Legenda 8 Dewa
Ba Xian (八仙), Delapan Dewa, Pat Shien, adalah Dewa-Dewi Tao yang hidup pada masa yang berbeda dan dapat mencapai kekekalan hidup. Mereka sering dilukiskan pada benda-benda porselen, patung, sulaman, lukisan dan sebagainya. Dewa-Dewi Ba Xian menggambarkan kehidupan yang berbeda, yaitu Kemiskinan, Kekayaan, Kebangsawanan, Kejelataan, Kaum Tua, Kaum Muda, Kejantanan dan Kewanitaan.
Diceritakan bahwa sebagian besar dilahirkan di masa Dinasti Tang dan Dinasti Song. Walaupun kisah
mengenai mereka telah ada sejak Dinasti Tang, namun pengelompokkan ke dalam
kategori Delapan Dewa baru terjadi pada masa Dinasti Ming.
Ba Xian dihormati dan dipuja karena menunjukkan kebahagiaan. Kisah Ba
Xian menunjukkan bahwa kita dapat mencapai kehidupan abadi dalam kebahagiaan,
melalui tindakan-tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri dan melakukan
perbuatan-perbuatan baik.
Lü Dongbin
Simplified: 吕洞宾
Traditional: 呂洞賓
Seorang sastrawan dan petapa yang mempelajari Tao dari Zhongli Quan. Di
tangan kanannya sering membawa kebutan suci pendeta Tao. Simbol Lu Dongbin
adalah Pedang Pembunuh Roh Jahat dan dengan gerakan terbang yang cepat. Sebelum
mempelajari Tao, Lu Dongbin diuji dengan berbagai ujian berat oleh Zhongli
Quan, yang berhasil diatasi semuanya. Lu Dongbin dapat dikatakan sebagai salah
satu Dewa yang paling tersohor dari Delapan Dewa. Ia dianggap sebagai penolong
orang miskin dan pembasmi roh-roh jahat.
Lu
Dong Bin adalah salah seorang delapan dewa yang paling terkenal, sehingga
beliau sering dianggap sebagai pemimpin dari delapan dewa tersebut. Lu Dong Bin
diperkirakan hidup pada akhir dinasti Tang (618-906) dan lahir di keluarga yang
sederhana. Sejak kecil, Lu Dong Bin sudah menunjukkan bakat kepintaran
dan kepandaian yang jauh melebihi anak-anak sebayanya. Menginjak usia remaja,
beliau memutuskan untuk mengikuti jejak sang ayah untuk menjadi pejabat negara.
Pada
masa itu, untuk menjadi seorang pejabat, setiap orang diharuskan mengikuti
ujian negara. Sayangnya, Lu Dong Bin tidak berhasil lolos ujian di tahun
pertama. Pantang menyerah, beliau mencoba belajar dan bekerja lebih keras,
siang dan malam. Namun, di tahun berikutnya, beliau kembali gagal. Dalam
perjalanan pulang, beliau mulai meragukan jalan hidupnya untuk menjadi seorang
pejabat. Di dalam keraguannya, beliau singgah di sebuah penginapan dan bertemu
dengan seorang pria tambun yang sedang memasak bubur. Sang pria kemudian
menawarkan Lu Dong Bin untuk duduk dan makan semangkuk bubur yang sedang
dimasaknya. Lu Dong Bin pun duduk di sebelah pria tambun itu dan seketika
merasa lelah dan mengantuk. Tak lama, beliau pun tertidur lelap.
Setelah
terbangun, langit sudah gelap dan sang pria sudah tidak ada. Lu Dong Bin pun
memutuskan untuk pulang ke rumah. Setahun setelah kejadian itu, Lu Dong Bin
kembali mengikuti ujian negara. Kali ini, beliau berhasil lulus dengan hasil
yang gemilang dan diangkat menjadi pejabat tinggi negara. Karena kepiawaiannya
dalam mengatur administrasi negara, beliau dengan cepat dipromosikan menjadi
wakil menteri. Kemudian, beliau menikah dan memiliki dua orang anak, laki-laki
dan perempuan. Karena kesuksesannya, ada seorang rekan kerja yang iri dan
menuduh Lu Dong Bin melakukan korupsi.
Lu
Dong Bin pun dicopot dari jabatannya dan dipindahkan ke desa terpencil.
Istrinya kemudian meninggalkan dirinya serta membawa kedua anaknya pergi. Lu
Dong Bin yang jatuh miskin hanya bisa hidup di pinggiran jalan dan meringkuk
kedinginan di musim dingin. Merasa ajalnya telah tiba, Lu Dong Bin pun menutup
matanya dan berserah diri. Saat itu juga, beliau terbangun karena ada sinar
terang yang menyinari dirinya. Beliau pun terbangun di sebuah penginapan dan
sedang duduk di depan seorang pria tambun yang sedang memasak bubur.
Sang
pria pun berkata: “Engkau telah menjalani seluruh hidup dalam waktu yang lebih
singkat daripada waktu yang saya butuhkan untuk memasak semangkuk bubur.” Lu
Dong Bin yang kaget berusaha mencerna perkataan pria tersebut dan menyadari
bahwa apa yang dialaminya adalah sebuah mimpi gambaran kehidupannya. Merasa
bahwa pria di depannya adalah seorang yang suci, Lu Dong Bin pun menanyakan apa
yang terjadi. Sang pria kemudian memperkenalkan diri dengan nama Zhongli Quan
(salah seorang dari delapan dewa). Lu Dong Bin pun bertekad untuk mengikuti
jejak Zhongli Quan dengan mempelajari ajaran Tao dan mencari jalan menuju
kesempurnaan. Namun, Zhongli Quan menolak Lu Dong Bin sebagai muridnya dan
menyuruh Lu Dong Bin untuk melakukan 3000 kebajikan terlebih dahulu.
Lu
Dong Bin pun hidup sebagai seorang pengembara dan selalu membantu orang yang
kesusahan. Di berbagai kesempatan, Zhongli Quan berulang kali menguji
kebijaksanaan Lu Dong Bin dalam menjalani kehidupan, mulai dari ditipu seorang
pedagang hingga kehilangan keluarga yang dicintai. Dianggap telah lolos dari
ujian-ujian yang diberikan, Zhongli Quan menampakkan dirinya dan mengangkat Lu
Dong Bin sebagai murid. Zhongli Quan kemudian mengajarkan filsafat ajaran Tao
dan ilmu kedewaan, sehingga tak lama kemudian Lu Dong Bin bisa mencapai
kesempurnaan dan menjadi dewa.
Zhongli Quan
Simplified: 锺离权
Traditional: 鍾離權
Memiliki nama keluarga Zhongli dan hidup pada masa Dinasti Han, karena
itu ia juga dikenal sebagai Han Zhongli. Zhongli Quan adalah seorang Jenderal
dalam kerajaan pada masa Dinasti Han. Pada hari tuanya dia menjadi petapa dan
mendalami ajaran Tao. Biasa digambarkan
sebagai laki-laki gemuk bertelanjang perut dan membawa kipas bulu yang dapat
mengendalikan lautan.
Zhongli
Quan merupakan salah seorang dari legenda Delapan Dewa yang terkenal. Beliau
digambarkan selalu memegang sebuah kipas besar atau sebuah persik. Dari
ke-delapan Dewa, Zhongli Quan merupakan Dewa yang paling senior karena beliau
dilahirkan pada dinasti Han (206 SM – 220 M).
Sejak
lahir, Zhongli Quan seperti sudah ditakdirkan untuk menjadi orang yang mulia.
Beliau sudah mampu berbicara saat berusia 7 hari. Beliau mampu menceritakan
pada kedua orangtuanya tentang kehidupan di istana khayangan. Saat beranjak
dewasa, karena kepintarannya, Zhongli Quan berhasil masuk ke dalam istana dan
diangkat menjadi pejabat oleh Kaisar.
Alkisah,
Zhongli Quan diperintahkan untuk membawa lima ribu prajurit untuk melawan
pasukan musuh di daerah perbatasan. Namun, pasukan Zhongli Quan kalah telak dan
beliau harus melarikan diri dari medan peperangan. Setelah berhari-hari
berjalan tak kenal arah, beliau mendapati dirinya tersesat di sebuah lembah
gunung bersalju. Merasa bahwa ajalnya sudah dekat, Zhongli Quan duduk
bersandarkan salju dan memejamkan mata.
Tak
lama kemudian, seorang kakek tua yang membawa sebuah tongkat berjalan melewati
lembah tersebut. Sang kakek pun memberitahu Zhongli Quan bahwa ada sebuah rumah
di ujung lembah itu. Zhongli Quan pun berjalan ke arah yang ditunjukkan si
kakek tua. Sesampainya di sebuah rumah yang reyot, beliau dengan serta-merta
disambut oleh si kakek tua yang membawa tongkat itu. Merasa bahwa sang kakek tua
bukanlah manusia biasa, Zhongli Quan berlutut dan meminta untuk diajarkan
ajaran kebenaran (TAO), sang kakek pun mengangguk senang. Zhongli Quan pun
diajarkan ilmu alkimia dan filsafat ajaran Tao. Sembari memulihkan fisiknya,
Zhongli Quan membantu sang kakek memperbaiki rumah reyot tersebut.
Setelah
tiga minggu berlalu, sang kakek memerintahkan agar Zhongli Quan menggunakan
ilmunya untuk menolong orang banyak. Sesaat setelah Zhongli Quan berjalan pergi
meninggalkan rumah sang kakek, beliau menyadari bahwa beliau belum sempat
berterima kasih atas didikan sang kakek. Namun, saat Zhongli Quan membalikkan
badannya, rumah tersebut sudah tidak ada.
Semenjak
kejadian itu, Zhongli Quan mengabdikan dirinya untuk menolong rakyat miskin dan
hidup untuk terus memperbaiki diri untuk mencapai kesempurnaan. Di suatu waktu,
Zhongli Quan menggunakan ilmu alkimia untuk menciptakan batangan perak yang
dibagikan kepada rakyat miskin yang kelaparan. Beliau juga mengajar rakyat
kecil untuk bercocok tanam dengan menggunakan batangan perak itu sebagai modal.
Konon,
dengan menggunakan ilmu alkimia-nya, Zhongli Quan berhasil menemukan cara untuk
mencapai kedewaan. Setelah mencapai kedewaan, Zhongli Quan terus menolong
banyak orang. Salah satu kisah yang paling terkenal adalah kisah bagaimana
Zhongli Quan membantu Lu Dongbin, salah satu dari delapan dewa, untuk mencapai
kesempurnaan.
Zhang Guolao
Simplified: 张果老
Traditional: 張果老
Zhang Guolao adalah kepala akademi kerajaan, namun dia mengundurkan diri
untuk menjadi petapa di Pegunungan Zhongtiao (中條山) di Hengzhou (恆州), saat ini Propinsi Shanxi. Memiliki keledai ajaib yang
dapat membawa dirinya berjalan ribuan kilometer setiap hari. Ketika mencapai
tujuan, dia mengubah keledai tersebut menjadi kertas dan Zhang Guolao
melipatnya untuk dimasukkan dalam sakunya. Untuk menghidupkannya dia membuka
lipatan tersebut dan meniupnya. Kaisar Tang Ming Huang ingin mengangkat Zhang
Guolao bekerja di istana, tetapi dia tidak bersedia meninggalkan kehidupan
pengembaraannya. Setelah dua kali menghadap Kaisar, pertapa ini pun menghilang
entah kemana. Sering digambarkan sedang menunggangi keledai secara terbalik.
Simbolnya adalah tempat ikan yang terdiri dari batang bambu dengan tabung kecil
yang muncul di ujungnya. Ia dipuja sebagai pembawa keturunan laki-laki.
Zhang
Guo Lao diperkirakan hidup pada masa dinasti Tang di abad ke 6 atau 7 Masehi.
Beliau terlahir di keluarga kalangan rakyat jelata. Demi bertahan hidup, Zhang
Guo Lao muda bercocok tanam di ladang dan menjual hasil tanamannya ke pasar
dengan menunggangi keledai putih. Sepulangnya dari pasar, beliau beristirahat
sejenak di sebuah kelenteng. Karena terlalu lelah, beliau pun tertidur. Tak
lama, aroma makanan yang lezat mengusik tidurnya dan akhirnya Zhang Guo Lao pun
terbangun. Karena belum makan sejak pagi, beliau pun berkeliling mencari asal
aroma makanan tersebut.
Ternyata,
di ruangan sebelah, terdapat sejumlah makanan lezat yang tak terkira jumlahnya.
Merasa bahwa ini adalah hadiah dari langit, Zhang Guo Lao pun mulai menyantap
makanan itu dengan girang. Tak lupa, beliau membagikan makanan tersebut untuk
keledainya. Setelah selesai, beliau pulang ke rumah, tanpa menyadari bahwa
makanan yang dimakannya merupakan sajian yang dibuat oleh seorang pertapa Tao
untuk mencapai kesempurnaan.
Zhang
Guo Lao pun meneruskan hidupnya hingga ratusan tahun. Beliau terkenal bijaksana
dan suka menolong rakyat jelata. Dengan menunggangi keledainya, beliau
berkeliling negeri untuk membantu warga yang kesulitan. Karena kebesaran hati
dan kebijaksanaannya, Kaisar dinasti Tang mengutus seseorang untuk mengajak
Zhang Guo Lao ke istana. Sesampainya sang utusan di rumah Zhang Guo Lao, sang
utusan mendapati bahwa Zhang Guo Lao telah meninggal. Oleh karena itu, ia
pulang ke istana dengan tangan hampa.
Namun,
Zhang Guo Lao ternyata tidak meninggal. Beliau kembali meneruskan perjalanannya
dan membantu rakyat yang membutuhkan. Mendengar hal ini, sang Kaisar merasa
dibodohi dan memanggil Fei Wu, seorang pertapa Tao, untuk meyakinkan Zhang Guo
Lao agar mau datang ke istana. Sesampainya Fei Wu di kediaman Zhang Guo Lao, ia
menyampaikan niatnya untuk mengajak Zhang Guo Lao pergi ke istana. Detik itu
juga, Zhang Guo Lao seperti kehilangan napasnya dan meninggal. Merasa amat
bersalah, Fei Wu menangisi kepergian rekannya itu dan meminta maaf atas
kelancangannya. Zhang Guo Lao pun kembali bernapas dan mengampuni Fei Wu.
Beliau pun setuju untuk pergi ke istana dengan syarat bahwa beliau tidak akan
dipaksa untuk menerima jabatan dalam pemerintahan.
Sesampainya
di istana, Zhang Guo Lao dipersilahkan istirahat di ruang tamu agung. Sementara
itu, Kaisar memanggil seorang pertapa Tao lain bernama Fa Shan.
“Apakah
kamu mengetahui apa rahasia dari hidup abadi Zhang Guo Lao?”
“Tentu
saja Yang Mulia. Hamba mengetahuinya.”
“Apakah
itu?”
“Hamba
tidak bisa mengatakannya Yang Mulia. Karena ini adalah rahasia langit. Jika
saya membongkar rahasia ini maka hamba akan mati”
“Begitukah?”
“Ya,
Yang Mulia. Kecuali Yang Mulia berjanji untuk melepaskan mahkota dan jubah
kebesaran Yang Mulia dan bergegas memohon ampun kepada Zhang Guo Lao apabila
hamba meninggal.”
“Baiklah,
saya menyanggupinya.”
“Rahasia
dari hidup abadi seorang tua Zhang adalah menembus inti dari ….”
Sebelum
bisa menyelesaikan kalimatnya, darah mengucur dari telinga, mata, hidung dan
telinga Fa Shan. Ia pun terjatuh mati. Kaisar yang amat ketakutan bergegas
melepaskan jubah dan mahkotanya dan dengan tanpa alas kaki berlari menuju ruang
tamu agung tempat Zhang Guo Lao beristirahat.
Sang
Kaisar berlutut memohon ampun di depan Zhang Guo Lao dan mengatakan bahwa ini
semua adalah salahnya. Zhang Guo Lao dengan tenang menjawab: “Anak muda itu
terlalu banyak bicara. Hamba khawatir jika hamba mengampuninya, maka ia akan
kembali membongkar rahasia langit!” Sang Kaisar kembali memohon pengampunan di
hadapan Zhang Guo Lao. Akhirnya, Zhang Guo Lao menyeduh sepoci teh, meminumnya
sedikit dan menyemburkan sisanya ke muka Fa Shan. Seketika itu juga, Fa Shan
pun kembali bernapas.
Kaisar
yang menyadari kesaktian dan kebesaran hati Zhang Guo Lao, memutuskan untuk
tidak lagi mengganggu beliau dan membungkuk tiga kali saat Zhang Guo Lao pergi
meninggalkan istana. Konon, beliau terbang menunggangi keledainya secara
terbalik ke langit dan sejak itu, Zhang Guo Lao tidak pernah terlihat lagi.
Li Tie guai
Simplified: 李铁拐
Traditional: 李鐵拐
Memiliki nama asli Li Xuan dan hidup pada masa Dinasti Sui. Dia
melambangkan cacat dan keburukan. Dia berusaha untuk meringankan beban
penderitaan umat manusia. Li Tieguai memiliki sebuah tongkat besi dan bermuka
hitam. Dia membawa sebuah labu yang digunakannya untuk menolong umat manusia.
Suatu hari, ketika rohnya pergi ke Huashan, dia memberitahukan muridnya, Lang
Ling, untuk menjaga badannya dan membakarnya apabila dia tidak kembali dalam
tujuh hari. Dalam hari keenam, Lang Ling mendapat kabar bahwa ibunya sakit
keras dan sebagai seorang anak dia harus merawat ibunya. Maka dia membakar
badan tersebut satu hari lebih awal. Ketika roh Li Tieguai kembali keesokan
harinya, dia tidak dapat menemukan badannya sehingga dia memasuki badan seorang
tua yang baru saja meninggal. Namun orang tua
tersebut ternyata cacat. Pada saat pertama, Li ingin meninggalkan badan
tersebut, tetapi Lao Zi / Lao Tze membujuknya dengan mengatakan
bahwa penerapan dari ajaran Tao tidak tergantung penampilan. Lao Zi lalu memberi
tongkat besi kepada Li Tieguai. Li Tieguai kadang
digambarkan sedang berdiri diatas kepiting atau ditemani seekor menjangan.
Li tie guai mempunyai nama asli li Suan (Li yuan). Berasal dari San
Zhou, hidup di jaman Dinasti Sui. Hari kebesarannya diperingati setiap tanggal
8 bulan 4 Im lek. Li Tie Guai disebutkan jua Tie Guai (Li si tongkat besi).
Beliau sering ditampilkan sebagai seorang tua dengan waah yang kotor
berjenggot panjang dan berambut berantakan dengan pin emas di kepala. Beliau
dilukiskan dengan membawa tongkat besi dan botol labu merah di tangannya. Walau
dikenal pemarah, Li sangat murah hati dan sering menolong orang miskin, sakit,
mereka yang sedang butuh pertolongan. Ia menolong mereka dengan botol labu
emasnya yang selalu dibawanya.
Menurut cerita, Li adalah murid dari Thay Shang Lao Jin. Beliau
meninggalkan keduniawian dan mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari ilmu
taoisme seperti Tao ying Suk. Selama 40 tahun, beliau juga sering berpuasa dan
bermeditasi selama berhari-hari.
Diceritakan sebelumnya li menjadi Dewa, beliau dulunya adalah seorang
pria tampan. Namun suatu saat, ketika beliau sedang bermeditasi, rohnya
berjalan/naik ke langit untuk bertemu Dewa-Dewi lainnya. Beliau berpesan kepada
muridnya bernama LiQing agar menunggu badan kasarnya selama 7 hari sampai
rohnya kembali.
Apabila rohnya tidak kembali dalam waktu 7 hari, malah Li Qing
ditugaskan untuk membakar raga gurunya. Karena berarti gurunya telah menjadi
Dewa
Namun baru 6,5 hari, Li Qing telah membakar tubuh gurunya, karena dia
harus pergi menengok ibunya yang sakit keras, dan ia tak berani meninggalkan
jasad gurunya begitu saja.
Ketika roh Li kembali, ia menemukan bahwa tubuhnya telah dikremasi
menjadi abu. Dalam keadaan panik, ia lantas berpikir bahwa harus masuk ke badan
orang lain sebagai pengganti.
Kebetulan saat itu ada seorang pengemis yang baru saja meninggal karena
kelaparan. Tanpa pikir panjang, roh Li langsung saja masuk ke badan pengemis
tersebut.
Oleh karena itu Li Tie Guai sering ditampilkan sebagai seorang pengemis
dengan pakaian compang-camping
Kemudian ketika Maha Dew Thay Shang Lao Jin menampakkkan diri pada Tie
Guai, beliau memberikan botol labu berisi obat yang dapat menyembuhkan segala
macam penyakit dna tidka akna pernah habis isinya. Setelah meninggal, Dewa Thay
Shang Lao Jin mengangkat Li Tie Guai menjadi Dewa
Sejak Saat itu Li Tie Guai diberi tugas untuk menyembuhkan orang sakit.
Sejak itu Li telah berkelana ke segala penjuru, dimana terdapat orang miskin
dan yang terbaring sakit tertindas
Cao Guojiu
Simplified: 曹国舅
Traditional: 曹國舅
Hidup pada masa Dinasti Song dan merupakan putra dari Cao Bin, seorang
komandan militer, dan saudara laki-laki dari Ratu Cao Hou, ibu dari Kaisar Yin
Zong (宋英宗). Cao Guojiu digambarkan memakai jubah
kebesaran dan topi pengadilan. Di tangannya ada kertas catatan kerajaan dan
sepasang alat musik kastanyet. Suatu hari Zhongli Quan dan Lu Dongbin bertemu
dengannya dan menanyakan apa yang sedang dia
lakukan. Dia menjawab bahwa dia sedang belajar Tao. “Apakah itu dan dimanakah
itu?”, mereka balik bertanya. Pertama-tama Cao Guojiu menunjuk ke langit dan
kemudian ke hatinya.
Cao
Guo Jiu (曹国舅)
diperkirakan hidup pada zaman dinasti Song (960 – 1279). Beliau merupakan adik
kandung dari Ibu Suri Cao, sehingga beliau mendapatkan gelar sebagai “Paman
Kaisar”. Meskipun mempunyai gelar dan pangkat yang tinggi, Cao Guo Jiu sama
sekali tidak tertarik dalam mengurus pemerintahan. Beliau lebih senang menolong
rakyat kecil dengan membagikan beras kepada rakyat yang kelaparan. Hal ini
berkebalikan dengan kakak kandung Cao, Cao Jing Zhi (曹景植), yang
sangat berambisi mendapatkan kekayaan dan jabatan tinggi.
Pada
suatu hari Cao Guo Jiu mendengar kakaknya melakukan korupsi di gudang
pemerintahan. Beliau berusaha untuk menasihati kakaknya agar segera
mengembalikan apa yang sudah diambilnya. Namun, semua itu tidak digubris oleh
sang kakak.
Pada
lain waktu sang kakak kembali membuat masalah. Ia menggunakan jabatan dan
pangkatnya untuk merebut istri dari seorang pejabat pemerintahan. Cao Guo Jiu
berusaha untuk memperingatkan kakaknya yang sudah bertindak kelewatan itu.
Namun, kembali hal ini tidak digubris oleh kakaknya. Karena jabatannya yang
tinggi, tidak ada yang berani menghukum sang kakak.
Karena
merasa malu, Cao Guo Jiu melepaskan semua gelarnya dan berkelana ke berbagai
penjuru negeri. Dalam beberapa tahun Cao Guo Jiu menyendiri di sebuah desa
terpencil untuk menekuni Tao. Beliau pun sering membantu rakyat di desa
tersebut untuk bercocok tanam dan beternak.
Pada
suatu hari Lu Dong Bin dan Zhong Li Quan datang berkunjung ke desa tersebut
untuk melihat sudah sejauh mana kemajuan Cao Guo Jiu dalam belajar dan
mempraktikkan Tao. Mereka bertanya kepada Cao Guo Jiu, “Apa yang kamu lakukan
di desa terpencil ini?”
“Saya
menekuni dan belajar Tao.”
“Di
manakah Tao itu?”
Cao
Guo Jiu menjawab dengan menunjuk ke arah 天 (tian/langit)
“Lalu
di manakah 天
(tian) itu? “
Cao
Guo Jiu menunjuk ke arah hatinya.
Kedua
dewa tersebut tertawa melihat jawaban dari Cao Guo Jiu lalu berkata, “Hatimu
sudah menyatu dengan 天
dan 天
adalah bagian dari Tao. Kamu sudah mencapai tingkatan yang tertinggi.”
Lu
Dong Bin dan Zhong Li Quan akhirnya memberikan sebuah ilmu rahasia kepada Cao
Guo Jiu dan mengajak beliau untuk bergabung menjadi dewa. Sesudah menjadi dewa,
Cao Guo Jiu sering digambarkan mengenakan jubah dan topi pejabat kekaisaran
serta memegang sebuah tablet giok.
Melalui
cerita ini, beliau mengajarkan kepada kita bahwa integritas dan prinsip tidak
melihat nama, gelar, dan kekayaan. Hanya dengan meletakkan semua itu, seseorang
baru bisa selaras dengan Tao dan mencapai kedewaan.
Lan Caihe
Simplified: 蓝采和
Traditional: 藍采和
Sering ditampilkan berpakaian biru dengan tidak bersepatu. Sambil
melambai-lambaikan sepasang tongkat, ia mengemis sepanjang jalan. Lan Caihe
terus menerus membacakan syair-syair yang menggambarkan kehidupan yang tidak
kekal beserta kesenangan-kesenangan yang hampa. Lan Caihe berkelana ke seluruh
negeri sambil menyanyi dan membawa keranjang bunga. Lan Caihe terkadang
terlihat seperti wanita.
Lan
Cai He (蓝采和)
merupakan salah satu dewa dalam legenda delapan dewa. Beliau digambarkan
sebagai seorang anak kecil dengan pakaian compang-camping. Beliau hanya memakai
sebuah sandal jerami di kaki kirinya dan membawa alat musik kayu bernama
kastanyet. Beliau juga digambarkan membawa sebuah keranjang bambu penuh bunga.
Lan
Cai He diperkirakan hidup pada zaman Lima Dinasti (907-960M). Beliau merupakan
seorang musisi dan tunawisma. Beliau menghibur orang-orang dengan nyanyian yang
merdu. Terkadang banyak orang memberikan Lan Cai He uang sebagai imbalan atas
pertunjukannya. Namun, Lan Cai He hanya mengambil beberapa koin uang untuk
digunakannya membeli makanan. Sisa uangnya diberikan kepada tunawisma yang
lain.
Isi
lagu-lagu Lan Cai He menggambarkan singkatnya jalan kehidupan manusia. Ada
suatu waktu ketika seseorang masih muda dan perkasa, lalu di lain waktu ia
menjadi tua, lemah, dan tidak berdaya. Melalui lagu-lagunya, Lan Cai He
berusaha menyadarkan banyak orang agar tidak menyia-nyiakan kehidupan.
Lan
Cai He biasanya tidur di pinggir jalan dan tanpa perlindungan baju hangat pada
musim dingin. Sering kali orang-orang menganggap beliau sudah meninggal karena
mereka tidak bisa melihat uap napas beliau saat sedang tertidur. Ketika
dibangunkan, beliau pun menggeliatkan badannya dan berterima kasih kemudian
melanjutkan perjalanannya.
Pada
suatu hari Lan Cai He melihat seorang pengemis yang pincang dengan tongkat kayu
tergeletak di tengah jalan bersalju. Beliau menolong pengemis itu dan
membawanya ke sebuah kuil. Saat beliau melihat pengemis itu hanya memakai satu
sepatu, beliau melepaskan salah satu sandal jeraminya dan memakaikannya ke kaki
pengemis itu. Kemudian Lan Cai He melanjutkan perjalanannya.
Tidak
disangka, pengemis tua itu adalah Li Tie Guai (李铁拐),
salah satu dari delapan dewa, yang hendak menguji kebaikan hati Lan Cai He. Li
Tie Guai kemudian menemui Lan Cai He dan menjadikannya sebagai murid. Beliau
mengajarkan Lan Cai He ilmu kedewaan dan filosofi Tao. Mereka berdua terus
berkelana ke seluruh pelosok negeri selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Namun,
fisik dan wajah Lan Cai He tidak menua sedikit pun. Setelah itu, Lan Cai He
diangkat menjadi dewa dan terbang menuju kahyangan bersama Li Tie Guai.
Han Xiangzi
Simplified: 韩湘子
Traditional: 韓湘子
Han Xiangzi melambangkan masa muda. Han Xiangzi adalah keponakan dari
Han Yu, seorang menteri pada masa Dinasti Tang. Simbolnya adalah sebuah suling.
Seorang pecinta kesunyian, mewakili orang ideal yang senang tinggal ditempat
alamiah. Han Xiangzi sering menyusuri desa sambil meniup seruling dengan merdu
sehingga menarik perhatian burung-burung dan binatang lainnya. Han Xiangzi
tidak mengenal nilai uang dan bila diberi uang akan dia sebarkan di tanah.
Han Xiang Zi ((韓湘子 ; Pinyin: hán xiāng zi) adalah seorang
filsuf pada masa Dinasti Tang. Ia merupakan salah satu anggota dari Delapan
Dewa yang juga adalah sepupu dari Han Wên Kung.
Dewa ini seorang filsuf, Han Xiang Zi merupakan salah
satu anggota dari Legenda Delapan Dewa . Han Xiang Zi sepupu dari Han Wên Kung..
Han Xiang belajar Taoisme di Pengadilan Tang di bawah
bimbingan Lu Dongbin.
Pada suatu perjamuan dengan Han Yu, Han Xiang membujuk
Han Yu untuk melepaskan kehidupan birokrasi dan ikut memperdalam ajaran Tao.
Tapi Han Yu tetap pada pendiriannya dan sebaliknya mengatakan bahwa Han Xiang
harus memberikan hidupnya untuk Taoisme, bukan Konghucu, jadi Han Xiang
menunjukkan kemampuan Tao yang dia pelajari.
Dewa Pencinta Kesunyain ini menuangkan anggur kedalam
cangkir demi cangkir dari labu miliknya tanpa berhenti. Karena serulingnya
dapat memberikan kehidupan, maka Han Xiang juga disebut pemain seruling pemberi
perlindungan. Han Xiang Seorang pecinta kesunyian, mewakili orang ideal yang
senang tinggal di tempat alamiah.
Han Xiang zi sering menyusuri desa sambil meniup seruling
dengan merdu sehingga menarik perhatian burung-burung dan binatang lainnya. Han
Xiang zi tidak mengenal nilai uang dan bila diberi uang akan dia sebarkan di
tanah
Han Xiangzi, dengan nama kehormatan Qingfuor Beizhu,
adalah tokoh mitologi Tiongkok dan salah satu dari Delapan Abadi dalam jajaran
Tao. Dia mempelajari seni sihir Tao di bawah bimbingan Lü Dongbin, salah satu
dari Delapan Abadi. Han Xiangzi sering digambarkan membawa dizi (seruling
Cina), sehingga ia juga dianggap sebagai dewa pelindung pemain suling. Dia juga
diyakini sebagai komposer karya musik Tao Tian Hua Yin (天花引).
Identitas historis
Tidak diketahui apakah Han Xiangzi ada secara historis.
Namun, dia diyakini sebagai Han Xiang, cucu Han Yu, seorang politisi, penyair,
dan cendekiawan Konfusianisme terkemuka yang hidup di dinasti Tang. Setidaknya
ada tiga akun berbeda tentang cucu Han Xiang dan Han Yu.
Han Yu pernah mendedikasikan tiga puisi untuk cucunya,
Han Xiang, yang nama sopannya adalah "Qingfu". Ketiga puisi tersebut
adalah Zuo Qian Zhi Languan Shi Zhisun Xiang (左遷至藍關示侄孫湘), dan puisi dua bagian Su Zeng Jiang Kou Shi
Zhisun Xiang (宿曾江口示侄孫湘). Pada tahun 819, selama
pemerintahan Kaisar Xianzong dari Tang, kaisar mengatur upacara akbar untuk
peninggalan Buddha yang diduga dikawal ke istana kekaisaran di Chang'an dan
mendorong orang-orang untuk menyembah peninggalan dan menyumbang ke biara-biara
Buddha. Han Yu menulis peringatan untuk Kaisar Xianzong untuk menasihatinya
agar tidak melakukannya, dan mengambil contoh Kaisar Wu dari Liang dan Hou Jing
untuk memperingatkan kaisar. Kaisar Xianzong sangat marah dan ingin
mengeksekusi Han Yu, tetapi akhirnya mengampuninya, menurunkannya, dan
mengirimnya keluar dari Chang'an untuk menjabat sebagai Prefek Prefektur Chao (潮州; sekarang Chaozhou,
Guangdong). Sepanjang jalan, Han Yu melewati Lan Pass (藍關; di Kabupaten Lantian saat ini, Xi'an,
Shaanxi), di mana Han Xiang datang untuk bergabung dengannya dalam
perjalanannya. Han Yu menulis puisi Zuo Qian Zhi Languan Shi Zhisun Xiang dan
mendedikasikannya untuk Han Xiang.
Teks sejarah New Book of Tang menyebutkan bahwa Han Yu
memiliki cucu, Han Xiang, yang nama sopannya adalah "Beizhu". Han
Xiang menjabat sebagai da li cheng (大理丞), seorang pejabat di Kementerian Kehakiman,
di bawah pemerintahan Tang.
Dalam Lain-lain Potongan Lain-lain dari Youyang, Han Yu
memiliki cucu yang tidak disebutkan namanya yang tinggal di wilayah Sungai
Huai. Dia menginstruksikan cucunya untuk mempelajari klasik Konfusianisme di
sebuah sekolah, tetapi cucunya tidak menunjukkan minat pada studinya dan
menggertak teman-teman sekelasnya. Han Yu kemudian mengatur agar cucunya
belajar di sekolah Buddha, tetapi kepala biara mengeluh bahwa dia menantang dan
sembrono. Han Yu kemudian membawa pulang cucunya dan memarahinya karena tidak
menghabiskan waktunya secara produktif. Namun, cucunya mengklaim bahwa dia
memiliki kemampuan khusus untuk mengubah warna bunga peoni, dan menunjukkannya
di depannya. Han Yu sangat terkejut. Cucunya kemudian kembali ke wilayah Sungai
Huai dan menjalani sisa hidupnya sebagai rakyat jelata sederhana.
He Xiangu
何仙姑
Satu-satunya wanita diantara Delapan Dewa. Berpenampilan halus dan lemah
lembut, dan sering terlihat membawa bunga teratai yang dapat dipakai untuk
mengobati orang sakit. Kadang-kadang He Xiangu digambarkan berada di atas
kelopak teratai yang terapung sambil memegang
kemoceng.
He
Xian Gu (何仙姑)
adalah satu-satunya dewi di dalam legenda delapan dewa. Beliau digambarkan
selalu membawa setangkai bunga teratai dan beberapa buah persik. Beliau hidup
pada zaman dinasti Tang (618-907) di daerah Guangzhou, di daratan Tiongkok.
Saat umurnya masih 15 tahun, beliau bermimpi diperintahkan oleh seorang dewa
untuk naik ke sebuah gunung untuk mencari mata air. Keesokan paginya, karena
merasa mimpinya bukanlah mimpi biasa, He Xian Gu berjalan mendaki gunung yang
terjal itu. Setelah perjalanan panjang nan melelahkan, beliau menemukan mata
air yang dimaksud. Karena sangat haus, He Xian Gu minum air itu.
Tidak
disangka, setelah minum air tersebut, He Xian Gu merasa badannya begitu ringan
dan sanggup berlari dengan kencang. Beliau pun menuruni gunung dengan kecepatan
yang luar biasa. Sesampainya di rumah, beliau menyadari bahwa dirinya diberikan
kekuatan yang luar biasa. Dirinya tidak lagi merasakan lelah serta mampu
mengeluarkan tenaga yang besar.
Walaupun
demikian, He Xian Gu menggunakan kekuatannya itu untuk menolong orang-orang di
sekitarnya. Beliau mendaki gunung untuk mengumpulkan tanaman obat-obatan untuk
orang tuanya dan rakyat yang membutuhkan. Beliau juga mengajarkan cara bercocok
tanam dan cara mengumpulkan tanaman obat-obatan. Oleh karena itu, banyak orang
yang mengagumi kerja keras dan dedikasi beliau.
Saat
kedua orang tuanya sakit, He Xian Gu pergi mengumpulkan buah-buahan terbaik
dari pelbagai tempat dan merawat mereka dengan baik. Beliau menyadari bahwa
kehidupan ini hanyalah sementara sehingga perbuatan yang dilakukan sehari-hari
menjadi sangat penting. Ketika kedua orang tuanya tiada, He Xian Gu melanjutkan
dedikasinya kepada masyarakat dengan membantu orang-orang yang membutuhkan.
Suatu
ketika, Ratu Wu Ze Tian yang mengetahui tentang kesaktian He Xian Gu, berusaha
memanggil beliau ke istana untuk berbagi rahasia tentang ilmu kesaktiannya. He
Xian Gu yang menyadari bahwa Wu Ze Tian hanya berambisi untuk hidup abadi dan
kekal, mengabaikan permintaan sang ratu dan pergi meninggalkan Guangzhou.
Tidak
banyak yang tahu tentang kisah He Xian Gu setelah menolak untuk menemui Wu Ze
Tian. Namun, banyak orang yang percaya bahwa beliau telah menjadi dewi dan
terbang ke kahyangan.
Comments
Post a Comment