseimbangan telah terganggu.
Di sudut balairung, Resi Utangka menundukkan kepala. Ia tahu, dengan keputusan itu, roda karma kembali bergerak. Api akan dinyalakan, dan di sanalah kelak Dharma akan diuji bukan hanya bagi kaum naga, tetapi juga bagi Janamejaya sendiri.
Zaman tidak berhenti. Ia terus berjalan, membawa manusia ke persimpangan yang tak mudah dibaca. Dan di Hastinapura, di bawah langit yang sama, sebuah yajña besar bersiap dimulai bukan hanya untuk membakar, tetapi untuk memperlihatkan batas tipis antara keadilan dan kehancuran.
#09. Sarpa Satra: Api Pembalasan
Keheningan di Balairung Hastinapura hari itu terasa berat, seolah udara sendiri menekan dada setiap orang yang hadir. Tidak ada musik, tidak ada tarian, dan tidak pula percakapan ringan. Raja Janamejaya duduk diam di singgasananya. Wajahnya keras, namun sorot matanya menunjukkan gejolak yang belum menemukan jalan keluar.
Kematian Raja Parikshit masih membekas dalam ingatannya. Ayahnya tidak gugur di medan perang, tidak pula wafat di usia senja. Ia mati oleh gigitan Takshaka, raja naga, yang menyelinap dalam wujud kecil dan nyaris tak terlihat. Bagi Janamejaya, itu adalah kematian yang tidak pantas bagi seorang raja Kuru.
Ia memanggil para Brahmana utama kerajaan. Di antara mereka berdiri seorang pendeta sepuh dari garis keturunan Bhrigu, berpengetahuan luas tentang yajña dan mantra kuno. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi, seperti seseorang yang memahami betul betapa berbahayanya ilmu yang ia kuasai.
“Dharma seorang raja adalah menjaga keseimbangan,” ujar Janamejaya dengan suara tertahan. “Namun bagaimana keseimbangan dapat dipertahankan jika kejahatan dibiarkan tanpa jawaban?”
Pendeta itu menunduk sejenak sebelum berbicara.
“Wahai Raja,” katanya perlahan, “ada yajña yang mampu memanggil kaum naga. Sarpa Satra. Namun ketahuilah, api dan mantra tidak pernah sepenuhnya tunduk pada kehendak manusia. Ritual ini besar risikonya.”
Janamejaya terdiam. Ia tidak menjawab segera. Amarah di dadanya belum padam, tetapi kata-kata sang Brahmana menimbulkan getaran lain: kesadaran akan bahaya.
“Aku tetap akan melaksanakannya,” katanya akhirnya. “Bukan demi kesenangan, tetapi demi keadilan.”
Maka persiapan pun dimulai.
Di luar Hastinapura, sebuah arena yajña didirikan dengan ketelitian yang ketat. Altar besar dibangun sesuai aturan kitab suci. Api disiapkan, kayu cendana dan samin ditumpuk, dan mantra-mantra dilatih berulang kali agar tak ada kesalahan sedikit pun. Para Brahmana memahami, satu kekeliruan bisa membawa bencana, bukan hanya bagi naga, tetapi juga bagi manusia.
Pada hari yang telah ditentukan, api suci dinyalakan.
Awalnya nyala itu tenang, bergetar lembut seperti napas. Namun ketika mantra mulai dilantunkan, udara di sekitar altar berubah. Panas meningkat, dan suara rapalan para Brahmana menyatu menjadi dengungan berat yang membuat tanah seakan bergetar.
Tak lama kemudian, tanda-tanda itu muncul.
Ular-ular mulai bermunculan, terseret dari tempat persembunyian mereka. Ada yang kecil, ada yang besar. Tubuh-tubuh bersisik itu melayang tanpa kendali, ditarik oleh kekuatan mantra yang tak terlihat, lalu jatuh satu per satu ke dalam api yajña.
Jeritan mereka menggema, bukan sebagai ratapan yang memilukan, tetapi sebagai suara alam yang terganggu keseimbangannya.
Janamejaya menyaksikan semuanya dengan napas tertahan. Api membubung tinggi, dan semakin banyak naga yang terseret. Di wajah sang raja, kemarahan bercampur dengan kegelisahan. Ia mulai menyadari bahwa ritual ini telah melampaui niat awalnya.
Sementara itu, Takshaka, raja naga, berlindung di surga Indra. Ia melilitkan tubuhnya di dekat singgasana sang Dewa, berharap perlindungan. Namun daya Sarpa Satra begitu kuat hingga mulai menariknya turun. Bahkan Indra sendiri merasakan tarikan itu, dan kegelisahan menyelimuti para Dewa.
Para Brahmana saling berpandangan. Ini pertanda buruk.
Mantra terus dilantunkan, tetapi kini terdengar keraguan dalam suara mereka. Api semakin liar. Yajña yang seharusnya menjadi sarana penegakan keadilan mulai berubah menjadi ancaman bagi tatanan yang lebih luas.
Janamejaya menggenggam erat pegangan singgasananya. Di titik itulah, untuk pertama kalinya, ia merasakan ketakutan. Bukan pada naga, melainkan pada akibat dari amarahnya sendiri.
Ia menyadari bahwa jika ritual ini dibiarkan tanpa batas, bukan hanya kaum naga yang akan binasa, tetapi Dharma itu sendiri bisa terbakar bersama api yajña.
Dan di sanalah, di tengah api yang membubung dan mantra yang mengguncang alam, dunia menunggu satu hal: apakah ritual ini akan dihentikan, ataukah kehancuran akan terus berlanjut.
#10. Samudra Api Sang Ular
Kelabu menyelimuti langit Takshashila. Udara terasa berat oleh asap pengorbanan yang menjulang dari arena Yajña. Di hadapan api suci itu, Maharaja Janamejaya duduk di singgasananya. Wajahnya disengat panas kobaran, namun tatapannya membeku, kaku seperti batu yang telah lama kehilangan rasa.
Mantra yang dipimpin Somaśravas menggema tanpa henti, mengikat alam dengan kekuatan yang tidak memberi ruang bagi kehendak bebas. Hutan dan perut bumi seakan terkoyak, memuntahkan penghuninya. Ular-ular itu tidak meluncur, melainkan terseret paksa oleh tarikan tak kasatmata, berputar tanpa daya sebelum jatuh ke dalam api Yajña yang menganga seperti mulut waktu.
Asap pekat menjulang tinggi, menutup langit seperti tirai karma yang ditarik paksa. Api menelan tubuh-tubuh bersisik itu satu demi satu, tanpa belas kasihan, seolah dunia sedang menagih hutang lama yang tak terbayar.
“Hentikan… hamba mohon, hentikan semua ini, Maharaja.”
Suara Rājyaśrī terdengar parau di tengah raungan api. Menteri tua itu berlutut, wajahnya pucat menyaksikan arus kematian yang tak kunjung surut. “Dendam Paduka telah terlampiaskan. Lihatlah kehancuran ini… apakah kematian Raja Parikesit menuntut harga sebesar ini?”
Janamejaya tidak menoleh saat nama ayahnya disebut. Hanya bunyi kayu singgasana yang berderak dalam genggaman tangannya yang menjawab.
“Kau menyebut ini kejam, Rājyaśrī?” ucapnya dingin, tanpa emosi. “Kau berbicara tentang kekejian, tapi melupakan cara ayahku direnggut dari dunia.”
Raja itu berdiri. Sosoknya menjulang, memantulkan cahaya api, membuat siapa pun di sekitarnya menundukkan kepala. Ia menunjuk kobaran Yajña dengan tatapan yang keras dan tak tergoyahkan.
“Ayahku, Parikesit, tidak gugur di medan perang. Ia tidak mati oleh tebasan senjata,” katanya dengan suara berat, sarat amarah yang telah lama dipendam. “Ia mati karena tipu daya. Takshaka, raja ular itu, bersembunyi dan menyerang tanpa kehormatan.”
Janamejaya melangkah mendekati tungku pengorbanan. Api memantul di matanya, mempertegas tekad yang telah menutup semua celah keraguan.
“Jika satu makhluk licik itu dapat merenggut nyawa seorang raja dengan kelicikan,” lanjutnya, “maka api ini akan memastikan ia tak memiliki tempat untuk bersembunyi. Jangan lagi berbicara kepadaku tentang belas kasihan.”
Somaśravas, yang sejak tadi menuangkan ghee ke dalam api, tiba-tiba menghentikan gerakannya. Ia menengadah, matanya terpejam, seakan menembus batas dunia kasatmata.
“Maharaja!” serunya, suaranya bergetar. “Tarikan Yajña telah mencapai batasnya. Semua ular biasa telah jatuh, para Nāga perkasa pun telah binasa. Namun Takshaka belum tersentuh. Ia berlindung di Swargaloka, di bawah naungan Dewa Indra. Mantra ini menjangkaunya… dan perlindungan itu ikut terguncang.”
Keheningan mencekam menyelimuti arena Takshashila. Menyentuh wilayah para dewa adalah batas yang tidak pernah dimaksudkan untuk dilampaui.
Namun bibir Janamejaya justru menyunggingkan senyum tipis yang dingin.
“Indra…” katanya pelan. “Ia memilih melindungi pembunuh itu.”
Ia menatap para Ritvik satu per satu, sorot matanya tidak meminta persetujuan, hanya menuntut kepatuhan.
“Dengarkan perintahku, wahai para Brahmana. Perkuat mantranya. Takshaka bersembunyi di mana pun, bahkan jika ia bersembunyi di balik para dewa. Aku tidak peduli siapa yang ikut terguncang. Yang kupinta hanya satu: Takshaka harus jatuh.”
“Tetapi, Maharaja…” suara itu ragu, hampir tak terdengar.
“Lakukan,” potong Janamejaya singkat.
Somaśravas gemetar, namun sumpah Yajña mengikat lebih kuat daripada rasa takutnya. Dengan suara berat, ia melantunkan mantra yang lebih dalam, menyebut nama Takshaka berulang kali. Gaungnya menembus lapisan alam, mengguncang Swargaloka dan singgasana tempat perlindungan itu diberikan.
Langit bergetar. Cahaya keemasan di angkasa meredup sesaat. Kereta Indra terguncang hebat, dan Takshaka menjerit ketakutan, nyaris terlepas dari perlindungan yang menyelubunginya.
Di bawah, Janamejaya berdiri tegak di hadapan api Yajña, tanpa menyadari bahwa setiap bait mantra yang ia paksakan tidak hanya menarik musuhnya, tetapi juga menyeretnya semakin jauh dari Dharma yang ia yakini sedang ia bela.
Kelabu menyelimuti langit Takshashila. Udara terasa berat oleh asap pengorbanan yang menjulang dari arena Yajña. Di hadapan api suci itu, Maharaja Janamejaya duduk di singgasananya. Wajahnya disengat panas kobaran, namun tatapannya membeku, kaku seperti batu yang telah lama kehilangan rasa.
Mantra yang dipimpin Somaśravas menggema tanpa henti, mengikat alam dengan kekuatan yang tidak memberi ruang bagi kehendak bebas. Hutan dan perut bumi seakan terkoyak, memuntahkan penghuninya. Ular-ular itu tidak meluncur, melainkan terseret paksa oleh tarikan tak kasatmata, berputar tanpa daya sebelum jatuh ke dalam api Yajña yang menganga seperti mulut waktu.
Asap pekat menjulang tinggi, menutup langit seperti tirai karma yang ditarik paksa. Api menelan tubuh-tubuh bersisik itu satu demi satu, tanpa belas kasihan, seolah dunia sedang menagih hutang lama yang tak terbayar.
“Hentikan… hamba mohon, hentikan semua ini, Maharaja.”
Suara Rājyaśrī terdengar parau di tengah raungan api. Menteri tua itu berlutut, wajahnya pucat menyaksikan arus kematian yang tak kunjung surut. “Dendam Paduka telah terlampiaskan. Lihatlah kehancuran ini… apakah kematian Raja Parikesit menuntut harga sebesar ini?”
Janamejaya tidak menoleh saat nama ayahnya disebut. Hanya bunyi kayu singgasana yang berderak dalam genggaman tangannya yang menjawab.
“Kau menyebut ini kejam, Rājyaśrī?” ucapnya dingin, tanpa emosi. “Kau berbicara tentang kekejian, tapi melupakan cara ayahku direnggut dari dunia.”
Raja itu berdiri. Sosoknya menjulang, memantulkan cahaya api, membuat siapa pun di sekitarnya menundukkan kepala. Ia menunjuk kobaran Yajña dengan tatapan yang keras dan tak tergoyahkan.
“Ayahku, Parikesit, tidak gugur di medan perang. Ia tidak mati oleh tebasan senjata,” katanya dengan suara berat, sarat amarah yang telah lama dipendam. “Ia mati karena tipu daya. Takshaka, raja ular itu, bersembunyi dan menyerang tanpa kehormatan.”
Janamejaya melangkah mendekati tungku pengorbanan. Api memantul di matanya, mempertegas tekad yang telah menutup semua celah keraguan.
“Jika satu makhluk licik itu dapat merenggut nyawa seorang raja dengan kelicikan,” lanjutnya, “maka api ini akan memastikan ia tak memiliki tempat untuk bersembunyi. Jangan lagi berbicara kepadaku tentang belas kasihan.”
Somaśravas, yang sejak tadi menuangkan ghee ke dalam api, tiba-tiba menghentikan gerakannya. Ia menengadah, matanya terpejam, seakan menembus batas dunia kasatmata.
“Maharaja!” serunya, suaranya bergetar. “Tarikan Yajña telah mencapai batasnya. Semua ular biasa telah jatuh, para Nāga perkasa pun telah binasa. Namun Takshaka belum tersentuh. Ia berlindung di Swargaloka, di bawah naungan Dewa Indra. Mantra ini menjangkaunya… dan perlindungan itu ikut terguncang.”
Keheningan mencekam menyelimuti arena Takshashila. Menyentuh wilayah para dewa adalah batas yang tidak pernah dimaksudkan untuk dilampaui.
Namun bibir Janamejaya justru menyunggingkan senyum tipis yang dingin.
“Indra…” katanya pelan. “Ia memilih melindungi pembunuh itu.”
Ia menatap para Ritvik satu per satu, sorot matanya tidak meminta persetujuan, hanya menuntut kepatuhan.
“Dengarkan perintahku, wahai para Brahmana. Perkuat mantranya. Takshaka bersembunyi di mana pun, bahkan jika ia bersembunyi di balik para dewa. Aku tidak peduli siapa yang ikut terguncang. Yang kupinta hanya satu: Takshaka harus jatuh.”
“Tetapi, Maharaja…” suara itu ragu, hampir tak terdengar.
“Lakukan,” potong Janamejaya singkat.
Somaśravas gemetar, namun sumpah Yajña mengikat lebih kuat daripada rasa takutnya. Dengan suara berat, ia melantunkan mantra yang lebih dalam, menyebut nama Takshaka berulang kali. Gaungnya menembus lapisan alam, mengguncang Swargaloka dan singgasana tempat perlindungan itu diberikan.
Langit bergetar. Cahaya keemasan di angkasa meredup sesaat. Kereta Indra terguncang hebat, dan Takshaka menjerit ketakutan, nyaris terlepas dari perlindungan yang menyelubunginya.
Di bawah, Janamejaya berdiri tegak di hadapan api Yajña, tanpa menyadari bahwa setiap bait mantra yang ia paksakan tidak hanya menarik musuhnya, tetapi juga menyeretnya semakin jauh dari Dharma yang ia yakini sedang ia bela.
#11. Astika selamatkan naga dari ritual maut janamejaya
Para pendeta terdiam, wajah mereka memucat. Meningkatkan kekuatan mantra hingga mengguncang alam para dewa bukanlah tujuan awal Yajña ini. Bahkan bagi seorang raja, wilayah Svargaloka adalah batas yang tidak seharusnya disentuh secara sengaja. Namun perintah Janamejaya telah diucapkan, dan roda ritual telah berputar terlalu jauh untuk dihentikan begitu saja.
Mereka menyesuaikan lantunan mantra, memperkuat tarikan terhadap Takshaka, ke mana pun ia berlindung. Nada menjadi lebih dalam, lebih berat, seolah menyentuh lapisan dunia yang jarang terguncang.
Somaśravas mulai melafalkan rangkaian mantra yang sarat kekuatan. Ia memadukan daya api pengorbanan dengan unsur angin dan cahaya, bukan untuk menghancurkan, melainkan sebagai sarana untuk menarik takdir menuju titik yang tak bisa dihindari.
Mantra itu tidak menyebut nama Indra sebagai sasaran. Namun gema kekuatannya menembus Swargaloka, mengguncang perlindungan yang menaungi Takshaka.
Di Svarga, kegelisahan pun muncul. Getaran yang semula hanya terasa seperti desah angin kini berubah menjadi hentakan yang mengoyak ketenangan. Singgasana Indra bergetar, permata-permatanya berkilau tidak stabil. Para Apsara dan Gandharva terdiam, menyadari bahwa keseimbangan semesta sedang disentuh oleh kekuatan dunia fana.
Indra merasakan tarikan itu bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai akibat dari perlindungan yang ia berikan. Ia tidak jatuh, namun keretanya oleng, dan cahaya Swargaloka meredup sesaat. Di bawah perlindungannya, Takshaka menggeliat ketakutan, sisiknya bergesekan keras, tubuhnya nyaris terlepas.
Indra memahami bahwa ini bukan serangan terhadapnya, melainkan konsekuensi dari keberpihakannya. Maka ia menarik diri, dengan melepas perlindungan yang sudah tak mampu ia pertahankan tanpa melanggar tatanan Dharma.
Dalam sekejap, Takshaka kehilangan naungan. Tubuhnya terseret kuat oleh daya Yajña, terlepas dari Swargaloka, meluncur turun dengan jeritan yang mengguncang tiga alam.
Takshaka terhempas turun. Api Yajña menjulang menyambutnya. Tubuh naga itu melayang di udara, tinggal selangkah lagi menuju kehancuran yang tak terelakkan.
Namun tepat di saat yang paling genting, seberkas cahaya terang hadir di arena itu.
Bukan cahaya terang seperti para dewa, melainkan ketenangan yang memancar dari Dharma itu sendiri. Seorang pemuda brahmana melangkah masuk dengan tenang, langkahnya pasti, matanya jernih.
Ia adalah Astika, putra Resi Jaratkaru dan seorang nāginī keturunan Vasuki. Darah manusia dan naga mengalir bersatu dalam dirinya. Ia datang tanpa senjata dan tanpa mantra pemusnah, melainkan membawa kata-kata yang lahir dari keseimbangan Dharma.
Astika menatap api Yajña dan sisa-sisa kehancuran dengan wajah penuh penghormatan. Ia tidak memohon, tidak pula memerintah. Ia melakukan sesuatu yang lebih kuat daripada keduanya: ia memuji dengan kebijaksanaan.
Ia berdiri di hadapan Janamejaya dan berbicara dengan suara lembut namun berwibawa, mengalir tenang dan alami, penuh keteguhan makna.
“Wahai Janamejaya, putra Parikshit yang termasyhur. Belum pernah dunia menyaksikan upacara Yajña sekuat ini, sebuah ritual yang kekuatannya membuat bahkan para dewa berhati-hati menjaga keseimbangan Dharma.”
“Engkau adalah penerus garis raja Dharma, cucu para Pandava yang agung. Keteguhan niatmu, ketepatan pelaksanaan upacara oleh para Brahmana, dan kemurnian tekadmu telah menjadikan Yajña ini contoh kekuatan manusia yang selaras dengan hukum kehidupan.”
Pujian itu mengalir seperti air suci, meredakan api amarah yang telah lama membara di hati Janamejaya. Untuk pertama kalinya sejak Yajña dimulai, dadanya terasa lapang. Kebanggaan dan kepuasan perlahan menggantikan dendam yang selama ini membutakan pikirannya.
Janamejaya tersenyum. Api di hadapannya seakan meredup, tidak lagi meraung liar. Para ritvik yang terpesona oleh ketenangan dan wibawa pemuda itu tanpa sadar menahan napas, membiarkan suku kata terakhir mantra pemusnah tertahan di ujung lidah. Aliran ritual pun terhenti sesaat.
Di saat itulah, daya mantra yang telah terbang menembus langit dan mengguncang perlindungan Indra ikut melemah. Takshaka, yang tersembunyi di balik perisai para dewa, tertahan di ambang kehancuran.
“Wahai Brahmana muda,” kata sang Raja dengan suara yang kini lebih hangat, “kata-katamu telah menyentuh hatiku. Mintalah anugerah apa pun yang kau kehendaki. Demi Dharma yang kupegang, aku akan mengabulkannya.”
Para pendeta terdiam, wajah mereka memucat. Meningkatkan kekuatan mantra hingga mengguncang alam para dewa bukanlah tujuan awal Yajña ini. Bahkan bagi seorang raja, wilayah Svargaloka adalah batas yang tidak seharusnya disentuh secara sengaja. Namun perintah Janamejaya telah diucapkan, dan roda ritual telah berputar terlalu jauh untuk dihentikan begitu saja.
Mereka menyesuaikan lantunan mantra, memperkuat tarikan terhadap Takshaka, ke mana pun ia berlindung. Nada menjadi lebih dalam, lebih berat, seolah menyentuh lapisan dunia yang jarang terguncang.
Somaśravas mulai melafalkan rangkaian mantra yang sarat kekuatan. Ia memadukan daya api pengorbanan dengan unsur angin dan cahaya, bukan untuk menghancurkan, melainkan sebagai sarana untuk menarik takdir menuju titik yang tak bisa dihindari.
Mantra itu tidak menyebut nama Indra sebagai sasaran. Namun gema kekuatannya menembus Swargaloka, mengguncang perlindungan yang menaungi Takshaka.
Di Svarga, kegelisahan pun muncul. Getaran yang semula hanya terasa seperti desah angin kini berubah menjadi hentakan yang mengoyak ketenangan. Singgasana Indra bergetar, permata-permatanya berkilau tidak stabil. Para Apsara dan Gandharva terdiam, menyadari bahwa keseimbangan semesta sedang disentuh oleh kekuatan dunia fana.
Indra merasakan tarikan itu bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai akibat dari perlindungan yang ia berikan. Ia tidak jatuh, namun keretanya oleng, dan cahaya Swargaloka meredup sesaat. Di bawah perlindungannya, Takshaka menggeliat ketakutan, sisiknya bergesekan keras, tubuhnya nyaris terlepas.
Indra memahami bahwa ini bukan serangan terhadapnya, melainkan konsekuensi dari keberpihakannya. Maka ia menarik diri, dengan melepas perlindungan yang sudah tak mampu ia pertahankan tanpa melanggar tatanan Dharma.
Dalam sekejap, Takshaka kehilangan naungan. Tubuhnya terseret kuat oleh daya Yajña, terlepas dari Swargaloka, meluncur turun dengan jeritan yang mengguncang tiga alam.
Takshaka terhempas turun. Api Yajña menjulang menyambutnya. Tubuh naga itu melayang di udara, tinggal selangkah lagi menuju kehancuran yang tak terelakkan.
Namun tepat di saat yang paling genting, seberkas cahaya terang hadir di arena itu.
Bukan cahaya terang seperti para dewa, melainkan ketenangan yang memancar dari Dharma itu sendiri. Seorang pemuda brahmana melangkah masuk dengan tenang, langkahnya pasti, matanya jernih.
Ia adalah Astika, putra Resi Jaratkaru dan seorang nāginī keturunan Vasuki. Darah manusia dan naga mengalir bersatu dalam dirinya. Ia datang tanpa senjata dan tanpa mantra pemusnah, melainkan membawa kata-kata yang lahir dari keseimbangan Dharma.
Astika menatap api Yajña dan sisa-sisa kehancuran dengan wajah penuh penghormatan. Ia tidak memohon, tidak pula memerintah. Ia melakukan sesuatu yang lebih kuat daripada keduanya: ia memuji dengan kebijaksanaan.
Ia berdiri di hadapan Janamejaya dan berbicara dengan suara lembut namun berwibawa, mengalir tenang dan alami, penuh keteguhan makna.
“Wahai Janamejaya, putra Parikshit yang termasyhur. Belum pernah dunia menyaksikan upacara Yajña sekuat ini, sebuah ritual yang kekuatannya membuat bahkan para dewa berhati-hati menjaga keseimbangan Dharma.”
“Engkau adalah penerus garis raja Dharma, cucu para Pandava yang agung. Keteguhan niatmu, ketepatan pelaksanaan upacara oleh para Brahmana, dan kemurnian tekadmu telah menjadikan Yajña ini contoh kekuatan manusia yang selaras dengan hukum kehidupan.”
Pujian itu mengalir seperti air suci, meredakan api amarah yang telah lama membara di hati Janamejaya. Untuk pertama kalinya sejak Yajña dimulai, dadanya terasa lapang. Kebanggaan dan kepuasan perlahan menggantikan dendam yang selama ini membutakan pikirannya.
Janamejaya tersenyum. Api di hadapannya seakan meredup, tidak lagi meraung liar. Para ritvik yang terpesona oleh ketenangan dan wibawa pemuda itu tanpa sadar menahan napas, membiarkan suku kata terakhir mantra pemusnah tertahan di ujung lidah. Aliran ritual pun terhenti sesaat.
Di saat itulah, daya mantra yang telah terbang menembus langit dan mengguncang perlindungan Indra ikut melemah. Takshaka, yang tersembunyi di balik perisai para dewa, tertahan di ambang kehancuran.
“Wahai Brahmana muda,” kata sang Raja dengan suara yang kini lebih hangat, “kata-katamu telah menyentuh hatiku. Mintalah anugerah apa pun yang kau kehendaki. Demi Dharma yang kupegang, aku akan mengabulkannya.”
#12. Kekuatan Janji Sang Raja dan Permulaan Kisah Jaya
Astika tidak menyia-nyiakan saat itu. Ketika api pengorbanan menjulang tinggi dan mantra-mantra para Brahmana mencapai puncaknya, ia bangkit dan berdiri tegak di hadapan Raja Janamejaya. Wajahnya tenang, matanya jernih, dan suaranya terdengar jelas menembus hiruk-pikuk yajña.
“Wahai Raja keturunan Bharata,” ucap Astika dengan penuh hormat. “Paduka telah berkenan memberikan anugerah kepadaku. Jika anugerah itu sungguh tulus, maka hamba memohon agar Paduka menepatinya.”
Janamejaya menoleh tajam. “Katakanlah permintaanmu, wahai Brahmana muda.”
Astika menarik napas, lalu berkata tanpa ragu, “Hentikanlah upacara pengorbanan ini. Hentikanlah Sarpa Yajña sekarang juga, dan biarkan para naga yang tersisa tetap hidup.”
Seisi pelataran mendadak sunyi. Api tetap menyala, mantra masih bergetar di udara, tetapi para Brahmana saling berpandangan. Janamejaya terdiam. Wajahnya mengeras, matanya menyala oleh amarah yang kembali bangkit.
“Apakah engkau memahami apa yang kau minta?” ujar Janamejaya dengan suara berat. “Upacara ini kuadakan demi ayahku, Raja Parikesit, yang mati oleh bisa Takshaka. Saat ini Takshaka sendiri sedang ditarik oleh kekuatan mantra, tak lama lagi ia akan jatuh ke dalam api suci. Apakah engkau memintaku membatalkan sumpahku?”
Janamejaya melangkah maju. “Mintalah apa pun selain itu. Emas, permata, ribuan sapi, atau tanah seluas kerajaan Kuru. Semua akan kuberikan kepadamu.”
Astika menggeleng pelan. “Hamba tidak menginginkan harta, wahai Raja. Anugerah yang hamba mohon hanyalah ini. Hentikanlah yajña.”
Janamejaya menggenggam tangannya erat. Dendam terhadap Takshaka masih membara, namun janji telah terucap. Ia telah memberikan anugerah di hadapan para Brahmana, dan dharma seorang raja tidak mengizinkannya menarik kembali kata-katanya.
Ia menundukkan kepala.
“Baiklah,” kata Janamejaya akhirnya. “Aku terikat oleh janjiku. Wahai para Resi, hentikanlah upacara ini.”
Vaisampayana dan para Brahmana segera menghentikan pembacaan mantra. Kekuatan yajña yang dahsyat itu pun terputus. Tarikan yang menyeret para naga dari segala penjuru lenyap seketika. Takshaka, yang sebelumnya berlindung di bawah kekuasaan Indra, pun selamat dari kehancuran.
Api pengorbanan mereda. Asap perlahan naik ke angkasa. Para naga yang tersisa bersukacita, memuji Astika sebagai penyelamat wangsa mereka. Sejak hari itu, Astika dikenal sebagai pelindung kaum ular.
Ketika yajña telah benar-benar usai dan pelataran kembali tenang, Janamejaya duduk menghadap para Brahmana. Amarahnya telah surut, digantikan oleh rasa ingin tahu yang mendalam.
“Wahai Vaisampayana,” katanya, “engkau adalah murid Resi Vyasa yang agung. Katakanlah kepadaku, siapakah sebenarnya ayahku, Raja Parikesit? Dari garis keturunan manakah aku berasal, hingga aku duduk di singgasana ini setelah perang besar itu?”
Vaisampayana memandang Raja muda itu dan berkata, “Parikesit adalah putra Abhimanyu, cucu Arjuna, dan cicit Raja Pandu. Ia lahir ketika wangsa Kuru hampir punah, setelah perang Kurukshetra menelan para ksatria agung. Engkaulah penerus terakhir garis Bharata.”
Janamejaya bersandar ke depan. “Ceritakanlah semuanya kepadaku. Tentang Pandawa dan Kaurava. Tentang Krishna yang perkasa. Tentang perang besar yang menghancurkan dunia para ksatria. Aku ingin mendengarnya dari awal.”
Vaisampayana mengangguk. Saat itulah, di hadapan Raja Janamejaya dan para Resi, kisah agung itu mulai dituturkan.
“Dengarkanlah, wahai Raja keturunan Bharata,” ujar Vaisampayana. “Akan kuceritakan kepadamu sejarah wangsa Kuru, kisah yang dikenal sebagai Jaya, tentang perjuangan dharma melawan adharma. Kisah ini harus didengar hingga akhir.”
Dan demikianlah, kisah Mahabharata pun dimulai.
Pada masa itu, kisah yang mulai dituturkan Vaisampayana belum dikenal dengan nama Mahabharata. Ia disebut Jaya, sebuah kisah tentang kemenangan dharma atas adharma. Seiring waktu, ketika kisah ini berkembang dan merangkum seluruh sejarah Wangsa Bharata, ia dikenal sebagai Bharata. Dan ketika kisah itu mencapai bentuknya yang agung dan luas, dunia mengenalnya sebagai Mahabharata epos besar tentang manusia, takdir, dan hukum kebenaran.
Astika tidak menyia-nyiakan saat itu. Ketika api pengorbanan menjulang tinggi dan mantra-mantra para Brahmana mencapai puncaknya, ia bangkit dan berdiri tegak di hadapan Raja Janamejaya. Wajahnya tenang, matanya jernih, dan suaranya terdengar jelas menembus hiruk-pikuk yajña.
“Wahai Raja keturunan Bharata,” ucap Astika dengan penuh hormat. “Paduka telah berkenan memberikan anugerah kepadaku. Jika anugerah itu sungguh tulus, maka hamba memohon agar Paduka menepatinya.”
Janamejaya menoleh tajam. “Katakanlah permintaanmu, wahai Brahmana muda.”
Astika menarik napas, lalu berkata tanpa ragu, “Hentikanlah upacara pengorbanan ini. Hentikanlah Sarpa Yajña sekarang juga, dan biarkan para naga yang tersisa tetap hidup.”
Seisi pelataran mendadak sunyi. Api tetap menyala, mantra masih bergetar di udara, tetapi para Brahmana saling berpandangan. Janamejaya terdiam. Wajahnya mengeras, matanya menyala oleh amarah yang kembali bangkit.
“Apakah engkau memahami apa yang kau minta?” ujar Janamejaya dengan suara berat. “Upacara ini kuadakan demi ayahku, Raja Parikesit, yang mati oleh bisa Takshaka. Saat ini Takshaka sendiri sedang ditarik oleh kekuatan mantra, tak lama lagi ia akan jatuh ke dalam api suci. Apakah engkau memintaku membatalkan sumpahku?”
Janamejaya melangkah maju. “Mintalah apa pun selain itu. Emas, permata, ribuan sapi, atau tanah seluas kerajaan Kuru. Semua akan kuberikan kepadamu.”
Astika menggeleng pelan. “Hamba tidak menginginkan harta, wahai Raja. Anugerah yang hamba mohon hanyalah ini. Hentikanlah yajña.”
Janamejaya menggenggam tangannya erat. Dendam terhadap Takshaka masih membara, namun janji telah terucap. Ia telah memberikan anugerah di hadapan para Brahmana, dan dharma seorang raja tidak mengizinkannya menarik kembali kata-katanya.
Ia menundukkan kepala.
“Baiklah,” kata Janamejaya akhirnya. “Aku terikat oleh janjiku. Wahai para Resi, hentikanlah upacara ini.”
Vaisampayana dan para Brahmana segera menghentikan pembacaan mantra. Kekuatan yajña yang dahsyat itu pun terputus. Tarikan yang menyeret para naga dari segala penjuru lenyap seketika. Takshaka, yang sebelumnya berlindung di bawah kekuasaan Indra, pun selamat dari kehancuran.
Api pengorbanan mereda. Asap perlahan naik ke angkasa. Para naga yang tersisa bersukacita, memuji Astika sebagai penyelamat wangsa mereka. Sejak hari itu, Astika dikenal sebagai pelindung kaum ular.
Ketika yajña telah benar-benar usai dan pelataran kembali tenang, Janamejaya duduk menghadap para Brahmana. Amarahnya telah surut, digantikan oleh rasa ingin tahu yang mendalam.
“Wahai Vaisampayana,” katanya, “engkau adalah murid Resi Vyasa yang agung. Katakanlah kepadaku, siapakah sebenarnya ayahku, Raja Parikesit? Dari garis keturunan manakah aku berasal, hingga aku duduk di singgasana ini setelah perang besar itu?”
Vaisampayana memandang Raja muda itu dan berkata, “Parikesit adalah putra Abhimanyu, cucu Arjuna, dan cicit Raja Pandu. Ia lahir ketika wangsa Kuru hampir punah, setelah perang Kurukshetra menelan para ksatria agung. Engkaulah penerus terakhir garis Bharata.”
Janamejaya bersandar ke depan. “Ceritakanlah semuanya kepadaku. Tentang Pandawa dan Kaurava. Tentang Krishna yang perkasa. Tentang perang besar yang menghancurkan dunia para ksatria. Aku ingin mendengarnya dari awal.”
Vaisampayana mengangguk. Saat itulah, di hadapan Raja Janamejaya dan para Resi, kisah agung itu mulai dituturkan.
“Dengarkanlah, wahai Raja keturunan Bharata,” ujar Vaisampayana. “Akan kuceritakan kepadamu sejarah wangsa Kuru, kisah yang dikenal sebagai Jaya, tentang perjuangan dharma melawan adharma. Kisah ini harus didengar hingga akhir.”
Dan demikianlah, kisah Mahabharata pun dimulai.
Pada masa itu, kisah yang mulai dituturkan Vaisampayana belum dikenal dengan nama Mahabharata. Ia disebut Jaya, sebuah kisah tentang kemenangan dharma atas adharma. Seiring waktu, ketika kisah ini berkembang dan merangkum seluruh sejarah Wangsa Bharata, ia dikenal sebagai Bharata. Dan ketika kisah itu mencapai bentuknya yang agung dan luas, dunia mengenalnya sebagai Mahabharata epos besar tentang manusia, takdir, dan hukum kebenaran.
#13. Akhir Takhta di Tepi Gangga
Setelah Astika, sang brahmana bijaksana, berhasil menghentikan ritual Sarpa Satra yang mengerikan, keheningan yang menyesakkan melingkupi Janamejaya. Api pengorbanan telah padam, tetapi api penyesalan dan pemahaman baru mulai membakar hatinya. Ia telah mendengar kisah Bharata, kisah tentang kemenangan dan kerugian besar wangsa leluhurnya.
Janamejaya memandang abu, simbol dari upaya sia-sia membalikkan takdir. Ia menyadari kebenaran agung yang disampaikan oleh Astika: balas dendam adalah ilusi yang tidak akan pernah mengembalikan Parikesit, ayahnya yang tercinta. Kematian adalah takdir yang tak terhindarkan bagi setiap makhluk hidup, bahkan bagi para raja agung di zaman Satyayuga. Dengan hati yang lapang, Janamejaya menerima takdirnya dan takdir Wangsa Kuru. Ia memohon ampunan dari para resi atas kekejaman yang hampir ia lakukan terhadap Takshaka dan seluruh bangsa naga.
Setelah upacara berakhir, Janamejaya kembali ke Hastinapura. Ia memerintah dengan kebijaksanaan yang luar biasa, mencontoh kakek buyutnya, Maharaja Yudhistira, dan ayahnya. Ia menegakkan Dharma dengan tegas, memastikan keadilan bagi setiap kasta dan rakyatnya. Di bawah pemerintahannya, Hastinapura kembali menikmati kedamaian, menjadi mercusuar terakhir kebenaran di tengah malam Kali Yuga yang semakin pekat. Janamejaya menjadi lambang raja yang mampu bangkit dari kegelapan amarah menuju cahaya kearifan.
Namun, hukum karma tak pernah tidur. Dikisahkan di kemudian hari, Janamejaya melakukan kesalahan kecil dalam pelaksanaan sebuah upacara yang sensitif, dan sebagai akibatnya, ia terkena penyakit kulit yang parah dan menyakitkan. Untuk menyembuhkannya, ia diperintahkan oleh para brahmana untuk mendengarkan Harivamsa, kisah tentang silsilah suci Hari (Wisnu) dan segala manifestasinya, termasuk Sri Krishna. Janamejaya mendengarkan kisah itu dengan kerendahan hati dan ketekunan yang mendalam, dan melalui pendengaran kisah suci itu, penyakitnya lenyap, jiwanya pun bersih.
Setelah masa pemerintahan yang panjang dan adil, Janamejaya akhirnya menyerahkan takhta kepada putranya, Satanika. Satanika adalah seorang raja yang kuat, berpendidikan tinggi dalam ilmu perang dan pengetahuan rohani. Ia berguru kepada Resi Yajnavalkya, salah satu maharesi paling terkemuka pada zaman itu, memastikan bahwa ajaran suci dan Dharma tetap terpelihara. Satanika digantikan oleh putranya, Sahasranika. Kemudian Sahasranika digantikan oleh putranya, Ashwamedhadata.
Generasi-generasi raja yang baik ini terus memerintah Kuru, tetapi mereka tidak dapat menahan gelombang zaman. Seiring waktu berlalu, pengaruh dan kemegahan yang dulu menyelimuti Pandawa dan Parikesit perlahan-lahan memudar. Kekuatan Yuga keempat, Kali Yuga, semakin menguat, membawa keserakahan, perpecahan, dan kelupaan terhadap Dharma.
Kemudian datanglah masa pemerintahan Raja Nichakshu, keturunan yang kelima dari Janamejaya. Di bawah pemerintahannya, Wangsa Kuru menghadapi bencana yang jauh lebih besar daripada perang Kurukshetra: murka alam. Sungai Gangga, sungai suci yang telah memberkati leluhur Kuru selama ribuan tahun tempat Dewi Gangga pernah melahirkan Bisma tiba-tiba meluap dengan kekuatan yang belum pernah terjadi. Airnya meninggi, air bah yang mengerikan mengamuk tanpa ampun.
Banjir bandang yang hebat itu menyapu seluruh kota Hastinapura. Balairung megah tempat Duryodhana pernah menyusun intriknya, takhta yang diduduki Yudhistira setelah memenangkan kebenaran, dan seluruh istana yang merupakan saksi bisu awal mula Kali Yuga, semuanya roboh. Fondasi-fondasi kota legenda itu terkikis dan tenggelam ke dasar lumpur Sungai Gangga. Kehancuran ini bukanlah hasil dari panah atau gada, melainkan simbol bahwa era kejayaan Kuru, secara fisik dan spiritual, telah berakhir.
Menyaksikan keruntuhan total pusat kekuasaan Wangsa Bharata, Raja Nichakshu dan sisa-sisa rakyat yang selamat terpaksa melarikan diri. Mereka meninggalkan reruntuhan yang kini menjadi kuburan basah bagi sebuah peradaban. Nichakshu memimpin migrasi besar ke arah tenggara, jauh dari hulu Gangga yang murka. Akhirnya, mereka menetap dan membangun ibu kota baru di Kaushambi.
Di Kaushambi, Dinasti Kuru melanjutkan keberadaannya, tetapi bukan lagi sebagai penguasa dunia (Chakravartin). Mereka hanyalah kerajaan lokal yang dikenal sebagai Kerajaan Vatsa, ukurannya jauh lebih kecil, kekuatannya lebih terbatas. Garis keturunan ini terus berlanjut, dan di kemudian hari melahirkan Raja Udayana, yang meskipun kisahnya dikenang dalam sastra karena romansa dan kegagahannya, nuansa epik perang dan filosofi mendalam dari Mahabharata telah tergantikan oleh kisah-kisah duniawi yang baru.
Bersama tenggelamnya Hastinapura, jembatan terakhir yang menghubungkan manusia dengan para Dewa pun terputus. Lumpur Sungai Gangga kini menutupi jejak para Pandawa, menyisakan manusia sendirian untuk menghadapi gelapnya Kali Yuga.
Setelah Astika, sang brahmana bijaksana, berhasil menghentikan ritual Sarpa Satra yang mengerikan, keheningan yang menyesakkan melingkupi Janamejaya. Api pengorbanan telah padam, tetapi api penyesalan dan pemahaman baru mulai membakar hatinya. Ia telah mendengar kisah Bharata, kisah tentang kemenangan dan kerugian besar wangsa leluhurnya.
Janamejaya memandang abu, simbol dari upaya sia-sia membalikkan takdir. Ia menyadari kebenaran agung yang disampaikan oleh Astika: balas dendam adalah ilusi yang tidak akan pernah mengembalikan Parikesit, ayahnya yang tercinta. Kematian adalah takdir yang tak terhindarkan bagi setiap makhluk hidup, bahkan bagi para raja agung di zaman Satyayuga. Dengan hati yang lapang, Janamejaya menerima takdirnya dan takdir Wangsa Kuru. Ia memohon ampunan dari para resi atas kekejaman yang hampir ia lakukan terhadap Takshaka dan seluruh bangsa naga.
Setelah upacara berakhir, Janamejaya kembali ke Hastinapura. Ia memerintah dengan kebijaksanaan yang luar biasa, mencontoh kakek buyutnya, Maharaja Yudhistira, dan ayahnya. Ia menegakkan Dharma dengan tegas, memastikan keadilan bagi setiap kasta dan rakyatnya. Di bawah pemerintahannya, Hastinapura kembali menikmati kedamaian, menjadi mercusuar terakhir kebenaran di tengah malam Kali Yuga yang semakin pekat. Janamejaya menjadi lambang raja yang mampu bangkit dari kegelapan amarah menuju cahaya kearifan.
Namun, hukum karma tak pernah tidur. Dikisahkan di kemudian hari, Janamejaya melakukan kesalahan kecil dalam pelaksanaan sebuah upacara yang sensitif, dan sebagai akibatnya, ia terkena penyakit kulit yang parah dan menyakitkan. Untuk menyembuhkannya, ia diperintahkan oleh para brahmana untuk mendengarkan Harivamsa, kisah tentang silsilah suci Hari (Wisnu) dan segala manifestasinya, termasuk Sri Krishna. Janamejaya mendengarkan kisah itu dengan kerendahan hati dan ketekunan yang mendalam, dan melalui pendengaran kisah suci itu, penyakitnya lenyap, jiwanya pun bersih.
Setelah masa pemerintahan yang panjang dan adil, Janamejaya akhirnya menyerahkan takhta kepada putranya, Satanika. Satanika adalah seorang raja yang kuat, berpendidikan tinggi dalam ilmu perang dan pengetahuan rohani. Ia berguru kepada Resi Yajnavalkya, salah satu maharesi paling terkemuka pada zaman itu, memastikan bahwa ajaran suci dan Dharma tetap terpelihara. Satanika digantikan oleh putranya, Sahasranika. Kemudian Sahasranika digantikan oleh putranya, Ashwamedhadata.
Generasi-generasi raja yang baik ini terus memerintah Kuru, tetapi mereka tidak dapat menahan gelombang zaman. Seiring waktu berlalu, pengaruh dan kemegahan yang dulu menyelimuti Pandawa dan Parikesit perlahan-lahan memudar. Kekuatan Yuga keempat, Kali Yuga, semakin menguat, membawa keserakahan, perpecahan, dan kelupaan terhadap Dharma.
Kemudian datanglah masa pemerintahan Raja Nichakshu, keturunan yang kelima dari Janamejaya. Di bawah pemerintahannya, Wangsa Kuru menghadapi bencana yang jauh lebih besar daripada perang Kurukshetra: murka alam. Sungai Gangga, sungai suci yang telah memberkati leluhur Kuru selama ribuan tahun tempat Dewi Gangga pernah melahirkan Bisma tiba-tiba meluap dengan kekuatan yang belum pernah terjadi. Airnya meninggi, air bah yang mengerikan mengamuk tanpa ampun.
Banjir bandang yang hebat itu menyapu seluruh kota Hastinapura. Balairung megah tempat Duryodhana pernah menyusun intriknya, takhta yang diduduki Yudhistira setelah memenangkan kebenaran, dan seluruh istana yang merupakan saksi bisu awal mula Kali Yuga, semuanya roboh. Fondasi-fondasi kota legenda itu terkikis dan tenggelam ke dasar lumpur Sungai Gangga. Kehancuran ini bukanlah hasil dari panah atau gada, melainkan simbol bahwa era kejayaan Kuru, secara fisik dan spiritual, telah berakhir.
Menyaksikan keruntuhan total pusat kekuasaan Wangsa Bharata, Raja Nichakshu dan sisa-sisa rakyat yang selamat terpaksa melarikan diri. Mereka meninggalkan reruntuhan yang kini menjadi kuburan basah bagi sebuah peradaban. Nichakshu memimpin migrasi besar ke arah tenggara, jauh dari hulu Gangga yang murka. Akhirnya, mereka menetap dan membangun ibu kota baru di Kaushambi.
Di Kaushambi, Dinasti Kuru melanjutkan keberadaannya, tetapi bukan lagi sebagai penguasa dunia (Chakravartin). Mereka hanyalah kerajaan lokal yang dikenal sebagai Kerajaan Vatsa, ukurannya jauh lebih kecil, kekuatannya lebih terbatas. Garis keturunan ini terus berlanjut, dan di kemudian hari melahirkan Raja Udayana, yang meskipun kisahnya dikenang dalam sastra karena romansa dan kegagahannya, nuansa epik perang dan filosofi mendalam dari Mahabharata telah tergantikan oleh kisah-kisah duniawi yang baru.
Bersama tenggelamnya Hastinapura, jembatan terakhir yang menghubungkan manusia dengan para Dewa pun terputus. Lumpur Sungai Gangga kini menutupi jejak para Pandawa, menyisakan manusia sendirian untuk menghadapi gelapnya Kali Yuga.
Comments
Post a Comment