Mahabarata 6

 Bayangkan skenario ini: Pahlawan terkuat dari pihak Kurawa, Karna, tiba-tiba membelot ke kubu Pandawa. Kisah epik Mahabharata yang kita kenal pasti akan berubah total, bahkan mungkin Perang Kurukshetra tidak akan pernah terjadi sebrutal itu. Inilah inti dari pertanyaan "Bagaimana jika pilihan Karna berbeda?".

Pilihan yang Mengguncang Dunia
Jauh sebelum perang pecah, Karna, anak tertua Kunti yang dibuang, mendapat dua tawaran besar yang bisa mengubah takdirnya. Pertama, Krishna menawarkan kepadanya posisi sebagai raja dan kakak tertua Pandawa. Kedua, Kunti memohonnya untuk bergabung dengan adik-adik kandungnya. Namun, Karna menolak mentah-mentah. Kenapa? Alasannya bukan karena harta atau tahta, tapi karena kesetiaan. Duryodhana, pemimpin Kurawa, adalah satu-satunya yang menerima dan menghargainya ketika semua orang menghina statusnya sebagai anak kusir. Bagi Karna, utang budi dan janji pada sahabat jauh lebih penting daripada hubungan darah dan tahta.
Skenario 'Andai Karna Berubah Pikiran'
Jika Karna memilih untuk menerima tawaran tersebut, peta kekuatan akan langsung bergeser drastis. Kemenangan Pandawa Hampir Pasti: Dengan bergabungnya Karna, Pandawa akan memiliki enam prajurit super (Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, dan Karna sendiri). Kekuatan gabungan Karna (setara Arjuna) dan Arjuna akan membuat kubu Kurawa langsung ciut dan perang kemungkinan besar akan usai dalam hitungan hari, atau bahkan tidak dimulai sama sekali.
Dampak Pada Keadilan dan Dharma
Pilihan Karna untuk tetap di sisi Kurawa sering dilihat sebagai sebuah pengorbanan agung. Dia rela mengorbankan segalanya tahta, keluarga, bahkan hidupnya demi menjunjung tinggi Mitra-Dharma (dharma persahabatan). Jika dia membelot, perang mungkin akan lebih damai, tetapi kisahnya sebagai pahlawan tragis yang mendahulukan kesetiaan di atas segalanya tidak akan pernah ada. Dunia mungkin mendapatkan kedamaian, tetapi kehilangan salah satu kisah terbesar tentang dilema moral yang paling menyayat hati.
Lalu, jika Perang Kurukshetra batal terjadi, apakah dunia akan benar-benar mencapai kedamaian sejati, atau justru malah terjebak dalam masalah lain karena dharma (kebenaran) tidak ditegakkan dengan cara yang keras?
FILOSOFI AGAMA DALAM ALUR MAHABHARATA VERSI WAYANG JAWA
Adaptasi epik Mahabharata dalam pewayangan Jawa, khususnya tradisi Mataraman yang dipengaruhi Wali Songo, memiliki alur standar kronologis yang berfungsi sebagai media dakwah dan penegasan filosofi tauhid. Kisah ini tidak hanya menceritakan konflik Pandawa dan Kurawa, tetapi juga memuat gubahan filosofis mendalam yang disusun oleh para Wali, berfokus pada perjalanan spiritual manusia menuju Sang Pencipta.
SANGKAN PARAN DAN PENANAMAN TAUHID
Alur pewayangan Jawa menegaskan tauhid dengan menarik garis silsilah leluhur, bahkan bagi para Dewa. Silsilah versi ini ditarik mundur hingga Nabi Adam AS dan Nabi Sis, melalui tokoh mitologi seperti Sayid Anwar, Sang Hyang Nurcahya, Sang Hyang Wenang, dan Sang Hyang Tunggal, sebelum mencapai Batara Guru (Raja Dewa).
Dalam filosofi Wali Songo, para Dewa bukanlah Tuhan yang harus disembah, melainkan makhluk halus ciptaan Tuhan yang diberi wewenang mengatur alam. Kepemimpinan (Pulung) atau Wahyu Kraton kemudian turun-temurun dari Batara Guru hingga ke Resi Manumanasa, Resi Sakri, Resi Palasara, dan berakhir pada Resi Abiyasa, kakek dari generasi Pandawa dan Kurawa.
Kelahiran generasi utama melambangkan konflik batin. Tiga putra Abiyasa yakni Destarata (buta, simbol nafsu gelap), Pandu Dewanata (putih, simbol kesucian), dan Yamawidura (cacat kaki, simbol kebijaksanaan yang terabaikan), mewakili aspek-aspek jiwa manusia.
MASA MUDA DAN BENIH KONFLIK
Kurawa lahir dari Dewi Gendari sebagai segumpal daging yang pecah menjadi seratus butir, melambangkan pecahnya konsentrasi hati karena dikuasai hawa nafsu. Sementara Pandawa lahir dari Dewi Kunti dan Dewi Madrim melalui mantra pemanggil Dewa, melambangkan unsur-unsur kesucian: Yudhistira (Dharma), Bima (Bayu/Kekuatan), Arjuna (Indra/Keberanian), serta si kembar Nakula dan Sadewa (Aswin/Kesembuhan).
Salah satu lakon kunci adalah Bima Bungkus. Bima yang lahir terbungkus diselamatkan oleh Gajah Sena, yang kemudian menyatu dengannya, memberikan kekuatan gajah. Masa pendadaran (berguru) di bawah Resi Durna selalu diwarnai upaya Kurawa mencelakai Bima, yang justru memperkuatnya (misalnya, saat diracun, Bima bertemu Naga Hyang Antaboga dan mendapat kekebalan).
Ujian terberat masa muda terjadi saat Lakon Bale Sigala-gala (Rumah Lilin). Pandawa dijebak oleh Patih Sengkuni di rumah yang mudah terbakar, namun selamat berkat gorong-gorong yang ditunjukkan oleh Garangan Putih (simbol pertolongan Tuhan atau Sang Hyang Antaboga). Setelah selamat, Pandawa mendirikan Kerajaan Amarta (Indraprastha) setelah menaklukkan hutan angker Wanamarta dan menyerap kekuatan jin penguasa hutan. Di fase ini, Yudhistira menerima pusaka misterius, Jamus Kalimasada.
LAKU PRIHATIN DAN PUNCAK FILOSOFI
Ujian besar datang dalam Lakon Pandawa Dadu, yang mengakibatkan mereka harus menjalani hukuman pembuangan selama 12 tahun ditambah satu tahun penyamaran.
Selama masa pembuangan, pencarian wahyu dan ilmu sejati menjadi fokus. Lakon Arjuna Wiwaha menunjukkan Arjuna menaklukkan hawa nafsu (bidadari) dan rintangan (raksasa Niwatakawaca), menghasilkan senjata Panah Pasopati.
Puncak filosofi Sufisme yang digubah Wali Songo terletak pada Lakon Dewa Ruci (Bima Suci). Bima diperintah gurunya mencari air kehidupan (Tirta Perwitasari) hingga ke dasar samudra. Di sana ia bertemu Dewa Ruci, dewa kerdil yang merupakan kembaran dirinya. Bima memasuki telinga Dewa Ruci dan menyaksikan alam semesta. Lakon ini bermakna tasawuf, yakni mengenal Tuhan dengan mengenal diri sendiri (Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbahu).
BARATAYUDA SEBAGAI PEMURNIAN DIRI
Perang Baratayuda Jayabinangun dimaknai sebagai ruwatan jagat raya atau pembersihan dari angkara murka. Prabu Kresna menjadi duta perdamaian terakhir, yang gagal. Sebelum perang, dalam versi Jawa, Antareja (putra Bima) diminta Kresna untuk "moksa" atau bunuh diri karena kesaktiannya yang terlalu mematikan, yang dapat mengganggu keseimbangan takdir.
Gugurnya tokoh-tokoh penting dimaknai secara filosofis, seperti gugurnya Bisma oleh Srikandi (wanita), melambangkan kejatuhan dari kesombongan, dan gugurnya Gatotkaca yang tubuhnya jatuh menimpa ribuan pasukan Kurawa setelah terkena senjata Kunta. Perang berakhir setelah Bima menghancurkan paha kiri Duryudana.
AKHIR HAYAT DAN ISLAMISASI KALIMASADA
Babak terakhir, yang merupakan gubahan khas Sunan Kalijaga, berbeda total dari versi India. Setelah perang usai dan tahta Hastinapura jatuh kepada cucu Arjuna, Parikesit, Pandawa memutuskan untuk Moksa (meninggalkan duniawi).
Kisah Menak Sopal atau Kalimasada menceritakan bahwa Yudhistira (Prabu Puntadewa) berusaha moksa namun terhalang, meskipun ia memegang pusaka Jamus Kalimasada. Ia tersiksa karena tidak mengetahui makna pusaka tersebut. Sunan Kalijaga, yang menyamar sebagai Syeh Melaya, kemudian menuntun Yudhistira.
Sunan Kalijaga mengungkapkan bahwa isi dari Jamus Kalimasada adalah Kalimat Syahadat (Asyhadu an laa ilaaha illallaah). Setelah mengucap syahadat, Yudhistira meninggal dengan tenang, jasadnya hilang (Moksa sempurna/Husnul Khotimah). Pusaka Kalimasada kemudian diambil oleh para Wali sebagai pusaka bagi kerajaan Islam di Jawa (Demak).
Inti dari alur Wali Songo ini adalah representasi perjalanan hidup manusia: lahir suci, bergelut dengan nafsu (Kurawa), mencari ilmu sejati (Dewa Ruci), memerangi hawa nafsu diri sendiri (Baratayuda), dan akhirnya kembali kepada Tuhan dengan iman yang benar (Kalimasada/Syahadat).
Kabar kehancuran itu tiba di Hastinapura bagai petir yang menyambar di siang bolong. Berita tentang musnahnya Wangsa Vrishni dan Andhaka di Prabhasa karena saling bantai telah sampai ke telinga Yudhistira. Arjuna, dengan hati hancur, segera memacu keretanya menuju Dwaraka untuk menunaikan janji terakhirnya kepada Krishna: menyelamatkan mereka yang tersisa.
Begitu memasuki Dwaraka, Arjuna tidak disambut oleh kemegahan kota emas itu. Kota itu sunyi, bagaikan kuburan raksasa tanpa raja. Tidak ada Veda yang dikumandangkan, hanya tangisan ribuan janda yang memecah keheningan.
Arjuna bergegas menuju istana dan menemui Vasudeva, ayah Krishna. Orang tua itu tampak sangat rapuh, dikelilingi oleh para wanita yang meratap.
"Arjuna," bisik Vasudeva dengan suara gemetar. "Engkau telah datang. Krishna telah pergi... Ia berkata bahwa engkau akan datang untuk menyelamatkan para wanita dan anak-anak. Tugasku menjaga mereka sampai kau tiba sudah selesai. Aku tidak akan makan lagi; aku memilih menyusul mereka."
Keesokan paginya, Vasudeva memusatkan pikirannya dalam yoga dan melepaskan jiwanya meninggalkan tubuh fana.
Dengan duka yang mendalam, Arjuna membawa jenazah Vasudeva keluar. Kemudian, ia pergi mencari tubuh Balarama dan Krishna di hutan. Ia menemukan tubuh Krishna yang ditinggalkan roh-Nya, lalu dengan penuh hormat, Arjuna melakukan upacara kremasi bagi paman, kakak, dan sahabat sejatinya itu.
Di sinilah perpisahan terjadi. Istri-istri Krishna tidak ikut mengungsi. Rukmini dan beberapa permaisuri utama lainnya memilih jalan Sati. Mereka menaiki tumpukan kayu bakar, menyatukan diri dengan api suci untuk menyusul suami mereka. Sementara itu, yang lainnya memilih menanggalkan perhiasan duniawi dan pergi ke hutan untuk melakukan tapa brata hingga akhir hayat.
Tanggung jawab Arjuna kini tertuju pada sisa warga: Vajra (cucu Krishna), ribuan wanita (para istri dan selir lainnya), anak-anak, orang tua, dan harta kekayaan Wangsa Vrishni yang masih bisa dibawa.
"Kita harus pergi sekarang!" perintah Arjuna.
Rombongan besar itu bergerak keluar gerbang. Ribuan langkah kaki meninggalkan kota yang pernah menjadi pusat dunia itu. Tepat ketika warga terakhir melangkah keluar dan Arjuna menoleh ke belakang, sebuah pemandangan mengerikan terjadi.
Samudra yang selama ini menahan diri demi kehadiran Krishna, kini meluap. Gelombang hitam raksasa naik dan menerjang daratan. Di depan mata kepala mereka, istana-istana indah, menara permata, dan jalan-jalan emas Dwaraka ditelan air laut. Kota itu lenyap seketika ke dasar samudra, seolah-olah peradaban itu tidak pernah ada.
Perjalanan evakuasi itu panjang dan melelahkan. Hingga akhirnya mereka tiba di wilayah Panchanada. Di sana, Suku Abhira, kaum perampok yang kasar dan hanya bersenjatakan tongkat kayu (lathi) serta batu, melihat rombongan itu.
"Lihat!" seru para perampok. "Hanya ada satu prajurit tua yang menjaga ribuan wanita cantik dan harta sebanyak itu. Ayo kita ambil!"
Mereka menyerbu dengan teriakan liar. Arjuna, Sang Savyasachi yang pernah menahan seluruh pasukan Kurawa seorang diri, memutar keretanya untuk menghadapi mereka. Ia tersenyum sinis, yakin bisa mengusir bandit-bandit kroco ini hanya dengan suara busurnya.
"Berhenti kalian, atau aku kirim kalian ke neraka!" teriak Arjuna sambil mengangkat Gandiva.
Namun, saat ia mencoba menarik tali busur itu, kengerian melanda. Gandiva, busur dewa yang dulu terasa ringan dan menjadi bagian dari dirinya, kini terasa seberat gunung. Lengannya gemetar hebat. Ia nyaris tidak kuat merentangkannya.
Arjuna panik. Ia mencoba memanggil mantra senjata dewata (Astrawidya). Ia mencoba mengingat cara memanggil Brahmastra atau Aindra. Namun, benaknya kosong. Gelap. Ingatannya terkunci rapat. Mantra-mantra itu lenyap tak berbekas.
"Tidak mungkin..." desisnya.
Tanpa mantra, ia mencoba mengambil anak panah biasa. Tangannya merogoh ke punggung, menuju Akshaya Tunira, tabung panah pemberian Dewa Agni yang isinya tak pernah habis. Tangannya menyentuh dasar tabung. Kosong. Tabung itu telah kering. Sumber daya ilahinya telah dicabut.
Para perampok Abhira, yang hanya bersenjata tongkat kayu, berhasil mendekat. Mereka memukul mundur Arjuna yang tak berdaya. Di depan matanya sendiri, para perampok itu menarik paksa wanita-wanita Vrishni. Teriakan minta tolong menggema, tetapi Arjuna Sang Pahlawan Dunia dipukuli dan didorong hanya oleh bandit kampung.
Sebagian wanita diculik. Sebagian lagi, karena pengaruh Kali Yuga dan ketakutan, justru pergi mengikuti para perampok itu. Arjuna mencoba memukul perampok dengan ujung busur Gandiva yang tumpul, namun ia kalah jumlah dan tenaga.
Harta dirampas. Wanita diculik. Arjuna ditinggalkan di tanah berdebu, terluka harga dirinya, menatap Gandiva yang kini tak lebih dari sepotong kayu.
Arjuna mengumpulkan sisa pengungsi yang selamat hanya sebagian kecil dari rombongan awal.
Ia membawa mereka ke tempat yang aman. Sesuai kewajibannya.
Ia menobatkan Vajra sebagai Raja di Mathura.
Ia menempatkan sisa wanita dan janda di kota Marttikavat.
Setelah tugasnya selesai, Arjuna kembali ke Hastinapura. Ia menghadap Resi Vyasa yang sedang berkunjung, menangis menceritakan kegagalannya.
"Aku gagal, Resi. Gandiva tidak mau menurutiku. Panahku habis. Mantraku hilang. Aku dikalahkan oleh perampok bersenjata tongkat. Mengapa aku masih hidup untuk menanggung malu ini?"
Vyasa menatap cucunya dengan pandangan teduh dan bijaksana, lalu berkata:
"Wahai Arjuna, janganlah berduka. Kekuatanmu, kecerdasanmu, dan senjata-senjata saktimu itu sesungguhnya adalah pinjaman untuk satu tujuan: meringankan beban Bumi. Tujuan itu telah tercapai. Musuh-musuh dharma telah musnah."
"Semua ini adalah perbuatan Waktu (Kala). Waktu yang memberi kekuatan, dan Waktu pula yang mengambilnya kembali. Kejayaanmu ada pada masanya, dan kini masa itu telah berlalu. Jangan meratapi apa yang memang harus terjadi."
Mendengar sabda Vyasa, Arjuna tersadar. Ia menyampaikan hal ini kepada Yudhistira. Pandawa mengerti bahwa era mereka telah usai dan Kali Yuga telah berkuasa penuh. Mereka kemudian menobatkan Parikesit sebagai Raja Hastinapura, melepaskan pakaian kebesaran, dan bersiap untuk perjalanan terakhir mereka menuju keabadian (Mahaprasthana).
"Paduka Raja," kata utusan itu mendesak. "Sudah cukup. Anda sudah menunjukkan rasa kasihan Anda. Tugas Anda selesai. Dewa Indra sudah menunggu. Tempat kotor ini bukan untuk orang suci seperti Anda."
Yudhistira menatap tajam. Kesedihan di matanya berubah menjadi tekad yang keras.
"Aku tidak akan pergi," jawabnya tegas. "Mereka keluargaku. Jika Surga berarti aku harus meninggalkan mereka di sini sendirian, aku lebih memilih kegelapan ini. Jika ini tempat untuk pendosa, aku pun pantas di sini. Bukankah aku pemimpin mereka? Bukankah aku juga pernah berbohong saat perang?"
Utusan itu kaget. "Anda tidak mengerti. Hukuman ini hanya sebentar. Anda sudah boleh masuk Surga."
"Kesetiaan seorang Raja tidak boleh 'hanya sebentar'," balas Yudhistira. "Pergilah. Katakan pada Dewa Indra, aku menolak Surga-Nya. Jika harus memilih antara bahagia sendiri atau menderita bersama saudara-saudaraku, aku pilih menderita bersama mereka."
Yudhistira berbalik badan, masuk lebih dalam ke arah suara tangisan itu. Ia menolak godaan untuk hidup enak. Ia memantapkan hati, siap menanggung rasa sakit demi menemani orang-orang yang dicintainya.
Namun, tiba-tiba semuanya berhenti.
Suara bising lenyap. Udara busuk berganti wangi bunga. Pemandangan mengerikan itu pecah dan hilang begitu saja. Dalam sekejap, Yudhistira sadar ia berdiri di tanah hijau yang indah, diterangi cahaya matahari yang lembut.
Saudara-saudaranya Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, dan Drupadi kini berdiri di sekelilingnya. Mereka tidak lagi kesakitan. Mereka memakai jubah putih bersih dan tersenyum lega.
Di depan Yudhistira, muncul dua sosok agung: Dewa Indra, penguasa surga, dan Dewa Dharma, lambang kebenaran. Keduanya menatap Yudhistira dengan bangga.
"Yudhistira," suara Indra terdengar hangat. "Ujian sudah selesai. Kau berhasil melewatinya."
Yudhistira bingung. "Apa maksudnya? Penderitaan mereka tadi... apakah itu palsu?"
Dewa Dharma tersenyum. "Itu hanya ilusi, Nak. Ujian terakhir untuk menguji hatimu. Kami ingin tahu mana yang kau pilih: kebahagiaanmu sendiri atau kesetiaan pada keluarga. Kau telah membuktikannya. Kau rela membuang Surga demi kesetiaan."
"Tapi kenapa? Kenapa harus ada neraka seperti tadi?" tanya Yudhistira.
Indra menjelaskan, "Setiap manusia, sebaik apa pun dia, pasti punya kesalahan kecil yang harus dibayar. Kebohonganmu dulu, juga kesalahan kecil saudaramu, harus ditebus dengan merasakan neraka walau cuma sebentar. Itu aturannya."
"Lalu Duryodhana? Musuh kami yang jahat itu?" tanya Yudhistira lagi. "Kenapa aku sempat melihatnya enak-enakan di Surga?"
"Duryodhana mati berani di medan perang sebagai ksatria," jawab Dharma. "Karena keberaniannya itu, ia boleh mampir sebentar di Surga. Tapi itu hanya sementara, sebelum ia masuk ke tempat hukuman yang sebenarnya sesuai dosa-dosanya yang berat. Berbeda denganmu dan Pandawa. Dosa kalian sudah lunas dibayar lewat ilusi neraka tadi. Sekarang, kebahagiaan abadi yang sesungguhnya sudah menanti kalian."
Indra mengulurkan tangan. "Mari, Sekarang waktunya masuk ke Surga yang sebenarnya. Tempat yang kalian dapatkan bukan karena hadiah, tapi karena kebaikan hati yang kalian pertahankan."
Cahaya di Atas Mandakini: Kepulangan Sang Dharma
Udara surga yang dilewati Yudhistira terasa berbeda. Bukan dingin atau panas, melainkan sebuah denyutan energi yang menenangkan sekaligus mengagumkan. Setelah melewati gerbang bercahaya yang ditinggalkan Indra, mereka berjalan di atas jalanan yang dilapisi permata Ratna, namun langkah Yudhistira tetap terasa berat, seolah bayang-bayang Kurukshetra masih menempel pada tumitnya.
“Jangan lagi menoleh ke belakang,” suara Dewa Indra lembut namun berwibawa. “Ujianmu di gerbang neraka tadi adalah pembersihan terakhir atas keraguanmu. Engkau telah membuktikan bahwa kesetiaanmu pada kebajikan melampaui keinginan pribadimu. Itulah Dharma yang tak tergoyahkan.”
Yudhistira menoleh dengan mata yang memancarkan rasa lelah yang mendalam. “Lunas dibayar, seperti yang dikatakan ayahku, Dewa Dharma. Tetapi mengapa beban ini belum terlepas? Aku masih merasakan jeritan Drona dan dinginnya raga Karna saat ia jatuh.”
Indra tersenyum penuh kebijaksanaan. “Itu karena engkau masih memegang Manushya-deha tubuh manusia. Raga itu adalah wadah memori; setiap duka dan trauma tercetak di sana. Di sini, di alam hakiki, hanya kesucian yang dapat masuk. Untuk merasakan kebahagiaan sesungguhnya, kau harus meninggalkan tubuh lamamu.”
Mereka berhenti di tepi sungai yang luar biasa. Inilah Akasa Ganga, atau Mandakini Sungai Gangga Surgawi. Airnya tidak berwarna jernih biasa, melainkan memancarkan cahaya perak keemasan yang berdenyut, seolah cairan murni dari bintang-bintang dicairkan dan dialirkan di atas hamparan batu kristal.
“Mandilah, Yudhistira,” kata Indra. “Air suci ini akan membakar habis sisa kemanusiaanmu, segala jejak kemarahan fana, dan kesedihan yang kau pelihara. Lepaskanlah raga Raja Dharma yang lelah itu.”
Yudhistira melangkah perlahan ke dalam air yang bersinar. Saat tubuhnya tenggelam, ia merasakan sesuatu yang luar biasa. Bukan sakit, tapi seperti semua beban hidupnya hilang. Semua rasa marah, bersalah atas kematian orang-orang terdekat, dan ikatan emosional yang menyiksa, terlepas darinya seperti debu yang diterbangkan angin.
Saat ia muncul kembali, Yudhistira bukan lagi manusia biasa. Tubuh kasarnya yang dulu penuh luka kini hilang, digantikan oleh tubuh surgawi yang suci dan bersinar. Ia berdiri sebagai sosok cahaya tanpa beban. Wajahnya memancarkan ketenangan sempurna; tak ada lagi kerutan cemas atau bayangan kesedihan.
Indra membimbingnya masuk ke aula utama yang intensitas cahayanya tak terbayangkan. Di sana, Yudhistira terdiam melihat kemuliaan yang sesungguhnya.
Di pusat aula, duduklah Kresna dalam keagungan-Nya sebagai Wisnu. Ia memancarkan aura ribuan matahari namun sedamai lautan tenang. Di samping-Nya, duduklah Arjuna dalam wujud yang melampaui keindahan duniawi. Keduanya tampak sebagai kesatuan yang tak terpisahkan Nara dan Narayana yang telah kembali ke asal-usulnya.
Di sekeliling mereka, Yudhistira melihat jiwa-jiwa yang ia cintai telah menempati kedudukan surgawi. Bima berdiri dengan keagungan Dewa Bayu, sementara Nakula dan Sadewa memancarkan kemudaan abadi para Aswin. Di dekat mereka, berdiri seorang dewi yang cahayanya menenangkan segala lara ia adalah Sri yang sebelumnya mewujud sebagai Drupadi, kini kembali dalam kemegahan aslinya.
Yudhistira juga melihat Bhisma yang telah kembali menjadi salah satu dari delapan Vasu, bebas dari sumpah yang mengikatnya.
Tak jauh dari Bhisma, langkah Yudhistira terhenti sejenak. Ia melihat Guru Drona berdiri dengan jubah putih yang memancarkan cahaya keperakan, wajahnya tenang dan penuh wibawa, persis seperti saat ia mengajar di asrama ilmu senjata dahulu. Yudhistira mendekat dan membungkuk dalam, sebuah penghormatan paling tulus dari seorang murid.
"Guru..." bisik Yudhistira. "Ampuni aku atas kata-kata yang memicu jatuhnya raga Guru di medan laga. Kebohongan itu adalah noda hitam di hatiku."
Drona tersenyum, suaranya terdengar seperti denting genta yang menenangkan. "Bangunlah, muridku. Di bumi, kita semua terikat oleh tali takdir yang semu. Aku harus jatuh agar zaman berganti, dan kau harus berucap agar kebenaran menang. Di sini, aku telah kembali ke jati diriku sebagai Brhaspati. Tak ada lagi dendam, tak ada lagi tipu daya, dan tak ada lagi rasa sakit atas kehilangan putraku. Semua luka itu telah sembuh." Drona meletakkan tangannya di atas kepala Yudhistira, memberkati muridnya yang kini telah suci.
Setelah menerima restu gurunya, perhatian Yudhistira tertuju pada sosok yang berdiri tegak di dekat lingkaran cahaya Sang Surya. Sosok itu memancarkan aura keemasan yang begitu kuat hingga hampir menyilaukan. Itu adalah Karna. Tidak ada lagi busur di tangannya, tidak ada lagi gurat kepahitan atau rasa haus akan pengakuan pada wajahnya.
Yudhistira melangkah mendekat. Untuk pertama kalinya, ia melihat Karna tanpa bayang-bayang permusuhan.
"Kakak..." ucap Yudhistira. Suaranya kini tidak lagi bergetar oleh duka, melainkan jernih dan penuh cinta.
Karna menoleh, matanya bersinar setenang matahari pagi. "Yudhistira. Akhirnya, kau menanggalkan jubah rajamu dan mengenakan cahaya jiwamu."
Yudhistira membungkuk sedikit, sebuah tanda hormat yang tertunda selama bertahun-tahun. "Hati ini lama tersiksa oleh rahasia kelahiranmu dan caramu gugur. Aku membawa penyesalan itu hingga ke puncak Himalaya."
Karna melangkah maju dan meletakkan tangannya di bahu Yudhistira. Sentuhan itu terasa hangat, seperti sinar matahari yang menyentuh kulit. "Lepaskanlah, Adikku. Di dunia, kita adalah bidak-bidak yang digerakkan oleh takdir yang rumit. Aku harus menjadi kegelapan agar kau bisa menjadi cahaya. Aku harus menjadi musuh agar Dharma bisa ditegakkan. Semua itu hanyalah peran dalam waktu yang singkat."
Karna tersenyum, sebuah senyuman yang menghapus ribuan tahun penderitaan. "Lihatlah aku sekarang. Tidak ada lagi kutukan, tidak ada lagi hinaan 'anak kusir', tidak ada lagi amarah. Aku telah kembali ke dalam pelukan ayahku, Surya. Di sini, kita bukan lagi rival di medan Kurukshetra. Kita adalah saudara yang bersatu dalam kebenaran."
Yudhistira merasakan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. "Aku mencarimu di tempat yang gelap tadi, Kakak. Aku bersedia menderita di sana asal kau bersamaku."
"Kesetiaanmu itulah yang membawamu kemari," balas Karna lembut. "Kini, bergabunglah dengan kami. Perang telah usai, dan yang tersisa hanyalah cinta."
Yudhistira merangkul Karna. Pelukan itu bukan lagi antara dua pejuang yang penuh luka, melainkan penyatuan dua jiwa yang telah lulus dari ujian dunia yang kejam. Semua pahlawan yang gugur di Kurukshetra kini berdiri dalam harmoni. Peperangan hanyalah sandiwara fana; di sini, yang ada hanyalah saudara yang bersatu dalam cahaya.
“Selamat datang di rumah, Dharmaputra,” suara Wisnu bergema lembut di hatinya. “Lihatlah, tidak ada yang hilang. Hanya peran yang telah berganti. Kau telah menyelesaikan perjalanan yang paling sulit, dan kini, engkau adalah bagian dari kedamaian abadi ini.”
Yudhistira membungkuk hormat, bukan sebagai raja yang menang perang, melainkan sebagai jiwa yang telah menemukan jalan pulangnya. Perjalanan panjang Sang Raja Dharma telah mencapai titik akhir di tengah cahaya yang tak pernah padam.
"Di balik setiap peristiwa, tersimpan pelajaran dan hikmah. Renungkanlah, dan biarkan kebijaksanaan menuntun langkahmu."
Kisah Mahabharata, meskipun berakar dari tradisi yang berbeda, menyimpan samudra hikmah yang universal. Jika kita memandangnya dengan mata hati (bashirah) dan menyaringnya melalui ajaran Islam, kisah ini bukan sekadar cerita perang perebutan takhta, melainkan sebuah alegori raksasa tentang pertarungan abadi antara Kebenaran dan Kebatilan, serta perjalanan jiwa manusia menuju Sang Pencipta.
Berikut adalah butir-butir hikmah yang bisa kita petik:
1. Bahaya Penyakit Hati: Hasad dan Takabur Akar kehancuran wangsa Kuru bukanlah karena kurangnya harta atau wilayah, melainkan karena Hasad (Dengki) dan Takabur (Sombong) yang bersarang di hati Duryodhana. Dalam Islam, hasad diibaratkan seperti api yang memakan kayu bakar. Duryodhana tidak bisa melihat kelebihan saudaranya sebagai rahmat, melainkan sebagai ancaman. Ini mengingatkan kita pada kisah Iblis yang enggan bersujud pada Adam karena kesombongan, atau Qabil yang membunuh Habil karena dengki. Kehancuran total di Kurukshetra adalah bukti nyata bahwa ambisi yang dibangun di atas pondasi kedengkian pasti akan runtuh.
2. Dunia Adalah "Mata'ul Ghurur" (Kesenangan yang Menipu) Sepanjang kisah, kita melihat perebutan kekuasaan yang megah. Namun, apa hasil akhirnya? Jutaan nyawa melayang, wanita menjadi janda, dan anak-anak menjadi yatim. Kemenangan Pandawa pun dirayakan di atas tumpukan mayat. Ini adalah pengingat keras akan firman Allah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau belaka (Laibun wa lahwun). Kekuasaan yang diperebutkan mati-matian ternyata fana dan tidak ada artinya dibandingkan dengan hisab di akhirat.
3. Jihad Terbesar Adalah Melawan Hawa Nafsu Perang Bharatayuddha sesungguhnya adalah simbol dari Jihad un-Nafs (memerangi hawa nafsu sendiri). Musuh terbesar Yudhistira dan saudara-saudaranya bukanlah Kurawa, melainkan keraguan, ketakutan, dan ego mereka sendiri. Kemenangan sejati dalam Islam bukanlah saat kita berhasil menaklukkan orang lain, tetapi saat kita berhasil menaklukkan diri sendiri untuk tunduk pada aturan Allah, sebagaimana Yudhistira yang terus berpegang pada kejujuran meski dalam situasi terhimpit.
4. Ujian Kesetiaan dan Pengorbanan (Itsar) Adegan akhir di mana Yudhistira menolak masuk surga sendirian dan memilih menderita bersama saudara-saudaranya mencerminkan sifat mulia dalam Islam: Ukhuwah (persaudaraan) dan Itsar (mendahulukan orang lain daripada diri sendiri). Seorang pemimpin sejati dalam Islam adalah pelayan bagi kaumnya (Sayyidul qauum khadimuhum). Yudhistira menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan tentang privilese, melainkan tentang tanggung jawab (amanah) yang dibawa sampai ke pintu akhirat. Ia tidak lari dari penderitaan rakyat (saudaranya), melainkan membersamainya.
5. Balasan Amal Itu Pasti (Yaumul Hisab) Akhir cerita yang menunjukkan bahwa setiap perbuatan sekecil biji sawipun ada balasannya, sangat selaras dengan konsep Zarrah dalam Al-Qur'an ("Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya"). Kebohongan kecil Yudhistira harus dibayar, dan keberanian Duryodhana pun diapresiasi sesaat. Ini mengajarkan bahwa keadilan Tuhan itu Maha Teliti. Tidak ada dosa yang luput, dan tidak ada kebaikan yang sia-sia.
Penutup Mahabharata mengajarkan kita bahwa hidup adalah sebuah perjalanan panjang menuju Dharma (Kebenaran/Ketaatan). Pada akhirnya, saat kita menapaki jalan kematian seperti perjalanan Pandawa mendaki gunung Mahameru harta, takhta, dan gelar akan gugur satu per satu.
Hanya satu yang akan menemani kita sampai ke hadapan Ilahi: amal baik dan akhlak mulia, amal baik kitalah satu-satunya sahabat setia yang akan menuntun kita melewati jembatan kematian menuju keabadian.

Comments

Popular posts from this blog

4 raja naga

Asal usul Batu Badoang

Ramayana