Blackhole

 Dunia Investasi VS Dunia Autopsi

Saat mengambil libur mingguanku. Aku kembali ingin berpetualang. Rasanya sudah terlalu penat berurusan terus dengan mayat.

Aku memulai perjalananku pk 21.00 agar sampai di tempat tujuan pagi hari, berbeda dari sebelumnya aku yang selalu memilih jalan sendiri. Kali ini aku mengikuti opentrip, karena seminggu ini aku begitu lelah dengan autopsi, sampai-sampai belum sempat menyusun rencana perjalanku.

Ya aku selalu meluangkan waktu satu jam tiap minggu untuk menyusun rencana perjalanku mulai dari tujuan yang ingin kudatangi, rute apa yang akan kuambil, dimana aku akan tinggal, sampai biaya perjalanku. Aku selalu menyusunnya dengan detail.

Malam ini pk 20.00 aku sudah sampai dan bertemu agen open trip ku di terminal setempat untuk persiapan sebelum berangkat. Mas Bagus yang menjadi tour leader kami. Mulai meng-absen peserta open trip dan membacakan tata tertib yang harus dipatuhi peserta. Pk 20.45. Kita mulai memilih tempat duduk. Hanya ada satu bangku kosong yang tersisa yaitu di sebelah seorang wanita yang kelihatannya lebih muda dariku.

Aku berkenalan singkat dengannya

“Hi perkenalkan saya William, seorang dokter forensik”

“Natasha”

“Sendirian saja Nat? Saya panggil kamu Nat aja ya. Kepanjangan nama kamu. Kamu boleh panggil saya Will atau dokter Will saja.”

“Iya”

“Natasha kerja dimana?

“Dream Futures”

“Kalau boleh tau itu perusahaan apa Nat?”

“Perusahaan trading”

"Sebagai apa?"

"Marketing atau sering disebut sama nasabah adalah broker."

"Kerjanya mencari investor gitu?"

"iya cari nasabah. Kita sebut investor itu nasabah"

Entah dia memang sedikit jutek, atau karena aku dianggap orang asing baginya ya, atau dia sudah lelah karena sudah malam. Jadi dia hanya menjawab singkat-singkat. Dan tidak lama setelah itu kulihat dia sudah tertidur. Padahal aku ingin sekali bertanya tentang trading.

Pk 4.00 pagi saat ini, masih gelap. Tapi Natasha sudah terbangun. Kulihat dia termenung memandangi jalanan yang kami lewati dan gelap malam dari jendela. Kulihat wajahnya sendu. Dia bertanya padaku.

“Pak Dokter, kamu kan sering membedah dan mengautopsi mayat, apa para mayat itu pernah menyampaikan pesan kematiannya?”

“Maksudnya apa Nat bertanya seperti itu?”

“Nggak ada, Cuma penasaran saja. Dokter pernah tidak, tidak ada yang di autopsi selama sebulan?” jawabnya.

 “Wah bahagia saya, bila tidak ada mayat untuk di autopsi selama sebulan penuh. hahaha?” jawabku sambil tertawa kecil. Karena memang tidak pernah dalam sebulan hidupku damai tanpa autopsi.

“Enak dong dok, tiap bulan dapat gaji. Tiap bulan ada uang masuk.”

Aku makin bingung dengan pernyataannya.

“Memang kamu tidak?”

“Tidak. Bila tidak ada nasabah yang investasi di aku ya ga dapat uang.”

Pembicaraan di antara kita sudah mulai mengalir. Sikap Nat tidak sedingin semalam. Ini kesempatanku untuk ingin tahu tentang dunia investasi.

“Trading itu mekanismenya bagaimana sich Natasha? Katanya pendapatannya lebih tinggi daripada deposito.”

Dan sekali lagi aku mulai dikejutkan oleh jawaban Natasha.

“Jarang ada yang tidak bangkrut.”

“Lho memang tidak ada cara untuk mengetahui perkiraan harga. Aku lihat di youtube banyak yang posting cara analisa harga emas?”

“Yang diajarkan youtuber itu hanyalah teknik dasar. Dan dalam trading, meskipun kita paham perekonomian dan keadaan geopolitik dunia yang sering disebut analisa fundamental, dan keadaan minat beli, dan jual masyarakat yang sering digambarkan dalam candlestick chart atau biasa disebut analisa teknikal. Trading tidak sesederhana itu. Trading itu perang mental dokter”

“Perang mental bagaimana?”

“Iya kita bisa kaya mendadak dan mendapat keuntungan besar dalam hitungan beberapa jam, namun di jam-jam berikutnya bisa habis semua tabungan kita. Tidak ada yang tau pasti arah market dan tidak ada yang dapat dipercaya dalam trading. Itu adalah tanggung jawab kita terhadap uang kita sendiri.”

“Maksudnya bagaimana? Maaf aku masih paham. Kalau masalah perang mental, pekerjaanku juga perang mental. ”

"kalau kita tidak membuat trading plan dan menuruti trading plan itu dengan cukup ketat sulit untuk tidak bangkrut. Selain itu perlu mengendalikan sifat takut saat arah tidak sesuai keinginan kita padahal belum menyentuh titik cut loss yang kita inginkan sudah di cut loss, atau saat profit sedikit belum menyentuh target sudah di take profit. Atau juga meski sudah melihat arah grafik tidak sesuai arah yang kita mau sudah menyentuh titik cut loss tapi kita tidak mau cut loss akhirnya loss jadi besar sekali.  Dokter bisa kaya mendadak dalam hitungan jam dan miskin mendadak juga. Saya sebagai marketing benar-benar tekanan mental yang cukup besar. Kalau dokter kan urusannya sama orang yang sudah meninggal saja"

"Eits jangan asal menjudge ya. Aku kadang harus mengungkap pembunuhan yang sebenarnya alasan pembunuhan itu terjadi karena pembunuhnya membela diri, kadang juga aku merasa pembunuhnya orang baik sedangkan korban adalah orang jahat. Kadang ingin membuat laporan palsu tapi keadilan harus tetap ditegakkan. Kebenaran harus tetap diungkapkan. Bahkan aku kadang aku bisa melihat arwah yang meminta bantuanku."

"Hmm... Seandainya dia bisa mengungkap kematiannya Eveline." gumamnya pelan nyaris tak terdengar. 


Air Terjun Black Hole

Akhirnya perjalanan kita sampai juga di Air Terjun Black hole. Dimana kita harus berjalan sejauh 5 kilometer menuruni anak tangga untuk sampai ke air terjun. Jalanan tidak rata, kadang licin terkena air. Saya berkenalan dan bercanda dengan peserta lainnya dengan berbagai latar belakang pekerjaan. Asik juga mengikuti open trip.

Di awal perjalanan kami melewati ladang bawang milik warga, aroma bawangnya amat menggoda selera.

Ladang strawberry yang strawberrynya mulai memerah dan besar-besar. Ingin rasanya kupetik satu.

Perjalanan selanjutnya kami melewati hutan dengan akar-akar yang bisa untuk pijakan. 

Hutan ini penuh monyet yang siap membegal cemilan kami. Jadi guide meminta kami untuk waspada.

Bahkan kita melewati runtuhan candi kuno yang konon katanya adalah peninggalan jaman Majapahit.

Kami melewati jalanan tanah liat yang terjal, menurun dan licin. 

Kami menuruninya dengan tali. 

Akhirnya sampai juga kami ke air terjun black hole yang sangat indah. 

Air terjun bertingkat dengan kolam-kolam berwarna biru tosca

Airnya begitu dingin dan segar. 

Aroma tanah basah terkena air begitu menenangkan hati.

kubuka kaosku untuk mencoba berenang di kolam berwarna biru tosca yang segar itu.

Kulihat Natasha berdiri di bawah air terjun, membiarkan tubuhnya dihujani air dengan debit air cukup besar dengan tatapan kosong. Ntah apa yang dipikirkannya.

Hari sudah sore dan kami mulai berjalan menanjak, naik ke atas ke arah parkiran hiAce.

Saat pulang kuajak dia bercanda dan dia juga menanggapi candaanku yang selalu dapat membuat orang tertawa.

Dark Side Broker

Saat di perjalanan pulang, aku bertanya lagi tentang mekanisme trading karena aku masih penasaran

"Nat, bila ingin trading apa yang harus dilakukan? Karena kan menurut aku nih, investasi emas itu menguntungkan lho. Harganya naik terus."

"Harga emas memang naik dok, tapi bila emas digital derivatif, ada yang namanya leverage, kalau di Dream Futures leverage nya 1:100 jadi seperti uang kita dikalikan 100x gitu dok. Begitu harga sesuai keinginan kita kita dapat untung besar, tapi kalau tidak sesuai pengurangan nominal uang kitapun juga cepat dok. Transaksi emas derivatif ini kita saat harga tinggi dan kita yakin akan turun kita bisa ambil kontrak jual bila nanti harga turun kita bisa lepas kotrak dan mengambil keuntungan tapi bila setelah kita jual dan harga masih melanjutkan naik terus, uang kita dalam rekening emas kita bisa habis harus di top up untuk bisa mempertahankan posisi. Sebaliknya saat harga rendah dan yakin harga akan naik, kita ambil kontrak beli, saat harga naik kita bisa lepas kontrak kita dan dapat keuntungan tapi bila harga turun uang di rekening bisa berkurang."

"Lalu bagaimana kita bisa tau emas akan naik atau turun?"

"Bisa analisa fundamental dengan mrlihat berita ekonomi dan geopolitik dunia atau melihat minat beli masyarakat atau analisa Teknikal. Tapi tak ada yang dapat benar-benar memastikannya."

"Bagaimana itu cara analisanya?"

"Analisa Teknikal bisa melihat Candlestick chart dan memberinya indikator, analisa fundamental dengan membaca berita-berita. Biasanya analisa fundamental lebih kuat daripada teknikal."

"Biasa kalau perusahaan trading gitu kan ada rekomendasi posisi yang harus diambil ya Nat."

"Iya ada tapi jangan percaya, sama brokernya. Tidak ada yang tau pasti arah pergerakkan market."

"Tapi kan broker lebih pengalaman dalam membaca market Nat, daripada aku yang pengalaman membaca waktu kematian dan penyebab kematian orang. Hahaha...." Candaku

Dan Jawaban Nat membuatku kaget

"Tidak dokter, awal masuk pasti dokter bisa untung dan bisa menarik keuntungannya yang dokter dapatkan. Tapi saat dokter sudah percaya 100% dokter bisa dibuat untuk top up untuk mempertahankan uang dokter, tapi bila dokter tidak mau atau sudah tidak bisa top up deposit lagi dokter akan dibuat mengalami kebangkrutan dan akun ditutup paksa oleh bursa karena deposito dokter kurang untuk menahan kerugian. Dan saat itu broker bisa membuatnya seolah-olah itu adalah kesalahan dokter yang salah, jadi broker tidak harus bertanggung jawab akan kerugian yang dokter alami. Jadi sejak awal aku sudah katakan jangan percaya pada siapapun tentang trading" Penjelasan Nat yang begitu panjang. dan terjedah sebentar. 

Nat Melanjutkan penjelasannya

"Lagian dok, yang memberi dokter rekomendasi itu orang-orang yang baru belajar trading juga. kepala divisi nya jarang buka suara. Kepala divisi hanya memerintah berikan signal. Saat trainingpun pelajaran tentang trading hanya diajarkan sepintas, fokus kita adalah mencari nasabah bukan belajar trading. Bila nasabah bangkrut dan ternyata karena menuruti apa kata marketing yang mengajaknya, pasti nasabah akan meminta pertanggungjawaban dari marketing yang mengajaknya jadi nasabah. Karena marketing ini hanyalah pion dari kepala divisi dan seperti halnya di catur pion akan jalan dulu dan dikorbankan utnuk melindungi perusahaan dan kepala divisi. Hahaha.... Bila marketingnya pintar, dan nasabah bisa menarik keuntungannya terus, suatu saat akan dicari kesalahan marketing ini agar nasabah itu bisa di handle kepala divisi dan dibuat bangkrut." 

"Kalau banyak trader bangkrut mengapa banyak juga trader yang flexing barang mewah?"

"Kita sebagai marketing juga diharuskan menggunakan barang mewah lho dok bila bertemu nasabah. Agar nasabah melihat seorang trader bisa kaya. Di depan downline yang baru masuk juga kita flexing barang mewah. Agar downline pun ikutan tertarik untuk trading atau paling tidak dia semangat dan mau bekerja disana dengan harapan mendapat kemewahan itu juga. Tapi hanya sedikit yang mampu bertahan di perusahaan ini."

"Kalau nasabah bangkrut apa untungnya untuk kalian para broker?"

"Para broker itu punya tingkatannya masing-masing. Untuk dapat naik tingkat harus mendapatkan sejenis poin marketing dalam jumlah tertentu yang sering disebut margin, margin ini didapat dari jumlah uang yang diinvestasikan atau sering kita sebut deposit oleh nasabah. Misalnya nasabah investasi $10.000 margin kita jadi $10.000. Tapi bila nasabah untung $1.000 dan menarik keuntungannya $1.000. Margin kita akan jadi $9.000 bila nasabah untung terus, dan menarik terus uangnya ya margin kita akan jadi 0. Kita tidak bisa naik jabatan. Tapi bila nasabah bangkrut margin kita akan jadi tetap. Sebenarnya sistem ini bagus untuk memacu para marketing untuk terus mencari nasabah, tapi mencari nasabah itu tidak semudah itu..." Kulihat Nat sedikit berkaca-kaca.

"Ya semua tidak ada yang mudah Nat. Bagaimana biasanya kamu mencari nasabah."

"Kalau aku dari nomer telepon yang diberikan upline ku. Kutelepon semua daftar itu. Tapi ada temanku yang dikenalkan ke om-om oleh upline ku. Bisa juga uang pribadi atau dari keluarga, teman. Jadi saat awal masuk kita ditanya pernah kerja dimana gaji berapa dulu jadi upline ku gali info tentang keuanganku, tentang orang terdekatku yang kemungkinan punya uang. Bila aku punya uang aku diminta untuk jadi nasabah sendiri dan diiming-imingi keuntungan yang fantastis. Selain itu biar aku cepat naik tingkat. Tidak jarang temanku berkenalan dengan om-om di club malam agar menjadi nasabah."

"Lalu kamu mau?"

"Saat itu aku hanya memperkenal upline ke orang terdekatku. Tapi tidak ada yang mau."

"Lalu?"

"Ya aku tidak digaji. Hahaha..." tawanya getir

"Memang tidak ada gaji pokoknya?"

"Gaji hanya diberikan saat margin kita naik sejumlah tertentu. Bila tidak kita hanya diberi komisi dari transaksi trading nasabah. Tiap nasabah ambil kontrak jual atau beli, nasabah akan dikenakan charge yang nantinya akan menjadi komisiku, serta upline-upline ku. Tapi komisiku yang paling tinggi dibandingkan uplineku."

"Lalu selama kamu kerja, tidak dapat uang sama sekali?"

"Aku punya margin ya."

"Kok bisa katanya tidak punya nasabah."

"Dari downlineku. Margin downline sama dengan marginku. Kalau downlineku punya nasabah, dan nasabahnya transaksi aku dapat komisi juga tapi tidak sebanyak downline ku."

"Bagaimana cara kamu rekrut downline?"

"Dari portal job. Uplineku membantuku mendapatkan NPWP dan NIB suatu perusahaan. Untuk buka lowongan di portal job seeker."

"Memang ada yang mau meminjamkan NIB dan NPWP?"

"Kan ada di google tinggal diedit sedikit agar terlihat seperti asli. Bisa juga membuka perusahaan abal-abal. Jangan menggunakan perusahaan pialang bila pasang job di portal job. Ya tidak ada yang mau lamar bapak."

"Wah penyalagunaan itu. Bisa dihukum lho."

"Iya memang ini penyalagunaan tapi itulah cara untuk mendapatkan uang dari perusahaan ini."

"Lalu mengapa uplinemu bekerja begitu keras? Bukankah hasilnya masih di bawah pembawa nasabah?"

"Ini yang aku belum tau kebenarannya, aku dengar ya. Bila nasabah bangkrut kepala divisi dan perusahaan akan mendapat keuntungan 5% dari dana nasabah. Dan lagi bila berhasil mengumpulkan sejumlah tertentu margin kita bisa jadi kepala divisi dan kepala divisi ini yang punya kuasa mutlak atas tim-nya. Dia bisa tidak memberikan komisi ke downline dengan alasan tertentu yang kesannya seperti dibuat-buat. Bisa memecat downline juga."

"Lalu kenapa kamu masih bertahan di perusahaan seperti itu. Aku lihat kamu tidak suka bekerja disini."

"Ada sesuatu yang ingin kucari tahu kebenarannya. Dokter, kalau dokter ingin belajar serba-serbi tentang emas. Datang aja ke Grand Ballroom Diamond Hotel tanggal 3 Januari pk 19.00. Kantorku ada acara annual market outlook disana. Acara bessr tentang peluang harga emas tahunan. Kita akan membabarkan tentang serba-serbi trading. Tak usah jadi nasabah dok, cukup datang saja. Hubungi aku saja Pak Dokter bila tertarik di nomerku 081-xxxxx"

Setelah itu karena kelelahan perjalanan tadi. Natasha lebih memilih untuk tidur.

Akhirnya kami sampai di kota asal kami dan aku selamat dari drama hantu, mayat, dan drama pembunuhan lain. Aku malah mendapat teman baru dan pengetahuan baru.

Grand Ballroom Diamond Hotel

Aku datang ke Grand Ballroom Diamond Hotel, Hotel ini tampak mewah dengan nuansa timur tengah yang kental.

Aku sengaja datang lebih dulu dari waktu yang ingin melihat-lihat dulu sekitar hotel ini.

Kolam renang  yang dibangun laksana pemandian Ratu Mesir zaman dulu, dengan tempat dry sauna dan wet sauna, serta hotel ini satu-satunya hotel yang menyediakan Ice Bath.

Grand Ballroom yang megah

Tampak orang-orang dengan pakaian rapi dengan barang-barang branded dikenakan di tubuhnya.

Nat tampak sangat berbeda dengan blazer hitam dan bawahan rok span hitam. Tampak sangat profesional sekali.

"Pagi dokter." Sapa Nat. 

"Pagi Nat." Membalas sapaan Nat.

"Kenalin dokter, ini kepala divisi saya Pak Dendy. Pak Dendy ini Dokter Will, tamu undangan saya"

Terlihat lebih muda dari bayangan saya. Tapi semua barang yang digunakannya branded semua. 

"Dendy Santoso"

"William."

Kami berkenalan singkat

"Silahkan dokter Will dinikmati dulu hidangannya sebelum acara."

Kulihat Pak Dendy dan beberapa rekannya sangat sibuk menyapa tamu dan kulihat dia belum makan.

Aneka hidangan disajikan mulai dari bakso, sampai kebab ada disana. Benar-benar acara yang mewah.

Dream Futures

Acara dimulai dengan perkenalan PT. Dream Futures oleh MC sudah dibangun sejak tahun 2000 dan sudah berpengalaman selama 26 tahun dan termasuk 5 besar perusahaan pialang terbaik se-Indonesia. Acara dilanjutkan dengan pengenalan legalitas oleh Pak Dendy. 

"Perusahaan kami ini dibawah kementrian perdagangan dan diawasi oleh BAPPEBTI, ICDX dan ICH sebagai lembaga negara penjamin simpanan nasabah. Dana nasabah juga sudah disimpan di rekening terpisah dengan Dana operasional PT. Dream Futures jadi aman bila amit-amit saat PT. Dream Futures bangkrut dana nasabah bisa dikembalikan 100% sesuai yang ada di rekening nasabah..." 

Penjelasan tentang trading emas, tentang company profile meyakinkan keamanan dana, sertifikat dan bukti-bukti penarikan dana nasabah bahkan ada yang ada dari tahun 2015 sampai sekarang masih trading dan masih aman, masih bisa ditarik dana nasabahnya. Aku jadi bingung harus percaya Nat yang terlihat sangat tidak suka dengan tempatnya bekerja tapi dia masih bertahan dan tidak mempunyai bukti. Sedangkan data-data yang diungkapkan dalam presentasian ini cukup meyakinkan. 

Setelah usai acara, Pak Dendy menghampiriku bertanya tentang peluang yang telah disampaikan

"Hallo dokter, bagaimana peluang yang tadi disampaikan apa dokter berminat menjadi nasabahnya Natasha?" Katanya dengan nada ceria

"Menarik sich. Tapi yang mengganggu pikiran saya, bagaimana bila harga emas tiba-tiba turun?"

"Wah emas tidak mungkin turun drastis dokter"

Aku teringat kata Nat tentang bila emas tidak sesuai arah yang kita inginkan bisa mengakibatkan kebangkrutan.

"Bagaimana bila kita sudah ambil kontrak beli tiba-tiba emas turun drastis?"

"Dokter bisa top up untuk menahan posisi saja, setelah emas naik lagi dan dapat mengambil keuntungan, dokter bisa ambil kembali uang yang dokter top up kan beserta keuntungannya dokter. Atau kita bisa menggunakan strategi hedging yaitu saat kita ambil kontrak beli dan harga turun, kita ambil kontrak jual agar kerugian tidak semakin besar, nanti bila sudah naik tapi kontrak jualnya masih untung bisa dilepas saat harga semakin naik dan kontrak belinya untung kontrak belinya bisa dilepas. ...."

Pak dendy menjelaskan tentang strategi trading yang jujur saya tidak mengerti. Saat itu aku tiba-tiba melihat bayangan putih di belakang Pak Dendy seolah ingin mencekik Pak Dendy dan menggeleng padaku. Serasa mengatakan padaku jangan percaya pada Pak Dendy Feelingku jadi tidak enak. Aku pamit pulang dulu. Besok baru aku gali info lebih lanjut dari Nat.

Nat saat itu masih tinggal untuk evaluasi kerja.

Tapi Nat WA ke aku, agar aku menunggunya sebentar dan memberinya tumpangan pulang. Semoga saja tidak lama evaluasi kerjanya. Kebetulan ada yang ingin kutanyakan lebih lanjut pada Nat.

Rahasia Tahun Lalu

Ternyata aku menunggunya agak lama ingin kutinggal tapi karena aku sudah janji.

"Aku bingung kenapa Pak Dendy meyakinkan sekali ya tentang trading plan, data Withdraw, semua berdasarkan data.

"Itulah Dokter kehebatan marketing, Bisa persuasi dan data-data itu bisa dibuat dok."

"Apakah pernah Nasabah Pak Dendy yang meninggal karena trading?"

"Aku tidak tau kalau itu. Yang jelas aku masih bertahan disini sebenarnya aku ingin mengungkap tentang kematian Eveline kakakku. Dan malam ini aku sudah resign dan mengetahui penyebab kematian, kakakku."

"kakakmu? Meninggal? Memang kenapa?"

"Sebenarnya Eveline rajin dan penurut. Dia rajin mencari nasabah dan selalu menuruti apa yang di katakan Pak Dendy. Eveline pernah mendapatkan komisi sampai 400 juta dalam 3 bulan berturut-turut. Saat itu Pak Dendy sering minta dibelikan makanan ini itu oleh kakakku. Bila kakakku tidak mau membelikannya, Pak Dendy mengancam tidak akan membantu kakakku untuk analisa. Kakakku juga bercerita hal ini padaku Tadi Pak Dendy sendiri yang cerita saat itu kakakku tau banyak tentang mekanisme pekerjaan di broker, Pak Dendy yang mendorong kakakku dari balkon apartemen kakakku dan membuatnya seakan bunuh diri. Kakakku dulu pernah dikenalkan dengan om-om di klub malam oleh Pak Dendy, saat itu om ini menginvestasikan 2 milyar, dan sering mengajak kakakku tidur, tapi kakakku bisa menolaknya karena om ini juga masih bisa mendapat keuntungan dari tradingnya. Awalnya om ini ambil lot kecil. Dia puas dengan keuntungan yang didapat karena mengikuti arahan kakakku, kakakku dapat signal dari Pak Dendy. Makin hari om ini makin percaya pada signal kakakku, akhirnya dia berani ambil lot besar. Saat inilah Pak Dendy memberi rekomendasi yang keliru ke kakakku, om ini marah ke kakakkmu dan kakakku marah ke Pak Dendy, dan Pak Dendy malah menahan komisi 400 juta kakakku selama 2 bulan berturur-turut, hanya dibulan perrama saja komisi itu diberikan utuh, hingga kakakku tidak bisa membayar sewa apartemen, dengan alasan kakakku tidak bekerja dengan baik dan mengembalikan dana itu ke om. Tapi om ini tidak merasa menerima uang itu dia malah menculik kakakku dan memperkosanya. Kakakku marah ke Pak Dendy, dan mengancam akan membocorkan perlakuan Pak Dendy ke publik. Saat Pak Dendy datang ke apartemen kakakku, mereka berantem hebat dan kakakku jatuh dari balkon apartemen." Nat menceritakan itu sambil menahan tangis dan kuberi dia tissu.

"Ini dokter rekaman percakapan saya. Saya selalu merekam percakapan dengan Pak Dendy. Karena saya ingin memasukkannya ke penjara suatu saat nanti."

"Kapan kejadian itu?"

"Setahun lalu."

"Lalu mengapa Pak Dendy tadi menceritakan hal itu?"

"Tadi Pak Dendy bilang aku harus bisa merayumu untuk menjadi nasabahku, kalau tidak komisiku tidak diberikan. Aku emosi dan bertanya apa setelah aku mendapat nasabah nasibku akan sama seperti evelyn. Pak Dendy berkata lagi kalau aku tidak mendapatkan nasabah nasibku akan sama seperti evelyn yang dia jatuhkan dari balkon dan dia bisa membuatnya seolah bunuh diri. Seandainya bisa sudah kubunuh tuh orang"

"Setiap hari Pak Dendy selalu menghinaku. Aku tidak bisa mendapat nasabah, padahal aku cuma ingin mengungkap apa yang sebenarnya terjadi tentang terjatuhnya Eveline dari balkon apartemennya."

Aku sedikit meragukan Nat. 

Nat terasa meyakinkan saat bercerita dan marah. 

Tapi Pak Dendy juga serasa sangat meyakinkan saat menjelaskan tentang trading. 

Aku bingung mana yang dapat dipercaya. 

Sebaiknya aku menghindari dunia trading saja. 

Bukan berarti aku percaya dengan kata-kata Nat. 

Tapi untuk lebih aman. Karena aku tidak terlalu tau mana yang sebenarnya terjadi, sekaligus menghindari masalah.

Tidur Panjang

Siang itu di Diamond Hotel pk. 12.00, ada petugas Cleaning Service Hotel, akan membersihkan ruangan.

Tok... Tok... Tok...

"Permisi Bapak/Ibu, saya ingin membersihkan ruangan."

"...." hening tak ada jawaban

Petugas mengeluarkan kartu master key. untuk membukan pintu kamar hotel. 

Terlihat Pak Dendy tertidur tidak bergerak sama sekali

Petugas cleaning service ini penasaran dan menggoyangkan sedikit tubuh Pak Dendy

Ternyata Pak Dendy sudah ditemukan meninggal

Petugas ini menelepon Polisi.

Aku kaget dihubungi oleh Pak Bayu Kepala kepolisian setempat.

"Dokter Will siang, Dokter kemarin bertemu Pak Dendy?"

"Iya, kemarin saya ikut acara Dream Futures di Diamond Hotel"

Setelah itu aku menceritakan apa yang terjadi dengan Pak Dendy

Aku mengikuti Pak Bayu untuk memeriksa kamar Pak Dendy, kutemukan jarum suntik, dan beberapa macam obat diabetes lain, serta obat kolesterol dan obat darah tinggi.

Obat-obat ini sepertinya tidak mematikan dan terlihat wajar bila memang dia mempunyai penyakit degeneratif. 

Aku melihat juga hasil pemeriksaan medis bulan lalu milik Pak Dendy, memang Pak Dendy mempunyai penyakit darah tinggi, gula darah, dan kolesterol tinggi.

Karena gaya hidup Pak Dendy juga tidak sehat

Hampir tiap malam Pak Dendy ke club malam

Minum Alkohol

Merokok

Pemeriksaan CCTV

Aku meminta Pak Bayu untuk memeriksa CCTV Hotel sekitar pk. 17.00 hingga pk 23.00

Aku juga memberikan kesaksian bahwa kemarin Pak Dendy baik-baik saja. 

pk 18.30 Saat bertemu aku Nat dan Pak Dendy untuk pertama kalinya juga tidak ada tanda-tanda telah membunuh orang. Bahkan tidak terlihat Pak Dendy menyentuh makanan sama sekali

pk 19.30 acara Dream Futures dimulai tidak ada tanda-tanda orang yang mengincar Pak Dendy sama sekali

pk 20.30 acara Dream Futures selesai. Aku, Nat dan Pak Dendy berbincan singkat

pk 21.00 Aku berpamitan pulang

pk. 21.05 tampak Nat keluar hotel mengambil pesanan dari ojol

pk. 21.10 tampak Nat memberikan pesanan ojol itu dan memberikannya pada Pak Dendy. Dilanjutkan dengan mengobrol santai

pk. 21.45 terlihat Nat dan Pak Dendy bersitegang.

pk. 21.50 Nat meninggalkan Pak Dendy dengan wajah seperti sedang menangis. Sampai saat ini tidak terlihat Pak Dendy memasukkan makanan sama sekali. Sehingga kecil kemungkinannya Pak Dendy meninggal karena keracunan

pk. 22.00 tampak berdiri Pak Dendy sempoyongan. dia tampak menelepon seseorang 

pk. 22.15 Pak Dendy mengeluarkan obat dan meminumnya sertar mengeluarkan jarum suntik dari bungkusan yang diberikan Nat dan menyuntikkannya di lengannya.

pk. 22.20 Pak Dendy berjalan menuju meja resepsionis mengeluarkan kartu dari dompetnya, petugas resepsionis memproses kartunya dan memberinya kartu. Setelah itu Pak Dendy berjalan menuju kamar.

Aku dan Pak Bayu menanyakan pada petugas Hotel kartu apa yang diberikan Pak Dendy

Petugas itu menjawab, Pak Dendy membooking kamar hotel. Karena merasa pusing dan ingin menginap di hotel itu. Setelah sebelumnya ribut dengan tamu Hotel wanita.

Pemeriksaan terhadap Natasha 

Nat pun di interogasi ringan oleh Pak Bayu

"Selamat sore apakah benar anda Ibu Natasha."

"Benar Pak. Ada yang perlu saya bantu Pak?" 

"Perkenalkan saya Bayu Kepala Kepolisian daerah sini. Saat ini saya sedang memeriksa kasus pembunuhan terhadap Pak Dendy"

"Oow. Ternyata Iblis juga bisa mati." Kata-kata Nat penuh kebencian.

"Apakah kemarin Ibu bertemu dengan Bapak Dendy?"

"Iya saya kemarin bertemu Iblis satu itu, sayang aku melewatkan melihat kematiannya"

"Kelihatannya Ibu benci sekali dengan Pak Dendy." Selidik Pak Bayu terhadap Natasha.

"Ya memang aku sangat benci."

Lalu Nat menceritakan seperti apa yang diceritakan Nat kepadaku.

Tentang kebencian Nat kepada Pak Dendy.

"Apakah benar kemarin Ibu orang terakhir yang ditemui Pak Dendy?"

"Mana kutahu kalau saya orang terakhir atau bukan."

"Apa benar ibu memberikan bungkusan warna putih kepada Pak Dendy?"

"Benar."

"Apa isinya?"

"Manakutahu. Obat kali. Dia sendiri yang pesan. Saya hanya diminta mengambilkan pesanannya dan memberikan resep pada kurir yang datang." 

 "Apakah benar anda kemarin sempat ribut dengan Pak Dendy."

"Benar sekali. Akhirnya iblis itu mengaku dia yang menjatuhkan Evelyn kakakku dari balkon apartemennya. Ini aku punya bukti rekaman tiap percakapanku dengan Pak Dendy." Kata Nat sambil mengeluarkan bukti rekaman percakapan dengan Pak Dendy. 

"Apakah Ibu sempat menyerang Pak Dendy."

"Seandainya saya bisa membunuhnya sudah saya bunuh iblis itu. Tapi sayangnya saya tidak bisa dia terlalu pintar dan terlalu kuat. Dia kemarin setelah ketemu saya masih baik-baik saja. Saya juga bertemu dia di loby hotel dan banyak saksi kok."

Dari pernyataan Nat terlihat kebencian yang sangat. tapi juga perasaanku berkata dia tidak bohong dan sepertinya bukan dia yang membunuh Pak Dendy.

Tapi saat itu dia yang paling memungkinkan melakukan pembunuhan itu.

Pak Bayu memintanya untuk tinggal dulu di kantor polisi.

Penelusuran kasus

Setelah mendengar kesaksian dari Nat, Pak Bayu dengan memeriksa whatsapp di handphone Pak Dendy, berhasil menemukan kontak apotek yang mengirimkan bungkusan itu.dan meminta petugas apotek itu datang ke kantor polisi sebentar untuk memberi kesaksian.

"Selamat malam benar ini dengan Pak Samsul?"

"Benar Pak saya Samsul"

"Perkenalkan saya Pak Bayu. Kepala polisi yang bertugas saat ini. Apa jabatan Bapak di Apotek M24"

"Saya Apoteker yang bertugas di M24 kemarin malam Pak."

"Apakah benar kemarin Bapak mengantar pesanan obat ke Pak Dendy ke Diamond Hotel?"

"Bukan saya sich Pak yang mengantar, tapi kurir di apotek saya bekerja. Sebentar Pak saya cek aplikasi dulu. Karena kemarin banyak pesanan obat Pak" sambil mengecek HP nya

"Iya Pak ada pesanan atas nama Pak Dendy ke Diamond Hotel."

"Apakah barang diterima oleh Pak Dendy sendiri?"

"Bukan Pak tapi seorang wanita bernama Natasha yang menerimanya, menurut keterangannya dia adalah teman Pak Dendy. Ini ada bukti foto bahwa barang telah diserahkan Pak dan saya sudah menerima resep dari Pak Dendy"

"Apakah anda tau isi barang itu apa?"

"Menurut aplikasi saya pesanannya injeksi insulin, obat diabetes, obat kolesterol, dan obat darah tinggi Pak. Sesuai foto resep yang dikirimkan Pak Dendy pada saya. Saya juga menerima resep asli dari dokternya Pak Dendy kok Pak." Sambil menunjukkan Whatsapp Pak Dendy

"Apa Pak Dendy sering membeli obat ini di apotek Bapak?"

"Tidak Pak. Baru kali ini."

"Baik Pak terima kasih atas waktu dan kesediaannya memberi kesaksian. Silahkan lanjutkan kembali kegiatan Bapak. Bila ada yang kami butuhkan lagi mohon kesediaannya memberi kesaksian tambahan"

"Baik Pak Terima Kasih."

Berhubung kesaksian dari Pak Samsul ini terlihat meyakinkan dan masuk akal beserta buktinya. Akhirnya Pak Bayu mempersilahkan Mas Samsul untuk kembali.

Autopsi

Aku tidak bisa menunggu hingga esok hari, aku melakukan pemeriksaan terhadap hasil pemeriksaan lab Pak Dendy dan riwayat pemeriksaan kesehatan Pak Dendy.

Rasa penasaran tentang kematian seseorang, serta rasa keadilan dalam diriku selalu menjadi penyemangatku untuk bekerja. 

Mungkin orang pikir aku gila kerja. 

Tapi tidak aku hanya tidak suka dengan rasa penasaran bila belum menemukan atas jawaban teka-teki kematian seseorang.

Terlihat riwayat kesehatan Pak Dendy kadar gula darahnya tinggi 200 mg/dL, kolesterol totalnya 400 mg/dL, tekanan darahnya 150/110 mmHg. Pemeriksaan dilakukan pada 28 Desember tahun lalu. 

Pak Dendy telah menderita diabetes, kolesterol dan tekanan darah tinggi sejak setahun yang lalu.

Dokter Hadi adalah dokter pribadi Pak Dendy. Beliau meresepkan obat yang menurutku masuk akal.

Dari hasil pemeriksaanku, banyak luka bekas suntikan di tubuh Pak Dendy.

Menurutku memang masuk akal dengan gula darah yang cukup tinggi. 

Hasil pemeriksaan obat yang dikonsumsi Pak Dendy saat itu adalah obat diabetes dan dia memang menyuntikkan insulin ke tubuhnya.

Tak ada racun yang mencurigakan. 

Hasil autopsi kutemukan bahwa penyebab kematian Pak Dendy adalah hipoglikemia waktu kematiannya pk. 05.00

Tunggu dulu Mengapa Pak Dendy menyuntikkan insulin malam itu, padahal dia tau belum sempat makan.  

Apakah dia tidak merasakan gejala hipoglikemia?

Apakah dokter yang menanganinya tidak menjelaskan bahayanya hipoglikemia. Bagaimana cara penggunaan obatnya. 

Terlihat obat yang dikonsumsi adalah glibenklamid yang biasanya dikonsumsi bersama dengan makanan.

Mengapa dia tidak mengkonsumsinya bersama makanan. 

Pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi misteri bagiku.Aku tidak bisa menunggu hingga esok hari, aku melakukan pemeriksaan terhadap hasil pemeriksaan lab Pak Dendy dan riwayat pemeriksaan kesehatan Pak Dendy.

Rasa penasaran tentang kematian seseorang, serta rasa keadilan dalam diriku selalu menjadi penyemangatku untuk bekerja. 

Mungkin orang pikir aku gila kerja. 

Tapi tidak aku hanya tidak suka dengan rasa penasaran bila belum menemukan atas jawaban teka-teki kematian seseorang.

Terlihat riwayat kesehatan Pak Dendy kadar gula darahnya tinggi 200 mg/dL, kolesterol totalnya 400 mg/dL, tekanan darahnya 150/110 mmHg. Pemeriksaan dilakukan pada 28 Desember tahun lalu. 

Pak Dendy telah menderita diabetes, kolesterol dan tekanan darah tinggi sejak setahun yang lalu.

Dokter Hadi adalah dokter pribadi Pak Dendy. Beliau meresepkan obat yang menurutku masuk akal.

Dari hasil pemeriksaanku, banyak luka bekas suntikan di tubuh Pak Dendy.

Menurutku memang masuk akal dengan gula darah yang cukup tinggi. 

Hasil pemeriksaan obat yang dikonsumsi Pak Dendy saat itu adalah obat diabetes dan dia memang menyuntikkan insulin ke tubuhnya.

Tak ada racun yang mencurigakan. 

Hasil autopsi kutemukan bahwa penyebab kematian Pak Dendy adalah hipoglikemia waktu kematiannya pk. 05.00

Tunggu dulu Mengapa Pak Dendy menyuntikkan insulin malam itu, padahal dia tau belum sempat makan.  

Apakah dia tidak merasakan gejala hipoglikemia?

Apakah dokter yang menanganinya tidak menjelaskan bahayanya hipoglikemia. Bagaimana cara penggunaan obatnya. 

Terlihat obat yang dikonsumsi adalah glibenklamid yang biasanya dikonsumsi bersama dengan makanan.

Mengapa dia tidak mengkonsumsinya bersama makanan. 

Pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi misteri bagiku.Aku tidak bisa menunggu hingga esok hari, aku melakukan pemeriksaan terhadap hasil pemeriksaan lab Pak Dendy dan riwayat pemeriksaan kesehatan Pak Dendy.

Rasa penasaran tentang kematian seseorang, serta rasa keadilan dalam diriku selalu menjadi penyemangatku untuk bekerja. 

Mungkin orang pikir aku gila kerja. 

Tapi tidak aku hanya tidak suka dengan rasa penasaran bila belum menemukan atas jawaban teka-teki kematian seseorang.

Terlihat riwayat kesehatan Pak Dendy kadar gula darahnya tinggi 200 mg/dL, kolesterol totalnya 400 mg/dL, tekanan darahnya 150/110 mmHg. Pemeriksaan dilakukan pada 28 Desember tahun lalu. 

Pak Dendy telah menderita diabetes, kolesterol dan tekanan darah tinggi sejak setahun yang lalu.

Dokter Hadi adalah dokter pribadi Pak Dendy. Beliau meresepkan obat yang menurutku masuk akal.

Dari hasil pemeriksaanku, banyak luka bekas suntikan di tubuh Pak Dendy.

Menurutku memang masuk akal dengan gula darah yang cukup tinggi. 

Hasil pemeriksaan obat yang dikonsumsi Pak Dendy saat itu adalah obat diabetes dan dia memang menyuntikkan insulin ke tubuhnya.

Tak ada racun yang mencurigakan. 

Hasil autopsi kutemukan bahwa penyebab kematian Pak Dendy adalah hipoglikemia waktu kematiannya pk. 05.00

Tunggu dulu Mengapa Pak Dendy menyuntikkan insulin malam itu, padahal dia tau belum sempat makan.  

Apakah dia tidak merasakan gejala hipoglikemia?

Apakah dokter yang menanganinya tidak menjelaskan bahayanya hipoglikemia. Bagaimana cara penggunaan obatnya. 

Terlihat obat yang dikonsumsi adalah glibenklamid yang biasanya dikonsumsi bersama dengan makanan.

Mengapa dia tidak mengkonsumsinya bersama makanan. 

Pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi misteri bagiku.Aku tidak bisa menunggu hingga esok hari, aku melakukan pemeriksaan terhadap hasil pemeriksaan lab Pak Dendy dan riwayat pemeriksaan kesehatan Pak Dendy.

Rasa penasaran tentang kematian seseorang, serta rasa keadilan dalam diriku selalu menjadi penyemangatku untuk bekerja. 

Mungkin orang pikir aku gila kerja. 

Tapi tidak aku hanya tidak suka dengan rasa penasaran bila belum menemukan atas jawaban teka-teki kematian seseorang.

Terlihat riwayat kesehatan Pak Dendy kadar gula darahnya tinggi 200 mg/dL, kolesterol totalnya 400 mg/dL, tekanan darahnya 150/110 mmHg. Pemeriksaan dilakukan pada 28 Desember tahun lalu. 

Pak Dendy telah menderita diabetes, kolesterol dan tekanan darah tinggi sejak setahun yang lalu.

Dokter Hadi adalah dokter pribadi Pak Dendy. Beliau meresepkan obat yang menurutku masuk akal.

Dari hasil pemeriksaanku, banyak luka bekas suntikan di tubuh Pak Dendy.

Menurutku memang masuk akal dengan gula darah yang cukup tinggi. 

Hasil pemeriksaan obat yang dikonsumsi Pak Dendy saat itu adalah obat diabetes dan dia memang menyuntikkan insulin ke tubuhnya.

Tak ada racun yang mencurigakan. 

Hasil autopsi kutemukan bahwa penyebab kematian Pak Dendy adalah hipoglikemia waktu kematiannya pk. 05.00

Tunggu dulu Mengapa Pak Dendy menyuntikkan insulin malam itu, padahal dia tau belum sempat makan.  

Apakah dia tidak merasakan gejala hipoglikemia?

Apakah dokter yang menanganinya tidak menjelaskan bahayanya hipoglikemia. Bagaimana cara penggunaan obatnya. 

Terlihat obat yang dikonsumsi adalah glibenklamid yang biasanya dikonsumsi bersama dengan makanan.

Mengapa dia tidak mengkonsumsinya bersama makanan. 

Pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi misteri bagiku.Aku tidak bisa menunggu hingga esok hari, aku melakukan pemeriksaan terhadap hasil pemeriksaan lab Pak Dendy dan riwayat pemeriksaan kesehatan Pak Dendy.

Rasa penasaran tentang kematian seseorang, serta rasa keadilan dalam diriku selalu menjadi penyemangatku untuk bekerja. 

Mungkin orang pikir aku gila kerja. 

Tapi tidak aku hanya tidak suka dengan rasa penasaran bila belum menemukan atas jawaban teka-teki kematian seseorang.

Terlihat riwayat kesehatan Pak Dendy kadar gula darahnya tinggi 200 mg/dL, kolesterol totalnya 400 mg/dL, tekanan darahnya 150/110 mmHg. Pemeriksaan dilakukan pada 28 Desember tahun lalu. 

Pak Dendy telah menderita diabetes, kolesterol dan tekanan darah tinggi sejak setahun yang lalu.

Dokter Hadi adalah dokter pribadi Pak Dendy. Beliau meresepkan obat yang menurutku masuk akal.

Dari hasil pemeriksaanku, banyak luka bekas suntikan di tubuh Pak Dendy.

Menurutku memang masuk akal dengan gula darah yang cukup tinggi. 

Hasil pemeriksaan obat yang dikonsumsi Pak Dendy saat itu adalah obat diabetes dan dia memang menyuntikkan insulin ke tubuhnya.

Tak ada racun yang mencurigakan. 

Hasil autopsi kutemukan bahwa penyebab kematian Pak Dendy adalah hipoglikemia waktu kematiannya pk. 05.00

Tunggu dulu Mengapa Pak Dendy menyuntikkan insulin malam itu, padahal dia tau belum sempat makan.  

Apakah dia tidak merasakan gejala hipoglikemia?

Apakah dokter yang menanganinya tidak menjelaskan bahayanya hipoglikemia. Bagaimana cara penggunaan obatnya. 

Terlihat obat yang dikonsumsi adalah glibenklamid yang biasanya dikonsumsi bersama dengan makanan.

Mengapa dia tidak mengkonsumsinya bersama makanan. 

Pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi misteri bagiku.Aku tidak bisa menunggu hingga esok hari, aku melakukan pemeriksaan terhadap hasil pemeriksaan lab Pak Dendy dan riwayat pemeriksaan kesehatan Pak Dendy.

Rasa penasaran tentang kematian seseorang, serta rasa keadilan dalam diriku selalu menjadi penyemangatku untuk bekerja. 

Mungkin orang pikir aku gila kerja. 

Tapi tidak aku hanya tidak suka dengan rasa penasaran bila belum menemukan atas jawaban teka-teki kematian seseorang.

Terlihat riwayat kesehatan Pak Dendy kadar gula darahnya tinggi 200 mg/dL, kolesterol totalnya 400 mg/dL, tekanan darahnya 150/110 mmHg. Pemeriksaan dilakukan pada 28 Desember tahun lalu. 

Pak Dendy telah menderita diabetes, kolesterol dan tekanan darah tinggi sejak setahun yang lalu.

Dokter Hadi adalah dokter pribadi Pak Dendy. Beliau meresepkan obat yang menurutku masuk akal.

Dari hasil pemeriksaanku, banyak luka bekas suntikan di tubuh Pak Dendy.

Menurutku memang masuk akal dengan gula darah yang cukup tinggi. 

Hasil pemeriksaan obat yang dikonsumsi Pak Dendy saat itu adalah obat diabetes dan dia memang menyuntikkan insulin ke tubuhnya.

Tak ada racun yang mencurigakan. 

Hasil autopsi kutemukan bahwa penyebab kematian Pak Dendy adalah hipoglikemia waktu kematiannya pk. 05.00

Tunggu dulu Mengapa Pak Dendy menyuntikkan insulin malam itu, padahal dia tau belum sempat makan.  

Apakah dia tidak merasakan gejala hipoglikemia?

Apakah dokter yang menanganinya tidak menjelaskan bahayanya hipoglikemia. Bagaimana cara penggunaan obatnya. 

Terlihat obat yang dikonsumsi adalah glibenklamid yang biasanya dikonsumsi bersama dengan makanan.

Mengapa dia tidak mengkonsumsinya bersama makanan. 

Pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi misteri bagiku.Aku tidak bisa menunggu hingga esok hari, aku melakukan pemeriksaan terhadap hasil pemeriksaan lab Pak Dendy dan riwayat pemeriksaan kesehatan Pak Dendy.

Rasa penasaran tentang kematian seseorang, serta rasa keadilan dalam diriku selalu menjadi penyemangatku untuk bekerja. 

Mungkin orang pikir aku gila kerja. 

Tapi tidak aku hanya tidak suka dengan rasa penasaran bila belum menemukan atas jawaban teka-teki kematian seseorang.

Terlihat riwayat kesehatan Pak Dendy kadar gula darahnya tinggi 200 mg/dL, kolesterol totalnya 400 mg/dL, tekanan darahnya 150/110 mmHg. Pemeriksaan dilakukan pada 28 Desember tahun lalu. 

Pak Dendy telah menderita diabetes, kolesterol dan tekanan darah tinggi sejak setahun yang lalu.

Dokter Hadi adalah dokter pribadi Pak Dendy. Beliau meresepkan obat yang menurutku masuk akal.

Dari hasil pemeriksaanku, banyak luka bekas suntikan di tubuh Pak Dendy.

Menurutku memang masuk akal dengan gula darah yang cukup tinggi. 

Hasil pemeriksaan obat yang dikonsumsi Pak Dendy saat itu adalah obat diabetes dan dia memang menyuntikkan insulin ke tubuhnya.

Tak ada racun yang mencurigakan. 

Hasil autopsi kutemukan bahwa penyebab kematian Pak Dendy adalah hipoglikemia waktu kematiannya pk. 05.00

Tunggu dulu Mengapa Pak Dendy menyuntikkan insulin malam itu, padahal dia tau belum sempat makan.  

Apakah dia tidak merasakan gejala hipoglikemia?

Apakah dokter yang menanganinya tidak menjelaskan bahayanya hipoglikemia. Bagaimana cara penggunaan obatnya. 

Terlihat obat yang dikonsumsi adalah glibenklamid yang biasanya dikonsumsi bersama dengan makanan.

Mengapa dia tidak mengkonsumsinya bersama makanan. 

Pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi misteri bagiku.Aku tidak bisa menunggu hingga esok hari, aku melakukan pemeriksaan terhadap hasil pemeriksaan lab Pak Dendy dan riwayat pemeriksaan kesehatan Pak Dendy.

Rasa penasaran tentang kematian seseorang, serta rasa keadilan dalam diriku selalu menjadi penyemangatku untuk bekerja. 

Mungkin orang pikir aku gila kerja. 

Tapi tidak aku hanya tidak suka dengan rasa penasaran bila belum menemukan atas jawaban teka-teki kematian seseorang.

Terlihat riwayat kesehatan Pak Dendy kadar gula darahnya tinggi 200 mg/dL, kolesterol totalnya 400 mg/dL, tekanan darahnya 150/110 mmHg. Pemeriksaan dilakukan pada 28 Desember tahun lalu. 

Pak Dendy telah menderita diabetes, kolesterol dan tekanan darah tinggi sejak setahun yang lalu.

Dokter Hadi adalah dokter pribadi Pak Dendy. Beliau meresepkan obat yang menurutku masuk akal.

Dari hasil pemeriksaanku, banyak luka bekas suntikan di tubuh Pak Dendy.

Menurutku memang masuk akal dengan gula darah yang cukup tinggi. 

Hasil pemeriksaan obat yang dikonsumsi Pak Dendy saat itu adalah obat diabetes dan dia memang menyuntikkan insulin ke tubuhnya.

Tak ada racun yang mencurigakan. 

Hasil autopsi kutemukan bahwa penyebab kematian Pak Dendy adalah hipoglikemia waktu kematiannya pk. 05.00

Tunggu dulu Mengapa Pak Dendy menyuntikkan insulin malam itu, padahal dia tau belum sempat makan.  

Apakah dia tidak merasakan gejala hipoglikemia?

Apakah dokter yang menanganinya tidak menjelaskan bahayanya hipoglikemia. Bagaimana cara penggunaan obatnya. 

Terlihat obat yang dikonsumsi adalah glibenklamid yang biasanya dikonsumsi bersama dengan makanan.

Mengapa dia tidak mengkonsumsinya bersama makanan. 

Pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi misteri bagiku.Aku tidak bisa menunggu hingga esok hari, aku melakukan pemeriksaan terhadap hasil pemeriksaan lab Pak Dendy dan riwayat pemeriksaan kesehatan Pak Dendy.

Rasa penasaran tentang kematian seseorang, serta rasa keadilan dalam diriku selalu menjadi penyemangatku untuk bekerja. 

Mungkin orang pikir aku gila kerja. 

Tapi tidak aku hanya tidak suka dengan rasa penasaran bila belum menemukan atas jawaban teka-teki kematian seseorang.

Terlihat riwayat kesehatan Pak Dendy kadar gula darahnya tinggi 200 mg/dL, kolesterol totalnya 400 mg/dL, tekanan darahnya 150/110 mmHg. Pemeriksaan dilakukan pada 28 Desember tahun lalu. 

Pak Dendy telah menderita diabetes, kolesterol dan tekanan darah tinggi sejak setahun yang lalu.

Dokter Hadi adalah dokter pribadi Pak Dendy. Beliau meresepkan obat yang menurutku masuk akal.

Dari hasil pemeriksaanku, banyak luka bekas suntikan di tubuh Pak Dendy.

Menurutku memang masuk akal dengan gula darah yang cukup tinggi. 

Hasil pemeriksaan obat yang dikonsumsi Pak Dendy saat itu adalah obat diabetes dan dia memang menyuntikkan insulin ke tubuhnya.

Tak ada racun yang mencurigakan. 

Hasil autopsi kutemukan bahwa penyebab kematian Pak Dendy adalah hipoglikemia waktu kematiannya pk. 05.00

Tunggu dulu Mengapa Pak Dendy menyuntikkan insulin malam itu, padahal dia tau belum sempat makan.  

Apakah dia tidak merasakan gejala hipoglikemia?

Apakah dokter yang menanganinya tidak menjelaskan bahayanya hipoglikemia. Bagaimana cara penggunaan obatnya. 

Terlihat obat yang dikonsumsi adalah glibenklamid yang biasanya dikonsumsi bersama dengan makanan.

Mengapa dia tidak mengkonsumsinya bersama makanan. 

Pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi misteri bagiku.Aku tidak bisa menunggu hingga esok hari, aku melakukan pemeriksaan terhadap hasil pemeriksaan lab Pak Dendy dan riwayat pemeriksaan kesehatan Pak Dendy.

Rasa penasaran tentang kematian seseorang, serta rasa keadilan dalam diriku selalu menjadi penyemangatku untuk bekerja. 

Mungkin orang pikir aku gila kerja. 

Tapi tidak aku hanya tidak suka dengan rasa penasaran bila belum menemukan atas jawaban teka-teki kematian seseorang.

Terlihat riwayat kesehatan Pak Dendy kadar gula darahnya tinggi 200 mg/dL, kolesterol totalnya 400 mg/dL, tekanan darahnya 150/110 mmHg. Pemeriksaan dilakukan pada 28 Desember tahun lalu. 

Pak Dendy telah menderita diabetes, kolesterol dan tekanan darah tinggi sejak setahun yang lalu.

Dokter Hadi adalah dokter pribadi Pak Dendy. Beliau meresepkan obat yang menurutku masuk akal.

Dari hasil pemeriksaanku, banyak luka bekas suntikan di tubuh Pak Dendy.

Menurutku memang masuk akal dengan gula darah yang cukup tinggi. 

Hasil pemeriksaan obat yang dikonsumsi Pak Dendy saat itu adalah obat diabetes dan dia memang menyuntikkan insulin ke tubuhnya.

Tak ada racun yang mencurigakan. 

Hasil autopsi kutemukan bahwa penyebab kematian Pak Dendy adalah hipoglikemia waktu kematiannya pk. 05.00

Tunggu dulu Mengapa Pak Dendy menyuntikkan insulin malam itu, padahal dia tau belum sempat makan.  

Apakah dia tidak merasakan gejala hipoglikemia?

Apakah dokter yang menanganinya tidak menjelaskan bahayanya hipoglikemia. Bagaimana cara penggunaan obatnya. 

Terlihat obat yang dikonsumsi adalah glibenklamid yang biasanya dikonsumsi bersama dengan makanan.

Mengapa dia tidak mengkonsumsinya bersama makanan. 

Pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi misteri bagiku.Aku tidak bisa menunggu hingga esok hari, aku melakukan pemeriksaan terhadap hasil pemeriksaan lab Pak Dendy dan riwayat pemeriksaan kesehatan Pak Dendy.

Rasa penasaran tentang kematian seseorang, serta rasa keadilan dalam diriku selalu menjadi penyemangatku untuk bekerja. 

Mungkin orang pikir aku gila kerja. 

Tapi tidak aku hanya tidak suka dengan rasa penasaran bila belum menemukan atas jawaban teka-teki kematian seseorang.

Terlihat riwayat kesehatan Pak Dendy kadar gula darahnya tinggi 200 mg/dL, kolesterol totalnya 400 mg/dL, tekanan darahnya 150/110 mmHg. Pemeriksaan dilakukan pada 28 Desember tahun lalu. 

Pak Dendy telah menderita diabetes, kolesterol dan tekanan darah tinggi sejak setahun yang lalu.

Dokter Hadi adalah dokter pribadi Pak Dendy. Beliau meresepkan obat yang menurutku masuk akal.

Dari hasil pemeriksaanku, banyak luka bekas suntikan di tubuh Pak Dendy.

Menurutku memang masuk akal dengan gula darah yang cukup tinggi. 

Hasil pemeriksaan obat yang dikonsumsi Pak Dendy saat itu adalah obat diabetes dan dia memang menyuntikkan insulin ke tubuhnya.

Tak ada racun yang mencurigakan. 

Hasil autopsi kutemukan bahwa penyebab kematian Pak Dendy adalah hipoglikemia waktu kematiannya pk. 05.00

Tunggu dulu Mengapa Pak Dendy menyuntikkan insulin malam itu, padahal dia tau belum sempat makan.  

Apakah dia tidak merasakan gejala hipoglikemia?

Apakah dokter yang menanganinya tidak menjelaskan bahayanya hipoglikemia. Bagaimana cara penggunaan obatnya. 

Terlihat obat yang dikonsumsi adalah glibenklamid yang biasanya dikonsumsi bersama dengan makanan.

Mengapa dia tidak mengkonsumsinya bersama makanan. 

Pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi misteri bagiku.

Petunjuk dalam Mimpi

Aku tertidur dalam ruang kerjaku, karena aku kecapaian.

Tiba-tiba dalam mimpi aku melihat

Pak Dendy sedang di cekik oleh bayangan wanita yang kapanhari di hotel

Siapakah wanita itu?

Apakah Pak Dendy benar-benar dibunuh oleh arwah penasaran?

Mengapa semua hasil autopsi terlihat seperti ketidaktahuan pasien cara penggunaan obat yang benar?

Gaya hidup seperti apakah yang dijalani Pak Dendy?

Semua pertanyaan ini benar-benar mengganggu sampai terbawa dalam mimpi ku

Terlihat Pak Dendy seperti akan menunjuk sesuatu.

Tapi dihalangi oleh arwah wanita itu.

Tunggu tidak hanya seorang wanita tapi muncul arwah lain yang mencoba memukul Pak Dendy.

Apakah Pak Dendy memang penyebab kematian orang-orang itu?

Dalam mimpi terlihat Pak Dendy ingin menunjukkan sebuah benda. Apakah itu adalah pesan kematian?

Benda apakah itu?

Sebuah Handphon

Apakah yang ada dalam handphone itu?

Aku terbangun dan segera menelepon Pak Bayu.

"Halo pagi Pak Bayu."

"Pagi Dokter Will. Bagaimana hasil autopsinya apakah sudah keluar?"

"Hasil autopsi penyebab kematian Pak Dendy adalah Hipoglikemia yaitu kadar gula darah yang terlalu rendah." 

"Yang menggangguku adalah saat di rekaman CCTV terlihat Pak Dendy menelepon seseorang dengan tubuh yang agak sempoyongan. Siapakah yang Pak Dendy telepon Pak?"

Hasil pemeriksaan dalam Handphone Pak Dendy terdapat panggilan ke Dokter Hadi.

Pak Dendy sempat menelepon dokter, berarti Pak Dendy sempat meminta petunjuk penyakitnya?

Tapi mengapa dia masih bisa salah penggunaan obat?

Keluhan terakhir sebelum kematian

Mengapa setelah konsultasi pada Dokter Hadi, Pak Dendy masih bisa salah menggunakan obat?

"Kita perlu mendengar percakapan terakhir mereka." ujarku pada Pak Bayu.

"Aku merasa ada yang tidak beres pada percakapan mereka." Lanjutku.

"Baiklah saya akan meminta rekaman dari pihak provider internet."

Setelah rekaman telepon sudah ada di tangan kita, kita bersama mendengarkannya. Terdengar Pak Dendy menelepon Dokter Hadi

"Malam Dok." Kata Pak Dendy dalam telepon

"Malam Pak Dendy. Ada yang bisa saya bantu, malam-malam gini menelepon?"

"Gini Dok. Kenapa saya tiba-tiba gemetar, merasa kedinginan dan keluar keringat dingin, bahkan bibir atas saya terasa kesemutan dok?"

"Pak Dendy sekarang dimana?"

"Saya di Diamond Hotel Dok. Ini saya mau pulang, tapi ini saya merasa pusing, jantung saya serasa berdetak lebih kencang dan keluar keringat dingin."

"Mungkin karena gula darah Bapak sedang naik ya. Bapak seharian ini terlalu banyak makan ya."

"Iya Dok, tadi siang saya banyak makan terutama yang manis, tapi malam ini saya belum makan sama sekali, tadi siang juga sudah minum obat diabetes, sore ini juga.

"Iya Pak tadi siang Bapak terlalu banyak makan yang menyebabkan kadar gula darah Bapak naik, segera minum lagi diabetesnya dan jangan lupa suntikkan insulinnya."

"Ok Dok nanti saya minum setelah sampai di rumah"

"Sebaiknya jangan menyetir sendiri, sebaiknya Bapak sewa kamar hotel saja. Bapak kan sedang di hotel. Segera minum lagi obat diabetesnya dan suntikkan insulin dan segera tidur jangan makan lagi."

"Ok Dok. Terima kasih"

Ini aneh jantung berdetak kencang, keringat dingin, gemetar ini seperti hipoglikemia ringan, atau penyakit jantung ringan setelah berkelahi dengan Natasha. 

"Kita panggil Dokter Hadi untuk memberikan keterangan."

Pak Bayu memanggil Dokter Hadi untuk memberikan keterangan. Aku ikut dalam interogasi ringan kali ini.

Keterangan Dokter Hadi

"Selamat Pagi, Apakah benar anda Dokter Hadi Sugianto."

"Benar Pak."

"Perkenalkan saya Bayu sebagai ketua penyelidikan kasus ini."

"Saya William" Saya ikut memperkenalkan diri

"Apa benar saat tanggal 3 Januari Pak Dendy menelepon Bapak sebelum kematiannya?"

"Benar Pak."

"Mengapa Pak Dendy menelepon Dokter malam-malam?"

"Pak Dendy mengeluh hipoglikemia Pak. jantung berdetak kencang, muncul keringat dingin, badan gemetar."

"Lalu?"

"Sebenarnya Pak Dendy akan menyetir pulang, tapi saya menyarankan untuk segera menelepon Rumah sakit, karena bahaya sekali. Akhirnya Pak Dendy memilih menginap di hotel"

"Apakah dokter tau penyebab kematian Pak Dendy?"

"Saya tidak tahu Pak. Mungkin hipoglikemia."

"Dokter menyarankan apa lagi saat Pak Dendy mengeluh tentang hipoglikemianya?"

"Saya sarankan untuk memakan permen untuk pertolongan pertama, agar gula darahnya agak naik."

"Bukankah Pak Dendy menderita Diabetes Melitus. Mengapa dokter menyarankan untuk makan permen."

"Saat itu Gula Darah Pak Dendy sedang turun, dia belum makan Pak. Karena itu dia harus menaikkan gula darahnya. Orang dengan Gula Darah rendah bisa lebih gawat daripada saat gula darahnya sedang tinggi."

Aku membetulkan tindakan Dokter Hadi.

"Sesuai SOP kok Dok untuk pertolongan pada orang hipoglikemia. Pak Dendy memang meninggal karena hipoglikemia."

Pak Bayu bertanya sekali lagi "Apa benar dokter menyarankannya untuk memakan permen? Ataukah Dokter menyarankan jangan makan lagi dan menyuntikkan insulin?"

"Saya ingat benar kok Pak saya menyarankan untuk makan permen saja dan menginap di hotel saja."

"Coba dengarkan rekaman percakapan anda di ponsel. saat itu mari kita dengarkan bersama."

Setelah mendengarkan rekaman tentang percakapan terkahir Dokter Hadi dengan Pak Dendy akhirnya Dokter Hadi mengaku. 

"Iya memang saya menyarankan untuk menyuntikkan insulin. Saya memang sangat benci dengan Pak Dendy. Tapi saya awalnya diam saja. Malam itu saya melihat ada cara untuk membunuhnya jadi saya lakukan."

"Dendam apakah yang dokter punya hingga tega membunuhnya."

"Saya tidak suka saja melihatnya membuat bangkrut semua nasabah. sekitar lima tahun lalu, ada nasabah yang dibuat bangkrut oleh Pak Dendy, nasabah ini akhirnya meninggal karena keracunan. Orang yang memberinya Narkoba adalah Pak Dendy dan dia membuatnya seolah-olah nasabah ini over dosis. Nasabah itu adalah keponakan saya. Dia adalah nasabah yang bukan trader baru, tapi trader yang sudah ahli. Tapi saat itu Pak Dendy membuat akunnya seolah di hack orang. Pak Dendy sendiri yang menceritakannya padaku dengan bangganya. Jadi begitu ada kesempatan aku ingin dia merasakan sendiri bagaimana kematian yang tidak diketahui orang. Tapi sayangnya dia cukup beruntung dan akupun juga beruntung karena tidak harus ketakutan lagi. Setelah membunuhnya aku selalu ketakutan. Berhubung sekarang kasusnya telah terpecahkan aku tak perlu ketakutan lagi."

Setelah interogasi ini Pak Bayu membebaskan Natasha.

Prolog

"Akhirnya aku lega kasus pembunuhan Eveline terpecahkan. Kalian percaya kalau bukan aku pembunuh Pak Dendy." Kata Nat padaku.

"Dokter kalau dokter mau belajar teknik trading aku bisa ajari, tapi bukan aku yang akan eksekusi tradingnya Dokter. Aku hanya akan mengajarkan teknik dasarnya saja."

"Boleh aku ingin tahu tekniknya."

"Tapi kalau rugi ya tanggung sendiri ya. hehehe..."

"Ok"

Aku akhirnya jadi murid tradingnya Natasha yang pertama.

Satu kasus terpecahkan lagi.

Nat mengajakku untuk nyekar ke makam Eveline. Di makam kulihat bayangan putih eveline tampak cantik seperti Natasha dan tersenyum padaku

"Memang obat adalah racun bila tidak digunakan sesuai indikasi."



"""::::::^@&&×&×^×<÷&# shhshshsbdbdhshshsjsjshbsjwhshsb

Bab 1 

Kali ini dr. Will berlibur saat weekly day off saja dan ikut opentrip saja. biar aman. kali ini dia bertemu seorang wanita bernama Natasha. Natasha ini seorang broker emas. dr. WIll tertarik belajar tentang trading emas. Terjadilah percakapan dr. Will dan wanita ini seputar trading. Awalnya dr. Will mengira trading itu sarana untuk mendapatkan uang instan dengan strategi dan metode tertentu. tapi Natasha malah bilang trading itu perang mental yang mengendalikan sifat serakah, takut, adu strategi. Bila tidak tahan mental bisa gila uang 100 juta bisa hilang dalam hitungan jam, tapi sebaliknya bisa kaya mendadak dalam hitungan jam. Meskipun kita paham perekonomian dan keadaan geopolitik dunia yang sering disebut analisa fundamental, dan keadaan minat beli, dan jual masyarakat yang sering digambarkan dalam candlestick chart atau biasa disebut analisa teknikal, kalau kita tidak membuat trading plan dan menuruti trading plan itu dengan cukup ketat sulit untuk tidak bangkrut. Selain itu perlu mengendalikan sifat takut saat arah tidak sesuai keinginan kita padahal belum menyentuh titik cut loss yang kita inginkan sudah di cut loss, atau saat profit sedikit belum menyentuh target sudah di take profit. Atau juga meski sudah melihat arah grafik tidak sesuai arah yang kita mau sudah menyentuh titik cut loss tapi kita tidak mau cut loss akhirnya loss jadi besar sekali. 

Bab 2

 Nat juga bercerita tentang kebenciannya pada atasannya dan pekerjaannya. Atasannya seringkali meminta mencari dan memalsukan NIB (Nomer Induk Berusaha) dan NPWP (Nomer Pokok Wajib Pajak) untuk memasang lowongan kerja di portal job guna merekrut pekerja baru, jabatannya biasa diminta jadi staff admin atau customer service setelah interview pekerja baru akan di alihkan ke pekerjaan marketing. Setelah jadi marketing hanya diajarkan sedikit pengetahuan tentang trading, cara baca chart. kita hanya diminta daftar nama orang-orang kaya di sekitar kita, atau bila punya uang sendiri kita diminta ikut trading sendiri. Setelah kita masuk, awalnya dibuat menang tapi setelah itu akan dibuat bangkrut karena sistemnya. Nat juga menceritakan sistem yang bila nasabah menaruh dana modal untuk trading poin marketing kita akan bertambah sebesar dana itu. Setelah nasabah untung dan menarik keuntungan, poin marketing kita akan dikurangi sesuai nasabah menarik uang, dan kalau nasabah untung terus dan menarik uang terus poin marketing kita akan minus terus. Bila nasabah bangkrut poin marketing kita akan tetap. Sistem ini bagus untuk memacu kerja marketing, tapi bila marketing sulit mendapat nasabah, marketing akan lebih memilih membangkrutkan nasabah. Bila downline yang mendapat nasabah keluar, poin marketing downline itu bisa jadi milik upline. Selain itu ada sisi yang tidak semua orang tau. Saat nasabah bangkrut kepala tim dan nasabah akan mendapat keuntungan beberapa persen dari modal yang telah ditransferkan nasabah. Tidak jarang Nat diminta ke Bar untuk berkenalan dengan om-om kaya di bar untuk dijadikan nasabah

Bab 3 

dr. Will heran Nat sebegitu bencinya dengan perusahaan dan uplinenya Pak Dendi tapi kok masih bertahan. Nat menjawab ada sesuatu yang ingin dia ketahui. Mereka liburan di air terjun yang indah di dalam hutan. Sebelum berpisah Nat mengundang dr. Will bila ingin mendengarkan dan belajar trading bisa datang ke Ballroom Hotel bintang 3 di kota itu. Kebetulan perusahaan tempat kerjanya sedang memberikan workshop dan gathering di tempat itu siapapun boleh mengikuti acara itu. 

Bab 4 

Jalannya workshop, dr. Will datang ke acara workshop itu. Disana dia bertemu Nat lagi. Nat memperingatkan untuk mempelajari saja mekanismenya tapi jangan percaya pada siapapun.. Di acara ini penjelasan tentang strategi trading, dll. Setelah acara upline Nat, Pak Dendi dan Nat mengundan dr. Will dan Nat untuk berbincang di loby hotel berusaha meyakinkan dr. Will untuk ikut trading dan bahwa trading itu aman dan bukti-bukti bayak yang bisa menarik uangnya. Pak Dendi terus mengoceh terlihat tidak menghiraukan makanannya, sedangkan Nat hanya diam. di loby itu juga dr. Will melihat bayangan seorang perempuan ekspresinya penuh kebencian pada Pak Dendi. Dia menggeleng pada dr. Will seolah berbicara jangan ambil tawaran itu.

Bab 5 

Karena sudah terlalu malam. dr. Will pamit pulang. Sedangkan Nat masih berbicara sebentar dengan Pak Dendi untuk evaluasi. Tapi tidak lama Nat juga pulang

Bab 6 - 17

Kira-kira pk 12.00 saat jam checkout, Pak Dendy belum keluar kamar. Petugas bellboy membuka kamar Pak dendy dengan kunci hotel. Pak Dendy ditemukan meninggal di kamar hotel. Nah sampai sini aku bingung melanjutkannya. lalu orang mengira Bellboy yang melakukan pembunuhan, lalu mengira Nat pembunuh Pak Dendi karena Nat orang terakhir yang bertemu Pak Dendi. tapi hasil autopsi mengatakan, dia meninggal karena penggunaan obat yang tidak tepat (mungkin glibenclamid yang diminum malam hari tanpa makan, rawan menyebabkan hipoglikemia dan bila hipoglikemia tidak diketahui bisa meninggal). Nat bercerita bahwa bila dia bisa membunuh Pak Dendi dia ingin sekali melakukannya untuk balas dendam atas kematian kakaknya (Evelyn). Kakaknya pernah bekerja jadi bawahan Pak Dendi, dia punya nasabah yang dikenalkan Pak Dendi di club malam dan nasabahnya ini investasi emas 1 milyar. tapi dibuat bangkrut sama pak dendi, nasabahnya ini bangkrut dan memperkosa kakaknya Nat. Kakak Nat marah dan menuntut Pak Dendy. Pak Dendy malah mendorongnya dari lantai 10 sebuah mall dan membuatnya seolah bunuh diri. Hal ini diketahui Nat karena Pak Dendy menceritakannya sendiri tentang pembunuhan itu karena Nat berusaha memberontak karena tidak suka dengan mekanisme kerja pialang. 



^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Pukul lima pagi, langit masih berwarna biru tua ketika dr. Will menutup pintu rumahnya. Sebuah ransel kecil tergantung di bahunya, sementara di tangannya tergenggam secangkir kopi yang masih mengepulkan uap.

Sudah lama ia tidak pergi berlibur.

Bukan karena tidak punya waktu. Sebagai dokter forensik, ia terbiasa menyisihkan satu hari setiap minggu untuk beristirahat. Hanya saja, beberapa perjalanan sebelumnya berakhir terlalu... melelahkan. Ada saja kejadian tak terduga yang membuat liburannya berubah menjadi sesuatu yang jauh dari kata tenang.

Karena itu, kali ini ia memilih cara yang lebih aman: ikut open trip.

Tujuannya sebuah air terjun di kaki pegunungan yang sedang populer di media sosial. Ia bahkan tidak terlalu tertarik pada lokasinya. Yang ia inginkan hanya satu: menghirup udara segar, berjalan santai, lalu pulang tanpa kejadian aneh apa pun.

Sebuah HiAce putih sudah menunggu di titik kumpul. Sebagian peserta tampak masih mengantuk. Ada yang sibuk menyeruput kopi, ada yang memeluk bantal leher, dan ada pula yang sibuk berfoto meskipun matahari belum terbit.

"Mas Will?" tanya seorang panitia.

Dr. Will mengangguk.

"Silakan naik. Kursi nomor tujuh."

Ia masuk ke dalam kendaraan dan menemukan kursinya di bagian tengah. Di samping kursinya sudah duduk seorang perempuan yang sedang mengenakan jaket abu-abu dan memegang ponsel.

Perempuan itu mengangkat kepala ketika dr. Will duduk.

"Pagi," sapanya ramah.

"Pagi."

Beberapa detik kemudian, kendaraan mulai bergerak meninggalkan kota.

Suasana di dalam HiAce masih sunyi. Hanya terdengar suara mesin dan sesekali dengkuran pelan dari salah satu peserta di barisan belakang.

Perempuan di sampingnya menoleh.

"Sepertinya semua orang masih mengantuk."

Dr. Will tersenyum kecil.

"Termasuk saya."

Perempuan itu terkekeh.

"Aku Natasha."

"Will."

"Pertama kali ikut open trip?"

"Iya."

"Aku juga."

Percakapan itu seharusnya berhenti di sana. Namun entah mengapa, perjalanan yang masih panjang membuat mereka kembali berbincang.

"Kamu suka naik gunung?" tanya Natasha.

"Tidak terlalu. Aku lebih suka tempat yang tidak terlalu ramai."

"Lho, kalau begitu kenapa ikut open trip?"

Dr. Will berpikir sejenak.

"Karena aku ingin liburan yang aman."

Natasha tertawa.

"Baru kali ini aku dengar ada orang ikut open trip demi keamanan."

"Memangnya salah?"

"Nggak. Lucu saja."

Perjalanan mulai memasuki daerah perbukitan. Cahaya matahari pagi perlahan muncul dari balik awan.

"Kalau kamu?" tanya dr. Will. "Kenapa ikut?"

Natasha menatap keluar jendela beberapa saat.

"Capek."

"Capek?"

"Kerjaan."

Jawabannya singkat, tetapi ada nada lelah yang tidak bisa disembunyikan.

Dr. Will mengangguk pelan. Ia tahu ada beberapa orang yang memilih bepergian hanya untuk menjauh sejenak dari rutinitas.

"Kerja di bidang apa?" tanyanya.

Natasha tersenyum tipis.

"Keuangan."

"Wah, berat."

"Kamu?"

"Aku dokter."

Natasha langsung menoleh.

"Dokter apa?"

"Forensik."

Perempuan itu berkedip beberapa kali.

"Yang kerja di kamar jenazah itu?"

"Kurang lebih."

"Serius?"

Dr. Will mengangguk.

Natasha tertawa kecil.

"Sepertinya aku tidak akan berani cerita yang aneh-aneh sama kamu."

"Kenapa?"

"Takut dianalisis."

"Kami tidak menganalisis orang setiap saat."

"Masa?"

"Kebanyakan hanya saat jam kerja."

Jawaban itu membuat Natasha tertawa lagi.

Untuk pertama kalinya pagi itu, dr. Will merasa perjalanan ini mungkin tidak akan membosankan.

Ia tidak tahu bahwa pertemuan singkat di dalam sebuah HiAce, dengan seorang perempuan yang baru dikenalnya beberapa menit, kelak akan membawanya mengenal dunia yang sama sekali asing baginya—dunia yang dipenuhi angka, harapan, ketakutan, dan keputusan-keputusan yang dapat mengubah hidup seseorang dalam sekejap.

***********************************************************************
​BAB 1: Pelarian dan Pasar yang Kejam
​Aroma formalin dan dinginnya ruang mayat seperti sudah meresap terlalu dalam ke bawah pori-pori kulitku. Bagi seorang dokter forensik, tubuh manusia tak lebih dari sekadar teka-teki anatomi yang harus dipecahkan. Namun, setelah seminggu penuh berurusan dengan tiga kasus autopsi pembunuhan yang rumit, kepalaku rasanya mau pecah. Aku butuh pelarian. Aku butuh menghirup udara yang tidak berbau kematian.
​Biasanya, aku adalah orang yang gila kendali. Setiap minggu, aku selalu meluangkan waktu satu jam penuh untuk menyusun rencana perjalanan dengan presisi matematis: ke mana aku akan pergi, rute mana yang paling efisien, di mana aku akan tidur, hingga kalkulasi biaya sampai ke satuan perak terkecil. Namun minggu ini, kelelahan memotong habis semua energi itu. Alih-alih menyusun rencana sendiri, aku menyerah pada kepraktisan. Aku mendaftar sebuah open trip. Menyerahkan kendali perjalananku pada orang lain adalah hal langka, tapi saat ini, aku hanya ingin menjadi penumpang yang pasif.
​Pukul 20.00 WIB, suasana terminal bus antarkota terasa bising dan pengap. Di sudut ruang tunggu yang diterangi lampu neon remang-remang, aku menemui agen tur yang kutuju. Mas Bagus, sang tour leader malam itu, menyambutku dengan senyum ramah yang tampak lelah. Ia mulai mengabsen satu per satu peserta yang sebagian besar sibuk dengan ponsel atau barang bawaan mereka. Di bawah deru mesin bus yang meraung kasar, Mas Bagus membacakan tata tertib perjalanan dengan pengeras suara portabel yang cempreng.
​Tepat pukul 20.45, kami dipersilakan naik untuk memilih tempat duduk. Karena aku bergerak agak lambat, bus sudah hampir penuh saat aku melangkah koridornya yang sempit. Pandanganku menyapu deretan kursi, mencari tempat kosong. Hanya tersisa satu bangku di baris tengah, tepat di sebelah seorang wanita yang sedang menatap kosong ke luar jendela. Dari profil sampingnya, dia kelihatan beberapa tahun lebih muda dariku.
​Aku mengemas ranselku ke bagasi atas, lalu perlahan duduk di sampingnya. Bau parfumnya yang beraroma vanilla bercampur kopi sedikit mengaburkan bau Terminal yang pekat. Aku mencoba bersikap ramah untuk mencairkan kecanggungan.
​"Hi, perkenalkan. Saya William," ujarku sambil mengulurkan tangan. "Dokter forensik."
​Ia menoleh lambat, menatap tanganku sejenak sebelum menyambutnya dengan genggaman yang terasa dingin. "Natasha."
​"Sendirian saja, Nat? Saya panggil kamu Nat saja, ya? Biar tidak terlalu formal," kataku mencoba mencairkan suasana. "Kamu boleh panggil saya Will, atau Dokter Will juga boleh."
​"Iya," jawabnya pendek, pandangannya kembali beralih ke kaca jendela yang mulai berembun.
​Responsnya dingin, namun rasa penasaran mengalahkan rasa sungkanku. "Natasha kerja di daerah mana kalau boleh tahu?"
​"Dream Futures."
​Aku mengernyitkan dahi, mencoba mengingat-ingat apakah pernah mendengar nama itu di berita kriminal atau keuangan. "Kalau boleh tahu, itu bergerak di bidang apa, Nat?"
​"Perusahaan trading."
​"Sebagai apa di sana?"
​"Marketing. Tapi nasabah lebih sering menyebut kami broker."
​"Oh, jadi kerjanya mencari orang untuk berinvestasi begitu?"
​"Iya, cari nasabah. Di tempat kami, kami menyebut investor itu sebagai nasabah."
​Setelah kalimat itu, Natasha menutup mulutnya rapat-rapat. Entah dia memang memiliki kepribadian yang dingin, menganggapku orang asing yang terlalu ikut campur, atau dia hanya kelelahan setelah seharian dikejar target pekerjaan. Tak lama setelah bus mulai bergerak membelah jalanan malam, kepalanya perlahan terkulai dan matanya terpejam. Dia tertidur. Padahal, di dalam kepalaku, ada belasan pertanyaan yang ingin kuajukan tentang dunia trading—dunia yang sangat asing bagi orang yang hidup di antara meja bedah dan laporan visum seperti aku.
​Waktu berputar lambat dalam kegelapan. Deru roda bus di atas aspal seperti irama hipnotis yang membuat seisi bus terlelap. Namun, tepat pukul 04.00 pagi, saat dunia di luar sana masih diselimuti kegelapan pekat yang dingin, aku terbangun karena pergerakan di sebelahku.
​Natasha sudah terjaga. Dia tidak lagi memejamkan mata, melainkan termenung menatap bayangan pepohonan dan lampu jalan yang melesat cepat di luar jendela. Dari pantulan kaca, aku bisa melihat ekspresi wajahnya. Sendu, lelah, dan ada kilatan kecemasan yang mendalam di matanya.
​Tiba-tiba, tanpa menoleh ke arahku, suara seraknya memecah keheningan. "Pak Dokter... kamu kan sering membedah dan mengautopsi mayat. Apa para mayat itu pernah menyampaikan pesan kematian mereka kepadamu?"
​Pertanyaan itu membuat kantukku hilang seketika. Aku menoleh menatapnya, mencoba membaca arah pikirannya. "Maksudnya bagaimana, Nat? Mengapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"
​Natasha menghela napas pendek, jemarinya mengetuk-ngetuk sandaran tangan dengan gelisah. "Nggak ada apa-apa. Cuma penasaran saja. Dokter pernah tidak... dalam waktu sebulan penuh, sama sekali tidak ada mayat yang harus diautopsi?"
​Aku terkekeh pelan, sebuah tawa getir yang sudah akrab dengan profesiku. "Wah, kalau hal itu terjadi, saya pasti akan jadi orang paling bahagia sedunia, Nat. Menikmati hidup damai tanpa mencium bau mayat selama sebulan penuh? Hahaha, sayangnya itu hal yang mustahil. Tidak pernah sekalipun dalam hidup saya mengalami bulan tanpa autopsi."
​"Tapi enak dong, Dok," sahut Natasha, suaranya terdengar datar namun ada nada getir di dalamnya. "Tiap bulan Anda tetap dapat gaji tetap. Tiap bulan pasti ada uang masuk ke rekening, terlepas dari ada atau tidaknya mayat."
​Aku tertegun. Kerutan di dahiku semakin dalam. Pertanyaannya mulai terasa ganjil. "Memangnya di pekerjaanmu tidak seperti itu?"
​"Tidak," jawabnya lirih, matanya kini menatap kosong ke lantai bus. "Bila tidak ada nasabah yang berinvestasi lewat aku... aku tidak dapat uang sama sekali. Nol."
​Udara dingin dari AC bus mendadak terasa lebih menusuk. Namun, percakapan ini perlahan mulai mengalir. Sikap Natasha tidak lagi sedingin semalam. Ini adalah kesempatanku untuk memuaskan rasa ingin tahu yang sempat tertunda.
​"Sebenarnya, trading itu mekanismenya bagaimana sih, Nat? Banyak orang bilang pendapatannya bisa berkali-kali lipat lebih tinggi daripada sekadar menaruh uang di deposito bank."
​Natasha menoleh, menatap mataku lurus-lurus. Dan untuk kedua kalinya, jawabannya berhasil membuatku terhenyak.
​"Di dunia itu... jarang sekali ada orang yang tidak bangkrut, Dok."
​"Lho? Kenapa bisa begitu?" aku menyela, menyuarakan logika awamku. "Memangnya tidak ada cara untuk membaca atau memperkirakan pergerakan harga? Saya sering lihat di YouTube, banyak sekali konen yang memposting cara menganalisis pergerakan harga emas atau mata uang."
​Natasha tersenyum sinis, senyuman yang menyembunyikan kelelahan mental yang luar biasa. "Yang diajarkan para YouTuber itu hanyalah kulit luar, Dok. Teknik dasar. Dalam trading, meskipun kita paham betul tentang arah perekonomian atau keadaan geopolitik dunia—yang biasa kami sebut analisa fundamental—dan meskipun kita menguasai minat beli dan jual masyarakat yang digambarkan lewat grafik lilin alias analisa teknikal... kenyataannya tidak pernah sesederhana itu. Trading itu bukan soal rumus angka. Trading itu adalah perang mental yang brutal."
​"Perang mental? Bagaimana maksudnya?" Aku mulai tertarik. Istilah 'perang mental' biasanya akrab di duniaku saat berhadapan dengan ruang interogasi pembunuhan.
​"Iya," Natasha memajukan sedikit tubuhnya, suaranya merendah menjadi bisikan yang intens. "Kita bisa kaya mendadak, meraup keuntungan luar biasa besar hanya dalam hitungan jam. Tapi di jam berikutnya, seluruh tabungan yang kita kumpulkan seumur hidup bisa habis tak bersisa, lenyap ditelan pasar. Tidak ada yang tahu pasti ke mana arah market bergerak, dan tidak ada satu orang pun yang bisa dipercaya di sana. Pada akhirnya, itu adalah tanggung jawab mutlak kita terhadap uang kita sendiri."
​Aku terdiam, mencoba mencerna analoginya. "Maaf, Nat, aku mungkin masih kurang paham detail mekanismenya. Tapi kalau masalah perang mental... pekerjaanku sebagai dokter forensik juga bertaruh mental setiap hari."
​Natasha menggeleng cepat, menyela kalimatku. "Bedanya, Dok, kalau kita tidak membuat trading plan yang matang dan menuruti rencana itu dengan kedisiplinan yang luar biasa ketat, mustahil untuk selamat dari kebangkrutan. Masalahnya, emosi manusia itu rapuh. Mengendalikan sifat takut saat arah pasar bergerak berlawanan dengan keinginan kita itu setengah mati sulitnya. Kadang, posisi belum menyentuh titik rugi (cut loss) yang direncanakan, tapi karena panik, kita sudah menutupnya. Atau sebaliknya, saat baru untung sedikit dan belum menyentuh target, kita sudah buru-buru mengambilnya (take profit) karena takut kehilangan."
​Natasha menarik napas dalam, matanya bergetar. "Dan yang paling menghancurkan adalah ego. Saat kita jelas-jelas melihat grafik turun berlawanan dengan prediksi kita dan sudah melewati batas toleransi, ego kita menolak untuk kalah. Kita tidak mau melakukan cut loss, berharap pasar akan berbalik arah membela kita. Akhirnya? Kerugiannya membengkak menjadi monster yang mengerikan. Dokter bisa kaya raya dalam hitungan jam, dan miskin ekstrem di jam berikutnya. Saya sebagai marketing... tekanan mentalnya sangat besar karena harus menjaga psikologis nasabah yang uangnya sedang dipertaruhkan. Kalau Dokter kan enak, urusannya hanya dengan orang yang sudah meninggal saja. Mereka tidak akan menuntut atau stres."
​Mendengar kalimat terakhirnya, egoku sebagai profesional sedikit terusik. Aku tidak bisa membiarkan profesiku dianggap remeh atau mudah.
​"Eits, jangan asal menghakimi, Nat," potongku, menatapnya dengan serius. "Pekerjaanku tidak sepasif yang kamu bayangkan. Kadang, aku harus mengungkap sebuah kasus pembunuhan rumit, di mana fakta medis di meja bedah menunjukkan bahwa pelaku sebenarnya membunuh karena membela diri. Di lain waktu, nuraniku terkoyak karena aku tahu secara personal bahwa si pembunuh sebenarnya adalah orang baik yang terdesak, sedangkan korban yang terbujur kaku di depanku adalah orang yang sangat jahat semasa hidupnya. Ada kalanya sisi manusiaku ingin membuat laporan palsu demi belas kasihan, tapi hukum dan keadilan tetap harus ditegakkan. Kebenaran absolut harus diungkapkan, apa pun risikonya."
​Aku mendekatkan wajahku, berbisik lirih di telinganya. "Bahkan... dalam beberapa malam yang sunyi di ruang autopsi, aku merasa seolah bisa melihat energi atau arwah mereka yang tertinggal, berbisik memohon bantuanku untuk meluruskan apa yang salah."
​Suasana mendadak hening. Bus berguncang pelan saat melewati jalanan yang berlubang. Natasha terpaku mendengar penjelasanku. Kata-kataku tampaknya menghantam sesuatu yang jauh di dalam dirinya.
​Ia memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela yang gelap. Matanya menerawang jauh, dan bibirnya bergerak melepaskan sebuah gumaman yang teramat pelan, nyaris tenggelam oleh deru mesin bus. namun telinga forensikku menangkap setiap suku katanya dengan jelas.
​"Hmm... Seandainya saja dia bisa mengungkap misteri kematian Eveline..."
​Aku tertegun. Siapa Eveline? Dan apa hubungannya dengan kegelisahan hebat yang disembunyikan wanita di sampingku ini? Perjalanan yang kupikir akan menjadi liburan yang tenang, mendadak mulai terasa seperti awal dari sebuah investigasi baru.

+++++++++++++++++++++++++
BAB 2: Kabut dan Gemuruh Air Terjun
​Nama itu terus berdengung di kepalaku sepanjang sisa perjalanan. Eveline. Siapa dia? Mengapa namanya diucapkan dengan nada begitu getir di tengah malam buta? Namun, sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, Natasha kembali menarik tudung jaketnya hingga menutupi sebagian wajah. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menutup diri dalam keheningan yang rapat. Aku tahu kapan harus menekan dan kapan harus mundur. Memaksa seseorang yang sedang tertekan hanya akan membuat mereka bungkam selamanya.
​Pukul 06.30 pagi, bus akhirnya berhenti di area parkir dataran tinggi yang menjadi tujuan open trip kami. Udara dingin pegunungan langsung menyergap begitu pintu bus terbuka. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan pinus, membawa aroma tanah basah yang menyegarkan—kontras yang luar biasa dari bau formalin yang biasa kuhirup.
​"Ayo semuanya, berkumpul dulu di dekat papan nama digital!" seru Mas Bagus memecah keheningan pagi, bendera kecil tur berkibar di tangannya.
​Kami mulai berjalan menyusuri jalur tracking menuju destinasi utama kami: Air Terjun Grojogan Sewu. Jalur setapak yang kami lalui dikelilingi oleh tebing batu alam yang ditumbuhi lumut hijau subur. Suasana pagi ini begitu asri. Sinar matahari yang baru terbit menerobos di sela-sela rindangnya dedaunan, menciptakan garis-garis cahaya vertikal yang memesona di atas hamparan kabut.
​Aku berjalan beberapa langkah di belakang Natasha. Wanita itu berjalan dalam diam, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket tebalnya. Wajahnya yang diterangi cahaya pagi terlihat pucat, dan lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa disembunyikan oleh riasan tipis khas Ulzzang yang ia kenakan.
​Mengingat gundah yang ia tampakkan semalam, aku mempercepat langkah hingga bisa berjalan sejajar di sampingnya. Ranting-ranting kering berderak di bawah sepatu gunung kami.
​"Nat," panggilku pelan, mencoba memecah keheningan di antara kami. "Soal yang kamu gumamkan di bus tadi... Siapa Eveline? Dan apa maksudmu dengan mengungkap misteri kematiannya?"
​Mendengar pertanyaan itu, langkah kaki Natasha mendadak terhenti. Tubuhnya menegang. Ia menoleh menatapku sejenak, tatapannya kosong sekaligus waspada. Bibirnya agak terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun ia segera mengatupkannya kembali rapat-rapat.
​Ia tidak menjawab sekatap pun. Natasha memalingkan wajahnya dariku, menatap lurus ke arah jalur setapak di depan, lalu kembali berjalan dengan langkah yang lebih cepat, sengaja menjaga jarak dariku. Sikap diamnya yang tiba-tiba membuat pertanyaanku menggantung begitu saja di udara, menyisakan misteri yang tak terjawab.
​Aku tidak mencoba mengejarnya lagi. Fokusku perlahan teralih saat suara gemuruh air yang dahsyat mulai terdengar dari kejauhan, memecah kesunyian hutan pinus.
​Beberapa menit kemudian, vegetasi di depan kami mulai terbuka, dan kemegahan Air Terjun Black Hole langsung terhampar di depan mata. Pemandangannya sungguh menakjubkan. Air terjun itu tidak hanya mengalir dari satu titik, melainkan dari puluhan celah tebing batu tinggi yang membentuk tirai air raksasa setinggi puluhan meter. Uap air berhamburan ke udara seperti kabut abadi, menciptakan pelangi tipis saat membentur cahaya matahari pagi. Dibawah air terjun terdapat kolam yang luas dengan air berwarna biru tosca, jernih, sejuj dan menantang untukku berenang. Di tengah air terjun terdapat pelangi yang terbentuk karena sinar matahari yang dibiaskan air.
​Udara di sekitar sini terasa luar biasa dingin dan basah. Cipratan air yang terbawa angin menerpa wajahku, terasa dingin sekaligus menyegarkan. Semua kelelahan akibat autopsi seminggu penuh seolah luruh bersama aliran air yang menderu keras di bawah sana, menghantam bebatuan sungai yang hitam dan besar.
​Para peserta open trip langsung riuh. Beberapa sibuk mengambil foto, yang lain mendekat ke jembatan kayu untuk merasakan sensasi terpaan uap air. Di tengah keriuhan itu, aku melihat Natasha berdiri di tepi pembatas batu, agak jauh dari kerumunan.
​Ia berdiri mematung, membiarkan uap air terjun membasahi wajah dan tudung jaketnya. Matanya menatap lurus ke arah pusaran air di dasar air terjun yang bergolak hebat, seolah air yang bergolak itu mencerminkan isi kepalanya yang sedang dipenuhi badai. Aku menatapnya dari kejauhan, menyadari bahwa meskipun keindahan alam ini berhasil menenangkan penatku, wanita di ujung sana masih membawa misteri gelap yang terkunci rapat di dalam dirinya.

#################################
BAB 3: Ilusi Emas dan Pion yang Dikorbankan
​Perjalanan pulang selalu terasa lebih melelahkan, namun kabin bus malam ini terasa berbeda. Gemuruh air terjun Grojogan Sewu perlahan digantikan oleh deru konstan mesin bus yang membelah jalan tol. Di sampingku, Natasha duduk dengan tatapan yang sedikit lebih melunak, meski sisa-sisa kecemasan dari pembicaraan kami di air terjun tadi masih membekas.
​Rasa penasaran yang tertunda sejak semalam membuatku tidak tahan untuk tidak bertanya lagi. Sebagai orang yang dunianya serba pasti—di mana garis sayatan pisau bedah menentukan segalanya—logika pasar finansial ini benar-benar mengusik otakku.
​"Nat," panggilku pelan, memecah kesunyian di antara deru AC. "Bila seseorang ingin mulai trading, apa sebenarnya yang harus dilakukan? Karena kalau menurut awam seperti aku... investasi emas itu bukankah selalu menguntungkan? Harganya di berita kan naik terus."
​Natasha menoleh. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan ironi.
​"Harga emas fisik memang cenderung naik dalam jangka panjang, Dok. Tapi yang kami perjualbelikan di Dream Futures bukan emas batangan yang bisa Dokter simpan di bawah bantal. Itu adalah emas digital derivatif," jelas Natasha, suaranya merendah, beralih ke mode profesional. "Di tempat kami, ada yang namanya leverage—daya ungkit. Rasionya satu banding seratus (1:100). Sederhananya, uang yang Dokter masukkan akan dikalikan seratus kali lipat oleh sistem."
​Aku mengernyitkan dahi. "Kedengarannya menguntungkan?"
​"Di atas kertas, iya. Begitu pergerakan harga sesuai dengan prediksi, Dokter bisa meraup untung raksasa dalam sekejap. Tapi pedang ini bermata dua. Kalau harga bergerak berlawanan arah, pengurangan nominal uang Dokter juga akan melesat seratus kali lebih cepat," Natasha memperbaiki posisi duduknya, matanya menatap lurus ke depan seolah sedang membayangkan grafik yang bergerak.
​"Dalam emas derivatif, kita bisa mengambil dua posisi. Saat harga sudah terlampau tinggi dan kita yakin pasar akan jatuh, kita bisa mengambil kontrak jual (short). Begitu harga turun, kita lepas kontrak dan meraup untung dari selisihnya. Tapi... jika setelah kita mengambil kontrak jual ternyata harganya justru melonjak naik tanpa kendali, uang di rekening emas Dokter akan terkuras habis. Dokter harus melakukan top up—menyetor dana segar seketika—hanya untuk mempertahankan posisi agar akun tidak hangus. Sebaliknya, saat harga di bawah dan kita yakin akan naik, kita mengambil kontrak beli (long). Tapi kalau harga justru menukik jatuh, uang Dokter kembali menguap."
​"Lalu, bagaimana cara kalian tahu kapan emas akan naik atau turun?" tanyaku mengejar.
​"Ada dua cara. Analisis fundamental dengan memantau berita ekonomi makro dan geopolitik dunia, atau analisis teknikal dengan membaca minat beli masyarakat yang tecermin pada candlestick chart dan indikator matematisnya. Biasanya, hantaman berita fundamental jauh lebih merusak dan kuat ketimbang pola teknikal. Tapi jujur, Dok... tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang benar-benar bisa memastikan ke mana arah pasar selanjutnya."
​Aku bersandar pada kursi bus yang empuk. "Tapi bukankah perusahaan trading seperti tempatmu bekerja selalu memberikan rekomendasi posisi atau sinyal harian untuk nasabah?"
​"Iya, ada," potong Natasha cepat, suaranya mendadak menajam. "Tapi saran saya: jangan pernah percaya. Terutama pada broker yang merayu Dokter. Sekali lagi, tidak ada yang tahu pasti arah pasar."
​Aku terkekeh pelan, mencoba mencairkan intensitas penjelasannya. "Tapi kan broker jauh lebih berpengalaman dalam membaca pergerakan market, Nat. Daripada aku yang pengalamannya cuma membaca waktu kematian dan penyebab hancurnya organ dalam orang. Hahaha..."
​Candaanku membeku di udara. Natasha tidak ikut tertawa. Ia justru menatapku dengan sorot mata yang begitu dingin, hingga membuat bulu kudukku sedikit meremang.
​"Tidak, Dokter Will. Anda salah," ujar Natasha dengan nada bicara yang teramat serius. "Di awal masuk, sistem dan broker akan memastikan Dokter menang. Anda akan meraup untung, bahkan diizinkan menarik keuntungan itu agar Dokter merasa di atas angin. Tapi begitu Dokter sudah percaya seratus persen dan menaruh seluruh rasa aman Anda di sana... di situlah jebakannya dimulai. Anda akan digiring secara psikologis untuk terus melakukan top up demi mempertahankan posisi yang sengaja diseret ke arah kerugian."
​Natasha menarik napas dalam, seolah ada beban berat yang menumpu dadanya. "Dan saat Dokter sudah kehabisan modal atau menolak untuk menyetor uang lagi, akun Anda akan mengalami margin call. Hancur, bangkrut, dan ditutup paksa oleh bursa karena deposit Anda dianggap tidak lagi mampu menahan kerugian pasar. Yang paling mengerikan? Saat semua itu terjadi, sang broker akan memanipulasi narasi seolah-olah itu adalah murni kesalahan Dokter yang serakah atau salah mengambil keputusan. Mereka mencuci tangan bersih-bersih. Jadi sejak awal aku katakan... jangan pernah percaya pada siapa pun di dunia ini jika itu menyangkut trading."
​Aku tertegun, lidahku mendadak kelu. Penjelasan panjangnya terasa seperti visualisasi sebuah pembunuhan berencana, namun dilakukan tanpa senjata tajam—hanya lewat angka dan grafik.
​Setelah jeda beberapa saat, Natasha melanjutkan dengan suara yang lebih getir. "Lagipula, Dok... Anda tahu siapa yang memberikan rekomendasi atau sinyal harian itu? Mereka adalah anak-anak baru yang bahkan belum genap sebulan belajar trading. Kepala divisi kami jarang sekali membuka suara. Dia hanya duduk di ruangannya dan memerintahkan, 'Sebarkan sinyal ini.' Saat kami pertama kali masuk kerja dan di-training, pelajaran tentang mekanisme pasar hanya diberikan sepintas lalu. Fokus utama kami bukan diajari menjadi trader yang andal, melainkan menjadi mesin pencari nasabah."
​Natasha tersenyum pahit, jemarinya meremas ujung jaketnya sendiri. "Bila nasabah bangkrut karena menuruti kata marketing yang mengajaknya, nasabahlah yang akan mengamuk dan menuntut marketing tersebut. Kami, para marketing baru, hanyalah pion di papan catur bagi kepala divisi dan pemilik perusahaan. Dan seperti dalam permainan catur, Dokter tahu apa fungsi pion? Berjalan paling depan, memicu konflik, lalu dikorbankan demi melindungi raja dan perusahaannya. Hahaha... Lucu, kan?"
​Tawanya terdengar menyakitkan. "Bahkan jika ada marketing yang terlalu pintar, dan nasabahnya bisa terus-menerus menarik keuntungan, manajemen akan mulai mencari-cari kesalahan marketing tersebut. Tujuannya? Agar nasabah kakap itu bisa di-over alih oleh kepala divisi, untuk kemudian... dibuat bangkrut juga."
​"Kalau sistemnya sekejam itu dan mayoritas trader berakhir bangkrut," aku menyela, mencoba mencari celah logis dari ceritanya. "Mengapa di media sosial banyak sekali anak muda atau trader yang gemar memamerkan barang mewah, mobil sport, dan kehidupan jet set mereka?"
​"Itu bagian dari dekorasi panggung, Dok," sahut Natasha tanpa ragu. "Kami sebagai marketing diwajibkan secara mutlak untuk berpenampilan mewah. Pakai jam tangan bermerek, bawa tas mahal, bahkan kalau perlu menyewa mobil bagus saat bertemu nasabah. Tujuannya hanya satu: membangun ilusi visual bahwa trading bisa membuat orang kaya dalam semalam. Fleksing barang mewah itu juga kami lakukan di depan para downline—anak-anak baru yang kami rekrut—agar mereka tergiur, bersemangat, dan mau bertahan bekerja di sana dengan harapan semu yang sama. Tapi nyatanya? Hanya sedikit sekali yang mampu bertahan hidup di bawah tekanan industri ini."
​Aku menatap profil samping wajahnya. "Jika nasabah kehilangan uang mereka dan bangkrut, apa sebenarnya keuntungan yang kalian dapatkan sebagai broker?"
​Matanya mulai tampak berkaca-kaca di bawah temaram lampu kabin bus. "Struktur di perusahaan kami memiliki tingkatan masing-masing. Untuk bisa naik jabatan, kami harus mengumpulkan target poin marketing dalam jumlah tertentu yang biasa disebut volume margin. Margin ini dihitung dari total dana segar atau deposit yang dimasukkan oleh nasabah ke dalam akun mereka. Misalnya, nasabah Dokter berinvestasi sebesar \$10.000, maka poin margin kami tercatat sebanyak \$10.000. Tapi, jika nasabah itu pintar, berhasil untung sebesar \$1.000, dan menarik uang keuntungan tersebut... maka poin margin kami otomatis menyusut menjadi \$9.000."
​Natasha mengusap sudut matanya yang mulai basah secara samar. "Jika nasabah untung terus dan konsisten menarik uangnya, poin kami akan merosot sampai nol. Kami tidak akan pernah bisa naik tingkat atau mempertahankan posisi. Sebaliknya, jika nasabah itu bangkrut total dan uangnya habis di dalam sistem, poin margin kami tetap utuh di angka tertinggi. Sistem ini sengaja dirancang secara genius sekaligus iblis untuk memacu marketing agar terus berburu mangsa baru. Dan percayalah, mencari nasabah di dunia nyata tidak semudah membalikkan telapak tangan..."
​"Ya. Di dunia ini tidak ada yang benar-benar mudah, Nat," kataku lembut, mencoba memberikan sedikit empati. "Lalu, bagaimana biasanya cara kamu sendiri mencari nasabah?"
​"Pada awalnya, aku hanya mengandalkan daftar nomor telepon acak yang diberikan oleh upline-ku. Ratusan nomor dingin kutelepon setiap hari, berakhir dengan makian atau penolakan. Tapi temanku... ada yang nasibnya lebih ekstrem. Dia sengaja dikenalkan dan 'diumpankan' ke om-om kaya oleh upline-nya di klub malam agar orang-orang itu mau menaruh deposit besar," Natasha menggelengkan kepala.
​"Saat pertama kali kita wawancara kerja di sana, mereka akan menggali informasi sedalam mungkin tentang latar belakang keuangan kita. Pernah kerja di mana, berapa gaji terakhir, siapa keluarga kita yang punya aset terdekat. Jika mereka tahu kita punya tabungan pribadi, kita sendiri yang akan dipaksa dan diiming-imingi untuk menjadi nasabah atas nama diri sendiri dengan janji keuntungan fantastis, sekaligus sebagai syarat cepat naik pangkat."
​"Lalu... kamu melakukan hal yang sama?"
​"Saat itu aku hanya berani mengenalkan upline-ku ke beberapa kerabat terdekat. Tapi syukurlah, tidak ada satu pun dari mereka yang tertarik," jawab Natasha.
​"Lalu bagaimana nasib pekerjaanmu?"
​"Ya aku tidak digaji sama sekali. Hahaha..." tawanya kembali terdengar getir, mencoba menertawakan kemalangannya sendiri.
​"Tunggu. Jadi tidak ada gaji pokok sama sekali di perusahaan pialang seperti itu?" aku benar-benar terkejut.
​"Gaji pokok hanya mitos yang cair kalau volume margin kita menembus angka ekstrem tertentu yang mustahil. Jika tidak tercapai, pendapatan kami murni hanya bersumber dari komisi per transaksi nasabah. Setiap kali nasabah membuka kontrak jual atau beli, sistem akan memotong biaya komisi (charge). Potongan itulah yang dibagi-bagi untukku dan para upline di atasku. Memang komisiku yang paling besar persentasenya, tapi kalau nasabahnya tidak ada, persentase besar dari nol tetap saja nol."
​"Kalau begitu, selama kamu bekerja di Dream Futures, dari mana kamu bisa bertahan hidup jika tidak memiliki nasabah?" tanyaku, semakin bingung dengan roda ekonomi pribadinya.
​"Aku bertahan karena aku punya margin kelompok."
​"Bagaimana bisa? Katanya kamu tidak punya nasabah sendiri?"
​"Dari downline—orang-orang baru yang berhasil kurekrut untuk bekerja di bawah timku. Dalam sistem ini, poin margin milik downline otomatis dihitung sebagai poin margin-ku juga. Jadi, jika anak buah yang kurekrut berhasil mendapatkan nasabah dan nasabah itu melakukan transaksi, aku akan kecipratan komisi pasif, meskipun jumlahnya tidak seberapa dibanding yang didapatkan oleh mereka."
​Aku menarik napas panjang, mulai melihat pola piramida yang terstruktur rapi. "Lalu bagaimana caramu merekrut anak-anak baru itu untuk menjadi downline?"
​"Lewat berbagai portal lowongan kerja online. Upline-ku yang mengajari caranya. Kami mencari data NPWP dan NIB (Nomor Induk Berusaha) milik perusahaan lain yang sah di internet, lalu mengeditnya sedikit menggunakan aplikasi desain agar terlihat seperti dokumen asli milik kami. Dokumen palsu itulah yang digunakan untuk membuka akun pemberi kerja di portal pencari kerja."
​"Memangnya ada perusahaan yang dengan mudah meminjamkan dokumen sepenting itu?" tanyaku heran.
​Natasha menatapku seolah aku adalah makhluk paling polos sedunia. "Dokter, di Google semuanya ada, tinggal dicari dan dimanipulasi grafisnya. Atau opsi kedua, kami mendaftarkan nama perusahaan abal-abal yang terdengar mentereng. Satu hal yang tabu: jangan pernah mencantumkan identitas asli perusahaan pialang berjangka saat memasang lowongan kerja. Kalau kami jujur menulis nama Dream Futures di sana, tidak akan ada satu orang pun yang mau melamar kerja, Dok."
​Jantungku berdesir mendengar pengakuannya. "Wah... itu sudah masuk ranah pemalsuan dokumen publik dan penipuan. Bisa dijerat hukum pidana itu, Nat."
​"Aku tahu. Kami semua tahu ini pelanggaran hukum. Tapi itulah satu-satunya cara kasar untuk menarik massa dan mendapatkan uang di dalam ekosistem perusahaan ini."
​"Lalu, jika komisi terbesar ada di tangan pembawa nasabah langsung, mengapa para upline di atasmu dan kepala divisi bekerja mati-matian untuk menekan kalian?"
​Natasha terdiam sejenak, matanya menatap bayangan kegelapan di luar jendela yang melesat cepat. "Ini rahasia umum yang aku sendiri masih mencari tahu kebenaran mutlaknya di dalam kantor. Rumornya, setiap kali ada nasabah yang mengalami kebangkrutan total (loss wipeout), kepala divisi dan pihak internal perusahaan akan mengantongi keuntungan gelap sebesar lima persen dari total dana yang hangus tersebut. Selain itu, jika seseorang berhasil mengumpulkan akumulasi margin kelompok dalam jumlah masif, dia bisa naik pangkat menjadi kepala divisi baru. Dan di posisi itu, kekuasaannya mutlak atas seluruh tim di bawahnya. Dia berhak memotong atau menahan komisi downline dengan alasan-alasan administratif yang sengaja dibuat-buat, bahkan memecat siapa pun yang dianggap vokal."
​Aku menggeleng-gelengkan kepala, benar-benar habis pikir dengan kegelapan industri yang baru saja dibeberkannya. "Kalau kamu sudah tahu semua kebusukan dan kekejaman sistem di sana... kenapa kamu masih bertahan, Nat? Aku bisa melihat dengan jelas dari matamu kalau kamu sangat tersiksa bekerja di tempat itu."
​Mendengar pertanyaanku, Natasha menoleh lambat. Sorot matanya mendadak berubah, kilatan dingin yang misterius kembali hadir di sana.
​"Karena... ada sesuatu yang terjadi di masa lalu, dan aku harus mencari tahu kebenaran faktualnya langsung dari pusat sistem mereka," jawabnya lirih, penuh teka-teki.
​Sebelum aku sempat menanyakan apa 'sesuatu' yang dimaksud, Natasha meraba tas kecilnya, mengeluarkan sebuah kartu nama berdesain elegan dengan tinta emas timbul, lalu menyelipkannya ke jemariku.
​"Dokter Will... kalau Dokter memang tertarik dan ingin belajar lebih dalam mengenai seluk-beluk pergerakan harga emas tanpa terjebak ilusi kosong, datanglah ke Grand Ballroom Diamond Hotel tanggal 3 Januari nanti, pukul 19.00 WIB. Kantorku sedang mengadakan acara Annual Market Outlook di sana. Itu acara seminar skala besar yang membedah peluang komoditas emas tahunan."
​Natasha memaksakan sebuah senyuman kecil yang tampak lelah. "Tenang saja, tidak usah menjadi nasabah atau menaruh deposit sepeser pun. Cukup datang, duduk, dan saksikan sendiri bagaimana industri ini bekerja. Hubungi nomor pribadiku yang tertera di sana jika Dokter tertarik untuk datang: 081\text{-xxxxxxxxx}."
​Setelah menyerahkan kartu nama itu, Natasha tampaknya telah menghabiskan seluruh sisa energinya untuk berbicara. Ia menarik napas panjang, membenarkan posisi bantal lehernya, lalu memejamkan mata. Dalam hitungan menit, napasnya terdengar teratur. Dia tertidur pulas akibat kelelahan fisik dan mental yang mendera sepanjang hari.
​Aku memandangi kartu nama di tanganku, lalu memasukkannya ke dalam saku jaket. Bus terus melaju menembus pekatnya malam, membawa kami kembali ke kota asal.
​Liburan singkat mingguanku akhirnya usai. Aku berhasil selamat dari drama kejaran hantu, teror ruang otopsi, ataupun investigasi pembunuhan berdarah yang biasa mengisi hari-hariku. Namun, alih-alih mendapatkan ketenangan batin, aku justru pulang dengan membawa seorang teman baru, seonggok pengetahuan tentang kekejaman pasar finansial, dan sebaris misteri gelap yang tampaknya baru saja mengetuk pintu kehidupanku.

&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&

BAB 4: Diamond Hotel dan Topeng Kemewahan
​Tanggal 3 Januari tiba lebih cepat dari yang kukira. Malam itu, taksi yang kutumpangi berhenti tepat di lobi Grand Ballroom Diamond Hotel pada pukul 18.00 WIB. Sengaja aku datang satu jam lebih awal sebelum acara Annual Market Outlook dimulai. Sebagai orang yang biasa hidup dengan jadwal ketat, aku ingin mengamati atmosfer tempat ini tanpa terburu-buru.
​Begitu melangkah keluar dari mobil, kemegahan hotel ini langsung menyergap indra penglihatanku. Arsitekturnya mengusung nuansa Timur Tengah yang teramat kental dan berkelas. Pilar-pilar besar penyangga lobi dihiasi ukiran geometris berlapis warna emas, berpadu sempurna dengan pencahayaan lampu chandelier kristal yang memantulkan pendaran hangat. Aroma kayu gaharu dan esens mawar premium menguar di udara, menegaskan bahwa tempat ini hanya dirancang untuk kalangan atas.
​Sebelum menuju ruang utama, aku memutuskan untuk berjalan-jalan mengitari fasilitas hotel. Langkah kakiku membawaku ke area wellness luar ruangan yang luar biasa luas. Di sana terhampar sebuah kolam renang megah yang dibangun laksana pemandian Ratu Mesir zaman kuno—lengkap dengan patung-patung batu eksotis dan air yang jernih kebiruan di bawah temaram lampu taman. Tidak jauh dari kolam, terdapat fasilitas dry sauna dan wet sauna terpisah, serta satu fasilitas yang membuatku tertegun: sebuah area Ice Bath. Setahuku, ini adalah satu-satunya hotel di kota ini yang menyediakan fasilitas mandi es khusus untuk pemulihan fisik ekstrem. Tempat ini benar-benar definisi dari kemewahan mutlak.
​Puas berkeliling, aku melangkah menuju Grand Ballroom. Pintu ganda kayu jati setinggi empat meter terbuka lebar, memperlihatkan ruangan yang teramat luas dan megah. Karpet beludru tebal meredam setiap langkah kaki para tamu yang mulai berdatangan.
​Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Suasananya luar biasa kontras dengan Terminal bus tempat pertama kali aku bertemu Natasha. Di sini, semua orang mengenakan pakaian formal terbaik mereka. Jas penjahit khusus, gaun malam sutra, dengan berbagai barang branded melekat di tubuh—mulai dari jam tangan Rolex yang berkilau di bawah lampu, tas Hermes, hingga sepatu kulit dengan logo desainer Eropa yang mencolok. Semuanya memancarkan aura kekayaan yang pekat. Sebuah visualisasi sempurna dari apa yang tempo hari Natasha sebut sebagai "dekorasi panggung".
​Di dekat area registrasi, aku melihat seorang wanita yang membuatku pangling.
​Natasha berdiri di sana, tampak sangat berbeda dari wanita murung berjaket tebal yang duduk di sebelahku di bus malam itu. Kali ini, ia mengenakan blazer hitam formal yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan bawahan rok span hitam senada. Rambutnya disanggul rapi dengan riasan wajah yang tegas namun elegan. Kesan dinginnya kini bertransformasi menjadi aura broker profesional yang sangat meyakinkan.
​Begitu matanya menangkap sosokku, ia tersenyum profesional dan melangkah menghampiri.
​"Pagi, Dokter," sapa Nat ramah, suaranya terdengar formal namun tetap hangat.
​"Pagi, Nat," balasku sambil tersenyum, mengagumi perubahannya. "Kamu kelihatan sangat berbeda malam ini. Profesional sekali."
​Natasha terkekeh kecil, lalu melirik ke arah seorang pria yang berdiri tidak jauh di belakangnya. "Terima kasih, Dok. Oh ya, kebetulan sekali. Mari ikut saya sebentar."
​Ia membimbingku mendekati pria tersebut. Pria itu sedang berbincang dengan dua orang tamu, namun langsung menoleh saat kami mendekat.
​"Kenalin Dokter, ini kepala divisi saya, Pak Dendy," ujar Natasha memperkenalkan pria itu dengan gestur tangan yang sopan. "Pak Dendy, ini Dokter Will, tamu undangan saya malam ini."
​Aku sempat tertegun sesaat. Pria di depanku ini terlihat jauh lebih muda dari bayangan awal yang ada di kepalaku tentang seorang 'Kepala Divisi'. Wajahnya masih bergaris muda, namun sorot matanya tajam dan penuh perhitungan. Dan seperti yang dikatakan Natasha tempo hari, penampilannya adalah representasi dari kemewahan industri ini. Setelan jas yang ia gunakan berpotongan sangat rapi, jam tangan Richard Mille melingkari pergelangan tangan kirinya, dan sepatu loafers kulitnya tampak mengkilap tanpa cela.
​Pria itu mengulurkan tangannya, bibirnya mengulas senyum ramah yang terlatih. "Dendy Santoso."
​Aku menyambut genggaman tangannya yang mantap. "William."
​Kami berkenalan singkat. Entah mengapa, saat menyebut nama belakangnya, ingatan tentang gumaman Natasha di bus kembali terlintas di kepalaku. Dendy. Eveline. Dua nama itu kini memiliki wajah di dunia nyataku.
​"Senang bisa bertemu Anda, Dokter Will. Suatu kehormatan seorang profesional medis bersedia hadir di acara kami," ujar Pak Dendy dengan nada suara yang karismatik. Ia kemudian menunjuk ke arah barisan meja prasmanan di sisi ballroom. "Silakan Dokter Will dinikmati dulu hidangannya sebelum acara inti dimulai."
​"Terima kasih, Pak Dendy," sahutku menghormati keramahannya.
​Setelah itu, Pak Dendy dan beberapa rekan divisinya langsung berpamitan halus untuk kembali menyapa tamu-tamu penting lainnya yang baru hadir. Dari kejauhan, aku bisa melihat betapa sibuknya pria muda itu. Ia bergerak dari satu kelompok penanam modal ke kelompok lain, menjelaskan sesuatu dengan gestur tangan yang meyakinkan, tertawa di waktu yang tepat, dan tampaknya... ia bahkan belum sempat menyentuh makanan atau minuman sama sekali sejak acara dibuka. Tekanan di pundaknya pasti luar biasa besar.
​Aku melangkah menuju deretan meja hidangan. Pihak penyelenggara benar-benar tidak main-main dalam memanjakan lidah para tamu. Aneka hidangan mewah disajikan dengan estetika tinggi. Mulai dari makanan lokal kelas gourmet seperti bakso daging premium dengan kuah kaldu yang harum, hingga hidangan otentik Timur Tengah seperti kebab dengan daging panggang rempah yang asapnya masih mengepul menggugah selera.
​Aku mengambil secangkir kopi hitam hangat dan sepiring kecil hidangan, lalu berdiri di sudut ballroom yang agak lengang. Sambil menikmati makanan, mataku terus mengawasi interaksi di dalam ruangan megah ini. Diamond Hotel malam ini dipenuhi oleh kilau emas, makanan mewah, dan tawa orang-orang berkelas. Namun, di bawah lantai dansa yang megah dan di balik senyum karismatik Pak Dendy, aku bisa merasakan ada arus bawah yang bergerak tidak terlihat. Sebuah permainan mental yang besar baru saja dimulai.

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
BAB 5: Sinyal Palsu dan Bayangan di Balik Tirai
​Suara riuh tepuk tangan menggema di dalam Grand Ballroom saat lampu utama perlahan meredup. Dua buah layar proyektor raksasa di panggung depan menyala, menampilkan logo emas bertuliskan PT. Dream Futures. Seorang MC dengan setelan tuksedo parlente melangkah maju ke tengah panggung, membuka acara dengan suara bariton yang mantap dan memikat.
​Acara resmi dimulai. Paruh pertama diisi dengan pemaparan profil perusahaan yang sangat impresif. Sang MC menjelaskan secara lugas bahwa PT. Dream Futures telah berdiri kokoh sejak tahun 2000. Pengalaman selama 26 tahun di industri pialang berjangka telah menempatkan mereka secara konsisten dalam jajaran lima besar perusahaan pialang terbaik dan terpercaya di seluruh Indonesia. Narasi yang dibangun begitu rapi, menciptakan impresi tentang sebuah institusi finansial yang kokoh dan tak tergoyahkan.
​Tak lama kemudian, giliran Pak Dendy Santoso yang mengambil alih panggung untuk memaparkan aspek legalitas perusahaan. Karismanya sebagai kepala divisi langsung memediasi ruangan. Ia berbicara dengan artikulasi yang tenang, didukung oleh visual sertifikat resmi kenegaraan yang terpampang besar di layar.
​"Perusahaan kami beroperasi legal di bawah payung Kementerian Perdagangan," ujar Pak Dendy, suaranya terdengar sangat meyakinkan lewat pengeras suara. "Setiap transaksi kami diawasi secara ketat oleh BAPPEBTI, serta terintegrasi dengan ICDX dan ICH. Lembaga-lembaga negara inilah yang bertindak sebagai penjamin simpanan nasabah. Perlu Dokter dan Bapak-Ibu sekalian ketahui, seluruh dana nasabah disimpan di dalam segregated account—rekening terpisah dari dana operasional PT. Dream Futures. Jadi, aman secara mutlak. Bila amit-amit terjadi sesuatu yang buruk atau PT. Dream Futures mengalami kebangkrutan, dana Anda semua dijamin akan dikembalikan seratus persen sesuai nominal yang tertera di akun."
​Paparannya berlanjut ke mekanisme trading emas. Pak Dendy menyajikan rangkaian data ilmiah, grafik performa tahunan, hingga bukti nyata berupa riwayat penarikan dana (withdrawal) nasabah. Layar proyektor bahkan menampilkan data seorang nasabah setianya yang telah bertransaksi sejak tahun 2015 hingga hari ini; dananya tetap aman, investasinya terus berkembang, dan pencairannya selalu instan tanpa hambatan.
​Melihat semua data digital, sertifikat resmi, dan bukti autentik yang tersaji di depan mata, kepalaku mendadak dilanda kebingungan yang hebat. Logika forensikku yang biasa menuntut bukti konkret mulai goyah. Data yang dipresentasikan di panggung ini terasa begitu valid dan meyakinkan. Di sisi lain, aku teringat ucapan Natasha di bus tempo hari—seorang wanita yang tampak begitu membenci tempatnya bekerja, penuh dengan teori konspirasi gelap, namun anehnya tetap bertahan di sana tanpa bisa menyodorkan satu pun bukti fisik padaku. Siapa yang harus kupercaya? Fakta visual di atas panggung ini, ataukah kegelisahan emosional Natasha?
​Begitu acara seminar berakhir dan para tamu mulai bergeser ke area ramah tamah, sosok Pak Dendy dengan cepat membelah kerumunan. Ia berjalan lurus menghampiriku yang sedang berdiri di dekat pilar.
​"Halo, Dokter Will," sapanya dengan nada ceria dan senyum lebar yang ramah. "Bagaimana menurut Anda peluang pasar yang tadi kami sampaikan? Apa Dokter tertarik untuk menjadi nasabah kelolaan Natasha?"
​Aku tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan keraguanku. "Paparannya sangat menarik, Pak Dendy. Tapi, sebagai orang awam di dunia keuangan, ada satu hal yang mengganggu pikiran saya. Bagaimana jika harga emas di pasar global tiba-tiba menukik turun secara drastis?"
​Pak Dendy tertawa kecil, melambaikan tangan dengan gestur meremehkan. "Wah, emas itu komoditas utama dunia, Dokter. Harganya tidak mungkin turun secara drastis tanpa arah."
​Kata-kata Natasha tentang jebakan psikologis dan risiko kebangkrutan seketika terngiang kembali di telingaku. Aku memutuskan untuk menekan lebih dalam. "Tapi secara teori, bagaimana jika kita sudah telanjur mengambil kontrak beli (long), dan detik berikutnya harga emas justru jatuh bebas?"
​"Sederhana saja, Dok," jawab Pak Dendy tangkas, tanpa keraguan sedikit pun. "Dokter cukup melakukan top up deposit untuk menahan posisi akun Dokter. Begitu harga emas kembali naik—dan sejarah membuktikan emas selalu naik—Dokter akan langsung meraup keuntungan besar. Saat itulah Dokter bisa menarik kembali seluruh uang top up beserta profitnya secara utuh."
​Ia melangkah selangkah lebih dekat, mengibaskan tangannya pelan seolah ingin menyingkirkan kekhawatiranku. "Lagipula, sistem di Dream Futures ini seratus persen trading manual, Dokter. Kami sama sekali tidak menggunakan robot. Akun dan transaksi dipegang kendali penuh oleh nasabah sendiri. Jadi uang Dokter aman di dalam rekening bursa, tidak akan bisa kami mainkan atau kami manipulasi sepihak."
​Aku terdiam sejenak, lalu menyuarakan keraguan terbesarku. "Masalahnya, Pak Dendy, saya ini sama sekali tidak tahu mekanisme pasar. Saya tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk mengambil posisi."
​Mendengar itu, senyum Pak Dendy semakin lebar, penuh kehangatan yang manipulatif. "Oh, kalau soal itu, Dokter tidak perlu cemas sama sekali. Tenang saja. Nanti Natasha yang akan membantu sepenuhnya. Dia yang akan memberitahu Dokter kapan harus open posisi dan kapan saatnya harus close posisi untuk mengamankan profit. Tugas Dokter hanya satu: fokus saja bekerja menangani pasien dan ruang autopsi. Biar Natasha yang bekerja keras di kantor untuk memantaukan pergerakan dana Bapak setiap hari. Kerja sama yang saling menguntungkan, bukan?"
​Ia kemudian membeberkan strategi lanjutan yang disebut hedging atau penguncian posisi, menjelaskan tentang membuka kontrak berlawanan arah untuk menahan kerugian sementara. Pak Dendy terus mengoceh, membeberkan berbagai istilah teknis dan strategi rumit yang jujur saja sama sekali tidak masuk ke dalam logikaku. Namun, di tengah-tengah penjelasannya yang menggebu-gebu, pandanganku mendadak terkunci pada sesuatu di belakang tubuhnya.
​Udara di sekitar kami mendadak turun beberapa derajat secara ekstrem. Di dalam ruangan yang diterangi lampu kristal terang itu, aku melihat sekelebat bayangan putih yang samar namun nyata muncul tepat di balik punggung Pak Dendy. Bayangan itu menyerupai siluet tubuh manusia yang bergerak distorsi. Kedua lengan bayangan itu terangkat ke atas, menjulur ke depan seolah-olah sedang berusaha mencekik leher Pak Dendy dengan penuh dendam.
​Kepala dari bayangan itu bergerak lambat, menoleh ke arahku, lalu menggelengkan kepalanya dengan tegas. Gesturnya seakan berbisik langsung ke dalam benakku: Jangan percaya pada pria ini.
​Jantungku berdegup kencang. Naluri forensik dan kepekaan batinku seketika berteriak bahwa ada sesuatu yang sangat keliru di tempat ini. Rasa tidak enak yang pekat langsung memenuhi dadaku.
​"Maaf, Pak Dendy," potongku cepat, berusaha menjaga suaraku agar tetap terdengar tenang sambil merapikan jas. "Saya mendadak ada urusan mendesak yang harus diselesaikan malam ini. Saya harus pamit pulang terlebih dahulu."
​Pak Dendy tampak sedikit terkejut dengan interupsi ku yang tiba-tiba, namun ia segera menguasai ekspresi wajahnya. "Oh, sayang sekali, Dok. Tapi tidak apa-apa, silakan. Terima kasih banyak sudah menyempatkan hadir."
​Aku menjabat tangannya sekilas, lalu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan kemegahan ballroom yang mendadak terasa menyesakkan. Aku butuh udara segar. Info lebih lanjut mengenai semua kegilaan ini harus kugali langsung dari Natasha besok, di tempat yang lebih netral.
​Ketika aku berjalan menyusuri koridor menuju lobi luar, aku melirik jam tangan. Natasha pasti masih tertahan di dalam untuk mengikuti evaluasi kerja malam bersama timnya. Tepat saat aku melangkah keluar menuju area penjemputan taksi, ponsel di saku celanaku bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor Natasha.
​Natasha: Dokter Will, tolong jangan pulang dulu. Tolong tunggu saya sebentar. Evaluasi kerja malam ini mungkin agak kacau, tapi saya butuh tumpangan pulang malam ini. Ada yang harus saya bicarakan.
​Aku menghentikan langkahku di undakan lobi, menatap layar ponsel sejenak sebelum mengetik balasan singkat bahwa aku akan menunggunya di kedai kopi seberang hotel. Kuharap proses evaluasi kerjanya tidak memakan waktu terlalu lama. Kebetulan sekali, ada banyak pertanyaan baru yang mendesak untuk kutanyakan padanya. Kontras antara legalitas formal Dream Futures dan bayangan mencekik di belakang Pak Dendy baru saja membuka babak baru yang jauh lebih berbahaya dari sekadar autopsi mayat.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
BAB 6: Pengakuan di Balik Kaca Hujan
​Setengah jam berlalu, disusul satu jam berikutnya yang terasa merayap lambat. Aku duduk di sudut kedai kopi seberang hotel yang mulai sepi, menatap cangkir kopi hitamku yang sudah mendingin. Beberapa kali aku melirik jam tangan, berniat untuk menghidupkan mesin mobil dan meninggalkannya begitu saja. Namun, sebuah janji tetaplah janji. Bagi seorang dokter forensik, komitmen terhadap waktu adalah hal sakral, bahkan jika itu hanya untuk menunggu seorang broker yang sedang dihakimi dalam ruang evaluasi kerjanya.
​Pukul 22.15, pintu kedai kopi berdenting. Natasha melangkah masuk dengan bahu merosot. Wajahnya yang semula tertata rapi kini tampak berantakan; beberapa helai rambutnya terlepas dari sanggul, dan tatapan matanya kosong. Ia duduk di hadapanku tanpa permisi, meletakkan tasnya dengan hentakan pelan yang sarat akan kelelahan emosional.
​Untuk mencairkan suasana yang mencekam, aku membuka percakapan dengan keraguan yang sejak tadi menyumbat kepalaku. "Nat... jujur, aku bingung. Kenapa Pak Dendy tadi bisa menjelaskan trading plan, data withdrawal, sampai legalitas perusahaan dengan begitu meyakinkan? Semuanya berbasis data konkret yang sulit dibantah."
​Natasha mendengus pelan, senyum sinisnya kembali muncul di sudut bibir. "Itulah kehebatan dunia marketing, Dokter. Mereka dilatih untuk memiliki kemampuan persuasi tingkat tinggi. Dan data-data digital seperti itu? Di dunia modern, semuanya bisa dibuat, dimanipulasi, dan dikemas seolah tanpa cela."
​Aku terdiam sejenak, lalu ingatan tentang sekelebat bayangan putih yang mencekik Pak Dendy di ballroom kembali melintas. "Nat, apa pernah... ada nasabah Pak Dendy yang sampai meninggal karena frustrasi akibat trading?"
​Natasha menatapku lurus-lurus. "Kalau soal nasabah, aku tidak tahu. Tapi yang jelas..." Ia menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun dengan tidak teratur. "Malam ini aku sudah resmi resign. Dan malam ini juga, aku akhirnya tahu kepastian tentang penyebab kematian Eveline."
​"Eveline?" dahi saya berkerut. "Dia meninggal? Memangnya kenapa?"
​"Eveline itu... kakak kandungku, Dok," suara Natasha mendadak bergetar. Kalimat itu meluncur seperti hantaman godam.
​"Dia dulu bekerja di posisi yang sama denganku di Dream Futures. Eveline adalah anak yang sangat rajin dan penurut. Dia selalu menuruti apa pun strategi dan perintah yang dikatakan Pak Dendy. Keberuntungannya sempat luar biasa; dia pernah mendapatkan komisi bersih sampai empat ratus juta rupiah selama tiga bulan berturut-turut. Tapi di sinilah sifat iblis Pak Dendy mulai keluar. Mengetahui kakakku punya banyak uang, Pak Dendy sering meminta dibelikan makanan mewah ini-itu, memanfaatkan posisi jabatannya. Bila kakakku menolak atau mulai protes, Pak Dendy langsung mengancam tidak akan mau membantu menganalisis pergerakan harga untuk nasabah kakakku."
​Natasha berhenti sejenak, jemarinya bergetar hebat saat meraih cangkir air putih di meja.
​"Tadi... Pak Dendy sendiri yang menceritakan semuanya di ruang rapat kosong. Dia tidak tahu kalau aku merekamnya," lanjut Natasha, matanya mulai berkaca-kaca. "Kakakku dulu pernah dikenalkan dengan seorang om-om kaya di klub malam oleh Pak Dendy untuk dijadikan nasabah. Om itu berinvestasi sebesar dua miliar rupiah. Seiring berjalan waktu, om ini mulai kurang ajar dan sering mengajak kakakku tidur. Tapi kakakku selalu bisa menolaknya dengan halus, karena saat itu akun trading si om masih menghasilkan keuntungan besar dari arahan kakakku yang mendapat sinyal langsung dari Pak Dendy."
​"Lalu apa yang berubah?" tanyaku, kini sepenuhnya masuk ke dalam mode seorang investigator forensik.
​"Awalnya om itu hanya mengambil lot kecil. Karena selalu untung, dia makin percaya pada sinyal yang diberikan Eveline. Sampai akhirnya, dia berani mengambil risiko dengan lot yang sangat besar. Di titik itulah, Pak Dendy sengaja memberikan rekomendasi arah pasar yang keliru kepada kakakku untuk disampaikan pada nasabahnya. Akun om itu hancur total dalam semalam. Om itu mengamuk pada Eveline, dan Eveline meluapkan kemarahannya pada Pak Dendy."
​Setetes air mata akhirnya lolos membasahi pipi Natasha. Aku menggeser kotak tisu ke dekat tangannya. Ia mengambil selembar, menyeka pipinya, lalu melanjutkan dengan suara yang semakin parau.
​"Bukannya bertanggung jawab, Pak Dendy malah menahan uang komisi empat ratus juta milik kakakku selama dua bulan berturut-turut. Hanya bulan pertama yang diberikan utuh. Akibatnya, kakakku kesulitan keuangan hingga tidak bisa membayar sewa apartemennya sendiri. Pak Dendy berdalih bahwa komisi itu ditahan karena kakakku tidak bekerja dengan baik dan menuntut uang itu dikembalikan untuk mengganti rugi dana si om. Tragisnya, om kaya itu sama sekali tidak merasa menerima sepeser pun uang ganti rugi tersebut. Dia yang frustrasi karena kehilangan dua miliar merasa ditipu, lalu menculik kakakku... dan memperkosanya."
​Aku terkesiap. Bayangan tentang kekejaman di balik industri ini mendadak terasa jauh lebih pekat dan berdarah.
​"Kakakku hancur. Dia marah besar pada Pak Dendy dan mengancam akan membongkar seluruh bobrok perlakuan pria itu dan manajemen Dream Futures ke publik. Malam itu, setahun yang lalu, Pak Dendy mendatangi apartemen kakakku. Mereka terlibat pertengkaran hebat di balkon. Pak Dendy yang panik... mendorong kakakku dari balkon apartemen hingga jatuh dan tewas seketika. Dia memanipulasi TKP dan membuat semuanya seolah-olah murni kasus bunuh diri akibat depresi."
​Natasha membuka tasnya dengan terburu-buru, mengeluarkan sebuah alat perekam suara digital kecil dan meletakkannya di atas meja. "Ini dokter... ini rekaman percakapan kami malam ini. Saya selalu merekam setiap interaksi dengannya secara diam-diam. Karena sejak awal aku masuk ke perusahaan terkutuk itu, tujuanku cuma satu: menjebloskannya ke dalam penjara."
​"Lalu, kenapa Pak Dendy bisa sebodoh itu menceritakan pembunuhan itu kepadamu malam ini?" tanyaku heran. Seorang pembunuh berdarah dingin jarang sekali membuka kedoknya begitu saja.
​"Karena malam ini dia menyudutkanku," jawab Nat, suaranya naik penuh emosi. "Dia bilang aku harus bisa merayumu agar mau menaruh deposit besar menjadi nasabahku. Jika tidak, semua komisiku yang tersisa tidak akan pernah dicairkan. Aku emosi, Dok. Aku berteriak di depannya dan bertanya, 'Apa setelah aku berhasil dapat nasabah besar, nasibku akan berakhir tragis seperti Eveline?!' Dan Dokter tahu apa jawabannya dengan nada meremehkan?"
​Natasha meremas tisu di tangannya hingga hancur. "Dia bilang... kalau aku tidak bisa mendapatkan nasabah, nasibku akan sama persis seperti Eveline yang dia jatuhkan dari balkon, dan dia sesumbar bisa kembali membuatnya seolah-olah aku bunuh diri karena stres kerja. Setiap hari di kantor, pria itu selalu menghinaku karena aku tidak bisa menghasilkan poin margin. Dia tidak tahu, aku bertahan di sana hanya untuk mengumpulkan kepingan teka-teki kematian kakakku. Seandainya membunuh orang itu legal... sudah kuhabisi dia dengan tanganku sendiri!"
​Aku terdiam menatap wanita di depanku. Sebagai dokter forensik yang terbiasa menganalisis fakta dingin di atas meja autopsi, batinku mendadak dilanda dilema yang luar biasa hebat.
​Di satu sisi, Natasha terdengar sangat meyakinkan saat bercerita. Getaran suaranya, kemarahan yang meluap, dan tangisnya terasa begitu riil, didukung oleh fenomena aneh yang kulihat di ballroom tadi. Namun di sisi lain, kepalaku juga tidak bisa melupakan betapa fasih, terstruktur, dan meyakinkannya Pak Dendy saat memaparkan data legalitas hukum di atas panggung seminar. Kedua orang ini sama-sama memiliki tingkat persuasi yang luar biasa tinggi di duniaku yang serba abu-abu saat ini. Aku bingung mana yang merupakan kebenaran sejati dan mana yang merupakan delusi atau manipulasi.
​"Dokter... evaluasi sudah selesai. Bisakah kita pergi dari sini sekarang?" tanya Natasha lirih, memutus pergulatan batin di kepalaku.
​"Ya, mari kita pulang," sahutku sambil berdiri.
​Saat berjalan menuju tempat parkir mobil di bawah rintik hujan yang mulai membasahi kota, aku mengambil satu keputusan mutlak dalam hatiku: Aku akan menghindari dunia trading ini sejauh mungkin. Langkah ini kuambil bukan berarti aku sepenuhnya memercayai semua cerita emosional dari Natasha, melainkan sebagai langkah proteksi diri. Bagiku yang terbiasa hidup tenang di antara deretan mayat, dunia finansial ini terlalu remang-remang, penuh tipu daya, dan berbahaya. Aku tidak tahu mana fakta yang sebenarnya terjadi, dan menyingkir dari pusaran masalah ini adalah pilihan paling logis yang bisa kuambil.

<><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><>

BAB 7: Tidur Panjang
​Siang itu, koridor lantai atas Diamond Hotel diselimuti keheningan yang tenang, hanya terputus oleh suara roda troli milik petugas cleaning service. Jarum jam tepat menunjuk pukul 12.00 WIB, waktu standar bagi para tamu untuk mengosongkan kamar atau memperpanjang masa inap.
​Seorang petugas cleaning service pria berhenti di depan salah satu pintu kamar. Ia mengetuk pintu kayu jati itu dengan pelan.
​Tok... Tok... Tok...
​"Permisi Bapak/Ibu, saya ingin membersihkan ruangan," serunya sopan.
​Hening. Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam.
​Setelah mencoba mengetuk sekali lagi dan tetap disambut oleh kesunyian yang ganjil, petugas itu meraba saku seragamnya, mengeluarkan sebuah kartu master key, lalu menempelkannya pada sensor pintu. Lampu indikator berkedip hijau, diikuti bunyi klik mekanis yang pelan.
​Pintu terbuka. Tirai kamar yang tertutup rapat membuat ruangan itu tampak temaram. Di atas tempat tidur king-size, terlihat sosok Pak Dendy sedang berbaring telentang. Posisinya tampak seperti orang yang tertidur pulas tanpa bergerak sama sekali.
​Petugas itu melangkah masuk dengan ragu-ragu. Merasa ada yang tidak beres karena sang tamu sama sekali tidak terusik oleh suara pintu, ia memberanikan diri mendekat. "Permisi, Pak?" ujarnya sambil mengulurkan tangan, menggoyangkan sedikit bahu Pak Dendy.
​Tubuh itu terasa kaku dan dingin.
​Petugas cleaning service itu terperanjat mundur, wajahnya mendadak pias. Pekikan tertahan lolos dari mulutnya saat ia menyadari bahwa pria di atas kasur itu sudah tidak lagi bernapas. Dengan tangan gemetar, ia segera meraba ponselnya dan menghubungi pos keamanan hotel untuk diteruskan ke pihak kepolisian.
​Di sudut kota yang berbeda, aku sedang menikmati secangkir kopi saat ponselku bergetar hebat. Nama di layar membuat dahiku berkerut. Pak Bayu, Kepala Kepolisian setempat yang sudah sangat sering bekerja sama denganku dalam berbagai kasus autopsi pembunuhan.
​"Selamat siang, Dokter Will," suara Pak Bayu terdengar berat di seberang telepon. "Dokter, apakah kemarin Anda menghadiri acara di Diamond Hotel dan bertemu dengan pria bernama Dendy Santoso?"
​Jantungku berdesir. "Iya, benar Pak Bayu. Kemarin saya ikut acara tahunan Dream Futures di sana atas undangan seorang teman. Ada apa, Pak?"
​"Pak Dendy baru saja ditemukan tewas di salah satu kamar hotel tersebut. Saya butuh Dokter di sini sekarang."
​Tanpa membuang waktu, aku segera meluncur ke Diamond Hotel. Garis polisi berwarna kuning sudah terpasang melintang di depan pintu kamar. Aku melangkah masuk menemui Pak Bayu, lalu bersama-sama kami mulai memeriksa area sekitar tempat tidur sebelum jasad dievakuasi ke ruang forensik.
​Di atas meja rias, aku menemukan sebuah kantong plastik kecil. Di dalamnya terdapat sebuah jarum suntik medis yang sudah terpakai, beberapa macam obat diabetes, obat kolesterol, serta obat darah tinggi. Secara medis, jenis-jenis obat yang berserakan ini sama sekali tidak mematikan dalam dosis normal. Semuanya terlihat sangat wajar bagi seseorang yang mengidap penyakit degeneratif.
​Aku kemudian memeriksa dokumen rekam medis bulan lalu milik Pak Dendy yang berhasil diamankan petugas dari tas kerjanya. Berkas itu mengonfirmasi segalanya: Pak Dendy memang memiliki riwayat penyakit darah tinggi kronis, gula darah tinggi, dan kolesterol yang melonjak.
​"Gaya hidupnya sangat tidak sehat, Dok," bisik Pak Bayu di sampingku. "Dari data intelijen lapangan awal, pria ini hampir setiap malam menghabiskan waktu di klub malam, mengonsumsi alkohol dalam jumlah besar, dan seorang perokok berat."
​Aku menatap jasad kaku Pak Dendy sejenak, lalu menoleh ke arah Pak Bayu. "Pak Bayu, kita harus memeriksa rekaman CCTV hotel. 

[][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][]

Pemeriksaan CCTV
Saya ingin melihat pergerakannya sejak sore kemarin hingga malam hari. Mulai dari pukul 17.00 sampai pukul 23.00."
​Kami berdua segera bergerak ke ruang pemantau CCTV hotel. Di depan deretan layar monitor, aku memberikan kesaksian verbal mengenai apa yang kusaksikan langsung kemarin.
​"Pukul 18.30, itu adalah momen pertama kali saya datang dan berkenalan singkat dengan Pak Dendy melalui Natasha," ujarku sambil menunjuk layar yang menampilkan lobi ballroom. "Di situ tidak ada tanda-tanda aneh. Fisiknya tampak bugar, auranya meyakinkan, dan selama interaksi itu, saya tidak melihat Pak Dendy menyentuh makanan atau minuman sama sekali. Dia terlalu sibuk menyapa tamu."
​Layar CCTV bergeser menampilkan jarum jam pukul 19.30. Acara Dream Futures dimulai secara resmi di dalam ballroom. Melalui sudut pandang kamera, suasana tampak kondusif dan eksklusif. Tidak terlihat adanya gerak-gerik mencurigakan atau orang-orang tak dikenal yang mengincar atau menguntit Pak Dendy.
​Pukul 20.30, acara selesai. Layar memperlihatkan momen terakhirku berbincang singkat dengannya di dekat pilar ballroom sebelum aku berpamitan pulang tepat pukul 21.00 WIB.
​Namun, rekaman setelah kepergianku justru mulai menyingkap tabir yang mengejutkan.
​Pukul 21.05, kamera di area lobi luar menangkap sosok Natasha. Wanita itu berjalan terburu-buru keluar hotel untuk menemui seorang pengemudi ojek online, menerima sebuah bingkisan kecil dari tangannya.
​Hanya berselang lima menit, pada pukul 21.10, Natasha kembali ke dalam lobi dan menyerahkan bingkisan ojol tersebut langsung ke tangan Pak Dendy. Di layar, keduanya tampak melanjutkan obrolan santai di sofa lobi yang agak sepi.
​Misteri mulai menajam saat waktu menunjukkan pukul 21.45. Bahasa tubuh keduanya berubah drastis di layar monitor. Mereka terlihat terlibat konfrontasi fisik yang intens—bersitegang dan berargumen hebat mengenai sesuatu. Tepat pukul 21.50, Natasha berbalik arah dan meninggalkan Pak Dendy dengan tergesa-gesa. Dari gestur tubuhnya yang mengusap wajah, ia tampak seperti sedang menangis hebat.
​"Perhatikan, Pak Bayu," kataku sambil mengetuk layar kaca monitor. "Sampai detik Natasha pergi, Pak Dendy sama sekali tidak memasukkan makanan apa pun ke dalam mulutnya. Kecil sekali kemungkinannya dia meninggal karena keracunan zat yang dicerna."
​Kami terus memaku pandangan pada layar. Pukul 22.00, Pak Dendy yang ditinggalkan sendirian mendadak berdiri dengan tubuh yang sempoyongan. Tangannya meraba saku jas, mengeluarkan ponsel, dan tampak sedang menelepon seseorang dengan raut wajah panik yang luar biasa.
​Pukul 22.15, kondisi fisiknya terlihat semakin memburuk. Di atas sofa lobi yang remang, Pak Dendy tampak gemetar saat mengeluarkan obat-obatan pribadinya. Ia merobek bungkusan plastik yang sebelumnya diberikan oleh Natasha, mengeluarkan jarum suntik dari sana, lalu dengan tergesa-gesa menyuntikkannya sendiri ke lengan kirinya.
​Lima menit kemudian, pukul 22.20, dengan langkah kaki yang terseok-seok menahan sakit, Pak Dendy berjalan menuju meja resepsionis utama hotel. Ia mengeluarkan kartu identitas dari dompetnya dengan gerakan canggung. Petugas resepsionis tampak memproses data tersebut, lalu menyerahkan sebuah kartu akses kamar kepadanya. Setelah itu, Pak Dendy berjalan lambat menuju lift, menuju kamar tempat ia akhirnya ditemukan tewas siang ini.
​Aku dan Pak Bayu segera memanggil petugas resepsionis yang berjaga malam itu untuk dimintai keterangan langsung di ruang pemantau.
​"Kartu apa yang Anda berikan kepada Pak Dendy malam itu?" tanya Pak Bayu tegas.
​Petugas resepsionis perempuan itu menunduk cemas, mencoba mengingat kembali kejadian semalam. "Pak Dendy malam itu mendadak memesan satu kamar hotel, Pak. Beliau datang ke meja saya sambil memegang kepalanya, mengeluh pusing berat dan bilang ingin segera beristirahat di kamar."
​Ia menjeda kalimatnya sejenak, lalu melirik ke arah layar CCTV yang membeku. "Beliau memesan kamar itu... tepat setelah saya melihatnya ribut besar dengan tamu wanita berbaju formal yang tadi menangis."
​Aku bersandar pada kursi besi ruang CCTV, membiarkan keheningan mengambil alih sejenak. Potongan teka-teki medis dan kronologi di layar mulai menyatu di kepalaku. Kematian Pak Dendy terhampar begitu dekat, tepat setelah sebuah bingkisan misterius dari tangan Natasha berpindah tangan. Apakah jarum suntik itu penyelamat yang terlambat, atau justru malaikat maut yang sengaja diserahkan?

****************************************

BAB 9: Kebencian yang Terbuka
​Sore itu, ruang interogasi di markas kepolisian terasa dingin dan mencekam. Rintik hujan di luar jendela kaca menyamarkan kebisingan kota. Natasha duduk di seberang meja kayu panjang dengan punggung tegak. Sisa-sisa riasan profesionalnya semalam telah memudar, menyisakan raut wajah lelah yang dipenuhi ketegangan.
​Pak Bayu duduk dengan tenang di hadapannya, sementara aku memilih berdiri di sudut ruangan dekat pintu, mengamati setiap perubahan mikro pada ekspresi wajah Natasha.
​Pak Bayu membuka map berkas di tangannya, lalu menatap Natasha dengan pandangan menyelidik yang tajam namun tetap tenang. "Selamat sore. Apakah benar Anda dengan Ibu Natasha?"
​"Benar, Pak," sahut Natasha, suaranya terdengar datar dan dingin. "Ada yang perlu saya bantu?"
​"Perkenalkan, saya Bayu, Kepala Kepolisian daerah sini. Saat ini, institusi kami sedang memeriksa kasus dugaan pembunuhan terhadap Saudara Dendy Santoso."
​Mendengar nama itu disebut, sudut bibir Natasha terangkat, membentuk seulas senyum sinis yang mengerikan. "Oow... Ternyata iblis juga bisa mati," desisnya. Kata-katanya meluncur begitu saja, sarat akan kebencian yang mendalam dan tak lagi berusaha ia sembunyikan.
​Pak Bayu tidak terkejut. Ia mencatat sesuatu di kertasnya, lalu melanjutkan. "Apakah kemarin Ibu bertemu dengan Bapak Dendy?"
​"Iya, saya kemarin bertemu dengan iblis satu itu," jawab Natasha tanpa ragu. Matanya menatap lurus ke bola mata Pak Bayu. "Sayang sekali... saya melewatkan kesempatan untuk melihat detik-detik kematiannya secara langsung."
​"Kelihatannya Ibu benci sekali dengan Pak Dendy," selidik Pak Bayu, mencoba memancing reaksi lebih jauh.
​"Ya. Memang aku sangat membencinya. Sangat amat membencinya."
​Tanpa perlu didesak lebih dalam, Natasha mulai memuntahkan seluruh cerita yang menyumbat dadanya—cerita yang persis sama dengan apa yang ia beberkan kepadaku di kedai kopi semalam. Dengan suara yang sesekali bergetar menahan amarah, ia menceritakan tentang ekosistem busuk di Dream Futures, manipulasi psikologis nasabah, hingga kisah tragis Eveline, kakak kandungnya yang tewas setelah didorong dari balkon apartemen oleh Pak Dendy setahun lalu. Kebenciannya terasa begitu pekat, seolah telah mendarah daging selama berbulan-bulan.
​Pak Bayu mendengarkan dengan saksama tanpa menginterupsi, sebelum akhirnya mengajukan pertanyaan kronologis berdasarkan temuan CCTV.
​"Apakah benar kemarin Ibu adalah orang terakhir yang ditemui oleh Pak Dendy sebelum beliau memesan kamar hotel?"
​Natasha mendengus. "Mana kutahu kalau saya orang terakhir atau bukan. Saya tidak mengawasi hidupnya setelah saya pergi."
​"Baik. Dari rekaman kamera pengawas, terlihat Ibu menyerahkan sebuah bungkusan berwarna putih kepada Pak Dendy di lobi. Apa benar?"
​"Benar."
​"Bisa Anda jelaskan, apa isi dari bungkusan tersebut?"
​"Mana kutahu apa isinya. Obat kali," jawab Natasha ketus, mengibaskan tangannya. "Dia sendiri yang memesannya lewat aplikasi. Saya hanya diminta olehnya untuk berjalan ke lobi luar, mengambilkan pesanan itu dari kurir ojek online, dan menyerahkan secarik kertas resep dokter yang dititipkan kurir itu untuknya. Saya bahkan tidak membuka plastik itu sama sekali."
​Pak Bayu mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua tangannya di atas meja. "Lalu, apakah benar sesaat setelah itu Anda terlibat keributan besar dengan Pak Dendy?"
​"Benar sekali!" suara Natasha meninggi, matanya berkilat tajam. "Akhirnya malam itu, iblis itu mengaku sendiri di depan muka saya kalau dialah yang telah menjatuhkan Eveline dari balkon apartemennya. Dia bahkan mengancam akan melakukan hal yang sama pada saya kalau saya tidak bisa mendapatkan nasabah kaya!"
​Natasha buru-buru membuka tasnya, mengeluarkan alat perekam digital kecil yang sama dengan yang ia tunjukkan padaku semalam, lalu menghentakkannya ke atas meja. "Ini. Ini bukti rekaman tiap percakapan saya dengan Pak Dendy semalam. Saya tidak bohong. Dia bajingan pembunuh!"
​Pak Bayu memberi isyarat pada salah satu anak buahnya untuk mengamankan alat perekam tersebut sebagai barang bukti baru. "Apakah Ibu sempat melakukan penyerangan fisik atau menyentuh tubuh Pak Dendy saat keributan itu terjadi?"
​Natasha tertawa getir, matanya mulai berkaca-kaca oleh amarah yang meledak-ledak. "Seandainya saya punya kemampuan untuk membunuhnya, sudah saya habisi iblis itu sejak lama dengan tangan saya sendiri! Tapi sayangnya, saya tidak bisa. Dia terlalu pintar dan secara fisik terlalu kuat untuk saya lawan. Lagipula, setelah bertengkar dengan saya, dia masih baik-baik saja. Saya meninggalkan dia di lobi hotel, tempat terbuka yang dilewati banyak orang, dan ada banyak saksi mata yang melihat kalau kami hanya berdebat."
​Sebagai seorang dokter forensik yang terbiasa membaca gestur tubuh manusia di saat-saat kritis, aku terus mengamati Natasha dari sudut ruangan. Dari seluruh pernyataan emosionalnya, aura kebencian yang ia pancarkan memang luar biasa kuat. Namun, naluri forensik dan perasaan batinku membisikkan sesuatu yang kontradiktif: wanita ini tidak sedang berbohong. Ekspresi wajahnya saat menceritakan bungkusan obat dan pengakuan pembunuhan kakaknya terasa sangat jujur. Tampaknya, bukan Natasha yang merenggut nyawa Pak Dendy secara langsung di kamar hotel itu.
​Meski demikian, logika hukum berkata lain. Untuk saat ini, berdasarkan rekaman CCTV dan garis waktu peristiwa, Natashalah orang yang memiliki motif paling kuat sekaligus orang terakhir yang melakukan kontak interpersonal secara intens dengan korban sebelum kematiannya terjadi.
​Pak Bayu menutup map berkasnya, lalu berdiri. "Terima kasih atas kesaksian Anda, Ibu Natasha. Namun, karena rekaman digital ini harus kami periksa di laboratorium forensik dan status Anda masih sebagai saksi kunci yang berikatan langsung dengan korban sebelum waktu kematian, saya meminta Ibu untuk tetap tinggal dulu di kantor polisi untuk sementara waktu."
​Natasha tidak memprotes. Ia hanya memejamkan mata rapat-rapat, bersandar pada kursi interogasi dengan helaan napas panjang. Papan catur yang melelahkan ini belum sepenuhnya selesai, dan meskipun sang 'Raja' dari Dream Futures telah tumbang, pion di depan kami ini masih harus bertahan di tengah badai hukum yang baru saja dimulai.

$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$
BAB 10: Jalur Logistik Medis
​Setelah mendengar kesaksian emosional dari Natasha dan mengamankan alat perekam digitalnya, Pak Bayu tidak membuang waktu. Di bawah lampu meja yang terang, ia mulai memeriksa ponsel milik mendiang Pak Dendy yang telah berhasil dibuka oleh tim digital forensik.
​Jemari Pak Bayu dengan cekatan menggulir riwayat obrolan di aplikasi WhatsApp. Tak butuh waktu lama, ia berhasil menemukan sebuah kontak komersial bernama Apotek M24. Di dalam obrolan tersebut, terdapat transaksi pesanan obat darurat pada malam kejadian, lengkap dengan foto resep dokter dan koordinat pengiriman ke Diamond Hotel. Pak Bayu segera menghubungi nomor tersebut dan meminta penanggung jawab yang bertugas malam itu untuk datang ke kantor polisi memberikan kesaksian.
​Pukul 20.15 WIB, seorang pria berkemeja rapi dengan papan nama instansi kesehatan di dadanya melangkah masuk ke ruang pemeriksaan.
​Pak Bayu menyambutnya dengan jabat tangan formal. "Selamat malam. Benar ini dengan Pak Samsul?"
​"Benar, Pak. Saya Samsul," jawab pria itu sopan, agak sedikit tegang melihat suasana kantor polisi.
​"Perkenalkan, saya Pak Bayu, Kepala Kepolisian yang bertugas menangani kasus ini. Bisa Anda sebutkan apa jabatan Anda di Apotek M24?"
​"Saya apoteker yang bertugas di Apotek M24 kemarin malam, Pak."
​Pak Bayu mengangguk, lalu menyorongkan sebuah foto wajah Pak Dendy. "Apakah benar kemarin malam pihak apotek Anda mengantarkan pesanan obat kepada pria di foto ini ke Diamond Hotel?"
​"Kalau saya pribadi yang mengantar secara langsung, tidak, Pak. Tugas pengantaran dilakukan oleh kurir internal apotek kami," jawab Pak Samsul. Ia kemudian meraba saku celananya dan mengeluarkan ponsel pintarnya. "Sebentar ya, Pak, saya cek datanya di sistem aplikasi apotek dulu. Soalnya kemarin malam pesanan obat yang masuk cukup padat."
​Pria itu terdiam beberapa saat, jemarinya sibuk mengetuk layar ponsel sebelum akhirnya menunjukkan sebuah halaman manifest digital kepada Pak Bayu.
​"Ah, iya. Ini dia, Pak. Memang ada pesanan masuk atas nama Pak Dendy dengan alamat tujuan Diamond Hotel," ujar Pak Samsul memastikan.
​"Apakah barang tersebut diterima langsung oleh Pak Dendy sendiri?" cecar Pak Bayu.
​"Bukan, Pak. Berdasarkan laporan sistem kami, paket obat itu diterima oleh seorang wanita bernama Natasha, yang menurut keterangan kurir saya di lapangan, dia adalah teman dari Pak Dendy. Ini ada bukti lampiran foto dokumentasi saat barang diserahkan kepada Mbak Natasha di lobi luar, Pak. Kurir kami juga sudah menerima lembar resep fisik asli dari sana," jelas Pak Samsul sambil menggeser layar menampilkan foto wajah Natasha yang sedang menerima kantong plastik obat di bawah lampu teras hotel.
​Pak Bayu mencatat informasi itu dengan saksama. "Apakah Anda tahu pasti apa saja isi di dalam bungkusan tersebut?"
​"Berdasarkan manifes resmi di aplikasi saya, pesanannya adalah satu set injeksi insulin, obat diabetes oral, obat kolesterol, dan obat darah tinggi, Pak. Semuanya disiapkan sesuai dengan foto resep yang dikirimkan Pak Dendy sebelumnya melalui WhatsApp resmi apotek kami. Dan sebagai prosedur wajib obat keras, kami juga sudah mengamankan resep asli dari dokter pribadi Pak Dendy yang diserahkan lewat kurir," papar Pak Samsul panjang lebar seraya menunjukkan ruang obrolan WhatsApp di ponselnya kepada Pak Bayu dan aku.
​Aku melangkah mendekat, memperhatikan layar ponsel sang apoteker. Nama-nama obat yang tertera di sana memang persis sama dengan obat-obatan yang kutemukan berserakan di meja rias kamar hotel Pak Dendy siang tadi.
​"Apakah Pak Dendy ini termasuk pelanggan tetap yang sering membeli obat-obatan tersebut di apotek Anda?" tanyaku, ikut menyela untuk menggali motif medis.
​Pak Samsul menggelengkan kepala. "Tidak, Pak Dokter. Dari riwayat data nomor ponsel dan nama pasien di database kami, baru kali ini beliau memesan obat di tempat kami. Sepertinya ini pesanan darurat karena apotek kami yang paling dekat dari lokasi hotel dan buka dua puluh empat jam."
​"Baik, Pak Samsul," ujar Pak Bayu sambil menutup buku catatannya. "Terima kasih banyak atas waktu, kecepatan data, dan kesediaan Anda untuk memberikan kesaksian malam ini. Keterangan Anda sangat membantu kami menyusun kronologi. Silakan jika Anda ingin melanjutkan kembali kegiatan Anda. Bila nanti ada data tambahan yang kami butuhkan, kami mohon kesediaannya lagi."
​"Baik, Pak. Sama-sama. Terima kasih, saya pamit dulu," sahut Pak Samsul yang kemudian berdiri, membungkuk hormat, dan melangkah keluar dari ruang pemeriksaan.
​Berhubung kesaksian dari Pak Samsul selaku pihak ketiga terbukti sangat meyakinkan, masuk akal, serta didukung oleh bukti digital dan fisik yang tidak terbantahkan, Pak Bayu menarik napas panjang.
​Matanya beralih menatapku yang masih berdiri di sudut ruangan. Fakta baru ini membersihkan satu keraguan: bungkusan yang dibawa Natasha murni berisi obat-obatan resmi medis sesuai resep dokter, bukan racun gelap yang sengaja dipersiapkan. Benang merah kasus ini kini bergeser kembali ke dalam kamar hotel tempat Pak Dendy menyuntikkan jarum itu sendirian.

&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&

BAB 11: Otopsi Angka dan Misteri Insulin
​Rasa penasaran tentang akhir hidup seseorang, serta dorongan keadilan yang tertanam jauh di dalam diriku, selalu menjadi bahan bakar utama yang membuatku terus bergerak. Beberapa rekan kerja di rumah sakit sering bergumam bahwa aku gila kerja. Namun, mereka salah. Aku tidak gila kerja; aku hanya tidak bisa hidup tenang dengan rasa penasaran yang mengambang tanpa jawaban atas teka-teki kematian seseorang.
​Malam itu juga, aku menolak untuk menunggu hingga esok hari. Aku mengurung diri di laboratorium forensik, meneliti dengan saksama berkas riwayat kesehatan dan hasil pemeriksaan laboratorium milik mendiang Dendy Santoso.
​Berdasarkan rekam medis dari kliniknya, profil kesehatan Pak Dendy memang berada di zona merah. Pemeriksaan terakhir tertanggal 28 Desember tahun lalu menunjukkan angka-angka yang mengerikan: kadar gula darah sewaktunya mencapai 200\text{ mg/dL}, kolesterol totalnya melonjak di angka 400\text{ mg/dL}, dan tekanan darahnya bertengger pada 150/110\text{ mmHg}. Pria muda ini ternyata sudah mengidap diabetes melitus, hiperkolesterolemia, dan hipertensi sejak setahun yang lalu akibat gaya hidupnya yang berantakan.
​Dokter pribadi yang menanganinya adalah dr. Hadi, Sp.PD. Dari salinan resep yang kuanalisis, kombinasi obat yang diresepkan oleh dr. Hadi sebenarnya sangat masuk akal dan standar untuk pasien dengan komorbiditas serumit itu.
​Saat melangkah ke meja autopsi untuk memeriksa fisiknya kembali, aku menemukan banyak luka parut kecil bekas suntikan di permukaan kulit lengan dan perut Pak Dendy. Temuan ini sinkron secara klinis; dengan kadar gula darah setinggi itu, dia memang sudah bergantung pada terapi injeksi insulin mandiri.
​Pemeriksaan toksikologi yang keluar sejam kemudian mempertegas dugaanku: tidak ditemukan zat racun eksogen, arsenik, sianida, atau senyawa kimia mencurigakan lainnya di dalam lambung maupun darah korban.
​Namun, saat pisau bedah dan analisis biokimia cairan tubuh selesai kulakukan, tabir penyebab kematiannya akhirnya terbuka lebar. Penyebab kematian Dendy Santoso adalah hipoglikemia berat—kadar gula darah yang merosot drastis hingga di bawah batas kritis yang memicu kegagalan fungsi otak dan jantung. Berdasarkan tingkat kekakuan mayat dan lebam mayat, waktu kematiannya diprediksi tepat pada pukul 05.00 pagi.
​Di sinilah logikaku sebagai dokter forensik mendadak menabrak dinding tebal.
​Tunggu dulu...
​Jika merujuk pada rekaman CCTV malam itu, mengapa Pak Dendy nekat menyuntikkan insulin ke tubuhnya sendiri pada pukul 22.15, padahal dia tahu persis bahwa sejak sore hari dia belum sempat menyentuh makanan sama sekali? Mengapa dia melakukan tindakan fatal itu?
​Apakah dia sama sekali tidak merasakan gejala awal hipoglikemia—seperti keringat dingin, gemetar, atau jantung berdebar—sebelum kesadarannya hilang? Mustahil seorang penderita diabetes menahun tidak mengenali sinyal tubuhnya sendiri.
​Lalu, apakah dr. Hadi tidak menjelaskan dengan gamblang mengenai bahaya akut hipoglikemia dan protokol ketat penggunaan insulin?
​Mataku kembali meneliti daftar obat oral yang dipesan dari Apotek M24 malam itu. Di sana tertera Glibenklamid. Itu adalah obat antidiabetes golongan sulfoniurea yang memiliki efek samping menurunkan gula darah dengan sangat kuat, dan mutlak harus dikonsumsi bersamaan atau segera setelah suapan makanan pertama.
​Mengapa malam itu dia menelan obat keras itu dan menyuntikkan insulin dalam keadaan perut kosong melongpong setelah didera stres berat akibat keributannya dengan Natasha?
​Pertanyaan-pertanyaan medis itu terus berputar-putar di kepalaku, menolak untuk sinkron. Kematian Pak Dendy mungkin terlihat seperti kecelakaan medis akibat kelalaian pasien sendiri, namun instingku berbisik bahwa ada tangan tak terlihat yang dengan sengaja memanfaatkan ketidaktahuan—atau kepanikan—pria itu untuk mengantarnya ke dalam tidur panjang. Teka-teki ini masih menjadi misteri besar yang belum terpecahkan.

%%%%%%%%%%%%%%%%%%^%^^%%%%

BAB 12: Petunjuk di Ambang Batas

​Rasa lelah yang teramat sangat akhirnya meruntuhkan pertahananku. Aku tertidur di atas sofa kulit hitam di ruang kerjaku yang sunyi, di bawah pendaran lampu meja yang masih menyala. Di atas meja, berkas riwayat medis Pak Dendy dan foto-foto otopsi berserakan. Namun, alam bawah sadarku menolak untuk beristirahat.

​Tiba-tiba, aku terseret ke dalam mimpi yang terasa begitu nyata dan menyesakkan.

​Di dalam mimpi itu, suasana ballroom Diamond Hotel yang megah berubah menjadi remang dan sunyi. Pak Dendy berdiri di sana, megap-megap kehabisan napas. Lehernya dicengkeram erat oleh bayangan wanita putih yang kulihat kemarin. Dari dekat, wajah bayangan itu mulai tampak samar—apakah itu Eveline? Kakak Natasha yang tewas dari balkon?

​Siapakah wanita itu sebenarnya? Apakah Pak Dendy benar-benar dibunuh oleh arwah penasaran yang menuntut balas?

​Jika ini murni mistis, mengapa semua hasil autopsiku justru menunjukkan diagnosis medis yang sangat presisi? Mengapa semuanya terlihat seperti murni ketidaktahuan pasien dalam menggunakan obat diabetes yang benar? Ataukah gaya hidup malamnya—alkohol, stres, klub malam, dan kurang tidur—telah merusak fungsi kognitifnya hingga ia tidak bisa lagi berpikir jernih saat menghadapi serangan gula darah?

​Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar, bergolak hebat di dalam kepalaku hingga terbawa ke dalam mimpi buruk ini.

​Dalam visi itu, Pak Dendy yang tersedak tampak berusaha keras mengabaikan cekikan sang wanita. Wajahnya memerah, matanya melotot menatapku, dan tangannya yang gemetar perlahan terangkat, mencoba menunjuk ke arah sesuatu di bawah meja.

​Namun, gerakannya dihalangi. Wanita itu mencengkeram lengannya dengan beringas. Tiba-tiba, kegelapan di sekitar mereka terbelah. Muncul arwah-arwah lain dari kegelapan—siluet-siluet asing yang tampak penuh amarah, maju dan mencoba memukul serta menyiksa Pak Dendy yang sudah tidak berdaya.

​Apakah Pak Dendy memang penyebab kematian orang-orang itu? Apakah ada korban-korban lain dari manipulasi pialang berjangka ini yang berakhir mengakhiri hidup mereka sendiri?

​Di tengah siksaan arwah-arwah itu, Pak Dendy terus berjuang. Ia mengulurkan tangannya yang gemetar, bersikeras menunjukkan sebuah benda yang tergeletak di lantai. Sebuah pesan kematian.

​Aku memicingkan mata dalam mimpi. Benda apa itu?

​Sebuah ponsel. Telepon genggam milik Pak Dendy yang layarnya masih menyala redup, menampilkan sebuah daftar panggilan yang baru saja terputus.

​Apa yang sebenarnya tersimpan di dalam ponsel itu?

​"Hah!"

​Aku tersentak bangun. Napas menggebu-gebu memburu di tenggorokanku, dan keringat dingin membasahi dahiku. Aku melirik jam dinding di ruang kerja. Pukul 07.00 pagi. Tanpa membuang waktu sedetik pun, aku langsung meraih ponsel di atas meja dan menekan nomor Pak Bayu.

​"Halo, selamat pagi, Pak Bayu," ujarku terburu-buru begitu panggilan tersambung.

​"Pagi, Dokter Will," sahut Pak Bayu di seberang sana, suaranya terdengar sudah segar. "Bagaimana hasil autopsinya? Apakah sudah ada titik terang?"

​"Hasil autopsi fisik dan toksikologi sudah final, Pak. Penyebab kematian resmi Pak Dendy adalah hipoglikemia berat, yaitu kondisi di mana kadar gula darahnya merosot drastis hingga di bawah batas aman, menyebabkan koma dan kegagalan fungsi organ," jelasku cepat.

​Aku menjeda kalimatku, menarik napas dalam untuk menenangkan debaran jantungku yang masih terpengaruh mimpi tadi. "Tapi, ada satu hal yang sangat mengganggu logika medis saya, Pak. Di rekaman CCTV semalam, tepat pukul 22.00 sebelum menyuntikkan insulin, kita melihat Pak Dendy berdiri sempoyongan dan sempat menelepon seseorang dengan panik. Pertanyaan saya: siapa orang yang dihubungi oleh Pak Dendy pada menit-menit kritis itu, Pak?"

​Terdengar helaan napas berat dari Pak Bayu, disusul suara gemerisik kertas di seberang telepon.

​"Tim digital forensik kami baru saja merampungkan penarikan data dari ponsel Pak Dendy sejam yang lalu, Dok. Dan tebakan Anda sangat tepat," ujar Pak Bayu dengan nada serius. "Panggilan terakhir keluar pada pukul 22.00 malam itu ditujukan kepada Dokter Hadi—dokter spesialis penyakit dalam yang menjadi dokter pribadi Pak Dendy sendiri."

​Jantungku berdegup kencang mendengar jawaban itu. Potongan teka-teki ini semakin membingungkan.

​"Dia menelepon dokter pribadinya?" tanyaku retoris. "Itu artinya... di saat fisiknya mulai ambruk, Pak Dendy sempat meminta petunjuk langsung dari ahlinya tentang kondisi penyakitnya malam itu."

​"Benar, Dok. Logikanya seperti itu."

​"Tapi kalau begitu, ini menjadi sangat kontradiktif, Pak Bayu," ujarku, meremas dahi yang mulai pening. "Jika dia sempat berkonsultasi dan meminta petunjuk dari Dokter Hadi lewat telepon, bagaimana mungkin setelah panggilan itu ditutup, dia justru melakukan kesalahan fatal dengan menyuntikkan insulin dosis tinggi dan meminum Glibenklamid tanpa makan apa-apa? Mengapa dia malah melakukan hal yang sebaliknya?"

​Keheningan menggantung di antara saluran telepon kami. Baik aku maupun Pak Bayu tahu, jawaban dari pertanyaan ini tidak akan ditemukan di atas meja autopsi, melainkan dari mulut pria yang berada di ujung telepon malam itu: Dokter Hadi.

))@%<_÷_#/^"/<^%>%÷÷××%:;=+×^<#$*[%;*^"'

​BAB 14: Debat Medis di Ruang Intimidasi

​Pagi itu, Dokter Hadi Sugianto duduk di kursi pemeriksaan dengan postur tegak. Setelan kemeja klinisnya sedikit kusut di bagian lengan, pertanda ia dipanggil secara mendadak. Namun, wajah spesialis penyakit dalam itu tampak luar biasa tenang. Pengalamannya menghadapi situasi darurat di ruang ICU seolah terbawa ke ruang interogasi ini, memberinya perisai emosi yang sangat kokoh. Di mataku, ia tampak seperti seorang profesional yang sangat yakin bahwa sains dan reputasinya tidak akan bisa ditembus oleh kecurigaan polisi.

​Pak Bayu membuka map berkas di atas meja logam dengan pelan, memecah kesunyian. "Selamat pagi. Apakah benar Anda Dokter Hadi Sugianto?"

​"Benar, Pak," sahut Dokter Hadi, suaranya terdengar jernih tanpa getaran ragu sedikit pun.

​"Perkenalkan, saya Bayu sebagai ketua tim penyelidikan kasus kematian Dendy Santoso." Pak Bayu menunjuk ke arahku. "Dan ini rekan saya, Dokter William, dokter ahli forensik."

​Dokter Hadi mengangguk sopan ke arahku, tatapan matangnya mengisyaratkan pengakuan sesama kolega medis. "Selamat pagi, Dokter William. Suatu kehormatan. Jadi, ada apa sebenarnya ini, Pak Bayu? Mengapa saya dipanggil ke kantor polisi sepagi ini terkait mendiang pasien saya?"

​Pak Bayu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Apa benar pada tanggal 3 Januari lalu, sebelum waktu kematiannya, Pak Dendy sempat menelepon Anda malam-malam?"

​"Oh, betul sekali," jawab Dokter Hadi tangkas. "Beliau menelepon saya sekitar pukul sepuluh malam. Dia mengeluhkan gejala klinis yang sangat khas."

​"Gejala seperti apa, Dok?" tanyaku, mulai membedah aspek medisnya.

​"Beliau mengeluh badannya gemetar hebat, keluar keringat dingin secara mendadak, jantungnya berdebar kencang (takikardia), dan bibir atasnya mati rasa atau kesemutan. Sebagai dokternya yang memegang rekam medis diabetes beliau, saya langsung tahu itu adalah gejala awal hipoglikemia ringan."

​"Lalu apa instruksi yang Anda berikan?" kejar Pak Bayu.

​Dokter Hadi menghela napas, menyilangkan tangannya di dada dengan gestur defensif yang sangat terlatih. "Saat itu, Dendy bilang dia sedang pusing berat di Diamond Hotel dan bersiap untuk menyetir pulang sendiri. Saya langsung melarangnya secara keras. Sangat berbahaya bagi pasien hipoglikemia untuk mengemudi; refleks mereka menurun drastis dan bisa pingsan di jalan. Saya menyarankannya untuk menyewa kamar hotel saja malam itu dan langsung beristirahat. Untuk pertolongan pertamanya, saya menyarankannya memakan permen manis atau minum air gula agar kadar glukosanya naik kembali ke batas aman."

​Aku menatapnya tajam, mencoba mencari celah. "Dokter Hadi, sebagai sesama dokter, bukankah keputusan Anda menyuruh penderita Diabetes Melitus memakan permen terdengar kontradiktif bagi orang awam?"

​Dokter Hadi tersenyum tipis, seolah-olah sedang mengajar di ruang kuliah kedokteran. "Dokter William, Anda tentu tahu protokol darurat medis. Gula darah tinggi (hiperglikemia) memang berbahaya dalam jangka panjang, tetapi gula darah rendah (hipoglikemia) jauh lebih mematikan dalam hitungan menit karena otak bisa mengalami edema dan kematian sel akibat kekurangan energi. Memakan permen adalah Standard Operating Procedure (SOP) mutlak untuk penyelamatan jiwa dalam kondisi hipoglikemia sadar."

​Penjelasan Dokter Hadi sangat runut, logis, dan tanpa celah secara medis. Aku melirik Pak Bayu, yang tampak tidak terpengaruh oleh sandiwara ilmiah ini. Pak Bayu kemudian menyodorkan berkas resep obat dari Apotek M24 yang dipesan Dendy malam itu.

​"Sangat masuk akal, Dok," ujar Pak Bayu tenang. "Tetapi di kamar hotel, kami menemukan jarum suntik insulin yang sudah terpakai dan strip obat Glibenklamid yang kosong. Hasil autopsi Dokter William membuktikan bahwa Pak Dendy meninggal karena hipoglikemia parah pada pukul lima pagi dalam keadaan perut kosong melompong. Pertanyaan saya: jika Dokter menyarankannya memakan permen dan istirahat, mengapa dia justru menyuntikkan insulin dosis tinggi dan menelan Glibenklamid tanpa makan apa-apa?"

​Di sinilah Dokter Hadi mulai melancarkan taktik mengelaknya dengan sangat rapi.

​Ia menghela napas panjang, memasang ekspresi wajah penuh sesal yang dibuat-buat. "Ah... di situlah letak tragedinya, Pak Bayu. Dendy itu pasien yang sangat keras kepala, tidak disiplin, dan gaya hidupnya sangat hancur. Dia sering sekali mengabaikan dosis obat yang saya berikan. Seringkali, saat gula darahnya naik setelah dia mabuk-mabukan di klub malam, dia panik dan menyuntikkan insulin secara berlebihan tanpa berkonsultasi dengan saya."

​Dokter Hadi mengetuk meja dengan jarinya untuk memberikan penekanan. "Kemungkinan besar malam itu, setelah menutup telepon dari saya, dia dilanda kepanikan yang luar biasa akibat gejalanya. Dalam kondisi kognitif yang menurun drastis akibat hipoglikemia—yang kita tahu bisa menyebabkan kebingungan mental (confusion) dan disorientasi—dia salah mengira gejalanya sebagai hiperglikemia (gula darah naik). Akibat disorientasi itu, dia melakukan kesalahan fatal sendiri dengan menyuntikkan insulin dan menelan Glibenklamid, alih-alih memakan permen seperti yang saya instruksikan. Ini adalah kasus kecelakaan medis murni akibat kelalaian pasien yang mengalami disorientasi kognitif."

​Argumen itu sangat brilian. Dokter Hadi mencoba memanfaatkan kondisi medis "disorientasi kognitif akibat hipoglikemia" untuk mencuci tangannya dari kematian Dendy. Dia tahu tidak ada saksi di dalam kamar hotel tersebut.

​Aku bersandar di kursi, menatap mata Dokter Hadi yang berkilas penuh kemenangan di balik kacamata minusnya. "Penjelasan yang luar biasa, Dokter Hadi. Sangat rapi secara teori medis. Namun, ada satu variabel yang Anda lupakan."

​Dokter Hadi menaikkan sebelah alisnya. "Variabel apa yang saya lupakan, Dokter William?"

​Pak Bayu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih laptopnya, menghubungkannya ke pengeras suara di ruang interogasi, lalu menatap Dokter Hadi dengan dingin. "Variabel perekaman panggilan otomatis pada ponsel pintar Pak Dendy."

​Pak Bayu menekan tombol play. Detik berikutnya, keheningan ruangan itu pecah oleh gema suara dari balik kubur—suara rekaman percakapan asli antara Dendy Santoso dan Dokter Hadi malam itu.

​Pak Dendy: "Gini Dok. Kenapa saya tiba-tiba gemetar, merasa kedinginan dan keluar keringat dingin, bahkan bibir atas saya terasa kesemutan dok?"

​Dokter Hadi: "Pak Dendy sekarang dimana?"

​Pak Dendy: "Saya di Diamond Hotel Dok. Ini saya mau pulang, tapi ini saya merasa pusing, jantung saya serasa berdetak lebih kencang..."

​Dokter Hadi: "Mungkin karena gula darah Bapak sedang naik ya. Bapak seharian ini terlalu banyak makan ya."

​Pak Dendy: "Iya Dok, tadi siang saya banyak makan terutama yang manis, tapi malam ini saya belum makan sama sekali, tadi siang juga sudah minum obat diabetes..."

​Dokter Hadi: "Iya Pak tadi siang Bapak terlalu banyak makan yang menyebabkan kadar gula darah Bapak naik, segera minum lagi diabetesnya dan jangan lupa suntikkan insulinnya... Segera tidur dan jangan makan lagi."

​Suara rekaman itu mendadak mati. Di dalam ruangan, keheningan berubah menjadi sangat pekat dan mencekam.

​Wajah Dokter Hadi yang semula kokoh dan penuh percaya diri perlahan-lahan runtuh. Warna kulitnya berubah menjadi pias, keabu-abuan seperti mayat yang biasa kuperiksa. Senyum meremehkan di bibirnya lenyap seketika. Bibirnya bergetar halus, tangannya yang semula bersilang di dada kini jatuh lunglai ke atas meja logam.

​Sains dan argumen medisnya baru saja dihancurkan oleh bukti digital yang tidak terbantahkan.

​Pak Bayu mematikan layar laptop. "Dokter Hadi Sugianto, suara di rekaman ini sangat jelas menunjukkan Anda sengaja memberikan instruksi yang salah secara medis kepada pasien yang berada dalam kondisi darurat, menyuruhnya menyuntikkan insulin dosis tinggi dalam keadaan perut kosong tanpa makan lagi. Itu bukan kelalaian pasien... itu adalah pembunuhan terencana."

​Dokter Hadi terdiam sangat lama. Matanya menatap kosong ke arah meja logam, napasnya terdengar berat dan tersengal. Perlahan, kepalanya merunduk dalam-dalam. Seluruh pertahanannya telah hancur lebur.

​"Ya..." suara Dokter Hadi akhirnya meluncur, sangat parau dan sarat akan kepasrahan yang pekat. "Memang benar. Saya yang menyuruhnya menyuntikkan insulin malam itu. Saya yang sengaja membunuhnya."

​Dokter Hadi menegakkan kepalanya kembali, kali ini tidak ada lagi topeng ketenangan medis, melainkan kilat kemarahan dan dendam yang selama ini ia pendam rapat-rapat.

​"Saya sangat membenci Dendy Santoso! Dia adalah iblis berkedok pialang sukses!" desis Dokter Hadi, giginya gemertuk menahan amarah. "Awalnya saya hanya diam menahan dendam ini. Tetapi malam itu, saat dia menelepon saya dengan tubuh gemetar dan panik, saya sadar bahwa Tuhan sedang memberikan saya sebuah jalan. Jalan untuk menghabisi nyawanya tanpa harus mengotori tangan saya dengan racun atau senjata!"

​"Dendam apa yang sebenarnya membuat Anda setega ini, Dok?" tanyaku lembut, mencoba meredakan ketegangannya.

​Dokter Hadi mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Lima tahun lalu, ada seorang nasabah hebat yang dibuat bangkrut total oleh Dendy. Nasabah itu depresi berat dan akhirnya tewas mengenaskan akibat overdosis narkoba di apartemennya. Kasus itu ditutup polisi sebagai bunuh diri murni. Tapi Dendy sendiri... bajingan itu sendiri yang menceritakan kepada saya dengan sangat bangga saat dia sedang mabuk di klinik saya, bahwa dialah yang sengaja mencekoki keponakan saya dengan narkoba malam itu agar dia tewas overdosis, setelah Dendy memanipulasi akun tradingnya seolah-olah dihack orang!"

​Setetes air mata kemarahan mengalir di pipi Dokter Hadi. "Nasabah malang yang dibunuh Dendy itu... adalah keponakan kandung kesayangan saya. Sejak hari itu, saya bersumpah akan membuat Dendy merasakan sendiri bagaimana kematian sunyi yang tidak diketahui oleh orang lain. Saya ingin dia mati perlahan oleh obat-obatannya sendiri. Dan malam itu, kesempatan itu datang."

​Dokter Hadi menyandarkan punggungnya ke kursi dengan helaan napas panjang, seluruh ketegangan di wajahnya mendadak lenyap berganti dengan kelegaan yang aneh. "Selama seminggu ini, saya selalu didera ketakutan dan dihantui rasa bersalah yang luar biasa. Tapi sekarang, setelah kasus ini terpecahkan... saya tidak perlu ketakutan lagi. Keadilan untuk keponakan saya akhirnya lunas."

​Pak Bayu mengangguk perlahan kepada petugas di luar ruang interogasi untuk membawa Dokter Hadi ke dalam sel penahanan. Sebelum melangkah keluar, Dokter Hadi menatapku sekilas, memberikan sebuah senyuman tipis penuh rasa hormat medis yang terakhir.

​Sore itu juga, berdasarkan bukti pengakuan tertulis dan rekaman digital yang mutlak, Pak Bayu resmi menandatangani surat pembebasan untuk Natasha. Semua tuduhan terhadap wanita itu dinyatakan gugur sepenuhnya.

​EPILOG: Angin Dingin di Atas Nisan

​Satu minggu setelah badai di Diamond Hotel mereda, aku berdiri di teras kedai kopi seberang hotel yang teduh. Udara sore berembus sejuk, membawa aroma tanah basah sisa hujan deras yang baru saja mengguyur kota.

​Natasha melangkah menghampiriku dengan penampilan yang jauh berbeda. Tidak ada lagi setelan blazer hitam formal yang kaku atau tatapan mata penuh kecemasan yang biasa kulihat. Ia mengenakan kaus kasual berwarna putih, rambutnya dibiarkan terurai bebas ditiup angin sore.

​"Akhirnya aku benar-benar lega, Dokter Will," ujar Natasha sambil tersenyum tulus, meletakkan segelas es kopi hitam di hadapanku. "Kalian benar-benar percaya bahwa bukan aku pembunuh Pak Dendy sejak awal. Dan yang paling penting... kasus kematian Eveline, kakakku, akhirnya terungkap secara tidak langsung."

​"Kami bekerja berdasarkan fakta dingin di atas meja autopsi, Nat," jawabku sambil menyesap kopi hangatku. "Bagaimana rencanamu setelah keluar dari Dream Futures?"

​Natasha tersenyum tipis, matanya menatap lurus ke arah jalanan yang mulai ramai. "Aku sudah resmi keluar dari perusahaan terkutuk itu. Tapi... aku tidak akan meninggalkan dunia analisis pasar sepenuhnya. Hanya saja, aku ingin melakukannya dengan cara yang benar."

​Bagian matanya tampak lebih hangat saat menatapku. "Dokter... jika Dokter mau belajar teknik trading yang sesungguhnya tanpa manipulasi psikologis, aku bisa mengajari Dokter teknik dasarnya. Tapi ingat, hanya teorinya saja ya. Aku tidak akan mengeksekusi atau menyentuh dana Dokter sama sekali. Akun Dokter tetap berada di tangan Dokter sendiri."

​Aku tertawa kecil mendengar tawarannya. "Boleh juga. Aku ingin tahu bagaimana cara kerja grafik lilin (candlestick) yang hampir membuatku gila kemarin."

​"Tapi kalau rugi, tanggung sendiri ya! Jangan diautopsi akunya, hehehe..." canda Natasha dengan tawa yang sangat lepas—sebuah tawa bebas yang belum pernah kudengar sejak mengenalnya.

​"Ok, sepakat," jawabku seraya mendentingkan gelas kami. Aku resmi menjadi murid trading pertama Natasha.

​Sebelum kami beranjak, Natasha membuka tasnya dan menyodorkan selembar foto fisik berbingkai kecil kepadaku. "Ini... foto Eveline, kakak kandungku."

​Aku menerima foto tersebut dan menatapnya lekat-lekat. Detik itu juga, desiran dingin yang sangat akrab kembali menjalar di sepanjang tulang belakangku. Wajah di dalam foto itu memiliki garis-garis kecantikan yang sangat mirip dengan Natasha, namun dengan sorot mata yang jauh lebih teduh. Dan yang paling membuatku terpaku... wajah wanita di foto itu adalah wajah yang sama persis dengan bayangan putih samar yang kulihat berdiri di belakang punggung Pak Dendy di ballroom hotel malam itu!

​"Nat... maukah kamu mengantarku nyekar ke makam kakakmu?" tanyaku dengan nada lembut.

​Natasha tertegun sejenak, matanya berkaca-kaca sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Tentu, Dokter Will. Mari kita pergi sekarang."

​Kami berkendara menuju pemakaman umum di pinggiran kota yang tenang. Suasana pemakaman sore itu sangat damai, jauh dari kepalsuan gedung pencakar langit dan keserakahan dunia investasi. Natasha berlutut di depan nisan bertuliskan nama Eveline, menaburkan bunga mawar merah, lalu melafalkan doa dengan sangat khusyuk.

​Aku berdiri selangkah di belakangnya, membiarkan keheningan menyelimuti kami. Tepat saat angin sore berembus perlahan, menggoyah dedaunan pohon kamboja tua di dekat makam, pandanganku menangkap sekelebat siluet di balik batang pohon.

​Di sana, di bawah pendaran cahaya matahari terbenam yang berwarna keemasan, aku melihat bayangan putih Eveline berdiri dengan anggun. Wajahnya tampak sangat cantik dan bercahaya, tidak ada lagi rasa sakit atau amarah di matanya. Ia menatap ke arah Natasha yang sedang berdoa dengan senyum hangat, lalu perlahan mengalihkan pandangannya kepadaku. Ia mengulas sebuah senyuman manis yang tulus—sebuah ekspresi terima kasih yang mendalam—sebelum akhirnya sosoknya perlahan memudar dan melebur bersama embusan angin sore.

​Satu lagi misteri kematian telah terpecahkan. Keadilan telah menemukan jalannya sendiri yang sunyi, melewati batas antara hidup, mati, dan ilmu medis yang kita agungkan.

​Aku berbalik, melangkah pergi mendampingi Natasha meninggalkan area pemakaman dengan perasaan yang sangat lega. Di dalam benakku sebagai seorang praktisi medis forensik, sebuah kebenaran universal kembali bergema dengan sangat kuat:

​"Memang, obat adalah racun bila tidak digunakan sesuai indikasi. Dan di tangan seorang ahli yang dipenuhi dendam, penawar rasa sakit pun bisa bertransformasi menjadi malaikat maut yang paling sunyi."

​TAMAT

Comments

Popular posts from this blog

Asal usul Batu Badoang

4 raja naga

Asal-usul Pacitan