Persahabatan
Surat Persahabatan di Puncak Gunung
Aku memiliki sebelas sahabat.
Kalau dipikir-pikir, kami adalah kelompok yang aneh. Umur berbeda, fakultas berbeda, sifat berbeda, bahkan bulan lahir kami pun hampir tidak ada yang sama.
Namun entah bagaimana, kami bisa begitu dekat.
Semuanya bermula saat kami menjadi relawan dalam sebuah program mahasiswa tanggap bencana.
Saat itu sebuah gempa besar mengguncang salah satu daerah di Jawa. Kami dikirim ke lokasi pengungsian sebagai satu tim.
Di situlah persahabatan kami dimulai.
Dalam tim itu ada dokter, perawat, apoteker, psikolog, ahli gizi, mahasiswa ekonomi, dan berbagai jurusan lainnya.
Masing-masing punya tugas.
Dokter dan perawat menangani korban yang terluka.
Psikolog menemani anak-anak yang masih trauma dan sering menangis di malam hari.
Ahli gizi mengatur makanan di dapur umum.
Mahasiswa ekonomi sibuk menghitung kebutuhan logistik dan berbelanja ke pasar terdekat.
Sementara aku bertugas membantu di mana saja yang membutuhkan tenaga tambahan.
Hari-hari di pengungsian tidak mudah.
Kami kurang tidur.
Sering kehujanan.
Kadang harus makan seadanya.
Tetapi justru dalam keadaan seperti itulah kami saling mengenal.
Aku masih ingat suatu malam saat listrik padam dan kami berkumpul di depan tenda sambil minum kopi hangat.
Seseorang mulai bercerita.
Lalu yang lain ikut bercerita.
Tanpa sadar kami tertawa sampai tengah malam.
Sejak saat itu kami menjadi akrab.
Setelah masa tugas selesai, kami kembali ke kampus masing-masing.
Namun hubungan kami tidak ikut berakhir.
Kami membuat grup pertemanan.
Awalnya hanya untuk bertukar kabar.
Lama-kelamaan grup itu menjadi tempat curhat, meminta bantuan, berbagi materi kuliah, bahkan saling menyemangati saat ujian.
Kalau ada yang sidang skripsi, semua ikut mendoakan.
Kalau ada yang stres mengerjakan penelitian, yang lain ikut membantu.
Kalau ada yang patah hati...
nah, biasanya satu grup langsung berubah menjadi tim konseling dadakan.
"Tenang bro, dia bukan jodohmu."
"Masih banyak ikan di laut."
"Kalau perlu kita bakar fotonya."
Yang terakhir biasanya langsung ditolak ramai-ramai.
Waktu berlalu begitu cepat.
Tiba-tiba saja kami sudah berada di penghujung masa kuliah.
Satu per satu mulai lulus.
Untuk merayakannya, kami memutuskan mendaki gunung tertinggi di dekat kota kami.
Gunung itu terkenal dengan pemandangan matahari terbit yang luar biasa indah.
Pendakian berlangsung seru.
Tidak ada yang berubah.
Yang suka makan tetap membawa makanan paling banyak.
Yang suka menolong tetap membawa kotak P3K.
Yang paling cerewet tetap menjadi sumber kebisingan sepanjang perjalanan.
Di tengah pendakian kakiku tiba-tiba kram.
"Aduh...!"
Dokter dalam kelompok kami langsung datang.
"Nah, kan. Dibilang pemanasan dulu."
Sambil mengomel, dia tetap membantuku.
Teman yang lain ikut berhenti.
Ada yang memberiku air minum.
Ada yang memijat kakiku.
Ada yang malah sibuk mengambil foto.
Katanya untuk kenang-kenangan.
Aku curiga untuk bahan tertawaan di masa depan.
Menjelang pagi kami akhirnya sampai di puncak.
Pemandangannya luar biasa.
Lautan awan terbentang sejauh mata memandang.
Matahari perlahan muncul dari balik cakrawala.
Untuk beberapa menit kami semua terdiam.
Menikmati momen itu.
Lalu seseorang berkata,
"Kalau nanti kita sibuk, jangan sampai putus kontak ya."
Yang lain mengangguk.
Akhirnya kami menulis sebuah surat bersama.
Isi surat itu sederhana.
Kami berjanji akan tetap menjadi sahabat apa pun yang terjadi.
Kami memasukkan surat itu ke dalam botol kaca kecil.
Kemudian menguburnya di bawah sebuah pohon di puncak gunung.
"Sepuluh... eh, lima belas tahun lagi kita balik ke sini."
"Deal!"
"Kalau ada yang tidak datang?"
"Traktir semuanya."
Kesepakatan langsung disetujui.
Setelah lulus, kehidupan mulai berjalan ke arah masing-masing.
Ada yang melanjutkan profesi.
Ada yang mengambil S2.
Ada yang bekerja di rumah sakit.
Ada yang pindah ke luar kota.
Ada yang bahkan pindah pulau.
Meski begitu, kami masih sering berkomunikasi.
Setidaknya di awal-awal.
Lalu kehidupan mulai semakin sibuk.
Dan masalah mulai muncul.
Beberapa teman yang belum mendapatkan pekerjaan memutuskan membangun usaha bersama.
Awalnya berjalan baik.
Kami senang melihat usaha itu berkembang.
Namun ketika uang mulai terlibat, gesekan mulai muncul.
Ada yang merasa bekerja paling keras.
Ada yang merasa tidak dihargai.
Ada yang merasa keputusan pemimpin tim tidak tepat.
Ada yang merasa terlalu banyak dituntut.
Setiap orang punya sudut pandang sendiri.
Setiap orang merasa dirinya benar.
Perlahan percakapan di grup mulai berubah.
Yang dulu penuh candaan menjadi penuh keluhan.
Yang dulu saling menyemangati menjadi saling menyalahkan.
Teman-teman yang tinggal di luar kota mulai menjauh.
Bukan karena tidak peduli.
Mereka hanya lelah mendengar pertengkaran yang tidak ada habisnya.
Pesan di grup semakin sepi.
Ucapan ulang tahun semakin jarang.
Pertemuan tahunan mulai tidak pernah terjadi.
Aku melihat semuanya perlahan retak.
Dan itu menyakitkan.
Lima tahun lalu kami berjanji menjadi sahabat selamanya.
Sekarang rasanya kami bahkan sulit mengobrol tanpa menyinggung masalah lama.
Menjelang pergantian tahun, aku mengambil keputusan.
Aku ingin mencoba sekali lagi.
Aku menghubungi mereka satu per satu.
Mengajak mereka berkumpul.
Tanpa menjelaskan tujuan sebenarnya.
Aku hanya berkata,
"Ayo liburan akhir tahun bersama."
Ajaibnya, mereka datang.
Meski beberapa masih canggung.
Meski beberapa masih menyimpan kesal.
Mereka tetap datang.
Sesampainya di lokasi, mereka baru sadar.
Kami berada di kaki gunung yang sama.
Gunung tempat kami mengubur surat persahabatan dulu.
"Aku tahu ini."
"Iya."
"Jangan bilang kita mau naik lagi."
Aku tersenyum.
"Kita sudah sampai sini. Masa mau pulang?"
Beberapa menggerutu.
Namun akhirnya ikut mendaki.
Di tengah perjalanan aku sengaja berpura-pura kram di tempat yang hampir sama.
Dokter yang dulu menolongku langsung mendekat.
Dia menatapku beberapa detik.
Lalu berkata,
"Kamu bohong ya?"
Aku tertawa.
"Sedikit."
Ia menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, suasana kembali hangat.
Perjalanan terasa seperti dulu lagi.
Candaan mulai muncul.
Obrolan mulai mengalir.
Tawa mulai terdengar.
Seolah-olah lima tahun terakhir tidak pernah terjadi.
Saat akhirnya sampai di puncak, kami mencari pohon tempat botol itu dikubur.
Dengan susah payah kami menemukannya.
Botol itu masih ada.
Sedikit kusam.
Tetapi masih utuh.
Kami membuka surat itu.
Tulisan tangan kami yang dulu masih terbaca.
Dan saat membaca janji yang kami tulis bertahun-tahun lalu, tidak ada seorang pun yang berbicara.
Beberapa tersenyum.
Beberapa menunduk.
Beberapa diam-diam mengusap mata.
Karena kami sadar.
Selama ini bukan persahabatan kami yang hilang.
Kami hanya terlalu sibuk mempertahankan ego masing-masing.
Matahari perlahan terbit di balik pegunungan.
Persis seperti lima tahun yang lalu.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kami kembali merasa menjadi dua belas sahabat yang sama.
Bukan dokter.
Bukan apoteker.
Bukan psikolog.
Bukan pengusaha.
Bukan karyawan.
Hanya dua belas sahabat yang pernah berjanji di puncak gunung bahwa persahabatan mereka lebih berharga daripada segala masalah yang akan datang.
Comments
Post a Comment