Blackhole
Dunia Investasi VS Dunia Autopsi
Saat mengambil libur mingguanku. Aku kembali ingin berpetualang. Rasanya sudah terlalu penat berurusan terus dengan mayat.
Aku memulai perjalananku pk 21.00 agar sampai di tempat tujuan pagi hari, berbeda dari sebelumnya aku yang selalu memilih jalan sendiri. Kali ini aku mengikuti opentrip, karena seminggu ini aku begitu lelah dengan autopsi, sampai-sampai belum sempat menyusun rencana perjalanku.
Ya aku selalu meluangkan waktu satu jam tiap minggu untuk menyusun rencana perjalanku mulai dari tujuan yang ingin kudatangi, rute apa yang akan kuambil, dimana aku akan tinggal, sampai biaya perjalanku. Aku selalu menyusunnya dengan detail.
Malam ini pk 20.00 aku sudah sampai dan bertemu agen open trip ku di terminal setempat untuk persiapan sebelum berangkat. Mas Bagus yang menjadi tour leader kami. Mulai meng-absen peserta open trip dan membacakan tata tertib yang harus dipatuhi peserta. Pk 20.45. Kita mulai memilih tempat duduk. Hanya ada satu bangku kosong yang tersisa yaitu di sebelah seorang wanita yang kelihatannya lebih muda dariku.
Aku berkenalan singkat dengannya
“Hi perkenalkan saya William, seorang dokter forensik”
“Natasha”
“Sendirian saja Nat? Saya panggil kamu Nat aja ya. Kepanjangan nama kamu. Kamu boleh panggil saya Will atau dokter Will saja.”
“Iya”
“Natasha kerja dimana?
“Dream Futures”
“Kalau boleh tau itu perusahaan apa Nat?”
“Perusahaan trading”
"Sebagai apa?"
"Marketing atau sering disebut sama nasabah adalah broker."
"Kerjanya mencari investor gitu?"
"iya cari nasabah. Kita sebut investor itu nasabah"
Entah dia memang sedikit jutek, atau karena aku dianggap orang asing baginya ya, atau dia sudah lelah karena sudah malam. Jadi dia hanya menjawab singkat-singkat. Dan tidak lama setelah itu kulihat dia sudah tertidur. Padahal aku ingin sekali bertanya tentang trading.
Pk 4.00 pagi saat ini, masih gelap. Tapi Natasha sudah terbangun. Kulihat dia termenung memandangi jalanan yang kami lewati dan gelap malam dari jendela. Kulihat wajahnya sendu. Dia bertanya padaku.
“Pak Dokter, kamu kan sering membedah dan mengautopsi mayat, apa para mayat itu pernah menyampaikan pesan kematiannya?”
“Maksudnya apa Nat bertanya seperti itu?”
“Nggak ada, Cuma penasaran saja. Dokter pernah tidak, tidak ada yang di autopsi selama sebulan?” jawabnya.
“Wah bahagia saya, bila tidak ada mayat untuk di autopsi selama sebulan penuh. hahaha?” jawabku sambil tertawa kecil. Karena memang tidak pernah dalam sebulan hidupku damai tanpa autopsi.
“Enak dong dok, tiap bulan dapat gaji. Tiap bulan ada uang masuk.”
Aku makin bingung dengan pernyataannya.
“Memang kamu tidak?”
“Tidak. Bila tidak ada nasabah yang investasi di aku ya ga dapat uang.”
Pembicaraan di antara kita sudah mulai mengalir. Sikap Nat tidak sedingin semalam. Ini kesempatanku untuk ingin tahu tentang dunia investasi.
“Trading itu mekanismenya bagaimana sich Natasha? Katanya pendapatannya lebih tinggi daripada deposito.”
Dan sekali lagi aku mulai dikejutkan oleh jawaban Natasha.
“Jarang ada yang tidak bangkrut.”
“Lho memang tidak ada cara untuk mengetahui perkiraan harga. Aku lihat di youtube banyak yang posting cara analisa harga emas?”
“Yang diajarkan youtuber itu hanyalah teknik dasar. Dan dalam trading, meskipun kita paham perekonomian dan keadaan geopolitik dunia yang sering disebut analisa fundamental, dan keadaan minat beli, dan jual masyarakat yang sering digambarkan dalam candlestick chart atau biasa disebut analisa teknikal. Trading tidak sesederhana itu. Trading itu perang mental dokter”
“Perang mental bagaimana?”
“Iya kita bisa kaya mendadak dan mendapat keuntungan besar dalam hitungan beberapa jam, namun di jam-jam berikutnya bisa habis semua tabungan kita. Tidak ada yang tau pasti arah market dan tidak ada yang dapat dipercaya dalam trading. Itu adalah tanggung jawab kita terhadap uang kita sendiri.”
“Maksudnya bagaimana? Maaf aku masih paham. Kalau masalah perang mental, pekerjaanku juga perang mental. ”
"kalau kita tidak membuat trading plan dan menuruti trading plan itu dengan cukup ketat sulit untuk tidak bangkrut. Selain itu perlu mengendalikan sifat takut saat arah tidak sesuai keinginan kita padahal belum menyentuh titik cut loss yang kita inginkan sudah di cut loss, atau saat profit sedikit belum menyentuh target sudah di take profit. Atau juga meski sudah melihat arah grafik tidak sesuai arah yang kita mau sudah menyentuh titik cut loss tapi kita tidak mau cut loss akhirnya loss jadi besar sekali. Dokter bisa kaya mendadak dalam hitungan jam dan miskin mendadak juga. Saya sebagai marketing benar-benar tekanan mental yang cukup besar. Kalau dokter kan urusannya sama orang yang sudah meninggal saja"
"Eits jangan asal menjudge ya. Aku kadang harus mengungkap pembunuhan yang sebenarnya alasan pembunuhan itu terjadi karena pembunuhnya membela diri, kadang juga aku merasa pembunuhnya orang baik sedangkan korban adalah orang jahat. Kadang ingin membuat laporan palsu tapi keadilan harus tetap ditegakkan. Kebenaran harus tetap diungkapkan. Bahkan aku kadang aku bisa melihat arwah yang meminta bantuanku."
"Hmm... Seandainya dia bisa mengungkap kematiannya Eveline." gumamnya pelan nyaris tak terdengar.
Air Terjun Black Hole
Akhirnya perjalanan kita sampai juga di Air Terjun Black hole. Dimana kita harus berjalan sejauh 5 kilometer menuruni anak tangga untuk sampai ke air terjun. Jalanan tidak rata, kadang licin terkena air. Saya berkenalan dan bercanda dengan peserta lainnya dengan berbagai latar belakang pekerjaan. Asik juga mengikuti open trip.
Di awal perjalanan kami melewati ladang bawang milik warga, aroma bawangnya amat menggoda selera.
Ladang strawberry yang strawberrynya mulai memerah dan besar-besar. Ingin rasanya kupetik satu.
Perjalanan selanjutnya kami melewati hutan dengan akar-akar yang bisa untuk pijakan.
Hutan ini penuh monyet yang siap membegal cemilan kami. Jadi guide meminta kami untuk waspada.
Bahkan kita melewati runtuhan candi kuno yang konon katanya adalah peninggalan jaman Majapahit.
Kami melewati jalanan tanah liat yang terjal, menurun dan licin.
Kami menuruninya dengan tali.
Akhirnya sampai juga kami ke air terjun black hole yang sangat indah.
Air terjun bertingkat dengan kolam-kolam berwarna biru tosca
Airnya begitu dingin dan segar.
Aroma tanah basah terkena air begitu menenangkan hati.
kubuka kaosku untuk mencoba berenang di kolam berwarna biru tosca yang segar itu.
Kulihat Natasha berdiri di bawah air terjun, membiarkan tubuhnya dihujani air dengan debit air cukup besar dengan tatapan kosong. Ntah apa yang dipikirkannya.
Hari sudah sore dan kami mulai berjalan menanjak, naik ke atas ke arah parkiran hiAce.
Saat pulang kuajak dia bercanda dan dia juga menanggapi candaanku yang selalu dapat membuat orang tertawa.
Dark Side Broker
Saat di perjalanan pulang, aku bertanya lagi tentang mekanisme trading karena aku masih penasaran
"Nat, bila ingin trading apa yang harus dilakukan? Karena kan menurut aku nih, investasi emas itu menguntungkan lho. Harganya naik terus."
"Harga emas memang naik dok, tapi bila emas digital derivatif, ada yang namanya leverage, kalau di Dream Futures leverage nya 1:100 jadi seperti uang kita dikalikan 100x gitu dok. Begitu harga sesuai keinginan kita kita dapat untung besar, tapi kalau tidak sesuai pengurangan nominal uang kitapun juga cepat dok. Transaksi emas derivatif ini kita saat harga tinggi dan kita yakin akan turun kita bisa ambil kontrak jual bila nanti harga turun kita bisa lepas kotrak dan mengambil keuntungan tapi bila setelah kita jual dan harga masih melanjutkan naik terus, uang kita dalam rekening emas kita bisa habis harus di top up untuk bisa mempertahankan posisi. Sebaliknya saat harga rendah dan yakin harga akan naik, kita ambil kontrak beli, saat harga naik kita bisa lepas kontrak kita dan dapat keuntungan tapi bila harga turun uang di rekening bisa berkurang."
"Lalu bagaimana kita bisa tau emas akan naik atau turun?"
"Bisa analisa fundamental dengan mrlihat berita ekonomi dan geopolitik dunia atau melihat minat beli masyarakat atau analisa Teknikal. Tapi tak ada yang dapat benar-benar memastikannya."
"Bagaimana itu cara analisanya?"
"Analisa Teknikal bisa melihat Candlestick chart dan memberinya indikator, analisa fundamental dengan membaca berita-berita. Biasanya analisa fundamental lebih kuat daripada teknikal."
"Biasa kalau perusahaan trading gitu kan ada rekomendasi posisi yang harus diambil ya Nat."
"Iya ada tapi jangan percaya, sama brokernya. Tidak ada yang tau pasti arah pergerakkan market."
"Tapi kan broker lebih pengalaman dalam membaca market Nat, daripada aku yang pengalaman membaca waktu kematian dan penyebab kematian orang. Hahaha...." Candaku
Dan Jawaban Nat membuatku kaget
"Tidak dokter, awal masuk pasti dokter bisa untung dan bisa menarik keuntungannya yang dokter dapatkan. Tapi saat dokter sudah percaya 100% dokter bisa dibuat untuk top up untuk mempertahankan uang dokter, tapi bila dokter tidak mau atau sudah tidak bisa top up deposit lagi dokter akan dibuat mengalami kebangkrutan dan akun ditutup paksa oleh bursa karena deposito dokter kurang untuk menahan kerugian. Dan saat itu broker bisa membuatnya seolah-olah itu adalah kesalahan dokter yang salah, jadi broker tidak harus bertanggung jawab akan kerugian yang dokter alami. Jadi sejak awal aku sudah katakan jangan percaya pada siapapun tentang trading" Penjelasan Nat yang begitu panjang. dan terjedah sebentar.
Nat Melanjutkan penjelasannya
"Lagian dok, yang memberi dokter rekomendasi itu orang-orang yang baru belajar trading juga. kepala divisi nya jarang buka suara. Kepala divisi hanya memerintah berikan signal. Saat trainingpun pelajaran tentang trading hanya diajarkan sepintas, fokus kita adalah mencari nasabah bukan belajar trading. Bila nasabah bangkrut dan ternyata karena menuruti apa kata marketing yang mengajaknya, pasti nasabah akan meminta pertanggungjawaban dari marketing yang mengajaknya jadi nasabah. Karena marketing ini hanyalah pion dari kepala divisi dan seperti halnya di catur pion akan jalan dulu dan dikorbankan utnuk melindungi perusahaan dan kepala divisi. Hahaha.... Bila marketingnya pintar, dan nasabah bisa menarik keuntungannya terus, suatu saat akan dicari kesalahan marketing ini agar nasabah itu bisa di handle kepala divisi dan dibuat bangkrut."
"Kalau banyak trader bangkrut mengapa banyak juga trader yang flexing barang mewah?"
"Kita sebagai marketing juga diharuskan menggunakan barang mewah lho dok bila bertemu nasabah. Agar nasabah melihat seorang trader bisa kaya. Di depan downline yang baru masuk juga kita flexing barang mewah. Agar downline pun ikutan tertarik untuk trading atau paling tidak dia semangat dan mau bekerja disana dengan harapan mendapat kemewahan itu juga. Tapi hanya sedikit yang mampu bertahan di perusahaan ini."
"Kalau nasabah bangkrut apa untungnya untuk kalian para broker?"
"Para broker itu punya tingkatannya masing-masing. Untuk dapat naik tingkat harus mendapatkan sejenis poin marketing dalam jumlah tertentu yang sering disebut margin, margin ini didapat dari jumlah uang yang diinvestasikan atau sering kita sebut deposit oleh nasabah. Misalnya nasabah investasi $10.000 margin kita jadi $10.000. Tapi bila nasabah untung $1.000 dan menarik keuntungannya $1.000. Margin kita akan jadi $9.000 bila nasabah untung terus, dan menarik terus uangnya ya margin kita akan jadi 0. Kita tidak bisa naik jabatan. Tapi bila nasabah bangkrut margin kita akan jadi tetap. Sebenarnya sistem ini bagus untuk memacu para marketing untuk terus mencari nasabah, tapi mencari nasabah itu tidak semudah itu..." Kulihat Nat sedikit berkaca-kaca.
"Ya semua tidak ada yang mudah Nat. Bagaimana biasanya kamu mencari nasabah."
"Kalau aku dari nomer telepon yang diberikan upline ku. Kutelepon semua daftar itu. Tapi ada temanku yang dikenalkan ke om-om oleh upline ku. Bisa juga uang pribadi atau dari keluarga, teman. Jadi saat awal masuk kita ditanya pernah kerja dimana gaji berapa dulu jadi upline ku gali info tentang keuanganku, tentang orang terdekatku yang kemungkinan punya uang. Bila aku punya uang aku diminta untuk jadi nasabah sendiri dan diiming-imingi keuntungan yang fantastis. Selain itu biar aku cepat naik tingkat. Tidak jarang temanku berkenalan dengan om-om di club malam agar menjadi nasabah."
"Lalu kamu mau?"
"Saat itu aku hanya memperkenal upline ke orang terdekatku. Tapi tidak ada yang mau."
"Lalu?"
"Ya aku tidak digaji. Hahaha..." tawanya getir
"Memang tidak ada gaji pokoknya?"
"Gaji hanya diberikan saat margin kita naik sejumlah tertentu. Bila tidak kita hanya diberi komisi dari transaksi trading nasabah. Tiap nasabah ambil kontrak jual atau beli, nasabah akan dikenakan charge yang nantinya akan menjadi komisiku, serta upline-upline ku. Tapi komisiku yang paling tinggi dibandingkan uplineku."
"Lalu selama kamu kerja, tidak dapat uang sama sekali?"
"Aku punya margin ya."
"Kok bisa katanya tidak punya nasabah."
"Dari downlineku. Margin downline sama dengan marginku. Kalau downlineku punya nasabah, dan nasabahnya transaksi aku dapat komisi juga tapi tidak sebanyak downline ku."
"Bagaimana cara kamu rekrut downline?"
"Dari portal job. Uplineku membantuku mendapatkan NPWP dan NIB suatu perusahaan. Untuk buka lowongan di portal job seeker."
"Memang ada yang mau meminjamkan NIB dan NPWP?"
"Kan ada di google tinggal diedit sedikit agar terlihat seperti asli. Bisa juga membuka perusahaan abal-abal. Jangan menggunakan perusahaan pialang bila pasang job di portal job. Ya tidak ada yang mau lamar bapak."
"Wah penyalagunaan itu. Bisa dihukum lho."
"Iya memang ini penyalagunaan tapi itulah cara untuk mendapatkan uang dari perusahaan ini."
"Lalu mengapa uplinemu bekerja begitu keras? Bukankah hasilnya masih di bawah pembawa nasabah?"
"Ini yang aku belum tau kebenarannya, aku dengar ya. Bila nasabah bangkrut kepala divisi dan perusahaan akan mendapat keuntungan 5% dari dana nasabah. Dan lagi bila berhasil mengumpulkan sejumlah tertentu margin kita bisa jadi kepala divisi dan kepala divisi ini yang punya kuasa mutlak atas tim-nya. Dia bisa tidak memberikan komisi ke downline dengan alasan tertentu yang kesannya seperti dibuat-buat. Bisa memecat downline juga."
"Lalu kenapa kamu masih bertahan di perusahaan seperti itu. Aku lihat kamu tidak suka bekerja disini."
"Ada sesuatu yang ingin kucari tahu kebenarannya. Dokter, kalau dokter ingin belajar serba-serbi tentang emas. Datang aja ke Grand Ballroom Diamond Hotel tanggal 3 Januari pk 19.00. Kantorku ada acara annual market outlook disana. Acara bessr tentang peluang harga emas tahunan. Kita akan membabarkan tentang serba-serbi trading. Tak usah jadi nasabah dok, cukup datang saja. Hubungi aku saja Pak Dokter bila tertarik di nomerku 081-xxxxx"
Setelah itu karena kelelahan perjalanan tadi. Natasha lebih memilih untuk tidur.
Akhirnya kami sampai di kota asal kami dan aku selamat dari drama hantu, mayat, dan drama pembunuhan lain. Aku malah mendapat teman baru dan pengetahuan baru.
Grand Ballroom Diamond Hotel
Aku datang ke Grand Ballroom Diamond Hotel, Hotel ini tampak mewah dengan nuansa timur tengah yang kental.
Aku sengaja datang lebih dulu dari waktu yang ingin melihat-lihat dulu sekitar hotel ini.
Kolam renang yang dibangun laksana pemandian Ratu Mesir zaman dulu, dengan tempat dry sauna dan wet sauna, serta hotel ini satu-satunya hotel yang menyediakan Ice Bath.
Grand Ballroom yang megah
Tampak orang-orang dengan pakaian rapi dengan barang-barang branded dikenakan di tubuhnya.
Nat tampak sangat berbeda dengan blazer hitam dan bawahan rok span hitam. Tampak sangat profesional sekali.
"Pagi dokter." Sapa Nat.
"Pagi Nat." Membalas sapaan Nat.
"Kenalin dokter, ini kepala divisi saya Pak Dendy. Pak Dendy ini Dokter Will, tamu undangan saya"
Terlihat lebih muda dari bayangan saya. Tapi semua barang yang digunakannya branded semua.
"Dendy Santoso"
"William."
Kami berkenalan singkat
"Silahkan dokter Will dinikmati dulu hidangannya sebelum acara."
Kulihat Pak Dendy dan beberapa rekannya sangat sibuk menyapa tamu dan kulihat dia belum makan.
Aneka hidangan disajikan mulai dari bakso, sampai kebab ada disana. Benar-benar acara yang mewah.
Dream Futures
Acara dimulai dengan perkenalan PT. Dream Futures oleh MC sudah dibangun sejak tahun 2000 dan sudah berpengalaman selama 26 tahun dan termasuk 5 besar perusahaan pialang terbaik se-Indonesia. Acara dilanjutkan dengan pengenalan legalitas oleh Pak Dendy.
"Perusahaan kami ini dibawah kementrian perdagangan dan diawasi oleh BAPPEBTI, ICDX dan ICH sebagai lembaga negara penjamin simpanan nasabah. Dana nasabah juga sudah disimpan di rekening terpisah dengan Dana operasional PT. Dream Futures jadi aman bila amit-amit saat PT. Dream Futures bangkrut dana nasabah bisa dikembalikan 100% sesuai yang ada di rekening nasabah..."
Penjelasan tentang trading emas, tentang company profile meyakinkan keamanan dana, sertifikat dan bukti-bukti penarikan dana nasabah bahkan ada yang ada dari tahun 2015 sampai sekarang masih trading dan masih aman, masih bisa ditarik dana nasabahnya. Aku jadi bingung harus percaya Nat yang terlihat sangat tidak suka dengan tempatnya bekerja tapi dia masih bertahan dan tidak mempunyai bukti. Sedangkan data-data yang diungkapkan dalam presentasian ini cukup meyakinkan.
Setelah usai acara, Pak Dendy menghampiriku bertanya tentang peluang yang telah disampaikan
"Hallo dokter, bagaimana peluang yang tadi disampaikan apa dokter berminat menjadi nasabahnya Natasha?" Katanya dengan nada ceria
"Menarik sich. Tapi yang mengganggu pikiran saya, bagaimana bila harga emas tiba-tiba turun?"
"Wah emas tidak mungkin turun drastis dokter"
Aku teringat kata Nat tentang bila emas tidak sesuai arah yang kita inginkan bisa mengakibatkan kebangkrutan.
"Bagaimana bila kita sudah ambil kontrak beli tiba-tiba emas turun drastis?"
"Dokter bisa top up untuk menahan posisi saja, setelah emas naik lagi dan dapat mengambil keuntungan, dokter bisa ambil kembali uang yang dokter top up kan beserta keuntungannya dokter. Atau kita bisa menggunakan strategi hedging yaitu saat kita ambil kontrak beli dan harga turun, kita ambil kontrak jual agar kerugian tidak semakin besar, nanti bila sudah naik tapi kontrak jualnya masih untung bisa dilepas saat harga semakin naik dan kontrak belinya untung kontrak belinya bisa dilepas. ...."
Pak dendy menjelaskan tentang strategi trading yang jujur saya tidak mengerti. Saat itu aku tiba-tiba melihat bayangan putih di belakang Pak Dendy seolah ingin mencekik Pak Dendy dan menggeleng padaku. Serasa mengatakan padaku jangan percaya pada Pak Dendy Feelingku jadi tidak enak. Aku pamit pulang dulu. Besok baru aku gali info lebih lanjut dari Nat.
Nat saat itu masih tinggal untuk evaluasi kerja.
Tapi Nat WA ke aku, agar aku menunggunya sebentar dan memberinya tumpangan pulang. Semoga saja tidak lama evaluasi kerjanya. Kebetulan ada yang ingin kutanyakan lebih lanjut pada Nat.
Rahasia Tahun Lalu
Ternyata aku menunggunya agak lama ingin kutinggal tapi karena aku sudah janji.
"Aku bingung kenapa Pak Dendy meyakinkan sekali ya tentang trading plan, data Withdraw, semua berdasarkan data.
"Itulah Dokter kehebatan marketing, Bisa persuasi dan data-data itu bisa dibuat dok."
"Apakah pernah Nasabah Pak Dendy yang meninggal karena trading?"
"Aku tidak tau kalau itu. Yang jelas aku masih bertahan disini sebenarnya aku ingin mengungkap tentang kematian Eveline kakakku. Dan malam ini aku sudah resign dan mengetahui penyebab kematian, kakakku."
"kakakmu? Meninggal? Memang kenapa?"
"Sebenarnya Eveline rajin dan penurut. Dia rajin mencari nasabah dan selalu menuruti apa yang di katakan Pak Dendy. Eveline pernah mendapatkan komisi sampai 400 juta dalam 3 bulan berturut-turut. Saat itu Pak Dendy sering minta dibelikan makanan ini itu oleh kakakku. Bila kakakku tidak mau membelikannya, Pak Dendy mengancam tidak akan membantu kakakku untuk analisa. Kakakku juga bercerita hal ini padaku Tadi Pak Dendy sendiri yang cerita saat itu kakakku tau banyak tentang mekanisme pekerjaan di broker, Pak Dendy yang mendorong kakakku dari balkon apartemen kakakku dan membuatnya seakan bunuh diri. Kakakku dulu pernah dikenalkan dengan om-om di klub malam oleh Pak Dendy, saat itu om ini menginvestasikan 2 milyar, dan sering mengajak kakakku tidur, tapi kakakku bisa menolaknya karena om ini juga masih bisa mendapat keuntungan dari tradingnya. Awalnya om ini ambil lot kecil. Dia puas dengan keuntungan yang didapat karena mengikuti arahan kakakku, kakakku dapat signal dari Pak Dendy. Makin hari om ini makin percaya pada signal kakakku, akhirnya dia berani ambil lot besar. Saat inilah Pak Dendy memberi rekomendasi yang keliru ke kakakku, om ini marah ke kakakkmu dan kakakku marah ke Pak Dendy, dan Pak Dendy malah menahan komisi 400 juta kakakku selama 2 bulan berturur-turut, hanya dibulan perrama saja komisi itu diberikan utuh, hingga kakakku tidak bisa membayar sewa apartemen, dengan alasan kakakku tidak bekerja dengan baik dan mengembalikan dana itu ke om. Tapi om ini tidak merasa menerima uang itu dia malah menculik kakakku dan memperkosanya. Kakakku marah ke Pak Dendy, dan mengancam akan membocorkan perlakuan Pak Dendy ke publik. Saat Pak Dendy datang ke apartemen kakakku, mereka berantem hebat dan kakakku jatuh dari balkon apartemen." Nat menceritakan itu sambil menahan tangis dan kuberi dia tissu.
"Ini dokter rekaman percakapan saya. Saya selalu merekam percakapan dengan Pak Dendy. Karena saya ingin memasukkannya ke penjara suatu saat nanti."
"Kapan kejadian itu?"
"Setahun lalu."
"Lalu mengapa Pak Dendy tadi menceritakan hal itu?"
"Tadi Pak Dendy bilang aku harus bisa merayumu untuk menjadi nasabahku, kalau tidak komisiku tidak diberikan. Aku emosi dan bertanya apa setelah aku mendapat nasabah nasibku akan sama seperti evelyn. Pak Dendy berkata lagi kalau aku tidak mendapatkan nasabah nasibku akan sama seperti evelyn yang dia jatuhkan dari balkon dan dia bisa membuatnya seolah bunuh diri. Seandainya bisa sudah kubunuh tuh orang"
"Setiap hari Pak Dendy selalu menghinaku. Aku tidak bisa mendapat nasabah, padahal aku cuma ingin mengungkap apa yang sebenarnya terjadi tentang terjatuhnya Eveline dari balkon apartemennya."
Aku sedikit meragukan Nat.
Nat terasa meyakinkan saat bercerita dan marah.
Tapi Pak Dendy juga serasa sangat meyakinkan saat menjelaskan tentang trading.
Aku bingung mana yang dapat dipercaya.
Sebaiknya aku menghindari dunia trading saja.
Bukan berarti aku percaya dengan kata-kata Nat.
Tapi untuk lebih aman. Karena aku tidak terlalu tau mana yang sebenarnya terjadi, sekaligus menghindari masalah.
Tidur Panjang
Siang itu di Diamond Hotel pk. 12.00, ada petugas Cleaning Service Hotel, akan membersihkan ruangan.
Tok... Tok... Tok...
"Permisi Bapak/Ibu, saya ingin membersihkan ruangan."
"...." hening tak ada jawaban
Petugas mengeluarkan kartu master key. untuk membukan pintu kamar hotel.
Terlihat Pak Dendy tertidur tidak bergerak sama sekali
Petugas cleaning service ini penasaran dan menggoyangkan sedikit tubuh Pak Dendy
Ternyata Pak Dendy sudah ditemukan meninggal
Petugas ini menelepon Polisi.
Aku kaget dihubungi oleh Pak Bayu Kepala kepolisian setempat.
"Dokter Will siang, Dokter kemarin bertemu Pak Dendy?"
"Iya, kemarin saya ikut acara Dream Futures di Diamond Hotel"
Setelah itu aku menceritakan apa yang terjadi dengan Pak Dendy
Aku mengikuti Pak Bayu untuk memeriksa kamar Pak Dendy, kutemukan jarum suntik, dan beberapa macam obat diabetes lain, serta obat kolesterol dan obat darah tinggi.
Obat-obat ini sepertinya tidak mematikan dan terlihat wajar bila memang dia mempunyai penyakit degeneratif.
Aku melihat juga hasil pemeriksaan medis bulan lalu milik Pak Dendy, memang Pak Dendy mempunyai penyakit darah tinggi, gula darah, dan kolesterol tinggi.
Karena gaya hidup Pak Dendy juga tidak sehat
Hampir tiap malam Pak Dendy ke club malam
Minum Alkohol
Merokok
Pemeriksaan CCTV
Aku meminta Pak Bayu untuk memeriksa CCTV Hotel sekitar pk. 17.00 hingga pk 23.00
Aku juga memberikan kesaksian bahwa kemarin Pak Dendy baik-baik saja.
pk 18.30 Saat bertemu aku Nat dan Pak Dendy untuk pertama kalinya juga tidak ada tanda-tanda telah membunuh orang. Bahkan tidak terlihat Pak Dendy menyentuh makanan sama sekali
pk 19.30 acara Dream Futures dimulai tidak ada tanda-tanda orang yang mengincar Pak Dendy sama sekali
pk 20.30 acara Dream Futures selesai. Aku, Nat dan Pak Dendy berbincan singkat
pk 21.00 Aku berpamitan pulang
pk. 21.05 tampak Nat keluar hotel mengambil pesanan dari ojol
pk. 21.10 tampak Nat memberikan pesanan ojol itu dan memberikannya pada Pak Dendy. Dilanjutkan dengan mengobrol santai
pk. 21.45 terlihat Nat dan Pak Dendy bersitegang.
pk. 21.50 Nat meninggalkan Pak Dendy dengan wajah seperti sedang menangis. Sampai saat ini tidak terlihat Pak Dendy memasukkan makanan sama sekali. Sehingga kecil kemungkinannya Pak Dendy meninggal karena keracunan
pk. 22.00 tampak berdiri Pak Dendy sempoyongan. dia tampak menelepon seseorang
pk. 22.15 Pak Dendy mengeluarkan obat dan meminumnya sertar mengeluarkan jarum suntik dari bungkusan yang diberikan Nat dan menyuntikkannya di lengannya.
pk. 22.20 Pak Dendy berjalan menuju meja resepsionis mengeluarkan kartu dari dompetnya, petugas resepsionis memproses kartunya dan memberinya kartu. Setelah itu Pak Dendy berjalan menuju kamar.
Aku dan Pak Bayu menanyakan pada petugas Hotel kartu apa yang diberikan Pak Dendy
Petugas itu menjawab, Pak Dendy membooking kamar hotel. Karena merasa pusing dan ingin menginap di hotel itu. Setelah sebelumnya ribut dengan tamu Hotel wanita.
Pemeriksaan terhadap Natasha
Nat pun di interogasi ringan oleh Pak Bayu
"Selamat sore apakah benar anda Ibu Natasha."
"Benar Pak. Ada yang perlu saya bantu Pak?"
"Perkenalkan saya Bayu Kepala Kepolisian daerah sini. Saat ini saya sedang memeriksa kasus pembunuhan terhadap Pak Dendy"
"Oow. Ternyata Iblis juga bisa mati." Kata-kata Nat penuh kebencian.
"Apakah kemarin Ibu bertemu dengan Bapak Dendy?"
"Iya saya kemarin bertemu Iblis satu itu, sayang aku melewatkan melihat kematiannya"
"Kelihatannya Ibu benci sekali dengan Pak Dendy." Selidik Pak Bayu terhadap Natasha.
"Ya memang aku sangat benci."
Lalu Nat menceritakan seperti apa yang diceritakan Nat kepadaku.
Tentang kebencian Nat kepada Pak Dendy.
"Apakah benar kemarin Ibu orang terakhir yang ditemui Pak Dendy?"
"Mana kutahu kalau saya orang terakhir atau bukan."
"Apa benar ibu memberikan bungkusan warna putih kepada Pak Dendy?"
"Benar."
"Apa isinya?"
"Manakutahu. Obat kali. Dia sendiri yang pesan. Saya hanya diminta mengambilkan pesanannya dan memberikan resep pada kurir yang datang."
"Apakah benar anda kemarin sempat ribut dengan Pak Dendy."
"Benar sekali. Akhirnya iblis itu mengaku dia yang menjatuhkan Evelyn kakakku dari balkon apartemennya. Ini aku punya bukti rekaman tiap percakapanku dengan Pak Dendy." Kata Nat sambil mengeluarkan bukti rekaman percakapan dengan Pak Dendy.
"Apakah Ibu sempat menyerang Pak Dendy."
"Seandainya saya bisa membunuhnya sudah saya bunuh iblis itu. Tapi sayangnya saya tidak bisa dia terlalu pintar dan terlalu kuat. Dia kemarin setelah ketemu saya masih baik-baik saja. Saya juga bertemu dia di loby hotel dan banyak saksi kok."
Dari pernyataan Nat terlihat kebencian yang sangat. tapi juga perasaanku berkata dia tidak bohong dan sepertinya bukan dia yang membunuh Pak Dendy.
Tapi saat itu dia yang paling memungkinkan melakukan pembunuhan itu.
Pak Bayu memintanya untuk tinggal dulu di kantor polisi.
Penelusuran kasus
Setelah mendengar kesaksian dari Nat, Pak Bayu dengan memeriksa whatsapp di handphone Pak Dendy, berhasil menemukan kontak apotek yang mengirimkan bungkusan itu.dan meminta petugas apotek itu datang ke kantor polisi sebentar untuk memberi kesaksian.
"Selamat malam benar ini dengan Pak Samsul?"
"Benar Pak saya Samsul"
"Perkenalkan saya Pak Bayu. Kepala polisi yang bertugas saat ini. Apa jabatan Bapak di Apotek M24"
"Saya Apoteker yang bertugas di M24 kemarin malam Pak."
"Apakah benar kemarin Bapak mengantar pesanan obat ke Pak Dendy ke Diamond Hotel?"
"Bukan saya sich Pak yang mengantar, tapi kurir di apotek saya bekerja. Sebentar Pak saya cek aplikasi dulu. Karena kemarin banyak pesanan obat Pak" sambil mengecek HP nya
"Iya Pak ada pesanan atas nama Pak Dendy ke Diamond Hotel."
"Apakah barang diterima oleh Pak Dendy sendiri?"
"Bukan Pak tapi seorang wanita bernama Natasha yang menerimanya, menurut keterangannya dia adalah teman Pak Dendy. Ini ada bukti foto bahwa barang telah diserahkan Pak dan saya sudah menerima resep dari Pak Dendy"
"Apakah anda tau isi barang itu apa?"
"Menurut aplikasi saya pesanannya injeksi insulin, obat diabetes, obat kolesterol, dan obat darah tinggi Pak. Sesuai foto resep yang dikirimkan Pak Dendy pada saya. Saya juga menerima resep asli dari dokternya Pak Dendy kok Pak." Sambil menunjukkan Whatsapp Pak Dendy
"Apa Pak Dendy sering membeli obat ini di apotek Bapak?"
"Tidak Pak. Baru kali ini."
"Baik Pak terima kasih atas waktu dan kesediaannya memberi kesaksian. Silahkan lanjutkan kembali kegiatan Bapak. Bila ada yang kami butuhkan lagi mohon kesediaannya memberi kesaksian tambahan"
"Baik Pak Terima Kasih."
Berhubung kesaksian dari Pak Samsul ini terlihat meyakinkan dan masuk akal beserta buktinya. Akhirnya Pak Bayu mempersilahkan Mas Samsul untuk kembali.
Autopsi
Aku tidak bisa menunggu hingga esok hari, aku melakukan pemeriksaan terhadap hasil pemeriksaan lab Pak Dendy dan riwayat pemeriksaan kesehatan Pak Dendy.
Rasa penasaran tentang kematian seseorang, serta rasa keadilan dalam diriku selalu menjadi penyemangatku untuk bekerja.
Mungkin orang pikir aku gila kerja.
Tapi tidak aku hanya tidak suka dengan rasa penasaran bila belum menemukan atas jawaban teka-teki kematian seseorang.
Terlihat riwayat kesehatan Pak Dendy kadar gula darahnya tinggi 200 mg/dL, kolesterol totalnya 400 mg/dL, tekanan darahnya 150/110 mmHg. Pemeriksaan dilakukan pada 28 Desember tahun lalu.
Pak Dendy telah menderita diabetes, kolesterol dan tekanan darah tinggi sejak setahun yang lalu.
Dokter Hadi adalah dokter pribadi Pak Dendy. Beliau meresepkan obat yang menurutku masuk akal.
Dari hasil pemeriksaanku, banyak luka bekas suntikan di tubuh Pak Dendy.
Menurutku memang masuk akal dengan gula darah yang cukup tinggi.
Hasil pemeriksaan obat yang dikonsumsi Pak Dendy saat itu adalah obat diabetes dan dia memang menyuntikkan insulin ke tubuhnya.
Tak ada racun yang mencurigakan.
Hasil autopsi kutemukan bahwa penyebab kematian Pak Dendy adalah hipoglikemia waktu kematiannya pk. 05.00
Tunggu dulu Mengapa Pak Dendy menyuntikkan insulin malam itu, padahal dia tau belum sempat makan.
Apakah dia tidak merasakan gejala hipoglikemia?
Apakah dokter yang menanganinya tidak menjelaskan bahayanya hipoglikemia. Bagaimana cara penggunaan obatnya.
Terlihat obat yang dikonsumsi adalah glibenklamid yang biasanya dikonsumsi bersama dengan makanan.
Mengapa dia tidak mengkonsumsinya bersama makanan.
Pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi misteri bagiku.Aku tidak bisa menunggu hingga esok hari, aku melakukan pemeriksaan terhadap hasil pemeriksaan lab Pak Dendy dan riwayat pemeriksaan kesehatan Pak Dendy.
Rasa penasaran tentang kematian seseorang, serta rasa keadilan dalam diriku selalu menjadi penyemangatku untuk bekerja.
Mungkin orang pikir aku gila kerja.
Tapi tidak aku hanya tidak suka dengan rasa penasaran bila belum menemukan atas jawaban teka-teki kematian seseorang.
Terlihat riwayat kesehatan Pak Dendy kadar gula darahnya tinggi 200 mg/dL, kolesterol totalnya 400 mg/dL, tekanan darahnya 150/110 mmHg. Pemeriksaan dilakukan pada 28 Desember tahun lalu.
Pak Dendy telah menderita diabetes, kolesterol dan tekanan darah tinggi sejak setahun yang lalu.
Dokter Hadi adalah dokter pribadi Pak Dendy. Beliau meresepkan obat yang menurutku masuk akal.
Dari hasil pemeriksaanku, banyak luka bekas suntikan di tubuh Pak Dendy.
Menurutku memang masuk akal dengan gula darah yang cukup tinggi.
Hasil pemeriksaan obat yang dikonsumsi Pak Dendy saat itu adalah obat diabetes dan dia memang menyuntikkan insulin ke tubuhnya.
Tak ada racun yang mencurigakan.
Hasil autopsi kutemukan bahwa penyebab kematian Pak Dendy adalah hipoglikemia waktu kematiannya pk. 05.00
Tunggu dulu Mengapa Pak Dendy menyuntikkan insulin malam itu, padahal dia tau belum sempat makan.
Apakah dia tidak merasakan gejala hipoglikemia?
Apakah dokter yang menanganinya tidak menjelaskan bahayanya hipoglikemia. Bagaimana cara penggunaan obatnya.
Terlihat obat yang dikonsumsi adalah glibenklamid yang biasanya dikonsumsi bersama dengan makanan.
Mengapa dia tidak mengkonsumsinya bersama makanan.
Pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi misteri bagiku.Aku tidak bisa menunggu hingga esok hari, aku melakukan pemeriksaan terhadap hasil pemeriksaan lab Pak Dendy dan riwayat pemeriksaan kesehatan Pak Dendy.
Rasa penasaran tentang kematian seseorang, serta rasa keadilan dalam diriku selalu menjadi penyemangatku untuk bekerja.
Mungkin orang pikir aku gila kerja.
Tapi tidak aku hanya tidak suka dengan rasa penasaran bila belum menemukan atas jawaban teka-teki kematian seseorang.
Terlihat riwayat kesehatan Pak Dendy kadar gula darahnya tinggi 200 mg/dL, kolesterol totalnya 400 mg/dL, tekanan darahnya 150/110 mmHg. Pemeriksaan dilakukan pada 28 Desember tahun lalu.
Pak Dendy telah menderita diabetes, kolesterol dan tekanan darah tinggi sejak setahun yang lalu.
Dokter Hadi adalah dokter pribadi Pak Dendy. Beliau meresepkan obat yang menurutku masuk akal.
Dari hasil pemeriksaanku, banyak luka bekas suntikan di tubuh Pak Dendy.
Menurutku memang masuk akal dengan gula darah yang cukup tinggi.
Hasil pemeriksaan obat yang dikonsumsi Pak Dendy saat itu adalah obat diabetes dan dia memang menyuntikkan insulin ke tubuhnya.
Tak ada racun yang mencurigakan.
Hasil autopsi kutemukan bahwa penyebab kematian Pak Dendy adalah hipoglikemia waktu kematiannya pk. 05.00
Tunggu dulu Mengapa Pak Dendy menyuntikkan insulin malam itu, padahal dia tau belum sempat makan.
Apakah dia tidak merasakan gejala hipoglikemia?
Apakah dokter yang menanganinya tidak menjelaskan bahayanya hipoglikemia. Bagaimana cara penggunaan obatnya.
Terlihat obat yang dikonsumsi adalah glibenklamid yang biasanya dikonsumsi bersama dengan makanan.
Mengapa dia tidak mengkonsumsinya bersama makanan.
Pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi misteri bagiku.Aku tidak bisa menunggu hingga esok hari, aku melakukan pemeriksaan terhadap hasil pemeriksaan lab Pak Dendy dan riwayat pemeriksaan kesehatan Pak Dendy.
Rasa penasaran tentang kematian seseorang, serta rasa keadilan dalam diriku selalu menjadi penyemangatku untuk bekerja.
Mungkin orang pikir aku gila kerja.
Tapi tidak aku hanya tidak suka dengan rasa penasaran bila belum menemukan atas jawaban teka-teki kematian seseorang.
Terlihat riwayat kesehatan Pak Dendy kadar gula darahnya tinggi 200 mg/dL, kolesterol totalnya 400 mg/dL, tekanan darahnya 150/110 mmHg. Pemeriksaan dilakukan pada 28 Desember tahun lalu.
Pak Dendy telah menderita diabetes, kolesterol dan tekanan darah tinggi sejak setahun yang lalu.
Dokter Hadi adalah dokter pribadi Pak Dendy. Beliau meresepkan obat yang menurutku masuk akal.
Dari hasil pemeriksaanku, banyak luka bekas suntikan di tubuh Pak Dendy.
Menurutku memang masuk akal dengan gula darah yang cukup tinggi.
Hasil pemeriksaan obat yang dikonsumsi Pak Dendy saat itu adalah obat diabetes dan dia memang menyuntikkan insulin ke tubuhnya.
Tak ada racun yang mencurigakan.
Hasil autopsi kutemukan bahwa penyebab kematian Pak Dendy adalah hipoglikemia waktu kematiannya pk. 05.00
Tunggu dulu Mengapa Pak Dendy menyuntikkan insulin malam itu, padahal dia tau belum sempat makan.
Apakah dia tidak merasakan gejala hipoglikemia?
Apakah dokter yang menanganinya tidak menjelaskan bahayanya hipoglikemia. Bagaimana cara penggunaan obatnya.
Terlihat obat yang dikonsumsi adalah glibenklamid yang biasanya dikonsumsi bersama dengan makanan.
Mengapa dia tidak mengkonsumsinya bersama makanan.
Pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi misteri bagiku.Aku tidak bisa menunggu hingga esok hari, aku melakukan pemeriksaan terhadap hasil pemeriksaan lab Pak Dendy dan riwayat pemeriksaan kesehatan Pak Dendy.
Rasa penasaran tentang kematian seseorang, serta rasa keadilan dalam diriku selalu menjadi penyemangatku untuk bekerja.
Mungkin orang pikir aku gila kerja.
Tapi tidak aku hanya tidak suka dengan rasa penasaran bila belum menemukan atas jawaban teka-teki kematian seseorang.
Terlihat riwayat kesehatan Pak Dendy kadar gula darahnya tinggi 200 mg/dL, kolesterol totalnya 400 mg/dL, tekanan darahnya 150/110 mmHg. Pemeriksaan dilakukan pada 28 Desember tahun lalu.
Pak Dendy telah menderita diabetes, kolesterol dan tekanan darah tinggi sejak setahun yang lalu.
Dokter Hadi adalah dokter pribadi Pak Dendy. Beliau meresepkan obat yang menurutku masuk akal.
Dari hasil pemeriksaanku, banyak luka bekas suntikan di tubuh Pak Dendy.
Menurutku memang masuk akal dengan gula darah yang cukup tinggi.
Hasil pemeriksaan obat yang dikonsumsi Pak Dendy saat itu adalah obat diabetes dan dia memang menyuntikkan insulin ke tubuhnya.
Tak ada racun yang mencurigakan.
Hasil autopsi kutemukan bahwa penyebab kematian Pak Dendy adalah hipoglikemia waktu kematiannya pk. 05.00
Tunggu dulu Mengapa Pak Dendy menyuntikkan insulin malam itu, padahal dia tau belum sempat makan.
Apakah dia tidak merasakan gejala hipoglikemia?
Apakah dokter yang menanganinya tidak menjelaskan bahayanya hipoglikemia. Bagaimana cara penggunaan obatnya.
Terlihat obat yang dikonsumsi adalah glibenklamid yang biasanya dikonsumsi bersama dengan makanan.
Mengapa dia tidak mengkonsumsinya bersama makanan.
Pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi misteri bagiku.Aku tidak bisa menunggu hingga esok hari, aku melakukan pemeriksaan terhadap hasil pemeriksaan lab Pak Dendy dan riwayat pemeriksaan kesehatan Pak Dendy.
Rasa penasaran tentang kematian seseorang, serta rasa keadilan dalam diriku selalu menjadi penyemangatku untuk bekerja.
Mungkin orang pikir aku gila kerja.
Tapi tidak aku hanya tidak suka dengan rasa penasaran bila belum menemukan atas jawaban teka-teki kematian seseorang.
Terlihat riwayat kesehatan Pak Dendy kadar gula darahnya tinggi 200 mg/dL, kolesterol totalnya 400 mg/dL, tekanan darahnya 150/110 mmHg. Pemeriksaan dilakukan pada 28 Desember tahun lalu.
Pak Dendy telah menderita diabetes, kolesterol dan tekanan darah tinggi sejak setahun yang lalu.
Dokter Hadi adalah dokter pribadi Pak Dendy. Beliau meresepkan obat yang menurutku masuk akal.
Dari hasil pemeriksaanku, banyak luka bekas suntikan di tubuh Pak Dendy.
Menurutku memang masuk akal dengan gula darah yang cukup tinggi.
Hasil pemeriksaan obat yang dikonsumsi Pak Dendy saat itu adalah obat diabetes dan dia memang menyuntikkan insulin ke tubuhnya.
Tak ada racun yang mencurigakan.
Hasil autopsi kutemukan bahwa penyebab kematian Pak Dendy adalah hipoglikemia waktu kematiannya pk. 05.00
Tunggu dulu Mengapa Pak Dendy menyuntikkan insulin malam itu, padahal dia tau belum sempat makan.
Apakah dia tidak merasakan gejala hipoglikemia?
Apakah dokter yang menanganinya tidak menjelaskan bahayanya hipoglikemia. Bagaimana cara penggunaan obatnya.
Terlihat obat yang dikonsumsi adalah glibenklamid yang biasanya dikonsumsi bersama dengan makanan.
Mengapa dia tidak mengkonsumsinya bersama makanan.
Pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi misteri bagiku.Aku tidak bisa menunggu hingga esok hari, aku melakukan pemeriksaan terhadap hasil pemeriksaan lab Pak Dendy dan riwayat pemeriksaan kesehatan Pak Dendy.
Rasa penasaran tentang kematian seseorang, serta rasa keadilan dalam diriku selalu menjadi penyemangatku untuk bekerja.
Mungkin orang pikir aku gila kerja.
Tapi tidak aku hanya tidak suka dengan rasa penasaran bila belum menemukan atas jawaban teka-teki kematian seseorang.
Terlihat riwayat kesehatan Pak Dendy kadar gula darahnya tinggi 200 mg/dL, kolesterol totalnya 400 mg/dL, tekanan darahnya 150/110 mmHg. Pemeriksaan dilakukan pada 28 Desember tahun lalu.
Pak Dendy telah menderita diabetes, kolesterol dan tekanan darah tinggi sejak setahun yang lalu.
Dokter Hadi adalah dokter pribadi Pak Dendy. Beliau meresepkan obat yang menurutku masuk akal.
Dari hasil pemeriksaanku, banyak luka bekas suntikan di tubuh Pak Dendy.
Menurutku memang masuk akal dengan gula darah yang cukup tinggi.
Hasil pemeriksaan obat yang dikonsumsi Pak Dendy saat itu adalah obat diabetes dan dia memang menyuntikkan insulin ke tubuhnya.
Tak ada racun yang mencurigakan.
Hasil autopsi kutemukan bahwa penyebab kematian Pak Dendy adalah hipoglikemia waktu kematiannya pk. 05.00
Tunggu dulu Mengapa Pak Dendy menyuntikkan insulin malam itu, padahal dia tau belum sempat makan.
Apakah dia tidak merasakan gejala hipoglikemia?
Apakah dokter yang menanganinya tidak menjelaskan bahayanya hipoglikemia. Bagaimana cara penggunaan obatnya.
Terlihat obat yang dikonsumsi adalah glibenklamid yang biasanya dikonsumsi bersama dengan makanan.
Mengapa dia tidak mengkonsumsinya bersama makanan.
Pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi misteri bagiku.Aku tidak bisa menunggu hingga esok hari, aku melakukan pemeriksaan terhadap hasil pemeriksaan lab Pak Dendy dan riwayat pemeriksaan kesehatan Pak Dendy.
Rasa penasaran tentang kematian seseorang, serta rasa keadilan dalam diriku selalu menjadi penyemangatku untuk bekerja.
Mungkin orang pikir aku gila kerja.
Tapi tidak aku hanya tidak suka dengan rasa penasaran bila belum menemukan atas jawaban teka-teki kematian seseorang.
Terlihat riwayat kesehatan Pak Dendy kadar gula darahnya tinggi 200 mg/dL, kolesterol totalnya 400 mg/dL, tekanan darahnya 150/110 mmHg. Pemeriksaan dilakukan pada 28 Desember tahun lalu.
Pak Dendy telah menderita diabetes, kolesterol dan tekanan darah tinggi sejak setahun yang lalu.
Dokter Hadi adalah dokter pribadi Pak Dendy. Beliau meresepkan obat yang menurutku masuk akal.
Dari hasil pemeriksaanku, banyak luka bekas suntikan di tubuh Pak Dendy.
Menurutku memang masuk akal dengan gula darah yang cukup tinggi.
Hasil pemeriksaan obat yang dikonsumsi Pak Dendy saat itu adalah obat diabetes dan dia memang menyuntikkan insulin ke tubuhnya.
Tak ada racun yang mencurigakan.
Hasil autopsi kutemukan bahwa penyebab kematian Pak Dendy adalah hipoglikemia waktu kematiannya pk. 05.00
Tunggu dulu Mengapa Pak Dendy menyuntikkan insulin malam itu, padahal dia tau belum sempat makan.
Apakah dia tidak merasakan gejala hipoglikemia?
Apakah dokter yang menanganinya tidak menjelaskan bahayanya hipoglikemia. Bagaimana cara penggunaan obatnya.
Terlihat obat yang dikonsumsi adalah glibenklamid yang biasanya dikonsumsi bersama dengan makanan.
Mengapa dia tidak mengkonsumsinya bersama makanan.
Pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi misteri bagiku.Aku tidak bisa menunggu hingga esok hari, aku melakukan pemeriksaan terhadap hasil pemeriksaan lab Pak Dendy dan riwayat pemeriksaan kesehatan Pak Dendy.
Rasa penasaran tentang kematian seseorang, serta rasa keadilan dalam diriku selalu menjadi penyemangatku untuk bekerja.
Mungkin orang pikir aku gila kerja.
Tapi tidak aku hanya tidak suka dengan rasa penasaran bila belum menemukan atas jawaban teka-teki kematian seseorang.
Terlihat riwayat kesehatan Pak Dendy kadar gula darahnya tinggi 200 mg/dL, kolesterol totalnya 400 mg/dL, tekanan darahnya 150/110 mmHg. Pemeriksaan dilakukan pada 28 Desember tahun lalu.
Pak Dendy telah menderita diabetes, kolesterol dan tekanan darah tinggi sejak setahun yang lalu.
Dokter Hadi adalah dokter pribadi Pak Dendy. Beliau meresepkan obat yang menurutku masuk akal.
Dari hasil pemeriksaanku, banyak luka bekas suntikan di tubuh Pak Dendy.
Menurutku memang masuk akal dengan gula darah yang cukup tinggi.
Hasil pemeriksaan obat yang dikonsumsi Pak Dendy saat itu adalah obat diabetes dan dia memang menyuntikkan insulin ke tubuhnya.
Tak ada racun yang mencurigakan.
Hasil autopsi kutemukan bahwa penyebab kematian Pak Dendy adalah hipoglikemia waktu kematiannya pk. 05.00
Tunggu dulu Mengapa Pak Dendy menyuntikkan insulin malam itu, padahal dia tau belum sempat makan.
Apakah dia tidak merasakan gejala hipoglikemia?
Apakah dokter yang menanganinya tidak menjelaskan bahayanya hipoglikemia. Bagaimana cara penggunaan obatnya.
Terlihat obat yang dikonsumsi adalah glibenklamid yang biasanya dikonsumsi bersama dengan makanan.
Mengapa dia tidak mengkonsumsinya bersama makanan.
Pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi misteri bagiku.Aku tidak bisa menunggu hingga esok hari, aku melakukan pemeriksaan terhadap hasil pemeriksaan lab Pak Dendy dan riwayat pemeriksaan kesehatan Pak Dendy.
Rasa penasaran tentang kematian seseorang, serta rasa keadilan dalam diriku selalu menjadi penyemangatku untuk bekerja.
Mungkin orang pikir aku gila kerja.
Tapi tidak aku hanya tidak suka dengan rasa penasaran bila belum menemukan atas jawaban teka-teki kematian seseorang.
Terlihat riwayat kesehatan Pak Dendy kadar gula darahnya tinggi 200 mg/dL, kolesterol totalnya 400 mg/dL, tekanan darahnya 150/110 mmHg. Pemeriksaan dilakukan pada 28 Desember tahun lalu.
Pak Dendy telah menderita diabetes, kolesterol dan tekanan darah tinggi sejak setahun yang lalu.
Dokter Hadi adalah dokter pribadi Pak Dendy. Beliau meresepkan obat yang menurutku masuk akal.
Dari hasil pemeriksaanku, banyak luka bekas suntikan di tubuh Pak Dendy.
Menurutku memang masuk akal dengan gula darah yang cukup tinggi.
Hasil pemeriksaan obat yang dikonsumsi Pak Dendy saat itu adalah obat diabetes dan dia memang menyuntikkan insulin ke tubuhnya.
Tak ada racun yang mencurigakan.
Hasil autopsi kutemukan bahwa penyebab kematian Pak Dendy adalah hipoglikemia waktu kematiannya pk. 05.00
Tunggu dulu Mengapa Pak Dendy menyuntikkan insulin malam itu, padahal dia tau belum sempat makan.
Apakah dia tidak merasakan gejala hipoglikemia?
Apakah dokter yang menanganinya tidak menjelaskan bahayanya hipoglikemia. Bagaimana cara penggunaan obatnya.
Terlihat obat yang dikonsumsi adalah glibenklamid yang biasanya dikonsumsi bersama dengan makanan.
Mengapa dia tidak mengkonsumsinya bersama makanan.
Pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi misteri bagiku.Aku tidak bisa menunggu hingga esok hari, aku melakukan pemeriksaan terhadap hasil pemeriksaan lab Pak Dendy dan riwayat pemeriksaan kesehatan Pak Dendy.
Rasa penasaran tentang kematian seseorang, serta rasa keadilan dalam diriku selalu menjadi penyemangatku untuk bekerja.
Mungkin orang pikir aku gila kerja.
Tapi tidak aku hanya tidak suka dengan rasa penasaran bila belum menemukan atas jawaban teka-teki kematian seseorang.
Terlihat riwayat kesehatan Pak Dendy kadar gula darahnya tinggi 200 mg/dL, kolesterol totalnya 400 mg/dL, tekanan darahnya 150/110 mmHg. Pemeriksaan dilakukan pada 28 Desember tahun lalu.
Pak Dendy telah menderita diabetes, kolesterol dan tekanan darah tinggi sejak setahun yang lalu.
Dokter Hadi adalah dokter pribadi Pak Dendy. Beliau meresepkan obat yang menurutku masuk akal.
Dari hasil pemeriksaanku, banyak luka bekas suntikan di tubuh Pak Dendy.
Menurutku memang masuk akal dengan gula darah yang cukup tinggi.
Hasil pemeriksaan obat yang dikonsumsi Pak Dendy saat itu adalah obat diabetes dan dia memang menyuntikkan insulin ke tubuhnya.
Tak ada racun yang mencurigakan.
Hasil autopsi kutemukan bahwa penyebab kematian Pak Dendy adalah hipoglikemia waktu kematiannya pk. 05.00
Tunggu dulu Mengapa Pak Dendy menyuntikkan insulin malam itu, padahal dia tau belum sempat makan.
Apakah dia tidak merasakan gejala hipoglikemia?
Apakah dokter yang menanganinya tidak menjelaskan bahayanya hipoglikemia. Bagaimana cara penggunaan obatnya.
Terlihat obat yang dikonsumsi adalah glibenklamid yang biasanya dikonsumsi bersama dengan makanan.
Mengapa dia tidak mengkonsumsinya bersama makanan.
Pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi misteri bagiku.
Petunjuk dalam Mimpi
Aku tertidur dalam ruang kerjaku, karena aku kecapaian.
Tiba-tiba dalam mimpi aku melihat
Pak Dendy sedang di cekik oleh bayangan wanita yang kapanhari di hotel
Siapakah wanita itu?
Apakah Pak Dendy benar-benar dibunuh oleh arwah penasaran?
Mengapa semua hasil autopsi terlihat seperti ketidaktahuan pasien cara penggunaan obat yang benar?
Gaya hidup seperti apakah yang dijalani Pak Dendy?
Semua pertanyaan ini benar-benar mengganggu sampai terbawa dalam mimpi ku
Terlihat Pak Dendy seperti akan menunjuk sesuatu.
Tapi dihalangi oleh arwah wanita itu.
Tunggu tidak hanya seorang wanita tapi muncul arwah lain yang mencoba memukul Pak Dendy.
Apakah Pak Dendy memang penyebab kematian orang-orang itu?
Dalam mimpi terlihat Pak Dendy ingin menunjukkan sebuah benda. Apakah itu adalah pesan kematian?
Benda apakah itu?
Sebuah Handphon
Apakah yang ada dalam handphone itu?
Aku terbangun dan segera menelepon Pak Bayu.
"Halo pagi Pak Bayu."
"Pagi Dokter Will. Bagaimana hasil autopsinya apakah sudah keluar?"
"Hasil autopsi penyebab kematian Pak Dendy adalah Hipoglikemia yaitu kadar gula darah yang terlalu rendah."
"Yang menggangguku adalah saat di rekaman CCTV terlihat Pak Dendy menelepon seseorang dengan tubuh yang agak sempoyongan. Siapakah yang Pak Dendy telepon Pak?"
Hasil pemeriksaan dalam Handphone Pak Dendy terdapat panggilan ke Dokter Hadi.
Pak Dendy sempat menelepon dokter, berarti Pak Dendy sempat meminta petunjuk penyakitnya?
Tapi mengapa dia masih bisa salah penggunaan obat?
Keluhan terakhir sebelum kematian
Mengapa setelah konsultasi pada Dokter Hadi, Pak Dendy masih bisa salah menggunakan obat?
"Kita perlu mendengar percakapan terakhir mereka." ujarku pada Pak Bayu.
"Aku merasa ada yang tidak beres pada percakapan mereka." Lanjutku.
"Baiklah saya akan meminta rekaman dari pihak provider internet."
Setelah rekaman telepon sudah ada di tangan kita, kita bersama mendengarkannya. Terdengar Pak Dendy menelepon Dokter Hadi
"Malam Dok." Kata Pak Dendy dalam telepon
"Malam Pak Dendy. Ada yang bisa saya bantu, malam-malam gini menelepon?"
"Gini Dok. Kenapa saya tiba-tiba gemetar, merasa kedinginan dan keluar keringat dingin, bahkan bibir atas saya terasa kesemutan dok?"
"Pak Dendy sekarang dimana?"
"Saya di Diamond Hotel Dok. Ini saya mau pulang, tapi ini saya merasa pusing, jantung saya serasa berdetak lebih kencang dan keluar keringat dingin."
"Mungkin karena gula darah Bapak sedang naik ya. Bapak seharian ini terlalu banyak makan ya."
"Iya Dok, tadi siang saya banyak makan terutama yang manis, tapi malam ini saya belum makan sama sekali, tadi siang juga sudah minum obat diabetes, sore ini juga.
"Iya Pak tadi siang Bapak terlalu banyak makan yang menyebabkan kadar gula darah Bapak naik, segera minum lagi diabetesnya dan jangan lupa suntikkan insulinnya."
"Ok Dok nanti saya minum setelah sampai di rumah"
"Sebaiknya jangan menyetir sendiri, sebaiknya Bapak sewa kamar hotel saja. Bapak kan sedang di hotel. Segera minum lagi obat diabetesnya dan suntikkan insulin dan segera tidur jangan makan lagi."
"Ok Dok. Terima kasih"
Ini aneh jantung berdetak kencang, keringat dingin, gemetar ini seperti hipoglikemia ringan, atau penyakit jantung ringan setelah berkelahi dengan Natasha.
"Kita panggil Dokter Hadi untuk memberikan keterangan."
Pak Bayu memanggil Dokter Hadi untuk memberikan keterangan. Aku ikut dalam interogasi ringan kali ini.
Keterangan Dokter Hadi
"Selamat Pagi, Apakah benar anda Dokter Hadi Sugianto."
"Benar Pak."
"Perkenalkan saya Bayu sebagai ketua penyelidikan kasus ini."
"Saya William" Saya ikut memperkenalkan diri
"Apa benar saat tanggal 3 Januari Pak Dendy menelepon Bapak sebelum kematiannya?"
"Benar Pak."
"Mengapa Pak Dendy menelepon Dokter malam-malam?"
"Pak Dendy mengeluh hipoglikemia Pak. jantung berdetak kencang, muncul keringat dingin, badan gemetar."
"Lalu?"
"Sebenarnya Pak Dendy akan menyetir pulang, tapi saya menyarankan untuk segera menelepon Rumah sakit, karena bahaya sekali. Akhirnya Pak Dendy memilih menginap di hotel"
"Apakah dokter tau penyebab kematian Pak Dendy?"
"Saya tidak tahu Pak. Mungkin hipoglikemia."
"Dokter menyarankan apa lagi saat Pak Dendy mengeluh tentang hipoglikemianya?"
"Saya sarankan untuk memakan permen untuk pertolongan pertama, agar gula darahnya agak naik."
"Bukankah Pak Dendy menderita Diabetes Melitus. Mengapa dokter menyarankan untuk makan permen."
"Saat itu Gula Darah Pak Dendy sedang turun, dia belum makan Pak. Karena itu dia harus menaikkan gula darahnya. Orang dengan Gula Darah rendah bisa lebih gawat daripada saat gula darahnya sedang tinggi."
Aku membetulkan tindakan Dokter Hadi.
"Sesuai SOP kok Dok untuk pertolongan pada orang hipoglikemia. Pak Dendy memang meninggal karena hipoglikemia."
Pak Bayu bertanya sekali lagi "Apa benar dokter menyarankannya untuk memakan permen? Ataukah Dokter menyarankan jangan makan lagi dan menyuntikkan insulin?"
"Saya ingat benar kok Pak saya menyarankan untuk makan permen saja dan menginap di hotel saja."
"Coba dengarkan rekaman percakapan anda di ponsel. saat itu mari kita dengarkan bersama."
Setelah mendengarkan rekaman tentang percakapan terkahir Dokter Hadi dengan Pak Dendy akhirnya Dokter Hadi mengaku.
"Iya memang saya menyarankan untuk menyuntikkan insulin. Saya memang sangat benci dengan Pak Dendy. Tapi saya awalnya diam saja. Malam itu saya melihat ada cara untuk membunuhnya jadi saya lakukan."
"Dendam apakah yang dokter punya hingga tega membunuhnya."
"Saya tidak suka saja melihatnya membuat bangkrut semua nasabah. sekitar lima tahun lalu, ada nasabah yang dibuat bangkrut oleh Pak Dendy, nasabah ini akhirnya meninggal karena keracunan. Orang yang memberinya Narkoba adalah Pak Dendy dan dia membuatnya seolah-olah nasabah ini over dosis. Nasabah itu adalah keponakan saya. Dia adalah nasabah yang bukan trader baru, tapi trader yang sudah ahli. Tapi saat itu Pak Dendy membuat akunnya seolah di hack orang. Pak Dendy sendiri yang menceritakannya padaku dengan bangganya. Jadi begitu ada kesempatan aku ingin dia merasakan sendiri bagaimana kematian yang tidak diketahui orang. Tapi sayangnya dia cukup beruntung dan akupun juga beruntung karena tidak harus ketakutan lagi. Setelah membunuhnya aku selalu ketakutan. Berhubung sekarang kasusnya telah terpecahkan aku tak perlu ketakutan lagi."
Setelah interogasi ini Pak Bayu membebaskan Natasha.
Prolog
"Akhirnya aku lega kasus pembunuhan Eveline terpecahkan. Kalian percaya kalau bukan aku pembunuh Pak Dendy." Kata Nat padaku.
"Dokter kalau dokter mau belajar teknik trading aku bisa ajari, tapi bukan aku yang akan eksekusi tradingnya Dokter. Aku hanya akan mengajarkan teknik dasarnya saja."
"Boleh aku ingin tahu tekniknya."
"Tapi kalau rugi ya tanggung sendiri ya. hehehe..."
"Ok"
Aku akhirnya jadi murid tradingnya Natasha yang pertama.
Satu kasus terpecahkan lagi.
Nat mengajakku untuk nyekar ke makam Eveline. Di makam kulihat bayangan putih eveline tampak cantik seperti Natasha dan tersenyum padaku
"Memang obat adalah racun bila tidak digunakan sesuai indikasi."
"""::::::^@&&×&×^×<÷&# shhshshsbdbdhshshsjsjshbsjwhshsb
Bab 1
Kali ini dr. Will berlibur saat weekly day off saja dan ikut opentrip saja. biar aman. kali ini dia bertemu seorang wanita bernama Natasha. Natasha ini seorang broker emas. dr. WIll tertarik belajar tentang trading emas. Terjadilah percakapan dr. Will dan wanita ini seputar trading. Awalnya dr. Will mengira trading itu sarana untuk mendapatkan uang instan dengan strategi dan metode tertentu. tapi Natasha malah bilang trading itu perang mental yang mengendalikan sifat serakah, takut, adu strategi. Bila tidak tahan mental bisa gila uang 100 juta bisa hilang dalam hitungan jam, tapi sebaliknya bisa kaya mendadak dalam hitungan jam. Meskipun kita paham perekonomian dan keadaan geopolitik dunia yang sering disebut analisa fundamental, dan keadaan minat beli, dan jual masyarakat yang sering digambarkan dalam candlestick chart atau biasa disebut analisa teknikal, kalau kita tidak membuat trading plan dan menuruti trading plan itu dengan cukup ketat sulit untuk tidak bangkrut. Selain itu perlu mengendalikan sifat takut saat arah tidak sesuai keinginan kita padahal belum menyentuh titik cut loss yang kita inginkan sudah di cut loss, atau saat profit sedikit belum menyentuh target sudah di take profit. Atau juga meski sudah melihat arah grafik tidak sesuai arah yang kita mau sudah menyentuh titik cut loss tapi kita tidak mau cut loss akhirnya loss jadi besar sekali.
Bab 2
Nat juga bercerita tentang kebenciannya pada atasannya dan pekerjaannya. Atasannya seringkali meminta mencari dan memalsukan NIB (Nomer Induk Berusaha) dan NPWP (Nomer Pokok Wajib Pajak) untuk memasang lowongan kerja di portal job guna merekrut pekerja baru, jabatannya biasa diminta jadi staff admin atau customer service setelah interview pekerja baru akan di alihkan ke pekerjaan marketing. Setelah jadi marketing hanya diajarkan sedikit pengetahuan tentang trading, cara baca chart. kita hanya diminta daftar nama orang-orang kaya di sekitar kita, atau bila punya uang sendiri kita diminta ikut trading sendiri. Setelah kita masuk, awalnya dibuat menang tapi setelah itu akan dibuat bangkrut karena sistemnya. Nat juga menceritakan sistem yang bila nasabah menaruh dana modal untuk trading poin marketing kita akan bertambah sebesar dana itu. Setelah nasabah untung dan menarik keuntungan, poin marketing kita akan dikurangi sesuai nasabah menarik uang, dan kalau nasabah untung terus dan menarik uang terus poin marketing kita akan minus terus. Bila nasabah bangkrut poin marketing kita akan tetap. Sistem ini bagus untuk memacu kerja marketing, tapi bila marketing sulit mendapat nasabah, marketing akan lebih memilih membangkrutkan nasabah. Bila downline yang mendapat nasabah keluar, poin marketing downline itu bisa jadi milik upline. Selain itu ada sisi yang tidak semua orang tau. Saat nasabah bangkrut kepala tim dan nasabah akan mendapat keuntungan beberapa persen dari modal yang telah ditransferkan nasabah. Tidak jarang Nat diminta ke Bar untuk berkenalan dengan om-om kaya di bar untuk dijadikan nasabah
Bab 3
dr. Will heran Nat sebegitu bencinya dengan perusahaan dan uplinenya Pak Dendi tapi kok masih bertahan. Nat menjawab ada sesuatu yang ingin dia ketahui. Mereka liburan di air terjun yang indah di dalam hutan. Sebelum berpisah Nat mengundang dr. Will bila ingin mendengarkan dan belajar trading bisa datang ke Ballroom Hotel bintang 3 di kota itu. Kebetulan perusahaan tempat kerjanya sedang memberikan workshop dan gathering di tempat itu siapapun boleh mengikuti acara itu.
Bab 4
Jalannya workshop, dr. Will datang ke acara workshop itu. Disana dia bertemu Nat lagi. Nat memperingatkan untuk mempelajari saja mekanismenya tapi jangan percaya pada siapapun.. Di acara ini penjelasan tentang strategi trading, dll. Setelah acara upline Nat, Pak Dendi dan Nat mengundan dr. Will dan Nat untuk berbincang di loby hotel berusaha meyakinkan dr. Will untuk ikut trading dan bahwa trading itu aman dan bukti-bukti bayak yang bisa menarik uangnya. Pak Dendi terus mengoceh terlihat tidak menghiraukan makanannya, sedangkan Nat hanya diam. di loby itu juga dr. Will melihat bayangan seorang perempuan ekspresinya penuh kebencian pada Pak Dendi. Dia menggeleng pada dr. Will seolah berbicara jangan ambil tawaran itu.
Bab 5
Karena sudah terlalu malam. dr. Will pamit pulang. Sedangkan Nat masih berbicara sebentar dengan Pak Dendi untuk evaluasi. Tapi tidak lama Nat juga pulang
Bab 6 - 17
Kira-kira pk 12.00 saat jam checkout, Pak Dendy belum keluar kamar. Petugas bellboy membuka kamar Pak dendy dengan kunci hotel. Pak Dendy ditemukan meninggal di kamar hotel. Nah sampai sini aku bingung melanjutkannya. lalu orang mengira Bellboy yang melakukan pembunuhan, lalu mengira Nat pembunuh Pak Dendi karena Nat orang terakhir yang bertemu Pak Dendi. tapi hasil autopsi mengatakan, dia meninggal karena penggunaan obat yang tidak tepat (mungkin glibenclamid yang diminum malam hari tanpa makan, rawan menyebabkan hipoglikemia dan bila hipoglikemia tidak diketahui bisa meninggal). Nat bercerita bahwa bila dia bisa membunuh Pak Dendi dia ingin sekali melakukannya untuk balas dendam atas kematian kakaknya (Evelyn). Kakaknya pernah bekerja jadi bawahan Pak Dendi, dia punya nasabah yang dikenalkan Pak Dendi di club malam dan nasabahnya ini investasi emas 1 milyar. tapi dibuat bangkrut sama pak dendi, nasabahnya ini bangkrut dan memperkosa kakaknya Nat. Kakak Nat marah dan menuntut Pak Dendy. Pak Dendy malah mendorongnya dari lantai 10 sebuah mall dan membuatnya seolah bunuh diri. Hal ini diketahui Nat karena Pak Dendy menceritakannya sendiri tentang pembunuhan itu karena Nat berusaha memberontak karena tidak suka dengan mekanisme kerja pialang.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Pukul lima pagi, langit
masih berwarna biru tua ketika dr. Will menutup pintu rumahnya. Sebuah ransel
kecil tergantung di bahunya, sementara di tangannya tergenggam secangkir kopi
yang masih mengepulkan uap.
Sudah lama ia tidak pergi
berlibur.
Bukan karena tidak punya
waktu. Sebagai dokter forensik, ia terbiasa menyisihkan satu hari setiap minggu
untuk beristirahat. Hanya saja, beberapa perjalanan sebelumnya berakhir
terlalu... melelahkan. Ada saja kejadian tak terduga yang membuat liburannya
berubah menjadi sesuatu yang jauh dari kata tenang.
Karena itu, kali ini ia
memilih cara yang lebih aman: ikut open trip.
Tujuannya sebuah air
terjun di kaki pegunungan yang sedang populer di media sosial. Ia bahkan tidak
terlalu tertarik pada lokasinya. Yang ia inginkan hanya satu: menghirup udara
segar, berjalan santai, lalu pulang tanpa kejadian aneh apa pun.
Sebuah HiAce putih sudah
menunggu di titik kumpul. Sebagian peserta tampak masih mengantuk. Ada yang
sibuk menyeruput kopi, ada yang memeluk bantal leher, dan ada pula yang sibuk
berfoto meskipun matahari belum terbit.
"Mas Will?"
tanya seorang panitia.
Dr. Will mengangguk.
"Silakan naik. Kursi
nomor tujuh."
Ia masuk ke dalam
kendaraan dan menemukan kursinya di bagian tengah. Di samping kursinya sudah
duduk seorang perempuan yang sedang mengenakan jaket abu-abu dan memegang
ponsel.
Perempuan itu mengangkat
kepala ketika dr. Will duduk.
"Pagi," sapanya
ramah.
"Pagi."
Beberapa detik kemudian,
kendaraan mulai bergerak meninggalkan kota.
Suasana di dalam HiAce
masih sunyi. Hanya terdengar suara mesin dan sesekali dengkuran pelan dari
salah satu peserta di barisan belakang.
Perempuan di sampingnya
menoleh.
"Sepertinya semua
orang masih mengantuk."
Dr. Will tersenyum kecil.
"Termasuk saya."
Perempuan itu terkekeh.
"Aku Natasha."
"Will."
"Pertama kali ikut
open trip?"
"Iya."
"Aku juga."
Percakapan itu seharusnya
berhenti di sana. Namun entah mengapa, perjalanan yang masih panjang membuat
mereka kembali berbincang.
"Kamu suka naik
gunung?" tanya Natasha.
"Tidak terlalu. Aku
lebih suka tempat yang tidak terlalu ramai."
"Lho, kalau begitu
kenapa ikut open trip?"
Dr. Will berpikir sejenak.
"Karena aku ingin
liburan yang aman."
Natasha tertawa.
"Baru kali ini aku
dengar ada orang ikut open trip demi keamanan."
"Memangnya
salah?"
"Nggak. Lucu
saja."
Perjalanan mulai memasuki
daerah perbukitan. Cahaya matahari pagi perlahan muncul dari balik awan.
"Kalau kamu?"
tanya dr. Will. "Kenapa ikut?"
Natasha menatap keluar
jendela beberapa saat.
"Capek."
"Capek?"
"Kerjaan."
Jawabannya singkat, tetapi
ada nada lelah yang tidak bisa disembunyikan.
Dr. Will mengangguk pelan.
Ia tahu ada beberapa orang yang memilih bepergian hanya untuk menjauh sejenak
dari rutinitas.
"Kerja di bidang
apa?" tanyanya.
Natasha tersenyum tipis.
"Keuangan."
"Wah, berat."
"Kamu?"
"Aku dokter."
Natasha langsung menoleh.
"Dokter apa?"
"Forensik."
Perempuan itu berkedip
beberapa kali.
"Yang kerja di kamar
jenazah itu?"
"Kurang lebih."
"Serius?"
Dr. Will mengangguk.
Natasha tertawa kecil.
"Sepertinya aku tidak
akan berani cerita yang aneh-aneh sama kamu."
"Kenapa?"
"Takut
dianalisis."
"Kami tidak
menganalisis orang setiap saat."
"Masa?"
"Kebanyakan hanya
saat jam kerja."
Jawaban itu membuat
Natasha tertawa lagi.
Untuk pertama kalinya pagi
itu, dr. Will merasa perjalanan ini mungkin tidak akan membosankan.
Ia tidak tahu bahwa
pertemuan singkat di dalam sebuah HiAce, dengan seorang perempuan yang baru
dikenalnya beberapa menit, kelak akan membawanya mengenal dunia yang sama
sekali asing baginya—dunia yang dipenuhi angka, harapan, ketakutan, dan
keputusan-keputusan yang dapat mengubah hidup seseorang dalam sekejap.
%%%%%%%%%%%%%%%%%%^%^^%%%%
BAB 12: Petunjuk di Ambang Batas
Rasa lelah yang teramat sangat akhirnya meruntuhkan pertahananku. Aku tertidur di atas sofa kulit hitam di ruang kerjaku yang sunyi, di bawah pendaran lampu meja yang masih menyala. Di atas meja, berkas riwayat medis Pak Dendy dan foto-foto otopsi berserakan. Namun, alam bawah sadarku menolak untuk beristirahat.
Tiba-tiba, aku terseret ke dalam mimpi yang terasa begitu nyata dan menyesakkan.
Di dalam mimpi itu, suasana ballroom Diamond Hotel yang megah berubah menjadi remang dan sunyi. Pak Dendy berdiri di sana, megap-megap kehabisan napas. Lehernya dicengkeram erat oleh bayangan wanita putih yang kulihat kemarin. Dari dekat, wajah bayangan itu mulai tampak samar—apakah itu Eveline? Kakak Natasha yang tewas dari balkon?
Siapakah wanita itu sebenarnya? Apakah Pak Dendy benar-benar dibunuh oleh arwah penasaran yang menuntut balas?
Jika ini murni mistis, mengapa semua hasil autopsiku justru menunjukkan diagnosis medis yang sangat presisi? Mengapa semuanya terlihat seperti murni ketidaktahuan pasien dalam menggunakan obat diabetes yang benar? Ataukah gaya hidup malamnya—alkohol, stres, klub malam, dan kurang tidur—telah merusak fungsi kognitifnya hingga ia tidak bisa lagi berpikir jernih saat menghadapi serangan gula darah?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar, bergolak hebat di dalam kepalaku hingga terbawa ke dalam mimpi buruk ini.
Dalam visi itu, Pak Dendy yang tersedak tampak berusaha keras mengabaikan cekikan sang wanita. Wajahnya memerah, matanya melotot menatapku, dan tangannya yang gemetar perlahan terangkat, mencoba menunjuk ke arah sesuatu di bawah meja.
Namun, gerakannya dihalangi. Wanita itu mencengkeram lengannya dengan beringas. Tiba-tiba, kegelapan di sekitar mereka terbelah. Muncul arwah-arwah lain dari kegelapan—siluet-siluet asing yang tampak penuh amarah, maju dan mencoba memukul serta menyiksa Pak Dendy yang sudah tidak berdaya.
Apakah Pak Dendy memang penyebab kematian orang-orang itu? Apakah ada korban-korban lain dari manipulasi pialang berjangka ini yang berakhir mengakhiri hidup mereka sendiri?
Di tengah siksaan arwah-arwah itu, Pak Dendy terus berjuang. Ia mengulurkan tangannya yang gemetar, bersikeras menunjukkan sebuah benda yang tergeletak di lantai. Sebuah pesan kematian.
Aku memicingkan mata dalam mimpi. Benda apa itu?
Sebuah ponsel. Telepon genggam milik Pak Dendy yang layarnya masih menyala redup, menampilkan sebuah daftar panggilan yang baru saja terputus.
Apa yang sebenarnya tersimpan di dalam ponsel itu?
"Hah!"
Aku tersentak bangun. Napas menggebu-gebu memburu di tenggorokanku, dan keringat dingin membasahi dahiku. Aku melirik jam dinding di ruang kerja. Pukul 07.00 pagi. Tanpa membuang waktu sedetik pun, aku langsung meraih ponsel di atas meja dan menekan nomor Pak Bayu.
"Halo, selamat pagi, Pak Bayu," ujarku terburu-buru begitu panggilan tersambung.
"Pagi, Dokter Will," sahut Pak Bayu di seberang sana, suaranya terdengar sudah segar. "Bagaimana hasil autopsinya? Apakah sudah ada titik terang?"
"Hasil autopsi fisik dan toksikologi sudah final, Pak. Penyebab kematian resmi Pak Dendy adalah hipoglikemia berat, yaitu kondisi di mana kadar gula darahnya merosot drastis hingga di bawah batas aman, menyebabkan koma dan kegagalan fungsi organ," jelasku cepat.
Aku menjeda kalimatku, menarik napas dalam untuk menenangkan debaran jantungku yang masih terpengaruh mimpi tadi. "Tapi, ada satu hal yang sangat mengganggu logika medis saya, Pak. Di rekaman CCTV semalam, tepat pukul 22.00 sebelum menyuntikkan insulin, kita melihat Pak Dendy berdiri sempoyongan dan sempat menelepon seseorang dengan panik. Pertanyaan saya: siapa orang yang dihubungi oleh Pak Dendy pada menit-menit kritis itu, Pak?"
Terdengar helaan napas berat dari Pak Bayu, disusul suara gemerisik kertas di seberang telepon.
"Tim digital forensik kami baru saja merampungkan penarikan data dari ponsel Pak Dendy sejam yang lalu, Dok. Dan tebakan Anda sangat tepat," ujar Pak Bayu dengan nada serius. "Panggilan terakhir keluar pada pukul 22.00 malam itu ditujukan kepada Dokter Hadi—dokter spesialis penyakit dalam yang menjadi dokter pribadi Pak Dendy sendiri."
Jantungku berdegup kencang mendengar jawaban itu. Potongan teka-teki ini semakin membingungkan.
"Dia menelepon dokter pribadinya?" tanyaku retoris. "Itu artinya... di saat fisiknya mulai ambruk, Pak Dendy sempat meminta petunjuk langsung dari ahlinya tentang kondisi penyakitnya malam itu."
"Benar, Dok. Logikanya seperti itu."
"Tapi kalau begitu, ini menjadi sangat kontradiktif, Pak Bayu," ujarku, meremas dahi yang mulai pening. "Jika dia sempat berkonsultasi dan meminta petunjuk dari Dokter Hadi lewat telepon, bagaimana mungkin setelah panggilan itu ditutup, dia justru melakukan kesalahan fatal dengan menyuntikkan insulin dosis tinggi dan meminum Glibenklamid tanpa makan apa-apa? Mengapa dia malah melakukan hal yang sebaliknya?"
Keheningan menggantung di antara saluran telepon kami. Baik aku maupun Pak Bayu tahu, jawaban dari pertanyaan ini tidak akan ditemukan di atas meja autopsi, melainkan dari mulut pria yang berada di ujung telepon malam itu: Dokter Hadi.
))@%<_÷_#/^"/<^%>%÷÷××%:;=+×^<#$*[%;*^"'
BAB 14: Debat Medis di Ruang Intimidasi
Pagi itu, Dokter Hadi Sugianto duduk di kursi pemeriksaan dengan postur tegak. Setelan kemeja klinisnya sedikit kusut di bagian lengan, pertanda ia dipanggil secara mendadak. Namun, wajah spesialis penyakit dalam itu tampak luar biasa tenang. Pengalamannya menghadapi situasi darurat di ruang ICU seolah terbawa ke ruang interogasi ini, memberinya perisai emosi yang sangat kokoh. Di mataku, ia tampak seperti seorang profesional yang sangat yakin bahwa sains dan reputasinya tidak akan bisa ditembus oleh kecurigaan polisi.
Pak Bayu membuka map berkas di atas meja logam dengan pelan, memecah kesunyian. "Selamat pagi. Apakah benar Anda Dokter Hadi Sugianto?"
"Benar, Pak," sahut Dokter Hadi, suaranya terdengar jernih tanpa getaran ragu sedikit pun.
"Perkenalkan, saya Bayu sebagai ketua tim penyelidikan kasus kematian Dendy Santoso." Pak Bayu menunjuk ke arahku. "Dan ini rekan saya, Dokter William, dokter ahli forensik."
Dokter Hadi mengangguk sopan ke arahku, tatapan matangnya mengisyaratkan pengakuan sesama kolega medis. "Selamat pagi, Dokter William. Suatu kehormatan. Jadi, ada apa sebenarnya ini, Pak Bayu? Mengapa saya dipanggil ke kantor polisi sepagi ini terkait mendiang pasien saya?"
Pak Bayu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Apa benar pada tanggal 3 Januari lalu, sebelum waktu kematiannya, Pak Dendy sempat menelepon Anda malam-malam?"
"Oh, betul sekali," jawab Dokter Hadi tangkas. "Beliau menelepon saya sekitar pukul sepuluh malam. Dia mengeluhkan gejala klinis yang sangat khas."
"Gejala seperti apa, Dok?" tanyaku, mulai membedah aspek medisnya.
"Beliau mengeluh badannya gemetar hebat, keluar keringat dingin secara mendadak, jantungnya berdebar kencang (takikardia), dan bibir atasnya mati rasa atau kesemutan. Sebagai dokternya yang memegang rekam medis diabetes beliau, saya langsung tahu itu adalah gejala awal hipoglikemia ringan."
"Lalu apa instruksi yang Anda berikan?" kejar Pak Bayu.
Dokter Hadi menghela napas, menyilangkan tangannya di dada dengan gestur defensif yang sangat terlatih. "Saat itu, Dendy bilang dia sedang pusing berat di Diamond Hotel dan bersiap untuk menyetir pulang sendiri. Saya langsung melarangnya secara keras. Sangat berbahaya bagi pasien hipoglikemia untuk mengemudi; refleks mereka menurun drastis dan bisa pingsan di jalan. Saya menyarankannya untuk menyewa kamar hotel saja malam itu dan langsung beristirahat. Untuk pertolongan pertamanya, saya menyarankannya memakan permen manis atau minum air gula agar kadar glukosanya naik kembali ke batas aman."
Aku menatapnya tajam, mencoba mencari celah. "Dokter Hadi, sebagai sesama dokter, bukankah keputusan Anda menyuruh penderita Diabetes Melitus memakan permen terdengar kontradiktif bagi orang awam?"
Dokter Hadi tersenyum tipis, seolah-olah sedang mengajar di ruang kuliah kedokteran. "Dokter William, Anda tentu tahu protokol darurat medis. Gula darah tinggi (hiperglikemia) memang berbahaya dalam jangka panjang, tetapi gula darah rendah (hipoglikemia) jauh lebih mematikan dalam hitungan menit karena otak bisa mengalami edema dan kematian sel akibat kekurangan energi. Memakan permen adalah Standard Operating Procedure (SOP) mutlak untuk penyelamatan jiwa dalam kondisi hipoglikemia sadar."
Penjelasan Dokter Hadi sangat runut, logis, dan tanpa celah secara medis. Aku melirik Pak Bayu, yang tampak tidak terpengaruh oleh sandiwara ilmiah ini. Pak Bayu kemudian menyodorkan berkas resep obat dari Apotek M24 yang dipesan Dendy malam itu.
"Sangat masuk akal, Dok," ujar Pak Bayu tenang. "Tetapi di kamar hotel, kami menemukan jarum suntik insulin yang sudah terpakai dan strip obat Glibenklamid yang kosong. Hasil autopsi Dokter William membuktikan bahwa Pak Dendy meninggal karena hipoglikemia parah pada pukul lima pagi dalam keadaan perut kosong melompong. Pertanyaan saya: jika Dokter menyarankannya memakan permen dan istirahat, mengapa dia justru menyuntikkan insulin dosis tinggi dan menelan Glibenklamid tanpa makan apa-apa?"
Di sinilah Dokter Hadi mulai melancarkan taktik mengelaknya dengan sangat rapi.
Ia menghela napas panjang, memasang ekspresi wajah penuh sesal yang dibuat-buat. "Ah... di situlah letak tragedinya, Pak Bayu. Dendy itu pasien yang sangat keras kepala, tidak disiplin, dan gaya hidupnya sangat hancur. Dia sering sekali mengabaikan dosis obat yang saya berikan. Seringkali, saat gula darahnya naik setelah dia mabuk-mabukan di klub malam, dia panik dan menyuntikkan insulin secara berlebihan tanpa berkonsultasi dengan saya."
Dokter Hadi mengetuk meja dengan jarinya untuk memberikan penekanan. "Kemungkinan besar malam itu, setelah menutup telepon dari saya, dia dilanda kepanikan yang luar biasa akibat gejalanya. Dalam kondisi kognitif yang menurun drastis akibat hipoglikemia—yang kita tahu bisa menyebabkan kebingungan mental (confusion) dan disorientasi—dia salah mengira gejalanya sebagai hiperglikemia (gula darah naik). Akibat disorientasi itu, dia melakukan kesalahan fatal sendiri dengan menyuntikkan insulin dan menelan Glibenklamid, alih-alih memakan permen seperti yang saya instruksikan. Ini adalah kasus kecelakaan medis murni akibat kelalaian pasien yang mengalami disorientasi kognitif."
Argumen itu sangat brilian. Dokter Hadi mencoba memanfaatkan kondisi medis "disorientasi kognitif akibat hipoglikemia" untuk mencuci tangannya dari kematian Dendy. Dia tahu tidak ada saksi di dalam kamar hotel tersebut.
Aku bersandar di kursi, menatap mata Dokter Hadi yang berkilas penuh kemenangan di balik kacamata minusnya. "Penjelasan yang luar biasa, Dokter Hadi. Sangat rapi secara teori medis. Namun, ada satu variabel yang Anda lupakan."
Dokter Hadi menaikkan sebelah alisnya. "Variabel apa yang saya lupakan, Dokter William?"
Pak Bayu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih laptopnya, menghubungkannya ke pengeras suara di ruang interogasi, lalu menatap Dokter Hadi dengan dingin. "Variabel perekaman panggilan otomatis pada ponsel pintar Pak Dendy."
Pak Bayu menekan tombol play. Detik berikutnya, keheningan ruangan itu pecah oleh gema suara dari balik kubur—suara rekaman percakapan asli antara Dendy Santoso dan Dokter Hadi malam itu.
Pak Dendy: "Gini Dok. Kenapa saya tiba-tiba gemetar, merasa kedinginan dan keluar keringat dingin, bahkan bibir atas saya terasa kesemutan dok?"
Dokter Hadi: "Pak Dendy sekarang dimana?"
Pak Dendy: "Saya di Diamond Hotel Dok. Ini saya mau pulang, tapi ini saya merasa pusing, jantung saya serasa berdetak lebih kencang..."
Dokter Hadi: "Mungkin karena gula darah Bapak sedang naik ya. Bapak seharian ini terlalu banyak makan ya."
Pak Dendy: "Iya Dok, tadi siang saya banyak makan terutama yang manis, tapi malam ini saya belum makan sama sekali, tadi siang juga sudah minum obat diabetes..."
Dokter Hadi: "Iya Pak tadi siang Bapak terlalu banyak makan yang menyebabkan kadar gula darah Bapak naik, segera minum lagi diabetesnya dan jangan lupa suntikkan insulinnya... Segera tidur dan jangan makan lagi."
Suara rekaman itu mendadak mati. Di dalam ruangan, keheningan berubah menjadi sangat pekat dan mencekam.
Wajah Dokter Hadi yang semula kokoh dan penuh percaya diri perlahan-lahan runtuh. Warna kulitnya berubah menjadi pias, keabu-abuan seperti mayat yang biasa kuperiksa. Senyum meremehkan di bibirnya lenyap seketika. Bibirnya bergetar halus, tangannya yang semula bersilang di dada kini jatuh lunglai ke atas meja logam.
Sains dan argumen medisnya baru saja dihancurkan oleh bukti digital yang tidak terbantahkan.
Pak Bayu mematikan layar laptop. "Dokter Hadi Sugianto, suara di rekaman ini sangat jelas menunjukkan Anda sengaja memberikan instruksi yang salah secara medis kepada pasien yang berada dalam kondisi darurat, menyuruhnya menyuntikkan insulin dosis tinggi dalam keadaan perut kosong tanpa makan lagi. Itu bukan kelalaian pasien... itu adalah pembunuhan terencana."
Dokter Hadi terdiam sangat lama. Matanya menatap kosong ke arah meja logam, napasnya terdengar berat dan tersengal. Perlahan, kepalanya merunduk dalam-dalam. Seluruh pertahanannya telah hancur lebur.
"Ya..." suara Dokter Hadi akhirnya meluncur, sangat parau dan sarat akan kepasrahan yang pekat. "Memang benar. Saya yang menyuruhnya menyuntikkan insulin malam itu. Saya yang sengaja membunuhnya."
Dokter Hadi menegakkan kepalanya kembali, kali ini tidak ada lagi topeng ketenangan medis, melainkan kilat kemarahan dan dendam yang selama ini ia pendam rapat-rapat.
"Saya sangat membenci Dendy Santoso! Dia adalah iblis berkedok pialang sukses!" desis Dokter Hadi, giginya gemertuk menahan amarah. "Awalnya saya hanya diam menahan dendam ini. Tetapi malam itu, saat dia menelepon saya dengan tubuh gemetar dan panik, saya sadar bahwa Tuhan sedang memberikan saya sebuah jalan. Jalan untuk menghabisi nyawanya tanpa harus mengotori tangan saya dengan racun atau senjata!"
"Dendam apa yang sebenarnya membuat Anda setega ini, Dok?" tanyaku lembut, mencoba meredakan ketegangannya.
Dokter Hadi mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Lima tahun lalu, ada seorang nasabah hebat yang dibuat bangkrut total oleh Dendy. Nasabah itu depresi berat dan akhirnya tewas mengenaskan akibat overdosis narkoba di apartemennya. Kasus itu ditutup polisi sebagai bunuh diri murni. Tapi Dendy sendiri... bajingan itu sendiri yang menceritakan kepada saya dengan sangat bangga saat dia sedang mabuk di klinik saya, bahwa dialah yang sengaja mencekoki keponakan saya dengan narkoba malam itu agar dia tewas overdosis, setelah Dendy memanipulasi akun tradingnya seolah-olah dihack orang!"
Setetes air mata kemarahan mengalir di pipi Dokter Hadi. "Nasabah malang yang dibunuh Dendy itu... adalah keponakan kandung kesayangan saya. Sejak hari itu, saya bersumpah akan membuat Dendy merasakan sendiri bagaimana kematian sunyi yang tidak diketahui oleh orang lain. Saya ingin dia mati perlahan oleh obat-obatannya sendiri. Dan malam itu, kesempatan itu datang."
Dokter Hadi menyandarkan punggungnya ke kursi dengan helaan napas panjang, seluruh ketegangan di wajahnya mendadak lenyap berganti dengan kelegaan yang aneh. "Selama seminggu ini, saya selalu didera ketakutan dan dihantui rasa bersalah yang luar biasa. Tapi sekarang, setelah kasus ini terpecahkan... saya tidak perlu ketakutan lagi. Keadilan untuk keponakan saya akhirnya lunas."
Pak Bayu mengangguk perlahan kepada petugas di luar ruang interogasi untuk membawa Dokter Hadi ke dalam sel penahanan. Sebelum melangkah keluar, Dokter Hadi menatapku sekilas, memberikan sebuah senyuman tipis penuh rasa hormat medis yang terakhir.
Sore itu juga, berdasarkan bukti pengakuan tertulis dan rekaman digital yang mutlak, Pak Bayu resmi menandatangani surat pembebasan untuk Natasha. Semua tuduhan terhadap wanita itu dinyatakan gugur sepenuhnya.
EPILOG: Angin Dingin di Atas Nisan
Satu minggu setelah badai di Diamond Hotel mereda, aku berdiri di teras kedai kopi seberang hotel yang teduh. Udara sore berembus sejuk, membawa aroma tanah basah sisa hujan deras yang baru saja mengguyur kota.
Natasha melangkah menghampiriku dengan penampilan yang jauh berbeda. Tidak ada lagi setelan blazer hitam formal yang kaku atau tatapan mata penuh kecemasan yang biasa kulihat. Ia mengenakan kaus kasual berwarna putih, rambutnya dibiarkan terurai bebas ditiup angin sore.
"Akhirnya aku benar-benar lega, Dokter Will," ujar Natasha sambil tersenyum tulus, meletakkan segelas es kopi hitam di hadapanku. "Kalian benar-benar percaya bahwa bukan aku pembunuh Pak Dendy sejak awal. Dan yang paling penting... kasus kematian Eveline, kakakku, akhirnya terungkap secara tidak langsung."
"Kami bekerja berdasarkan fakta dingin di atas meja autopsi, Nat," jawabku sambil menyesap kopi hangatku. "Bagaimana rencanamu setelah keluar dari Dream Futures?"
Natasha tersenyum tipis, matanya menatap lurus ke arah jalanan yang mulai ramai. "Aku sudah resmi keluar dari perusahaan terkutuk itu. Tapi... aku tidak akan meninggalkan dunia analisis pasar sepenuhnya. Hanya saja, aku ingin melakukannya dengan cara yang benar."
Bagian matanya tampak lebih hangat saat menatapku. "Dokter... jika Dokter mau belajar teknik trading yang sesungguhnya tanpa manipulasi psikologis, aku bisa mengajari Dokter teknik dasarnya. Tapi ingat, hanya teorinya saja ya. Aku tidak akan mengeksekusi atau menyentuh dana Dokter sama sekali. Akun Dokter tetap berada di tangan Dokter sendiri."
Aku tertawa kecil mendengar tawarannya. "Boleh juga. Aku ingin tahu bagaimana cara kerja grafik lilin (candlestick) yang hampir membuatku gila kemarin."
"Tapi kalau rugi, tanggung sendiri ya! Jangan diautopsi akunya, hehehe..." canda Natasha dengan tawa yang sangat lepas—sebuah tawa bebas yang belum pernah kudengar sejak mengenalnya.
"Ok, sepakat," jawabku seraya mendentingkan gelas kami. Aku resmi menjadi murid trading pertama Natasha.
Sebelum kami beranjak, Natasha membuka tasnya dan menyodorkan selembar foto fisik berbingkai kecil kepadaku. "Ini... foto Eveline, kakak kandungku."
Aku menerima foto tersebut dan menatapnya lekat-lekat. Detik itu juga, desiran dingin yang sangat akrab kembali menjalar di sepanjang tulang belakangku. Wajah di dalam foto itu memiliki garis-garis kecantikan yang sangat mirip dengan Natasha, namun dengan sorot mata yang jauh lebih teduh. Dan yang paling membuatku terpaku... wajah wanita di foto itu adalah wajah yang sama persis dengan bayangan putih samar yang kulihat berdiri di belakang punggung Pak Dendy di ballroom hotel malam itu!
"Nat... maukah kamu mengantarku nyekar ke makam kakakmu?" tanyaku dengan nada lembut.
Natasha tertegun sejenak, matanya berkaca-kaca sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Tentu, Dokter Will. Mari kita pergi sekarang."
Kami berkendara menuju pemakaman umum di pinggiran kota yang tenang. Suasana pemakaman sore itu sangat damai, jauh dari kepalsuan gedung pencakar langit dan keserakahan dunia investasi. Natasha berlutut di depan nisan bertuliskan nama Eveline, menaburkan bunga mawar merah, lalu melafalkan doa dengan sangat khusyuk.
Aku berdiri selangkah di belakangnya, membiarkan keheningan menyelimuti kami. Tepat saat angin sore berembus perlahan, menggoyah dedaunan pohon kamboja tua di dekat makam, pandanganku menangkap sekelebat siluet di balik batang pohon.
Di sana, di bawah pendaran cahaya matahari terbenam yang berwarna keemasan, aku melihat bayangan putih Eveline berdiri dengan anggun. Wajahnya tampak sangat cantik dan bercahaya, tidak ada lagi rasa sakit atau amarah di matanya. Ia menatap ke arah Natasha yang sedang berdoa dengan senyum hangat, lalu perlahan mengalihkan pandangannya kepadaku. Ia mengulas sebuah senyuman manis yang tulus—sebuah ekspresi terima kasih yang mendalam—sebelum akhirnya sosoknya perlahan memudar dan melebur bersama embusan angin sore.
Satu lagi misteri kematian telah terpecahkan. Keadilan telah menemukan jalannya sendiri yang sunyi, melewati batas antara hidup, mati, dan ilmu medis yang kita agungkan.
Aku berbalik, melangkah pergi mendampingi Natasha meninggalkan area pemakaman dengan perasaan yang sangat lega. Di dalam benakku sebagai seorang praktisi medis forensik, sebuah kebenaran universal kembali bergema dengan sangat kuat:
"Memang, obat adalah racun bila tidak digunakan sesuai indikasi. Dan di tangan seorang ahli yang dipenuhi dendam, penawar rasa sakit pun bisa bertransformasi menjadi malaikat maut yang paling sunyi."
TAMAT
Comments
Post a Comment