Dewi Ananta Penjaga Hutan Misterius
Dewi Ananta, Penguasa Hutan Misterius
Di ujung paling selatan Pulau Jawa, terbentang sebuah hutan purba yang begitu lebat hingga sinar matahari pun sulit menembus rimbunnya pepohonan. Penduduk desa di sekitarnya menyebut tempat itu sebagai Hutan Misterius.
Tidak seorang pun berani memasukinya.
Bukan hanya pada malam hari. Bahkan saat matahari berada tepat di atas kepala, hutan itu tetap terasa gelap dan dingin. Banyak kisah mengerikan beredar dari mulut ke mulut. Orang-orang yang nekat masuk sering kali kembali dengan wajah pucat ketakutan, bahkan ada yang tidak pernah kembali sama sekali.
Namun larangan dan cerita seram itu justru membangkitkan rasa penasaran seorang ilmuwan muda dari desa terdekat.
"Aku harus mengetahui rahasia hutan itu," katanya. "Jika berhasil mengungkap misterinya, namaku akan dikenal di seluruh negeri."
Dengan membawa peralatan penelitiannya, ia melangkah memasuki Hutan Misterius.
Semakin jauh ia berjalan, semakin sunyi suasana di sekelilingnya. Tidak terdengar suara burung. Tidak ada suara serangga. Yang ada hanyalah derit batang pohon tua yang bergesekan diterpa angin.
Tiba-tiba...
Sreeeettt...
Sesuatu merayap di balik semak.
Ilmuwan itu menghentikan langkahnya.
Angin dingin berembus kencang. Pepohonan bergoyang hebat seolah sedang berbisik satu sama lain.
Seekor ular hitam besar muncul dari kegelapan.
Namun sebelum ilmuwan itu sempat mundur, tubuh ular itu perlahan berubah.
Sisik-sisiknya berkilauan.
Tubuhnya memanjang.
Lalu berubah menjadi seorang wanita berparas sangat cantik dengan rambut hitam menjuntai hingga pinggang. Di lengannya melilit seekor ular putih besar bermata merah menyala.
Di belakang wanita itu berdiri puluhan sosok menyeramkan.
Ada kuntilanak bergaun putih kusam.
Ada sosok kecil bermata merah yang tersenyum lebar.
Ada bayangan-bayangan hitam tanpa wajah yang mengintip dari balik pepohonan.
Wanita itu tersenyum tipis.
Senyum yang indah sekaligus membuat bulu kuduk berdiri.
Dengan suara lembut yang menggema di seluruh hutan, ia bertanya,
"Wahai manusia... mengapa kau memasuki wilayahku?"
Tubuh ilmuwan itu gemetar hebat.
"Sa... sa... saya hanya ingin melakukan penelitian..."
Tatapan wanita itu berubah tajam.
Udara di sekitar mereka mendadak terasa lebih dingin.
"Aku tidak mengizinkan siapa pun mengganggu hutan ini."
Ia mengangkat tangannya perlahan.
Seketika ratusan ular muncul dari balik akar, semak, dan batang pohon.
Mata mereka menyala menatap sang ilmuwan.
"Pergilah... dan jangan pernah kembali."
Ilmuwan itu menjerit ketakutan.
Tanpa berpikir panjang ia berlari sekencang mungkin meninggalkan hutan tersebut.
Sesampainya di desa, ia menceritakan pengalamannya kepada semua orang.
"Ada wanita misterius di dalam hutan itu!" katanya dengan napas terengah-engah. "Cantik... tetapi sangat mengerikan. Di belakangnya ada makhluk-makhluk gaib. Dan seekor ular putih raksasa melilit tubuhnya."
Penduduk desa saling berpandangan.
Salah seorang bertanya,
"Menurut penelitianmu, makhluk apa sebenarnya dia?"
Ilmuwan itu menggeleng.
"Aku tidak tahu. Aku terlalu takut untuk mencari tahu."
Sejak saat itu, tidak ada seorang pun yang berani mendekati Hutan Misterius.
Lima tahun kemudian, seorang kontraktor muda datang ke desa tersebut.
Ia terkenal pemberani dan tidak percaya pada hal-hal gaib.
Saat mendengar kisah Hutan Misterius, ia hanya tertawa.
"Itu hanya dongeng untuk menakut-nakuti orang."
Dalam pikirannya hanya ada satu hal.
Uang.
Jika hutan itu dibabat habis dan dibangun menjadi perumahan, ia akan menjadi sangat kaya.
Keesokan harinya ia memasuki hutan seorang diri.
Tidak lama kemudian, suasana yang sama kembali terjadi.
Langit mendadak gelap.
Angin berputar di antara pepohonan.
Dan sosok wanita misterius itu kembali muncul.
Dewi Ananta.
Penguasa Hutan Misterius.
"Wahai manusia..." katanya lembut. "Mengapa kau memasuki wilayahku?"
Kontraktor itu menyeringai.
"Wilayahmu? Hutan ini bukan milik siapa-siapa. Aku akan membangun perumahan di sini."
Untuk pertama kalinya, senyum Dewi Ananta menghilang.
Tatapannya berubah dingin.
"Pergi."
"Tidak."
"Aku peringatkan sekali lagi. Pergi."
"Aku tidak takut kepadamu."
Keheningan menyelimuti hutan.
Lalu terdengar suara gemerisik dari segala arah.
Satu per satu hewan hutan bermunculan.
Ular.
Serigala.
Babi hutan.
Bahkan sosok-sosok bayangan hitam yang sebelumnya bersembunyi mulai keluar dari kegelapan.
Kontraktor itu mencabut senapan dan pisaunya.
Pertarungan pun terjadi.
Tembakan menggema memecah kesunyian.
Jeritan makhluk-makhluk gaib memenuhi udara.
Namun semakin lama, semakin banyak penghuni hutan yang berdatangan.
Sampai akhirnya...
Sebuah bayangan raksasa muncul dari balik kabut.
Tingginya hampir menyamai pohon.
Dua mata merah menyala menatap sang kontraktor.
Sebelum sempat melarikan diri, tubuhnya terangkat ke udara.
BRAKKK!
Ia dilempar ke batang pohon besar hingga tulangnya patah.
Dunia menjadi gelap.
Keesokan paginya, penduduk desa menemukan tubuhnya di tepi hutan.
Tubuhnya penuh luka.
Kakinya patah.
Wajahnya dipenuhi ketakutan.
Kepala desa berlutut di sampingnya.
"Apa yang terjadi?"
Pemuda itu membuka matanya perlahan.
Dengan suara gemetar ia berkata,
"Aku melihat wanita itu..."
"Dewi Ananta?"
Pemuda itu mengangguk.
"Dia memperingatkanku. Tapi aku melawannya."
Napasnya mulai tersengal.
"Semua penghuni hutan menyerangku..."
Matanya membelalak seolah melihat sesuatu yang mengerikan.
"Lalu... ada raksasa..."
Kalimatnya terputus.
Tubuhnya terkulai.
Ia meninggal saat itu juga.
Sejak hari itu, Kepala Desa melarang siapa pun memasuki Hutan Misterius.
Sepuluh tahun berlalu.
Hutan tetap sunyi.
Tidak ada yang berani mendekat.
Hingga suatu hari, seorang pemuda baik hati menemukan seekor anak ular putih yang terluka di pinggir hutan.
Anak ular itu tampak lemah dan ketakutan.
Tanpa rasa jijik, pemuda itu merawat lukanya selama beberapa hari.
Setelah sembuh, ia berniat mengembalikan ular tersebut ke tempat asalnya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, seseorang kembali memasuki Hutan Misterius.
Seperti sebelumnya, Dewi Ananta muncul.
Namun kali ini matanya dipenuhi kewaspadaan.
"Wahai manusia. Mengapa kau memasuki wilayahku? Apakah kau datang untuk merusak hutan ini juga?"
Pemuda itu langsung berlutut.
"Ampun, Dewi. Saya hanya ingin mengembalikan anak ular ini kepada keluarganya."
Dewi Ananta terkejut.
Saat itu juga anak ular putih melompat ke pelukannya.
Ternyata itu adalah putra bungsunya yang selama ini hilang.
Kemarahannya seketika lenyap.
Ia mendengarkan cerita sang anak hingga selesai.
Kemudian ia menatap pemuda itu dengan lembut.
"Terima kasih telah menyelamatkan anakku."
Pemuda itu memberanikan diri bertanya,
"Kalau begitu, bolehkah saya mengetahui siapa sebenarnya dirimu?"
Dewi Ananta tersenyum.
"Aku adalah penjaga hutan ini."
Ia memandang pepohonan yang menjulang tinggi.
"Manusia selalu datang membawa kapak, api, dan keserakahan. Mereka menebang pohon, memburu hewan, lalu menyebut kami monster ketika kami mempertahankan rumah kami."
Untuk pertama kalinya pemuda itu memahami alasan di balik ketakutan yang selama ini menyelimuti hutan tersebut.
Dewi Ananta bukanlah makhluk jahat.
Ia hanya seorang penjaga.
"Sebagai balas jasa," lanjut Dewi Ananta, "mintalah satu hal."
Pemuda itu berpikir sejenak.
"Lalu bagaimana dengan wabah yang menyerang desa kami? Banyak warga mengalami luka melepuh di tangan, kaki, dan sekitar mulut."
Dewi Ananta tersenyum.
"Itu mudah."
Tak lama kemudian ia kembali membawa sekeranjang penuh daun semanggi berdaun empat.
"Gunakan ini untuk mengobati mereka."
Pemuda itu menerimanya dengan penuh rasa hormat.
"Saya berjanji tidak akan merusak hutan ini."
Dewi Ananta mengangguk.
"Selama manusia menghormati hutan, hutan pun akan melindungi manusia."
Setelah kembali ke desa dan membagikan obat tersebut, wabah perlahan menghilang.
Pemuda itu menceritakan semua yang dialaminya.
Barulah penduduk desa menyadari bahwa selama ini mereka salah memahami Dewi Ananta.
Ia bukan penguasa yang haus kekuasaan.
Ia hanyalah penjaga yang melindungi rumah dan rakyatnya.
Sejak saat itu hubungan antara desa dan penghuni hutan berubah.
Penduduk desa sering mengirimkan hasil panen terbaik mereka ke tepi hutan sebagai tanda persahabatan.
Sebaliknya, penghuni hutan membantu menjaga keseimbangan alam dan melindungi desa dari berbagai bencana.
Dan sejak hari itu, Hutan Misterius tidak lagi dikenal sebagai tempat yang menakutkan.
Melainkan sebagai hutan keramat yang dijaga oleh sosok bernama Dewi Ananta, sang penjaga alam yang hanya menakuti mereka yang datang dengan keserakahan.
Comments
Post a Comment