Kisah Dewa penjaga Pintu
Kebiasaan menempel gambar Dewa Penjaga Pintu pada hari-hari Tahun Baru Imlek bermula pada Dinasti Han. Sejak masa Dinasti Tang, Jenderal Qin Shubao dan Yuchi Jingde yang mengabdi kepada Kaisar Li Shimin (李世民) dikenal sebagai Dewa Penjaga Pintu.
Legenda mengatakan bahwa pada masa Dinasti Tang terdapat seorang peramal
yang hebat dan sangat tepat dalam meramal, terutama dalam hal perikanan.
Keahlian tersebut merisaukan Raja Naga yang menguasai Sungai Jing.
Pada awalnya Raja Naga ingin melenyapkan peramal tersebut, namun setelah
mendapat nasehat sang Raja Naga berkeinginan mempermalukan sang peramal.
Maka Raja Naga yang naik ke darat dan menjelma menjadi manusia menemui
peramal tersebut.
Raja Naga menantang sang peramal untuk meramal kapan jatuhnya hujan. Jika
ramalan tepat akan diberi hadiah 50 keping perak. Jika salah, semua peralatan
ramal yang dimiliki akan dihancurkan dan sang peramal tidak diperbolehkan
meramal sepanjang hidupnya.
Sang peramal mengatakan bahwa besok akan hujan dan juga meramalkan
besarnya hujan tersebut beserta waktunya.
Sang Raja Naga merasa kemenangan di depan mata karena semua urusan
mendatangkan hujan adalah wewenangnya. Namun pada saat dia kembali, utusan
Kaisar Langit datang membawa perintah agar Raja Naga menurunkan hujan, tepat seperti
yang dikatakan oleh sang peramal.
Karena tidak ingin mengakui kekalahan, maka Raja Naga mengubah waktu dan
jumlah hujan yang diturunkan.
Setelah menurunkan hujan, Raja Naga lalu menemui sang peramal dan mulai
menghancurkan peralatan ramal yang ada. Raja Naga mengatakan bahwa ramalan yang
diberikan tidak benar.
Dengan tenangnya sang peramal berkata bahwa sejak awal dia sudah
mengetahui bahwa yang datang adalah Raja Naga. Dan Raja Naga, yang mengubah
waktu dan besar hujan yang diturunkan, membuat Kaisar Langit marah dan
menjatuhkan hukuman mati kepada Raja Naga.
Raja Naga langsung tertegun mendengar hal itu. Akhirnya dia memohon agar
sang peramal bersedia menyelamatkan dirinya.
Sang peramal mengatakan agar Raja Naga pergi meminta bantuan Kaisar Li
Shimin agar terus menemani Perdana Menteri Wei He, yang diutus untuk membunuh
Raja Naga, hingga tengah malam.
Sang Kaisar bersedia menemani Wei He bermain catur hingga larut malam.
Dan membuat Wei He tertidur. Kaisar Li merasa Wei He tidak akan dapat melakukan
tugasnya karena telah tertidur. Namun dalam tidurnya, Wei He mendatangi Raja
Naga dan memberikan hukuman.
Arwah dari Raja Naga sangat marah dan menganggap Kaisar Li lalai
sehingga dia terus mengganggu tidur sang kaisar setiap malam.
Dua orang jenderal, Qin Shubao dan Yuchi Jingde, yang melihat
penderitaan sang kaisar bersedia menjaga semalam suntuk di depan kamar tidur
kaisar agar kaisar dapat tidur nyenyak.
Dengan adanya dua orang jenderal tersebut, sang kaisar dapat tidur
dengan tenang dan nyenyak.
Pada keesokan harinya sang kaisar sangat berterima kasih kepada dua
jenderal tersebut. Namun dia menyadari bahwa tidak mungkin terus menerus
meminta Jenderal Qin dan Yuchi agar terus berjaga setiap malam.
Akhirnya sang kaisar memiliki ide dengan menggambar kedua jenderal dan
menempelkannya di depan pintu kamar.
Lama kelamaan kebiasaan kaisar ini tersebar luas dan menjadi sebuah
kebiasaan di kalangan bangsa Tionghoa. Sehingga Jenderal Qin dan Yuchi dikenal
sebagai Dewa Penjaga Pintu.
Ada cerita lain yang mengatakan bahwa Kaisar Li Shimin meminta bantuan
Tong Sam Cong. Tong Sam Cong mendoakan arwah raja naga dan diangkat menjadi
adik angkat Li Shimin.
Comments
Post a Comment