Legenda Putri Miao Shan
Terdapat beberapa legenda lainnya terkait tentang asal usul Dewi Kwan Im. Dalam kitab Hong Sin Yan Gi / Hong Sin Phang / Fengshenbang 封神榜 atau disebut juga Fengshen Yanyi 封神演義 ( Roman penganugrahan dewa )[1] disebutkan bahwa sebelum ia dikenal dengan sebagai Dewi Kwan Im, ia dikenal dengan nama Chu Hang / Cihang . Ia merupakan salah satu murid 12 murid dari Yuanshi Tianzun 元始天尊. Buku tersebut ditulis oleh Xu Zhonglin 許仲琳 ( 1560-1630 ) pada masa dinasti Ming.
Kisah Putri Miao Shan sebagai Guanyin menarik minat
masyarakat. Xiangshan Baojuan 香山寶卷[4] (Gulungan Mustika Gunung Harum ) menceritakan Guanyin
Pusa bermanifestasi menjadi Putri Miao Shan 妙善, putri ke tiga dari Raja Miao Zhuang 妙莊. Cerita Xiangshan Baojuan
bermuasal dari vihara Xiangshan si 香山寺 di Ruzhou 汝州. Vihara itu adalah tempat pemujaan Guanyin
dan bhiksu kepala vihara bernama Huaizou 懷晝 memberikan tulisan kisah Putri Miao Shan
pada pejabat kota Ruzhou, Jiang Ziqi. 蔣之奇 ( 1031-1104) pada masa dinasti Song utara (
960-1127 ). Dari situlah legenda Guanyin sebagi putri Miaoshan meluas dan
isinya serupa. Jika melihat isi kisah Putri Miao Shan, terasa nuansa
kepercayaan yang amat kental dan juga unsur Buddhisme, Taoisme dan Ruisme (
Confuciusme ).
Isi cerita Miao Shan menjadi Kwan Im yang umum adalah
sebagai berikut : Dewi Kwan Im dilahirkan pada masa dinasti Zhou Timur (
770-256 BCE ) pada periode "peperangan antar negara" 戰國 ( 403-221 BCE ). Menurut legenda Puteri Miao Shan,
anak dari Raja Miao Zhuang 妙莊 /
Biao Cong / Biao Cuang Penguasa Negeri Xing Lin (Hin Lim), kira-kira pada akhir
Dinasti Zhou pada abad III SM.
Disebutkan bahwa Raja Miao Zhuang sangat mendambakan
seorang anak lelaki, tapi yang dimilikinya hanyalah tiga orang puteri. Puteri
tertua bernama Miao Shu (Biao Yuan) ada yang menyebut miao qing, yang kedua
bernama Miao Yin (Biao In) dan yang bungsu bernama Miao Shan (Biao Shan).
Setelah ketiga puteri tersebut menginjak dewasa, Raja
mencarikan jodoh bagi mereka. Puteri pertama memilih jodoh seorang pejabat
sipil, yang kedua memilih seorang jendral perang sedangkan Puteri Miao Shan
tidak berniat untuk menikah. Ia malah meninggalkan istana dan memilih menjadi
Bhikuni di Klenteng Bai Que Si (Tay Hiang Shan).
Berbagai cara diusahakan oleh Raja Miao Zhuang agar
puterinya mau kembali dan menikah, namun Puteri Miao Shan tetap bersiteguh
dalam pendirianNya. Pada suatu ketika, Raja Miao Zhuang habis kesabarannya dan
memerintahkan para prajurit untuk menangkap dan menghukum mati sang puteri.
Setelah kematianNya, arwah Puteri Miao Shan mengelilingi
neraka. Karena melihat penderitaan makhluk-makhluk yang ada di neraka, Puteri
Miao Shan berdoa dengan tulus agar mereka berbahagia. Secara ajaib, doa yang
diucapkan dengan penuh welas asih, tulus dan suci mengubah suasana neraka
menjadi seperti surga.
Penguasa Akherat, Yan Luo Wang, menjadi bingung sekali.
Akhirnya arwah Puteri Miao Shan diperintahkan untuk kembali ke badan kasarNya.
Begitu bangkit dari kematianNya, Buddha Amitabha muncul di hadapan Puteri Miao
Shan dan memberikan Buah Persik Dewa. Akibat makan buah tersebut, sang Puteri
tidak lagi mengalami rasa lapar, ke-tuaan dan kematian. Buddha Amitabha lalu
menganjurkan Puteri Miao Shan agar berlatih kesempurnaan di gunung Pu Tuo, dan
Puteri Miao Shan-pun pergi ke gunung Pu Tuo dengan diantar seekor harimau
jelmaan dari Dewa Bumi.
9 (Sembilan) tahun berlalu, suatu ketika Raja Miao Zhuang
menderita sakit parah. Berbagai tabib termasyur dan obat telah dicoba, namun
semuanya gagal. Puteri Miao Shan yang mendengar kabar tersebut, lalu menyamar
menjadi seorang Pendeta tua dan datang menjenguk. Namun terlambat, sang Raja
telah wafat.
Dengan kesaktianNya, Puteri Miao Shan melihat bahwa arwah
ayahNya dibawa ke neraka, dan mengalami siksaan yang hebat. Karena rasa
bhaktiNya yang tinggi, Puteri Miao Shan pergi ke neraka untuk menolong. Pada
saat akan menolong ayahNya untuk melewati gerbang dunia akherat, Puteri Miao
Shan dan ayahNya diserbu setan-setan kelaparan. Agar mereka dapat melewati
setan-setan kelaparan itu, Puteri Miao Shan memotong tangan untuk dijadikan
santapan setan-setan kelaparan.
Setelah hidup kembali, Raja Miao Zhuang menyadari bahwa
bhakti ketiga putrinya sangat luar biasa. Akhirnya sang Raja menjadi sadar dan mengundurkan
diri dari pemerintahan serta bersama-sama dengan keluarganya pergi ke gunung
Xiang Shan untuk bertobat dan mengikuti jalan Buddha. Rakyat yang mendengar
bhakti Puteri Miao Shan hingga rela mengorbankan tanganNya menjadi sangat
terharu. Berbondong-bondong mereka membuat tangan palsu untuk Puteri Miao Shan.
Buddha AMITABHA (O Mi To Hud) yang melihat ketulusan
rakyat, merangkum semua tangan palsu tersebut dan mengubahNya menjadi suatu
bentuk kesaktian serta memberikannya kepada Puteri Miao Shan. Lalu Ji Lay Hud
memberiNya gelar Qian Shou Qian Yan Jiu Ku Jiu Nan Wu Shang Shi Guan Shi Yin
Phu Sa, yang artinya Bodhisatva Kwan Im Penolong Kesukaran Yang Bertangan Dan
Bermata Seribu Yang Tiada Bandingnya.
Saat ini Saudara miao shan dihormati sebagai Boddhisatva
pendamping Kuan Yin. Kakaknya yang bernama Miao Shu (Miao Qing) menjadi
Bodhisatva Manjusri atau Wen shu pho sat atau Manjusri. Bodhisatva yang
bertugas mengajarkan kebijaksanaan, menunjukkan jalan keselamatan, mengendarai
singa berbulu hijau (merupakan penjelmaan Dewa Api), membawa pedang
kebijaksanaan menyibak kegelapan. Hari untuk menghormati dan mengenal lahirnya
Wen Shu adalah tanggal 4 bulan 4 Lunisolar calender (Calender Imlek). Singa
hijau itu adalah penjelmaan dari Dewa Api yang menangkap Miao Zhuang yang
berjiarah ke Xiang Shan, dan ditaklukan Panglima langit setelah Miao Shan
menjadi Bodhisatva
Sedangkan Miao Yin diangkat sebagai Pu xian Pu sa yang
mengendarai gajah bergading 6 atau Samantabhadra Bodhisatva yang dikenal
Sebagai Buddha Cinta, dan kesempurnaan. Gajah ini adalah penjelmaan Dewa air
yang menangkap Miao Zhuang yang berjiarah ke Xiang Shan, dan ditaklukan
Panglima langit setelah Miao Shan menjadi Bodhisatva.
Comments
Post a Comment