Ruang kaca
Aku menginjak pedal gas semakin dalam.
Jarum speedometer terus naik.
120...
140...
160...
Lampu-lampu jalan berubah menjadi garis-garis cahaya yang memanjang di tengah malam.
Aku tidak peduli.
Botol minuman keras yang sudah kosong tergeletak di kursi penumpang.
Kepalaku penuh amarah.
Penuh kekecewaan.
Penuh kebencian.
Entah kenapa semua orang yang kupercaya selalu berakhir mengkhianatiku.
Aku sudah berkali-kali berganti lingkaran pertemanan.
Berkali-kali membuka hati.
Berkali-kali mencoba percaya.
Namun hasilnya selalu sama.
Mereka menikamku dari belakang.
Memanfaatkanku.
Menertawakanku.
Meninggalkanku.
"Hidup ini omong kosong..." gumamku.
Tiba-tiba cahaya putih menyilaukan muncul dari depan.
Aku refleks membanting setir.
Ban berdecit keras.
Lalu semuanya terjadi begitu cepat.
BRAKKK!!
Mobil menghantam pembatas jalan.
Tubuhku terlempar ke depan.
Kaca pecah.
Logam berderit.
Kemudian mobil itu meluncur ke jurang.
Aku masih sadar.
Samar-samar.
Tubuhku terasa remuk.
Darah mengalir dari pelipis.
Dengan sisa tenaga, aku merangkak keluar dari bangkai mobil.
Hutan gelap menyambutku.
Pepohonan tinggi menjulang seperti raksasa yang mengawasi dari kejauhan.
Aku berjalan tertatih.
Lalu bersandar pada batang pohon besar.
Pandangan mulai kabur.
Dunia perlahan tenggelam dalam kegelapan.
Saat membuka mata, aku sedang merangkak.
Di dalam sebuah terowongan panjang.
Gelap.
Lembap.
Sunyi.
Di kejauhan tampak sebuah cahaya putih.
Harapan.
Aku memaksakan diri bergerak menuju cahaya itu.
Setiap gerakan terasa menyakitkan.
Tubuhku seperti dihancurkan ribuan palu.
Namun aku terus merangkak.
Sedikit lagi.
Sedikit lagi.
Aku harus keluar.
Aku harus menemukan seseorang yang bisa menolongku.
Akhirnya aku tiba di ujung terowongan.
Namun yang kulihat membuat darahku membeku.
Puluhan orang berdiri mengelilingiku.
Mereka diam.
Tidak bergerak.
Tidak berkedip.
Wajah mereka pucat.
Mata mereka hitam.
Senyuman mereka terlalu lebar untuk disebut manusia.
Aku mencoba berdiri.
"Mundur!"
Mereka tidak bergerak.
"MUNDUR!"
Salah satu dari mereka melangkah mendekat.
Aku mengangkat tangan dan memukul wajahnya.
PRAK!
Tubuhnya retak seperti kaca.
Lalu sesuatu yang lebih mengerikan terjadi.
Dari retakan itu muncul dua sosok baru.
Kemudian empat.
Lalu delapan.
Jumlah mereka terus bertambah.
Aku mundur ketakutan.
Mereka terus mendekat.
Aku berlari.
Mereka mengejar.
Aku berteriak.
Mereka ikut berteriak.
Aku marah.
Mereka ikut marah.
Semakin keras aku melawan, semakin banyak mereka bermunculan.
Sampai akhirnya aku kelelahan.
Aku jatuh terduduk.
Tubuhku gemetar.
Aku tidak sanggup lagi.
Lalu kenangan mulai bermunculan.
Wajah mantan pacarku.
Wajah sahabatku.
Mereka berjalan bersama.
Tertawa bersama.
Sejak awal aku curiga mereka berselingkuh di belakangku.
Aku selalu curiga.
Aku selalu mengawasi.
Aku selalu mencari bukti.
Meski tak pernah menemukannya.
Kemudian muncul wajah teman-teman kantorku.
Mereka yang melaporkanku pada atasan.
Mereka yang membuatku kehilangan pekerjaan.
Mereka yang menghancurkan hidupku.
Aku menggertakkan gigi.
Air mata mulai mengalir.
Mengapa semua orang selalu menyakitiku?
Mengapa?
Mengapa?
Mengapa?
Aku menangis sejadi-jadinya.
Dan untuk pertama kalinya aku memperhatikan sesuatu.
Makhluk-makhluk menyeramkan di sekelilingku ikut menangis.
Persis seperti aku.
Aku mengangkat kepala.
Mereka juga mengangkat kepala.
Aku mengusap air mata.
Mereka melakukan hal yang sama.
Aku tersenyum kecil.
Mereka tersenyum kecil.
Aku terdiam.
Perlahan sebuah kesadaran mengerikan muncul.
Mereka...
Tidak sedang mengejarku.
Mereka sedang meniruku.
Aku memperhatikan mereka lebih seksama.
Wajah mereka memang menyeramkan.
Namun semakin lama kulihat, semakin terasa familiar.
Bentuk mata.
Bentuk hidung.
Bentuk rahang.
Mereka semua adalah aku.
Ratusan versi diriku sendiri.
Versi yang marah.
Versi yang takut.
Versi yang curiga.
Versi yang iri.
Versi yang serakah.
Versi yang terluka.
Dan saat itulah aku menyadari kebenarannya.
Aku tidak sedang berada di dunia hantu.
Aku berada di dunia cermin.
Dunia yang memantulkan siapa diriku sebenarnya.
Karena itulah saat kupukul salah satu dari mereka, jumlah mereka bertambah.
Seperti pecahan cermin yang memantulkan bayangan tanpa akhir.
Aku berjalan lagi.
Mencari jalan keluar.
Sampai akhirnya menemukan terowongan kedua.
Di ujungnya ada cahaya lain.
Aku masuk.
Dan melihat kehidupan yang selama ini kubenci.
Aku melihat kembali kasus korupsi yang membuatku dipecat.
Aku selalu menyalahkan teman-temanku.
Namun kini aku melihat semuanya dengan jelas.
Mereka memang menyarankan menambah satu persen pada laporan pembelian.
Tetapi yang menyetujuinya adalah aku.
Yang menikmati uangnya adalah aku.
Yang memilih melakukannya adalah aku.
Lalu muncul teman yang melaporkanku.
Selama ini aku membencinya.
Namun dari sudut pandang yang berbeda, dia justru menghentikanku sebelum kesalahanku semakin besar.
Cahaya berikutnya memperlihatkan pacarku.
Ia duduk di samping tempat tidur rumah sakit.
Matanya sembab karena menangis.
Di sampingnya berdiri sahabatku.
Mereka sedang berbicara.
Bukan tentang perselingkuhan.
Bukan tentang pengkhianatan.
Mereka sedang membicarakan cara membantuku.
Ternyata selama ini sahabatku berusaha meyakinkanku bahwa pacarku setia.
Sedangkan aku...
Aku terlalu sibuk mencurigai mereka.
Aku terlalu takut dikhianati sehingga melihat pengkhianatan di mana-mana.
Saat itulah aku memahami sesuatu.
Dunia ini memang seperti cermin.
Ketakutanku memantulkan kecurigaan.
Keserakahanku memantulkan pengkhianatan.
Kemarahanku memantulkan permusuhan.
Aku selalu merasa menjadi korban.
Padahal banyak luka yang tercipta karena cara pandangku sendiri.
Tiba-tiba kepalaku terasa sangat sakit.
Dunia cermin mulai retak.
Suara-suara aneh terdengar dari segala arah.
Cahaya putih memenuhi pandanganku.
Aku melihat tubuhku sendiri.
Terbaring di atas ranjang rumah sakit.
Selang-selang medis menempel di tubuhku.
Monitor berdetak pelan.
Pacarku masih berada di sana.
Menggenggam tanganku.
Menangis.
Aku mencoba memanggilnya.
Namun suaraku tidak keluar.
Aku ingin memeluknya.
Aku ingin meminta maaf.
Aku ingin mengatakan bahwa selama ini aku salah.
Dunia cermin mulai runtuh.
Retakan-retakan besar menjalar ke segala arah.
Bayangan-bayangan diriku menghilang satu per satu.
Lalu semuanya berubah menjadi putih.
Aku membuka mata.
Cahaya lampu rumah sakit menyilaukan.
Sosok berpakaian hijau berdiri di samping tempat tidur.
Dokter.
Di sisi lain, pacarku langsung menangis saat melihatku sadar.
"Syukurlah..." bisiknya.
Dokter tersenyum.
"Kondisinya sudah stabil. Anda sudah melewati masa kritis."
Aku terdiam.
Air mata mengalir begitu saja.
Pacarku menggenggam tanganku erat.
"Kamu tidak sadar selama tiga hari."
Tiga hari.
Aku menatap wajahnya.
Wajah yang selama ini kucurigai.
Wajah yang ternyata tetap menungguku.
"Aku minta maaf..." bisikku.
Ia menangis sambil tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa damai.
Karena aku akhirnya mengerti.
Tidak semua orang adalah musuh.
Tidak semua orang ingin mengkhianatiku.
Kadang-kadang dunia hanya memantulkan apa yang ada di dalam diriku.
Dan selama aku terus memandang dunia melalui ketakutan, yang akan kulihat hanyalah ketakutan.
Namun jika aku mengubah diriku sendiri, mungkin pantulan dunia itu pun akan ikut berubah.
Karena ternyata, penjara yang paling gelap bukanlah dunia cermin.
Melainkan pikiran yang terus melihat dirinya sebagai korban.
Comments
Post a Comment