Legenda Yue Lao
Masyarakat Tionghoa mengenal Sang Dewa Jodoh dengan sebutan Dewa Yue Lao atau Yue Xia Lao Ren. Banyak catatan sejarah yang menyebutkan asal usul Dewa Jodoh Yue Lao yang digambarkan seorang dengan wajah lembut dan memiliki jenggot putih. Yue Xia Lao Ren juga digambarkan sebagai pria dengan sebutan Orang Tua dari Bulan. Dewa Yue Lao ini memiliki tugas yang tidak mudah. Bagi masyarakat Tiongoa, Dewa Yue Lao adalah penentu jodoh manusia. Semua urusan dan kisah percintaan adalah tanggung jawab Dewa Jodoh. Ia sering turun ke dunia untuk mengikat tali simpul benang merah yang tak kasat mata manusia, kepada pasangan pria dan wanita.
Kisah
Dewa Jodoh sendiri dimulai sejak dari zaman Dinasti Tang (618-907). Hari
kebesaran Dewa Yue Lao diperingati setiap tanggal 15 bulan 8 Imlek, yang juga
merupakan hari festival kue bulan (Mid Autumn Fest). Asal
usul Dewa Yue Lao sendiri memiliki beberapa versi cerita.
Dikisahkan
pada tahun Zhenguan ke-2 (628 M; jaman Dinasti Tang), ada seorang sarjanawan
yang bernama Wei Gu (韋固),
yang dalam perjalanannya tiba di Kota Songcheng (宋城) untuk memperdalam ilmu
kesusastraannya. Suatu ketika dia menjumpai seorang pak
tua sedang duduk membaca buku. Di bawah pencahayaan
sinar bulan purnama, tulisan dalam buku itu terlihat aneh, dan belum pernah dia
lihat sebelumnya. Ketika Wei Gu menanyakan siapa sesungguhnya dia, pak tua
menjawab bahwa Ia bukan berasal dari dunia manusia, dan tugasnya adalah
menyatukan jodoh antara pria dan wanita di dunia. Sedangkan buku yang dibawanya
adalah buku yang mencatat tentang perjodohan itu.
Lalu
si tua mengeluarkan seutas benang merah sambil berkata “Pria dan wanita yang
kakinya telah kuikat dengan benang ini, akan menjadi pasangan suami istri
selamanya.” Wei Gu pun penasaran, lalu mencoba untuk menanyakan siapa calon
istrinya kelak, dan dimana dia sekarang berada, Lalu pak tua itu menjawab,
bahwa calon istrinya saat ini masih berusia 3 tahun, dan mereka akan menikah 14
tahun kemudian, lalu berkata, “Kalau kau ingin melihat calon Istrimu, ikutlah
denganku sekarang,” kata pak tua. Mereka kemudian berjalan bersama ke dalam
kota dan memasuki sebuah pasar. Di sana mereka menjumpai seorang wanita yang
matanya telah buta sebelah, sementara menjual sayuran sambil menggendong
seorang anak perempuan yang berusia 3 tahun. Melihat itu, Wei Gu tiba-tiba naik
pitam. Betapa tidak. Ia yang berasal dari keluarga berada dan terpelajar,
bagaimana bisa berjodoh dengan seorang anak penjual sayur yang miskin, lalu
berkata “Kalau memang dia calon istri-ku, akan kubunuh dia sekarang,” katanya. Pak
tua kemudian melarangnya dan berkata, “Semua ini telah
ditentukan oleh takdir. Anda tidak akan berhasil membunuhnya”. Wei Gu pun
bergegas meninggalkan lokasi, dan mencari penginapan. Sesampainya di
penginapan, dia mengupah seseorang di kota itu untuk menghabisi nyawa anak
perempuan penjual sayuran yang ditemuinya tadi di pasar. Karena tergiur akan
bayaran yang dijanjikan, sang abdi pun bergegas melakukan untuk melakukan
perintah tuannya, dan segera pergi ke pasar yang dimaksud. Ditengah kerumuman
orang, dia berhasil menusuk bocah perempuan itu dengan sebilah pisau. tapi
karena takut dihakimi massa, dia segera berbegas meninggalkan lokasi. Jadi
hidup atau matinya si bocah perempuan tadi, ia sendiri tidak dapat memastikannya.
Dia pun pulang melapor, dan mengambil bagiannya. Tapi dalam hatinya, Wei Gu
merasakan penyesalan atas perbuatannya. Untuk melupakan peristiwa itu sesegera
mungkin, ia lalu bergegas meninggalkan Kota Songcheng. Setelah itu, Wei Gu pun
melanjutkan petualangannya ke berbagai kota. Selama perjalanannya, tidak
sedikit gadis cantik yang telah ditemuinya. Namun setelah beberapa kali
berusaha meminang gadis cantik dari keluarga terkemuka, Wei Gu ditolak. Sampai
suatu hari, Wei Gu akhirnya berhasil memperoleh jabatan (pemerintahan) di Kota
Xiangzhou (香洲),
Guangdong. Ketika itu, dia telah berusia 30-an tahun dan tetap membujang.
Gubernur Xiangzhou yang kala itu adalah atasannya, mempunyai seorang putri yang
cantik. Ia terkesan akan pribadi Wei Gu, dan bermaksud untuk menjodohkan
putrinya itu. Mendengar hal ini, Wei Gu pun girangnya bukan main dan
menerimanya; karena calon istri-nya ini tidak saja cantik, tetapi juga berasal
dari keluarga pejabat tinggi. Singkatnya, setelah beberapa hari menikah, Wei Gu
merasa heran sebab istrinya tidak pernah melepaskan kain penutup di pundaknya.
Ketika didesak, akhirnya sang istri mengaku bahwa ia berusaha menyembunyikan
bekas luka yang ada di pundaknya tersebut. Istrinya pun akhirnya membuka
identitasnya, dimana dia sesungguhnya ia adalah putri seorang wedana (pembantu
pimpinan wilayah setingkat kabupaten) di Kota Songcheng. Sewaktu berusia 3
tahun, Ayahnya meninggal, dan Ibunya menyusul tak lama kemudian. Dia kemudian
dirawat oleh ibu susunya (pengasuh). Untuk mengisi kegiatan, ibu susunya
berjualan sayur di pasar.
Pada
waktu sedang menemani pengasuhnya berjualan di pasar, seorang lelaki tiba2
berusaha untuk menusuknya. Tetapi untungnya dia selamat, dan hanya bagian
pundaknya saja yang terluka. Setelah kedua orang tuanya meninggal, pamannya
yang sekarang menjadi Gubernur Xiangzhou mengambilnya dan mengasuhnya sebagai
anak sendiri. Mendengar kisah yang dituturkan istrinya, Wei Gu pun terperanjat
kaget. Roman mukanya berubah. Ketika ditanyakan apakah ibu susunya yang berjualan
sayur di pasar itu sebelah matanya buta, sang Istri meng-iyakan. Begitupun juga
ketika dicocokkan dengan tanggal peristiwa itu terjadi, dan ternyata sama! Tak
terelakkan lagi, bahwa istrinya ini ternyata adalah bocah perempuan yang pernah
ingin dibunuhnya 14 tahun silam, di pasar sayur kota Songcheng.
Dalam
penyesalannya, Wei Gu pun lalu menceritakan kisahnya, mulai dari pertemuannya
dengan seorang pak
tua aneh di suatu malam di kota tersebut. Sampai ia
menyewa seseorang untuk membunuh bocah perempuan, yang dikiranya seorang anak
penjual sayur bermata satu, yang sekarang telah menjadi istrinya.
Dia
sekarang baru yakin, bahwa pak tua itu ternyata adalah seorang Dewa, yang telah
merangkai jodoh mereka.
Malam itu juga, dia bersama istrinya lalu mengadakan sembahyang di halaman
rumah untuk mengucapkan terima kasih kepada pak tua, yang ternyata adalah Dewa
Yue Lao.
Kisah
ini kemudian menyebar, dan diturunkan dari jaman ke jaman. Yue
Xia Lao Ren (月下老人) kemudian dipuja sebagai Dewa yang
mengatur perjodohan umat manusia, dan mengurus kisah percintaan diantara
mereka. Pemujaan-Nya kemudian tersebar luas ke seantero Negeri. Di Tiongkok,
hampir di tiap kota terdapat kelenteng yang secara khusus memuja Dewa Yue Lao
Gong (月老公)
ini. Salah satunya yang terkenal adalah yang terdapat di Kota Hangzhou,
Zhejiang. Sementara di Taiwan, kelenteng pemujaan Yue Lao Gong yang paling
terkenal adalah di Guan Yin Ding, tepatnya di Kelenteng Tian Hou Gong, Tainan.
Dewa Yue Lao disebut juga Yin Yan Lao Ren (姻緣老人) atau Yin Yan Gong (姻緣公). Beliau secara
khusus mengurus sebuah buku yang memuat perjodohan. Pria dan wanita yang telah
tercatat dalam “buku jodoh” itu boleh menjadi suami istri di dunia. Ini adalah
sebuah cerita rakyat yang disampaikan dari generasi ke generasi hingga kini.
Bagi yang ingin tahu wajah Yue Lao, bisa melihatnya di ‘Repulse Bay’ Hongkong,
yang membelakangi pantai berpasir putih nan indah.
Pada
masa kini, bagi pria dan wanita yang masih single bisa bersembahyang di depan
altar Yue Lao untuk meminta jodoh. Demikian pun bagi yang sudah berpacaran
(relationship), juga bisa bersembahyang di altar-Nya, agar diberikan jalan yang
baik hingga bisa langgeng sampai ke tahap pernikahan. “Sementara bagi pasangan
yang akan menikah, mereka dianjurkan untuk bersembahyang di depan altar Yue Lao
sambil membawa kain merah, agar Yue Lao bisa segera mengikat jodoh mereka.”
Konon ada satu kepercayaan, kalau asap hio yang di tancapkan oleh pasangan
muda/i di depan altar Yue Lao bersatu dan naik membumbung bersama, maka
pasangan ini memperoleh restu dari Dewa Yue Lao untuk menjadi suami-istri.
Namun apabila asap hio tersebut berpencar, maka hubungan mereka tidak boleh
berlanjut, karena diyakini akan berakhir dengan sia-sia.
Comments
Post a Comment