Mayat yang hilang
Aroma yang tidak pernah
hilang
"Dok, waktu kematiannya
kira-kira jam berapa?"
Aku menarik sarung tangan lateks
hingga pas di pergelangan tangan, lalu menatap tubuh yang terbujur di atas meja
autopsi. Kulitnya mulai berubah kehijauan. Bagian bawah punggungnya menunjukkan
lebam kematian yang jelas. Belatung-belatung kecil mulai bergerak di sela luka
robek di leher.
Aku sudah terlalu sering melihat
pemandangan seperti ini hingga nyaris kehilangan rasa.
"Kira-kira tiga puluh enam
sampai empat puluh delapan jam," jawabku singkat.
Seorang polisi yang berdiri di
sampingku mencatat sesuatu.
"Senjatanya?"
Aku memperhatikan luka robek yang
memanjang di tengkuk korban.
"Benda tajam dengan ayunan
kuat. Kemungkinan kapak atau golok besar."
Polisi itu mengangguk.
"Terima kasih, Dok."
Aku hanya mengangguk pelan.
Begitu pintu ruang autopsi tertutup,
aku melepaskan masker. Bau khas ruang forensik masih menempel di hidungku.
Orang sering mengira bau yang paling
menyengat di ruang autopsi adalah formalin.
Mereka salah.
Formalin bahkan nyaris tidak terasa
dibanding aroma tubuh manusia yang mulai membusuk.
Bau darah yang mengering.
Lemak tubuh yang terurai.
Jaringan yang mulai rusak.
Campuran aroma amis, asam, manis
yang busuk, dan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
Bau itu akan menempel di hidungmu.
Kadang sampai terbawa ke rumah.
Kadang muncul kembali ketika sedang
makan.
Kadang bahkan muncul dalam mimpi.
Sudah lima belas tahun aku menjadi
dokter forensik.
Aku bisa mengidentifikasi penyebab
kematian hanya dari bentuk luka.
Aku bisa memperkirakan waktu
kematian hanya dengan melihat perubahan warna kulit.
Aku bisa membedakan bau jenazah yang
baru meninggal dengan jenazah yang sudah membusuk beberapa hari.
Tetapi ada satu hal yang tidak
pernah berhasil kupelajari.
Cara melupakan mereka.
Setiap mayat yang datang selalu
membawa cerita.
Sebagian berhasil kupecahkan.
Sebagian lagi tetap menjadi misteri.
Mereka semua tinggal di suatu sudut
kepalaku.
Diam.
Namun tidak pernah benar-benar
pergi.
"Akhirnya cuti juga, Dok?"
Suara perawat membuyarkan lamunanku.
Aku tersenyum tipis.
"Baru dua hari."
"Dua hari cukup?"
"Kalau menunggu cuti panjang,
mungkin aku keburu jadi pasien psikiater."
Perawat itu tertawa kecil.
Aku ikut tertawa.
Mungkin benar.
Beberapa rekanku memilih pindah
spesialisasi setelah beberapa tahun bekerja di forensik.
Sebagian tidak tahan.
Sebagian lagi terlalu larut.
Aku masih bertahan.
Entah karena mencintai pekerjaan
ini...
atau karena sudah terlalu terbiasa
dengan kematian.
Pukul delapan malam aku sudah berada
di kaki gunung.
Gunung Arga Wening.
Tidak terlalu tinggi.
Sekitar tiga ribu meter di atas
permukaan laut.
Namun terkenal dengan lautan awannya
yang luar biasa indah.
Aku memang sengaja memilih mendaki
malam.
Selain menghindari panas, aku ingin
melihat matahari terbit dari puncaknya.
Aku memeriksa isi carrier untuk
terakhir kalinya.
Air minum.
Tenda darurat.
Jaket.
Kotak P3K.
Senter kepala.
Tongkat trekking.
Semuanya lengkap.
"Sendirian, Mas?"
Petugas pos memandangku heran.
"Iya."
"Hati-hati. Jangan keluar
jalur."
Aku mengangguk sambil tersenyum.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun aku sama sekali tidak
menyangka betapa pentingnya peringatan tersebut.
Semakin jauh meninggalkan pos
pendakian, suara manusia perlahan menghilang.
Digantikan desir angin yang
menyelinap di antara pepohonan pinus.
Udara malam begitu dingin.
Embun mulai turun.
Sorot lampu di kepalaku hanya mampu
menerangi beberapa meter di depan.
Sisanya...
gelap.
Aku menikmati setiap langkah.
Sudah lama sekali aku tidak
merasakan keheningan seperti ini.
Tidak ada sirene ambulans.
Tidak ada telepon dari kepolisian.
Tidak ada laporan pembunuhan.
Tidak ada ruang autopsi.
Hanya aku.
Gunung.
Dan malam.
Sesekali aku berpapasan dengan
beberapa pendaki yang turun lebih dulu.
Kami saling menyapa.
"Malam."
"Malam."
Lalu kembali berjalan.
Semakin tinggi, jalur semakin sepi.
Aku melihat jam tangan.
Pukul sebelas malam.
Seharusnya masih ada rombongan lain
yang mengejar summit.
Namun selama hampir satu jam
terakhir...
aku tidak bertemu siapa pun.
Aku berhenti.
Aneh.
Terlalu sepi.
Bahkan suara jangkrik pun
menghilang.
Yang tersisa hanya bunyi nafasku
sendiri.
Aku menoleh ke belakang.
Gelap.
Ke depan.
Gelap.
Aku mencoba menghibur diri.
Mungkin
aku terlalu cepat berjalan.
Aku kembali melangkah.
Lima belas menit.
Dua puluh menit.
Tiga puluh menit.
Masih tidak ada siapa-siapa.
Perasaan tidak nyaman mulai muncul.
Aku mengeluarkan ponsel.
Tidak ada sinyal.
Seperti yang kuduga.
Aku membuka aplikasi GPS offline.
Layar memuat cukup lama.
Lalu berhenti.
Error.
"Hebat..."
gumamku pelan.
Saat itulah aku baru menyadari
sesuatu.
Jalur yang kulewati mulai berbeda.
Rumput semakin tinggi.
Tanah berubah lembek.
Akar pohon menjulur memenuhi jalan.
Ini bukan jalur pendakian yang
kulihat di peta.
Aku memutar lampu senter ke segala
arah.
Tak ada penanda jalur.
Tak ada pita.
Tak ada jejak sepatu.
Hanya pepohonan yang berdiri rapat
seperti dinding hitam.
Dadaku mulai berdebar.
Aku...
tersesat.
Aku menarik napas panjang.
Dalam kondisi seperti ini, panik
adalah musuh terbesar.
Itu prinsip yang sama saat menangani
korban bencana.
Berhenti.
Tenangkan diri.
Pikirkan langkah berikutnya.
Aku mematikan senter selama beberapa
detik.
Gelap total.
Tidak.
Tidak benar-benar gelap.
Di kejauhan...
ada sebuah cahaya.
Kuning redup.
Seperti lampu rumah.
Atau mungkin warung.
Jaraknya tampak tidak terlalu jauh.
Aku menghela napas lega.
"Syukurlah..."
Tanpa berpikir panjang aku mulai
berjalan menuju cahaya itu.
Semakin dekat.
Semakin jelas.
Namun anehnya...
setelah hampir dua puluh menit
berjalan...
jaraknya tetap sama.
Aku berhenti.
Mungkin mataku tertipu.
Aku melangkah lagi.
Tetap sama.
Lampu itu seperti sengaja menjaga
jarak.
Perasaan tidak enak kembali muncul.
Aku hendak berbalik.
Tiba-tiba...
Seseorang menggenggam pergelangan
tangan kiriku.
Aku tersentak.
Refleks mengayunkan tongkat
trekking.
Namun ayunan itu berhenti di udara.
Seorang perempuan berdiri tepat di
belakangku.
Aku sama sekali tidak mendengar
langkahnya.
Rambutnya panjang.
Wajahnya tertutup bayangan.
Ia tidak berkata apa-apa.
Hanya menatap lurus ke arahku.
Tangannya masih menggenggam
pergelanganku.
Dingin.
Bukan dingin karena udara
pegunungan.
Melainkan dingin seperti kulit
manusia yang telah lama kehilangan kehidupan.
Lalu...
aroma itu kembali memenuhi hidungku.
Aroma yang selama bertahun-tahun
ingin kulupakan.
Bukan formalin.
Bukan tanah basah.
Melainkan aroma pembusukan yang
samar.
Tipis.
Namun begitu khas.
Aroma yang hanya dimiliki oleh tubuh
manusia yang telah lama berhenti bernapas.
Aku menelan ludah.
Mustahil.
Aku mengenali bau itu lebih baik
daripada mengenali parfumku sendiri.
Perempuan itu perlahan menggeleng.
Lalu mengangkat tangan kirinya...
dan menunjuk ke arah cahaya yang
sejak tadi hendak kudatangi.
Bibirnya bergerak pelan.
Nyaris tak terdengar.
"...jangan."
Suara perempuan itu begitu pelan.
Hampir tertelan desir angin.
Namun cukup jelas untuk membuat
kakiku membeku.
Aku menatapnya beberapa saat.
Wajahnya masih tertutup rambut panjang yang digerakkan angin. Cahaya lampu
kepala tidak mampu memperlihatkan wajahnya dengan jelas.
"Kenapa?" tanyaku pelan.
Ia tidak menjawab.
Hanya kembali menggeleng.
Tangannya masih menggenggam
pergelangan tanganku.
Dingin.
Semakin lama semakin dingin.
Seolah darah di tangannya sudah lama
berhenti mengalir.
Aku menoleh lagi ke arah cahaya itu.
Masih ada.
Diam.
Tidak berkedip.
Entah mengapa, kini cahaya itu tidak
lagi terlihat seperti lampu rumah.
Warnanya kekuningan.
Samar.
Seperti pelita tua yang hampir
kehabisan minyak.
Aku kembali menatap perempuan itu.
"Apa ada jurang di sana?"
Ia mengangguk perlahan.
Dadaku langsung sesak.
Kalau begitu...
selama hampir setengah jam aku
berjalan menuju tepi jurang?
Aku mundur satu langkah.
Perempuan itu akhirnya melepaskan
genggamannya.
Saat itulah aroma busuk yang sejak
tadi samar tiba-tiba menjadi lebih kuat.
Aku spontan menutup hidung.
Bau itu...
persis.
Persis seperti jenazah yang mulai
mengalami pembusukan beberapa hari.
Aku mengenalnya terlalu baik.
Aroma yang tidak pernah bisa hilang
meski sudah mandi berkali-kali.
Aroma yang kadang membuatku
kehilangan selera makan.
Mustahil.
Tidak mungkin ada jenazah di gunung
ini.
Aku menggeleng keras.
Mungkin
hanya bangkai rusa... atau babi hutan...
Aku mencoba menenangkan pikiranku
sendiri.
Namun naluriku sebagai dokter
berkata lain.
Bangkai hewan dan manusia mempunyai
aroma yang berbeda.
Dan yang sedang kucium...
adalah aroma manusia.
Kami duduk berdampingan di atas akar
pohon besar.
Tidak ada yang berbicara.
Aku mencoba membuka botol minum.
Tanganku sedikit gemetar.
Lucu.
Aku sudah membedah ratusan mayat.
Bahkan korban mutilasi.
Korban ledakan.
Korban kebakaran.
Namun malam ini...
aku takut.
Bukan karena perempuan di sampingku.
Melainkan karena gunung ini
terasa...
salah.
Tidak ada suara jangkrik.
Tidak ada suara burung malam.
Tidak ada desir dedaunan.
Padahal angin masih bertiup.
Seolah seluruh hutan sedang menahan
napas.
Aku mencoba memecah kesunyian.
"Namamu siapa?"
Perempuan itu tidak menjawab.
Ia hanya menunduk.
Rambut panjangnya menutupi wajah.
"Sedang mendaki juga?"
Masih diam.
Aku mulai merasa pertanyaanku sia-sia.
Beberapa menit berlalu.
Barulah terdengar suaranya.
"Aku..."
Suara itu lirih.
"...ingin pulang."
Aku mengangguk pelan.
"Besok pagi kita turun
sama-sama."
Perempuan itu menggeleng.
"Aku... tidak bisa."
Aku menatapnya.
"Maksudnya?"
Ia mengangkat tangan kanannya.
Perlahan menunjuk ke arah hutan yang
gelap.
"Laki-laki itu..."
Aku spontan mengikuti arah
telunjuknya.
Gelap.
Tidak ada apa-apa.
"Laki-laki siapa?"
Ia tidak menjawab.
Tangannya perlahan turun.
Lalu kembali diam.
Aku mencoba berpikir logis.
Mungkin perempuan ini korban KDRT.
Atau bertengkar dengan pacarnya.
Lalu kabur ke gunung.
Kemungkinan itu jauh lebih masuk
akal daripada semua pikiran aneh yang mulai memenuhi kepalaku.
Aku membuka tas.
Mengeluarkan energy bar.
"Mau?"
Ia tidak mengambilnya.
Hanya memandang makanan itu.
Tatapannya kosong.
Aneh.
Orang yang tersesat biasanya lapar.
Tetapi ia bahkan tidak tampak
tertarik.
Aku menggigit sedikit energy bar
itu.
Tiba-tiba...
Krek...
Suara ranting patah.
Dekat sekali.
Aku menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Beberapa detik kemudian...
Krek...
Suara itu terdengar lagi.
Kali ini di belakangku.
Aku mengangkat senter.
Sorot cahaya menyapu pepohonan.
Kosong.
Hanya batang-batang pinus.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban.
Aku menarik tongkat trekking lebih
erat.
Suara itu kembali terdengar.
Krek...
Krek...
Seperti seseorang berjalan mengitari
kami.
Namun setiap kali kusorot dengan
lampu...
tak ada siapa pun.
Perempuan itu masih duduk diam.
Seolah sudah terbiasa.
Aku mulai merasakan ada sesuatu yang
tidak beres.
Pelan-pelan aku mendekatinya.
"Mbak..."
Ia mengangkat kepala.
Untuk pertama kalinya aku bisa
melihat sebagian wajahnya.
Kulitnya pucat.
Sangat pucat.
Bibirnya membiru.
Di pelipis kirinya tampak rambut
yang menggumpal.
Seperti...
basah.
Aku mengarahkan senter sedikit lebih
tinggi.
Perempuan itu langsung menunduk
lagi.
Seolah tidak ingin wajahnya
terlihat.
"Ada yang mengejar Mbak?"
Ia mengangguk.
"Siapa?"
"...dia."
"Pacarmu?"
Perempuan itu tidak menjawab.
Rasa kantuk mulai menyerang.
Jam tanganku menunjukkan pukul dua
dini hari.
Masih lama sebelum matahari terbit.
Aku tidak mungkin terus berjalan
dalam keadaan tersesat seperti ini.
Lebih aman menunggu pagi.
Aku menggelar emergency blanket.
"Kita istirahat sebentar."
Perempuan itu tidak menjawab.
Aku bersandar pada tanah yang
sedikit lebih tinggi.
Aneh.
Tanah di belakang kepalaku terasa
lunak.
Seperti gundukan.
Namun aku terlalu lelah untuk
memedulikannya.
Kelopak mataku mulai berat.
Suara ranting patah masih terdengar
sesekali.
Semakin lama semakin jauh.
Lalu menghilang.
Yang tersisa hanya aroma busuk yang
samar.
Entah mengapa...
malam itu aku bermimpi.
Aku melihat seorang perempuan
berlari di antara pepohonan.
Napasnya tersengal.
Sesekali ia menoleh ke belakang.
Seorang laki-laki mengejarnya sambil
membawa sesuatu.
Kapak.
Kilatan besi itu memantulkan cahaya
bulan.
Perempuan itu berteriak minta
tolong.
Namun suaranya tertelan hutan.
Ia tersandung akar.
Jatuh.
Laki-laki itu mendekat perlahan.
"Kalau aku tidak bisa
memilikimu..."
Suara laki-laki itu terdengar berat.
"...tidak akan ada orang lain
yang bisa."
Kapak terangkat tinggi.
Perempuan itu menutup wajahnya.
Brak!
Suara benturan memenuhi hutan.
Lalu...
hening.
Aku terbangun sambil terengah-engah.
Jantungku berdetak begitu keras
hingga terasa sakit.
Matahari mulai muncul di balik
pegunungan.
Kabut tipis menyelimuti hutan.
Aku langsung menoleh ke samping.
Perempuan itu...
menghilang.
Tak ada jejak kaki.
Tak ada bekas duduk.
Seolah sejak awal tidak pernah ada
siapa pun di sana.
Aku mengusap wajah.
"Mimpi..."
gumamku.
Namun saat hendak berdiri...
kakiku menyentuh sesuatu yang keras.
Sebuah kapak tua.
Mata kapaknya dipenuhi bercak
cokelat tua yang telah mengering.
Di gagangnya masih melekat beberapa
helai rambut panjang.
Dan saat aku menoleh ke arah
gundukan tanah yang semalam kujadikan bantal...
aku membeku.
Dari sela tanah yang mulai
longsor...
sesuatu yang pucat perlahan muncul.
Bukan batu.
Bukan akar pohon.
Melainkan dahi manusia.
Diikuti kelopak mata yang telah
membusuk.
Lalu sebagian wajah.
Aku mengenali wajah itu.
Meski telah rusak.
Meski kulitnya mulai menghitam.
Itu adalah perempuan yang semalaman
duduk di sampingku.
Matahari baru saja muncul dari balik
punggung gunung ketika aku masih berdiri mematung di depan gundukan tanah itu.
Udara pagi yang seharusnya segar
justru dipenuhi aroma yang sangat kukenal.
Bukan aroma tanah basah.
Bukan lumut.
Bukan dedaunan yang membusuk.
Melainkan aroma pembusukan manusia.
Aroma manis yang memuakkan.
Amis.
Asam.
Bercampur bau daging yang mulai
rusak.
Aroma yang selama bertahun-tahun
menjadi bagian dari pekerjaanku sebagai dokter forensik.
Aku menelan ludah.
Pelan-pelan kusibakkan tanah
menggunakan ujung tongkat trekking.
Semakin banyak tanah yang
tersingkap, semakin jelas bentuk wajah itu.
Mata kirinya sudah menghitam.
Kulit pipinya mulai mengelupas.
Namun aku masih mengenali rambut
panjangnya.
Rambut yang semalam terus menutupi
wajah perempuan itu.
Dadaku langsung sesak.
Berarti...
Semalaman aku berbicara dengan...
Aku buru-buru mundur beberapa
langkah.
Napas terasa pendek.
Logikaku berusaha melawan apa yang
baru saja kulihat.
"Mungkin
aku kelelahan."
"Mungkin
semalam aku mengalami halusinasi."
Namun sebagai dokter, aku tahu.
Halusinasi tidak mungkin
meninggalkan kapak sungguhan.
Tidak mungkin meninggalkan jasad.
Tidak mungkin meninggalkan aroma.
Aku memejamkan mata beberapa detik.
Tenangkan diri.
Pikirkan prosedur.
Jangan sentuh apa pun.
Jangan merusak TKP.
Kupaksa diriku kembali menjadi
dokter, bukan pendaki yang sedang ketakutan.
Aku mengeluarkan ponsel.
Sinyal masih kosong.
Tetapi kamera tetap bisa digunakan.
Aku memotret setiap sudut.
Kapak.
Jejak tanah.
Posisi gundukan.
Pepohonan di sekeliling.
Batu besar di sebelah utara.
Akar pinus yang melintang.
Aku bahkan mengambil foto dari
beberapa sudut berbeda, kebiasaan yang kupelajari ketika membantu penyidik
mengidentifikasi lokasi bencana.
Lalu aku membuka aplikasi kompas dan
peta offline.
Koordinat tidak bisa terkirim tanpa
sinyal, tetapi perangkatku masih bisa menyimpan titik lokasi.
Setelah memastikan semuanya terekam,
aku menandai pohon pinus terbesar dengan seutas tali merah dari tas P3K.
Aku tidak berani menggali lebih
jauh.
Bukan karena takut.
Melainkan karena aku tahu setiap
sentimeter tanah bisa menjadi barang bukti.
Aku menarik napas panjang.
"Lapor polisi."
Itu satu-satunya pilihan.
Perjalanan turun gunung terasa jauh
lebih panjang.
Setiap langkah seolah diikuti aroma
yang sama.
Beberapa kali aku menoleh ke
belakang.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun entah mengapa aku merasa...
ada seseorang berjalan tepat di
belakangku.
Bukan untuk menakutiku.
Melainkan memastikan aku tidak
berhenti.
Dua jam kemudian aku tiba di kantor
polisi sektor terdekat.
Bangunannya sederhana.
Cat putihnya mulai kusam.
Beberapa motor terparkir di halaman.
Aku duduk di ruang tunggu sambil
membersihkan luka di kakiku dengan tisu antiseptik.
Baru kusadari luka itu cukup dalam
akibat tersandung kapak semalam.
Di sampingku duduk seorang
laki-laki.
Usianya sekitar tiga puluh tahun.
Kaus hitam.
Celana jeans.
Wajahnya tampak lelah.
Matanya sembap.
Ia memegang ponsel erat-erat.
Beberapa kali menarik napas panjang.
Lalu menunduk.
Tak lama kemudian ia menoleh
kepadaku.
"Mas juga mau bikin
laporan?"
Aku mengangguk.
"Iya."
"Laporan apa?"
Aku tersenyum tipis.
"Barang hilang."
Aku sengaja berbohong.
Belum saatnya siapa pun mengetahui
temuanku sebelum polisi menerima laporanku secara resmi.
"Oh..."
Ia mengangguk pelan.
Kemudian terdiam.
Beberapa menit berlalu.
Tiba-tiba ia berkata lirih,
"Pacar saya hilang."
Aku menoleh.
Ia tersenyum hambar.
"Saya sudah seminggu nyari ke
mana-mana."
Suara laki-laki itu bergetar.
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Aneh ya... biasanya dia selalu
ngabarin."
Ia membuka galeri ponselnya.
"Ini dia."
Ia menyodorkan layar ponsel.
Seorang perempuan tersenyum cerah di
pantai.
Rambut panjang.
Wajah manis.
Aku membeku.
Perempuan itu.
Perempuan yang semalam menemaniku.
Hanya saja...
di foto ini wajahnya penuh
kehidupan.
Matanya berbinar.
Tidak pucat.
Tidak dingin.
Laki-laki itu mengusap layar ponsel
perlahan.
"Dia suka sekali
jalan-jalan."
Foto berikutnya.
Mereka makan bakso di pinggir jalan.
Foto berikutnya.
Naik motor saat hujan.
Foto berikutnya.
Merayakan ulang tahun.
Ada video.
Perempuan itu meniup lilin sambil
tertawa.
Laki-laki itu ikut tertawa kecil.
Air matanya menetes.
"Aku sudah beli cincin."
Ia mengeluarkan kotak beludru kecil
dari tasnya.
Masih tersegel.
"Sebenarnya bulan depan aku mau
melamar dia."
Aku ikut terdiam.
Dalam hati mulai muncul keraguan.
"Apa
mungkin mimpi semalam memang hanya mimpi?"
"Apa
mungkin aku salah?"
Ia kembali menatap foto-foto itu.
"Kami bahkan sudah survei
gedung nikah."
Ia memperlihatkan foto lain.
Mereka berdiri di depan sebuah
gedung.
Berpelukan.
Tertawa.
Benar-benar tampak seperti pasangan
yang bahagia.
Lalu ia berkata pelan.
"Kami juga berencana naik
gunung setelah menikah."
Kalimat itu membuat tengkukku
merinding.
Naik gunung.
Perempuan itu semalam juga
berkata...
"Dia
membawaku ke sini..."
Aku menatap laki-laki itu lebih
lama.
Air matanya terus mengalir.
Namun ada sesuatu yang menggangguku.
Ia tidak pernah menyeka air mata.
Sebaliknya...
setiap selesai berbicara,
ia selalu menggaruk sisi kanan
hidungnya.
Pelan.
Singkat.
Lalu tersenyum sedih lagi.
Aku mengerutkan kening.
Sebagai dokter, aku tahu satu gestur
tidak bisa dijadikan bukti seseorang sedang berbohong.
Orang yang stres bisa saja menggaruk
hidung karena pembuluh darah melebar atau sekadar kebiasaan.
Namun naluriku mulai bekerja.
Bukan karena gestur itu.
Melainkan karena semuanya terasa...
terlalu sempurna.
Ceritanya runtut.
Tangisnya pas.
Foto-fotonya meyakinkan.
Seolah ia sudah berulang kali
menceritakan kisah yang sama.
"Terakhir ketemu kapan?"
tanyaku pelan.
"Hari Minggu."
Garuk hidung.
"Ada masalah?"
"Tidak."
Garuk hidung lagi.
"Kami baik-baik saja."
Garuk hidung sekali lagi.
Aku mengangguk.
Dalam hati hanya berkata,
"Aku
tidak tahu kau berbohong atau tidak... tapi ada sesuatu yang kau
sembunyikan."
Saat itulah seorang polisi keluar
dari ruang pelayanan.
"Silakan... laporan orang
hilang."
Laki-laki itu berdiri.
Menghela napas.
Lalu masuk ke dalam ruangan.
Aku memperhatikannya hingga pintu
tertutup.
Beberapa menit kemudian giliranku
dipanggil.
Aku masuk.
Menutup pintu.
Mengeluarkan kartu identitasku.
Polisi yang duduk di balik meja
langsung membaca nama dan profesiku.
Ia mengangkat kepala.
"Dokter forensik?"
Aku mengangguk.
"Saya sedang berlibur."
"Lalu?"
Aku menarik napas panjang.
"Tadi pagi saya menemukan
lokasi yang diduga merupakan TKP pembunuhan."
Ruangan itu mendadak sunyi.
Aku meletakkan ponsel di atas meja.
Memperlihatkan foto-foto yang
kuambil.
Ekspresi polisi berubah seketika.
"Astaga..."
Ia segera memanggil rekannya.
Dan tanpa kusadari...
kasus yang awalnya kupikir hanyalah
kecelakaan pendakian biasa...
baru saja dimulai.
"Pak Arif!"
Seorang polisi muda berlari masuk ke
ruang laporan.
"Tim Inafis sudah siap."
Perwira yang sejak tadi memeriksa
foto-fotoku langsung berdiri.
"Kita berangkat sekarang."
Ia menoleh kepadaku.
"Dokter, kami mohon bantuan
Anda."
Aku mengangguk.
Meski sedang cuti, naluri sebagai
dokter forensik jauh lebih kuat daripada keinginanku menikmati liburan.
Perjalanan menuju gunung ditempuh
hampir dua jam.
Dua mobil polisi.
Satu ambulans.
Satu kendaraan Inafis.
Sepanjang perjalanan aku lebih
banyak diam.
Pikiranku terus mengulang pertemuan
semalam.
Tatapan perempuan itu.
Tangannya yang dingin.
Kalimatnya yang pendek-pendek.
"Aku
ingin pulang..."
Sekarang aku mulai mengerti.
Ia memang ingin pulang.
Pulang kepada keluarganya.
Sesampainya di kaki gunung, seorang
lelaki tua sudah menunggu.
Kulitnya legam.
Tubuhnya kurus.
Di pinggangnya tergantung golok pendek.
"Ini Pak Wiryo."
kata polisi.
"Beliau guide senior di gunung
ini."
Pak Wiryo menyalamiku.
Tangannya kasar.
Tatapannya tajam.
"Lha... njenengan yang semalam
naik sendirian?"
"Iya."
Beliau menghela napas panjang.
"Untung masih diparingi
slamet."
Aku hanya tersenyum tipis.
Kami mulai mendaki.
Semakin mendekati lokasi.
Pak Wiryo tiba-tiba berhenti.
Beliau memandangi hutan di sebelah
kiri.
Lama.
"Ada apa Pak?"
Beliau tidak langsung menjawab.
"Semalam njenengan lihat
cahaya?"
Aku terdiam.
"Iya."
Pak Wiryo mengangguk pelan.
"Itu bukan desa."
Aku menoleh.
"Maksudnya?"
"Sudah puluhan tahun tidak
pernah ada desa di arah sana."
Aku merasakan tengkukku mulai
dingin.
"Lalu cahaya itu?"
Pak Wiryo tersenyum hambar.
"Orang sini menyebutnya lampu
penuntun."
"Penuntun?"
"Iya."
"Menuntun ke mana?"
Beliau menatapku.
"Kalau sedang beruntung...
lampu itu menuntun pulang."
Beliau berhenti sebentar.
"Kalau sedang sial..."
Beliau menunjuk jurang.
"...menuntun ke sana."
Tak seorang pun berbicara lagi.
Tak lama kemudian kami tiba di
lokasi.
Tali merah yang kupasang masih ada.
Kapak masih berada di tempatnya.
Tim Inafis langsung memasang garis
polisi.
Kamera mulai berbunyi.
Klik.
Klik.
Klik.
Aku ikut mengenakan sarung tangan.
Masker.
Pelindung sepatu.
Kebiasaan yang sudah mendarah
daging.
Seorang polisi mulai menggali
perlahan menggunakan kuas kecil.
Sedikit demi sedikit tanah
dibersihkan.
Yang pertama muncul...
helaian rambut.
Hitam.
Panjang.
Kemudian...
potongan kain merah.
Lalu...
sebuah tangan.
Beberapa polisi spontan memalingkan
wajah.
Yang lain menahan mual.
Aku tetap memperhatikan.
Sebagai dokter forensik, inilah
pekerjaanku.
Namun...
sesuatu membuatku membeku.
Di pergelangan tangan korban masih
melingkar gelang anyaman berwarna hijau.
Aku mengenalnya.
Semalam.
Perempuan itu beberapa kali
memainkan gelang itu saat kami duduk bersama.
Aku masih ingat.
Ia menggulung-gulungnya menggunakan
jari telunjuk.
Dadaku kembali sesak.
Penggalian terus dilakukan.
Semakin dalam.
Semakin banyak bagian tubuh
ditemukan.
Namun semuanya tidak berada pada
posisi anatomis.
Kaki berada dua meter dari badan.
Lengan kiri terkubur di sisi lain.
Tulang rusuk terpisah.
Aku menatap kapak yang terbungkus
plastik barang bukti.
Kemungkinan besar...
tubuh korban dimutilasi setelah
meninggal.
Bukan untuk menyiksa.
Melainkan...
agar lebih mudah dikuburkan.
Aku mulai menyusun kronologi di
kepalaku.
Saat tengkorak berhasil diangkat.
Aku berjongkok.
Memeriksanya perlahan.
Di tulang pelipis kiri tampak
retakan berbentuk bintang.
Aku mengusap perlahan menggunakan
kuas.
Satu.
Dua.
Tiga.
Sedikitnya terdapat empat luka
benturan.
Semuanya berada di tempat yang sama.
Pelaku memukul berkali-kali.
Penuh amarah.
Namun...
luka itu bukan yang membuatku
terdiam.
Di belakang tengkorak...
terdapat rambut yang masih menggumpal.
Dan di sela rambut itu...
terselip jepit rambut berbentuk
kupu-kupu biru.
Aku menutup mata beberapa detik.
Jepit itu.
Aku melihatnya semalam.
Perempuan itu sempat membenarkan
rambutnya.
Aku sangat yakin.
Mustahil aku salah ingat.
"Dok!"
Suara polisi membuyarkan lamunanku.
"Kami menemukan sesuatu."
Aku berjalan mendekat.
Dari dalam tanah...
muncul sebuah tas selempang kecil.
Resletingnya mulai berkarat.
Namun masih utuh.
Polisi membuka perlahan.
Di dalamnya hanya ada beberapa
benda.
Dompet.
Lipstik.
Power bank.
Kunci motor.
Dan...
sebuah buku harian mungil berwarna
biru.
Aku dan polisi saling berpandangan.
Pak Arif mengenakan sarung tangan
baru.
Membuka halaman pertama.
Tulisan tangan yang rapi memenuhi
kertas.
"Kalau
suatu hari aku menghilang, semoga seseorang menemukan buku ini."
Semua orang terdiam.
Angin gunung tiba-tiba berembus
lebih kencang.
Halaman-halaman buku itu terbuka
sendiri.
Berhenti pada satu halaman.
Di sana tertulis satu kalimat.
"Aku
mencintainya. Tapi akhir-akhir ini aku mulai takut padanya."
Aku merasakan bulu kudukku berdiri.
Pak Arif perlahan menutup buku itu.
"Dok..."
katanya pelan.
"Saya rasa ini bukan lagi
sekadar laporan orang hilang."
Aku mengangguk.
Tatapanku mengarah ke lembah yang
semalam dipenuhi kabut.
Entah mengapa...
aku merasa seseorang sedang berdiri
di antara pepohonan.
Memperhatikan kami.
Aku mengangkat kepala.
Kabut bergerak perlahan.
Sesaat kulihat siluet perempuan
berjaket merah.
Ia berdiri diam.
Tidak tersenyum.
Tidak menangis.
Hanya menatap ke arah buku harian itu.
Lalu...
perlahan menghilang bersama embusan
angin.
Pak Arif menyerahkan buku harian itu
kepadaku.
"Kau saja yang membaca."
Aku menerimanya perlahan.
Sampul kain birunya sudah mulai
kusam.
Di sudut kanan terdapat bercak
lumpur yang telah mengering.
Namun ketika kubuka halaman
pertama...
aroma yang sangat lembut tiba-tiba
tercium.
Bukan aroma pembusukan.
Melainkan aroma parfum perempuan.
Sangat tipis.
Mungkin aroma itu hanya tinggal di
dalam ingatanku.
Aku mulai membaca.
14
Februari
Hari ini aku resmi menjadi pacarnya.
Lucu sekali.
Dia mengajakku makan mi ayam.
Katanya nanti kalau sudah kaya baru
makan di restoran mahal.
Aku bilang...
"Aku maunya makan sama kamu,
bukan sama restorannya."
Dia tertawa.
Aku juga.
Hari ini bahagia sekali.
Aku harap Tuhan mengizinkan kami
menua bersama.
Tanpa kusadari aku ikut tersenyum.
Tulisan Alya dipenuhi gambar-gambar
kecil.
Hati.
Bunga.
Matahari.
Sangat sederhana.
2 Maret
Hari ini motorku mogok.
Rangga datang hampir dua puluh
kilometer hanya untuk mendorong motorku sampai bengkel.
Padahal hujan deras.
Aku memarahinya.
Dia malah bilang,
"Kalau
motornya rusak masih bisa diperbaiki.
Tapi
kalau kamu kenapa-kenapa, aku tidak bisa tidur."
Dasar gombal.
Tapi aku suka.
Aku membalik halaman berikutnya.
10 Mei
Hari ini kami pergi ke pantai.
Dia membuat istana pasir.
Bentuknya jelek sekali.
Katanya nanti rumah kami juga akan
seperti itu.
Aku bilang,
"Kalau rumahnya jelek begini
aku kabur."
Dia mengejarku sepanjang pantai.
Kami pulang dengan baju penuh pasir.
Capek.
Tapi bahagia.
Tanpa sadar aku menoleh ke foto-foto
yang tadi ditemukan polisi.
Foto pantai itu memang ada.
Persis seperti yang ditulis Alya.
Berarti...
semua kenangan ini benar-benar
terjadi.
18 Juli
Hari ini aku diterima kerja.
Aku menangis.
Bukan karena senang.
Tapi karena takut tidak punya waktu
untuk Rangga.
Dia memelukku.
Katanya,
"Aku
tidak butuh waktu kamu banyak.
Aku cuma
butuh kamu tetap pulang."
Aku menangis lagi.
Kenapa ya...
aku selalu merasa aman kalau dipeluk
dia.
Aku berhenti membaca.
Ada rasa sesak yang sulit
dijelaskan.
Aku sudah bertahun-tahun membedah
mayat.
Namun baru kali ini aku merasa...
aku mengenal seseorang yang tubuhnya
sedang diperiksa di ruang jenazah.
Halaman berikutnya berubah.
Tulisan Alya masih sama.
Namun gambar-gambar bunga mulai
menghilang.
3
September
Hari ini aku pulang terlambat karena
lembur.
Rangga marah.
Dia bilang aku lebih memilih kantor
daripada dia.
Padahal aku hanya ingin menabung
untuk pernikahan kami.
Mungkin dia hanya lelah.
Besok pasti baik lagi.
14
September
Hari ini dia meminta password
Instagram-ku.
Katanya supaya tidak ada rahasia.
Aku kasih.
Kalau memang itu membuatnya tenang.
Tidak masalah kan?
20 Oktober
Hari ini aku bertemu teman SMA.
Rangga marah lagi.
Dia tidak memukulku.
Hanya membanting gelas.
Aku kaget.
Belum pernah melihat dia seperti
itu.
Besok dia pasti minta maaf.
Dia selalu minta maaf.
Aku mulai menghela napas panjang.
Hubungan seperti ini...
terlalu sering kulihat.
28 Oktober
Hari ini dia menangis.
Katanya dia takut kehilangan aku.
Aku ikut menangis.
Mungkin aku memang terlalu keras
padanya.
Aku harus menjadi pacar yang lebih
baik.
Aku menutup mata.
Kalimat itu...
begitu khas korban kekerasan
psikologis.
Mereka selalu menyalahkan dirinya
sendiri.
Halaman berikutnya membuat tanganku berhenti.
Tintanya sedikit luntur.
Seperti terkena air mata.
12
November
Hari ini aku bermimpi.
Aku bermimpi tersesat di gunung.
Ada seseorang yang menuntunku turun.
Aku tidak bisa melihat wajahnya.
Tapi aku merasa dia orang baik.
Lucu ya.
Semoga cuma mimpi.
Aku membeku.
Pak Arif menatapku.
"Ada apa?"
Aku menyerahkan buku itu.
Beliau membaca halaman yang sama.
Kami saling berpandangan.
Tak seorang pun berbicara.
Aku membuka halaman terakhir yang
masih utuh.
Tulisan Alya jauh lebih kecil.
Seolah ditulis sambil gemetar.
19
November
Kalau suatu hari nanti ada seseorang
membaca buku ini...
tolong jangan kasihan padaku.
Aku bahagia pernah mencintai.
Aku hanya berharap...
kalau memang aku pergi lebih dulu...
tolong sampaikan pada Mama...
aku tidak sempat pamit.
Dan...
tolong bilang pada Rangga...
aku benar-benar memaafkannya.
Aku menutup buku itu perlahan.
Tak ada satu orang pun yang
berbicara.
Seorang polisi muda diam-diam
mengusap matanya.
Pak Arif memalingkan wajah.
Sementara aku...
hanya mampu menatap kantong jenazah
di sudut ruangan.
Untuk pertama kalinya dalam karierku
sebagai dokter forensik...
aku tidak melihat sesosok mayat.
Aku melihat...
seorang anak perempuan yang gagal
pulang.
Di luar,
angin gunung kembali bertiup.
Membawa aroma pinus yang dingin.
Namun di sela aroma itu...
aku kembali mencium wangi parfum
lembut yang sama.
Aku menoleh ke jendela.
Tak ada siapa pun.
Hanya seekor kunang-kunang yang
hinggap di ambang jendela.
Lalu terbang pelan menuju kegelapan.
uang autopsi selalu memiliki kesunyian yang berbeda.
Bukan sunyi karena tak ada suara.
Melainkan sunyi karena setiap orang yang masuk ke ruangan itu tahu bahwa tubuh yang terbaring di atas meja tidak lagi mampu membela dirinya sendiri.
Tugas kami adalah membuatnya "berbicara".
Pagi itu aku mengenakan celemek antiair, masker, pelindung wajah, dan sepasang sarung tangan baru.
Di hadapanku, tubuh Alya telah dibersihkan dari tanah dan dedaunan yang menempel.
Kini ia tampak jauh lebih muda.
Wajahnya tenang.
Seolah hanya tertidur.
Aku menarik napas panjang.
"Baik, Alya," gumamku pelan.
"Kalau memang kau ingin kebenaran terungkap... biarkan tubuhmu yang bercerita."
Asistenku mulai mencatat.
Jam autopsi dimulai pukul 08.17.
Luka pertama berada di pelipis kiri.
Retakannya memanjang hingga ke tulang parietal.
Aku menggeleng pelan.
"Bukan jatuh."
Asistenku menoleh.
"Bukan, Dok?"
"Kalau jatuh ke batu, biasanya pola retaknya acak."
Aku menunjuk garis patahan tulang.
"Ini pukulan."
Aku mengambil penggaris forensik.
Diameter luka sekitar lima sentimeter.
Permukaannya datar.
Benda tumpul.
Kemungkinan besar...
kapak.
Aku melanjutkan pemeriksaan.
Luka kedua.
Luka ketiga.
Luka keempat.
Semuanya berada hampir di tempat yang sama.
Aku terdiam.
Pelaku tidak sedang membela diri.
Ia memukul berulang kali.
Dengan marah.
Atau...
dengan kebencian yang sudah lama dipendam.
"Dok..."
Asistenku memanggil pelan.
"Ada memar di pergelangan tangan."
Aku mendekat.
Benar.
Ada bekas cekikan.
Bekas seseorang menggenggam terlalu kuat.
Lalu...
memar kecil di lengan.
Bekas ditarik.
Di lutut.
Bekas terseret.
Aku mulai menyusun urutannya di kepala.
Korban berusaha melawan.
Ditangkap.
Diseret.
Lalu dipukul.
Bukan sekali.
Empat kali.
Yang membuatku berhenti justru bukan luka di kepala.
Melainkan kuku korban.
Aku meminta pinset.
Di sela kuku tangan kanan terdapat serpihan sangat kecil.
Bukan tanah.
Bukan kayu.
Melainkan...
cat berwarna hitam mengilap.
Aku tersenyum tipis.
"Jangan dibuang."
Asistenku segera memasukkannya ke dalam kantong barang bukti.
Kemudian aku memperhatikan rambut korban.
Di sela-selanya terdapat serat kain.
Halus.
Berwarna abu-abu.
Bukan berasal dari jaket hiking.
Melainkan...
karpet.
"Menarik."
Aku mulai curiga.
Pembunuhan mungkin tidak terjadi di gunung.
Mayatlah yang dibawa ke sana.
Pak Arif masuk membawa secangkir kopi.
"Bagaimana?"
Aku melepas masker.
"TKP gunung kemungkinan hanya tempat pembuangan."
Beliau langsung meletakkan kopinya.
"Yakin?"
Aku mengangguk.
"Korban diseret di atas permukaan lunak."
"Karpet?"
"Mungkin."
"Lalu dipindahkan."
Pak Arif tersenyum.
"Berarti kita cari rumah yang karpetnya cocok."
Aku mengangguk.
"Dan kapak."
Beliau mengeluarkan map.
"Kami sudah mendapatkan hasil laboratorium awal."
Aku membuka hasilnya.
Sidik jari pada gagang kapak hampir hilang.
Seseorang sengaja membersihkannya.
Namun...
masih ada bercak darah yang masuk ke celah kayu gagang.
Itu tidak bisa dibersihkan sempurna.
Aku kembali membaca laporan.
Lalu berhenti pada satu kalimat.
Ditemukan satu helai rambut laki-laki pada jaket korban.
Aku tersenyum kecil.
"Kita mulai punya teman."
Sore harinya kami kembali bertemu Rangga.
Kali ini di ruang pemeriksaan.
Ia tampak jauh lebih tenang.
Mungkin terlalu tenang.
Pak Arif membuka percakapan.
"Mas Rangga."
"Kapan terakhir bertemu Alya?"
"Dua minggu lalu."
Aku diam.
Kalimat itu berbeda.
Kemarin ia mengatakan seminggu.
Di kantor polisi ia mengatakan beberapa hari.
Kini berubah lagi.
Rangga buru-buru menambahkan,
"Maksud saya... terakhir benar-benar ngobrol."
Lalu ia tersenyum canggung.
Tangannya perlahan naik.
Menggaruk sisi hidung.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Aku mulai menghitung dalam hati.
Pak Arif menunjukkan foto kapak.
"Kenal?"
Rangga menggeleng cepat.
"Tidak."
"Yakin?"
"Iya."
Garukan di hidungnya kembali muncul.
Aku membuka map lain.
"Kami menemukan serat karpet."
Rangga tampak tidak bereaksi.
Namun ketika aku berkata,
"Kami juga menemukan serpihan cat hitam."
Pupil matanya mengecil.
Hanya sepersekian detik.
Tapi aku melihatnya.
Sebagai dokter forensik, aku tidak boleh menyimpulkan seseorang bersalah dari bahasa tubuhnya.
Namun tubuh manusia sering kali berbicara lebih jujur daripada mulutnya.
Dan tubuh Rangga...
baru saja mulai berbicara.
Malam itu
Aku pulang ke hotel.
Kepala terasa berat.
Di meja kamar tergeletak buku harian Alya yang tadi sempat kupinjam lagi.
Aku membukanya secara acak.
Ada satu halaman yang tadi terlewat.
Tulisan Alya sangat pendek.
"Kalau suatu hari nanti aku menghilang, berarti aku terlalu lama memaafkan."
Aku menutup buku itu perlahan.
Di saat yang sama...
aroma busuk yang kukenal kembali memenuhi kamar.
Aroma daging membusuk.
Basah.
Anyir.
Pahit.
Persis seperti malam ketika aku tersesat di gunung.
Lampu kamar berkedip sekali.
Pelan.
Aku menoleh ke arah cermin.
Di sana...
untuk sesaat...
aku melihat seorang perempuan berdiri di belakangku.
Rambut panjang.
Pakaian putih yang kini penuh noda tanah.
Ia tidak berkata apa pun.
Hanya mengangkat tangan kanannya.
Lalu...
menunjuk ke arah tas ranselku.
Ketika aku menoleh...
tak ada siapa-siapa.
Aku membuka ransel.
Di dalamnya, terselip sesuatu yang bukan milikku.
Sebuah foto polaroid.
Foto itu memperlihatkan Alya dan Rangga sedang tersenyum di depan sebuah rumah bercat putih.
Di sudut foto, ada papan nama jalan yang buram.
Namun masih cukup jelas untuk kubaca satu kata.
"Pinus."
Aku merasakan bulu kudukku berdiri.
Besok pagi...
kami akan mencari rumah itu.
Hujan turun sejak subuh.
Rintiknya membasahi kaca mobil yang melaju perlahan menuju pinggiran kota.
Aku duduk di kursi depan bersama Pak Arif. Di tanganku masih tergenggam foto polaroid yang kutemukan di dalam ransel semalam.
Foto itu memperlihatkan Alya dan Rangga.
Mereka tersenyum.
Sangat bahagia.
Di belakang mereka berdiri sebuah rumah bercat putih dengan pagar kayu sederhana.
Di sudut kanan foto terlihat papan nama jalan yang hanya menyisakan satu kata.
PINUS
"Itu saja petunjuk kita?" tanya Pak Arif.
"Untuk sementara."
Beliau mengangguk pelan.
"Kita cari."
Dua jam berikutnya kami mendatangi hampir semua kawasan yang memiliki nama Jalan Pinus.
Pinus Indah.
Pinus Raya.
Pinus Asri.
Pinus Permai.
Tak satu pun cocok.
Aku mulai berpikir bahwa foto itu mungkin sudah sangat lama.
Rumahnya bisa saja sudah direnovasi.
Atau bahkan dijual.
Menjelang siang, mobil berhenti di sebuah kompleks perumahan tua.
Gerbangnya berkarat.
Banyak rumah kosong.
Seorang satpam tua menghampiri.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Pak Arif menunjukkan foto.
"Pak, rumah ini masih ada?"
Satpam itu menyipitkan mata.
Lama sekali.
Kemudian wajahnya berubah.
"Saya kenal rumah itu."
Aku dan Pak Arif saling berpandangan.
"Itu rumah kontrakan."
"Masih dihuni?"
Satpam menggeleng.
"Sudah kosong hampir setahun."
Kami berjalan menuju rumah nomor 27.
Rumput liar memenuhi halaman.
Pintu depannya terkunci.
Cat putihnya mulai mengelupas.
Persis seperti di foto.
Aku memperhatikan jendelanya.
Tirai masih menggantung.
Seolah seseorang baru saja pergi beberapa hari yang lalu.
"Pak."
Aku menunjuk kusen pintu.
Ada bekas congkelan.
Pak Arif langsung memanggil tim identifikasi.
Tak lama kemudian polisi memasuki rumah dengan surat izin penggeledahan.
Begitu pintu terbuka...
aroma lembap langsung menyambut.
Bukan aroma bangkai.
Namun aroma rumah yang terlalu lama ditinggalkan.
Ruang tamunya sederhana.
Sofa kecil.
Televisi.
Rak buku.
Di atas meja masih ada dua cangkir.
Salah satunya berdebu.
Yang satu lagi...
lebih bersih.
"Berarti ada orang yang datang belum lama ini."
gumamku.
Kami mulai memeriksa seluruh ruangan.
Tidak ada bercak darah.
Tidak ada tanda perkelahian.
Namun di kamar tidur...
aku berhenti.
Karpet abu-abu.
Aku berjongkok.
Mengambil sedikit seratnya.
Persis.
Warna.
Tekstur.
Ketebalannya.
Sama seperti serat yang ditemukan di rambut Alya.
Pak Arif langsung tersenyum.
"Kita mulai dekat."
Saat tim identifikasi mengangkat karpet...
aku memperhatikan lantai di bawahnya.
Ada satu bagian yang warnanya sedikit lebih terang.
Seperti baru saja dibersihkan berkali-kali.
Aku mengusapnya dengan kapas steril.
Tidak terlihat apa pun.
Namun...
aku tahu.
Darah yang dibersihkan sering kali masih meninggalkan jejak mikroskopis.
"Ambil sampel."
Sementara itu, salah satu polisi memanggil dari dapur.
"Pak!"
Kami berlari.
Di tempat sampah ditemukan kantong plastik hitam.
Di dalamnya terdapat...
sarung tangan karet.
Masker.
Lap pel.
Botol cairan pemutih.
Semuanya sudah digunakan.
Pak Arif menghela napas.
"Orang ini berusaha membersihkan sesuatu."
Aku membuka lemari pakaian.
Kosong.
Hampir semuanya kosong.
Hanya tersisa satu kardus kecil.
Isinya...
puluhan foto.
Aku duduk di lantai.
Mulai membukanya satu per satu.
Foto ulang tahun.
Foto piknik.
Foto memasak bersama.
Foto Alya tertidur di sofa.
Foto mereka membeli cincin.
Sampai akhirnya...
aku menemukan satu foto yang berbeda.
Foto itu robek menjadi dua.
Separuh memperlihatkan Alya.
Separuh lagi...
hilang.
Di belakang foto terdapat tulisan tangan.
"Kalau kita terus begini, lebih baik selesai."
Aku membaliknya.
Tidak ada tanggal.
Tidak ada nama.
"Dok..."
Pak Arif memanggil.
Beliau sedang berdiri di depan rak buku.
"Apa?"
"Ini."
Beliau menyerahkan sebuah map.
Isinya...
laporan konsultasi psikolog.
Nama pasien:
Rangga Pratama
Aku membuka halaman berikutnya.
Diagnosisnya membuatku terdiam.
Gangguan kecemasan berat disertai kecenderungan posesif terhadap pasangan.
Pak Arif menghela napas panjang.
"Motif mulai kelihatan."
Aku tidak langsung menjawab.
Entah kenapa...
ada sesuatu yang masih mengganjal.
Kalau memang Rangga pelakunya...
mengapa ia begitu mudah datang ke kantor polisi?
Mengapa ia melaporkan Alya hilang?
Mengapa ia menunjukkan semua foto mereka?
Pelaku biasanya menghindari perhatian.
Rangga justru seperti...
ingin semua orang tahu bahwa ia kehilangan seseorang yang dicintainya.
Sore hari.
Saat kami hendak meninggalkan rumah...
aku melihat sesuatu di halaman belakang.
Sebuah ayunan kecil.
Berkarat.
Tertiup angin.
Bergerak pelan...
padahal udara sedang benar-benar tenang.
Krek...
Krek...
Krek...
Aku berjalan mendekat.
Di bawah ayunan terdapat boneka kelinci kecil yang sudah kusam.
Aku mengambilnya.
Saat kubalik...
ada jahitan yang sudah robek.
Di dalamnya terselip secarik kertas.
Tulisan itu hanya terdiri dari empat kata.
"Bukan Rangga. Percayalah."
Aku membeku.
Tulisan itu...
persis seperti tulisan tangan Alya di buku hariannya.
Aku menoleh cepat ke arah rumah.
Tak ada siapa-siapa.
Namun di balik jendela lantai dua...
aku merasa melihat sesosok perempuan berdiri diam.
Rambut panjang.
Gaun putih.
Ia hanya menatapku.
Lalu perlahan menggeleng.
Saat aku berkedip...
sosok itu lenyap.
Ending
Bab 7
Aku menggenggam erat secarik kertas itu.
Jantungku berdetak semakin cepat.
Kalau Rangga bukan pembunuhnya...
lalu siapa?
Dan...
mengapa Alya bersusah payah menuntunku ke rumah ini?
Untuk pertama kalinya sejak kasus ini dimulai...
aku sadar bahwa kami mungkin sedang mengejar orang yang salah.
Hujan belum juga berhenti ketika
kami meninggalkan rumah kontrakan itu.
Mobil melaju perlahan menembus
jalanan yang mulai berkabut.
Tak seorang pun berbicara.
Pak Arif sibuk membaca hasil
pemeriksaan laboratorium awal.
Sementara aku memandangi foto-foto
Alya dan Rangga yang tadi ditemukan.
Semuanya tampak begitu normal.
Terlalu normal.
Dan justru itu yang menggangguku.
"Ada yang mengganjal,
Dok?"
Pak Arif memecah kesunyian.
Aku mengangguk.
"Kalau Rangga membunuh
Alya..."
"Iya?"
"Kenapa semua foto ini masih
disimpan?"
Pak Arif mengangkat bahu.
"Pelaku sering menyimpan
kenangan."
"Bisa."
"Tapi..."
Aku membuka satu foto.
Foto ulang tahun Alya.
Di belakangnya tertulis:
Jangan
pernah berubah.
Tulisan tangan yang sama muncul
hampir di semua foto.
Huruf-hurufnya rapi.
Sabar.
Tidak terburu-buru.
Aku mengingat kembali buku harian
Alya.
Tulisan itu...
bukan tulisan Alya.
Sesampainya di laboratorium
forensik, seluruh barang bukti kembali diperiksa.
Aku mengambil serat karpet yang
ditemukan di rambut korban.
Kemudian membandingkannya dengan
sampel karpet dari rumah kontrakan.
Di bawah mikroskop keduanya memang
mirip.
Tetapi...
tidak identik.
Aku memperbesar hingga empat ratus
kali.
Asistenku ikut mendekat.
"Ada apa, Dok?"
Aku menunjuk layar monitor.
"Lihat warna serat
birunya."
Asistenku menyipitkan mata.
"Yang satu lebih tua."
Aku tersenyum.
"Benar."
Berarti...
karpet tempat korban sempat berada
bukan karpet di rumah kontrakan.
Hanya berasal dari pabrik yang sama.
Aku segera menghubungi Pak Arif.
"Rumah itu bukan TKP."
"Yakin?"
"Sangat yakin."
"Kalau begitu?"
"Rumah itu hanya pernah
didatangi Alya."
Pak Arif menghela napas panjang.
"Kita kembali dari nol."
Malam harinya aku kembali membuka
isi tas Alya.
Telepon genggamnya sudah rusak
karena lembap.
Dompet.
Lip balm.
Dompet kecil berisi uang receh.
Tiket parkir.
Aku hampir menutup tas itu ketika
sesuatu menyangkut di jariku.
Benang.
Benang merah.
Sangat pendek.
Aku menariknya perlahan.
Ternyata benang itu berasal dari
bagian dalam tas.
Seolah pernah tersangkut pada
sesuatu.
Aku mengambil kaca pembesar.
Di ujung benang terdapat butiran
kecil berwarna putih.
Aku mengerutkan kening.
"Bukan cat..."
Asistenku ikut melihat.
"Bukannya itu tepung?"
Aku menggeleng.
"Terlalu halus."
Aku mencium sedikit aromanya.
Tidak berbau apa pun.
Keesokan paginya hasil laboratorium
keluar.
Butiran putih itu adalah...
debu gipsum.
Aku langsung berdiri.
"Gipsum?"
Pak Arif bertanya.
"Itu biasa dipakai di
mana?"
Aku berpikir cepat.
Plafon.
Dinding.
Studio.
Gudang.
Bangunan yang sedang direnovasi.
Atau...
ruangan yang baru selesai dibangun.
Sore itu kami mulai menelusuri semua
bangunan yang pernah dikunjungi Alya.
Daftarnya tidak sedikit.
Kantor.
Rumah kontrakan.
Rumah orang tua.
Kafe.
Tempat kerja.
Tempat les melukis.
Studio foto.
Semua kami datangi.
Namun tak ada satu pun yang
mencurigakan.
Hari mulai gelap ketika kami tiba di
tempat terakhir.
Sebuah studio foto kecil di pinggir
kota.
Pemiliknya sudah tua.
Ia langsung mengenali foto Alya.
"Oh..."
"Gadis ini."
"Iya, saya ingat."
"Kapan terakhir dia ke
sini?"
"Kira-kira seminggu sebelum
hilang."
"Sendirian?"
Pemilik studio mengangguk.
"Iya."
"Lalu?"
"Dia mencetak foto."
Aku saling berpandangan dengan Pak
Arif.
"Foto apa?"
Orang tua itu mengambil komputer
lamanya.
Masih tersimpan.
Ketika file itu terbuka...
dadaku terasa sesak.
Foto-foto prewedding.
Alya mengenakan gaun putih sederhana.
Rangga memakai jas hitam.
Mereka saling tersenyum.
Sangat bahagia.
Namun...
di foto terakhir...
ada sesuatu yang membuatku berhenti.
Aku memperbesar gambar.
Di belakang mereka.
Di pantulan kaca jendela.
Ada seseorang.
Seorang laki-laki.
Wajahnya tidak terlihat jelas.
Tetapi ia sedang berdiri...
memperhatikan mereka.
"Pak..."
kataku pelan.
"Orang ini siapa?"
Pemilik studio mendekat.
"Oh..."
"Itu?"
"Itu bukan bagian dari sesi
foto."
"Kami baru sadar setelah
fotonya dicetak."
"Dia muncul di hampir semua
foto."
"Pacarnya sempat minta
dihapus."
Aku menelan ludah.
"Pacarnya?"
"Iya."
"Yang laki-laki."
"Katanya orang itu mengganggu
hasil foto."
Aku menatap layar komputer.
Zoom.
Lebih dekat lagi.
Teknisi laboratorium digital mencoba
mempertajam gambar.
Sayangnya hasilnya tetap buram.
Yang terlihat hanya tubuh tinggi
dengan jaket hitam dan topi gelap.
Namun satu hal menarik perhatian
kami.
Di bahu kirinya terdapat logo kecil
berbentuk kepala elang.
"Kita cari jaket itu."
Pak Arif langsung memberi instruksi.
Dua hari kemudian.
Seorang polisi muda masuk ke ruang
kerjaku sambil membawa map.
"Pak..."
"Kami menemukannya."
Aku segera berdiri.
"Di mana?"
"Logo itu milik komunitas
fotografer satwa liar."
"Mereka sering memotret di
gunung."
Jantungku berdegup lebih cepat.
Sore itu kami mendatangi rumah
laki-laki tersebut.
Namanya...
Bima
Prakoso.
Usianya tiga puluh lima tahun.
Pekerjaannya fotografer alam lepas.
Rumahnya sederhana.
Dipenuhi kamera, lensa tele, tripod,
serta foto burung dan rusa yang memenuhi dinding.
Begitu melihat polisi, wajahnya
tampak bingung.
"Ada apa ya, Pak?"
Pak Arif menunjukkan foto.
"Apakah ini Anda?"
Bima memperhatikannya beberapa
detik.
"Iya."
"Itu saya."
"Kebetulan saya sedang memotret
elang di sana."
Aku memperhatikan ekspresinya.
Tidak tampak gugup.
Tidak pula berusaha menghindar.
"Kenal dengan perempuan
ini?"
Bima menggeleng.
"Tidak."
"Lalu kenapa Anda terus berada
di belakang mereka?"
Bima tersenyum kecil.
"Karena mereka terus masuk ke
frame kamera saya."
Ia tertawa pelan.
"Saya malah kesal waktu
itu."
"Saya lagi nunggu elang
turun."
"Eh malah ada pasangan foto
prewedding."
Jawaban itu terdengar masuk akal.
Namun Pak Arif belum puas.
"Apakah Anda melihat sesuatu
malam itu?"
Bima berpikir cukup lama.
"Lihat apa?"
"Perkelahian."
Ia mengangguk pelan.
"Saya memang melihat mereka
bertengkar."
Aku dan Pak Arif saling
berpandangan.
"Di mana?"
"Di area parkir bawah."
"Sore menjelang magrib."
"Apa yang mereka
ributkan?"
"Saya tidak dengar jelas."
"Tapi laki-lakinya marah
sekali."
"Perempuannya menangis."
"Apa Anda melihat wajah
laki-laki itu?"
Bima menggeleng.
"Sudah mulai gelap."
"Saya hanya mendengar satu
kalimat."
Ruangan menjadi sunyi.
"Apa kalimatnya?"
Bima menatap kami bergantian.
"Laki-laki itu berkata..."
'Kalau
bukan sama aku... kamu juga tidak akan bersama siapa pun.'
Bulu kudukku langsung berdiri.
Kalimat itu...
terdengar seperti ancaman.
"Apa setelah itu?"
"Mereka pergi."
"Naik mobil."
"Ke arah bawah."
"Lalu?"
"Saya lanjut memotret."
"Saya tidak melihat apa-apa
lagi."
Pak Arif menatapku.
Tatapan yang sama-sama mengatakan...
Rangga.
Namun...
entah mengapa.
Aku belum sepenuhnya yakin.
Sebelum kami pulang, mataku tertuju
pada sebuah foto besar yang tergantung di ruang tamu Bima.
Foto lautan awan.
Diambil dari puncak gunung yang
sama.
Di sudut kanan bawah terdapat
tanggal pengambilan.
Tanggal itu membuatku berhenti.
"Pak Bima..."
"Iya?"
"Foto ini diambil kapan?"
Ia melihat sebentar.
"Oh..."
"Itu seminggu setelah perempuan
itu hilang."
Aku mengangguk.
"Lalu kenapa?"
Aku memperhatikan lagi foto
tersebut.
Di kejauhan...
hampir tak terlihat.
Ada sebuah mobil putih yang diparkir
di jalur pendakian.
Aku memperbesar dengan ponsel.
Nomor polisinya tidak terbaca.
Tetapi bentuk mobilnya...
sangat mirip mobil Rangga.
Dalam perjalanan pulang, hujan
kembali turun.
Pak Arif tampak puas.
"Kita sudah hampir dapat."
Aku hanya memandang ke luar jendela.
Entah kenapa...
aku terus memikirkan Bima.
Jawabannya terlalu rapi.
Terlalu tenang.
Namun...
orang yang benar-benar bersalah
sering kali justru terlalu banyak bicara.
Sedangkan Bima...
hanya menjawab seperlunya.
Malam itu aku kembali ke kamar
hotel.
Saat membuka tas, aroma amis yang
samar kembali memenuhi ruangan.
Bukan bau busuk yang menyengat.
Melainkan bau khas ruang autopsi
saat kantong jenazah baru dibuka—campuran darah, jaringan yang mulai membusuk,
dan kelembapan yang sulit dijelaskan.
Aku memejamkan mata.
"Alya..."
gumamku pelan.
"Kalau benar Rangga
pelakunya..."
"Berikan aku kekuatan untuk
membuktikannya."
Tak ada jawaban.
Hanya suara angin yang menyusup dari
celah jendela.
Lalu...
tok...
tok... tok...
Tiga ketukan pelan terdengar dari
balik pintu kamar.
Aku melihat jam.
02.13 dini
hari.
Saat kubuka pintu...
tak ada siapa-siapa.
Hanya sebuah bunga edelweiss yang sudah layu tergeletak di lantai.
Di kelopaknya masih menempel setitik
tanah merah.
Tanah yang warnanya...
persis seperti tanah di lokasi
tempat Alya ditemukan.
Aku mengangkat bunga itu perlahan.
Di balik tangkainya, terikat sehelai
pita putih kecil.
Di pita itu hanya ada satu kalimat.
"Cari
tempat pertama darahku jatuh."
Aku merasakan jantungku berdetak
semakin cepat.
Kalau tempat jasad ditemukan bukan
tempat pembunuhan...
berarti...
masih ada satu lokasi yang belum
pernah kami cari.
Dan mungkin...
di sanalah semua jawaban tersembunyi.
Darah
dapat dicuci. Bau dapat dihilangkan. Tetapi sebuah pembunuhan selalu
meninggalkan jejak."
Seminggu telah berlalu sejak
penemuan potongan tengkorak dan kapak di lereng gunung.
Laboratorium forensik bekerja tanpa
henti. Sampel tanah, serpihan rambut, hingga noda pada kapak masih menunggu
hasil pemeriksaan. Sementara itu, polisi terus menggali keterangan dari siapa
pun yang mengenal Alya.
Namun bagiku, ada satu pertanyaan
yang belum terjawab.
Mengapa
jasad Alya dipotong-potong?
Pelaku jelas ingin menyulitkan
proses identifikasi. Tapi orang yang cukup tenang untuk memutilasi korban
biasanya juga cukup cerdas untuk tidak meninggalkan kapak begitu saja.
Ada sesuatu yang terasa tidak pas.
Aku menatap papan penyelidikan yang
dipenuhi foto dan catatan.
Tiba-tiba pandanganku berhenti pada
bunga edelweiss yang masih kusimpan dalam kantong barang bukti.
"Cari
tempat pertama darahku jatuh."
Entah mengapa kalimat itu terus
terngiang di kepalaku.
Aku segera menemui Pak Arif.
"Aku ingin kembali ke
gunung."
Pak Arif menghela napas.
"Kita baru saja selesai olah
TKP."
"Aku tahu. Tapi menurutku jasad
ditemukan bukan di lokasi pembunuhan."
Pak Arif menatapku beberapa detik,
lalu mengangguk.
"Baik. Kita berangkat besok
pagi."
Kabut masih menggantung ketika kami
tiba di kaki gunung.
Kali ini rombongan kami lebih besar.
Polisi, tim identifikasi, seorang fotografer dokumentasi, dan Pak Darsa,
pemandu lokal yang hafal setiap lekuk jalur pendakian.
Perjalanan berlangsung tenang.
Hanya suara sepatu yang menginjak
tanah lembap dan sesekali desir angin yang menggoyangkan pucuk-pucuk pinus.
Aku terus memperhatikan keadaan
sekitar.
Seorang pembunuh yang membuang jasad
ke gunung pasti memiliki alasan memilih tempat ini.
Dan jika ia pernah kembali...
mungkin masih ada sesuatu yang ingin
ia sembunyikan.
Sekitar satu jam kemudian, Pak Darsa
tiba-tiba mengangkat tangan memberi isyarat agar kami berhenti.
"Pak..."
suaranya dipelankan.
"Ada orang."
Kami semua spontan menoleh.
Di kejauhan, di balik deretan pohon
pinus, tampak sesosok pria membelakangi kami.
Ia berjongkok di balik sebuah batu
besar.
Kedua tangannya bergerak cepat
seolah sedang menggosok sesuatu.
"Ada pendaki?" bisik salah
seorang polisi.
Pak Darsa menggeleng.
"Jalur ini sudah ditutup
sementara."
Pak Arif memberi isyarat.
"Dekati pelan-pelan."
Kami bergerak perlahan.
Semakin dekat.
Semakin jelas.
Pria itu tampak begitu fokus hingga
tidak menyadari kedatangan kami.
Sampai akhirnya ranting kering di
bawah sepatu seorang polisi patah.
Krek!
Pria itu menoleh.
Wajahnya langsung pucat.
"Rangga?"
Pak Arif mengernyit.
"Apa yang Anda lakukan di
sini?"
Rangga tampak gugup.
Ia buru-buru berdiri.
Celana jinsnya penuh noda tanah
merah hingga ke lutut.
Di samping kakinya tergeletak
sebotol air mineral kosong dan sehelai kain lap yang juga kotor oleh lumpur.
"Aku..."
Ia menelan ludah.
"...aku cuma ingin
sendiri."
Pak Arif melipat kedua tangannya.
"Sendiri?"
"Iya..."
"Saya sering ke sini sama
Alya."
"Saya belum bisa menerima
kepergiannya."
"Saya cuma ingin mengenang
dia."
Suasana mendadak hening.
Alasan itu terdengar masuk akal.
Beberapa polisi bahkan mulai
menunjukkan raut iba.
Namun instingku justru mengatakan
sebaliknya.
Aku memperhatikan sepatu Rangga.
Masih basah.
Padahal tanah di sekitar kami mulai
mengering sejak kemarin tidak turun hujan.
Tatapanku kemudian beralih ke batu
besar tempat ia tadi berjongkok.
Permukaan batu itu tampak lebih
gelap dibanding bagian lainnya.
Seolah baru saja disiram air.
Aku mendekat.
"Mas Rangga."
"Iya, Dok?"
"Tadi sedang apa di balik batu
ini?"
Rangga tersenyum tipis.
"Duduk saja."
"Kalau lagi stres saya memang
suka duduk di sini."
Aku mengangguk pelan.
"Lalu kain lap itu untuk
apa?"
Rangga sempat terdiam sepersekian
detik.
"Oh..."
"Tadi saya tidak sengaja
menumpahkan kopi."
"Sekalian saya bersihkan."
Jawaban itu terdengar ringan.
Terlalu ringan.
Padahal di sekitar batu tidak
terlihat bekas kopi sedikit pun.
Aku berjongkok.
Menyentuh tanah di dekat batu.
Masih lembap.
Kucium perlahan.
Ada aroma yang samar.
Bukan aroma tanah.
Bukan aroma lumut.
Melainkan bau bahan pembersih.
Seperti deterjen cair yang sudah
sangat encer.
Aku berdiri.
"Pak Arif."
"Boleh saya pinjam
luminol?"
Pak Arif langsung mengangguk kepada
tim identifikasi.
Seorang petugas mengambil botol
semprot dari kotak forensik.
Rangga mulai terlihat gelisah.
"Dok..."
"Memangnya ada apa?"
Aku tersenyum.
"Hanya prosedur."
Seluruh area di sekitar batu
disemprot perlahan.
Tak terjadi apa-apa.
Beberapa polisi mulai saling
berpandangan.
Rangga mengembuskan napas panjang.
Namun aku belum meminta mereka
berhenti.
"Matikan lampunya."
Meski masih siang, kami memasang
penutup cahaya portabel untuk mengurangi sinar matahari.
Lampu ultraviolet dinyalakan.
Beberapa detik...
tidak terjadi apa pun.
Lalu...
perlahan...
muncul satu titik biru.
Kemudian dua.
Lima.
Sepuluh.
Dalam hitungan detik, hampir seluruh
permukaan batu memancarkan cahaya kebiruan.
Seolah batu itu menyimpan langit
malam di dalamnya.
Tak seorang pun bersuara.
Seorang polisi muda tanpa sadar
mundur selangkah.
Pak Darsa berbisik lirih,
"Astagfirullah..."
Aku menatap batu itu tanpa berkedip.
"Darah."
"Jumlahnya sangat banyak."
"Dan..."
Aku menunjuk pola-pola memanjang di
atas batu.
"Lihat garis-garis ini."
"Itu bukan bekas hujan."
"Itu bekas seseorang mengusap
darah menggunakan kain."
Semua mata perlahan beralih kepada
Rangga.
Wajahnya kini benar-benar pucat.
Pak Arif melangkah mendekatinya.
"Mas Rangga."
"Ketika kami datang..."
"Anda sedang membersihkan
apa?"
Rangga menggeleng cepat.
"Tidak..."
"Saya tidak membersihkan
apa-apa."
"Tadi saya cuma duduk."
"Tidak percaya? Silakan
periksa."
Aku memperhatikan wajahnya.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Bibirnya bergetar.
Namun sekali lagi...
ia tidak menyentuh air matanya.
Jari telunjuknya justru naik
perlahan...
menggaruk sisi hidung kirinya.
Gestur yang sama.
Persis seperti saat ia melaporkan
Alya hilang.
Persis seperti saat ia menunjukkan
foto-foto romantis mereka.
Aku tidak berkata apa-apa.
Karena gestur bukanlah bukti.
Tetapi...
kebiasaan
seseorang sering kali lebih jujur daripada ucapannya.
Pak Arif memandangku, lalu memandang
kembali ke arah Rangga.
"Mas Rangga..."
"Saya rasa..."
"Untuk sementara, Anda jangan
meninggalkan kota."
Rangga menelan ludah.
Ia mengangguk pelan.
Namun saat ia berbalik meninggalkan
lokasi, aku sempat melihat sesuatu yang membuat dadaku terasa dingin.
Di sudut bibirnya...
muncul senyum yang sangat tipis.
Begitu singkat hingga nyaris tak
terlihat.
Seolah-olah...
ia baru saja sadar bahwa permainan
yang selama ini ia kendalikan mulai lepas dari tangannya.
"Sebagian pembunuhan tidak dimulai dengan kebencian. Sebagian dimulai dari rasa memiliki yang terlalu besar."
Rangga belum bisa ditahan.
Meski sikapnya semakin mencurigakan, hukum tetap membutuhkan bukti yang lebih kuat daripada firasat dan bahasa tubuh.
Namun sejak hari itu, penyidik mulai mengawasi setiap gerak-geriknya.
Aku kembali ke laboratorium forensik.
Kapak yang ditemukan di gunung sudah selesai diperiksa. Begitu pula potongan tengkorak, serpihan kuku, dan darah yang ditemukan di batu besar.
Hasilnya mulai berdatangan satu per satu.
Saat itulah Pak Arif datang membawa kabar baru.
"Dok..."
"Ada yang ingin bertemu."
Di ruang pemeriksaan duduk seorang perempuan berusia sekitar dua puluh lima tahun.
Matanya sembab.
Tangannya menggenggam sebuah kotak kayu kecil.
"Nama saya Nisa."
"Saya sahabat Alya."
Aku mempersilahkannya duduk.
"Apa yang bisa kami bantu?"
Perempuan itu mengusap matanya.
"Waktu Alya dinyatakan hilang..."
"...saya takut."
"Makanya saya tidak langsung datang."
"Lalu setelah polisi mengumumkan identitas korban..."
"...saya merasa harus menyerahkan ini."
Ia mendorong kotak kayu itu ke arah kami.
"Ini milik Alya."
Di dalam kotak terdapat beberapa benda.
Sebuah gelang perak.
Polaroid.
Surat-surat kecil.
Dan sebuah buku harian berwarna biru muda.
Sampulnya mulai kusam.
Di pojok kanan terdapat tulisan tangan kecil.
"Untuk hari-hari yang ingin kuingat."
Aku membuka halaman pertama.
Tulisan Alya sangat rapi.
"Hari ini Rangga mengajakku naik gunung lagi."
"Dia bilang ingin melihat matahari terbit bersamaku."
"Aku senang sekali."
"Kadang aku berpikir Tuhan benar-benar baik sudah mempertemukanku dengannya."
Aku tersenyum kecil.
Hubungan mereka memang terlihat sangat indah.
Namun beberapa halaman berikutnya...
nada tulisan itu mulai berubah.
"Hari ini Rangga marah karena aku makan siang dengan teman kantor."
"Katanya laki-laki itu terlalu sering mengirim emoji."
"Padahal kami hanya membahas pekerjaan."
Halaman berikutnya.
"Aku diminta mengirim lokasi setiap satu jam."
"Awalnya kupikir lucu."
"Katanya karena dia khawatir."
"Tapi sekarang rasanya seperti dia sedang mengawasiku."
Semakin ke belakang...
tulisan Alya semakin pendek.
Semakin berat.
"Hari ini aku menghapus tiga teman laki-laki dari media sosial."
"Supaya Rangga tidak marah."
"Aku berhenti ikut komunitas fotografi."
"Rangga bilang di sana terlalu banyak laki-laki."
"Aku capek menjelaskan semua hal."
"Kalau aku terlambat membalas chat lima menit saja..."
"...dia bisa menelepon belasan kali."
Ruangan menjadi sunyi.
Pak Arif perlahan menutup buku itu.
"Selama ini..."
"Semua orang mengira mereka pasangan paling romantis."
Nisa tersenyum pahit.
"Itu karena Alya pandai menyembunyikan semuanya."
Aku bertanya pelan,
"Apakah Rangga pernah melakukan kekerasan?"
Nisa terdiam cukup lama.
Kemudian menggeleng.
"Tidak pernah di depan kami."
"Tapi..."
Ia mengeluarkan ponselnya.
"Alya pernah mengirim foto ini."
Aku memperbesar gambar.
Bekas memar kecil di lengan kiri.
"Katanya..."
"...tidak sengaja terbentur pintu."
Nisa menatapku.
"Tapi saya tidak percaya."
Aku membuka kembali buku harian Alya.
Di halaman terakhir terdapat secarik surat yang tidak pernah dikirim.
Tulisan tangannya tampak bergetar.
Untuk Rangga.
Aku tahu kamu mencintaiku.
Aku juga mencintaimu.
Tapi aku lelah hidup dengan rasa takut.
Takut kalau aku terlambat membalas chat.
Takut kalau aku salah bicara.
Takut kalau aku tersenyum kepada orang lain.
Takut kalau aku tidak memenuhi semua keinginanmu.
Cinta seharusnya membuatku pulang dengan tenang.
Bukan membuatku takut pulang.
Aku ingin kita mengakhiri semuanya dengan baik.
Semoga suatu hari nanti kamu menemukan seseorang yang bisa mencintaimu tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Tak seorang pun berbicara.
Suara pendingin ruangan terdengar begitu jelas.
Pak Arif memejamkan mata beberapa saat.
"Kalau surat ini benar ditulis sebelum Alya meninggal..."
"...maka kita mulai punya motif."
Aku mengangguk pelan.
"Motif bukan karena uang."
"Bukan pula dendam."
"Melainkan penolakan."
Tiba-tiba telepon di meja Pak Arif berdering.
Ia mengangkatnya.
Wajahnya berubah serius.
"Apa?"
"..."
"Baik. Jangan sentuh apa pun."
Ia menutup telepon.
"Laboratorium DNA baru saja menelepon."
Aku menatapnya.
"Hasil kapak?"
Pak Arif mengangguk.
"Darah pada kapak memang milik Alya."
"Itu sudah kita duga."
"Lalu?"
Pak Arif menarik napas panjang.
"Di gagang kapak ditemukan sidik jari."
Jantungku berdetak lebih cepat.
"Milik siapa?"
Pak Arif membuka map hasil laboratorium.
"Milik Rangga."
Ruangan mendadak sunyi.
Namun aku belum merasa lega.
Sebagai dokter forensik, aku tahu satu hal.
Sidik jari di gagang kapak belum tentu berarti ia membunuh.
Ia bisa saja memegang kapak sebelum atau sesudah kejadian.
Yang kami butuhkan adalah membuktikan apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu.
Dan untuk itu...
kami harus membuat Rangga menceritakan versinya sendiri.
Karena pengalaman mengajariku satu hal:
Seorang pembunuh yang cerdas bisa menyembunyikan bukti. Tetapi sangat sulit menyembunyikan kontradiksi dalam ceritanya.
Ruang interogasi itu tidak besar.
Dindingnya berwarna abu-abu pucat.
Sebuah meja logam memisahkan dua kursi yang saling berhadapan. Lampu putih di
langit-langit menyala tanpa ampun, membuat setiap kerutan wajah tampak jelas.
Di balik kaca satu arah, beberapa
penyidik memperhatikan jalannya pemeriksaan.
Aku duduk di sudut ruangan.
Bukan sebagai penyidik.
Bukan pula sebagai saksi.
Aku hanya seorang dokter forensik.
Tugasku bukan mencari pengakuan.
Tugasku adalah mengamati.
Penyidik yang memimpin pemeriksaan
adalah Pak Arif.
Di hadapannya, Rangga duduk dengan
kedua tangan terlipat di atas meja.
Ia mengenakan kemeja biru muda yang
rapi. Rambutnya disisir seperti biasa. Kalau bukan karena lingkar hitam di
bawah matanya, tak ada yang menyangka pria itu sedang diperiksa dalam kasus
pembunuhan.
Pak Arif membuka map.
"Terima kasih sudah datang
lagi, Mas Rangga."
Rangga mengangguk pelan.
"Saya ingin kasus Alya cepat
selesai."
Nada suaranya tenang.
Terlalu tenang.
Pak Arif memulai dengan
pertanyaan-pertanyaan ringan.
"Kapan terakhir kali Anda
bertemu Alya?"
"Dua minggu sebelum dia
hilang."
"Apa yang kalian lakukan?"
"Makan malam."
"Di mana?"
"Restoran Jepang."
"Jam berapa selesai?"
"Jam sembilan."
Semua jawaban keluar tanpa jeda.
Lancar.
Seolah sudah dihafalkan
berkali-kali.
Aku tidak mencatat isi jawabannya.
Aku memperhatikan tubuhnya.
Saat membahas pekerjaan...
Rangga bersandar santai.
Saat membahas keluarga...
bahunya tetap rileks.
Namun begitu nama Alya disebut...
jari telunjuk tangan kanannya mulai
mengetuk meja.
Pelan.
Berirama.
Tok...
Tok...
Tok...
Tanda kegelisahan yang berusaha
disembunyikan.
Pak Arif mengubah arah pembicaraan.
"Mas Rangga."
"Apakah Anda pernah bertengkar
dengan Alya?"
Rangga tersenyum kecil.
"Namanya pasangan pasti
pernah."
"Tapi cuma masalah kecil."
"Misalnya?"
"Ya..."
"...hal-hal sepele."
"Alya orangnya keras
kepala."
Ia tertawa kecil.
"Akhirnya saya yang
mengalah."
Aku menatapnya.
Senyumnya tidak sampai ke mata.
Pak Arif mengeluarkan foto.
Foto batu yang memancarkan cahaya
biru setelah disemprot luminol.
"Kenapa Anda berada di lokasi
ini kemarin?"
Rangga memandang foto itu beberapa
detik.
"Saya bilang kan..."
"...saya ingin mengenang
Alya."
"Kenapa membawa kain lap?"
"Mobil saya habis dicuci."
"Saya lupa menaruhnya."
"Kenapa batu itu basah?"
"Saya tidak tahu."
"Kenapa lutut celana Anda penuh
tanah?"
"Saya duduk."
Jawabannya cepat.
Sangat cepat.
Terlalu cepat.
Pak Arif sengaja menghentikan
pertanyaan.
Ruangan mendadak sunyi.
Hanya suara pendingin ruangan yang
terdengar.
Aku memperhatikan Rangga.
Orang yang berkata jujur biasanya
nyaman dengan keheningan.
Sebaliknya...
orang yang berbohong sering kali
merasa harus terus mengisi kekosongan.
Benar saja.
Beberapa detik kemudian Rangga mulai
berbicara sendiri.
"Sebenarnya..."
"...akhir-akhir ini saya memang
sering ke gunung."
"Saya merasa Alya masih ada di
sana."
Tak seorang pun bertanya.
Tetapi ia terus menjelaskan.
Pak Arif tiba-tiba mengeluarkan
sebuah foto lain.
Foto prewedding mereka.
"Kalian terlihat bahagia."
Wajah Rangga langsung berubah lembut.
Ia tersenyum.
Mengambil foto itu dengan kedua
tangan.
"Dia cantik ya..."
Katanya lirih.
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Alya selalu takut
difoto."
"Tapi kalau sama saya..."
"...dia selalu tersenyum."
Ia mengeluarkan ponselnya.
"Boleh saya tunjukkan sesuatu?"
Pak Arif mengangguk.
Di layar muncul puluhan foto.
Alya tertawa di pantai.
Alya meniup lilin ulang tahun.
Alya tertidur di mobil.
Video saat mereka memasak bersama.
Video ketika Rangga melamar Alya di
tepi danau.
Suasana dalam video begitu hangat.
Alya menangis bahagia.
Rangga memeluknya erat.
Aku bisa memahami mengapa semua
orang menganggap mereka pasangan sempurna.
Rangga mengusap layar ponselnya
perlahan.
"Dia segalanya buat saya."
Suaranya mulai bergetar.
"Saya rela melakukan apa saja
demi dia."
Air mata mulai menggenang di pelupuk
matanya.
Namun sekali lagi...
ia tidak mengusapnya.
Sebaliknya...
jari telunjuk kanannya perlahan
naik.
Menggaruk sisi hidung kirinya.
Satu kali.
Lalu dua kali.
Aku mencatatnya dalam hati.
Pak Arif mencondongkan badan.
"Mas Rangga."
"Apakah Alya pernah ingin
mengakhiri hubungan kalian?"
Ruangan kembali hening.
Untuk pertama kalinya...
Rangga tidak langsung menjawab.
Ia menarik napas panjang.
Lalu tersenyum.
"Tidak."
Jawaban singkat.
Namun tubuhnya berkata lain.
Bahunya menegang.
Rahangnya mengeras.
Jari-jarinya saling menggenggam
begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Aku membuka map yang sedari tadi
kubawa.
"Lihat ini."
Aku meletakkan buku harian Alya di
atas meja.
Rangga membeku.
"Itu..."
"Diary Alya."
Wajahnya perlahan kehilangan warna.
Pak Arif membalik ke halaman
terakhir.
Tanpa berkata apa-apa.
Ia hanya mendorong buku itu ke
hadapan Rangga.
Surat yang tak pernah terkirim.
Surat perpisahan.
Rangga membaca perlahan.
Semakin ke bawah...
napasnya semakin berat.
Tangannya mulai gemetar.
Setitik air mata jatuh ke atas
kertas.
Kali ini benar-benar jatuh.
Namun...
ia tetap tidak mengusapnya.
Jari telunjuknya kembali menyentuh
hidung.
Lebih sering.
Lebih cepat.
Aku berbicara untuk pertama kalinya.
Dengan suara yang tenang.
"Mas Rangga."
"Sebagai dokter..."
"...saya tidak tertarik pada
air mata."
"Saya tertarik pada pola."
Rangga mengangkat wajah.
Tatapan kami bertemu.
"Sejak pertama kali kita
bertemu..."
"...setiap kali Anda membahas
malam Alya menghilang..."
"...Anda selalu melakukan
gestur yang sama."
Ia tampak bingung.
"Apa maksud Dokter?"
Aku menunjuk hidungnya.
"Anda terus menggaruk bagian
itu."
Rangga refleks menurunkan tangannya.
Aku melanjutkan,
"Itu bukan bukti."
"Banyak orang menggaruk hidung
karena gugup."
"Karena alergi."
"Karena kebiasaan."
"Tapi..."
"...kebiasaan selalu muncul
pada bagian cerita yang sama."
"Dan saya ingin tahu..."
"...bagian mana yang begitu
ingin Anda sembunyikan."
Ruangan kembali sunyi.
Untuk pertama kalinya...
Rangga tidak lagi menatap kami.
Ia hanya menunduk.
Lama sekali.
Seolah sedang bertarung dengan
pikirannya sendiri.
Tiba-tiba terdengar ketukan di
pintu.
Seorang petugas laboratorium masuk
sambil membawa amplop cokelat.
"Maaf mengganggu."
"Hasil pemeriksaan DNA terbaru
sudah keluar."
Pak Arif membuka amplop itu.
Matanya langsung membesar.
Ia menoleh ke arahku.
Lalu ke arah Rangga.
Dengan suara pelan, hampir berbisik,
ia berkata,
"Dok..."
"...darah yang ditemukan di
balik batu..."
"...bukan hanya milik
Alya."
Aku merasakan jantungku berdegup
lebih cepat.
"Lalu milik siapa?"
Pak Arif menelan ludah.
"Milik..."
"...Rangga."
Ruangan mendadak sunyi.
Sementara di hadapan kami, Rangga
perlahan menutup kedua matanya.
Seolah ia tahu...
bahwa tembok kebohongan yang
dibangunnya selama ini...
baru saja mulai runtuh.
"Mayat
telah berbicara. Kini giliran pelakunya."
Ruang interogasi kembali sunyi.
Tidak ada bentakan.
Tidak ada ancaman.
Hanya suara pendingin ruangan yang
berdengung pelan.
Di atas meja kini tergeletak
beberapa map hasil laboratorium.
Pak Arif membuka satu per satu.
"Mas Rangga."
"Kami ingin menjelaskan
sesuatu."
Rangga tidak mengangkat wajah.
Pak Arif mengeluarkan foto tangan
Rangga.
Foto itu diambil ketika polisi
memintanya menjadi pembanding DNA.
Di punggung tangan kanannya terdapat
bekas luka kecil yang hampir sembuh.
"Bekas luka ini berasal dari
mana?"
Rangga menjawab pelan.
"Tergores pagar."
"Di mana?"
"...Rumah."
"Kapan?"
"Lupa."
Aku memperhatikan wajahnya.
Kali ini ia tidak menggaruk hidung.
Ia hanya menatap meja kosong.
Seolah tenaga untuk berbohong mulai
habis.
Pak Arif meletakkan laporan
laboratorium.
"Di bawah kuku Alya ditemukan
jaringan kulit."
"DNA jaringan itu..."
"...identik dengan DNA
Anda."
Rangga memejamkan mata.
Pak Arif melanjutkan.
"Di batu tempat luminol bereaksi
ditemukan darah Alya."
"Darah Anda juga ditemukan di
sana."
"Pada kapak terdapat sidik jari
Anda."
"Kami juga menemukan jejak
sepatu yang sama dengan sepatu hiking Anda."
"Bekas gesekan pada tanah
menunjukkan seseorang menyeret tubuh."
"Ukuran langkahnya sesuai
dengan tinggi badan Anda."
Setiap kalimat terasa seperti
pukulan.
Tidak keras.
Namun tak dapat dibantah.
Aku membuka buku harian Alya.
Pelan.
Lembar terakhir.
Surat yang tak pernah sempat
diberikan.
Aku mendorongnya ke arah Rangga.
"Dia masih mencintaimu."
"Tapi dia tidak sanggup hidup
dalam ketakutan."
Rangga menatap surat itu lama.
Air matanya jatuh.
Kali ini ia tidak menyembunyikannya.
Beberapa menit berlalu tanpa sepatah
kata.
Kemudian ia berbisik.
"Kalau..."
"...aku mengaku..."
"...apa semuanya selesai?"
Pak Arif menjawab tenang.
"Kami hanya ingin mengetahui
apa yang sebenarnya terjadi."
Rangga menarik napas panjang.
Untuk pertama kalinya sejak
pemeriksaan dimulai...
bahunya runtuh.
Topeng tenangnya menghilang.
"Hari itu..."
"...kami memang pergi ke
gunung."
"Tempat favorit Alya."
"Aku ingin memperbaiki hubungan
kami."
Ia tersenyum pahit.
"Tapi ternyata..."
"...dia justru ingin
mengakhirinya."
Flashback memenuhi pikirannya.
Kabut turun perlahan.
Langit mulai gelap.
Angin gunung bertiup dingin.
Alya berdiri menghadap jurang.
"Aku capek, Rangga."
"Aku tidak bisa hidup seperti
ini."
"Aku selalu takut membuatmu
marah."
Rangga mendekat.
"Aku cuma sayang sama
kamu."
"Bukan sayang."
"Kamu ingin memiliki aku."
"Aku bahkan tidak boleh berteman."
"Aku tidak boleh punya ruang
sendiri."
"Aku kehilangan diriku."
Rangga mulai menangis.
"Aku memohon."
"Aku berlutut."
"Aku bilang aku akan
berubah."
"Tapi dia tetap bilang..."
"...semuanya sudah
terlambat."
Ia mengepalkan kedua tangan.
"Aku marah."
"Sangat marah."
"Aku merasa..."
"...kalau aku tidak bisa
memiliki dia..."
"...tidak akan ada orang lain
yang boleh memilikinya."
Ruangan kembali sunyi.
"Aku mengambil kapak."
"Itu kapak yang kubawa untuk
berjaga-jaga saat mendaki."
"Aku tidak benar-benar berniat
membunuh."
"Tapi kami terus
bertengkar."
"Dia berusaha pergi."
"Aku menarik tangannya."
"Dia mencakar."
"Dia menggigit tanganku."
"Aku kehilangan kendali."
Suara Rangga pecah.
"Satu ayunan."
"Dua."
"Aku..."
"...aku bahkan tidak ingat
berapa kali."
Air mata terus mengalir.
"Aku sadar..."
"...Alya sudah tidak
bernapas."
"Aku panik."
"Aku menyeret tubuhnya."
"Aku memotong tubuhnya."
Supaya...
"...lebih mudah dibawa."
Tidak ada seorang pun di ruangan
yang berbicara.
Bahkan polisi yang biasa menangani
pembunuhan tampak memalingkan wajah.
Rangga menangis semakin keras.
"Aku tidak sanggup melihat
wajahnya."
"Setelah semuanya
selesai..."
"...aku malah memeluk
tubuhnya."
"Aku minta maaf."
"Aku bilang..."
"...tolong bangun."
"Aku bilang..."
"...aku akan berubah."
"Tapi semuanya sudah
terlambat."
Ia menutupi wajahnya.
"Aku pulang."
"Membersihkan rumah."
"Membuang sebagian
barang."
"Setiap malam aku kembali ke
gunung."
"Aku merasa..."
"...Alya masih
memanggilku."
"Aku tidak pernah bisa tidur
lagi."
Aku memperhatikan Rangga.
Di hadapanku kini bukan monster.
Melainkan manusia.
Manusia yang dikalahkan oleh obsesi,
kecemburuan, dan ketidakmampuan mengendalikan dirinya sendiri.
Sebagai dokter forensik, aku telah
melihat ratusan mayat.
Namun hari itu aku kembali belajar
satu hal.
Pembunuhan
sering kali tidak lahir dari kebencian.
Ia lahir
ketika cinta berubah menjadi keinginan untuk memiliki.
Pak Arif berdiri.
"Mas Rangga."
"Atas pengakuan dan seluruh
barang bukti..."
"...Anda resmi ditetapkan
sebagai tersangka pembunuhan berencana dan mutilasi terhadap Alya."
Dua penyidik maju memborgol kedua
tangannya.
Rangga tidak melawan.
Saat melewati pintu, ia berhenti.
Ia menoleh kepadaku.
"Dok..."
Aku mengangkat kepala.
"Menurut Dokter..."
"...apa Alya bisa memaafkan saya?"
Aku terdiam cukup lama.
Lalu menjawab pelan.
"Yang perlu memaafkan Anda
terlebih dahulu..."
"...adalah diri Anda
sendiri."
Rangga menutup mata.
Lalu berjalan keluar.
Pintu besi tertutup perlahan.
Brak.
Suara itu mengakhiri penyelidikan
yang telah mengubah hidup begitu banyak orang.
Namun...
di luar sana...
aku masih teringat malam di gunung.
Perempuan yang duduk diam di
sampingku.
Yang memilih menuntunku menjauh dari
jurang.
Yang membawaku menemukan kebenaran.
Dan aku tahu...
kisah kami belum benar-benar
berakhir.
Enam bulan telah berlalu sejak kasus Alya selesai disidangkan.
Rangga divonis penjara seumur hidup.
Tidak ada banding.
Tidak ada pembelaan lagi.
Seluruh bukti forensik yang kami kumpulkan saling menguatkan hingga nyaris tak menyisakan celah sedikit pun.
Kasus mutilasi yang sempat menggemparkan kota itu akhirnya resmi ditutup.
Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun menjadi dokter forensik...
aku mendapat kenaikan jabatan.
Kini aku dipercaya menjadi Kepala Instalasi Forensik di rumah sakit tempatku bekerja.
Semua orang mengucapkan selamat.
Atasanku bahkan bercanda,
"Kayaknya gunung itu membawa keberuntungan ya, Dok."
Aku hanya tertawa kecil.
Kalau saja beliau tahu...
gunung itu bukan hanya memberiku keberuntungan.
Gunung itu memberiku pengalaman yang akan kuingat seumur hidup.
Sebagai hadiah kecil untuk diriku sendiri, aku memutuskan mengambil cuti tiga hari.
Kali ini...
aku kembali ke gunung yang sama.
Namun aku tidak sebodoh dulu.
Aku menyewa seorang pemandu lokal.
Namanya Pak Darto.
Lelaki berusia sekitar lima puluh tahun yang sudah puluhan tahun menjadi guide.
Beliau hafal setiap jalur, setiap mata air, bahkan setiap batu besar di gunung itu.
"Dokter dulu pernah tersesat di sini ya?"
Aku hanya tersenyum.
"Iya."
"Cukup sekali saja."
Pak Darto tertawa.
"Baguslah."
"Gunung itu indah..."
"tapi jangan pernah merasa lebih pintar daripada gunung."
Aku mengangguk.
Kalimat itu sederhana.
Namun sangat benar.
Pendakian kali ini terasa berbeda.
Aku tidak lagi terburu-buru mengejar matahari terbit.
Aku berjalan lebih pelan.
Menikmati suara jangkrik.
Gemerisik dedaunan.
Aroma tanah basah setelah hujan sore.
Dan udara dingin yang memenuhi paru-paruku.
Tidak ada lagi rasa takut.
Tidak ada lagi aroma kematian yang dulu terus mengikutiku.
Yang ada hanyalah bau pinus, lumut, dan tanah pegunungan.
Kami mendirikan tenda tidak jauh dari puncak.
Malam itu langit begitu cerah.
Jutaan bintang memenuhi angkasa.
Aku duduk di luar tenda sambil menyeruput kopi panas.
Pak Darto sudah tertidur lebih dulu.
Suasana begitu hening.
Hanya suara angin yang sesekali melewati pucuk-pucuk pohon.
Aku memandang ke arah lembah.
Tiba-tiba...
seekor kunang-kunang melintas.
Lalu dua.
Tiga.
Puluhan.
Mereka berterbangan perlahan di antara pepohonan.
Indah.
Sangat indah.
Namun...
di tengah cahaya-cahaya kecil itu...
aku melihat seseorang berdiri.
Perempuan bergaun putih.
Rambut panjangnya ditiup angin malam.
Kali ini wajahnya terlihat jelas.
Tidak pucat.
Tidak menyeramkan.
Ia justru tampak damai.
Alya.
Ia tersenyum.
Senyum yang tidak pernah sempat kulihat saat pertama kali bertemu.
Aku berdiri perlahan.
Tidak takut.
Tidak terkejut.
Entah mengapa...
aku merasa memang seharusnya kami bertemu sekali lagi.
"Alya..."
Suaraku hampir berbisik.
Ia mengangguk pelan.
Tidak ada rasa sedih lagi di matanya.
"Terima kasih..."
Suara itu terdengar lembut.
Nyaris seperti bisikan angin.
Aku tidak tahu apakah benar-benar mendengarnya...
atau hanya merasakannya.
"Aku yang seharusnya berterima kasih."
Kataku pelan.
"Kalau malam itu kamu tidak menarik tanganku..."
"...mungkin aku sudah berjalan ke arah jurang."
Alya tersenyum lebih lebar.
"Aku juga tidak akan pernah menemukanmu."
Lanjutku.
"Kasusmu mungkin tidak akan pernah terungkap."
"Ayah dan ibumu..."
"...tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Air mata hangat mulai memenuhi pelupuk mataku.
Untuk pertama kalinya sejak menjadi dokter forensik...
aku menangis.
Bukan karena melihat kematian.
Tetapi karena melihat sebuah jiwa akhirnya menemukan kedamaian.
Alya menoleh ke arah langit.
Lalu kembali menatapku.
"Teruslah..."
"...dengarkan mereka yang tidak lagi bisa berbicara."
Aku membeku.
Kalimat itu...
terdengar seperti pesan terakhir.
Aku mengangguk pelan.
"Itu janjiku."
"Aku akan terus menjadi suara bagi mereka."
"Agar setiap korban..."
"...mendapatkan keadilan."
Alya tersenyum.
Ia mengangkat tangan.
Melambaikannya perlahan.
Seolah sedang berpamitan.
Tubuhnya mulai memudar.
Perlahan.
Semakin transparan.
Cahaya kecil bermunculan di sekelilingnya.
Satu.
Dua.
Puluhan.
Ratusan.
Tubuh Alya berubah menjadi kumpulan kunang-kunang yang beterbangan ke langit malam.
Semakin tinggi.
Semakin jauh.
Hingga akhirnya...
menghilang di antara jutaan bintang.
Aku masih berdiri cukup lama.
Memandang langit kosong.
Entah berapa menit.
Entah berapa lama.
Sampai akhirnya suara Pak Darto terdengar dari belakang.
"Dok..."
"Ngobrol sama siapa?"
Aku menoleh.
"Tidak ada."
Pak Darto mengerutkan dahi.
"Tapi tadi saya lihat Dokter senyum-senyum sendiri."
Aku hanya tertawa kecil.
"Mungkin sedang mengucapkan selamat tinggal."
Pak Darto ikut tersenyum.
"Gunung memang sering mengajarkan kita cara melepaskan."
Keesokan paginya kami mencapai puncak.
Matahari perlahan muncul dari balik cakrawala.
Langit yang semula gelap berubah menjadi jingga keemasan.
Lautan awan membentang sejauh mata memandang.
Indah.
Sangat indah.
Aku mengangkat kamera.
Mengambil satu foto.
Lalu tanpa sengaja kulihat sebuah titik cahaya kecil melintas di depan lensa.
Seekor kunang-kunang.
Padahal...
kunang-kunang hampir tidak pernah terbang di ketinggian seperti ini.
Aku hanya tersenyum.
Lalu berbisik pelan,
"Selamat jalan, Alya."
Angin gunung berembus lembut.
Membawa pergi kata-kataku ke langit yang luas.
Dan untuk pertama kalinya...
aku benar-benar bisa menikmati keindahan gunung.
Tanpa rasa takut.
Tanpa aroma kematian.
Hanya ada kehidupan.
Epilog
Kebenaran selalu meninggalkan jejak.
Kadang berupa setetes darah yang nyaris tak terlihat.
Kadang berupa bekas luka di bawah kuku korban.
Kadang berupa kebohongan kecil yang berulang.
Dan kadang...
kebenaran datang melalui cara yang tidak dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.
Sebagai dokter forensik, aku percaya pada bukti.
Sebagai manusia, aku belajar bahwa tidak semua hal dapat diterangkan oleh sains.
Namun satu hal yang pasti...
mereka yang telah tiada tetap berhak didengar.
Sebab selama masih ada seseorang yang mau mencari kebenaran...
kematian tidak akan pernah menjadi akhir dari sebuah cerita.
Comments
Post a Comment