Mayat yang hilang

Penat rasanya bekerja terus, setiap hari aku harus membedah mayat, memperkirakan waktu dan cara kematiannya. Ya aku adalah dokter autopsi senior terbaik di kota ini. Apalagi saat ada bencana alam, aku selalu dilibatkan untuk mengidentifikasi mayat. Benar-benar menguras tenaga. Aku butuh liburan. 

Liburan 2 hariku aku berencana naik ke gunung dekat tempat tinggalku. Berhubung tidak ada teman yang bisa diajak naik gunung, jadi aku nekat berangkat sendirian untuk mendaki.

Saat perjalanan aku sudah membayangkan melihat lautan awan dari puncak gunung, matari terbit berwarna merah memecah langit yang berwarna Navi. padang rumput yang hijau benar-benar pemandangan yang menyejukkan dan menenangkan hati. Dan yang paling penting tidak ada mayat yang harus kuidentifikasi. Benar-benar tidak sabar unfuk selfi di puncak gunung di ketinggian 3000 mdpl

Perjalanan kulakukan malam hari agar tidak panas, dan lagi bisa agar bisa melihat sunrise. Aku berjalan mendaki gunung dengan senter di kepalaku, sepasang tongkat kugenggam. Memang sengaja aku membawa 2 tongkat agar jalanku lebih imbang. Aku berjalan santai menyusuri jalan setapak yang ada, sambil menikmati dinginnya udara malam mengenai wajahku. Sangat nikmat sekali

Tapi wait dimanakah aku berada sekarang ini. Kenapa tiba-tiba tidak ada pendaki lain? Aku tersesat. Bagaimana ini. Kulihat layar hp ku signalnya tidak ada. Aku tidak bisa gps. Kulihat sekeliling siapa tau ada pendaki lain yang busa menunjukkan arah. 

Kulihat dikejauhan ada cahaya, sepertinya itu desa terdekat aku berjalan menuju cahaya itu. Cahaya itu tampak cukup dekat, tapi aku merasa sudah berjalan jauh tapi belum sampai. Saat aku akan melangkah lebih jauh tiba-tiba ada yang menahan tanganku. Kutoleh arah belakang, ada seorang wanita wajahnya tidsk terlalu jelas, karena gelap malam yang memegang tanganku kencang sambil menggeleng pelan. Tangannya begitu dingin, beku. Tampaknya dia juga tersesat. Feelingku tiba-tiba tidak enak, bulu kudukku berdiri. Dan entah kenapa hidungku mencium aroma ruang kerjaku. Kuputuskan untuk duduk sejenak dan menunggu matahari terbit saja. Tidak masalah biarpun tak bisa melihat sunrise dari puncak gunung.

Wanita itu duduk di sampingku. Tanpa sepatah katapun. Akhirnya kuajak dia bicara

"Darimana mbak?" 

Kulihat wanita itu tiba-tiba saja menangis. Aku semakin bingung. Kenapa dia menangis. Kucoba untuk menenangkannya.

"Tidak apa-apa mbak, ada saya. Saya orang baik kok. Ga bakal ngapa-ngapain mbak kok. Kita tunggu hingga matahari terbit bersama ya."

Dia masih menangis. Sambil berkata

"Tolong aku. Aku berantem hebat dengan pacarku, pacarku membawaku kesini."

Ea ternyata ditinggal pacar. Makanya bisa sampai tersesat sendirian. Tega bener sich tuh cowok. Pacarnya ditinggal sendirian di tengah hutan gini. Tapi syukurlah dia bukan kuntilanak. Aku bisa tenang. Tapi tiba-tiba perutku kontraksi. Aku kebelet banget. Aku izin untuk buang hajat dan meyakinkan dia aku tidak akan ninggalin dia.

"Hmm... anu mbak perut saya sakit saya ingin ke balik pohon itu dulu ya. Tenang aja nanti kita turun gunung bersama kok."

Saat perjalanan kakiku tersandung sebuah benda hingga luka. Kulihat ada kapak di sana dan tercium aroma darah. Kupikir darah dari kakiku yang luka sedikit tapi prihnya minta ampun. Semoga besok kuat deh turun gunung. Setelah buang air. Aku balik ke tempatku tadi. Eh si mbak sudah tidak ada. Kupikir dia mencariku. Tapi kucari di sekitar sana tidak ada. Dahlah tunggu matahari terbit saja. Kurebahkan badanku di tanah. Berbantal tanah yang sedikit menonjol. Tapi meski si mbak sudah tak disana, tetap saja aroma ruang kerjaku masih tercium. Kupikir tadi mbak itu yang mengeluarkan aroma mayat karena tadi dia kupikir kuntilanak. Ternyata mungkin bau badanku sendiri karena keseringan berurusan dengan mayat.

Aku tertidur. Dan bermimpi pasangan sedang berkelahi, yang perempuan kepalanya dipukul dengan kapak oleh seorang laki-laki yang tak kukenal. Aku kaget dan terbangun. Matahari sudah terbit.

Aku lebih kaget lagi ketika kudapati diriku di tepi jurang. Kulihat kebawah ternyata sungai yang arusnya sangat deras. Dan tidak ada siapa-siapa. Di sampingku ada kapak yang semalam kutemukan ada sedikit noda darah yang aku yakin itu bukan darah dari kakiku yang terluka. Kubawa kapak itu. Dan kuamati tanah yang tadinya kubuat bantal itu sedikit kugeser-geser dengan kaki. Muncul sebuah potongan kepala orang.

Potongan kepala itu kumasukkan tas beserta kapak itu. Aku ingin cepat-cepat berlari turun gunung dan menuju kantor polisi terdekat, untuk melaporkan temuanku. 

Sesampainya di kantor polisi, aku bersebelahan dengan seorang pria yang juga menunggu antrian pelaporan, pria yang sama seperti mimpiku. Sebenarnya aku ketakutan tapi aku berusaha tenang, kupeluk erat dan kurapatkan ranselku khawatir laki-laki itu melihat kapak dan bagian tengkorak yang kubawa. Laki-laki itu bertanya tentang masalahku datang ke kantor polisi. Kujawab aku mau membuat laporan kehilangan dompet. Laki-laki itu melihat kakiku yang terluka dia bertanya mengapa aku terluka, mengapa tidak ke rumah sakit. Aku menjawab seadanya iya tersandung waktu ke sini. Aku penasaran apakah mimpiku semalam benar, memberanikan diri bertanya masalah laki-laki itu dia menjawab bahwa pacarnya sudah seminggu tidak pulang dan tidak ada kabar. Aku bertanya lagi apakah mereka habis berantem. Laki-laki itu menjawab, tidak hubungan mereka sangat akrab, bahkan mereka sudah merencanakan untuk menikah. Laki-laki itu menjawab dengan mata berkaca-kaca dan menunjukkan foto pacarnya yang ada di handphonenya. Aku kaget melihat wajah pacarnya persis seperti di mimpiku. Aku ingin berteriak bahwa laki-laki itu pembunuh pacarnya, tapi aku tau prosedur hukum. 

Setelah itu laki-laki itu membuat laporan ke polisi tentang pacarnya. Meski giliranku sudah tiba untuk membuat laporan aku tetap diam saja, membiarkan antrian selanjutnya saja yang maju. Hingga laki-laki itu pergi, aku maju ke loket dan menceritakan temuanku di gunung. Aku mengenakan sarung tanganku karena takut sidik jariku menempel di sana dan mengganggu penyelidikan dan mengeluarkan barang bukti kejahatan yang kutemukan di gunung. Aku juga memperkenalkan diri sebagai dokter forensik dari kota lain.

Saat itu polisi langsung minta di antar ke TKP tempat aku menemukan kapak dan tengkorak untung saat itu ingatanku masih tajam dan bisa menunjukkan TKP dengan jelas. Aku menelepon atasanku untuk ditugaskan melakukan penyidikan di tempat ini. Saat di sekitar TKP di tempat yang agak berjauhan di temukan 10 potongan tubuh manusia. Aku merangkainya, agar bisa terlihat utuh. Polisi juga menggeledah rumah laki-laki tersebut dan beberapa kerabat perempuan itu. Di rumah laki-laki itu ditemukan banyak cipratan darah meskipun sudah dibersihkan tapi masih ada sisa titik-titik darah yang kecil-kecil dan nyaris tidak terlihat. 

Setelah barang bukti terkumpul semua laki-laki itu ditangkap dan aku bisa mengulangi liburanku semoga kali ini tanpa hambatan. Kali ini aku meminta pengawalan guide warga lokal yang mengerti tentang seluk-beluk gunung ini. Agar tidak tersesat seperti kapanhari dan tidak ada kejadian aneh-aneh lagi. Saat aku ingin buang air, kutinggalkan sejenak guide yang kusewa untuk buang hajat. Aku kaget saat selesai buang hajat dan akan kembali, perempuan yang kapanhari aku lihat di gunung itu muncul lagi. Kali ini wajahnya tersenyum dan aku bisa melihat jelas wajahnya, dia adalah korban pembunuhan itu, dia berterima kasih padaku, sambil melambaikan tangan dan menghilang di kegelapan malam berubah jadi kunang-kunang. 

Yah ini adalah pengalamanku naik gunung yang paling tak terlupakan


Aroma yang tidak pernah hilang

"Dok, waktu kematiannya kira-kira jam berapa?"

Aku menarik sarung tangan lateks hingga pas di pergelangan tangan, lalu menatap tubuh yang terbujur di atas meja autopsi. Kulitnya mulai berubah kehijauan. Bagian bawah punggungnya menunjukkan lebam kematian yang jelas. Belatung-belatung kecil mulai bergerak di sela luka robek di leher.

Aku sudah terlalu sering melihat pemandangan seperti ini hingga nyaris kehilangan rasa.

"Kira-kira tiga puluh enam sampai empat puluh delapan jam," jawabku singkat.

Seorang polisi yang berdiri di sampingku mencatat sesuatu.

"Senjatanya?"

Aku memperhatikan luka robek yang memanjang di tengkuk korban.

"Benda tajam dengan ayunan kuat. Kemungkinan kapak atau golok besar."

Polisi itu mengangguk.

"Terima kasih, Dok."

Aku hanya mengangguk pelan.

Begitu pintu ruang autopsi tertutup, aku melepaskan masker. Bau khas ruang forensik masih menempel di hidungku.

Orang sering mengira bau yang paling menyengat di ruang autopsi adalah formalin.

Mereka salah.

Formalin bahkan nyaris tidak terasa dibanding aroma tubuh manusia yang mulai membusuk.

Bau darah yang mengering.

Lemak tubuh yang terurai.

Jaringan yang mulai rusak.

Campuran aroma amis, asam, manis yang busuk, dan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

Bau itu akan menempel di hidungmu.

Kadang sampai terbawa ke rumah.

Kadang muncul kembali ketika sedang makan.

Kadang bahkan muncul dalam mimpi.

Sudah lima belas tahun aku menjadi dokter forensik.

Aku bisa mengidentifikasi penyebab kematian hanya dari bentuk luka.

Aku bisa memperkirakan waktu kematian hanya dengan melihat perubahan warna kulit.

Aku bisa membedakan bau jenazah yang baru meninggal dengan jenazah yang sudah membusuk beberapa hari.

Tetapi ada satu hal yang tidak pernah berhasil kupelajari.

Cara melupakan mereka.

Setiap mayat yang datang selalu membawa cerita.

Sebagian berhasil kupecahkan.

Sebagian lagi tetap menjadi misteri.

Mereka semua tinggal di suatu sudut kepalaku.

Diam.

Namun tidak pernah benar-benar pergi.


"Akhirnya cuti juga, Dok?"

Suara perawat membuyarkan lamunanku.

Aku tersenyum tipis.

"Baru dua hari."

"Dua hari cukup?"

"Kalau menunggu cuti panjang, mungkin aku keburu jadi pasien psikiater."

Perawat itu tertawa kecil.

Aku ikut tertawa.

Mungkin benar.

Beberapa rekanku memilih pindah spesialisasi setelah beberapa tahun bekerja di forensik.

Sebagian tidak tahan.

Sebagian lagi terlalu larut.

Aku masih bertahan.

Entah karena mencintai pekerjaan ini...

atau karena sudah terlalu terbiasa dengan kematian.


Pukul delapan malam aku sudah berada di kaki gunung.

Gunung Arga Wening.

Tidak terlalu tinggi.

Sekitar tiga ribu meter di atas permukaan laut.

Namun terkenal dengan lautan awannya yang luar biasa indah.

Aku memang sengaja memilih mendaki malam.

Selain menghindari panas, aku ingin melihat matahari terbit dari puncaknya.

Aku memeriksa isi carrier untuk terakhir kalinya.

Air minum.

Tenda darurat.

Jaket.

Kotak P3K.

Senter kepala.

Tongkat trekking.

Semuanya lengkap.

"Sendirian, Mas?"

Petugas pos memandangku heran.

"Iya."

"Hati-hati. Jangan keluar jalur."

Aku mengangguk sambil tersenyum.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun aku sama sekali tidak menyangka betapa pentingnya peringatan tersebut.


Semakin jauh meninggalkan pos pendakian, suara manusia perlahan menghilang.

Digantikan desir angin yang menyelinap di antara pepohonan pinus.

Udara malam begitu dingin.

Embun mulai turun.

Sorot lampu di kepalaku hanya mampu menerangi beberapa meter di depan.

Sisanya...

gelap.

Aku menikmati setiap langkah.

Sudah lama sekali aku tidak merasakan keheningan seperti ini.

Tidak ada sirene ambulans.

Tidak ada telepon dari kepolisian.

Tidak ada laporan pembunuhan.

Tidak ada ruang autopsi.

Hanya aku.

Gunung.

Dan malam.

Sesekali aku berpapasan dengan beberapa pendaki yang turun lebih dulu.

Kami saling menyapa.

"Malam."

"Malam."

Lalu kembali berjalan.

Semakin tinggi, jalur semakin sepi.

Aku melihat jam tangan.

Pukul sebelas malam.

Seharusnya masih ada rombongan lain yang mengejar summit.

Namun selama hampir satu jam terakhir...

aku tidak bertemu siapa pun.

Aku berhenti.

Aneh.

Terlalu sepi.

Bahkan suara jangkrik pun menghilang.

Yang tersisa hanya bunyi nafasku sendiri.

Aku menoleh ke belakang.

Gelap.

Ke depan.

Gelap.

Aku mencoba menghibur diri.

Mungkin aku terlalu cepat berjalan.

Aku kembali melangkah.

Lima belas menit.

Dua puluh menit.

Tiga puluh menit.

Masih tidak ada siapa-siapa.

Perasaan tidak nyaman mulai muncul.

Aku mengeluarkan ponsel.

Tidak ada sinyal.

Seperti yang kuduga.

Aku membuka aplikasi GPS offline.

Layar memuat cukup lama.

Lalu berhenti.

Error.

"Hebat..."

gumamku pelan.

Saat itulah aku baru menyadari sesuatu.

Jalur yang kulewati mulai berbeda.

Rumput semakin tinggi.

Tanah berubah lembek.

Akar pohon menjulur memenuhi jalan.

Ini bukan jalur pendakian yang kulihat di peta.

Aku memutar lampu senter ke segala arah.

Tak ada penanda jalur.

Tak ada pita.

Tak ada jejak sepatu.

Hanya pepohonan yang berdiri rapat seperti dinding hitam.

Dadaku mulai berdebar.

Aku...

tersesat.


Aku menarik napas panjang.

Dalam kondisi seperti ini, panik adalah musuh terbesar.

Itu prinsip yang sama saat menangani korban bencana.

Berhenti.

Tenangkan diri.

Pikirkan langkah berikutnya.

Aku mematikan senter selama beberapa detik.

Gelap total.

Tidak.

Tidak benar-benar gelap.

Di kejauhan...

ada sebuah cahaya.

Kuning redup.

Seperti lampu rumah.

Atau mungkin warung.

Jaraknya tampak tidak terlalu jauh.

Aku menghela napas lega.

"Syukurlah..."

Tanpa berpikir panjang aku mulai berjalan menuju cahaya itu.

Semakin dekat.

Semakin jelas.

Namun anehnya...

setelah hampir dua puluh menit berjalan...

jaraknya tetap sama.

Aku berhenti.

Mungkin mataku tertipu.

Aku melangkah lagi.

Tetap sama.

Lampu itu seperti sengaja menjaga jarak.

Perasaan tidak enak kembali muncul.

Aku hendak berbalik.

Tiba-tiba...

Seseorang menggenggam pergelangan tangan kiriku.

Aku tersentak.

Refleks mengayunkan tongkat trekking.

Namun ayunan itu berhenti di udara.

Seorang perempuan berdiri tepat di belakangku.

Aku sama sekali tidak mendengar langkahnya.

Rambutnya panjang.

Wajahnya tertutup bayangan.

Ia tidak berkata apa-apa.

Hanya menatap lurus ke arahku.

Tangannya masih menggenggam pergelanganku.

Dingin.

Bukan dingin karena udara pegunungan.

Melainkan dingin seperti kulit manusia yang telah lama kehilangan kehidupan.

Lalu...

aroma itu kembali memenuhi hidungku.

Aroma yang selama bertahun-tahun ingin kulupakan.

Bukan formalin.

Bukan tanah basah.

Melainkan aroma pembusukan yang samar.

Tipis.

Namun begitu khas.

Aroma yang hanya dimiliki oleh tubuh manusia yang telah lama berhenti bernapas.

Aku menelan ludah.

Mustahil.

Aku mengenali bau itu lebih baik daripada mengenali parfumku sendiri.

Perempuan itu perlahan menggeleng.

Lalu mengangkat tangan kirinya...

dan menunjuk ke arah cahaya yang sejak tadi hendak kudatangi.

Bibirnya bergerak pelan.

Nyaris tak terdengar.

"...jangan."

 

Suara perempuan itu begitu pelan.

Hampir tertelan desir angin.

Namun cukup jelas untuk membuat kakiku membeku.

Aku menatapnya beberapa saat. Wajahnya masih tertutup rambut panjang yang digerakkan angin. Cahaya lampu kepala tidak mampu memperlihatkan wajahnya dengan jelas.

"Kenapa?" tanyaku pelan.

Ia tidak menjawab.

Hanya kembali menggeleng.

Tangannya masih menggenggam pergelangan tanganku.

Dingin.

Semakin lama semakin dingin.

Seolah darah di tangannya sudah lama berhenti mengalir.

Aku menoleh lagi ke arah cahaya itu.

Masih ada.

Diam.

Tidak berkedip.

Entah mengapa, kini cahaya itu tidak lagi terlihat seperti lampu rumah.

Warnanya kekuningan.

Samar.

Seperti pelita tua yang hampir kehabisan minyak.

Aku kembali menatap perempuan itu.

"Apa ada jurang di sana?"

Ia mengangguk perlahan.

Dadaku langsung sesak.

Kalau begitu...

selama hampir setengah jam aku berjalan menuju tepi jurang?

Aku mundur satu langkah.

Perempuan itu akhirnya melepaskan genggamannya.

Saat itulah aroma busuk yang sejak tadi samar tiba-tiba menjadi lebih kuat.

Aku spontan menutup hidung.

Bau itu...

persis.

Persis seperti jenazah yang mulai mengalami pembusukan beberapa hari.

Aku mengenalnya terlalu baik.

Aroma yang tidak pernah bisa hilang meski sudah mandi berkali-kali.

Aroma yang kadang membuatku kehilangan selera makan.

Mustahil.

Tidak mungkin ada jenazah di gunung ini.

Aku menggeleng keras.

Mungkin hanya bangkai rusa... atau babi hutan...

Aku mencoba menenangkan pikiranku sendiri.

Namun naluriku sebagai dokter berkata lain.

Bangkai hewan dan manusia mempunyai aroma yang berbeda.

Dan yang sedang kucium...

adalah aroma manusia.


Kami duduk berdampingan di atas akar pohon besar.

Tidak ada yang berbicara.

Aku mencoba membuka botol minum.

Tanganku sedikit gemetar.

Lucu.

Aku sudah membedah ratusan mayat.

Bahkan korban mutilasi.

Korban ledakan.

Korban kebakaran.

Namun malam ini...

aku takut.

Bukan karena perempuan di sampingku.

Melainkan karena gunung ini terasa...

salah.

Tidak ada suara jangkrik.

Tidak ada suara burung malam.

Tidak ada desir dedaunan.

Padahal angin masih bertiup.

Seolah seluruh hutan sedang menahan napas.

Aku mencoba memecah kesunyian.

"Namamu siapa?"

Perempuan itu tidak menjawab.

Ia hanya menunduk.

Rambut panjangnya menutupi wajah.

"Sedang mendaki juga?"

Masih diam.

Aku mulai merasa pertanyaanku sia-sia.

Beberapa menit berlalu.

Barulah terdengar suaranya.

"Aku..."

Suara itu lirih.

"...ingin pulang."

Aku mengangguk pelan.

"Besok pagi kita turun sama-sama."

Perempuan itu menggeleng.

"Aku... tidak bisa."

Aku menatapnya.

"Maksudnya?"

Ia mengangkat tangan kanannya.

Perlahan menunjuk ke arah hutan yang gelap.

"Laki-laki itu..."

Aku spontan mengikuti arah telunjuknya.

Gelap.

Tidak ada apa-apa.

"Laki-laki siapa?"

Ia tidak menjawab.

Tangannya perlahan turun.

Lalu kembali diam.


Aku mencoba berpikir logis.

Mungkin perempuan ini korban KDRT.

Atau bertengkar dengan pacarnya.

Lalu kabur ke gunung.

Kemungkinan itu jauh lebih masuk akal daripada semua pikiran aneh yang mulai memenuhi kepalaku.

Aku membuka tas.

Mengeluarkan energy bar.

"Mau?"

Ia tidak mengambilnya.

Hanya memandang makanan itu.

Tatapannya kosong.

Aneh.

Orang yang tersesat biasanya lapar.

Tetapi ia bahkan tidak tampak tertarik.

Aku menggigit sedikit energy bar itu.

Tiba-tiba...

Krek...

Suara ranting patah.

Dekat sekali.

Aku menoleh.

Tidak ada siapa-siapa.

Beberapa detik kemudian...

Krek...

Suara itu terdengar lagi.

Kali ini di belakangku.

Aku mengangkat senter.

Sorot cahaya menyapu pepohonan.

Kosong.

Hanya batang-batang pinus.

"Siapa?"

Tidak ada jawaban.

Aku menarik tongkat trekking lebih erat.

Suara itu kembali terdengar.

Krek...

Krek...

Seperti seseorang berjalan mengitari kami.

Namun setiap kali kusorot dengan lampu...

tak ada siapa pun.

Perempuan itu masih duduk diam.

Seolah sudah terbiasa.

Aku mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

Pelan-pelan aku mendekatinya.

"Mbak..."

Ia mengangkat kepala.

Untuk pertama kalinya aku bisa melihat sebagian wajahnya.

Kulitnya pucat.

Sangat pucat.

Bibirnya membiru.

Di pelipis kirinya tampak rambut yang menggumpal.

Seperti...

basah.

Aku mengarahkan senter sedikit lebih tinggi.

Perempuan itu langsung menunduk lagi.

Seolah tidak ingin wajahnya terlihat.

"Ada yang mengejar Mbak?"

Ia mengangguk.

"Siapa?"

"...dia."

"Pacarmu?"

Perempuan itu tidak menjawab.


Rasa kantuk mulai menyerang.

Jam tanganku menunjukkan pukul dua dini hari.

Masih lama sebelum matahari terbit.

Aku tidak mungkin terus berjalan dalam keadaan tersesat seperti ini.

Lebih aman menunggu pagi.

Aku menggelar emergency blanket.

"Kita istirahat sebentar."

Perempuan itu tidak menjawab.

Aku bersandar pada tanah yang sedikit lebih tinggi.

Aneh.

Tanah di belakang kepalaku terasa lunak.

Seperti gundukan.

Namun aku terlalu lelah untuk memedulikannya.

Kelopak mataku mulai berat.

Suara ranting patah masih terdengar sesekali.

Semakin lama semakin jauh.

Lalu menghilang.

Yang tersisa hanya aroma busuk yang samar.

Entah mengapa...

malam itu aku bermimpi.

Aku melihat seorang perempuan berlari di antara pepohonan.

Napasnya tersengal.

Sesekali ia menoleh ke belakang.

Seorang laki-laki mengejarnya sambil membawa sesuatu.

Kapak.

Kilatan besi itu memantulkan cahaya bulan.

Perempuan itu berteriak minta tolong.

Namun suaranya tertelan hutan.

Ia tersandung akar.

Jatuh.

Laki-laki itu mendekat perlahan.

"Kalau aku tidak bisa memilikimu..."

Suara laki-laki itu terdengar berat.

"...tidak akan ada orang lain yang bisa."

Kapak terangkat tinggi.

Perempuan itu menutup wajahnya.

Brak!

Suara benturan memenuhi hutan.

Lalu...

hening.

Aku terbangun sambil terengah-engah.

Jantungku berdetak begitu keras hingga terasa sakit.

Matahari mulai muncul di balik pegunungan.

Kabut tipis menyelimuti hutan.

Aku langsung menoleh ke samping.

Perempuan itu...

menghilang.

Tak ada jejak kaki.

Tak ada bekas duduk.

Seolah sejak awal tidak pernah ada siapa pun di sana.

Aku mengusap wajah.

"Mimpi..."

gumamku.

Namun saat hendak berdiri...

kakiku menyentuh sesuatu yang keras.

Sebuah kapak tua.

Mata kapaknya dipenuhi bercak cokelat tua yang telah mengering.

Di gagangnya masih melekat beberapa helai rambut panjang.

Dan saat aku menoleh ke arah gundukan tanah yang semalam kujadikan bantal...

aku membeku.

Dari sela tanah yang mulai longsor...

sesuatu yang pucat perlahan muncul.

Bukan batu.

Bukan akar pohon.

Melainkan dahi manusia.

Diikuti kelopak mata yang telah membusuk.

Lalu sebagian wajah.

Aku mengenali wajah itu.

Meski telah rusak.

Meski kulitnya mulai menghitam.

Itu adalah perempuan yang semalaman duduk di sampingku.

Matahari baru saja muncul dari balik punggung gunung ketika aku masih berdiri mematung di depan gundukan tanah itu.

Udara pagi yang seharusnya segar justru dipenuhi aroma yang sangat kukenal.

Bukan aroma tanah basah.

Bukan lumut.

Bukan dedaunan yang membusuk.

Melainkan aroma pembusukan manusia.

Aroma manis yang memuakkan.

Amis.

Asam.

Bercampur bau daging yang mulai rusak.

Aroma yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari pekerjaanku sebagai dokter forensik.

Aku menelan ludah.

Pelan-pelan kusibakkan tanah menggunakan ujung tongkat trekking.

Semakin banyak tanah yang tersingkap, semakin jelas bentuk wajah itu.

Mata kirinya sudah menghitam.

Kulit pipinya mulai mengelupas.

Namun aku masih mengenali rambut panjangnya.

Rambut yang semalam terus menutupi wajah perempuan itu.

Dadaku langsung sesak.

Berarti...

Semalaman aku berbicara dengan...

Aku buru-buru mundur beberapa langkah.

Napas terasa pendek.

Logikaku berusaha melawan apa yang baru saja kulihat.

"Mungkin aku kelelahan."

"Mungkin semalam aku mengalami halusinasi."

Namun sebagai dokter, aku tahu.

Halusinasi tidak mungkin meninggalkan kapak sungguhan.

Tidak mungkin meninggalkan jasad.

Tidak mungkin meninggalkan aroma.

Aku memejamkan mata beberapa detik.

Tenangkan diri.

Pikirkan prosedur.

Jangan sentuh apa pun.

Jangan merusak TKP.

Kupaksa diriku kembali menjadi dokter, bukan pendaki yang sedang ketakutan.

Aku mengeluarkan ponsel.

Sinyal masih kosong.

Tetapi kamera tetap bisa digunakan.

Aku memotret setiap sudut.

Kapak.

Jejak tanah.

Posisi gundukan.

Pepohonan di sekeliling.

Batu besar di sebelah utara.

Akar pinus yang melintang.

Aku bahkan mengambil foto dari beberapa sudut berbeda, kebiasaan yang kupelajari ketika membantu penyidik mengidentifikasi lokasi bencana.

Lalu aku membuka aplikasi kompas dan peta offline.

Koordinat tidak bisa terkirim tanpa sinyal, tetapi perangkatku masih bisa menyimpan titik lokasi.

Setelah memastikan semuanya terekam, aku menandai pohon pinus terbesar dengan seutas tali merah dari tas P3K.

Aku tidak berani menggali lebih jauh.

Bukan karena takut.

Melainkan karena aku tahu setiap sentimeter tanah bisa menjadi barang bukti.

Aku menarik napas panjang.

"Lapor polisi."

Itu satu-satunya pilihan.


Perjalanan turun gunung terasa jauh lebih panjang.

Setiap langkah seolah diikuti aroma yang sama.

Beberapa kali aku menoleh ke belakang.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun entah mengapa aku merasa...

ada seseorang berjalan tepat di belakangku.

Bukan untuk menakutiku.

Melainkan memastikan aku tidak berhenti.


Dua jam kemudian aku tiba di kantor polisi sektor terdekat.

Bangunannya sederhana.

Cat putihnya mulai kusam.

Beberapa motor terparkir di halaman.

Aku duduk di ruang tunggu sambil membersihkan luka di kakiku dengan tisu antiseptik.

Baru kusadari luka itu cukup dalam akibat tersandung kapak semalam.

Di sampingku duduk seorang laki-laki.

Usianya sekitar tiga puluh tahun.

Kaus hitam.

Celana jeans.

Wajahnya tampak lelah.

Matanya sembap.

Ia memegang ponsel erat-erat.

Beberapa kali menarik napas panjang.

Lalu menunduk.

Tak lama kemudian ia menoleh kepadaku.

"Mas juga mau bikin laporan?"

Aku mengangguk.

"Iya."

"Laporan apa?"

Aku tersenyum tipis.

"Barang hilang."

Aku sengaja berbohong.

Belum saatnya siapa pun mengetahui temuanku sebelum polisi menerima laporanku secara resmi.

"Oh..."

Ia mengangguk pelan.

Kemudian terdiam.

Beberapa menit berlalu.

Tiba-tiba ia berkata lirih,

"Pacar saya hilang."

Aku menoleh.

Ia tersenyum hambar.

"Saya sudah seminggu nyari ke mana-mana."

Suara laki-laki itu bergetar.

Matanya mulai berkaca-kaca.

"Aneh ya... biasanya dia selalu ngabarin."

Ia membuka galeri ponselnya.

"Ini dia."

Ia menyodorkan layar ponsel.

Seorang perempuan tersenyum cerah di pantai.

Rambut panjang.

Wajah manis.

Aku membeku.

Perempuan itu.

Perempuan yang semalam menemaniku.

Hanya saja...

di foto ini wajahnya penuh kehidupan.

Matanya berbinar.

Tidak pucat.

Tidak dingin.

Laki-laki itu mengusap layar ponsel perlahan.

"Dia suka sekali jalan-jalan."

Foto berikutnya.

Mereka makan bakso di pinggir jalan.

Foto berikutnya.

Naik motor saat hujan.

Foto berikutnya.

Merayakan ulang tahun.

Ada video.

Perempuan itu meniup lilin sambil tertawa.

Laki-laki itu ikut tertawa kecil.

Air matanya menetes.

"Aku sudah beli cincin."

Ia mengeluarkan kotak beludru kecil dari tasnya.

Masih tersegel.

"Sebenarnya bulan depan aku mau melamar dia."

Aku ikut terdiam.

Dalam hati mulai muncul keraguan.

"Apa mungkin mimpi semalam memang hanya mimpi?"

"Apa mungkin aku salah?"

Ia kembali menatap foto-foto itu.

"Kami bahkan sudah survei gedung nikah."

Ia memperlihatkan foto lain.

Mereka berdiri di depan sebuah gedung.

Berpelukan.

Tertawa.

Benar-benar tampak seperti pasangan yang bahagia.

Lalu ia berkata pelan.

"Kami juga berencana naik gunung setelah menikah."

Kalimat itu membuat tengkukku merinding.

Naik gunung.

Perempuan itu semalam juga berkata...

"Dia membawaku ke sini..."

Aku menatap laki-laki itu lebih lama.

Air matanya terus mengalir.

Namun ada sesuatu yang menggangguku.

Ia tidak pernah menyeka air mata.

Sebaliknya...

setiap selesai berbicara,

ia selalu menggaruk sisi kanan hidungnya.

Pelan.

Singkat.

Lalu tersenyum sedih lagi.

Aku mengerutkan kening.

Sebagai dokter, aku tahu satu gestur tidak bisa dijadikan bukti seseorang sedang berbohong.

Orang yang stres bisa saja menggaruk hidung karena pembuluh darah melebar atau sekadar kebiasaan.

Namun naluriku mulai bekerja.

Bukan karena gestur itu.

Melainkan karena semuanya terasa...

terlalu sempurna.

Ceritanya runtut.

Tangisnya pas.

Foto-fotonya meyakinkan.

Seolah ia sudah berulang kali menceritakan kisah yang sama.

"Terakhir ketemu kapan?" tanyaku pelan.

"Hari Minggu."

Garuk hidung.

"Ada masalah?"

"Tidak."

Garuk hidung lagi.

"Kami baik-baik saja."

Garuk hidung sekali lagi.

Aku mengangguk.

Dalam hati hanya berkata,

"Aku tidak tahu kau berbohong atau tidak... tapi ada sesuatu yang kau sembunyikan."

Saat itulah seorang polisi keluar dari ruang pelayanan.

"Silakan... laporan orang hilang."

Laki-laki itu berdiri.

Menghela napas.

Lalu masuk ke dalam ruangan.

Aku memperhatikannya hingga pintu tertutup.

Beberapa menit kemudian giliranku dipanggil.

Aku masuk.

Menutup pintu.

Mengeluarkan kartu identitasku.

Polisi yang duduk di balik meja langsung membaca nama dan profesiku.

Ia mengangkat kepala.

"Dokter forensik?"

Aku mengangguk.

"Saya sedang berlibur."

"Lalu?"

Aku menarik napas panjang.

"Tadi pagi saya menemukan lokasi yang diduga merupakan TKP pembunuhan."

Ruangan itu mendadak sunyi.

Aku meletakkan ponsel di atas meja.

Memperlihatkan foto-foto yang kuambil.

Ekspresi polisi berubah seketika.

"Astaga..."

Ia segera memanggil rekannya.

Dan tanpa kusadari...

kasus yang awalnya kupikir hanyalah kecelakaan pendakian biasa...

baru saja dimulai.

"Pak Arif!"

Seorang polisi muda berlari masuk ke ruang laporan.

"Tim Inafis sudah siap."

Perwira yang sejak tadi memeriksa foto-fotoku langsung berdiri.

"Kita berangkat sekarang."

Ia menoleh kepadaku.

"Dokter, kami mohon bantuan Anda."

Aku mengangguk.

Meski sedang cuti, naluri sebagai dokter forensik jauh lebih kuat daripada keinginanku menikmati liburan.


Perjalanan menuju gunung ditempuh hampir dua jam.

Dua mobil polisi.

Satu ambulans.

Satu kendaraan Inafis.

Sepanjang perjalanan aku lebih banyak diam.

Pikiranku terus mengulang pertemuan semalam.

Tatapan perempuan itu.

Tangannya yang dingin.

Kalimatnya yang pendek-pendek.

"Aku ingin pulang..."

Sekarang aku mulai mengerti.

Ia memang ingin pulang.

Pulang kepada keluarganya.


Sesampainya di kaki gunung, seorang lelaki tua sudah menunggu.

Kulitnya legam.

Tubuhnya kurus.

Di pinggangnya tergantung golok pendek.

"Ini Pak Wiryo."

kata polisi.

"Beliau guide senior di gunung ini."

Pak Wiryo menyalamiku.

Tangannya kasar.

Tatapannya tajam.

"Lha... njenengan yang semalam naik sendirian?"

"Iya."

Beliau menghela napas panjang.

"Untung masih diparingi slamet."

Aku hanya tersenyum tipis.

Kami mulai mendaki.


Semakin mendekati lokasi.

Pak Wiryo tiba-tiba berhenti.

Beliau memandangi hutan di sebelah kiri.

Lama.

"Ada apa Pak?"

Beliau tidak langsung menjawab.

"Semalam njenengan lihat cahaya?"

Aku terdiam.

"Iya."

Pak Wiryo mengangguk pelan.

"Itu bukan desa."

Aku menoleh.

"Maksudnya?"

"Sudah puluhan tahun tidak pernah ada desa di arah sana."

Aku merasakan tengkukku mulai dingin.

"Lalu cahaya itu?"

Pak Wiryo tersenyum hambar.

"Orang sini menyebutnya lampu penuntun."

"Penuntun?"

"Iya."

"Menuntun ke mana?"

Beliau menatapku.

"Kalau sedang beruntung... lampu itu menuntun pulang."

Beliau berhenti sebentar.

"Kalau sedang sial..."

Beliau menunjuk jurang.

"...menuntun ke sana."

Tak seorang pun berbicara lagi.


Tak lama kemudian kami tiba di lokasi.

Tali merah yang kupasang masih ada.

Kapak masih berada di tempatnya.

Tim Inafis langsung memasang garis polisi.

Kamera mulai berbunyi.

Klik.

Klik.

Klik.

Aku ikut mengenakan sarung tangan.

Masker.

Pelindung sepatu.

Kebiasaan yang sudah mendarah daging.

Seorang polisi mulai menggali perlahan menggunakan kuas kecil.

Sedikit demi sedikit tanah dibersihkan.

Yang pertama muncul...

helaian rambut.

Hitam.

Panjang.

Kemudian...

potongan kain merah.

Lalu...

sebuah tangan.

Beberapa polisi spontan memalingkan wajah.

Yang lain menahan mual.

Aku tetap memperhatikan.

Sebagai dokter forensik, inilah pekerjaanku.

Namun...

sesuatu membuatku membeku.

Di pergelangan tangan korban masih melingkar gelang anyaman berwarna hijau.

Aku mengenalnya.

Semalam.

Perempuan itu beberapa kali memainkan gelang itu saat kami duduk bersama.

Aku masih ingat.

Ia menggulung-gulungnya menggunakan jari telunjuk.

Dadaku kembali sesak.


Penggalian terus dilakukan.

Semakin dalam.

Semakin banyak bagian tubuh ditemukan.

Namun semuanya tidak berada pada posisi anatomis.

Kaki berada dua meter dari badan.

Lengan kiri terkubur di sisi lain.

Tulang rusuk terpisah.

Aku menatap kapak yang terbungkus plastik barang bukti.

Kemungkinan besar...

tubuh korban dimutilasi setelah meninggal.

Bukan untuk menyiksa.

Melainkan...

agar lebih mudah dikuburkan.

Aku mulai menyusun kronologi di kepalaku.


Saat tengkorak berhasil diangkat.

Aku berjongkok.

Memeriksanya perlahan.

Di tulang pelipis kiri tampak retakan berbentuk bintang.

Aku mengusap perlahan menggunakan kuas.

Satu.

Dua.

Tiga.

Sedikitnya terdapat empat luka benturan.

Semuanya berada di tempat yang sama.

Pelaku memukul berkali-kali.

Penuh amarah.

Namun...

luka itu bukan yang membuatku terdiam.

Di belakang tengkorak...

terdapat rambut yang masih menggumpal.

Dan di sela rambut itu...

terselip jepit rambut berbentuk kupu-kupu biru.

Aku menutup mata beberapa detik.

Jepit itu.

Aku melihatnya semalam.

Perempuan itu sempat membenarkan rambutnya.

Aku sangat yakin.

Mustahil aku salah ingat.


"Dok!"

Suara polisi membuyarkan lamunanku.

"Kami menemukan sesuatu."

Aku berjalan mendekat.

Dari dalam tanah...

muncul sebuah tas selempang kecil.

Resletingnya mulai berkarat.

Namun masih utuh.

Polisi membuka perlahan.

Di dalamnya hanya ada beberapa benda.

Dompet.

Lipstik.

Power bank.

Kunci motor.

Dan...

sebuah buku harian mungil berwarna biru.

Aku dan polisi saling berpandangan.

Pak Arif mengenakan sarung tangan baru.

Membuka halaman pertama.

Tulisan tangan yang rapi memenuhi kertas.

"Kalau suatu hari aku menghilang, semoga seseorang menemukan buku ini."

Semua orang terdiam.

Angin gunung tiba-tiba berembus lebih kencang.

Halaman-halaman buku itu terbuka sendiri.

Berhenti pada satu halaman.

Di sana tertulis satu kalimat.

"Aku mencintainya. Tapi akhir-akhir ini aku mulai takut padanya."

Aku merasakan bulu kudukku berdiri.

Pak Arif perlahan menutup buku itu.

"Dok..."

katanya pelan.

"Saya rasa ini bukan lagi sekadar laporan orang hilang."

Aku mengangguk.

Tatapanku mengarah ke lembah yang semalam dipenuhi kabut.

Entah mengapa...

aku merasa seseorang sedang berdiri di antara pepohonan.

Memperhatikan kami.

Aku mengangkat kepala.

Kabut bergerak perlahan.

Sesaat kulihat siluet perempuan berjaket merah.

Ia berdiri diam.

Tidak tersenyum.

Tidak menangis.

Hanya menatap ke arah buku harian itu.

Lalu...

perlahan menghilang bersama embusan angin.

Pak Arif menyerahkan buku harian itu kepadaku.

"Kau saja yang membaca."

Aku menerimanya perlahan.

Sampul kain birunya sudah mulai kusam.

Di sudut kanan terdapat bercak lumpur yang telah mengering.

Namun ketika kubuka halaman pertama...

aroma yang sangat lembut tiba-tiba tercium.

Bukan aroma pembusukan.

Melainkan aroma parfum perempuan.

Sangat tipis.

Mungkin aroma itu hanya tinggal di dalam ingatanku.

Aku mulai membaca.


14 Februari

Hari ini aku resmi menjadi pacarnya.

Lucu sekali.

Dia mengajakku makan mi ayam.

Katanya nanti kalau sudah kaya baru makan di restoran mahal.

Aku bilang...

"Aku maunya makan sama kamu, bukan sama restorannya."

Dia tertawa.

Aku juga.

Hari ini bahagia sekali.

Aku harap Tuhan mengizinkan kami menua bersama.


Tanpa kusadari aku ikut tersenyum.

Tulisan Alya dipenuhi gambar-gambar kecil.

Hati.

Bunga.

Matahari.

Sangat sederhana.


2 Maret

Hari ini motorku mogok.

Rangga datang hampir dua puluh kilometer hanya untuk mendorong motorku sampai bengkel.

Padahal hujan deras.

Aku memarahinya.

Dia malah bilang,

"Kalau motornya rusak masih bisa diperbaiki.

Tapi kalau kamu kenapa-kenapa, aku tidak bisa tidur."

Dasar gombal.

Tapi aku suka.


Aku membalik halaman berikutnya.


10 Mei

Hari ini kami pergi ke pantai.

Dia membuat istana pasir.

Bentuknya jelek sekali.

Katanya nanti rumah kami juga akan seperti itu.

Aku bilang,

"Kalau rumahnya jelek begini aku kabur."

Dia mengejarku sepanjang pantai.

Kami pulang dengan baju penuh pasir.

Capek.

Tapi bahagia.


Tanpa sadar aku menoleh ke foto-foto yang tadi ditemukan polisi.

Foto pantai itu memang ada.

Persis seperti yang ditulis Alya.

Berarti...

semua kenangan ini benar-benar terjadi.


18 Juli

Hari ini aku diterima kerja.

Aku menangis.

Bukan karena senang.

Tapi karena takut tidak punya waktu untuk Rangga.

Dia memelukku.

Katanya,

"Aku tidak butuh waktu kamu banyak.

Aku cuma butuh kamu tetap pulang."

Aku menangis lagi.

Kenapa ya...

aku selalu merasa aman kalau dipeluk dia.


Aku berhenti membaca.

Ada rasa sesak yang sulit dijelaskan.

Aku sudah bertahun-tahun membedah mayat.

Namun baru kali ini aku merasa...

aku mengenal seseorang yang tubuhnya sedang diperiksa di ruang jenazah.


Halaman berikutnya berubah.

Tulisan Alya masih sama.

Namun gambar-gambar bunga mulai menghilang.


3 September

Hari ini aku pulang terlambat karena lembur.

Rangga marah.

Dia bilang aku lebih memilih kantor daripada dia.

Padahal aku hanya ingin menabung untuk pernikahan kami.

Mungkin dia hanya lelah.

Besok pasti baik lagi.


14 September

Hari ini dia meminta password Instagram-ku.

Katanya supaya tidak ada rahasia.

Aku kasih.

Kalau memang itu membuatnya tenang.

Tidak masalah kan?


20 Oktober

Hari ini aku bertemu teman SMA.

Rangga marah lagi.

Dia tidak memukulku.

Hanya membanting gelas.

Aku kaget.

Belum pernah melihat dia seperti itu.

Besok dia pasti minta maaf.

Dia selalu minta maaf.


Aku mulai menghela napas panjang.

Hubungan seperti ini...

terlalu sering kulihat.


28 Oktober

Hari ini dia menangis.

Katanya dia takut kehilangan aku.

Aku ikut menangis.

Mungkin aku memang terlalu keras padanya.

Aku harus menjadi pacar yang lebih baik.


Aku menutup mata.

Kalimat itu...

begitu khas korban kekerasan psikologis.

Mereka selalu menyalahkan dirinya sendiri.


Halaman berikutnya membuat tanganku berhenti.

Tintanya sedikit luntur.

Seperti terkena air mata.


12 November

Hari ini aku bermimpi.

Aku bermimpi tersesat di gunung.

Ada seseorang yang menuntunku turun.

Aku tidak bisa melihat wajahnya.

Tapi aku merasa dia orang baik.

Lucu ya.

Semoga cuma mimpi.


Aku membeku.

Pak Arif menatapku.

"Ada apa?"

Aku menyerahkan buku itu.

Beliau membaca halaman yang sama.

Kami saling berpandangan.

Tak seorang pun berbicara.


Aku membuka halaman terakhir yang masih utuh.

Tulisan Alya jauh lebih kecil.

Seolah ditulis sambil gemetar.


19 November

Kalau suatu hari nanti ada seseorang membaca buku ini...

tolong jangan kasihan padaku.

Aku bahagia pernah mencintai.

Aku hanya berharap...

kalau memang aku pergi lebih dulu...

tolong sampaikan pada Mama...

aku tidak sempat pamit.

Dan...

tolong bilang pada Rangga...

aku benar-benar memaafkannya.


Aku menutup buku itu perlahan.

Tak ada satu orang pun yang berbicara.

Seorang polisi muda diam-diam mengusap matanya.

Pak Arif memalingkan wajah.

Sementara aku...

hanya mampu menatap kantong jenazah di sudut ruangan.

Untuk pertama kalinya dalam karierku sebagai dokter forensik...

aku tidak melihat sesosok mayat.

Aku melihat...

seorang anak perempuan yang gagal pulang.

Di luar,

angin gunung kembali bertiup.

Membawa aroma pinus yang dingin.

Namun di sela aroma itu...

aku kembali mencium wangi parfum lembut yang sama.

Aku menoleh ke jendela.

Tak ada siapa pun.

Hanya seekor kunang-kunang yang hinggap di ambang jendela.

Lalu terbang pelan menuju kegelapan.

uang autopsi selalu memiliki kesunyian yang berbeda.

Bukan sunyi karena tak ada suara.

Melainkan sunyi karena setiap orang yang masuk ke ruangan itu tahu bahwa tubuh yang terbaring di atas meja tidak lagi mampu membela dirinya sendiri.

Tugas kami adalah membuatnya "berbicara".

Pagi itu aku mengenakan celemek antiair, masker, pelindung wajah, dan sepasang sarung tangan baru.

Di hadapanku, tubuh Alya telah dibersihkan dari tanah dan dedaunan yang menempel.

Kini ia tampak jauh lebih muda.

Wajahnya tenang.

Seolah hanya tertidur.

Aku menarik napas panjang.

"Baik, Alya," gumamku pelan.

"Kalau memang kau ingin kebenaran terungkap... biarkan tubuhmu yang bercerita."

Asistenku mulai mencatat.

Jam autopsi dimulai pukul 08.17.


Luka pertama berada di pelipis kiri.

Retakannya memanjang hingga ke tulang parietal.

Aku menggeleng pelan.

"Bukan jatuh."

Asistenku menoleh.

"Bukan, Dok?"

"Kalau jatuh ke batu, biasanya pola retaknya acak."

Aku menunjuk garis patahan tulang.

"Ini pukulan."

Aku mengambil penggaris forensik.

Diameter luka sekitar lima sentimeter.

Permukaannya datar.

Benda tumpul.

Kemungkinan besar...

kapak.


Aku melanjutkan pemeriksaan.

Luka kedua.

Luka ketiga.

Luka keempat.

Semuanya berada hampir di tempat yang sama.

Aku terdiam.

Pelaku tidak sedang membela diri.

Ia memukul berulang kali.

Dengan marah.

Atau...

dengan kebencian yang sudah lama dipendam.


"Dok..."

Asistenku memanggil pelan.

"Ada memar di pergelangan tangan."

Aku mendekat.

Benar.

Ada bekas cekikan.

Bekas seseorang menggenggam terlalu kuat.

Lalu...

memar kecil di lengan.

Bekas ditarik.

Di lutut.

Bekas terseret.

Aku mulai menyusun urutannya di kepala.

Korban berusaha melawan.

Ditangkap.

Diseret.

Lalu dipukul.

Bukan sekali.

Empat kali.


Yang membuatku berhenti justru bukan luka di kepala.

Melainkan kuku korban.

Aku meminta pinset.

Di sela kuku tangan kanan terdapat serpihan sangat kecil.

Bukan tanah.

Bukan kayu.

Melainkan...

cat berwarna hitam mengilap.

Aku tersenyum tipis.

"Jangan dibuang."

Asistenku segera memasukkannya ke dalam kantong barang bukti.


Kemudian aku memperhatikan rambut korban.

Di sela-selanya terdapat serat kain.

Halus.

Berwarna abu-abu.

Bukan berasal dari jaket hiking.

Melainkan...

karpet.

"Menarik."

Aku mulai curiga.

Pembunuhan mungkin tidak terjadi di gunung.

Mayatlah yang dibawa ke sana.


Pak Arif masuk membawa secangkir kopi.

"Bagaimana?"

Aku melepas masker.

"TKP gunung kemungkinan hanya tempat pembuangan."

Beliau langsung meletakkan kopinya.

"Yakin?"

Aku mengangguk.

"Korban diseret di atas permukaan lunak."

"Karpet?"

"Mungkin."

"Lalu dipindahkan."

Pak Arif tersenyum.

"Berarti kita cari rumah yang karpetnya cocok."

Aku mengangguk.

"Dan kapak."


Beliau mengeluarkan map.

"Kami sudah mendapatkan hasil laboratorium awal."

Aku membuka hasilnya.

Sidik jari pada gagang kapak hampir hilang.

Seseorang sengaja membersihkannya.

Namun...

masih ada bercak darah yang masuk ke celah kayu gagang.

Itu tidak bisa dibersihkan sempurna.


Aku kembali membaca laporan.

Lalu berhenti pada satu kalimat.

Ditemukan satu helai rambut laki-laki pada jaket korban.

Aku tersenyum kecil.

"Kita mulai punya teman."


Sore harinya kami kembali bertemu Rangga.

Kali ini di ruang pemeriksaan.

Ia tampak jauh lebih tenang.

Mungkin terlalu tenang.

Pak Arif membuka percakapan.

"Mas Rangga."

"Kapan terakhir bertemu Alya?"

"Dua minggu lalu."

Aku diam.

Kalimat itu berbeda.

Kemarin ia mengatakan seminggu.

Di kantor polisi ia mengatakan beberapa hari.

Kini berubah lagi.

Rangga buru-buru menambahkan,

"Maksud saya... terakhir benar-benar ngobrol."

Lalu ia tersenyum canggung.

Tangannya perlahan naik.

Menggaruk sisi hidung.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Aku mulai menghitung dalam hati.


Pak Arif menunjukkan foto kapak.

"Kenal?"

Rangga menggeleng cepat.

"Tidak."

"Yakin?"

"Iya."

Garukan di hidungnya kembali muncul.


Aku membuka map lain.

"Kami menemukan serat karpet."

Rangga tampak tidak bereaksi.

Namun ketika aku berkata,

"Kami juga menemukan serpihan cat hitam."

Pupil matanya mengecil.

Hanya sepersekian detik.

Tapi aku melihatnya.


Sebagai dokter forensik, aku tidak boleh menyimpulkan seseorang bersalah dari bahasa tubuhnya.

Namun tubuh manusia sering kali berbicara lebih jujur daripada mulutnya.

Dan tubuh Rangga...

baru saja mulai berbicara.


Malam itu

Aku pulang ke hotel.

Kepala terasa berat.

Di meja kamar tergeletak buku harian Alya yang tadi sempat kupinjam lagi.

Aku membukanya secara acak.

Ada satu halaman yang tadi terlewat.

Tulisan Alya sangat pendek.

"Kalau suatu hari nanti aku menghilang, berarti aku terlalu lama memaafkan."

Aku menutup buku itu perlahan.

Di saat yang sama...

aroma busuk yang kukenal kembali memenuhi kamar.

Aroma daging membusuk.

Basah.

Anyir.

Pahit.

Persis seperti malam ketika aku tersesat di gunung.

Lampu kamar berkedip sekali.

Pelan.

Aku menoleh ke arah cermin.

Di sana...

untuk sesaat...

aku melihat seorang perempuan berdiri di belakangku.

Rambut panjang.

Pakaian putih yang kini penuh noda tanah.

Ia tidak berkata apa pun.

Hanya mengangkat tangan kanannya.

Lalu...

menunjuk ke arah tas ranselku.

Ketika aku menoleh...

tak ada siapa-siapa.

Aku membuka ransel.

Di dalamnya, terselip sesuatu yang bukan milikku.

Sebuah foto polaroid.

Foto itu memperlihatkan Alya dan Rangga sedang tersenyum di depan sebuah rumah bercat putih.

Di sudut foto, ada papan nama jalan yang buram.

Namun masih cukup jelas untuk kubaca satu kata.

"Pinus."

Aku merasakan bulu kudukku berdiri.

Besok pagi...

kami akan mencari rumah itu.

Hujan turun sejak subuh.

Rintiknya membasahi kaca mobil yang melaju perlahan menuju pinggiran kota.

Aku duduk di kursi depan bersama Pak Arif. Di tanganku masih tergenggam foto polaroid yang kutemukan di dalam ransel semalam.

Foto itu memperlihatkan Alya dan Rangga.

Mereka tersenyum.

Sangat bahagia.

Di belakang mereka berdiri sebuah rumah bercat putih dengan pagar kayu sederhana.

Di sudut kanan foto terlihat papan nama jalan yang hanya menyisakan satu kata.

PINUS

"Itu saja petunjuk kita?" tanya Pak Arif.

"Untuk sementara."

Beliau mengangguk pelan.

"Kita cari."


Dua jam berikutnya kami mendatangi hampir semua kawasan yang memiliki nama Jalan Pinus.

Pinus Indah.

Pinus Raya.

Pinus Asri.

Pinus Permai.

Tak satu pun cocok.

Aku mulai berpikir bahwa foto itu mungkin sudah sangat lama.

Rumahnya bisa saja sudah direnovasi.

Atau bahkan dijual.


Menjelang siang, mobil berhenti di sebuah kompleks perumahan tua.

Gerbangnya berkarat.

Banyak rumah kosong.

Seorang satpam tua menghampiri.

"Ada yang bisa saya bantu?"

Pak Arif menunjukkan foto.

"Pak, rumah ini masih ada?"

Satpam itu menyipitkan mata.

Lama sekali.

Kemudian wajahnya berubah.

"Saya kenal rumah itu."

Aku dan Pak Arif saling berpandangan.

"Itu rumah kontrakan."

"Masih dihuni?"

Satpam menggeleng.

"Sudah kosong hampir setahun."


Kami berjalan menuju rumah nomor 27.

Rumput liar memenuhi halaman.

Pintu depannya terkunci.

Cat putihnya mulai mengelupas.

Persis seperti di foto.

Aku memperhatikan jendelanya.

Tirai masih menggantung.

Seolah seseorang baru saja pergi beberapa hari yang lalu.


"Pak."

Aku menunjuk kusen pintu.

Ada bekas congkelan.

Pak Arif langsung memanggil tim identifikasi.

Tak lama kemudian polisi memasuki rumah dengan surat izin penggeledahan.

Begitu pintu terbuka...

aroma lembap langsung menyambut.

Bukan aroma bangkai.

Namun aroma rumah yang terlalu lama ditinggalkan.


Ruang tamunya sederhana.

Sofa kecil.

Televisi.

Rak buku.

Di atas meja masih ada dua cangkir.

Salah satunya berdebu.

Yang satu lagi...

lebih bersih.

"Berarti ada orang yang datang belum lama ini."

gumamku.


Kami mulai memeriksa seluruh ruangan.

Tidak ada bercak darah.

Tidak ada tanda perkelahian.

Namun di kamar tidur...

aku berhenti.

Karpet abu-abu.

Aku berjongkok.

Mengambil sedikit seratnya.

Persis.

Warna.

Tekstur.

Ketebalannya.

Sama seperti serat yang ditemukan di rambut Alya.

Pak Arif langsung tersenyum.

"Kita mulai dekat."


Saat tim identifikasi mengangkat karpet...

aku memperhatikan lantai di bawahnya.

Ada satu bagian yang warnanya sedikit lebih terang.

Seperti baru saja dibersihkan berkali-kali.

Aku mengusapnya dengan kapas steril.

Tidak terlihat apa pun.

Namun...

aku tahu.

Darah yang dibersihkan sering kali masih meninggalkan jejak mikroskopis.

"Ambil sampel."


Sementara itu, salah satu polisi memanggil dari dapur.

"Pak!"

Kami berlari.

Di tempat sampah ditemukan kantong plastik hitam.

Di dalamnya terdapat...

sarung tangan karet.

Masker.

Lap pel.

Botol cairan pemutih.

Semuanya sudah digunakan.

Pak Arif menghela napas.

"Orang ini berusaha membersihkan sesuatu."


Aku membuka lemari pakaian.

Kosong.

Hampir semuanya kosong.

Hanya tersisa satu kardus kecil.

Isinya...

puluhan foto.

Aku duduk di lantai.

Mulai membukanya satu per satu.

Foto ulang tahun.

Foto piknik.

Foto memasak bersama.

Foto Alya tertidur di sofa.

Foto mereka membeli cincin.

Sampai akhirnya...

aku menemukan satu foto yang berbeda.

Foto itu robek menjadi dua.

Separuh memperlihatkan Alya.

Separuh lagi...

hilang.

Di belakang foto terdapat tulisan tangan.

"Kalau kita terus begini, lebih baik selesai."

Aku membaliknya.

Tidak ada tanggal.

Tidak ada nama.


"Dok..."

Pak Arif memanggil.

Beliau sedang berdiri di depan rak buku.

"Apa?"

"Ini."

Beliau menyerahkan sebuah map.

Isinya...

laporan konsultasi psikolog.

Nama pasien:

Rangga Pratama

Aku membuka halaman berikutnya.

Diagnosisnya membuatku terdiam.

Gangguan kecemasan berat disertai kecenderungan posesif terhadap pasangan.


Pak Arif menghela napas panjang.

"Motif mulai kelihatan."

Aku tidak langsung menjawab.

Entah kenapa...

ada sesuatu yang masih mengganjal.

Kalau memang Rangga pelakunya...

mengapa ia begitu mudah datang ke kantor polisi?

Mengapa ia melaporkan Alya hilang?

Mengapa ia menunjukkan semua foto mereka?

Pelaku biasanya menghindari perhatian.

Rangga justru seperti...

ingin semua orang tahu bahwa ia kehilangan seseorang yang dicintainya.


Sore hari.

Saat kami hendak meninggalkan rumah...

aku melihat sesuatu di halaman belakang.

Sebuah ayunan kecil.

Berkarat.

Tertiup angin.

Bergerak pelan...

padahal udara sedang benar-benar tenang.

Krek...

Krek...

Krek...

Aku berjalan mendekat.

Di bawah ayunan terdapat boneka kelinci kecil yang sudah kusam.

Aku mengambilnya.

Saat kubalik...

ada jahitan yang sudah robek.

Di dalamnya terselip secarik kertas.

Tulisan itu hanya terdiri dari empat kata.

"Bukan Rangga. Percayalah."

Aku membeku.

Tulisan itu...

persis seperti tulisan tangan Alya di buku hariannya.

Aku menoleh cepat ke arah rumah.

Tak ada siapa-siapa.

Namun di balik jendela lantai dua...

aku merasa melihat sesosok perempuan berdiri diam.

Rambut panjang.

Gaun putih.

Ia hanya menatapku.

Lalu perlahan menggeleng.

Saat aku berkedip...

sosok itu lenyap.


Ending Bab 7

Aku menggenggam erat secarik kertas itu.

Jantungku berdetak semakin cepat.

Kalau Rangga bukan pembunuhnya...

lalu siapa?

Dan...

mengapa Alya bersusah payah menuntunku ke rumah ini?

Untuk pertama kalinya sejak kasus ini dimulai...

aku sadar bahwa kami mungkin sedang mengejar orang yang salah.

Hujan belum juga berhenti ketika kami meninggalkan rumah kontrakan itu.

Mobil melaju perlahan menembus jalanan yang mulai berkabut.

Tak seorang pun berbicara.

Pak Arif sibuk membaca hasil pemeriksaan laboratorium awal.

Sementara aku memandangi foto-foto Alya dan Rangga yang tadi ditemukan.

Semuanya tampak begitu normal.

Terlalu normal.

Dan justru itu yang menggangguku.


"Ada yang mengganjal, Dok?"

Pak Arif memecah kesunyian.

Aku mengangguk.

"Kalau Rangga membunuh Alya..."

"Iya?"

"Kenapa semua foto ini masih disimpan?"

Pak Arif mengangkat bahu.

"Pelaku sering menyimpan kenangan."

"Bisa."

"Tapi..."

Aku membuka satu foto.

Foto ulang tahun Alya.

Di belakangnya tertulis:

Jangan pernah berubah.

Tulisan tangan yang sama muncul hampir di semua foto.

Huruf-hurufnya rapi.

Sabar.

Tidak terburu-buru.

Aku mengingat kembali buku harian Alya.

Tulisan itu...

bukan tulisan Alya.


Sesampainya di laboratorium forensik, seluruh barang bukti kembali diperiksa.

Aku mengambil serat karpet yang ditemukan di rambut korban.

Kemudian membandingkannya dengan sampel karpet dari rumah kontrakan.

Di bawah mikroskop keduanya memang mirip.

Tetapi...

tidak identik.

Aku memperbesar hingga empat ratus kali.

Asistenku ikut mendekat.

"Ada apa, Dok?"

Aku menunjuk layar monitor.

"Lihat warna serat birunya."

Asistenku menyipitkan mata.

"Yang satu lebih tua."

Aku tersenyum.

"Benar."

Berarti...

karpet tempat korban sempat berada bukan karpet di rumah kontrakan.

Hanya berasal dari pabrik yang sama.


Aku segera menghubungi Pak Arif.

"Rumah itu bukan TKP."

"Yakin?"

"Sangat yakin."

"Kalau begitu?"

"Rumah itu hanya pernah didatangi Alya."

Pak Arif menghela napas panjang.

"Kita kembali dari nol."


Malam harinya aku kembali membuka isi tas Alya.

Telepon genggamnya sudah rusak karena lembap.

Dompet.

Lip balm.

Dompet kecil berisi uang receh.

Tiket parkir.

Aku hampir menutup tas itu ketika sesuatu menyangkut di jariku.

Benang.

Benang merah.

Sangat pendek.

Aku menariknya perlahan.

Ternyata benang itu berasal dari bagian dalam tas.

Seolah pernah tersangkut pada sesuatu.

Aku mengambil kaca pembesar.

Di ujung benang terdapat butiran kecil berwarna putih.

Aku mengerutkan kening.

"Bukan cat..."

Asistenku ikut melihat.

"Bukannya itu tepung?"

Aku menggeleng.

"Terlalu halus."

Aku mencium sedikit aromanya.

Tidak berbau apa pun.


Keesokan paginya hasil laboratorium keluar.

Butiran putih itu adalah...

debu gipsum.

Aku langsung berdiri.

"Gipsum?"

Pak Arif bertanya.

"Itu biasa dipakai di mana?"

Aku berpikir cepat.

Plafon.

Dinding.

Studio.

Gudang.

Bangunan yang sedang direnovasi.

Atau...

ruangan yang baru selesai dibangun.


Sore itu kami mulai menelusuri semua bangunan yang pernah dikunjungi Alya.

Daftarnya tidak sedikit.

Kantor.

Rumah kontrakan.

Rumah orang tua.

Kafe.

Tempat kerja.

Tempat les melukis.

Studio foto.

Semua kami datangi.

Namun tak ada satu pun yang mencurigakan.


Hari mulai gelap ketika kami tiba di tempat terakhir.

Sebuah studio foto kecil di pinggir kota.

Pemiliknya sudah tua.

Ia langsung mengenali foto Alya.

"Oh..."

"Gadis ini."

"Iya, saya ingat."

"Kapan terakhir dia ke sini?"

"Kira-kira seminggu sebelum hilang."

"Sendirian?"

Pemilik studio mengangguk.

"Iya."

"Lalu?"

"Dia mencetak foto."

Aku saling berpandangan dengan Pak Arif.

"Foto apa?"

Orang tua itu mengambil komputer lamanya.

Masih tersimpan.

Ketika file itu terbuka...

dadaku terasa sesak.

Foto-foto prewedding.

Alya mengenakan gaun putih sederhana.

Rangga memakai jas hitam.

Mereka saling tersenyum.

Sangat bahagia.

Namun...

di foto terakhir...

ada sesuatu yang membuatku berhenti.

Aku memperbesar gambar.

Di belakang mereka.

Di pantulan kaca jendela.

Ada seseorang.

Seorang laki-laki.

Wajahnya tidak terlihat jelas.

Tetapi ia sedang berdiri...

memperhatikan mereka.


"Pak..."

kataku pelan.

"Orang ini siapa?"

Pemilik studio mendekat.

"Oh..."

"Itu?"

"Itu bukan bagian dari sesi foto."

"Kami baru sadar setelah fotonya dicetak."

"Dia muncul di hampir semua foto."

"Pacarnya sempat minta dihapus."

Aku menelan ludah.

"Pacarnya?"

"Iya."

"Yang laki-laki."

"Katanya orang itu mengganggu hasil foto."


Aku menatap layar komputer.

Zoom.

Lebih dekat lagi.

 

Teknisi laboratorium digital mencoba mempertajam gambar.

Sayangnya hasilnya tetap buram.

Yang terlihat hanya tubuh tinggi dengan jaket hitam dan topi gelap.

Namun satu hal menarik perhatian kami.

Di bahu kirinya terdapat logo kecil berbentuk kepala elang.


"Kita cari jaket itu."

Pak Arif langsung memberi instruksi.



Dua hari kemudian.

Seorang polisi muda masuk ke ruang kerjaku sambil membawa map.

"Pak..."

"Kami menemukannya."

Aku segera berdiri.

"Di mana?"

"Logo itu milik komunitas fotografer satwa liar."

"Mereka sering memotret di gunung."

Jantungku berdegup lebih cepat.


Sore itu kami mendatangi rumah laki-laki tersebut.

Namanya...

Bima Prakoso.

Usianya tiga puluh lima tahun.

Pekerjaannya fotografer alam lepas.

Rumahnya sederhana.

Dipenuhi kamera, lensa tele, tripod, serta foto burung dan rusa yang memenuhi dinding.

Begitu melihat polisi, wajahnya tampak bingung.

"Ada apa ya, Pak?"

Pak Arif menunjukkan foto.

"Apakah ini Anda?"

Bima memperhatikannya beberapa detik.

"Iya."

"Itu saya."

"Kebetulan saya sedang memotret elang di sana."

Aku memperhatikan ekspresinya.

Tidak tampak gugup.

Tidak pula berusaha menghindar.


"Kenal dengan perempuan ini?"

Bima menggeleng.

"Tidak."

"Lalu kenapa Anda terus berada di belakang mereka?"

Bima tersenyum kecil.

"Karena mereka terus masuk ke frame kamera saya."

Ia tertawa pelan.

"Saya malah kesal waktu itu."

"Saya lagi nunggu elang turun."

"Eh malah ada pasangan foto prewedding."

Jawaban itu terdengar masuk akal.

Namun Pak Arif belum puas.

"Apakah Anda melihat sesuatu malam itu?"

Bima berpikir cukup lama.

"Lihat apa?"

"Perkelahian."

Ia mengangguk pelan.

"Saya memang melihat mereka bertengkar."

Aku dan Pak Arif saling berpandangan.

"Di mana?"

"Di area parkir bawah."

"Sore menjelang magrib."

"Apa yang mereka ributkan?"

"Saya tidak dengar jelas."

"Tapi laki-lakinya marah sekali."

"Perempuannya menangis."

"Apa Anda melihat wajah laki-laki itu?"

Bima menggeleng.

"Sudah mulai gelap."

"Saya hanya mendengar satu kalimat."

Ruangan menjadi sunyi.

"Apa kalimatnya?"

Bima menatap kami bergantian.

"Laki-laki itu berkata..."

'Kalau bukan sama aku... kamu juga tidak akan bersama siapa pun.'

Bulu kudukku langsung berdiri.

Kalimat itu...

terdengar seperti ancaman.


"Apa setelah itu?"

"Mereka pergi."

"Naik mobil."

"Ke arah bawah."

"Lalu?"

"Saya lanjut memotret."

"Saya tidak melihat apa-apa lagi."


Pak Arif menatapku.

Tatapan yang sama-sama mengatakan...

Rangga.


Namun...

entah mengapa.

Aku belum sepenuhnya yakin.


Sebelum kami pulang, mataku tertuju pada sebuah foto besar yang tergantung di ruang tamu Bima.

Foto lautan awan.

Diambil dari puncak gunung yang sama.

Di sudut kanan bawah terdapat tanggal pengambilan.

Tanggal itu membuatku berhenti.

"Pak Bima..."

"Iya?"

"Foto ini diambil kapan?"

Ia melihat sebentar.

"Oh..."

"Itu seminggu setelah perempuan itu hilang."

Aku mengangguk.

"Lalu kenapa?"

Aku memperhatikan lagi foto tersebut.

Di kejauhan...

hampir tak terlihat.

Ada sebuah mobil putih yang diparkir di jalur pendakian.

Aku memperbesar dengan ponsel.

Nomor polisinya tidak terbaca.

Tetapi bentuk mobilnya...

sangat mirip mobil Rangga.


Dalam perjalanan pulang, hujan kembali turun.

Pak Arif tampak puas.

"Kita sudah hampir dapat."

Aku hanya memandang ke luar jendela.

Entah kenapa...

aku terus memikirkan Bima.

Jawabannya terlalu rapi.

Terlalu tenang.

Namun...

orang yang benar-benar bersalah sering kali justru terlalu banyak bicara.

Sedangkan Bima...

hanya menjawab seperlunya.


Malam itu aku kembali ke kamar hotel.

Saat membuka tas, aroma amis yang samar kembali memenuhi ruangan.

Bukan bau busuk yang menyengat.

Melainkan bau khas ruang autopsi saat kantong jenazah baru dibuka—campuran darah, jaringan yang mulai membusuk, dan kelembapan yang sulit dijelaskan.

Aku memejamkan mata.

"Alya..."

gumamku pelan.

"Kalau benar Rangga pelakunya..."

"Berikan aku kekuatan untuk membuktikannya."

Tak ada jawaban.

Hanya suara angin yang menyusup dari celah jendela.

Lalu...

tok... tok... tok...

Tiga ketukan pelan terdengar dari balik pintu kamar.

Aku melihat jam.

02.13 dini hari.

Saat kubuka pintu...

tak ada siapa-siapa.

Hanya sebuah bunga edelweiss yang sudah layu tergeletak di lantai.

Di kelopaknya masih menempel setitik tanah merah.

Tanah yang warnanya...

persis seperti tanah di lokasi tempat Alya ditemukan.

Aku mengangkat bunga itu perlahan.

Di balik tangkainya, terikat sehelai pita putih kecil.

Di pita itu hanya ada satu kalimat.

"Cari tempat pertama darahku jatuh."

Aku merasakan jantungku berdetak semakin cepat.

Kalau tempat jasad ditemukan bukan tempat pembunuhan...

berarti...

masih ada satu lokasi yang belum pernah kami cari.

Dan mungkin...

di sanalah semua jawaban tersembunyi.

 

Darah dapat dicuci. Bau dapat dihilangkan. Tetapi sebuah pembunuhan selalu meninggalkan jejak."


Seminggu telah berlalu sejak penemuan potongan tengkorak dan kapak di lereng gunung.

Laboratorium forensik bekerja tanpa henti. Sampel tanah, serpihan rambut, hingga noda pada kapak masih menunggu hasil pemeriksaan. Sementara itu, polisi terus menggali keterangan dari siapa pun yang mengenal Alya.

Namun bagiku, ada satu pertanyaan yang belum terjawab.

Mengapa jasad Alya dipotong-potong?

Pelaku jelas ingin menyulitkan proses identifikasi. Tapi orang yang cukup tenang untuk memutilasi korban biasanya juga cukup cerdas untuk tidak meninggalkan kapak begitu saja.

Ada sesuatu yang terasa tidak pas.

Aku menatap papan penyelidikan yang dipenuhi foto dan catatan.

Tiba-tiba pandanganku berhenti pada bunga edelweiss yang masih kusimpan dalam kantong barang bukti.

"Cari tempat pertama darahku jatuh."

Entah mengapa kalimat itu terus terngiang di kepalaku.

Aku segera menemui Pak Arif.

"Aku ingin kembali ke gunung."

Pak Arif menghela napas.

"Kita baru saja selesai olah TKP."

"Aku tahu. Tapi menurutku jasad ditemukan bukan di lokasi pembunuhan."

Pak Arif menatapku beberapa detik, lalu mengangguk.

"Baik. Kita berangkat besok pagi."


Kabut masih menggantung ketika kami tiba di kaki gunung.

Kali ini rombongan kami lebih besar. Polisi, tim identifikasi, seorang fotografer dokumentasi, dan Pak Darsa, pemandu lokal yang hafal setiap lekuk jalur pendakian.

Perjalanan berlangsung tenang.

Hanya suara sepatu yang menginjak tanah lembap dan sesekali desir angin yang menggoyangkan pucuk-pucuk pinus.

Aku terus memperhatikan keadaan sekitar.

Seorang pembunuh yang membuang jasad ke gunung pasti memiliki alasan memilih tempat ini.

Dan jika ia pernah kembali...

mungkin masih ada sesuatu yang ingin ia sembunyikan.


Sekitar satu jam kemudian, Pak Darsa tiba-tiba mengangkat tangan memberi isyarat agar kami berhenti.

"Pak..."

suaranya dipelankan.

"Ada orang."

Kami semua spontan menoleh.

Di kejauhan, di balik deretan pohon pinus, tampak sesosok pria membelakangi kami.

Ia berjongkok di balik sebuah batu besar.

Kedua tangannya bergerak cepat seolah sedang menggosok sesuatu.

"Ada pendaki?" bisik salah seorang polisi.

Pak Darsa menggeleng.

"Jalur ini sudah ditutup sementara."

Pak Arif memberi isyarat.

"Dekati pelan-pelan."

Kami bergerak perlahan.

Semakin dekat.

Semakin jelas.

Pria itu tampak begitu fokus hingga tidak menyadari kedatangan kami.

Sampai akhirnya ranting kering di bawah sepatu seorang polisi patah.

Krek!

Pria itu menoleh.

Wajahnya langsung pucat.

"Rangga?"

Pak Arif mengernyit.

"Apa yang Anda lakukan di sini?"

Rangga tampak gugup.

Ia buru-buru berdiri.

Celana jinsnya penuh noda tanah merah hingga ke lutut.

Di samping kakinya tergeletak sebotol air mineral kosong dan sehelai kain lap yang juga kotor oleh lumpur.

"Aku..."

Ia menelan ludah.

"...aku cuma ingin sendiri."

Pak Arif melipat kedua tangannya.

"Sendiri?"

"Iya..."

"Saya sering ke sini sama Alya."

"Saya belum bisa menerima kepergiannya."

"Saya cuma ingin mengenang dia."

Suasana mendadak hening.

Alasan itu terdengar masuk akal.

Beberapa polisi bahkan mulai menunjukkan raut iba.

Namun instingku justru mengatakan sebaliknya.

Aku memperhatikan sepatu Rangga.

Masih basah.

Padahal tanah di sekitar kami mulai mengering sejak kemarin tidak turun hujan.

Tatapanku kemudian beralih ke batu besar tempat ia tadi berjongkok.

Permukaan batu itu tampak lebih gelap dibanding bagian lainnya.

Seolah baru saja disiram air.

Aku mendekat.

"Mas Rangga."

"Iya, Dok?"

"Tadi sedang apa di balik batu ini?"

Rangga tersenyum tipis.

"Duduk saja."

"Kalau lagi stres saya memang suka duduk di sini."

Aku mengangguk pelan.

"Lalu kain lap itu untuk apa?"

Rangga sempat terdiam sepersekian detik.

"Oh..."

"Tadi saya tidak sengaja menumpahkan kopi."

"Sekalian saya bersihkan."

Jawaban itu terdengar ringan.

Terlalu ringan.

Padahal di sekitar batu tidak terlihat bekas kopi sedikit pun.


Aku berjongkok.

Menyentuh tanah di dekat batu.

Masih lembap.

Kucium perlahan.

Ada aroma yang samar.

Bukan aroma tanah.

Bukan aroma lumut.

Melainkan bau bahan pembersih.

Seperti deterjen cair yang sudah sangat encer.

Aku berdiri.

"Pak Arif."

"Boleh saya pinjam luminol?"

Pak Arif langsung mengangguk kepada tim identifikasi.

Seorang petugas mengambil botol semprot dari kotak forensik.

Rangga mulai terlihat gelisah.

"Dok..."

"Memangnya ada apa?"

Aku tersenyum.

"Hanya prosedur."


Seluruh area di sekitar batu disemprot perlahan.

Tak terjadi apa-apa.

Beberapa polisi mulai saling berpandangan.

Rangga mengembuskan napas panjang.

Namun aku belum meminta mereka berhenti.

"Matikan lampunya."

Meski masih siang, kami memasang penutup cahaya portabel untuk mengurangi sinar matahari.

Lampu ultraviolet dinyalakan.

Beberapa detik...

tidak terjadi apa pun.

Lalu...

perlahan...

muncul satu titik biru.

Kemudian dua.

Lima.

Sepuluh.

Dalam hitungan detik, hampir seluruh permukaan batu memancarkan cahaya kebiruan.

Seolah batu itu menyimpan langit malam di dalamnya.

Tak seorang pun bersuara.

Seorang polisi muda tanpa sadar mundur selangkah.

Pak Darsa berbisik lirih,

"Astagfirullah..."

Aku menatap batu itu tanpa berkedip.

"Darah."

"Jumlahnya sangat banyak."

"Dan..."

Aku menunjuk pola-pola memanjang di atas batu.

"Lihat garis-garis ini."

"Itu bukan bekas hujan."

"Itu bekas seseorang mengusap darah menggunakan kain."

Semua mata perlahan beralih kepada Rangga.

Wajahnya kini benar-benar pucat.

Pak Arif melangkah mendekatinya.

"Mas Rangga."

"Ketika kami datang..."

"Anda sedang membersihkan apa?"

Rangga menggeleng cepat.

"Tidak..."

"Saya tidak membersihkan apa-apa."

"Tadi saya cuma duduk."

"Tidak percaya? Silakan periksa."

Aku memperhatikan wajahnya.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Bibirnya bergetar.

Namun sekali lagi...

ia tidak menyentuh air matanya.

Jari telunjuknya justru naik perlahan...

menggaruk sisi hidung kirinya.

Gestur yang sama.

Persis seperti saat ia melaporkan Alya hilang.

Persis seperti saat ia menunjukkan foto-foto romantis mereka.

Aku tidak berkata apa-apa.

Karena gestur bukanlah bukti.

Tetapi...

kebiasaan seseorang sering kali lebih jujur daripada ucapannya.

Pak Arif memandangku, lalu memandang kembali ke arah Rangga.

"Mas Rangga..."

"Saya rasa..."

"Untuk sementara, Anda jangan meninggalkan kota."

Rangga menelan ludah.

Ia mengangguk pelan.

Namun saat ia berbalik meninggalkan lokasi, aku sempat melihat sesuatu yang membuat dadaku terasa dingin.

Di sudut bibirnya...

muncul senyum yang sangat tipis.

Begitu singkat hingga nyaris tak terlihat.

Seolah-olah...

ia baru saja sadar bahwa permainan yang selama ini ia kendalikan mulai lepas dari tangannya.

"Sebagian pembunuhan tidak dimulai dengan kebencian. Sebagian dimulai dari rasa memiliki yang terlalu besar."


Rangga belum bisa ditahan.

Meski sikapnya semakin mencurigakan, hukum tetap membutuhkan bukti yang lebih kuat daripada firasat dan bahasa tubuh.

Namun sejak hari itu, penyidik mulai mengawasi setiap gerak-geriknya.

Aku kembali ke laboratorium forensik.

Kapak yang ditemukan di gunung sudah selesai diperiksa. Begitu pula potongan tengkorak, serpihan kuku, dan darah yang ditemukan di batu besar.

Hasilnya mulai berdatangan satu per satu.

Saat itulah Pak Arif datang membawa kabar baru.

"Dok..."

"Ada yang ingin bertemu."


Di ruang pemeriksaan duduk seorang perempuan berusia sekitar dua puluh lima tahun.

Matanya sembab.

Tangannya menggenggam sebuah kotak kayu kecil.

"Nama saya Nisa."

"Saya sahabat Alya."

Aku mempersilahkannya duduk.

"Apa yang bisa kami bantu?"

Perempuan itu mengusap matanya.

"Waktu Alya dinyatakan hilang..."

"...saya takut."

"Makanya saya tidak langsung datang."

"Lalu setelah polisi mengumumkan identitas korban..."

"...saya merasa harus menyerahkan ini."

Ia mendorong kotak kayu itu ke arah kami.

"Ini milik Alya."


Di dalam kotak terdapat beberapa benda.

Sebuah gelang perak.

Polaroid.

Surat-surat kecil.

Dan sebuah buku harian berwarna biru muda.

Sampulnya mulai kusam.

Di pojok kanan terdapat tulisan tangan kecil.

"Untuk hari-hari yang ingin kuingat."

Aku membuka halaman pertama.

Tulisan Alya sangat rapi.


"Hari ini Rangga mengajakku naik gunung lagi."

"Dia bilang ingin melihat matahari terbit bersamaku."

"Aku senang sekali."

"Kadang aku berpikir Tuhan benar-benar baik sudah mempertemukanku dengannya."

Aku tersenyum kecil.

Hubungan mereka memang terlihat sangat indah.

Namun beberapa halaman berikutnya...

nada tulisan itu mulai berubah.


"Hari ini Rangga marah karena aku makan siang dengan teman kantor."

"Katanya laki-laki itu terlalu sering mengirim emoji."

"Padahal kami hanya membahas pekerjaan."


Halaman berikutnya.

"Aku diminta mengirim lokasi setiap satu jam."

"Awalnya kupikir lucu."

"Katanya karena dia khawatir."

"Tapi sekarang rasanya seperti dia sedang mengawasiku."


Semakin ke belakang...

tulisan Alya semakin pendek.

Semakin berat.


"Hari ini aku menghapus tiga teman laki-laki dari media sosial."

"Supaya Rangga tidak marah."


"Aku berhenti ikut komunitas fotografi."

"Rangga bilang di sana terlalu banyak laki-laki."


"Aku capek menjelaskan semua hal."

"Kalau aku terlambat membalas chat lima menit saja..."

"...dia bisa menelepon belasan kali."

Ruangan menjadi sunyi.

Pak Arif perlahan menutup buku itu.

"Selama ini..."

"Semua orang mengira mereka pasangan paling romantis."

Nisa tersenyum pahit.

"Itu karena Alya pandai menyembunyikan semuanya."


Aku bertanya pelan,

"Apakah Rangga pernah melakukan kekerasan?"

Nisa terdiam cukup lama.

Kemudian menggeleng.

"Tidak pernah di depan kami."

"Tapi..."

Ia mengeluarkan ponselnya.

"Alya pernah mengirim foto ini."

Aku memperbesar gambar.

Bekas memar kecil di lengan kiri.

"Katanya..."

"...tidak sengaja terbentur pintu."

Nisa menatapku.

"Tapi saya tidak percaya."


Aku membuka kembali buku harian Alya.

Di halaman terakhir terdapat secarik surat yang tidak pernah dikirim.

Tulisan tangannya tampak bergetar.


Untuk Rangga.

Aku tahu kamu mencintaiku.

Aku juga mencintaimu.

Tapi aku lelah hidup dengan rasa takut.

Takut kalau aku terlambat membalas chat.

Takut kalau aku salah bicara.

Takut kalau aku tersenyum kepada orang lain.

Takut kalau aku tidak memenuhi semua keinginanmu.

Cinta seharusnya membuatku pulang dengan tenang.

Bukan membuatku takut pulang.

Aku ingin kita mengakhiri semuanya dengan baik.

Semoga suatu hari nanti kamu menemukan seseorang yang bisa mencintaimu tanpa kehilangan dirinya sendiri.


Tak seorang pun berbicara.

Suara pendingin ruangan terdengar begitu jelas.

Pak Arif memejamkan mata beberapa saat.

"Kalau surat ini benar ditulis sebelum Alya meninggal..."

"...maka kita mulai punya motif."

Aku mengangguk pelan.

"Motif bukan karena uang."

"Bukan pula dendam."

"Melainkan penolakan."


Tiba-tiba telepon di meja Pak Arif berdering.

Ia mengangkatnya.

Wajahnya berubah serius.

"Apa?"

"..."

"Baik. Jangan sentuh apa pun."

Ia menutup telepon.

"Laboratorium DNA baru saja menelepon."

Aku menatapnya.

"Hasil kapak?"

Pak Arif mengangguk.

"Darah pada kapak memang milik Alya."

"Itu sudah kita duga."

"Lalu?"

Pak Arif menarik napas panjang.

"Di gagang kapak ditemukan sidik jari."

Jantungku berdetak lebih cepat.

"Milik siapa?"

Pak Arif membuka map hasil laboratorium.

"Milik Rangga."

Ruangan mendadak sunyi.

Namun aku belum merasa lega.

Sebagai dokter forensik, aku tahu satu hal.

Sidik jari di gagang kapak belum tentu berarti ia membunuh.

Ia bisa saja memegang kapak sebelum atau sesudah kejadian.

Yang kami butuhkan adalah membuktikan apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu.

Dan untuk itu...

kami harus membuat Rangga menceritakan versinya sendiri.

Karena pengalaman mengajariku satu hal:

Seorang pembunuh yang cerdas bisa menyembunyikan bukti. Tetapi sangat sulit menyembunyikan kontradiksi dalam ceritanya.


Ruang interogasi itu tidak besar.

Dindingnya berwarna abu-abu pucat. Sebuah meja logam memisahkan dua kursi yang saling berhadapan. Lampu putih di langit-langit menyala tanpa ampun, membuat setiap kerutan wajah tampak jelas.

Di balik kaca satu arah, beberapa penyidik memperhatikan jalannya pemeriksaan.

Aku duduk di sudut ruangan.

Bukan sebagai penyidik.

Bukan pula sebagai saksi.

Aku hanya seorang dokter forensik.

Tugasku bukan mencari pengakuan.

Tugasku adalah mengamati.

Penyidik yang memimpin pemeriksaan adalah Pak Arif.

Di hadapannya, Rangga duduk dengan kedua tangan terlipat di atas meja.

Ia mengenakan kemeja biru muda yang rapi. Rambutnya disisir seperti biasa. Kalau bukan karena lingkar hitam di bawah matanya, tak ada yang menyangka pria itu sedang diperiksa dalam kasus pembunuhan.

Pak Arif membuka map.

"Terima kasih sudah datang lagi, Mas Rangga."

Rangga mengangguk pelan.

"Saya ingin kasus Alya cepat selesai."

Nada suaranya tenang.

Terlalu tenang.


Pak Arif memulai dengan pertanyaan-pertanyaan ringan.

"Kapan terakhir kali Anda bertemu Alya?"

"Dua minggu sebelum dia hilang."

"Apa yang kalian lakukan?"

"Makan malam."

"Di mana?"

"Restoran Jepang."

"Jam berapa selesai?"

"Jam sembilan."

Semua jawaban keluar tanpa jeda.

Lancar.

Seolah sudah dihafalkan berkali-kali.


Aku tidak mencatat isi jawabannya.

Aku memperhatikan tubuhnya.

Saat membahas pekerjaan...

Rangga bersandar santai.

Saat membahas keluarga...

bahunya tetap rileks.

Namun begitu nama Alya disebut...

jari telunjuk tangan kanannya mulai mengetuk meja.

Pelan.

Berirama.

Tok...

Tok...

Tok...

Tanda kegelisahan yang berusaha disembunyikan.


Pak Arif mengubah arah pembicaraan.

"Mas Rangga."

"Apakah Anda pernah bertengkar dengan Alya?"

Rangga tersenyum kecil.

"Namanya pasangan pasti pernah."

"Tapi cuma masalah kecil."

"Misalnya?"

"Ya..."

"...hal-hal sepele."

"Alya orangnya keras kepala."

Ia tertawa kecil.

"Akhirnya saya yang mengalah."

Aku menatapnya.

Senyumnya tidak sampai ke mata.


Pak Arif mengeluarkan foto.

Foto batu yang memancarkan cahaya biru setelah disemprot luminol.

"Kenapa Anda berada di lokasi ini kemarin?"

Rangga memandang foto itu beberapa detik.

"Saya bilang kan..."

"...saya ingin mengenang Alya."

"Kenapa membawa kain lap?"

"Mobil saya habis dicuci."

"Saya lupa menaruhnya."

"Kenapa batu itu basah?"

"Saya tidak tahu."

"Kenapa lutut celana Anda penuh tanah?"

"Saya duduk."

Jawabannya cepat.

Sangat cepat.

Terlalu cepat.


Pak Arif sengaja menghentikan pertanyaan.

Ruangan mendadak sunyi.

Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar.

Aku memperhatikan Rangga.

Orang yang berkata jujur biasanya nyaman dengan keheningan.

Sebaliknya...

orang yang berbohong sering kali merasa harus terus mengisi kekosongan.

Benar saja.

Beberapa detik kemudian Rangga mulai berbicara sendiri.

"Sebenarnya..."

"...akhir-akhir ini saya memang sering ke gunung."

"Saya merasa Alya masih ada di sana."

Tak seorang pun bertanya.

Tetapi ia terus menjelaskan.


Pak Arif tiba-tiba mengeluarkan sebuah foto lain.

Foto prewedding mereka.

"Kalian terlihat bahagia."

Wajah Rangga langsung berubah lembut.

Ia tersenyum.

Mengambil foto itu dengan kedua tangan.

"Dia cantik ya..."

Katanya lirih.

Matanya mulai berkaca-kaca.

"Alya selalu takut difoto."

"Tapi kalau sama saya..."

"...dia selalu tersenyum."

Ia mengeluarkan ponselnya.

"Boleh saya tunjukkan sesuatu?"

Pak Arif mengangguk.

Di layar muncul puluhan foto.

Alya tertawa di pantai.

Alya meniup lilin ulang tahun.

Alya tertidur di mobil.

Video saat mereka memasak bersama.

Video ketika Rangga melamar Alya di tepi danau.

Suasana dalam video begitu hangat.

Alya menangis bahagia.

Rangga memeluknya erat.

Aku bisa memahami mengapa semua orang menganggap mereka pasangan sempurna.


Rangga mengusap layar ponselnya perlahan.

"Dia segalanya buat saya."

Suaranya mulai bergetar.

"Saya rela melakukan apa saja demi dia."

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Namun sekali lagi...

ia tidak mengusapnya.

Sebaliknya...

jari telunjuk kanannya perlahan naik.

Menggaruk sisi hidung kirinya.

Satu kali.

Lalu dua kali.

Aku mencatatnya dalam hati.


Pak Arif mencondongkan badan.

"Mas Rangga."

"Apakah Alya pernah ingin mengakhiri hubungan kalian?"

Ruangan kembali hening.

Untuk pertama kalinya...

Rangga tidak langsung menjawab.

Ia menarik napas panjang.

Lalu tersenyum.

"Tidak."

Jawaban singkat.

Namun tubuhnya berkata lain.

Bahunya menegang.

Rahangnya mengeras.

Jari-jarinya saling menggenggam begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.


Aku membuka map yang sedari tadi kubawa.

"Lihat ini."

Aku meletakkan buku harian Alya di atas meja.

Rangga membeku.

"Itu..."

"Diary Alya."

Wajahnya perlahan kehilangan warna.

Pak Arif membalik ke halaman terakhir.

Tanpa berkata apa-apa.

Ia hanya mendorong buku itu ke hadapan Rangga.

Surat yang tak pernah terkirim.

Surat perpisahan.

Rangga membaca perlahan.

Semakin ke bawah...

napasnya semakin berat.

Tangannya mulai gemetar.

Setitik air mata jatuh ke atas kertas.

Kali ini benar-benar jatuh.

Namun...

ia tetap tidak mengusapnya.

Jari telunjuknya kembali menyentuh hidung.

Lebih sering.

Lebih cepat.


Aku berbicara untuk pertama kalinya.

Dengan suara yang tenang.

"Mas Rangga."

"Sebagai dokter..."

"...saya tidak tertarik pada air mata."

"Saya tertarik pada pola."

Rangga mengangkat wajah.

Tatapan kami bertemu.

"Sejak pertama kali kita bertemu..."

"...setiap kali Anda membahas malam Alya menghilang..."

"...Anda selalu melakukan gestur yang sama."

Ia tampak bingung.

"Apa maksud Dokter?"

Aku menunjuk hidungnya.

"Anda terus menggaruk bagian itu."

Rangga refleks menurunkan tangannya.

Aku melanjutkan,

"Itu bukan bukti."

"Banyak orang menggaruk hidung karena gugup."

"Karena alergi."

"Karena kebiasaan."

"Tapi..."

"...kebiasaan selalu muncul pada bagian cerita yang sama."

"Dan saya ingin tahu..."

"...bagian mana yang begitu ingin Anda sembunyikan."

Ruangan kembali sunyi.

Untuk pertama kalinya...

Rangga tidak lagi menatap kami.

Ia hanya menunduk.

Lama sekali.

Seolah sedang bertarung dengan pikirannya sendiri.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.

Seorang petugas laboratorium masuk sambil membawa amplop cokelat.

"Maaf mengganggu."

"Hasil pemeriksaan DNA terbaru sudah keluar."

Pak Arif membuka amplop itu.

Matanya langsung membesar.

Ia menoleh ke arahku.

Lalu ke arah Rangga.

Dengan suara pelan, hampir berbisik, ia berkata,

"Dok..."

"...darah yang ditemukan di balik batu..."

"...bukan hanya milik Alya."

Aku merasakan jantungku berdegup lebih cepat.

"Lalu milik siapa?"

Pak Arif menelan ludah.

"Milik..."

"...Rangga."

Ruangan mendadak sunyi.

Sementara di hadapan kami, Rangga perlahan menutup kedua matanya.

Seolah ia tahu...

bahwa tembok kebohongan yang dibangunnya selama ini...

baru saja mulai runtuh.

"Mayat telah berbicara. Kini giliran pelakunya."


Ruang interogasi kembali sunyi.

Tidak ada bentakan.

Tidak ada ancaman.

Hanya suara pendingin ruangan yang berdengung pelan.

Di atas meja kini tergeletak beberapa map hasil laboratorium.

Pak Arif membuka satu per satu.

"Mas Rangga."

"Kami ingin menjelaskan sesuatu."

Rangga tidak mengangkat wajah.


Pak Arif mengeluarkan foto tangan Rangga.

Foto itu diambil ketika polisi memintanya menjadi pembanding DNA.

Di punggung tangan kanannya terdapat bekas luka kecil yang hampir sembuh.

"Bekas luka ini berasal dari mana?"

Rangga menjawab pelan.

"Tergores pagar."

"Di mana?"

"...Rumah."

"Kapan?"

"Lupa."

Aku memperhatikan wajahnya.

Kali ini ia tidak menggaruk hidung.

Ia hanya menatap meja kosong.

Seolah tenaga untuk berbohong mulai habis.


Pak Arif meletakkan laporan laboratorium.

"Di bawah kuku Alya ditemukan jaringan kulit."

"DNA jaringan itu..."

"...identik dengan DNA Anda."

Rangga memejamkan mata.

Pak Arif melanjutkan.

"Di batu tempat luminol bereaksi ditemukan darah Alya."

"Darah Anda juga ditemukan di sana."

"Pada kapak terdapat sidik jari Anda."

"Kami juga menemukan jejak sepatu yang sama dengan sepatu hiking Anda."

"Bekas gesekan pada tanah menunjukkan seseorang menyeret tubuh."

"Ukuran langkahnya sesuai dengan tinggi badan Anda."

Setiap kalimat terasa seperti pukulan.

Tidak keras.

Namun tak dapat dibantah.


Aku membuka buku harian Alya.

Pelan.

Lembar terakhir.

Surat yang tak pernah sempat diberikan.

Aku mendorongnya ke arah Rangga.

"Dia masih mencintaimu."

"Tapi dia tidak sanggup hidup dalam ketakutan."

Rangga menatap surat itu lama.

Air matanya jatuh.

Kali ini ia tidak menyembunyikannya.


Beberapa menit berlalu tanpa sepatah kata.

Kemudian ia berbisik.

"Kalau..."

"...aku mengaku..."

"...apa semuanya selesai?"

Pak Arif menjawab tenang.

"Kami hanya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."


Rangga menarik napas panjang.

Untuk pertama kalinya sejak pemeriksaan dimulai...

bahunya runtuh.

Topeng tenangnya menghilang.


"Hari itu..."

"...kami memang pergi ke gunung."

"Tempat favorit Alya."

"Aku ingin memperbaiki hubungan kami."

Ia tersenyum pahit.

"Tapi ternyata..."

"...dia justru ingin mengakhirinya."


Flashback memenuhi pikirannya.

Kabut turun perlahan.

Langit mulai gelap.

Angin gunung bertiup dingin.

Alya berdiri menghadap jurang.

"Aku capek, Rangga."

"Aku tidak bisa hidup seperti ini."

"Aku selalu takut membuatmu marah."

Rangga mendekat.

"Aku cuma sayang sama kamu."

"Bukan sayang."

"Kamu ingin memiliki aku."

"Aku bahkan tidak boleh berteman."

"Aku tidak boleh punya ruang sendiri."

"Aku kehilangan diriku."


Rangga mulai menangis.

"Aku memohon."

"Aku berlutut."

"Aku bilang aku akan berubah."

"Tapi dia tetap bilang..."

"...semuanya sudah terlambat."


Ia mengepalkan kedua tangan.

"Aku marah."

"Sangat marah."

"Aku merasa..."

"...kalau aku tidak bisa memiliki dia..."

"...tidak akan ada orang lain yang boleh memilikinya."

Ruangan kembali sunyi.


"Aku mengambil kapak."

"Itu kapak yang kubawa untuk berjaga-jaga saat mendaki."

"Aku tidak benar-benar berniat membunuh."

"Tapi kami terus bertengkar."

"Dia berusaha pergi."

"Aku menarik tangannya."

"Dia mencakar."

"Dia menggigit tanganku."

"Aku kehilangan kendali."

Suara Rangga pecah.

"Satu ayunan."

"Dua."

"Aku..."

"...aku bahkan tidak ingat berapa kali."


Air mata terus mengalir.

"Aku sadar..."

"...Alya sudah tidak bernapas."

"Aku panik."

"Aku menyeret tubuhnya."

"Aku memotong tubuhnya."

Supaya...

"...lebih mudah dibawa."

Tidak ada seorang pun di ruangan yang berbicara.

Bahkan polisi yang biasa menangani pembunuhan tampak memalingkan wajah.


Rangga menangis semakin keras.

"Aku tidak sanggup melihat wajahnya."

"Setelah semuanya selesai..."

"...aku malah memeluk tubuhnya."

"Aku minta maaf."

"Aku bilang..."

"...tolong bangun."

"Aku bilang..."

"...aku akan berubah."

"Tapi semuanya sudah terlambat."


Ia menutupi wajahnya.

"Aku pulang."

"Membersihkan rumah."

"Membuang sebagian barang."

"Setiap malam aku kembali ke gunung."

"Aku merasa..."

"...Alya masih memanggilku."

"Aku tidak pernah bisa tidur lagi."


Aku memperhatikan Rangga.

Di hadapanku kini bukan monster.

Melainkan manusia.

Manusia yang dikalahkan oleh obsesi, kecemburuan, dan ketidakmampuan mengendalikan dirinya sendiri.

Sebagai dokter forensik, aku telah melihat ratusan mayat.

Namun hari itu aku kembali belajar satu hal.

Pembunuhan sering kali tidak lahir dari kebencian.

Ia lahir ketika cinta berubah menjadi keinginan untuk memiliki.


Pak Arif berdiri.

"Mas Rangga."

"Atas pengakuan dan seluruh barang bukti..."

"...Anda resmi ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan berencana dan mutilasi terhadap Alya."

Dua penyidik maju memborgol kedua tangannya.

Rangga tidak melawan.

Saat melewati pintu, ia berhenti.

Ia menoleh kepadaku.

"Dok..."

Aku mengangkat kepala.

"Menurut Dokter..."

"...apa Alya bisa memaafkan saya?"

Aku terdiam cukup lama.

Lalu menjawab pelan.

"Yang perlu memaafkan Anda terlebih dahulu..."

"...adalah diri Anda sendiri."

Rangga menutup mata.

Lalu berjalan keluar.

Pintu besi tertutup perlahan.

Brak.

Suara itu mengakhiri penyelidikan yang telah mengubah hidup begitu banyak orang.

Namun...

di luar sana...

aku masih teringat malam di gunung.

Perempuan yang duduk diam di sampingku.

Yang memilih menuntunku menjauh dari jurang.

Yang membawaku menemukan kebenaran.

Dan aku tahu...

kisah kami belum benar-benar berakhir.


Enam bulan telah berlalu sejak kasus Alya selesai disidangkan.

Rangga divonis penjara seumur hidup.

Tidak ada banding.

Tidak ada pembelaan lagi.

Seluruh bukti forensik yang kami kumpulkan saling menguatkan hingga nyaris tak menyisakan celah sedikit pun.

Kasus mutilasi yang sempat menggemparkan kota itu akhirnya resmi ditutup.

Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun menjadi dokter forensik...

aku mendapat kenaikan jabatan.

Kini aku dipercaya menjadi Kepala Instalasi Forensik di rumah sakit tempatku bekerja.

Semua orang mengucapkan selamat.

Atasanku bahkan bercanda,

"Kayaknya gunung itu membawa keberuntungan ya, Dok."

Aku hanya tertawa kecil.

Kalau saja beliau tahu...

gunung itu bukan hanya memberiku keberuntungan.

Gunung itu memberiku pengalaman yang akan kuingat seumur hidup.


Sebagai hadiah kecil untuk diriku sendiri, aku memutuskan mengambil cuti tiga hari.

Kali ini...

aku kembali ke gunung yang sama.

Namun aku tidak sebodoh dulu.

Aku menyewa seorang pemandu lokal.

Namanya Pak Darto.

Lelaki berusia sekitar lima puluh tahun yang sudah puluhan tahun menjadi guide.

Beliau hafal setiap jalur, setiap mata air, bahkan setiap batu besar di gunung itu.

"Dokter dulu pernah tersesat di sini ya?"

Aku hanya tersenyum.

"Iya."

"Cukup sekali saja."

Pak Darto tertawa.

"Baguslah."

"Gunung itu indah..."

"tapi jangan pernah merasa lebih pintar daripada gunung."

Aku mengangguk.

Kalimat itu sederhana.

Namun sangat benar.


Pendakian kali ini terasa berbeda.

Aku tidak lagi terburu-buru mengejar matahari terbit.

Aku berjalan lebih pelan.

Menikmati suara jangkrik.

Gemerisik dedaunan.

Aroma tanah basah setelah hujan sore.

Dan udara dingin yang memenuhi paru-paruku.

Tidak ada lagi rasa takut.

Tidak ada lagi aroma kematian yang dulu terus mengikutiku.

Yang ada hanyalah bau pinus, lumut, dan tanah pegunungan.


Kami mendirikan tenda tidak jauh dari puncak.

Malam itu langit begitu cerah.

Jutaan bintang memenuhi angkasa.

Aku duduk di luar tenda sambil menyeruput kopi panas.

Pak Darto sudah tertidur lebih dulu.

Suasana begitu hening.

Hanya suara angin yang sesekali melewati pucuk-pucuk pohon.


Aku memandang ke arah lembah.

Tiba-tiba...

seekor kunang-kunang melintas.

Lalu dua.

Tiga.

Puluhan.

Mereka berterbangan perlahan di antara pepohonan.

Indah.

Sangat indah.

Namun...

di tengah cahaya-cahaya kecil itu...

aku melihat seseorang berdiri.

Perempuan bergaun putih.

Rambut panjangnya ditiup angin malam.

Kali ini wajahnya terlihat jelas.

Tidak pucat.

Tidak menyeramkan.

Ia justru tampak damai.

Alya.


Ia tersenyum.

Senyum yang tidak pernah sempat kulihat saat pertama kali bertemu.

Aku berdiri perlahan.

Tidak takut.

Tidak terkejut.

Entah mengapa...

aku merasa memang seharusnya kami bertemu sekali lagi.

"Alya..."

Suaraku hampir berbisik.

Ia mengangguk pelan.

Tidak ada rasa sedih lagi di matanya.


"Terima kasih..."

Suara itu terdengar lembut.

Nyaris seperti bisikan angin.

Aku tidak tahu apakah benar-benar mendengarnya...

atau hanya merasakannya.

"Aku yang seharusnya berterima kasih."

Kataku pelan.

"Kalau malam itu kamu tidak menarik tanganku..."

"...mungkin aku sudah berjalan ke arah jurang."

Alya tersenyum lebih lebar.


"Aku juga tidak akan pernah menemukanmu."

Lanjutku.

"Kasusmu mungkin tidak akan pernah terungkap."

"Ayah dan ibumu..."

"...tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Air mata hangat mulai memenuhi pelupuk mataku.

Untuk pertama kalinya sejak menjadi dokter forensik...

aku menangis.

Bukan karena melihat kematian.

Tetapi karena melihat sebuah jiwa akhirnya menemukan kedamaian.


Alya menoleh ke arah langit.

Lalu kembali menatapku.

"Teruslah..."

"...dengarkan mereka yang tidak lagi bisa berbicara."

Aku membeku.

Kalimat itu...

terdengar seperti pesan terakhir.


Aku mengangguk pelan.

"Itu janjiku."

"Aku akan terus menjadi suara bagi mereka."

"Agar setiap korban..."

"...mendapatkan keadilan."

Alya tersenyum.

Ia mengangkat tangan.

Melambaikannya perlahan.

Seolah sedang berpamitan.


Tubuhnya mulai memudar.

Perlahan.

Semakin transparan.

Cahaya kecil bermunculan di sekelilingnya.

Satu.

Dua.

Puluhan.

Ratusan.

Tubuh Alya berubah menjadi kumpulan kunang-kunang yang beterbangan ke langit malam.

Semakin tinggi.

Semakin jauh.

Hingga akhirnya...

menghilang di antara jutaan bintang.


Aku masih berdiri cukup lama.

Memandang langit kosong.

Entah berapa menit.

Entah berapa lama.

Sampai akhirnya suara Pak Darto terdengar dari belakang.

"Dok..."

"Ngobrol sama siapa?"

Aku menoleh.

"Tidak ada."

Pak Darto mengerutkan dahi.

"Tapi tadi saya lihat Dokter senyum-senyum sendiri."

Aku hanya tertawa kecil.

"Mungkin sedang mengucapkan selamat tinggal."

Pak Darto ikut tersenyum.

"Gunung memang sering mengajarkan kita cara melepaskan."


Keesokan paginya kami mencapai puncak.

Matahari perlahan muncul dari balik cakrawala.

Langit yang semula gelap berubah menjadi jingga keemasan.

Lautan awan membentang sejauh mata memandang.

Indah.

Sangat indah.

Aku mengangkat kamera.

Mengambil satu foto.

Lalu tanpa sengaja kulihat sebuah titik cahaya kecil melintas di depan lensa.

Seekor kunang-kunang.

Padahal...

kunang-kunang hampir tidak pernah terbang di ketinggian seperti ini.

Aku hanya tersenyum.

Lalu berbisik pelan,

"Selamat jalan, Alya."

Angin gunung berembus lembut.

Membawa pergi kata-kataku ke langit yang luas.

Dan untuk pertama kalinya...

aku benar-benar bisa menikmati keindahan gunung.

Tanpa rasa takut.

Tanpa aroma kematian.

Hanya ada kehidupan.


Epilog

Kebenaran selalu meninggalkan jejak.

Kadang berupa setetes darah yang nyaris tak terlihat.

Kadang berupa bekas luka di bawah kuku korban.

Kadang berupa kebohongan kecil yang berulang.

Dan kadang...

kebenaran datang melalui cara yang tidak dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

Sebagai dokter forensik, aku percaya pada bukti.

Sebagai manusia, aku belajar bahwa tidak semua hal dapat diterangkan oleh sains.

Namun satu hal yang pasti...

mereka yang telah tiada tetap berhak didengar.

Sebab selama masih ada seseorang yang mau mencari kebenaran...

kematian tidak akan pernah menjadi akhir dari sebuah cerita.

 

 



 


Comments

Popular posts from this blog

Asal usul Batu Badoang

4 raja naga

Asal-usul Pacitan