Orangtuaku mertuaku

Hari ini pacarku akan datang dengan orang tuanya yang ingin berkenalan denganku dan orang tuaku. Aku sangat grogi dan bingung harus menggunakan pakaian yang cocok, bagaimana bersikap. Yang paling aku takutkan bila orang tuanya tidak setuju karena ada bekas luka bakar yang lumayan besar di pipi kananku. Ingin kututupi dengan make up tebal, tapi aku takut jerawatan karena tipe wajahku adalah tipe yang sensitif. Lagian aku juga merasa ditutupi pun juga percuma cepat atau lambat mereka juga akan melihatnya. toh ya aku pernah bertemu papanya di suatu seminar Nasional. Duh aku stress sekali. Sudahlah lebih tau mereka melihat wujud asliku sekarang daripada saat 

Kami sudah berpacaran selama kurang lebih 2 tahun, tapi aku belum pernah sekalipun dikenalkan ke orangtuanya. Ntah apa alasannya orangtuanya cukup sibuk, atau dia merasa belum benar-benar sreg denganku. Karena aku tidak cantik. Makanya baru sekarang dia mau memperkenalkanku ke orang tuanya.

Orangtuanya adalah satu-satunya pemilik pabrik Farmasi. Dan tinggal di luar kota. Aku pernah bertemu papanya saat seminar Kesehatan bulan lalu, tapi saat itu dia tidak memperkenalkanku pada orang tuanya. Makanya tidak heran dia dan orang tuanya cukup sibuk. Aku memakluminya.

Aku bertemu dengannya 3 tahun lalu. Saat itu aku baru belajar nyetir, dan tidak sengaja mobil yang kukendarai menyerempet dia yang saat itu menggunakan motor tuanya. Aku sudah menawarinya ganti rugi, tapi dia tidak mau. Akhirnya aku cuma membawanya ke Rumah sakit dan mengobati lukanya. Dia berterima kasih dan saat itu dia langsung mengambil kesempatan untuk berkenalan denganku. Menanyakan namaku dan aku sebagai dokter apa di rumah sakit itu, serta jam senggang di sela praktekku. Kita janjian untuk bertemu di ruang kerjaku lusa pk 06.00 sebelum jam praktekku.

Ternyata dia adalah seorang detailer. Awalnya dia hanya mengajakku bekerjasama untuk meresepkan obat yang dia jual. Awalnya kupikir dia hanyalah detailer biasa. Tapi lama-kelamaan dia sering ke tempat praktekku dan sering merekomendasikan obat lain, membantuku menyelesaikan masalahku saat aku menangani pasien dengan berbagai komplikasi, dan obat yang biasa kugunakan merupakan kontraindikasi dengan pasienku. Karena dia adalah seorang detailer terbaik menurutku, pelayanannya yang paling baik, aku banyak meresepkan obat yang dia tawarkan. Selain masalah pekerjaan dia juga sering mengajakku keluar makan. Hubungan kami makin dekat. Aku awalnya merasa kagum oleh kepintaran dan keuletannya dalam bekerja. Meski usianya 4 tahun lebih muda dari aku. Aku juga pernah ikut mendatangi apotek untuk bekerjasama dengan apotek itu dalam meningkatkan penjualannya. 

Hingga sebagai reward aku diundang pada seminar Nasional tentang kesehatan yang salah satu sponsor utamanya adalah industri farmasi milik papanya. Kita sebagai tenaga medis baik apoteker ataupun dokter datang ke tempat ini untuk seminar kesehatan Nasional. Memang kita sebagai dokter dan apoteker harus sering-sering ikut seminar agar bisa dapat SKP (Satuan Kredit Poin) agar dapat memperpanjang surat izin praktek kami.

Di seminar ini aku bertemu temannya yang bilang bahwa dia adalah lulusan apoteker terbaik di kampus terbaik di negara ini. Aku kaget mendengar itu. Karena memang dia tidak pernah cerita, aku juga tidak pernah bertanya. Masih untung ada yang mau dekat. Saat di seminar, aku terpilih menjadi penanya terbaik dan berhak mendapatkan hadiah. Saat itu aku bersalaman dengan papanya. Papanya memperhatikan bekas luka di pipiku beberapa saat, tapi tidak berkomentar. Aku juga tidak tau kalau dia adalah papa dari pacarku. Hingga saat di ruang makan saat itu di kejauhan kulihat pacarku dengan papanya dan pacarku memanggilnya pa.

Setelah seminar kutanyakan apakah benar dia papanya. Pacarku mengaku dia memang anak pemilik perusahaan farmasi terkenal itu. Tapi dia sedang mempelajari bagaimana mengembangkan bisnis dengan menjadi detailer. 

Mamaku mengetuk pintu kamarku memanggilku saat pacarku dan orang tuanya datang. Papaku menyambut tamu yang datang. Saat itu mamanya memperhatikan bekas luka di pipiku, aku grogi dan bersiap akan penolakan mereka, sambil tetap menjaga sikap tegar. Kuajak mereka makan malam. Masakan mamaku memang paling enak. Sambil bercanda dengan orang tua pacarku berkata masakan mamaku memang paling enak, agar mencairkan suasana, dan menutupi keteganganku. 

Setelah makan malam, orangtuanya memperhatikan foto-foto keluargaku, orangtuaku menceritakan cerita dibalik semua foto itu. hingga pada akhirnya mereka berhenti di fotoku saat berumur 3 tahun. Aku cukup kaget mamanya tiba-tiba matanya agak berkaca-kaca meskipun dengan cepat dia menghapus air matanya tapi aku bisa melihatnya. Dia bertanya siapa kamu, siapa kamu sebenarnya? Aku dan orang tuaku kaget dan bingung apa maksudnya dan bagaimana menjawabnya. Akhirnya kujawab namaku. Mamanya bertanya lagi bagaimana fotoku saat sebelum umur 3 tahun. Apakah aku anak adopsi? Aku cukup kaget dengan pertanyaan mamanya yang cukup mengejutkan. Seingatku aku belum pernah memberi tahu pacarku bahwa aku anak adopsi dan sedang mencari orang tua kandungku. Aku sudah bersiap bahwa hubunganku dengan pacarku harus berakhir. 

Kulihat mamaku menangis dan mengakui. dan tiba-tiba mama pacarku memelukku sambil menangis.

Papaku bercerita mereka menemukanku di pantai dekat rumahku, saat itu aku berjalan sendirian menangis karena tersesat terpisah dari orang tua kandungku dan orang tua angkatku, membantuku mencarikan orang tua kandungku tapi tidak ketemu, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk membesarkanku apalagi mereka sudah menikah 10 tahun tapi belum dikaruniai anak.

Mama pacarku bercerita, saat itu mereka berlibur ke pantai, aku dibiarkan bermain pasir. Tapi karena kecerobohan mereka aku berjalan sendirian dan tiba-tiba hilang, mama pacarku yang tau anaknya hilang langsung pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit oleh papa pacarku, ternyata tidak bisa ditangani di rumah sakit di kota itu dan harus dilarikan ke rumah sakit kota lebih besar. Setelah pulih mama dan papa pacarku kembali ke kotaku untuk menemukanku lagi. Tapi tidak ketemu. Mereka juga cerita luka di pipiku adalah luka karena tersiram air panas saat berlari. Papa pacarku sejak bertemu denganku pertama kali di seminar nasional itu sudah curiga denganku dan mendesak pacarku untuk memperkenalkan mereka padaku.

Perasaanku antara senang dan sedih. Senang karena bertemu orang tua kandungku yang selama ini kucari, sedih karena harus putus dengan pacarku. Tiba-tiba papa pacarku berkata. Oke dah kalau gitu kita harus segera memilih tanggal pernikahan anak-anakku. Hah menikah? tidak salah dengar aku? Kita kan saudara? 

Aku mencoba menanyakan hal itu. Papa pacarku tertawa iya pernikahan, kamu tidak suka? 

Lalu orang tua pacarku cerita kalau setelah aku menghilang mereka sangat sedih dan mengadopsi anak laki-laki yaitu pacarku. 

Ya aku sekarang bingung sebenarnya siapa mereka orang tuaku kah atau mertuaku? Aku merasa sangat beruntung sekali


*****



Comments

Popular posts from this blog

Asal usul Batu Badoang

4 raja naga

Asal-usul Pacitan