Naik gunung
Pendakian Terakhir Sebelum Dewasa
Liburan sekolah akhirnya tiba.
Bagi sebagian orang, liburan berarti tidur seharian. Bagi sebagian lainnya berarti bermain game sampai lupa waktu.
Namun bagi kelas kami, liburan berarti satu hal:
jalan-jalan sebelum benar-benar terjun ke dunia orang dewasa.
Ide itu muncul begitu saja saat kami sedang berkumpul setelah ujian akhir.
"Gimana kalau kita naik gunung?" usul Beni.
"Naik motor?" tanya Doni.
"Naik gunung."
"Ngapain?"
"Ya naik gunung."
"Capek."
Dan begitulah rapat pertama dimulai.
Anehnya, meskipun setengah dari kami belum pernah mendaki, usulan itu disetujui dengan suara mayoritas.
Alasannya sederhana.
Di media sosial sedang viral foto lautan awan dari puncak gunung tersebut.
Katanya pemandangannya luar biasa.
Katanya kalau berhasil foto di sana, hasilnya bisa dipasang sebagai foto profil selama lima tahun tanpa perlu ganti.
Akhirnya kami mulai mempersiapkan perjalanan.
Seperti biasa, pembagian tugas langsung menunjukkan karakter asli masing-masing.
Roni mengambil alih penyusunan jadwal.
Dalam dua hari ia sudah membuat itinerary setebal proposal skripsi.
Siska menyusun anggaran.
Ia menghitung semuanya sampai ke biaya parkir, biaya toilet, dan kemungkinan membeli gorengan darurat.
Beni bertugas mencari penginapan.
Entah bagaimana caranya, ia berhasil menawar harga kamar sampai pemilik penginapan berkata,
"Mas, saya juga mau makan."
Sementara itu Doni mengambil tugas paling berat.
Menunggu semuanya selesai.
Lalu membayar.
Perjalanan menuju kaki gunung berlangsung seru.
Di dalam mobil tidak ada yang tidur.
Yang ada justru karaoke.
Masalahnya tidak ada satu pun yang bisa menyanyi dengan benar.
Kami menyanyikan lagu yang nadanya salah, liriknya salah, bahkan kadang judul lagunya pun salah.
Sopir sampai beberapa kali menggelengkan kepala.
Aku curiga beliau menyesal menerima pesanan rombongan kami.
Menjelang tengah malam kami tiba di penginapan.
Alih-alih langsung tidur, kami malah ngobrol sampai larut.
Tentang masa depan.
Tentang pekerjaan.
Tentang impian.
Tentang siapa yang kemungkinan besar akan menikah duluan.
Prediksi kami ternyata banyak yang meleset.
Untung saat itu kami belum mengetahuinya.
Pukul dua pagi alarm mulai berbunyi.
Suara alarm yang paling keras ternyata berasal dari orang yang paling sulit dibangunkan.
Setelah perjuangan panjang, akhirnya kami berangkat menuju pos pendakian.
Namun setibanya di sana kami mendapat kabar yang cukup mengecewakan.
Spot foto paling terkenal ternyata ditutup sementara.
Alasan utamanya karena cuaca dan faktor keselamatan.
Sebagian teman langsung patah semangat.
"Lho, terus kita naik buat apa?"
"Ya buat menikmati alam."
"Tapi yang viral kan spot itu."
"Ada gunung, ada sunrise, ada lautan awan."
"Tapi nggak viral."
Kami tertawa.
Memang luar biasa kekuatan media sosial.
Kadang orang rela mendaki berjam-jam hanya demi satu foto.
Salah satu teman bahkan sempat mencoba membujuk petugas.
"Pak, cuma sebentar."
"Tidak boleh."
"Saya cepat kok."
"Kalau jatuh juga cepat."
Percakapan selesai.
Tepat pukul tiga pagi pendakian dimulai.
Ratusan lampu senter bergerak perlahan membentuk barisan cahaya di lereng gunung.
Udara dingin menusuk wajah.
Langit malam terlihat begitu jernih.
Bintang-bintang bertaburan di atas kepala.
Awalnya semua masih penuh semangat.
Semua berjalan cepat.
Semua merasa kuat.
Semua merasa atlet.
Tiga puluh menit kemudian kenyataan mulai berbicara.
"Masih jauh?"
Pertanyaan itu mulai terdengar.
Lima belas menit kemudian terdengar lagi.
Lalu lagi.
Lalu lagi.
Sampai kami curiga jarak gunung sebenarnya bertambah setiap kali ada yang bertanya.
Di tengah perjalanan ada teman yang memutuskan menyewa porter.
Bukan karena tasnya berat.
Melainkan karena dirinya sendiri yang sudah kehabisan tenaga.
Kami tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Selamat ya."
"Kenapa?"
"Kamu satu-satunya orang yang naik gunung sambil duduk."
Ia hanya tertawa.
Yang penting sampai puncak.
Semakin tinggi kami mendaki, kelompok mulai terpecah.
Ada yang berjalan cepat.
Ada yang santai.
Ada yang sibuk memotret.
Ada yang sibuk makan.
Ajaibnya, selalu ada orang yang bisa lapar kapan saja.
Bahkan saat mendaki.
Salah satu temanku mengeluarkan roti.
Lima menit kemudian semua ikut lapar.
Sepuluh menit kemudian bekalnya habis.
Di sebuah jalur berbatu, salah satu teman terpeleset.
Untung hanya luka ringan.
Namun kejadian itu memperlihatkan sesuatu yang menarik.
Ada yang langsung berlari membantu.
Ada yang panik.
Ada yang sibuk mencari air minum.
Ada yang memberi semangat.
Ada yang memberi nasihat.
Dan ada yang mengambil foto dulu baru membantu.
Katanya untuk dokumentasi.
Aku tidak yakin.
Aku mulai memperhatikan satu hal.
Saat orang berada dalam situasi sulit, topeng yang biasa mereka pakai perlahan hilang.
Yang sabar terlihat semakin sabar.
Yang egois terlihat semakin egois.
Yang peduli terlihat semakin peduli.
Dan yang suka mengeluh...
ternyata memang suka mengeluh.
Mungkin benar kata orang.
Kalau ingin mengenal seseorang, ajaklah dia bepergian jauh.
Menjelang pagi kami akhirnya mencapai puncak.
Dan semua langsung terdiam.
Matahari perlahan muncul dari balik cakrawala.
Langit berubah warna dari biru gelap menjadi jingga keemasan.
Lautan awan terbentang sejauh mata memandang.
Puncak-puncak gunung lain muncul seperti pulau-pulau di tengah samudra putih.
Untuk beberapa menit tidak ada yang berbicara.
Kami hanya memandang.
Menikmati.
Mengingat.
Karena dalam hati kami tahu.
Ini mungkin salah satu perjalanan terakhir sebelum hidup membawa kami ke jalan yang berbeda-beda.
Sepuluh tahun kemudian kami kembali berkumpul dalam sebuah reuni.
Saat melihat wajah-wajah lama itu, aku langsung teringat malam pendakian tersebut.
Lucunya, sifat mereka hampir tidak berubah.
Roni tetap menjadi perencana ulung dan kini memimpin proyek besar.
Siska menjadi manajer keuangan.
Beni sukses berbisnis.
Teman yang dulu suka mencari jalan alternatif kini menjadi ahli strategi perusahaan.
Teman yang suka membantu kini menjadi pemimpin yang dicintai timnya.
Yang suka panik masih panik.
Yang suka mengeluh masih mengeluh.
Yang suka memberi nasihat masih menjadi pemberi nasihat profesional.
Lalu seseorang bertanya,
"Kalau kamu sendiri?"
Aku tertawa.
Saat pendakian dulu aku lebih banyak mengamati daripada berbicara.
Aku memperhatikan cara orang menghadapi kelelahan, ketakutan, kegagalan, dan keberhasilan.
Mungkin karena itu sekarang aku bekerja sebagai HRD.
Pekerjaanku tetap sama.
Mengamati manusia.
Hanya saja sekarang gunungnya berbeda.
Tanjakannya berupa target.
Jalurnya berupa karier.
Dan puncaknya berupa impian masing-masing.
Namun satu hal tidak berubah.
Cara seseorang mendaki gunung ternyata sering kali mirip dengan cara ia menjalani hidup.
Dan setiap kali melihat karyawan baru masuk kantor, aku sering teringat perjalanan itu.
Karena kadang untuk mengenal karakter seseorang, kita tidak perlu tes kepribadian yang rumit.
Cukup ajak dia mendaki gunung bersama.
Comments
Post a Comment