Mahabarata 5
“Dituturkan kembali dari Mahabharata karya Vyasa dengan bahasa dan pendekatan naratif modern.”
Yudistira berjalan di antara mayat-mayat yang berserakan. Setiap langkah terasa berat, seakan ia sedang menginjak rasa bersalahnya sendiri. Ia tidak melihat tubuh yang membusuk. Yang ia lihat adalah wajah-wajah yang dikenalnya Bhishma, Drona, Duryodhana, dan yang paling melukai hatinya, Karna.
Hatinya diliputi penyesalan. Kemenangan yang diraih Pandawa tidak membawa kebahagiaan. Ia merasa telah menyebabkan kehancuran besar bagi dunia ksatria. Terlebih setelah ia mengetahui bahwa Karna, yang gugur di tangannya melalui siasat perang, adalah saudara kandungnya sendiri.
Di dalam tenda kerajaan yang megah, Yudistira duduk diam. Di depannya tergeletak mahkota emas. Mahkota itu berkilau, tetapi di matanya tampak seperti dilumuri darah yang tak bisa dibersihkan.
“Ini bukan kemenangan,” bisiknya lirih. “Ini kehancuran Dharma. Kita mendapatkan negeri, tapi kehilangan jiwa.”
Para Pandawa dan Draupadi berdiri di sekelilingnya, mencoba menguatkan, meski hati mereka sendiri juga hancur. Mereka telah berjuang dan kehilangan banyak hal demi saat ini saat di mana kebenaran akhirnya menang.
“Kakak,” kata Arjuna dengan suara tenang, “kematian adalah takdir para ksatria. Mereka gugur sesuai Dharma. Kita hanya menjalankan kewajiban kita. Sekarang tugas kita adalah membangun kembali kerajaan.”
Namun kata-kata itu tak sanggup menembus duka Yudistira.
“Aku tidak melihat Dharma dalam kemenangan ini,” kata Yudistira. “Dengan dalih keadilan, kita telah membunuh sanak saudara dan para tetua. Bagaimana seorang raja dapat memerintah dengan hati yang dipenuhi dosa?”
Ia berdiri dan memandang mereka semua dengan tekad yang suram.
“Aku tidak akan menjadi raja. Aku akan mencukur rambutku, meninggalkan pakaian kebesaran, dan pergi ke hutan. Aku akan hidup sebagai pengemis, mencari penebusan atas dosa-dosaku. Hanya dengan meninggalkan segalanya aku bisa menemukan kedamaian.”
Bhima, Arjuna, Nakula, Sahadewa, dan Draupadi mendengarnya dengan cemas. Mereka tahu kesedihan Yudistira bukan kesedihan biasa, melainkan krisis batin yang dalam.
Arjuna berkata, “Wahai Kakak, para ksatria yang gugur telah mencapai akhir sesuai Dharma mereka. Perang ini tidak terhindarkan. Kita hanya menjalankan kewajiban.”
Namun Yudistira menggeleng. “Jika kewajiban membawa kehancuran seperti ini, maka aku tidak menginginkannya. Aku berniat meninggalkan kerajaan dan menjalani hidup sebagai pertapa. Dengan menjauh dari dunia, mungkin aku dapat menebus dosa-dosa ini.”
Mendengar itu, Draupadi berbicara dengan tegas. “Seorang raja tidak berhak meninggalkan rakyatnya. Jika engkau merasa berdosa, maka perintahlah dengan adil. Melarikan diri dari kewajiban bukanlah Dharma.”
Bhima mendukungnya. “Kerajaan ini diperoleh dengan penderitaan besar. Jika engkau pergi, semua pengorbanan itu menjadi sia-sia.”
Saat perdebatan semakin panas, Krishna yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. Suaranya lembut, tetapi penuh wibawa, membuat semua terdiam.
“Wahai putra Kunti,” kata Krishna dengan tenang, “engkau bersedih karena menganggap dirimu pelaku utama dari kehancuran ini. Padahal semua yang terjadi berada di bawah kuasa Waktu. Para raja yang gugur telah dipanggil oleh takdir mereka.”
Krishna melanjutkan, “Penderitaanmu lahir dari kebingungan dan rasa memiliki atas perbuatan. Musuh terbesarmu bukan mereka yang mati, melainkan pikiranmu sendiri.”
Yudistira mendengarkan. Untuk pertama kalinya, dadanya terasa sedikit lebih ringan.
“Kau memang membutuhkan penebusan,” kata Krishna, “tetapi bukan dengan melarikan diri ke hutan. Penebusanmu ada pada pengetahuan dan pemahaman Dharma yang sejati.”
Krishna lalu menunjuk ke arah medan perang.
“Masih ada satu orang yang bisa menjawab semua keraguanmu Bhishma Pitamaha. Selama ia terbaring di atas panah, ia adalah sumber kebijaksanaan terakhir. Dari dialah kau harus belajar tentang Dharma, tentang kewajiban seorang raja, dan cara menebus dosa tanpa meninggalkan tanggung jawab.”
“Pergilah kepadanya. Ia akan mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan menaklukkan musuh, melainkan menaklukkan diri sendiri.”
Kata-kata itu menusuk langsung ke hati Yudistira. Ia sadar bahwa ia tidak bisa lari dari takdirnya. Ia harus memahaminya lebih dulu sebelum memimpin.
Tak lama kemudian, para Pandawa bersama Krishna meninggalkan tenda kerajaan. Mereka tidak menuju Hastinapura, melainkan kembali ke Kurukshetra, ke tempat Bhishma terbaring menunggu ajalnya siap memberikan pelajaran terakhir yang akan menentukan masa depan Pandawa dan kerajaan mereka.
Cahaya di Atas Ranjang Panah
Hamparan Kurukshetra yang luas kini hening, memendam jeritan jutaan jiwa yang telah gugur. Di tengah keheningan itu, Pandawa dan Krishna tiba di tempat yang menjadi titik fokus duka sekaligus sumber penghormatan terakhir: Bhishma Pitamaha. Ia terbaring tenang di atas ranjang panah (Sharashayya), sebuah tempat tidur yang terbuat dari ribuan anak panah yang menopang tubuhnya tanpa menyentuh tanah. Bhishma belum wafat; ia sedang menanti waktu suci Uttarayana, saat matahari bergerak ke utara, untuk melepaskan jiwanya menuju keabadian. Di sekelilingnya, suasana terasa sangat sakral karena para Resi agung seperti Bhagawan Vyasa dan Narada turun dari langit untuk menyaksikan saat-saat terakhir sang ksatria suci tersebut.
Mereka mendekat dengan hati-hati. Yudhisthira, yang paling rapuh di antara saudara-saudaranya, berlutut di samping kakeknya. Ia merasakan beratnya mahkota Hastinapura yang belum terpasang, sebuah mahkota yang seolah ditempa dari darah keluarganya sendiri. Rasa bersalah telah menggerogoti jiwanya hingga ia merasa tak layak memimpin dan ingin melarikan diri ke hutan untuk menjadi seorang pertapa demi menebus dosa.
“Kakek,” bisik Yudhisthira, suaranya tercekat oleh kepedihan, “Kami telah memenangkan pertempuran, namun saya merasa telah kehilangan segalanya. Bagaimana mungkin saya dapat menaiki takhta ini, yang berdiri di atas penderitaan guru dan saudara? Apa hakikat kekuasaan? Apakah ia hanya hukuman bagi mereka yang selamat?”
Bhishma membuka matanya. Pandangannya yang tajam masih memancarkan kedalaman samudra kebijaksanaan. Di hadapan para resi dan Sri Krishna, ia memutuskan untuk menurunkan seluruh esensi tata negara Rajadharma yang ia simpan selama hidupnya. Pengetahuan ini adalah ringkasan dari Dharma itu sendiri agar Yudhisthira paham bahwa tugas seorang raja adalah bentuk pengabdian tertinggi kepada Tuhan dan sesama.
“Anakku, dengarkan aku baik-baik,” ujar Bhishma, suaranya tenang namun bergema. “Kekalahan yang kau rasakan sekarang adalah ilusi dari ego yang sedang berduka. Tugasmu kini jauh lebih besar daripada kesedihanmu. Ketahuilah, Yudhisthira, raja adalah pembuat zaman. Jika raja bertindak benar sesuai Dharma, dunia akan makmur. Tetapi jika raja lemah atau melarikan diri dari tanggung jawab, dunia akan runtuh dalam kekacauan.”
Bhishma melanjutkan dengan menekankan pentingnya mencegah Matsya-nyaya Hukum Rimba, di mana ikan besar memakan ikan kecil yang lemah. “Kekuasaan ada bukan untuk kesombongan, melainkan untuk melindungi mereka yang tidak berdaya. Tugas utama seorang raja adalah Rakshana perlindungan terhadap rakyat. Jika kau tidak mau memimpin, maka kezaliman akan menyebar ke seluruh negeri. Kau harus menjadi bendungan yang menahan banjir kekacauan tersebut.”
Ia menjelaskan bahwa kekuasaan bukanlah tempat untuk bersenang-senang, melainkan amanah suci yang menuntut pengendalian diri yang ketat atau Samyama. “Seorang raja harus hidup seperti petapa di dalam istana, mengendalikan hawa nafsunya lebih keras daripada rakyat biasa. Setiap keputusanmu akan memengaruhi jutaan jiwa. Pengorbanan pribadimu adalah harga yang harus kau bayar untuk kesejahteraan rakyatmu.”
Bhishma kemudian membahas keseimbangan dalam memerintah. “Seorang raja harus mampu menyeimbangkan antara kelembutan dan ketegasan. Jadilah seperti matahari musim gugur yang menghangatkan namun tetap berwibawa. Jika kau terlalu lembut, orang jahat akan meremehkan hukum dan rakyat akan menjadi tidak patuh. Namun, jika kau terlalu kejam, rakyat akan membencimu. Pilihlah hukuman yang adil, yang didorong oleh kewajiban, bukan oleh amarah pribadi.”
Pitamaha beralih ke cara membangun negara yang kuat. Ia menekankan bahwa fondasi pemerintahan terletak pada orang-orang di sekitarmu. “Pilihlah menteri-menterimu dengan sangat hati-hati. Mereka harus setia, jujur, dan bebas dari sifat serakah. Jangan pernah memimpin sendirian; seorang raja yang bijaksana tahu cara mendengarkan nasihat orang-orang suci dan ahli.”
Ia juga menyoroti pentingnya informasi melalui mata-mata. “Mata-mata adalah mata dan telinga raja. Mereka harus menjelajahi seluruh negeri untuk membawakanmu kebenaran pahit yang mungkin tidak berani diucapkan oleh para menterimu. Pengetahuan tentang keadaan rakyat yang sebenarnya adalah perisai utamamu dalam memimpin.”
Mengenai ekonomi, Bhishma memberikan perumpamaan lebah yang sangat indah. “Pajak harus dikumpulkan dengan cara yang adil, Yudhisthira. Bertindaklah seperti lebah yang mengumpulkan madu. Lebah mengambil nektar tanpa melukai bunga atau mematikan tanaman itu. Demikian pula, ambillah pajak tanpa memeras rakyatmu hingga mereka jatuh miskin. Pastikan lumbung pangan selalu penuh dan air tersedia untuk petani, karena kesejahteraan rakyat adalah kekuatan sejati kerajaan.”
Terakhir, Bhishma menutup wejangannya saat napasnya mulai memberat. “Ingatlah, Yudhisthira, pandanglah semua rakyatmu sebagai anak-anakmu sendiri. Pengabdian tanpa pamrihmu kepada publik adalah satu-satunya bentuk penebusan dosa (prayaschitta) yang paling mulia atas perang ini. Jangan berduka sebagai orang yang kalah, tetapi bangkitlah sebagai Rajarshi Raja Bijaksana yang mengabdi pada kebenaran.”
Kata-kata Bhishma menjadi fondasi kokoh yang menahan beban duka Yudhisthira. Di bawah restu para Resi dan bimbingan Krishna, Yudhisthira akhirnya menemukan tujuan baru. Ia bangkit dengan tekad yang kuat, menyadari bahwa kepemimpinan bukanlah hak istimewa, melainkan penugasan suci untuk membawa kedamaian bagi dunia.
Yudhisthira duduk tegak, di sisi Bhishma Pitamaha yang terbaring tenang di ranjang panah. Setelah menerima pengajaran tentang idealisme tertinggi seorang raja pengabdian tanpa pamrih pikiran Yudhisthira kini bergerak menuju celah-celah praktis dari kekuasaan. Ia telah memahami cahaya, namun ia sadar bahwa Hastinapura juga memiliki bayangan gelap yang memerlukan penanganan berbeda.
"Kakek yang Mulia," ucap Yudhisthira, suaranya dipenuhi ketenangan yang baru ditemukan, "Engkau telah mengajarkan kami Dharma Raja yang ideal, sebuah tatanan yang menjanjikan kemakmuran. Namun, sejarah dan pengalaman kami menunjukkan bahwa dunia sering kali tidak menawarkan pilihan. Bagaimana seorang Raja harus bertindak ketika ia hanya dihadapkan pada dua jalur: 'pilihan yang buruk' atau 'pilihan yang lebih buruk'? Ketika menjalankan aturan kaku justru akan membawa kehancuran yang lebih cepat daripada melanggarnya?"
Bhishma tersenyum tipis. Matanya yang tajam memandang cucunya dengan bangga. Ini adalah pertanyaan dari seorang pemimpin sejati yang telah meninggalkan idealisme naif demi realitas pahit.
"Itu adalah pertanyaan paling penting, wahai Raja," jawab Bhishma, suaranya bergetar tetapi berwibawa. "Hukum Dharma bukanlah rantai besi yang membelenggu akal sehat. Meskipun seorang Raja harus berjalan di jalur kebenaran, ia juga harus menjaga kelangsungan hidup kerajaannya. Ini membawa kita pada konsep yang disebut **Apad-dharma**, atau kewajiban yang harus dijalankan pada masa-masa genting dan darurat."
Bhishma menjelaskan bahwa *Apad-dharma* adalah katup pengaman etika. Ia berfungsi saat prinsip-prinsip moral konvensional tidak bisa diterapkan karena ancaman eksistensial.
"Dharma adalah jalan menuju kebaikan tertinggi, namun jika jalan itu runtuh dan tidak dapat dilewati, seorang pemimpin harus mengambil jalan memutar. Di bawah Apad-dharma, aturan-aturan kaku tentang kejujuran, tanpa kekerasan, atau penepatan janji dapat dilonggarkan, bukan untuk keuntungan pribadi atau melampiaskan dendam, tetapi semata-mata demi keselamatan Dharma yang lebih besar, atau kelangsungan hidup rakyat dan negara," tegas Bhishma.
Ia melanjutkan bahwa dalam kondisi Genting, seorang Raja harus menjadi lebih dari sekadar penjaga moralitas; ia harus menjadi pelindung yang cerdik dan waspada. "Seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan untuk memahami kapan kejujuran adalah kebodohan, dan kapan kelicikan adalah kebajikan. Jika musuh menggunakan tipu daya, Raja tidak boleh menyerah karena terikat aturan etika yang tidak mereka hormati. Melawan pengkhianatan dengan naif adalah pengkhianatan terhadap rakyatmu sendiri. Engkau harus mampu menggunakan taktik yang Tidak lazim, berpura-pura, dan bahkan bersumpah palsu di hadapan musuh, asalkan tujuan akhirnya adalah mencegah bencana besar."
"Apakah ini bukan berarti aku harus memeluk Adharma demi takhta, Kakek?" tanya Yudhisthira dengan suara bergetar. "Jika aku harus menggunakan tipu daya dan kekejaman, bukankah aku sama saja dengan mereka yang baru saja kita kalahkan di Kurukshetra? Aku takut bahwa demi menyelamatkan Dharma, aku justru menghancurkan jiwaku sendiri."
"Dengarlah, wahai Putra Pandu," jawab Bhishma tegas. "Dalam kondisi normal, kebenaran adalah emas. Namun dalam masa darurat, apa yang membawa kebaikan bagi banyak orang, itulah kebenaran sejati meskipun secara lahiriah tampak sebagai kebohongan. Sebaliknya, kejujuran yang membawa kehancuran bagi rakyatmu adalah Adharma yang paling nyata. Seorang Raja yang kaku dan membiarkan negaranya runtuh karena ia takut mengotori tangannya, sesungguhnya adalah raja yang egois. Ia lebih mencintai kesucian dirinya sendiri daripada keselamatan rakyatnya."
Tiran menggunakan kekuasaan untuk memuaskan nafsu; Raja menggunakan kelonggaran aturan untuk memastikan kelangsungan hidup tatanan. Ini menuntut kekuatan mental luar biasa, sebab engkau harus mampu menari di batas kegelapan tanpa membiarkan kegelapan menelan jiwamu," kata Bhishma.
Untuk mengilustrasikan kompleksitas ini, Bhishma mulai menceritakan sebuah kisah kuno yang mengajarkan tentang kepentingan situasional, di mana musuh abadi dipaksa menjadi sekutu sementara.
"Dahulu kala, di pinggiran hutan Vindhya, hiduplah seekor Tikus yang sangat cerdik, seekor Kucing yang lincah, seekor Burung Hantu yang bijaksana, dan seekor Musang yang buas. Mereka adalah musuh alami, selalu saling mengintai untuk mencari kesempatan membunuh," Bhishma memulai kisahnya. "Suatu hari, sang Tikus, bernama Palita, sedang mencari makanan ketika ia terperangkap dalam jaring pemburu yang besar. Ia berjuang, namun jaring itu terlalu kuat. Saat keputusasaan mulai menyelimutinya, ia menyadari bahaya lain: di atas pohon, Burung Hantu dan Musang sedang mengawasinya, menunggu kesempatan ketika ia lelah untuk menerkamnya. Dan yang lebih mengerikan, Kucing, yang merupakan pemburu alaminya, bernama Lomasa, juga mendekat, tertarik oleh suara perjuangannya."
Kucing Lomasa melihat Tikus yang terperangkap dan bersiap menerkam. Namun, saat itu, Lomasa melihat Pemburu sedang kembali dari kejauhan. Lomasa pun menyadari bahwa ia dan Tikus sama-sama berada dalam ancaman maut dari manusia.
"Tikus Palita, dengarkan aku!" desis Kucing itu. "Kita adalah musuh, tetapi saat ini kita memiliki musuh yang lebih besar, yaitu sang Pemburu. Jika aku menerkammu sekarang, kita berdua akan tertangkap. Jika engkau berhasil lolos, engkau akan lolos sendirian. Namun, jika engkau menggunakan gigimu yang tajam untuk mengerat jaring ini dan membebaskan kita berdua, kita akan selamat. Aku membutuhkanmu untuk membebaskanku, dan engkau membutuhkan perlindunganku dari Musang dan Burung Hantu di atas sana, yang akan menyerang saat engkau bebas."
Palita, si Tikus, merasa ngeri harus membuat aliansi dengan predatornya. Namun, ia melihat Pemburu semakin dekat. Ia mengerti bahwa jika ia menunda, tidak ada yang selamat. Dengan hati-hati, ia membuat perjanjian sementara: ia akan mengerat jaring itu dan membebaskan Kucing, tetapi hanya setelah Pemburu benar-benar dekat, sehingga Kucing harus tetap fokus pada ancaman Pemburu dan tidak bisa mengkhianatinya sebelum mereka berdua aman.
"Aliansi terbentuk dari kebutuhan, bukan cinta," lanjut Bhishma. "Ketika Pemburu sudah dalam jarak lemparan tombak, Tikus Palita menyelesaikan tugasnya. Jaring terputus, Kucing Lomasa melompat bebas dan melarikan diri ke hutan, dan Tikus Palita segera masuk ke liang terdekatnya. Setelah ancaman Pemburu berlalu, aliansi itu langsung bubar. Kucing itu tidak pernah lagi mendekati liang Tikus dengan ramah, dan Tikus itu kembali waspada penuh terhadap mantan sekutunya."
Bhishma menatap Yudhisthira. "Inilah inti dari *Apad-dharma* dalam politik, wahai Raja. Dalam politik, tidak ada musuh abadi atau teman abadi; yang ada hanyalah kepentingan yang ditentukan oleh situasi. Seorang Raja harus cerdik seperti Tikus, menyadari kapan harus menggunakan musuh lamanya sebagai perisai, dan harus sigap seperti Kucing, tahu kapan harus memutuskan hubungan yang hanya bersifat transaksional.
"Engkau harus selalu mencari kebaikan tertinggi, tetapi engkau tidak boleh mengizinkan kepolosanmu menjadi senjata bagi musuhmu. Pahamilah dunia sebagai tempat yang kompleks, penuh Kerancuan moral. Jadilah Raja yang memiliki kecerdasan intelektual untuk menavigasi kegelapan, dan ketahanan mental untuk menjamin bahwa, meskipun tanganmu sesekali harus kotor demi kerajaan, jiwamu tetap murni pada pengabdian kepada Dharma," Bhishma menyimpulkan.
Yudhisthira menundukkan kepala, mencerna pelajaran yang berat namun vital ini. Ia menyadari bahwa kemenangan Kurukshetra tidak menjamin kedamaian; itu hanyalah permulaan dari peperangan politik yang lebih halus dan berbahaya. Berbekal pengertian tentang *Apad-dharma*, ia kini siap menghadapi kerumitan takhta dengan mata terbuka dan hati yang teguh.
Kini, setelah segala kerumitan dunia tersusun rapi dalam pikiran Yudhisthira, Sang Putra Dharma melontarkan kegelisahan pamungkasnya, sebuah pertanyaan yang melampaui segala politik dan kekuasaan.
"O, Pitamaha," suara Yudhisthira bergetar, sarat akan kerinduan akan kebenaran, "Engkau telah mengajarkan kami cara hidup di dunia tanpa binasa oleh dosa. Engkau telah menunjukkan cara memerintah tanpa merusak jiwa. Namun, setelah semua ini, ke mana arah hulu kehidupan? Jika kami terus melakukan Dharma, itu hanya menjamin kelahiran kembali yang baik. Bagaimana cara melampaui roda samsara ini sepenuhnya? Bagaimana cara meraih Moksha pembebasan abadi?"
Meski darah masih merembes perlahan membasahi ujung-ujung anak panah yang menembus punggungnya, wajah Bhishma tetap tenang tak terusik. Ia tersenyum lembut sebuah senyum yang seolah mengejek rasa sakit, merefleksikan kedamaian yang telah melampaui daging dan tulang.
"Pertanyaanmu, Wahai Raja, adalah puncak dari semua kebijaksanaan. Semua ajaran yang telah kuberikan hanyalah persiapan untuk menapaki kebenaran tertinggi ini. Dharma di dunia adalah jembatan, tetapi Moksha adalah pantai seberang. Dengarkan baik-baik, karena inilah rahasia agung yang diajarkan dalam Samkhya dan Yoga."
Bhishma mulai membimbing Yudhisthira menyelami samudra kebijaksanaan, mengurai tatanan Semesta dan kesadaran. Ia menjelaskan bahwa realitas terdiri dari dualitas abadi: Prakriti dan Purusha.
"Prakriti adalah alam material, asal mula segala sesuatu yang fana, dari debu hingga pikiran yang bergolak. Ia terdiri dari tiga Guna Sattva, Rajas, dan Tamas. Tubuhmu, ambisimu, dan bahkan takhta Hastinapura, semua adalah perwujudan Prakriti," jelas Bhishma, suaranya terdengar laksana gaung dari gua-gua Himalaya.
"Lalu, apa itu Purusha?" tanya Yudhisthira, jiwanya terpusat penuh.
"Purusha adalah Kesadaran sejati, Sang Jiwa. Ia adalah pengamat abadi, yang tak tersentuh, tak bertindak, dan tak terpengaruh oleh Guna. Ia adalah dirimu yang sejati. Penderitaanmu, Yudhisthira, bukan berasal dari takdir, melainkan dari Avidya, ketidaktahuan. Karena Avidya, Purusha mengidentifikasi dirinya secara keliru dengan topeng Prakriti dengan tubuh yang bisa sakit, dengan gelar 'Raja' yang membebani. Identifikasi palsu inilah yang mengikatmu pada roda penderitaan."
Jalan menuju Moksha, lanjut Bhishma, adalah melalui Viveka kemampuan membedakan antara yang abadi (Purusha) dan yang fana (Prakriti), serta Vairagya pelepasan keterikatan.
Tapi Yudhisthira masih ragu. Dia memimpin banyak orang; rasanya mustahil untuk pergi begitu saja saat dia sangat dibutuhkan.
"Kakek, apakah untuk mencapai pembebasan, aku harus membuang mahkota ini, meninggalkan kewajibanku, dan menjadi pertapa di hutan sunyi? Apakah menjadi Raja bertentangan dengan jalan menuju Moksha?"
Bhishma menggeleng perlahan, matanya memancarkan sinar kebijaksanaan. "Itu adalah kesalahpahaman, Cucuku. Moksha bukanlah soal lokasi; ia adalah keadaan kesadaran. Para resi agung telah mendiskusikan hal ini sejak masa lampau."
Bhishma kemudian mengangkat kisah Raja Janaka dari Mithila, seorang Rajarshi (Raja-Resi) yang legendaris. Ia menceritakan bagaimana Janaka mencapai pencerahan sempurna justru saat ia duduk di singgasana kekuasaan.
"Ingatlah perkataan Raja Janaka yang termasyhur saat ia diuji oleh para resi," ujar Bhishma dengan nada penuh penekanan. "'Meskipun seluruh kerajaan Mithila hangus terbakar api, sesungguhnya tidak ada satupun milikku yang ikut terbakar.'"
Yudhisthira tertegun.
"Janaka berkata demikian bukan karena ia tak peduli," lanjut Bhishma, "melainkan karena ia tidak memiliki rasa kepemilikan (mamata) terhadap kerajaannya. Ia memerintah sebagai pelayan Dharma, bukan sebagai tuan pemilik. Ia membuktikan bahwa seseorang bisa memegang pedang tanpa terikat pada kekerasan, dan bisa menikmati kekayaan tanpa terikat pada kemewahan."
"Rajarshi adalah raja yang telah melampaui ego Ahamkara. Tindakannya adalah Niṣkāma Karma, tindakan suci tanpa pamrih. Ia adalah api yang menyala terang namun tanpa asap yang menyesakkan."
Kata-kata itu menghantam kesadaran Yudhisthira bak halilintar tanpa suara. Kabut tebal yang selama ini menyelimuti hatinya seketika sirna. Ia memandang takhta dalam benaknya bukan lagi sebagai belenggu emas yang menyiksa, melainkan sebagai altar pengorbanan suci.
Ia menyadari bahwa ia tidak perlu melarikan diri dari takhta untuk mencari kedamaian; ia harus menemukan kedamaian di tengah hiruk-pikuk takhta itu sendiri.
Kebijaksanaan Bhishma telah mencapai puncaknya. Jiwa Yudhisthira, yang sempat tenggelam dalam lautan kesedihan pasca-perang, kini mengambang bebas. Ia menyadari sifat sejatinya sebagai Purusha, bebas dari ilusi Prakriti.
Yudhisthira menunduk hormat, menyentuh kaki sang Kakek. Air mata yang ia tahan sejak lama akhirnya mengalir, tetapi kali ini, itu bukan air mata penyesalan, melainkan air mata pemahaman yang jernih. Ia siap memimpin dunia, bukan sebagai penguasa yang angkuh, melainkan sebagai seorang penjaga yang merdeka.
Ketenangan yang mulai tumbuh di hati Yudhisthira tidak berlangsung lama. Ajaran tentang hakikat diri dan pelepasan telah ia dengar, tetapi dunia tidak berhenti hanya karena jiwa mulai memahami. Kerajaan Hastinapura hancur, tanah Kurukshetra masih menyimpan bau kematian, dan Dharma kini menuntut wujudnya dalam tindakan, bukan renungan semata.
Yudhisthira tetap bersimpuh di sisi Bhishma di medan Kurukshetra. Udara pagi terasa dingin, dan embun menempel di rerumputan yang telah lama menyaksikan gugurnya para ksatria. Di hadapannya, Pitamaha terbaring di atas hamparan panah, tubuhnya lemah namun pikirannya jernih, seakan rasa sakit tidak lagi memiliki kuasa atas batinnya.
Yudhisthira menyadari, waktu Bhishma kian menipis. Setiap kata yang terucap darinya adalah warisan terakhir seorang penjaga Dharma.
“Wahai Pitamaha,” ucap Yudhisthira dengan suara tertahan, “Engkau telah menjelaskan kepadaku tentang kehidupan dan kematian. Kini ajarilah aku bagaimana seorang raja harus hidup di dunia. Bagaimana hukum ditegakkan? Bagaimana rakyat dilindungi? Dan bagaimana noda besar perang ini dapat ditebus?”
Bhishma menatapnya lama, lalu mulai berbicara dengan suara tenang. Ia menguraikan kewajiban raja, hukum kerajaan, tata cara pembagian warisan, serta etika dalam keluarga dan masyarakat. Ia menjelaskan kewajiban masing-masing golongan dalam tatanan sosial, dan bagaimana raja harus menjaga keseimbangan di antara semuanya tanpa dikuasai oleh hawa nafsu atau kebencian.
“Kekuasaan tidak berdiri di atas darah semata,” ujar Bhishma. “Keturunan memberi bentuk, tetapi perbuatan menentukan nilai. Seorang raja yang lalai terhadap rakyatnya telah menyimpang dari Dharma, betapapun mulianya asal-usulnya.”
Ia menekankan pemberian bantuan tanpa pamrih sebagai penopang utama pemulihan pasca-perang. Tanah yang ternoda oleh pembantaian harus disejukkan dengan kebajikan. Janda, yatim piatu, dan mereka yang kehilangan sandaran hidup harus menjadi perhatian pertama seorang raja. Tanpa itu, kemenangan hanyalah kehancuran yang tertunda.
Ajaran itu berlangsung selama beberapa hari. Yudhisthira mendengarkan dengan saksama, mencatat setiap nasihat di dalam hatinya. Namun kegundahan terdalam belum sepenuhnya sirna. Maka pada suatu senja, ketika matahari mulai condong ke barat dan cahaya memerah menyelimuti Kurukshetra, ia mengajukan pertanyaan terakhir.
“Wahai Pitamaha, setelah semua kewajiban duniawi ini, kepada siapakah manusia seharusnya bersandar sepenuhnya? Siapakah yang patut dipuja sebagai tujuan tertinggi?”
Bhishma tersenyum tipis. Dalam kondisi fisiknya yang kian melemah, suaranya justru memperoleh keteguhan yang melampaui luka-luka tubuhnya. Dengan pikiran yang terpusat dan napas yang teratur, ia mulai melantunkan Wisnu Sahasranama seribu nama suci Sri Wisnu, sebagaimana diajarkan oleh para resi terdahulu.
Nama demi nama mengalir tanpa tergesa. Ia menyebut Sang Pemelihara sebagai asal segala yang ada, yang meresap ke dalam seluruh jagat, yang tak tergoyahkan oleh perubahan waktu, dan yang menopang kehidupan dalam segala bentuknya. Setiap sebutan bukan sekadar pujian, melainkan penegasan sifat-sifat ilahi yang melampaui kelahiran dan kehancuran. Lantunan itu terdengar tenang, nyaris datar, namun justru karena itulah kekuatannya terasa seperti gema ajaran yang telah berumur panjang.
Para Pandawa mendengarkan dalam keheningan. Bagi Yudhisthira, nama-nama itu tidak menghapus ingatan akan Kurukshetra, tidak pula meniadakan duka yang masih tertinggal. Namun di tengah lantunan tersebut, pikirannya menjadi lebih jernih. Ia memahami bahwa dunia bergerak menurut hukum yang lebih luas daripada kehendak manusia, dan bahwa tugasnya adalah bertindak seturut Dharma, tanpa dikuasai oleh harapan atau keputusasaan akan hasilnya.
Ketika lantunan Sahasranama mencapai akhirnya, keheningan turun perlahan, bukan sebagai penutup, melainkan sebagai penegasan. Bhishma memejamkan mata, memusatkan pikirannya pada Wisnu, sebagaimana yang telah ia puji melalui seribu nama itu.
Ia telah lama menanti saat ini. Ketika matahari mulai bergerak ke utara, pada masa Uttarayana yang dianggap suci, Bhishma, melalui kekuatan yoga dan anugerah kematian yang dapat ia tentukan sendiri, melepaskan jiwanya dari tubuh fana. Tubuhnya tetap terbaring di atas panah, tenang, tanpa tanda pergolakan.
Dari langit, bunga-bunga surgawi jatuh menghujani Kurukshetra. Para resi, para Pandawa, dan Krishna menyaksikan dalam hening. Tidak ada sorak kemenangan, hanya penghormatan yang dalam.
Yudhisthira bangkit sebagai raja yang masih memikul duka, tetapi kini mengetahui ke mana kewajiban itu harus diarahkan. Dharma tidak lagi ia pandang sebagai hukuman atas masa lalu, melainkan sebagai jalan yang harus ditempuh meski berat, meski penuh sisa luka.
Bhishma telah pergi. Ajarannya tetap tinggal, menjadi fondasi bagi kerajaan yang harus dibangun kembali dari abu Kurukshetra.
Asap putih dari perabuan jenazah Kakek Bhisma perlahan menghilang, menyatu dengan kabut di atas Sungai Gangga. Sang Resi Agung, yang selama berbulan-bulan berbaring di atas ranjang panah menahan sakit demi menurunkan ilmu kepada cucu-cucunya, kini telah tiada. Bhisma telah pergi, membawa serta pilar kokoh yang selama ini menyangga wangsa Kuru.
Yudhisthira melangkah gontai kembali ke istana Hastinapura. Kepalanya penuh dengan ribuan nasihat tentang Dharma (kebenaran), tatanan negara, dan jalan menuju moksha yang baru saja diajarkan Bhisma. Ia tahu apa tugas seorang raja. Namun, hatinya tetaplah hati manusia biasa yang rapuh.
Di singgasana emasnya, Yudhisthira kembali termenung. Wajahnya muram.
Pada suatu pagi yang tenang, Resi Vyasa dan Sri Krishna tiba. Mereka mendapati Sang Raja sedang berpuasa dan merenung, menolak kemewahan yang kini menjadi haknya.
"Raja," sapa Krishna, suaranya tenang. "Hukum Raja (Rajadharma) tidak mengenal jeda. Kau telah menerima pelajaran dari Pitamaha Bhishma. Kini, tugasmu adalah membersihkan negeri yang tercemar oleh kehancuran. Kesedihan yang berlarut-larut adalah racun bagi rakyatmu. Dunia harus tahu bahwa tatanan telah pulih."
Yudhisthira mengangkat pandangan. "Bagaimana mungkin aku bisa memimpin upacara agung, setelah darah begitu banyak ksatria menodai tanganku? Pengorbanan kuda terasa seperti penghinaan terhadap kematian mereka."
"Aswamedha Yagna bukan hanya pengorbanan, Raja," jelas Vyasa. "Ini adalah ritual agung yang memiliki dua tujuan: membersihkan dosa perang dan menegaskan kedaulatanmu secara spiritual dan politik. Kekuatan agresi harus diubah menjadi energi pembangunan. Kau harus mendistribusikan kekayaan Hastinapura kepada rakyat miskin dan para Brahmana, mengakhiri penderitaan yang melanda setelah perang. Kau harus menunjukkan kepada dunia bahwa kemakmuran telah kembali."
Mendengar jalan keluar itu, Yudhisthira perlahan menyadari bahwa duka yang berlarut-larut tidak akan menghormati arwah Bhisma. Hanya pengabdian nyata pada rakyatlah yang bisa membuat roh kakeknya tenang.
Persiapan pun dimulai. Seekor kuda putih dipilih. Arjuna, dengan membawa panji kebesaran Hastinapura, ditugaskan mengawal kuda itu berkeliling dunia.
Ujian di Tanah Timur
Perjalanan Arjuna mengawal kuda itu penuh liku. Sang Panengah Pandawa yang dulu garang di Kurukshetra, kini tampil lebih welas asih. Ia teringat pesan Bhisma untuk melindungi yang lemah. Banyak raja yang langsung tunduk hormat hanya karena melihat wibawa Arjuna, tanpa perlu angkat senjata.
Hingga akhirnya, kuda Aswamedha tiba di Manipura, kerajaan di timur yang dipimpin oleh Babruwahana, putra Arjuna dari Ratu Chitrangada.
Mendengar kabar itu, Babruwahana diliputi kegembiraan. Ia segera keluar dari gerbang kota tanpa membawa senjata, tanpa mengenakan baju perang. Di tangannya ia membawa persembahan: bunga, kain sutra, dan ternak terbaik dari negerinya. Ia berjalan kaki, berniat menyatakan kepatuhan dan bakti sebagai anak kepada ayahnya, dan sebagai raja kepada Raja Yudhisthira.
Namun Arjuna menghentikannya dengan isyarat tangan.
Wajahnya tegas, bukan marah. Pandangannya tajam seperti ksatria yang sedang menimbang hukum, bukan perasaan.
“Wahai Raja Manipura,” ucap Arjuna dengan suara berat, “kuda Aswamedha tidak mengenal kepatuhan tanpa ujian. Seorang penguasa tidak cukup menunjukkan bakti dengan persembahan. Hukum ritual ini mengharuskanmu memilih: menerima kedaulatan Hastinapura setelah diuji, atau menantangnya di medan laga sebagai ksatria.”
Babruwahana terdiam. Ia memahami kini bahwa ini bukan penolakan seorang ayah, melainkan tuntutan dharma seorang raja. Namun hatinya tetap diliputi guncangan: niat tulusnya tidak mendapat pelukan, melainkan tuntutan pedang.
Saat itulah bumi bergetar halus.
Dari dalam tanah, Ulupi muncul istri naga Arjuna, ibu tiri Babruwahana. Wajahnya tenang, seolah ia telah lama menanti saat ini.
“Anakku,” katanya lembut, “jangan goyah oleh kebingungan. Ini bukan pertarungan karena kesombongan, dan bukan pula karena kebencian. Ada ikatan lama yang harus dilepaskan hari ini. Jika engkau mundur, dharma ayahmu takkan pernah sempurna.”
Babruwahana menatap Ulupi, lalu menatap kembali ayahnya. Ia mengerti bahwa ia tidak sedang diuji sebagai anak, melainkan sebagai alat takdir.
Ia pun kembali ke dalam benteng, mengenakan zirah perang dan mengambil busur pusakanya. Saat ia muncul kembali, langkahnya mantap. Di hadapan Arjuna, ia berdiri bukan sebagai putra, melainkan sebagai raja dan ksatria.
Pertempuran pun pecah.
Awalnya Arjuna bertarung dengan penuh kendali, sekadar menguji. Namun segera ia menyadari bahwa Babruwahana bukan ksatria biasa. Gerakannya lincah, bidikannya tajam, dan keberaniannya tak tergoyahkan. Darah Pandawa dan kekuatan timur mengalir kuat dalam dirinya.
Di puncak duel, Babruwahana melepaskan panah pusaka. Panah itu melesat lurus dan menembus dada Arjuna.
Sang Pandawa Agung terhuyung, lalu roboh ke tanah. Napasnya terhenti.
Medan laga menjadi sunyi. Tidak ada sorak kemenangan hanya kesadaran pahit bahwa dharma kadang menuntut harga yang paling kejam.
Babruwahana menjatuhkan busurnya dan berlari memeluk jasad ayahnya sambil meratap. Chitrangada datang dan menangis pilu, menyadari bahwa takdir telah mempertemukan anak dan ayah dalam peristiwa yang melampaui kehendak manusia.
Ulupi melangkah maju. Dari balik selendangnya, ia mengeluarkan Nagamani yang bersinar lembut. Ia meletakkannya di dada Arjuna.
Keajaiban pun terjadi.
Luka itu menutup perlahan. Arjuna menarik napas panjang dan membuka matanya. Ia bangkit perlahan, memandang sekeliling dengan heran melihat air mata dan wajah-wajah yang terguncang.
Ulupi lalu berkata dengan suara tenang, “Wahai suamiku, kematianmu tadi bukan kebetulan. Ia adalah bayangan dari karma lama yang belum tuntas. Bhishma adalah makhluk agung yang terikat sumpah dan takdir para Vasu. Peranmu dalam kejatuhannya meninggalkan sisa yang harus ditebus bukan dengan penderitaan panjang, melainkan dengan satu kematian yang singkat.”
“Kini ikatan itu telah terlepas. Jalanmu kembali jernih.”
Arjuna terdiam. Ia memandang Babruwahana, lalu memeluknya erat. Dalam pelukan itu tidak ada lagi darah, tidak ada lagi bayangan perang hanya penerimaan bahwa dharma kadang berjalan melalui jalan yang paling sunyi dan menyakitkan.
Pelajaran dari Si Luak Emas
Setahun berlalu. Arjuna kembali ke Hastinapura membawa kuda itu. Misi selesai. Yudhisthira menyambut mereka dengan wajah yang jauh lebih cerah. Harta karun Marutta telah berhasil diambil, dan perbendaharaan negara kembali penuh. Upacara Aswamedha digelar dengan kemegahan yang belum pernah terjadi sebelumnya di tepi Gangga.
Yudhisthira, mengingat pesan Bhisma bahwa "Kekayaan raja sejatinya adalah milik rakyat", membagikan seluruh harta itu. Emas, permata, sapi, dan tanah dibagi habis sampai gudang istana kembali kosong. Rakyat bersorak memuja kedermawanan Yudhisthira. Para pendeta berkata, "Belum pernah ada upacara sesempurna ini di muka bumi!"
Namun, di tengah pesta pora itu, muncul seekor Luak (Mongoose) yang aneh. Separuh tubuhnya berwarna emas berkilauan, separuh lagi berwarna cokelat biasa. Ia berguling-guling di bekas tempat upacara, lalu bangkit dengan wajah kecewa.
"Upacara kalian ini biasa saja," kata luak itu dengan suara manusia, mengejutkan semua orang. "Kemegahan ini tidak sebanding dengan sedekah segenggam tepung dari seorang Brahmana miskin yang pernah kutemui."
Luak itu bercerita: "Dulu, aku berguling di lantai gubuk seorang Brahmana yang sangat miskin. Di tengah kelaparan hebat, Brahmana itu memberikan satu-satunya jatah tepung gandum terakhir milik keluarganya kepada seorang tamu yang kelaparan. Mereka mati kelaparan setelahnya, demi memuliakan tamu. Ketulusan pengorbanan nyawa mereka mengubah separuh tubuhku menjadi emas saat aku berguling di atas sisa tepungnya."
Si Luak melanjutkan, "Aku berkeliling dunia mencari tempat yang bisa mengubah separuh tubuhku lagi. Aku pikir upacara Yudhisthira yang menghabiskan ribuan peti emas ini bisa menyempurnakannya. Tapi ternyata tidak. Tubuhku tetap cokelat. Artinya, tumpukan harta kalian ini masih kalah nilainya dibanding segenggam tepung yang diberikan dengan ketulusan total tanpa pamrih."
Yudhisthira tersentak. Ia sadar, itu adalah teguran terakhir dari Dewata. Meski sudah melakukan upacara besar, ia tidak boleh takabur. Kebaikan bukan diukur dari kemewahan dan jumlah harta yang dibagi, tapi dari seberapa murni keikhlasan hati sang pemberi.
Dengan hati yang kini benar-benar bersih bebas dari duka, bebas dari dosa perang, dan bebas dari kesombongan Yudhisthira pun memimpin.
Zaman keemasan pun dimulai. Selama 36 tahun, Hastinapura menjadi pusat keadilan, di mana ajaran Bhisma benar-benar hidup dalam setiap tindakan Yudhisthira, Sang Raja Dharma.
Lima belas tahun telah berlalu sejak Yudhisthira dinobatkan sebagai raja. Selama itu, Hastinapura hidup dalam masa yang damai dan tertata. Kerajaan dipimpin dengan keadilan dan rasa tanggung jawab. Yudhisthira tetap menghormati Dhritarashtra dan Gandhari, memperlakukan mereka sebagaimana raja dan ratu, meski keduanya telah kehilangan kerajaan dan putra-putra mereka.
Namun, ketenangan itu tidak sepenuhnya meresap ke setiap hati. Dalam jamuan-jamuan malam yang sunyi, Bhima kerap duduk dengan wajah tegang. Nada bicaranya tajam, sikapnya dingin. Yudhisthira berkali-kali menegurnya, tetapi luka lama di hati Bhima belum juga tertutup. Setiap gerak Dhritarashtra seolah mengingatkannya pada masa ketika nyawa mereka pernah dipertaruhkan.
Sikap itu perlahan melukai Dhritarashtra. Ia menanggungnya dalam diam, hingga suatu hari ia memanggil Yudhisthira. Raja tua itu duduk di singgasana yang telah lama ia tinggalkan, tubuhnya renta, wajahnya dipenuhi kelelahan, dan kebutaannya terasa semakin berat.
“Anakku, Yudhisthira,” ucap Dhritarashtra dengan suara lemah. “Selama lima belas tahun aku hidup dari kemurahan hatimu. Kau memperlakukanku seperti ayahmu sendiri. Di bawah perlindunganmu aku merasakan ketenangan. Namun kesalahan masa lalu, terutama karena cintaku yang buta pada Duryodhana, tidak cukup ditebus hanya dengan tinggal di istana. Izinkan aku dan permaisuriku, Gandhari, pergi ke hutan menjalani hidup tapa. Aku ingin menebus kesalahan dan membersihkan sisa karma yang ada.”
Air mata mengalir di pipi Yudhisthira. "Ayah, jangan tinggalkan kami! Kau adalah penasihat kami yang bijak!"
Resi Vyasa yang hadir saat itu menepuk bahu Yudhisthira. “Wahai cucuku, inilah hukum kehidupan. Seorang raja harus tahu kapan saatnya melepaskan kekuasaan, dan seorang manusia harus tahu kapan melepaskan ikatan dunia. Berikanlah restumu atas keinginan ini.”
Dengan hati yang berat, Yudhisthira akhirnya memberi restu. Saat persiapan keberangkatan dimulai, Kunti melangkah maju dengan sikap tegas, membuat para putranya terkejut.
"Aku ikut."
Arjuna segera protes. "Ibu, mengapa? Apakah kami kurang melayanimu?"
Kunti menggeleng pelan. “Anak-anakku, tugasku sebagai ibu kalian telah selesai. Aku pergi bukan karena benci pada istana, tetapi karena panggilan kewajiban baru. Aku akan menemani kakak iparku, Dhritarashtra, dan Gandhari di masa tua mereka. Kesalahan di Kurukshetra adalah kesalahan seluruh keluarga. Aku pun harus ikut menanggung penebusannya.”
Keputusan itu tak bisa diubah. Dhritarashtra, Gandhari, dan Kunti, bersama Sanjaya, meninggalkan Hastinapura. Mereka menetap di asrama Resi Satayupa di tepi Sungai Gangga.
Beberapa bulan kemudian, Yudhisthira datang mengunjungi mereka. Di sana ia bertemu Vidura, yang kini hidup sebagai pertapa, tubuhnya kurus dan rapuh. Vidura, yang sepanjang hidupnya berpegang teguh pada Dharma, mendekati Yudhisthira tanpa berkata apa pun. Ia berjalan ke sebuah pohon besar, bersandar, lalu tenggelam dalam meditasi. Dalam keheningan itu, seolah seluruh pengetahuan dan keteguhan hidupnya berpindah kepada Yudhisthira. Vidura wafat saat itu juga, dan Yudhisthira merasakan pemahaman tentang Dharma semakin dalam. Sejak saat itu, ia benar-benar sebagai Raja Dharma.
Malam itu, di tepi sungai yang mengalir tenang, Resi Vyasa menunjukkan kesaktiannya. Ia berkata, “Biarlah malam ini kebencian berakhir di air ini.”
Atas panggilannya, arwah para pahlawan yang gugur di Kurukshetra muncul. Dari permukaan Gangga, perlahan tampak Bhisma, Drona, Karna, Abhimanyu, serta seratus putra Dhritarashtra yang dipimpin Duryodhana. Mereka hadir seperti bayangan yang nyata, tenang, tanpa sisa permusuhan.
Malam itu menjadi malam perdamaian di bawah cahaya bulan. Atas anugerah Vyasa, Dhritarashtra diberi penglihatan untuk melihat putra-putranya sekali lagi, melihat mereka dalam keadaan tenang. Tidak ada air mata atau tudingan, hanya senyum yang menenangkan hati. Setelah itu, arwah-arwah tersebut kembali ke alamnya, meninggalkan keluarga yang hidup dengan perasaan damai yang baru.
Dua tahun setelah peristiwa itu, alam menghadirkan penebusan terakhir. Pada musim kemarau, api hutan yang besar melalap asrama Satayupa. Sanjaya diliputi kepanikan dan berkata, “Tuanku, marilah kita pergi. Api ini akan membakar segalanya.”
Dhritarashtra, yang hatinya telah tenang, tersenyum lembut. “Api ini bukan api hutan biasa, Sanjaya. Ia lahir dari api suci asrama kita sendiri. Inilah akhir yang layak, pemberian Dewa Agni bagi seorang pertapa yang telah menuntaskan kewajibannya di dunia.”
Dhritarashtra, Gandhari, dan Kunti duduk menghadap ke timur. Dalam meditasi yang dalam, mereka menerima api itu, yang melahap tubuh fana mereka, memberikan pembersihan total dan pembebasan (moksha). Sanjaya, atas perintah terakhir Dhritarashtra, pergi menuju Himalaya untuk mencari kesunyian.
Kabar kematian itu dibawa ke Hastinapura oleh Resi Narada, yang suaranya membawa duka sekaligus kepastian. Yudhisthira, setelah mendengar cerita itu, melakukan upacara persembahan terakhir bagi mereka. Dalam ritual itu, ia menyadari dengan hati yang berat bahwa zaman Dwapara Yuga, zaman kejayaannya, telah meredup. Fajar Kali Yuga zaman kegelapan moral kini telah semakin dekat.
Tiga puluh enam tahun telah berlalu sejak medan Kurukshetra membersihkan tanah Bharatavarsha dari keangkuhan. Hastinapura kini dipimpin oleh Raja Yudhisthira yang menua, seorang raja yang memerintah dengan bayangan duka, menyadari bahwa setiap tahun yang berlalu membawa dunia semakin dekat pada era moralitas yang memudar. Sementara di barat, kota emas Dwaraka, benteng klan Vrishni dan Andhaka, berdiri megah di tepi laut, tidak hanya makmur, tetapi juga sangat terlena.
Kekayaan yang tak terkira, pelabuhan yang dipenuhi kapal dagang, dan keamanan yang terjamin berkat kehadiran Sri Krishna, telah memunculkan generasi baru kaum Yadawa yang sombong. Mereka tidak pernah merasakan perihnya perang, hanya kemudahan hidup. Hormat pada tradisi dan orang yang lebih tua perlahan memudar, digantikan oleh ejekan dan sikap meremehkan terhadap hal-hal yang suci.
Pada suatu pagi, ketika ombak biru Laut Arab memecah di benteng Dwaraka, tiga Resi agung tiba. Mereka adalah Viswamitra, sang petapa yang kekuatannya setara dengan para dewa; Kanwa, yang kebijaksanaannya setenang lautan; dan Resi Narada, musisi surgawi yang membawa kabar dari tiga dunia. Mereka datang untuk mengunjungi Krishna dan Balarama, pilar dharma yang masih berdiri tegak di tengah dunia yang mulai menua.
Penyambutan mereka oleh para tetua seperti Ugrasena dilakukan dengan penghormatan tertinggi. Namun, para pemuda, yang dipimpin oleh Samba (putra Krishna dari Jambawati) dan beberapa kerabat dekatnya, mengamati kunjungan itu dengan cibiran. Bagi mereka, para resi itu hanyalah orang tua yang berbicara tentang masa lalu yang tidak relevan. Dengan rasa angkuh, mereka merancang sebuah rencana jahil untuk menguji kewaskitaan para resi tersebut.
“Ayo kita uji penglihatan spiritual mereka,” ujar salah satu pemuda, mata mereka berbinar nakal. “Kita akan lihat apakah Dharma yang mereka junjung tinggi mampu melihat melalui tipuan sederhana.”
Maka, mereka melancarkan rencana. Samba didandani dengan kain sutra yang tebal, dikenakan hiasan kepala wanita, dan sebuah benda besar diikat erat di sekitar perutnya dengan kain, menciptakan ilusi sempurna dari seorang wanita yang sedang hamil tua. Wajahnya ditutupi cadar untuk menyembunyikan identitasnya sebagai putra sang Prabu.
Mereka membawa Samba yang menyamar ke hadapan para resi yang saat itu sedang duduk bersama para tetua Yadawa.
“Salam, wahai para Resi!” seru para pemuda itu dengan nada yang dibuat-buat sopan, namun menyiratkan penghinaan. “Kami membawa seorang wanita, istri dari klan Babhru, yang sebentar lagi akan melahirkan. Ia adalah menantu yang pemalu, dan kami ingin menenangkan kekhawatiran suaminya.”
Salah satu dari mereka melanjutkan, menunjuk pada perut Samba yang membuncit, “Dengan kekuatan penglihatan yang kalian miliki, kami mohon, beritahu kami. Apakah ia akan melahirkan seorang pahlawan laki-laki yang akan memimpin klan Vrishni, atau seorang anak perempuan yang cantik?”
Sejenak, keheningan mencekam menyelimuti pelataran. Resi Viswamitra membuka matanya perlahan. Pandangannya menembus kain sutra, menembus samaran, dan langsung mengenai esensi keangkuhan di mata para pemuda itu. Kemarahan Viswamitra meledak, bukan dalam bentuk teriakan, tetapi dalam suara yang bergetar memancarkan api kebijaksanaan yang membakar.
“Kalian, anak-anak yang angkuh dan bodoh!” suaranya bergaung. “Kalian menipu kami! Kalian menghina mata kebijaksanaan yang telah melihat akhir dari ribuan zaman! Kalian bertanya apa yang akan lahir dari wanita gadungan ini?”
Samba kini merasa tubuhnya kaku oleh ketakutan yang mendalam.
“Samba ini,” lanjut Viswamitra, menunjuk lurus ke arahnya, “tidak akan melahirkan anak laki-laki ataupun perempuan. Dia akan melahirkan Mausala sebuah Gada Besi yang mengerikan! Gada itu akan menjadi instrumen kehancuran bagi seluruh kaum Vrishni dan Andhaka, kecuali bagi Balarama dan Krishna.”
Horor menjalari darah para pemuda itu. Keesokan harinya, seolah-olah kutukan itu langsung mewujud menjadi nyata, Samba benar-benar mengeluarkan sebuah gada besi hitam dari perutnya. Mencekam oleh ketakutan, mereka segera membawa gada itu ke hadapan Krishna. Mereka menceritakan dengan terengah-engah bagaimana mereka telah bertindak bodoh dan bagaimana kutukan itu terucapkan.
Krishna mendengarkan dengan tenang, matanya yang selalu damai kini diselimuti lapisan kesadaran yang dalam. Ia telah mengetahui ramalan ini sebagai bagian dari kehancuran zaman, termasuk kutukan Gandhari di masa lalu. Atas perintahnya, gada itu ditumbuk hingga menjadi bubuk halus dan dibuang ke laut di pantai Prabhasa-tirtha. Namun, sepotong kecil besi gagal dihancurkan dan ditelan oleh seekor ikan.
Bubuk besi yang dibuang ke laut itu tidak hilang. Seiring waktu, bubuk itu tumbuh di tepi pantai menjadi alang-alang Erka yang tajam dan keras seperti besi. Sementara itu, potongan besi di dalam ikan ditemukan oleh seorang pemburu bernama Jara, yang kemudian menjadikannya mata anak panah. Takdir telah dipahat; instrumen kehancuran kaum Yadawa kini menunggu waktu yang tepat di pesisir Prabhasa.
Menjelang Senja di Dwaraka
Kutukan itu tidak datang sebagai gempa besar yang membelah tanah atau banjir bandang yang menelan menara-menara emas dalam sekejap. Ia hadir perlahan, seperti kabut tipis yang merayap dari laut, mengendap di udara, menyusup ke dalam hati manusia, dan perlahan mengikis kejayaan Dwaraka. Tiga puluh enam tahun telah berlalu sejak perang akbar di Kurukshetra berakhir. Namun waktu yang seharusnya meredakan luka justru membuatnya membusuk. Kota yang dibangun oleh tangan Krishna sendiri kini terasa kehilangan arah dan jiwa.
Tanda-tanda ganjil mulai bermunculan, seolah alam semesta sedang menyampaikan peringatan terakhir sebelum tirai ditutup. Firasat buruk bertebaran tanpa wujud yang jelas. Angin timur yang dahulu sejuk bagi para pelaut kini bertiup panas dan tak menentu, membawa hawa pengap dan bau asin yang menusuk. Pada malam hari, dinding-dinding istana dari batu mulia bergetar halus, menimbulkan suara samar yang membuat hati gelisah, seakan bangunan-bangunan itu sendiri menyadari nasib yang mendekat.
Di dalam rumah-rumah megah dan gudang-gudang gandum yang melimpah, keanehan semakin nyata. Tikus-tikus hitam berkembang biak dengan cepat, tak lagi takut pada manusia. Di pinggiran kota, lolongan serigala terdengar memanjang, menyerupai rintihan manusia yang menunggu ajal.
Namun bagi Krishna, perubahan alam itu bukan pertanda terburuk. Yang paling mencemaskannya adalah keruntuhan batin kaum Yadawa sendiri. Mereka yang dahulu hidup dalam disiplin dan kesadaran Dharma kini tenggelam dalam kesenangan tanpa kendali. Arak mengalir tanpa batas. Generasi muda, dimabukkan oleh kemakmuran dan kemenangan lama, kehilangan rasa hormat. Orang tua, guru, dan para Brahmana dihina. Hukum dipermainkan, digantikan keyakinan congkak bahwa kaum Yadawa tak mungkin disentuh kehancuran.
Sore itu, Krishna berdiri bersama Uddhava di balkon istana, memandang laut yang menghitam di kejauhan. Keheningan terasa berat. Dalam diam itu, Uddhava merasakan firasat aneh, seakan perlindungan ilahi yang selama ini menaungi Dwaraka perlahan ditarik kembali. Krishna menatap cakrawala, wajahnya tenang namun sarat kesedihan.
“Kota ini telah kehilangan jiwanya,” ucap Krishna pelan. “Mereka tidak lagi mengenal diri mereka sendiri, karena terlalu lama memuja ego dan kenikmatan.”
Uddhava menghela napas, suaranya bergetar. “Wahai Keshava, hukum tak lagi mereka takuti. Nasihat dianggap gangguan. Seolah akal sehat mereka telah tertutup oleh kekuatan yang tak terlihat.”
Krishna terdiam sejenak. Ingatannya melayang pada ejekan putra-putra Yadawa terhadap para Resi, pada gada besi yang dihancurkan lalu dibuang ke laut, dan pada kutukan Gandhari yang diucapkan di tengah abu Kurukshetra. “Ini bukan hukuman yang datang tiba-tiba,” katanya akhirnya. “Sebab-sebabnya telah lama ditanam. Kutukan para Resi dan kata-kata Gandhari kini menemukan waktunya.”
“Apakah tidak ada jalan untuk mencegahnya?” tanya Uddhava, masih mencari sisa harapan.
“Tak seorang pun dapat melawan Kala,” jawab Krishna. “Kehancuran ini tidak datang dari luar, melainkan lahir dari dalam diri kaum Yadawa sendiri.”
Tak lama kemudian, kekacauan merebak di seluruh Dwaraka. Perselisihan kecil berubah menjadi perkelahian. Pasar, jalan, bahkan tempat ibadah menjadi arena pertumpahan darah. Para ksatria yang dahulu berdiri bahu-membahu kini saling menyerang, dipicu ejekan sepele, arak, dan amarah yang tak terkendali.
Melihat keadaan yang kian rusak, Krishna memerintahkan seluruh kaum Yadawa untuk berangkat menuju Prabhas Kshetra. Di sana, di tepi pantai suci, mereka akan melakukan ritual, mandi penyucian, dan memberi sedekah kepada para Brahmana. Perintah itu diterima tanpa banyak pertanyaan, seolah semua telah bergerak mengikuti arus takdir.
Namun perjalanan itu bukanlah jalan penebusan. Kaum Yadawa berangkat membawa arak dan perhiasan, tanpa menyadari bahwa langkah mereka adalah prosesi menuju akhir. Di pesisir Prabhas, alang-alang tajam yang tumbuh dari sisa besi kutukan masa lalu telah menunggu, menjadi senjata bagi kehancuran yang akan mereka ciptakan sendiri.
Pantai Prabhas di pesisir barat biasanya sunyi dan damai. Namun pagi itu, ketenangan hancur oleh kegaduhan. Matahari baru terbit, tetapi kaum Yadawa dari keluarga Vrishni dan Andhaka telah mabuk oleh arak. Mereka bukan sedang merayakan kemenangan, melainkan mencoba melupakan kenyataan pahit dan kutukan yang membayangi kota Dwaraka.
Mereka membawa persediaan minuman keras dalam jumlah besar dari kota. Arak diminum tanpa kendali. Mereka menenggaknya berulang-ulang hingga akal sehat lenyap. Dalam mabuk berat itu, tawa berubah kasar dan gerak mereka kehilangan keseimbangan.
Para ksatria yang biasanya gagah kini menari dengan langkah kacau. Tubuh mereka sempoyongan, saling merangkul lalu saling mendorong. Kalung berlian dan gelang emas yang menghiasi badan mereka tampak kusam oleh keringat dan tumpahan minuman. Dalam mabuk yang berat, dunia terasa berputar. Dalam mabuk itu, dendam lama yang selama ini terpendam kembali menyala, menunggu satu percikan kecil untuk meledak.
Di tengah kekacauan itu berdiri Satyaki, ksatria tangguh dari keluarga Vrishni. Meski tubuhnya goyah oleh arak, matanya merah. Pandangannya tertuju pada satu sosok: Kritavarma. Pemimpin kelompok Andhaka itu duduk santai, tertawa lebar dengan gelas minuman di tangannya. Melihat wajah Kritavarma, ingatan Satyaki pun melayang ke tiga puluh enam tahun silam, saat Perang Kurukshetra masih berkecamuk.
Satyaki melangkah mendekati Kritavarma dengan langkah berat. Tanpa sepatah kata pun, ia mengambil sebuah kendi perak berisi arak dan menumpahkannya ke pasir di depan kaki Kritavarma. Tindakan itu bukan sekadar amarah sesaat, melainkan sebuah penghinaan besar bagi seorang ksatria.
“Lihat orang ini!” teriak Satyaki dengan suara serak yang menembus kegaduhan. “Kritavarma, yang mengaku pahlawan, padahal hanya berani di malam gelap. Kau bukan ksatria sejati. Kau pengecut yang tega membantai prajurit yang sedang tertidur lelap di perkemahan mereka!”
Hinaan Satyaki merujuk pada kekejaman di akhir Perang Kurukshetra, ketika Kritavarma membantu Ashwatthama membantai sisa pasukan Pandawa yang sedang beristirahat, tanpa senjata, di tengah malam.
Wajah Kritavarma yang semula merah oleh arak seketika memucat karena amarah. Ia bangkit berdiri, mengepalkan tangan erat-erat. “Jaga bicaramu, Satyaki! Kita datang ke pantai ini untuk mencari kedamaian dan melupakan masa lalu. Mengapa kau terus mengungkit luka lama? Tidakkah kau menghormati perintah Krishna untuk berdamai?”
Satyaki tertawa, lalu berkata. “Apakah pembantaian di malam gelap itu bisa dilupakan begitu saja?” seru Satyaki. “Menyerang mereka yang tertidur tanpa senjata itulah perbuatanmu! Kau adalah noda bagi bangsa Yadawa.” Kau membunuh orang-orang tak berdaya dalam tidur mereka, lalu kini berpura-pura suci di sini?”
“Dan bagaimana dengan dirimu, Satyaki?” balas Kritavarma tajam. “Kau membunuh Bhurishravas ketika lengannya telah tertebas dan ia menghentikan perlawanan.”
Kata-kata itu menjadi percikan api yang jatuh ke tumpukan jerami kering. Rasa bersalah yang lama terpendam berubah menjadi amarah tak terkendali. Dalam mabuk yang berat, akal sehat mereka lenyap sepenuhnya. Tanpa peringatan, Satyaki menerjang. Pukulan kerasnya menghantam wajah Kritavarma, mematahkan hidungnya dan membuat darah segar menyembur ke pasir.
Dalam sekejap, kekacauan besar meledak di sepanjang pantai. Kelompok Vrishni dan Andhaka yang semula minum bersama kini saling menyerang dengan kebencian. Mereka saling mendorong, memukul, dan mencekik. Tangan-tangan mereka refleks meraba pinggang, mencari pedang atau gada, namun tak satu pun ditemukan. Sesuai perjanjian damai, seluruh senjata telah mereka tinggalkan di Dwaraka.
Namun takdir seolah telah menyiapkan jalan bagi kehancuran mereka sendiri. Dalam kebingungan dan amarah, para ksatria itu menoleh ke rumpun alang-alang Erka yang tumbuh lebat di tepi pantai. Dari kejauhan tampak seperti rumput biasa yang lunak, tetapi sejatinya itulah wujud kutukan lama: sisa-sisa gada besi yang dahulu dihancurkan menjadi debu dan dibuang ke laut.
Keajaiban yang mengerikan pun terjadi. Saat tangan para ksatria yang diliputi amarah mencabut alang-alang itu, rumput tersebut seketika berubah. Batang yang semula tampak lunak mendadak mengeras, menjadi berat, dan menjelma gada besi yang kokoh di genggaman mereka. Dengan senjata terkutuk itu, mereka pun mulai saling membantai tanpa belas kasihan.
Satyaki, meski tubuhnya telah terluka, terus mengayunkan gada besinya. Siapa pun yang mendekat dihantam tanpa ragu. Namun kekuatannya tak bertahan lama. Satyaki dikeroyok oleh banyak Yadawa. Dihantam bertubi-tubi dengan gada Erka, ia akhirnya roboh dan tewas di atas pasir pantai.
Melihat ksatria sehebat Satyaki gugur, Pradyumna putra sulung Krishna tak sanggup tinggal diam. Dengan amarah yang bercampur duka, ia menerobos ke tengah perkelahian. Sebagai ksatria unggul, gerakannya cepat dan mematikan. Gada besinya berputar tanpa henti, menghantam dan meremukkan tulang-tulang mereka yang mendekat. Di pantai itu, ikatan keluarga lenyap sama sekali. Ayah menyerang anak, kakak membunuh adiknya. Akal sehat mereka lenyap. Dalam amarah dan mabuk, saudara sendiri tampak seperti musuh.
Pertempuran itu berlangsung sangat brutal. Bunyi tulang yang retak dan jeritan kesakitan bercampur dengan debur ombak. Pasir pantai yang semula putih bersih berubah menjadi merah pekat oleh darah. Pradyumna bertarung dengan keberanian luar biasa, namun tenaganya perlahan terkuras. Dikepung dari segala arah, ia akhirnya roboh setelah gada menghantam kepalanya. Ia tewas di sisi jasad Satyaki.
Samba, putra Krishna yang lain, turut menjadi korban. Padahal dialah pemicu awal kutukan ini, akibat keisengannya mempermainkan para resi di masa lalu. Ironisnya, Samba tewas di tangan kerabatnya sendiri, tubuhnya hancur tak lagi berbentuk.
Beberapa jam kemudian, saat matahari mulai condong ke barat, kekacauan itu mereda bukan karena damai tercapai, melainkan karena hampir tak ada lagi yang mampu berdiri. Krishna dan Balarama akhirnya tiba di tempat itu, menyaksikan apa yang telah ditentukan sejak lama.
Hampir seluruh kaum lelaki bangsa Yadawa telah musnah. Di antara tumpukan jasad, alang-alang Erka yang sebelumnya menjadi senjata kini kembali berubah menjadi rumput biasa, tergeletak tak berdaya di pasir. Krishna menatap pemandangan itu dengan tenang, namun sarat kesedihan. Ia tahu inilah akhir bangsanya. Kutukan lama pun mencapai akhirnya. Bangsa Yadawa musnah oleh tangan mereka sendiri, sebagaimana telah ditentukan oleh waktu dan karma.
Dituturkan kembali dari Mausala Parva Mahabharata karya Vyasa dengan pendekatan naratif modern
Hastinapura kini sunyi. Istana megah itu terasa kosong, seolah dipenuhi bayangan masa lalu. Di sana, Raja Dhritarashtra dan Ratu Gandari duduk dalam kesedihan yang dalam. Mereka kehilangan segalanya seratus putra, cucu, dan masa depan keluarga mereka. Tidak ada kemenangan yang bisa menghibur luka itu.
Kesedihan Dhritarashtra bukan sekadar duka. Ia bercampur penyesalan dan kebencian yang terpendam. Sebagai raja, ia menerima hasil perang. Namun sebagai ayah, ia tak sanggup menerima kenyataan bahwa putra-putranya tewas oleh saudara mereka sendiri.
Di antara semua Pandawa, satu nama terus membara di hatinya: Bima. Bima yang bersumpah menghancurkan Kuru. Bima yang meremukkan paha Duryodhana dan mengakhiri hidup putra sulungnya dengan cara paling memalukan bagi seorang ksatria.
Sementara itu, para Pandawa bersiap memasuki istana. Yudhistira memimpin mereka. Ia tahu, kemenangan tanpa perdamaian hanya akan melahirkan luka baru. Mereka datang bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai keluarga yang memohon maaf dan restu.
Namun, di antara kerumunan itu, terdapat Kresna, yang mata menembus semua tirai emosi dan niat tersembunyi. Kresna tidak pernah berhenti menjadi pelindung Dharma, dan saat ini, pelindung Bima. Ia tahu persis betapa besar api yang membara di dalam jiwa Raja Dhritarashtra. Meskipun buta secara fisik, Dhritarashtra dikenal memiliki kekuatan fisik yang luar biasa, dikuatkan oleh tapa dan, pada saat ini, oleh kemarahan yang tak terkendali. Kresna menyadari bahwa jika Dhritarashtra diberikan kesempatan sedetik saja untuk menyentuh Bima, Raja itu akan menggunakan kekuatan penuhnya untuk menghancurkan Bima dalam pelukan maut.
Karena itu, Kresna telah menyiapkan segalanya. Sebelum Pandawa masuk, sebuah patung besi raksasa yang menyerupai Bima dibawa ke aula dan diletakkan dekat singgasana. Patung itu ditutupi kain kerajaan, tampak seperti bagian dari hiasan istana.
Saat Pandawa memasuki aula, suasana menjadi mencekam. Sunyi, berat, hanya diisi oleh isak tangis samar Gandari yang duduk diam di sisi Dhritarashtra. Yudhistira segera bersimpuh di kaki pamannya.
“Ayahanda,” ujar Yudhistira dengan suara yang dipenuhi kesedihan yang tulus. “Hamba datang untuk memohon pengampunan. Hamba telah berbuat dosa besar, menyebabkan kematian begitu banyak anggota keluarga kita. Berkahilah kami, Ayahanda, agar kami dapat membersihkan hati dan mulai memulihkan kerajaan ini.”
Dhritarashtra, yang hatinya melembut sedikit oleh kerendahan hati Yudhistira, merangkulnya. Dhritarashtra mencintai Yudhistira, yang selalu lembut dan menghormati, dan Yudhistira tidak secara langsung bertanggung jawab atas kematian putra-putranya.
Setelah Yudhistira, giliran Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Mereka semua melewati momen yang tegang namun selamat, karena fokus utama kebencian Dhritarashtra tertuju pada sosok Bima.
Saat Bima melangkah maju, dadanya terasa berat. Ia tidak takut mati, tetapi takut menghadapi duka dan amarah seorang ayah yang kehilangan segalanya.
Dhritarashtra merasakan kedatangan Bima. Niat membunuh yang selama ini terpendam tiba-tiba muncul ke permukaan, membuat urat-urat di lehernya menegang, meskipun wajahnya tampak tenang dalam duka buta. “Oh, Bima!” seru Dhritarashtra, suaranya bergetar dengan campuran duka dan kemarahan. “Kau adalah putra yang paling kuat, yang telah mengakhiri garis keturunan seratus putraku. Datanglah, Anakku! Biarkan pamanmu yang malang ini memelukmu, untuk terakhir kalinya!”
Dhritarashtra membuka kedua tangannya lebar-lebar. Bima mulai melangkah maju, tetapi tepat pada detik itu, Kresna bergerak secepat kilat. Ia menahan Bima dengan isyarat mata yang tajam dan segera mendorong patung besi Bima yang berat itu ke depan Dhritarashtra. Kresna menyampirkan jubah di atas kepala patung itu agar sentuhan dingin logam tidak segera terdeteksi oleh Dhritarashtra yang buta.
Dhritarashtra, yang hanya dipandu oleh pendengaran dan kemarahan, menyangka bahwa Bima yang asli berada dalam jangkauannya. Ia tidak memeluk dengan kasih sayang, tetapi dengan seluruh kekuatan dan emosi yang telah ia kumpulkan selama ini. Kekuatan yang terlepas itu adalah kekuatan yang dapat meratakan gunung.
Patung besi itu menjerit. Bukan jeritan manusia, melainkan suara melengking logam yang bergesekan dan tertekan di luar batas daya tahannya. Dalam seketika, patung yang kokoh itu hancur berkeping-keping. Debu besi beterbangan, dan patung itu runtuh menjadi bongkahan-bongkahan yang tidak berbentuk di lantai.
Semua orang yang hadir terkesiap ngeri, terpaku melihat kekuatan Raja yang buta itu. Mereka menyaksikan kematian yang seolah-olah terjadi, dan keheningan menyelimuti aula, kecuali napas Dhritarashtra yang terengah - engah.
Dhritarashtra melepaskan bongkahan besi dari pelukannya, lalu berdiri terpaku, kelelahan, dan tiba-tiba diliputi penyesalan yang luar biasa. Ia mengira telah membunuh keponakannya sendiri, membunuh Bima dalam tindakan dendam yang keji di hadapan keluarga yang tersisa. Air mata duka dan penyesalan mengalir deras dari matanya yang buta.
Tangis penyesalan langsung pecah. “Aku telah melakukan dosa terbesar,” ratapnya. “Aku membunuh keponakanku sendiri! Dendam telah membutakanku!”
Saat Dhritarashtra menangis histeris, Kresna melangkah maju dengan tenang. Ia membiarkan Raja itu menghabiskan luapan emosi dan kemarahannya. Ketika Dhritarashtra sudah sedikit tenang, Kresna meletakkan tangan di bahunya.
“Raja yang Mulia,” ujar Kresna dengan suara lembut. “Hentikan ratapanmu. Bima masih hidup.”
Dhritarashtra mengangkat wajahnya, terkejut. “Apa katamu? Jangan mengujiku, Kresna!”
Dhritarashtra terkejut. Kresna lalu menunjuk bongkahan besi di lantai. “Yang Paduka hancurkan hanyalah patung besi. Aku tahu amarah Paduka tak dapat dibendung, maka aku mencegah dosa yang lebih besar.”
Dhritarashtra terdiam. Setelah beberapa saat, kesadaran membanjiri dirinya. Ia merasakan lega yang tak terhingga karena tidak benar-benar membunuh Bima, disusul rasa malu yang mendalam atas niat pembunuhannya yang terungkap.
Ia menyadari bahwa jika bukan karena campur tangan Kresna, ia akan menambah dosa lain dalam daftar panjang penderitaannya. Setelah amarah dan rasa malu itu berlalu, yang tersisa hanyalah kepasrahan. Dhritarashtra, yang kini benar-benar lemah, memberikan restu yang tulus kepada para Pandawa, menyambut Bima yang kini melangkah maju untuk memeluknya dengan hati-hati. Ia menerima nasibnya, meskipun rasa duka atas putra-putranya akan selamanya menyelimuti sisa hidupnya.
Hastinapura kini memiliki raja baru. Namun pemerintahan itu dimulai di bawah bayang-bayang masa lalu dan beban karma yang berat pengingat bahwa kemenangan terbesar pun selalu menyisakan harga yang mahal.
Yudhistira menatap tajam. Kesedihan di matanya berubah menjadi tekad yang keras.
"Aku tidak akan pergi," jawabnya tegas. "Mereka keluargaku. Jika Surga berarti aku harus meninggalkan mereka di sini sendirian, aku lebih memilih kegelapan ini. Jika ini tempat untuk pendosa, aku pun pantas di sini. Bukankah aku pemimpin mereka? Bukankah aku juga pernah berbohong saat perang?"
Utusan itu kaget. "Anda tidak mengerti. Hukuman ini hanya sebentar. Anda sudah boleh masuk Surga."
"Kesetiaan seorang Raja tidak boleh 'hanya sebentar'," balas Yudhistira. "Pergilah. Katakan pada Dewa Indra, aku menolak Surga-Nya. Jika harus memilih antara bahagia sendiri atau menderita bersama saudara-saudaraku, aku pilih menderita bersama mereka."
Yudhistira berbalik badan, masuk lebih dalam ke arah suara tangisan itu. Ia menolak godaan untuk hidup enak. Ia memantapkan hati, siap menanggung rasa sakit demi menemani orang-orang yang dicintainya.
Namun, tiba-tiba semuanya berhenti.
Suara bising lenyap. Udara busuk berganti wangi bunga. Pemandangan mengerikan itu pecah dan hilang begitu saja. Dalam sekejap, Yudhistira sadar ia berdiri di tanah hijau yang indah, diterangi cahaya matahari yang lembut.
Saudara-saudaranya Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, dan Drupadi kini berdiri di sekelilingnya. Mereka tidak lagi kesakitan. Mereka memakai jubah putih bersih dan tersenyum lega.
Di depan Yudhistira, muncul dua sosok agung: Dewa Indra, penguasa surga, dan Dewa Dharma, lambang kebenaran. Keduanya menatap Yudhistira dengan bangga.
"Yudhistira," suara Indra terdengar hangat. "Ujian sudah selesai. Kau berhasil melewatinya."
Yudhistira bingung. "Apa maksudnya? Penderitaan mereka tadi... apakah itu palsu?"
Dewa Dharma tersenyum. "Itu hanya ilusi, Nak. Ujian terakhir untuk menguji hatimu. Kami ingin tahu mana yang kau pilih: kebahagiaanmu sendiri atau kesetiaan pada keluarga. Kau telah membuktikannya. Kau rela membuang Surga demi kesetiaan."
"Tapi kenapa? Kenapa harus ada neraka seperti tadi?" tanya Yudhistira.
Indra menjelaskan, "Setiap manusia, sebaik apa pun dia, pasti punya kesalahan kecil yang harus dibayar. Kebohonganmu dulu, juga kesalahan kecil saudaramu, harus ditebus dengan merasakan neraka walau cuma sebentar. Itu aturannya."
"Lalu Duryodhana? Musuh kami yang jahat itu?" tanya Yudhistira lagi. "Kenapa aku sempat melihatnya enak-enakan di Surga?"
"Duryodhana mati berani di medan perang sebagai ksatria," jawab Dharma. "Karena keberaniannya itu, ia boleh mampir sebentar di Surga. Tapi itu hanya sementara, sebelum ia masuk ke tempat hukuman yang sebenarnya sesuai dosa-dosanya yang berat. Berbeda denganmu dan Pandawa. Dosa kalian sudah lunas dibayar lewat ilusi neraka tadi. Sekarang, kebahagiaan abadi yang sesungguhnya sudah menanti kalian."
Indra mengulurkan tangan. "Mari, Sekarang waktunya masuk ke Surga yang sebenarnya. Tempat yang kalian dapatkan bukan karena hadiah, tapi karena kebaikan hati yang kalian pertahankan."
Di ruang Istana, mereka berkumpul tanpa duduk di atas takhta. Yudhistira berdiri di tengah ruangan. Jubah kerajaannya masih ia kenakan, tetapi kini terasa lebih seperti beban daripada kehormatan. Ia memandang saudara-saudaranya satu per satu, lalu berbicara dengan suara tenang.
“Waktu kita telah selesai,” katanya. “Perang telah usai, dan Dharma yang kita perjuangkan telah mencapai tujuannya. Dunia kini memasuki masa yang berbeda. Kali Yuga telah benar-benar dimulai.”
Nakula dan Sahadewa menundukkan kepala. Bhima berdiri diam, menatap ke arah luar, seolah mencari sesuatu yang tak lagi ada. Arjuna, yang baru kembali dari Dwaraka, merasakan kehampaan yang sulit diucapkan. Kehilangan Krishna bukan hanya kehilangan sahabat, tetapi juga kehilangan arah.
“Saat aku melihat Dwaraka tenggelam,” ucap Arjuna, “aku memahami satu hal. Kejayaan, kekuasaan, dan kemenangan tidak pernah abadi. Tanpa Krishna, semua itu kehilangan maknanya.”
Dropadi berdiri di sisi mereka, wajahnya tenang namun tegas. “Jika demikian,” katanya, “apa yang akan kita lakukan? Apakah kita tetap bertahan di sini, atau melangkah menuju akhir dengan kesadaran penuh?”
Yudhistira menoleh kepadanya. “Kita akan melangkah,” jawabnya. “Kita akan menempuh Mahaprasthana. Namun sebelum itu, Hastinapura harus ditinggalkan dalam keadaan aman dan terjaga.”
Keesokan harinya, istana menjadi saksi upacara penyerahan kekuasaan. Yudhistira meletakkan mahkota di kepala Parikesit, putra Abhimanyu dan cucu Arjuna. Usianya masih muda, tetapi sorot matanya mencerminkan kedewasaan yang lahir dari kehilangan dan peperangan.
“Pimpinlah kerajaan ini dengan adil,” pesan Yudhistira. “Ingatlah bahwa kekuasaan hanya bernilai jika digunakan untuk melindungi rakyat.”
Parikesit mengangguk, lalu memandang kakeknya dengan ragu. Yudhistira kemudian memanggil seorang pria yang berdiri sedikit terpisah dari para bangsawan istana. Ia adalah Yuyutsu, putra Dhritarashtra dari seorang wanita Waisya satu-satunya putra raja tua itu yang sejak awal memilih berpihak pada kebenaran.
“Yuyutsu,” ujar Yudhistira, “engkau telah menunjukkan kesetiaan pada Dharma saat banyak orang memilih darah dan ambisi. Mulai hari ini, engkau menjadi penasehat dan pengawas kerajaan. Dampingi Parikesit, ajarkan padanya kebijaksanaan, dan ingatkan dia bahwa kekuasaan tanpa kendali hanya akan membawa kehancuran.”
Yuyutsu maju dan menunduk hormat. “Aku akan menjaga kerajaan ini sebaik yang aku mampu, selama napas masih ada,” jawabnya.
Dengan selesainya penyerahan kekuasaan, Yudhistira menanggalkan perannya sebagai raja. Beban terakhir pun lepas dari pundaknya.
Sore harinya, di kediaman Pandawa, ritual pelepasan dimulai. Arjuna melepaskan Gandiva dan meletakkannya bersama harta kerajaan. Bhima meninggalkan gadanya di tanah dengan dentuman berat. Nakula dan Sahadewa menanggalkan pedang serta mahkota. Dropadi melepas perhiasan dan pakaian istana, menggantinya dengan busana sederhana.
“Kita meninggalkan segalanya,” kata Bhima, menatap tumpukan harta yang tak lagi berarti.
“Karena di perjalanan ini,” jawab Yudhistira, “hanya perbuatan yang ikut bersama kita.”
Saat senja turun, mereka meninggalkan Hastinapura tanpa iring-iringan. Enam sosok berjalan ke arah utara, menuju pegunungan. Seekor anjing mengikuti mereka dalam diam.
Tanpa disadari oleh kota yang sibuk menyambut rajanya yang baru, para Pandawa melangkah meninggalkan dunia. Mahaprasthana Perjalanan Agung telah dimulai, menutup satu zaman dan membuka keheningan abadi.
Ketenangan yang mulai tumbuh di hati Yudhisthira tidak berlangsung lama. Ajaran tentang hakikat diri dan pelepasan telah ia dengar, tetapi dunia tidak berhenti hanya karena jiwa mulai memahami. Kerajaan Hastinapura hancur, tanah Kurukshetra masih menyimpan bau kematian, dan Dharma kini menuntut wujudnya dalam tindakan, bukan renungan semata.
Yudhisthira tetap bersimpuh di sisi Bhishma di medan Kurukshetra. Udara pagi terasa dingin, dan embun menempel di rerumputan yang telah lama menyaksikan gugurnya para ksatria. Di hadapannya, Pitamaha terbaring di atas hamparan panah, tubuhnya lemah namun pikirannya jernih, seakan rasa sakit tidak lagi memiliki kuasa atas batinnya.
Yudhisthira menyadari, waktu Bhishma kian menipis. Setiap kata yang terucap darinya adalah warisan terakhir seorang penjaga Dharma.
“Wahai Pitamaha,” ucap Yudhisthira dengan suara tertahan, “Engkau telah menjelaskan kepadaku tentang kehidupan dan kematian. Kini ajarilah aku bagaimana seorang raja harus hidup di dunia. Bagaimana hukum ditegakkan? Bagaimana rakyat dilindungi? Dan bagaimana noda besar perang ini dapat ditebus?”
Bhishma menatapnya lama, lalu mulai berbicara dengan suara tenang. Ia menguraikan kewajiban raja, hukum kerajaan, tata cara pembagian warisan, serta etika dalam keluarga dan masyarakat. Ia menjelaskan kewajiban masing-masing golongan dalam tatanan sosial, dan bagaimana raja harus menjaga keseimbangan di antara semuanya tanpa dikuasai oleh hawa nafsu atau kebencian.
“Kekuasaan tidak berdiri di atas darah semata,” ujar Bhishma. “Keturunan memberi bentuk, tetapi perbuatan menentukan nilai. Seorang raja yang lalai terhadap rakyatnya telah menyimpang dari Dharma, betapapun mulianya asal-usulnya.”
Ia menekankan pemberian bantuan tanpa pamrih sebagai penopang utama pemulihan pasca-perang. Tanah yang ternoda oleh pembantaian harus disejukkan dengan kebajikan. Janda, yatim piatu, dan mereka yang kehilangan sandaran hidup harus menjadi perhatian pertama seorang raja. Tanpa itu, kemenangan hanyalah kehancuran yang tertunda.
Ajaran itu berlangsung selama beberapa hari. Yudhisthira mendengarkan dengan saksama, mencatat setiap nasihat di dalam hatinya. Namun kegundahan terdalam belum sepenuhnya sirna. Maka pada suatu senja, ketika matahari mulai condong ke barat dan cahaya memerah menyelimuti Kurukshetra, ia mengajukan pertanyaan terakhir.
“Wahai Pitamaha, setelah semua kewajiban duniawi ini, kepada siapakah manusia seharusnya bersandar sepenuhnya? Siapakah yang patut dipuja sebagai tujuan tertinggi?”
Bhishma tersenyum tipis. Dalam kondisi fisiknya yang kian melemah, suaranya justru memperoleh keteguhan yang melampaui luka-luka tubuhnya. Dengan pikiran yang terpusat dan napas yang teratur, ia mulai melantunkan Wisnu Sahasranama seribu nama suci Sri Wisnu, sebagaimana diajarkan oleh para resi terdahulu.
Nama demi nama mengalir tanpa tergesa. Ia menyebut Sang Pemelihara sebagai asal segala yang ada, yang meresap ke dalam seluruh jagat, yang tak tergoyahkan oleh perubahan waktu, dan yang menopang kehidupan dalam segala bentuknya. Setiap sebutan bukan sekadar pujian, melainkan penegasan sifat-sifat ilahi yang melampaui kelahiran dan kehancuran. Lantunan itu terdengar tenang, nyaris datar, namun justru karena itulah kekuatannya terasa seperti gema ajaran yang telah berumur panjang.
Para Pandawa mendengarkan dalam keheningan. Bagi Yudhisthira, nama-nama itu tidak menghapus ingatan akan Kurukshetra, tidak pula meniadakan duka yang masih tertinggal. Namun di tengah lantunan tersebut, pikirannya menjadi lebih jernih. Ia memahami bahwa dunia bergerak menurut hukum yang lebih luas daripada kehendak manusia, dan bahwa tugasnya adalah bertindak seturut Dharma, tanpa dikuasai oleh harapan atau keputusasaan akan hasilnya.
Ketika lantunan Sahasranama mencapai akhirnya, keheningan turun perlahan, bukan sebagai penutup, melainkan sebagai penegasan. Bhishma memejamkan mata, memusatkan pikirannya pada Wisnu, sebagaimana yang telah ia puji melalui seribu nama itu.
Ia telah lama menanti saat ini. Ketika matahari mulai bergerak ke utara, pada masa Uttarayana yang dianggap suci, Bhishma, melalui kekuatan yoga dan anugerah kematian yang dapat ia tentukan sendiri, melepaskan jiwanya dari tubuh fana. Tubuhnya tetap terbaring di atas panah, tenang, tanpa tanda pergolakan.
Dari langit, bunga-bunga surgawi jatuh menghujani Kurukshetra. Para resi, para Pandawa, dan Krishna menyaksikan dalam hening. Tidak ada sorak kemenangan, hanya penghormatan yang dalam.
Yudhisthira bangkit sebagai raja yang masih memikul duka, tetapi kini mengetahui ke mana kewajiban itu harus diarahkan. Dharma tidak lagi ia pandang sebagai hukuman atas masa lalu, melainkan sebagai jalan yang harus ditempuh meski berat, meski penuh sisa luka.
Bhishma telah pergi. Ajarannya tetap tinggal, menjadi fondasi bagi kerajaan yang harus dibangun kembali dari abu Kurukshetra.
Yang pertama jatuh adalah Drupadi. Tubuhnya lemas, lalu ambruk di atas salju.
"Kakak! Drupadi jatuh!" seru Bima panik. "Kenapa dia harus jatuh? Dia istri yang setia!"
Yudhistira terus berjalan tanpa menoleh. "Dia jatuh karena hatinya tidak adil, Bima. Meskipun bersuamikan kita berlima, cintanya lebih berat kepada Arjuna. Itu adalah keterikatannya."
Tak lama kemudian, Sadewa tergelincir dan tidak bangun lagi.
"Lalu Sadewa? Apa salahnya?" tanya Bima lagi.
"Dia merasa dirinya paling bijaksana di dunia. Kesombongan intelektual itulah yang menjatuhkannya," jawab Yudhistira datar.
Perjalanan berlanjut hingga Nakula, si tampan, ikut tersungkur.
"Nakula juga?"
"Dia terlalu bangga dengan ketampanannya, Bima. Dia merasa tidak ada yang lebih sempurna darinya. Kesombongan fisik adalah beban berat di jalan ini," jelas Yudhistira.
Kini tinggal bertiga, ditambah seekor anjing yang setia mengikuti mereka sejak awal. Tiba-tiba, Arjuna, ksatria terhebat itu, jatuh berlutut dan tak sanggup bangkit.
Bima terguncang. "Arjuna? Dia tidak mungkin cacat! Dia ksatria sempurna!"
Yudhistira menggeleng pelan. "Arjuna sombong akan keahlian memanahnya. Dia pernah bersumpah bisa menghabisi semua musuh dalam sehari, tapi dia gagal memenuhinya. Dia meremehkan lawan-lawannya. Kesombongan itu kini menghentikan langkahnya."
Akhirnya, hanya tersisa Yudhistira dan Bima. Namun, langkah Bima pun makin berat. Napasnya habis, dan tubuh besarnya menghantam salju.
"Kakak... tolong..." rintih Bima. "Kenapa aku? Aku selalu melindungimu! Apa dosaku?"
Yudhistira menatap adiknya dengan iba, namun tetap tegas. "Kau jatuh karena kau terlalu rakus, Bima. Kau makan tanpa memikirkan orang lain, dan kau sering menyombongkan kekuatan fisikmu. Kau merasa yang paling kuat dan meremehkan yang lemah. Itulah yang menahanmu di bumi."
Bima menghembuskan napas terakhirnya. Kini, Yudhistira sendirian. Hanya anjing setia itu yang menemaninya menembus badai salju hingga mencapai puncak tertinggi.
Di sana, langit terbelah. Sebuah kereta kencana turun, membawa Dewa Indra.
"Naiklah, Yudhistira," kata Indra. "Kau telah lulus ujian. Kau satu-satunya yang berhasil mencapai tempat ini dengan tubuh kasarmu."
Yudhistira hendak naik, tapi ia menoleh ke arah anjing di kakinya. "Tuan, izinkan anjing ini ikut bersamaku."
Indra menolak. "Surga tempat yang suci. Tidak ada tempat untuk hewan kotor di sana. Tinggalkan saja!"
"Maaf, Dewa Indra," tolak Yudhistira halus tapi tegas. "Aku tidak bisa. Meninggalkan makhluk yang setia dan berlindung padaku adalah dosa besar. Lebih baik aku tidak masuk surga daripada harus mengkhianati sahabat setiaku ini."
"Kau tega meninggalkan saudara-saudaramu dan istrimu di lereng gunung tadi, tapi kau tidak mau meninggalkan seekor anjing?" tanya Indra menguji.
"Saudara-saudaraku jatuh karena kesalahan mereka sendiri. Aku tak bisa menolongnya. Tapi anjing ini tidak punya dosa, ia setia. Menelantarkannya demi kebahagiaanku sendiri adalah perbuatan pengecut."
Seketika, anjing itu berubah wujud menjadi sosok bercahaya yang agung. Ia adalah Dewa Dharma, ayah spiritual Yudhistira.
"Anakku," ucap Dewa Dharma bangga. "Kau telah membuktikan bahwa bagimu, kasih sayang dan kesetiaan lebih tinggi daripada surga itu sendiri. Kau lulus ujian terakhir."
Bersama restu para Dewa, Yudhistira pun naik ke kereta kencana, melangkah menuju keabadian dalam bentuk manusianya yang utuh.
“Dewa Indra,” ujar Yudhistira dengan suara tenang namun berat oleh kegelisahan. “Aku telah menyaksikan kemuliaan Svarga dan tatanan jiwa-jiwa yang ditetapkan di dalamnya. Namun izinkan aku bertanya, dengan hati yang jujur: adakah keadilan di sini telah ditimbang sepenuhnya?”
Pandangannya beralih sejenak ke arah Duryodhana, yang tampak menikmati kehormatan surgawi. “Bagaimana mungkin mereka yang sepanjang hidupnya berjalan menjauh dari Dharma memperoleh kemuliaan ini, sementara saudara-saudaraku Bhima, Arjuna, Nakula, Sahadewa dan Drupadi, yang menanggung derita demi kebenaran, tak kulihat di hadapanku?”
Dewa Indra terdiam sejenak, lalu berbicara dengan suara tenang, sarat hukum yang melampaui zaman. “Putra Dharma, setiap jiwa menerima buah dari perbuatannya. Saudara-saudaramu tengah menjalani ketetapan lain. Adapun Duryodhana, ia gugur sebagai ksatria di medan perang, dan keberaniannya pada saat akhir memberinya jalan ke sini.”
Yudhistira menunduk sejenak, lalu berkata. “Jika demikian hukum yang berlaku, maka izinkan aku menyatakan pilihanku. Surga yang tidak mempertemukanku dengan saudara-saudaraku bukanlah kebahagiaan bagiku.”
Ia mengangkat wajahnya, tenang dan mantap. “Aku tidak menginginkan kemuliaan yang memisahkanku dari mereka. Di mana saudara-saudaraku berada, di sanalah jalanku.”
Yudhistira melangkah menjauh dari singgasana, bukan sebagai pembangkangan, melainkan sebagai penolakan yang utuh dan sadar. “Aku mohon, Paduka. Tunjukkan kepadaku jalan menuju tempat mereka berada. Jika di sana ada penderitaan, biarlah aku menjalaninya bersama mereka. Itulah Dharma yang aku pahami.”
Aula Svarga kembali diliputi keheningan. Para dewa saling berpandangan, namun tak satu pun menghalangi langkahnya. Tidak ada perintah, tidak ada larangan. Keheningan itu sendiri menjadi jawaban.
Dewa Indra menatap Yudhistira dengan pandangan yang telah berubah. Ia tidak lagi berdiri sebagai hakim, melainkan sebagai saksi. Ujian terakhir Putra Pandu telah terlampaui bukan dengan kekuatan, melainkan dengan kesetiaan pada Dharma yang tak tergoyahkan.
“Aku tidak tunduk pada hukum kemegahan yang palsu,” ujar Yudhistira dengan tenang. “Jika saudara-saudaraku berada di Naraka, biarlah aku berbagi nasib dengan mereka. Di mana mereka berada, di sanalah jalanku.”
Dewa Indra terdiam sejenak. Inilah ujian terakhir, yang hanya dapat dilalui oleh manusia yang benar-benar teguh dalam kebenaran.
“Baiklah, Raja Dharma,” kata Indra akhirnya. “Jika demikian pilihanmu, biarlah Matanga, utusan Naraka, menuntunmu.”
Dari barisan Deva, seorang makhluk tinggi kurus dengan jubah abu-abu gelap melangkah maju. Raut wajahnya dingin, tanpa emosi, seperti pahatan batu. Ia hanya memberi isyarat kepada Yudhistira untuk mengikutinya. Mereka melewati Gerbang Selatan yang awalnya tampak berkilauan, namun dalam sekejap, cahaya emas itu memudar, digantikan oleh kegelapan pekat yang menelan segalanya.
Peralihan itu terasa seperti jatuh dari ketinggian tanpa dasar. Saat Yudhistira menginjakkan kaki di tempat tujuan, udara dingin menyambutnya berat dan menyesakkan, dipenuhi bau busuk yang sulit dikenali, seolah sisa-sisa penderitaan yang telah lama terendap.
Mereka berjalan di jalan sempit berlumpur gelap. Di sisi-sisinya, cairan merah kehitaman mengalir perlahan. Dari segala arah terdengar jeritan panjang, saling bertumpuk, membentuk ratapan tanpa akhir.
Matanga berhenti. Wajahnya tetap datar.
“Inilah Naraka,” katanya singkat. “Tempat yang kau pilih.”
Yudhistira memejamkan mata sejenak. Ia tidak menunjukkan rasa jijik atau gentar, hanya kesedihan yang dalam. Tekadnya tetap tegak, menjadi pelindung bagi jiwanya di tengah kengerian yang mengitari langkahnya.
Mereka tiba di sebuah ruang terbuka yang dipenuhi kabut kelam. Di sanalah, di balik suara cambukan dan rintihan, Yudhistira mulai mendengar suara-suara yang sangat ia kenal.
Dari balik kabut dan ratapan yang saling bertindih, Yudhistira mendengar suara-suara yang sangat ia kenal.
Rintihan Bima terdengar berat dan terputus-putus, jauh dari gelegar suaranya yang dahulu. Keluhan Arjuna menyusul, lirih dan penuh dahaga. Suara Nakula dan Sahadewa menyatu, gemetar, memanggil namanya tanpa arah.
Lalu terdengar ratapan Drupadi pelan, pilu, dan menghunjam lebih dalam daripada semua jeritan lainnya.
Hati Yudhistira runtuh. Segala penderitaan yang ia rasakan sejak memasuki Naraka tak sebanding dengan mendengar suara mereka. Ia berhenti melangkah. Air mata jatuh tanpa ia sadari.
“Saudara-saudaraku… Drupadi,” ucapnya pelan, namun suaranya menjalar ke seluruh ruang. “Aku di sini.”
Seketika, ratapan itu mereda. Sejenak Naraka seperti menahan napasnya.
Dari kejauhan terdengar suara Drupadi, lebih tenang. Kehadiran Yudhistira membawa kelegaan yang tak dapat dijelaskan, seolah penderitaan itu sendiri surut meski hanya sesaat.
Yudhistira memahami maknanya tanpa perlu kata-kata: Dharma yang teguh mampu meringankan beban, bahkan di tempat paling gelap.
Matanga memandang Yudhistira. “Engkau mendengar mereka,” katanya. “Kehadiranmu meringankan penderitaan mereka. Itulah kekuatan Dharma.”
Yudhistira mengangguk perlahan. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara berat Naraka memenuhi dadanya. Wajahnya tetap tenang. Tidak ada keraguan di sana.
“Aku tidak akan pergi,” ucapnya singkat.
Ia melangkah lebih jauh ke dalam kegelapan, mendekati sumber ratapan itu. Bagi Yudhistira, tinggal bersama mereka apa pun bentuk penderitaannya adalah jalan yang tak perlu lagi dipertanyakan.
Kisah Mahabharata, meskipun berakar dari tradisi yang berbeda, menyimpan samudra hikmah yang universal. Jika kita memandangnya dengan mata hati (bashirah) dan menyaringnya melalui ajaran Islam, kisah ini bukan sekadar cerita perang perebutan takhta, melainkan sebuah alegori raksasa tentang pertarungan abadi antara Kebenaran dan Kebatilan, serta perjalanan jiwa manusia menuju Sang Pencipta.
Berikut adalah butir-butir hikmah yang bisa kita petik:
1. Bahaya Penyakit Hati: Hasad dan Takabur Akar kehancuran wangsa Kuru bukanlah karena kurangnya harta atau wilayah, melainkan karena Hasad (Dengki) dan Takabur (Sombong) yang bersarang di hati Duryodhana. Dalam Islam, hasad diibaratkan seperti api yang memakan kayu bakar. Duryodhana tidak bisa melihat kelebihan saudaranya sebagai rahmat, melainkan sebagai ancaman. Ini mengingatkan kita pada kisah Iblis yang enggan bersujud pada Adam karena kesombongan, atau Qabil yang membunuh Habil karena dengki. Kehancuran total di Kurukshetra adalah bukti nyata bahwa ambisi yang dibangun di atas pondasi kedengkian pasti akan runtuh.
2. Dunia Adalah "Mata'ul Ghurur" (Kesenangan yang Menipu) Sepanjang kisah, kita melihat perebutan kekuasaan yang megah. Namun, apa hasil akhirnya? Jutaan nyawa melayang, wanita menjadi janda, dan anak-anak menjadi yatim. Kemenangan Pandawa pun dirayakan di atas tumpukan mayat. Ini adalah pengingat keras akan firman Allah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau belaka (Laibun wa lahwun). Kekuasaan yang diperebutkan mati-matian ternyata fana dan tidak ada artinya dibandingkan dengan hisab di akhirat.
3. Jihad Terbesar Adalah Melawan Hawa Nafsu Perang Bharatayuddha sesungguhnya adalah simbol dari Jihad un-Nafs (memerangi hawa nafsu sendiri). Musuh terbesar Yudhistira dan saudara-saudaranya bukanlah Kurawa, melainkan keraguan, ketakutan, dan ego mereka sendiri. Kemenangan sejati dalam Islam bukanlah saat kita berhasil menaklukkan orang lain, tetapi saat kita berhasil menaklukkan diri sendiri untuk tunduk pada aturan Allah, sebagaimana Yudhistira yang terus berpegang pada kejujuran meski dalam situasi terhimpit.
4. Ujian Kesetiaan dan Pengorbanan (Itsar) Adegan akhir di mana Yudhistira menolak masuk surga sendirian dan memilih menderita bersama saudara-saudaranya mencerminkan sifat mulia dalam Islam: Ukhuwah (persaudaraan) dan Itsar (mendahulukan orang lain daripada diri sendiri). Seorang pemimpin sejati dalam Islam adalah pelayan bagi kaumnya (Sayyidul qauum khadimuhum). Yudhistira menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan tentang privilese, melainkan tentang tanggung jawab (amanah) yang dibawa sampai ke pintu akhirat. Ia tidak lari dari penderitaan rakyat (saudaranya), melainkan membersamainya.
5. Balasan Amal Itu Pasti (Yaumul Hisab) Akhir cerita yang menunjukkan bahwa setiap perbuatan sekecil biji sawipun ada balasannya, sangat selaras dengan konsep Zarrah dalam Al-Qur'an ("Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya"). Kebohongan kecil Yudhistira harus dibayar, dan keberanian Duryodhana pun diapresiasi sesaat. Ini mengajarkan bahwa keadilan Tuhan itu Maha Teliti. Tidak ada dosa yang luput, dan tidak ada kebaikan yang sia-sia.
Penutup Mahabharata mengajarkan kita bahwa hidup adalah sebuah perjalanan panjang menuju Dharma (Kebenaran/Ketaatan). Pada akhirnya, saat kita menapaki jalan kematian seperti perjalanan Pandawa mendaki gunung Mahameru harta, takhta, dan gelar akan gugur satu per satu.
Hanya satu yang akan menemani kita sampai ke hadapan Ilahi: amal baik dan akhlak mulia, amal baik kitalah satu-satunya sahabat setia yang akan menuntun kita melewati jembatan kematian menuju keabadian.
Comments
Post a Comment