Trader life
Trading Mengajariku Mengenal Diriku Sendiri
Aku sering bertanya-tanya, apa sebenarnya yang salah denganku?
Pertanyaan itu muncul setiap kali aku mengingat kembali perjalanan tradingku sekitar lima belas tahun yang lalu.
Saat itu aku masih muda, penuh semangat, dan yakin bahwa trading adalah jalan menuju kebebasan. Dalam bayanganku, jika aku berhasil menguasai trading, aku bisa resign dari pekerjaan, bekerja dari mana saja, bepergian ke berbagai tempat, dan tidak perlu lagi berurusan dengan atasan yang suka memerintah atau memarahi bawahan.
Karena itulah aku mengikuti sebuah kelas trading yang biayanya sangat mahal menurut ukuranku saat itu.
Aku belajar dengan sungguh-sungguh.
Aku menghafal berbagai indikator, memahami analisis teknikal maupun fundamental, dan selalu hadir dalam sesi trading bersama meskipun harus pulang larut malam. Di kelas, aku termasuk murid termuda. Banyak teman menganggapku pintar karena aku cepat memahami materi.
Di akun virtual, hasil tradingku bahkan menjadi salah satu yang terbaik.
Aku rajin membuat trading plan. Aku mencatat alasan masuk pasar, target keuntungan, hingga batas kerugian.
Namun anehnya, guruku tidak pernah mengizinkanku menggunakan akun real.
Setiap kali aku meminta, jawabannya selalu sama.
"Kamu belum siap."
Aku kesal.
Bagaimana mungkin belum siap? Bukankah hasil trading virtualku sangat bagus?
Suatu hari aku memberanikan diri bertanya.
"Guru, apa lagi yang kurang?"
Beliau menjawab dengan tenang.
"Kamu bisa menghasilkan profit, tetapi kamu belum disiplin menjalankan trading plan yang kamu buat sendiri."
Aku tidak terima.
Dalam pikiranku saat itu, yang penting hasilnya untung.
Namun guruku melihat sesuatu yang tidak kulihat.
Beliau sering menunjukkan bahwa entry yang kupilih tidak sesuai rencana. Kadang aku masuk pasar hanya karena merasa harga akan naik atau turun. Kadang aku mengabaikan aturan yang kutulis sendiri.
"Kamu masih trading berdasarkan perasaan," katanya.
Beliau mensyaratkan satu hal sebelum aku boleh menggunakan akun real:
Profit konsisten selama tiga bulan.
Syarat itu terasa menyebalkan.
Aku merasa sudah bisa. Aku merasa lebih cepat dari proses yang harus kulalui.
Karena bosan, aku mulai mencari jalan pintas.
Aku tetap membuat trading plan agar terlihat patuh, tetapi sebenarnya aku membuka posisi sesuka hati di akun virtual. Saat untung, aku pamer hasilnya. Saat rugi, aku diam.
Guruku semakin sering menegurku.
Namun aku tetap yakin bahwa akulah yang benar.
Hari ini, setelah bertahun-tahun berlalu, aku sadar bahwa saat itu aku bahkan tidak memiliki tujuan trading yang jelas.
Aku hanya ingin cepat kaya.
Aku tidak pernah menghitung berapa keuntungan yang realistis. Aku tidak pernah mengukur kemampuanku sendiri. Aku hanya ingin menghasilkan uang sebanyak-banyaknya agar bisa segera resign.
Dan keserakahan adalah awal dari semua masalahku.
Ketika akhirnya menggunakan uang sungguhan, awalnya aku sangat berhati-hati.
Aku hanya trading saat sesi trading bersama.
Hasilnya cukup baik.
Beberapa kali profit membuat kepercayaan diriku meningkat.
Lalu datang pikiran yang sangat berbahaya.
"Aku sudah bisa."
Aku mulai trading tanpa trading plan.
Awalnya berjalan lancar.
Kemudian aku mengalami kerugian.
Aku panik.
Keesokan harinya aku berusaha menutup kerugian tersebut. Ketika posisi sedikit untung, aku langsung menutupnya karena takut profit berubah menjadi rugi.
Sebaliknya, ketika posisi mulai rugi, aku tidak mau mengaku salah.
Aku mencari-cari alasan.
Aku membuka indikator lain.
Aku mencari berita yang mendukung keyakinanku.
Aku melakukan apa saja kecuali menerima kenyataan bahwa aku salah.
Padahal sinyal cut loss sudah jelas.
Tetapi aku tidak mau mendengarnya.
Aku membiarkan kerugian membesar.
Sampai akhirnya modal habis.
Aku mencoba lagi.
Hasilnya sama.
Aku menyetor modal baru.
Aku rugi lagi.
Aku mengulang pola yang sama berkali-kali.
Yang berubah hanya jumlah uang yang hilang.
Bahkan ketika beralih ke saham, aku tetap mengulangi kesalahan yang sama.
Aku pernah untung besar dari saham gorengan dan merasa menemukan cara cepat menghasilkan uang.
Lalu aku membeli lagi.
Kali ini aku membeli di harga puncak.
Harga langsung jatuh.
Lagi-lagi aku menjadi korban kesombonganku sendiri.
Beberapa tahun kemudian aku bekerja di sebuah perusahaan pialang.
Tugasku bukan hanya mencari nasabah, tetapi juga memberikan rekomendasi transaksi dan informasi mengenai kondisi pasar dunia.
Di sana aku melihat sesuatu yang mengejutkan.
Aku melihat diriku sendiri pada hampir semua nasabah yang bangkrut.
Polanya sama.
Mereka tidak punya trading plan.
Mereka takut cut loss.
Mereka mengambil profit terlalu cepat.
Mereka mencari pembenaran saat posisi merugi.
Mereka merasa pintar setelah beberapa kali profit.
Lalu mereka kehilangan semuanya.
Awalnya mereka hanya meminta rekomendasi sesekali.
Lama-kelamaan mereka meminta rekomendasi setiap hari.
Kemudian setiap jam.
Sebagian bahkan tetap ingin membuka posisi meskipun sudah diberi tahu bahwa kondisi pasar tidak mendukung.
Mereka tidak lagi trading untuk menghasilkan uang.
Mereka trading karena tidak tahan untuk tidak trading.
Saat itulah aku teringat pada konsep Skinner Box dalam psikologi.
Seekor monyet ditempatkan dalam kotak dengan sebuah tombol.
Kadang ketika tombol ditekan, makanan keluar.
Kadang tidak.
Karena hadiah diberikan secara acak, monyet menjadi kecanduan menekan tombol tersebut.
Lama-kelamaan bukan lagi makanannya yang dicari.
Melainkan sensasi menunggu apakah hadiah akan muncul atau tidak.
Bukankah banyak trader melakukan hal yang sama?
Mereka tidak lagi mencari peluang terbaik.
Mereka mencari sensasi.
Di sanalah aku mulai memahami sesuatu yang sangat penting.
Ketika aku sangat ingin trading, justru saat itulah aku sebaiknya tidak trading.
Saat emosiku tenang, aku mampu membuat trading plan dengan jernih.
Aku bisa menentukan target profit dan batas kerugian secara rasional.
Aku bisa menunggu dengan sabar.
Aku bisa menerima kerugian tanpa merasa dunia runtuh.
Dulu, setiap cut loss terasa seperti kegagalan besar.
Sekarang aku menganggapnya sebagai biaya operasional.
Dulu, setiap profit membuatku sangat bahagia.
Sekarang aku menganggapnya sebagai bagian dari proses.
Karena akhirnya aku memahami bahwa trading bukan sekadar soal pasar.
Trading adalah cermin diri.
Jika analisismu bagus, mungkin IQ-mu cukup tinggi.
Jika emosimu mudah meledak saat profit atau rugi, mungkin EQ-mu masih perlu diperkuat.
Jika hidupmu berjalan tanpa tujuan yang jelas, tanpa rencana yang matang, lalu tradingmu juga demikian, mungkin ada yang perlu diperbaiki dalam cara kamu memandang hidup.
Trading plan ternyata tidak jauh berbeda dengan rencana hidup.
Keduanya harus ditulis.
Keduanya harus diukur.
Keduanya harus dijalankan dengan disiplin.
Dan yang paling penting, keduanya adalah tanggung jawab pribadi.
Tidak ada yang bisa disalahkan.
Tidak pasar.
Tidak broker.
Tidak mentor.
Tidak orang lain.
Karena pada akhirnya, uang yang kita pertaruhkan adalah hasil kerja dan energi kita sendiri.
Kini aku mengerti mengapa guruku dulu selalu mengatakan bahwa aku belum siap.
Masalah terbesarku bukanlah kurangnya pengetahuan.
Masalah terbesarku adalah diriku sendiri.
Dan pelajaran paling berharga yang diberikan trading kepadaku bukanlah cara menghasilkan uang.
Melainkan cara mengenal siapa diriku sebenarnya.
Comments
Post a Comment