Misteri Pencuri Desa Gagak

Aku tinggal di desa kecil di pulau terpencil yang sangat indah, penduduk desaku sangat ramah dan selalu siap sedia menolong siapapun yang butuh bantuan. Tidak ada tindak kejahatan, pencurian, dan kejadian aneh yang terjadi. 

Hingga suatu saat, ada beberapa kasus pencurian terjadi di desa ini. Kalung berlian dari salah satu warga hilang secara misterius. Padahal selama ini desa itu terkenal paling aman. Berhubung tidak ada yang mau mengaku, Kepala Desa berinisiatif melakukan penggeledahan setiap rumah.

Penggeledahan dilakukan dari pagi, hingga sore hari. Setelah penggeledahan, tidak ditemukan kalung berlian itu. Sore itu terdengar suara burung gagak yang riuh. Tidak biasanya terdengar suara burung gagak. Ada firasat apakah ini. 

Keesokan harinya di sekolah saat setelah istirahat, ada anak mengaku kehilangan orotan pensilnya yang ada kacanya. Tapi setelah penggeledahan, tidak ditemukan benda seperti itu.

Keesokan hari ini lagi, ada warga yang mengaku kehilangan coin untuk kerokan yang terbuat dari logam.

Kasus-kasus kehilangan misterius itu terus terjadi. Seperti kehilangan paku, sendok kecil, kunci. Meskipun barang-barang yang hilang bukan barang berharga seperti kalung berlian dan anehnya sejak kasus kehilangan itu setiap sore ada suara burung gagak. Terutama di depan sekitar balai desa. Warga desa jadi ketakutan ada firasat apakah ini. Apakah desa mereka terkena kutukan sekarang.

Karena yang menghilang bukan barang berharga seperti kalung berlian mereka menganggap itu hanyalah kerjaan orang iseng. Seminggu sudah kasus kehilangan ini terjadi. Warga desa kembali dikagetkan oleh kasus kehilangan anting dari permata. 

Kasus ini tidak bisa dibiarkan. Mereka menuliskan daftar barang-barang yang hilang. Tapi mereka tidak menemukan alasan pencuri inu mencuri barang-barang tersebut. Apa karena untuk menyembunyikan kasus pencurian berlian dan anting permata itu atau ada alasan lain. Suara burung gagak di desa itu kian lama kian banyak. 

Setelah kasus kehilangan itu terus terjadi hingga 2 minggu, saat ada kegiatan bersih-bersih desa, warga yang bertugas menyapu pekarangan balai desa kelelahan dan bersandar di pohon randu itu dan puk. Kalung berlian yang selama ini dicari jatuh dikepalanya. Dilihat diatas kepalanya tidak ada siapa-siapa Warga desa semakin resah siapakah yang mencuri barang-barang warga itu. Apakah orang iseng, lalu kalau orang iseng mengapa kalung itu di buang begitu saja. Suara burung gagak terdengar lebih kencang dari biasanya malam itu. Tiba-tiba ada warga desa yang nyeletuk masak kuntilanak yang mencurinya. Warga yang lain berkata hush jangan macam-macam. 

Warga mulai berjaga di sekitar balai desa dan setelah 2 hari, ada barang warga yang ditemukan dibawah pohon itu. Warga mulai mencurigai pohon itu.

Ada warga yang berinisitif untuk menebang pohon itu. Tapi kepala desa menghentikannya karena pohon itu kerapkali dikelilingi burung gagak, takutnya malah terkena kutukan. Akhirnya diputuskan untuk memanjat pohon itu mencari apakah ada benda yang hilang lain.

Betapa kagetnya warga desa ketika tau terdapat sarang burung gagak di atas pohon itu dan di dalamnya banyak benda-beda yang hilang misterius itu. 

Iya burung gagak memang suka benda-benda berkilau dan benda yang hilang selama ini adalah benda yang berkilau. Sejak itu bila ada kehilangan mereka mencarinya di atas pohon besar siapa tau ada saran burung gagak

*****************************************************************

Misteri Pencuri Desa Burung Gagak

Aku tinggal di sebuah desa kecil di pulau terpencil yang dikelilingi laut biru dan hutan lebat. Penduduknya hidup rukun seperti sebuah keluarga besar. Pintu rumah hampir tidak pernah dikunci. Jika ada dompet atau uang yang terjatuh di jalan, dalam hitungan jam pasti sudah kembali kepada pemiliknya.

Selama puluhan tahun tidak pernah ada pencurian di desa kami.

Hingga suatu pagi, semuanya berubah.

Seorang nenek bernama Nek Sari datang ke balai desa sambil menangis.

"Kalung berlian peninggalan almarhum suamiku hilang!"

Suasana balai desa mendadak sunyi.

Tak seorang pun percaya.

"Mustahil ada pencuri di desa kita," gumam beberapa warga.

Namun kalung itu benar-benar lenyap.

Kepala Desa segera mengumpulkan seluruh warga.

"Siapa pun yang mengambilnya, lebih baik mengaku sekarang. Aku tidak ingin desa ini kehilangan kepercayaan satu sama lain."

Tak ada satu pun yang mengaku.

Akhirnya diputuskan untuk menggeledah seluruh rumah warga.

Sejak pagi hingga sore setiap rumah diperiksa.

Lemari dibuka.

Gudang diperiksa.

Lumbung padi dan kandang ternak pun tak luput dari penggeledahan.

Hasilnya nihil.

Kalung berlian itu seperti ditelan bumi.

Menjelang matahari terbenam, terdengar suara burung gagak bersahut-sahutan.

"Kraaak... Kraaak..."

Puluhan burung gagak beterbangan di langit desa.

Padahal selama ini burung-burung itu hampir tidak pernah terlihat.

Warga mulai merasa tidak tenang.


Keesokan harinya, seorang murid SD kehilangan rautan pensil yang memiliki cermin kecil.

Guru memeriksa seluruh tas murid.

Tidak ditemukan.

Hari berikutnya seorang petani kehilangan koin logam untuk kerokan.

Lalu seorang ibu kehilangan sendok kecil.

Besoknya lagi seorang tukang kayu kehilangan beberapa paku.

Kemudian menyusul kunci rumah, gunting kuku, gantungan kunci, dan cincin imitasi.

Barang-barang itu memang tidak semuanya mahal.

Namun semuanya hilang tanpa jejak.

Yang lebih aneh, setiap sore suara burung gagak semakin ramai terdengar di sekitar balai desa.


Kepala Desa membentuk tim pencari.

Daftar barang yang hilang ditulis di papan besar.

Kalung berlian.

Anting permata.

Rautan bercermin.

Kunci.

Paku.

Koin logam.

Sendok kecil.

Gunting kuku.

Semua warga memperhatikan daftar itu.

"Aneh..."

"Kalau pencurinya mau uang, kenapa mengambil paku?"

"Kalau cuma iseng, kenapa mengambil kalung berlian?"

Tak ada yang bisa menjawab.


Tak lama kemudian muncul orang-orang yang mulai dicurigai.

Pemuda pendatang yang baru bekerja di pelabuhan sering terlihat berjalan malam hari.

Rumahnya digeledah.

Tak ditemukan apa pun.

Beberapa anak kecil terlihat membawa kunci milik tetangga.

Ternyata mereka menemukannya di jalan dan belum sempat mengembalikan.

Seorang pengepul barang bekas yang singgah ke desa juga sempat dituduh.

Karung-karungnya dibongkar.

Isinya hanya besi tua dari desa lain.

Bahkan seorang dukun tua yang tinggal di pinggir hutan ikut dicurigai karena rumahnya sering didatangi burung gagak.

Namun ternyata ia hanya merawat burung-burung yang terluka.

Satu per satu dugaan gugur.

Desa kembali buntu.


Untuk menangkap pencuri, Kepala Desa memasang jebakan.

Malam pertama, sebuah kalung imitasi diletakkan di halaman balai desa.

Beberapa warga bersembunyi di balik semak.

Sebagian lagi berjaga di loteng balai desa.

Tidak ada seorang pun yang datang.

Namun ketika fajar tiba...

Kalung itu hilang.


Malam kedua mereka mencoba lagi.

Kini mereka menaruh sebuah cincin imitasi dan menaburkan pasir halus di sekelilingnya agar jejak kaki pencuri terlihat.

Paginya cincin itu kembali menghilang.

Namun tidak ada bekas telapak kaki manusia.

Tidak pula bekas sandal.

Yang ada hanya beberapa goresan kecil yang bentuknya sulit dikenali.

"Jangan-jangan..." bisik seorang warga.

"Kita sedang diganggu makhluk halus."

Ucapan itu membuat sebagian warga semakin ketakutan.


Meski demikian, Kepala Desa belum menyerah.

"Kita coba sekali lagi."

Malam ketiga mereka menyiapkan jebakan yang berbeda.

Di atas meja kayu di depan balai desa diletakkan sebuah dompet kulit.

Dompet itu sengaja dibuka sedikit agar uang-uang kertas di dalamnya terlihat jelas.

Di samping dompet diletakkan sebuah kunci rumah dan sebuah koin logam yang mengilap.

"Kali ini kalau pencurinya manusia, pasti dia mengambil dompetnya," kata Kepala Desa.

Malam itu pengawasan dilakukan lebih ketat.

Beberapa warga berjaga di balik semak.

Sebagian lagi mengawasi dari atas loteng.

Tak seorang pun berani memejamkan mata.

Menjelang pagi mereka segera memeriksa jebakan.

Dompet itu masih berada di tempatnya.

Seluruh uang di dalamnya masih utuh.

Namun...

Kunci rumah dan koin logam telah menghilang.

Semua warga saling berpandangan.

"Kalau pencurinya manusia..."

"Mengapa uangnya tidak diambil?"

Pertanyaan itu terus menghantui mereka.


Sudah lebih dari dua minggu misteri itu belum terpecahkan.

Suasana desa berubah mencekam.

Tetangga mulai saling curiga.

Anak-anak tidak lagi diizinkan bermain hingga sore.

Setiap malam hanya terdengar suara burung gagak.

"Kraaak... Kraaak..."


Suatu pagi seluruh warga bergotong royong membersihkan desa.

Seorang ibu yang sedang menyapu halaman balai desa tiba-tiba berhenti.

"Sebentar..."

Ia melihat sesuatu berkilau di bawah pohon randu besar yang berdiri di samping balai desa.

Saat didekati, ternyata sebuah kalung berlian.

"Itu kalung Nek Sari!"

Warga segera berdatangan.

Mereka merasa lega karena kalung itu akhirnya ditemukan.

Namun kebingungan mereka justru semakin bertambah.

Mengapa kalung itu tiba-tiba tergeletak di bawah pohon randu?

Apakah pencurinya sengaja mengembalikannya?

Kalau begitu, mengapa hanya kalung itu?

Seluruh area di bawah pohon diperiksa.

Batangnya diperiksa.

Semak-semak dibersihkan.

Tanahnya digali.

Tidak ada petunjuk apa pun.


Keesokan paginya, petugas kebersihan desa kembali menyapu halaman balai desa.

Saat sapunya menyibakkan dedaunan kering...

"Ting!"

Sebuah koin logam jatuh tepat di depan kakinya.

Ia terkejut.

"Itu... koin Pak Rudi!"

Refleks ia mendongak.

Di atas pohon randu, puluhan burung gagak beterbangan sambil mengeluarkan suara nyaring.

Baru kali itu ia menyadari bahwa di antara ranting-ranting pohon terdapat banyak sarang burung gagak.

"Pak Kepala Desa!" teriaknya.

"Cepat ke sini!"

Seluruh warga segera berkumpul.

Beberapa pemuda yang pandai memanjat langsung naik ke atas pohon.

Sesampainya di atas mereka terdiam.

"Ya Tuhan..."

Di dalam hampir setiap sarang terdapat benda-benda berkilau.

Kalung berlian.

Anting permata.

Kunci rumah.

Koin logam.

Paku.

Sendok kecil.

Rautan pensil bercermin.

Gunting kuku.

Gantungan kunci.

Dan puluhan barang lain yang selama dua minggu membuat seluruh desa saling mencurigai.

Ternyata pelakunya bukan manusia.

Burung-burung gagak itulah yang mengambil benda-benda berkilau untuk menghiasi sarang mereka.

Kalung berlian yang ditemukan sehari sebelumnya rupanya terjatuh dari salah satu sarang ketika burung-burung itu berpindah tempat. Sementara koin yang ditemukan pagi itu jatuh saat seekor gagak hendak membawanya ke sarang.

Suasana desa yang selama dua minggu dipenuhi ketegangan berubah menjadi gelak tawa.

Mereka hampir saling bermusuhan hanya karena ulah sekawanan burung gagak.

Sejak hari itu, bila ada barang berkilau yang tiba-tiba menghilang, warga desa tidak lagi panik dan tidak lagi saling menuduh.

Mereka cukup mendongak ke pohon-pohon besar dan memeriksa sarang burung gagak.

Tak seorang pun mengusir burung-burung itu.

Mereka sadar, burung gagak hanya mengikuti nalurinya. Selama barang-barang yang hilang dapat ditemukan kembali, mereka memilih hidup berdampingan dengan para "pencuri kecil" bersayap hitam itu.

Bahkan anak-anak desa sering bercanda,

"Kalau kehilangan cincin, jangan cari tetangga dulu..."

"Coba periksa sarang burung gagaknya!"





Comments

Popular posts from this blog

Asal usul Batu Badoang

4 raja naga

Asal-usul Pacitan